Yama Purana Tattva


 UPAYA PENCEGAHAN NGULAH PATI DITINJAU DARI SUDUT PANDANG AGAMA HINDU

OLEH : IBG WIYANA 

PENDAHULUAN

Fenomena bunuh diri maupun percobaan bunuh diri dari masyarakat Bali adalah mmerupakan bagian dari fenomena kemanusiaan yang sangat mengerikan dan bertentangan dengan ajaran agama manapun. Mengapa dapat dikatakan demikian ?

Dari tahun ke tahun ke¬cenderungan kasus bunuh diri di Bali meningkat. Berdasar data yang di¬himpun Nusa Bali, selama tahun 2004 jumlah orang yang melakukan bunuh diri tercatat 103 orang. Tahun 2005 meningkat menjadi 137 korban, dan hingga Juni 2006 tercatat 89 orang menghabisi nyawanya sendiri dengan berbagai cara. 

Dari data WHO tahun 2000, sekitar 1 juta orang melakukan bunuh diri. Dengan begitu bisa dihitung bahwa setiap 40 detik, Satu orang melakukan bunuh diri di satu tempat dan setiap 3 detik ada seorang yang melakukan percobaan bunuh diri. Karena tingginya kasus kematian disebab¬kan oleh bunuh diri, menjadikan bunuh diri merupakan penyebab kematian kedua terbesar pada usia 15 – 35 tahun setelah kecelakaan, baik itu kecelakaan lalu lintas maupun kecelakaan kerja. 

Ada tiga tipe bunuh diri, yang pertama egoistic suicide, yaitu bunuh diri yang disebabkan oleh kerapuhan ikatan hubungan dalam keluarga dan kekerabatan. Misalnya kasus bunuh diri akibat pertengkaran, percek¬cokan, dan juga perasaan dipojokkan. Yang kedua tipe anomie suicide yaitu bunuh diri yang terjadi akibat depresi ekonomi, kekacauan, kemiskinan, penyakit kronik yang tidak sembuh, dan permasalahan lain. Dan yang terakhir adalah antruistic suicide kebalikan dari yang pertama, yakni bunuh diri justru terjadi akibat eratnya ikatan kekeluargaan dan kekerabatan yang sangat kuat. Seperti kasus harakiri, kamikaze di Jepang, Mesatya di masyarakat Hindu kuno, ataupun tindakan wirang ’mantuk ring rananggana’ / heroik Puputan (Puputan Badung, Puputan Klungkung, Puputan Jagaraga, Puputan Margarana dll).

Direktur Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bangli dr Rai Tirta SpKj, dalam sebuah diskusi menyatakan, setiap orang yang melakukan bunuh diri akan berdampak pada enam orang di sekitarnya. Enam orang terdekat itu bisa saja orangtua, pacar, teman, saudara bahkan tetangga. Karena itulah sebenarnya dalam menangani kasus bunuh diri, bukan hanya korbannya yang diperhatikan, tetapi juga Iingkungan di sekeliling yang juga terimbas dampak dari tindakan nekat seseorang itu.

  Penyebab seseorang melakukan tindakan nekat bunuh diri secara spesifik sulit untuk disebutkan. Tetapi salah satu pemicunya adalah karena faktor genetik, yaitu terkait dengan penyusun saraf manusia yang bisa menjadi pemicu seseorang mudah panik atau tidak. Ada susunan saraf seseorang, yang karena masalah kecil saja bisa cepat panik, ada juga yang stabil. Cepat panik atau tidaknya seseorang ini terkait dengan susunan saraf orang itu. Karena itulah orang yang cepat panik biasanya akan menanggapi segala sesuatunya dengan tergesa-gesa juga, dan karena tergesa maka cara pandangnya juga tidak akan menyeluruh, demikian versi psikolog dari Universitas Udayana (Unud) Drs Made Rustika MSi. 

Agar bunuh diri tidak dijadikan jalan keluar atas sebuah persoalan, serta untuk menekan jumlah korban bunuh diri, perlu ada tindakan yang melibatkan banyak orang untuk konsen membahas kasus tersebut dan me¬Iakukan aksi bersama. Karena persoalan bunuh diri merupakan masalah kompleks yang melibatkan banyak elemen dan imbasnya juga luas. 

Juga perlu penyadaran, bahwa ada kehidupan pascakematian. Apalagi, penyebab bunuh diri bukanlah penyebab tunggal. Bunuh diri terkait faktor genetik, biologi, lingkungan, pendidikan, keluarga, dan seba¬gainya. Jalan keluar yang diambil juga perlu menye¬luruh dengan melibatkan banyak elemen masyarakat. Pendidikan tidak hanya pendidikan formal, tetapi juga pendidikan norma dan agama, perlu ditanamkan di lingkungan keluarga. 

SOSIO KULTURAL MASYARAKAT 

Indonesia yang terdiri dari beribu-ribu pulau yang terpisah satu sama lainnya oleh lautan ‘Nusantara’ (archipelago), mempunyai luas wi1ayah lebih kurang sebesar benua Eropah. Jumlah penduduknya yang besar (k.l. 180 juta) dan terdiri dari ber¬macam-macam suku yang tersebar luas di pulau tersebut. Terdapat berbagai ragam perbedaan dalam alam budayanya yang meliputi segi¬segi, adat-istiadat, kebiasaan, religi, mata pencaharian dan sebagainya. Disatu pihak masih terdapat suku-suku pedalaman yang hidupnya seolah-olah terasing dari pergaulan umum seperti yang dapat dilihat di Papua, Kalimantan Tengah, dan sebagian di Provinsi yang kelihatannya maju namun kadang-kadang dapat dikatakan masih hidup di¬jaman tradisionil, dipihak lain terlihat pula perkembangan masyarakat yang sangat pesat dan modern sesudah masa kolonial, setelah dicapainya kemerdekaan, seperti yang tampak di kota-kota besar. Disamping itu masih diketemukan golongan penduduk minoritas yang kebanyakan adalah pendatang seperti keturunan-keturunan Cina, Arab, India dan sebagainya yang juga mempunyai sub-kulturnya sendiri. Saat ini kita menyaksikan terjadinya perubahan-perubahan sosial yang sangat• cepat dengan adanya kemajuan-kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan, tehnologi dan ekonomi, disertai oleh fenomena-fenomena penyertanya seperti hilangnya banyak nilai-nilai tradisionil dan timbulnya suatu per¬juangan dalam membentuk identitas bangsa yang baru ’globalisasi’. 

Maka penduduk tradisionillah yang paling menderita sebagai akibat daripada adanya perubahan-perubahan ini, karena penduduk ini berada dalam suatu proses pembentukan pribadi, dan oleh karenanya merupakan segmen masyarakat yang paling rendah dan paling mudah terkena. Dengan demikian maka kebutuhan-kebutuhandan problematik-problematik masyarakat ini lebih mudah dimengerti serta dihayati dengan latar belakang perubahan-perubahan ini. 

Heerdjan S., dalam usahanya untuk menganalisa masyarakat penduduk di Indonesia mengambil contoh struktur kebudayaan Jawa yang juga sama dengan keberadaan kebudayaan Bali yang hanya dibedakan oleh kepercayaan dan agamanya. Dibeda¬kannya 2 golongan masyarakat, yaitu yang tinggal di desa dan yang tinggal di kota. 

Suku bangsa Jawa mempunyai dasar kebudayaan yang juga hampir-¬hampir serupa dengan suku-suku bangsa lainnya dalam rumpun Melayu. Kebudayaan Jawa, termasuk kebudayaan Bali dalam perkembangan sejarah mengambil banyak pengaruh dari masa kolonial. Sifat-sifat yang berasal dari kebudayaan Jawa asli oleh Koentjaraningrat disebut sebagai mentalitas petani ’agricultural urban’.

Mentalitas ini digambarkan sebagai sikap yang menganggap hidup didunia ini sebagai buruk-jahat, penuh dosa, penuh keseng¬saraan, penuh kesalahan. Menurut kepercayaan agama dan kebudayaan Hindu di Bali bahwa lahir ke dunia ini yang disebut dengan ’reinkarnasi / punarbhawa / samsara’ merupakan kelahiran untuk menebus dosa-dosa pada kehidupan terdahulu (menjalankan Karmaphala / Karma Wasana).  Tidak berarti bahwa manusia harus begitu saja menyerah kepada nasib tanpa usaha apapun, bahkan sebaliknya orang harus mengakui adanya dosa didunia ini serta berusaha untuk bersikap baik dan jujur. Lebih-lebih manusia harus prihatin, yaitu suatu sikap jiwa yang mengutamakan kesabaran dan yang mem¬punyai kekuatan untuk menanggung bermacam-macam penderitaan. Petani-petani Jawa, termasuk petani Bali (petani gurem, petani tanpa lahan / penandu / pecatu) baleh dikatakan hanya hidup untuk hari ini, ia terlalu miskin untuk memikirkan hari esok, apalagi untuk merencanakan masa depan yang lebih jauh. 

Walaupun demikian ia tidak takut terhadap bencana-bencana alam, karena ia selalu dapat mengharapkan datangnya bantuan dari para tetangganya. 

Sistim gotong-royong penting baginya dan oleh sebab itu ia harus selalu memelihara adanya hubungan baik dengan mereka. Maka mudah dimengerti bahwa sedikit adanya semacam perjuangan pribadi dalam tata susunan masyarakat seperti ini, Perasaan “kita” sebagai kesatuan mewarnai hampir semua segi-segi relasi antara individu bahkan keluar melewati batas-batas daripada extended family. Sifat ramah tamah sebagai tuan rumah dihargai sekali, bilamana datang seorang asing kesatu desa misalnya ia akan disuguhi segelas air teh ataupun kopi dan malahan ada yang menawarkan untuk makan bersama walaupun dia sendiri belum masak dan makan (Ngiring Simpang, Ngiring Ngajeng ?) dll sapaan yang sangat akrab dan familier, ketulusan sikap menyama braya). Sekumpulan sifat-sifat lain didapatkan dari masyarakat feodal dan masa kolonial. Kebanyakan orang yang tidak termasuk golongan petani adalah pegawai-pegawai negeri serta keturunannya, masyarakat dari golongan ini disebut priyayi dan terdapat banyak dikota-kota dimana terdapat pusat dari aparatur pemerintahan. 

Mentalitas priyayi mudah dipelajari dengan latar belakang masyarakat feodal yang pada jaman pre-kolonial, pada waktu mana pulau Jawa, Bali dan daerah lainnya di Indonesia ini masih diperintah oleh raja-raja. Disini hubungan antara manusia diatur berdasarkan nilai-nilai feodal. Tingkah laku manusia berorientasi kepada mereka yang berkuasa, pemimpin-pemimpin, orang-orang tua, serta mereka-mereka dengan kedudukan yang lebih tinggi. Hal ini tercermin pada bahasanya, yang mempunyai berbagai tingkatan (bhasa basita, halus, ngoko, kromo madya, krama inggil). Mudah pula dapat ditarik kesimpulan bahwa pada masyarakat macam ini terdapat komunikasi satu arah. 

Otoritas adalah sesuatu yang bersifat mutlak dan tak dapat diganggu gugat. Kemudian sedikit mengenai pertumbuhan masyarakat pada famili¬-famili Jawa, Bali dan daerah lainnya. Anak kecil sehari-harinya berpakaian minimal dan ham¬pir-hampir telanjang. Total training terjadi berangsur-angsur dengan disertai sedikit cara-cara pemberian hukuman. Sampai dengan umur 3 tahun seorang anak ditimang-timang dan dipuji-puji, setelah masa tersebut ia diharapkan secara berangsur-angsur menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Cara-cara membimbing, mengajar serta menegakkan disiplin dilakukan dengan bentakan-bentakan, hu¬kuman-hukuman badan serta membandingkan dengan saudara¬-saudaranya yang lebih superior ataupun anak-anak yang lain lebih maju untuk menumbuhkan rasa bangga. Cara lainnya adalah dengan menakuti si anak dengan setan-setan, roh-roh jahat, hantu-hantu, mitos-mitos (na … ada leak ?) yang menakutkan ataupun orang-orang asing yang belum dikenal. Akibat yang sangat merugikan adalah antara lain rasamalu diantara kebanyakan anak¬-anak petani, mereka acapkali takut menghadapi orang-orang yang masih asing baginya, dan lambat sekali dalam menjalin hubungan-¬hubungan dengan individu-individu diluar lingkungan keluarganya sendiri. 

Kemudian bila si anak bertambah menjadi lebih besar, secara bertingkat meluas hubungan sosialnya, dan diwaktu yang bersamaan pula ia mencoba menyesuaikan dirinya dengan realitas-realitas sosial, serta membentuk suatu pola tingkah laku yang sesuai dengan nila-¬nilai sosial yang berlaku. Anak-anak perempuan diberi tambahan tanggung jawab dalam urusan rumah tangga seperti memasak, menumbuk padi, mengasuh adik-adiknya, sedangkah anak laki-laki membantu usaha-usaha pertanian orangtuanya. Banyak anak laki-laki maupun perempuan bekerja diluar rumahnya sebagai penggembala kerbau, sapi, kambing atau bebek. Pendidikan sekolah dianggap penting juga oleh beberapa orangtua, untuk itu mereka berusaha menyekolahkan anak-anaknya pada usia 8, 9 atau 10 tahun, walaupun kemudian sebagai akibatnya beberapa orangtua meng¬hadapi kesulitan-kesulitan berupa penolakan anaknya untuk bekerja sebagai petani setelah sekolahnya selesai. 

Selama masa transisi pada usia remaja tidak selalu dilakukan usaha-usaha dalam pendidikan seks. Orang-orang tua selalu berusaha menghindari pembicaraan mengenai bidang seks dihadapan anak-¬anaknya. Hubungan seks sebelum kawin dilarang keras. Cara-cara untuk mengendalikan tingkah laku sexual para remaja diatur dengan mengadakan pemisahan antara golongan-golongan seks yang ber¬lawanan, dan pula cara mengawal gadis-gadis kalau bepergian. 

Para remaja putra (Daha teruna) mengadakan pergaulan dengan remaja putri (daha teruni) se¬kolah, didalam rombongan-rombongan penuai padi dan juga pesta-¬pesta hari-hari raya, membuat bazar bersama disetiap komunitas masing-masing (Banjar=Bali). Biasanya diharapkan bahwa gadis-gadis masih suci atau perawan pada waktu sebelum perkawinan, akan tetapi per¬temuan-pertemuan gelap antara seks yang berlawanan dan hubungan seks sebelum perkawinan kadang-kadangpun masih terjadi. Seorang gadis yang hamil sebelum kawin menyebabkan timbulnya rasa malu pada keluarganya, tetapi tidak dilakukan usaha-usaha pengguguran karena hal tersebut memberikan rasa malu yang lebih besar. Biasanya cara penyelesaiannya ditempuh dengan memaksa si jejaka mengawini si gadis sebelum kehamilan ini juga dilihat oleh lingkungannya. Pendidikan anak-anak Jawa, Bali dan daerah lainnya mengambil insipirasi dari aspek-aspek etik dan religik, wayang, dan hal ini berlaku bagi didesa maupun dikota. Pahlawan-pahlawan atau wiracarita dari cerita wayang biasanya menjadi model yang diakui bagi kepribadian sianak. Anak dapat mengambil pelajaran serta contoh-contoh pola tingkah laku dan model-model dalam pewayangan ini, melalui cara ini ia akan berorientasi kedunia luar.  Menurut wiracarita Ramayana dan Mahabharata yang dilakonkan melalui pewayangan tidak lain untuk menyimbolkan nilai-nilai tokoh pewayangan yang merupakan titisan dari para dewa seperti Ramadewa, Laksmana dalam Wiracarita Ramayana serta Panca Pandawa dalam Mahabharata sebagai kekuatan Daiwa Sampad (perbuatan kebajikan – panengen) dan titisan dari para raksasa seperti Rahwana, Si Surpakanaka serta Seratus Kaurawa sebagai kekuatan Asuri Sampad (perbuatan kebatilan – pangiwa).

Tokoh-tokoh wayang memberikan kepada si anak suatu variasi yang cukup luas tentang contoh-contoh kepribadian dan hal ini diya¬kininya akan disetujui oleh masyarakat Jawa dimanapun, karena se¬mua tokoh-tokoh pahlawan dalam wayang ini dihormati, seperti Arju¬na, Werkudara / Bima dan Yudistira / Dharmawangsa, maka baik anak yang berbadan besar, aktif tetapi mempunyai kesulitan dalam berbicara dan anak yang berbadan kecil serta introspektif, kedua-duanya mempunyai cara-cara yang dapat diterima, dimana kepribadian dan bentuk jasmaniahnya dapat tumbuh serta berkembang tanpa banyak menderita tekanan-tekanan pada jiwanya. Daya tariknya yang besar dari Arjuna mem¬berikan suatu rasa kepercayaan diri pada anak yang bertubuhkembang  dan suatu kepastian bahwa ia tidak akan menderita dalam persaingan sosio-seksual sehari-harinya. Anak yang mempunyai bakat untuk berbicara didepan umum dan bakat berpolitik, mempunyai tokoh Kresna sebagai model identifikasinya. Anak laki-Iaki yang mem¬punyai bakat dalam bidang kegiatan intellektuil dan meditasi dapat mengambil model identifikasi tokoh Yudistira/Dharmawangsa, sedangkan mereka yang bertemperamen tinggi dan berani mengambil Baladewa sebagai tokoh kesombongan serta ketinggian hati digambarkan dalam diri to¬koh Karna. Gadis-gadis muda memperoleh tauladan dari Sumbadra seorang tokoh wayang wanita yang baik hati serta menarik, sedang mereka yang mencari peranan lebih aktif dan giat mempunyai contoh dalam diri Srikandi yang energik. Dapatlah disimpulkan bahwa wayang memberi satu rangkaian variasi yang besar mengenai model-¬model identifikasi untuk suatu kontras sosial dan tipe psikologik yang luas. Dengan kata lain sebetulnya diajarkan perlunya toleransi, yang kemudian dipelihara oleh suatu mitologi, berbagai informasi dan telah menggenangi seluruh tradisi Jawa & Bali. Tetapi tak berarti bahwa hal, tersebut telah merupakan satu sifat dasar orang Jawa & Bali, melainkan lebih mempunyai hubungan strukturil dengan tata sosial baik yang statis maupun tradisionil, serta penyerapan wayang sebagai sumber religius, moral dan falsafah. 

Kebutuhan dan problematik remaja didesa semakin timbul pengertian akan perlunya lembaga pendidikan berupa sekolah, dari pihak kaum remaja. maupun orang tuanya. Sekolah ini bukan¬nya dipandang periu dari segi kegunaannya dalam bentuk pekerjaan mereka yang berbentuk pertanian, akan tetapi lebih dianggap sebagai lambang status yang mengekspresikan nilai-nilai priyayi yang juga menginfiltrasi sistim tata nilai petani. Program pen¬didikan didesa yang lambat dalam perkembangannya, dan acapkali tidak ditingkatkan kepada kebutuhan praktis para remaja didesa, ditambah dengan persoalan kelebihan penduduk (overpopulation), berakibat bertambahnya daya tarik pindah kekota-kota. Sedang¬kan kota-kota yang telah penuh dengan beban-beban berupa pe¬ngangguran, kekurangan perumahan dan sebagainya mengakibatkan timbulnya suatu rasa proletar yang semakin besar jumlahnya, sehingga semakin bertambahlah beban pemikiran pemerintah se-tempat. 

Kebutuhan dan problematik remaja dikota komunikasi masa yang modern, perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang cepat mendorong kearah perubahan-perubahan dalam hubungan sosial. Hancurnya nilai-nilai tradisionil, pola tingkah laku tradisional serta tumbuhnya rasa kebebasan yang baru, serta kemungkinan-kemung¬kinan yang begitu luas pilihannya, diberikan oleh masyarakat yang makmur; semuanya ini telah membuat kabur bentuk-bentuk kepribadian, dan harus diatasi oleh para pria dan wanita yang muda. Sebagian daripada krisis kaum remaja masa kini, adalah akibat daripada kesulitan dan kesukaran mereka dalam mendapat¬kan identitas kepribadiannya mereka tidak mengambil lagi contoh model yang tradisional, tetapi model berdasarkan pilihannya sendiri tanpa adanya pedoman-pedoman. 

Walaupun demikian beberapa bentuk nilai-nilai tradisional masih tampak terdapat pada remaja-remajanya yang modern. 

Setyonegoro K, dalam meninjau masalah remaja di Tanah Air menekankan pentingnya dinamik interpersonal dan sosial dalam struktur keluarga. Struktur keluarga yang banyak dijumpai ada¬lah dari tipe keluarga gabungan (joint) atau bercabang (extended) semakin kearah desa (rural) orientasi suatu keluarga. Agaknya keluarga-keluarga keturunan Cina adalah yang paling extended, tidak jarang diketemukan sejumlah besar relasi keluarga yang tinggal dibawah satu atap. Hal ini didapatkan pula pada keturunan Arab dan pada mereka yang berasal dari keluarga yang berhubungan dengan kaum ningrat didaerah. Oleh karena itu biasanya setiap persoalan mengenai salah satu individu dalam kelompok itu di¬jadikan persoalan atau affair bagi keluarga bersangkutan. 

Remaja yang modern dan terdidik seringkali mengalami kesukaran-kesukaran yang besar dalam memadukan pan-dangan-pandangan yang dipelajarinya disekolah dan tradisi-tradisi yang berlaku dirumah. Dikota-kota tampak lambat laun adanya pergeseran kearah terbentuknya lebih banyak keluarga inti (nuclear families) walaupun adanya ikatan-ikatan yang kuat dengan saudara, keponakan-keponakan dan nenek masih dipertahankan. 
PROBLEMATIK MASYARAKAT YANG MEMERLUKAN PENCERAHAN

Dalam kebanyakan hal maka tingkah laku masyarakat khususnya kaum remaja yang men¬cemaskan serta mengkuatirkan, dalam waktu yang berikutnya cenderung untuk berubah dan membaik, berdasarkan nilai-nilai orang dewasa, dengan sendirinya tanpa intervensi. Walaupun demi¬kian halnya, cara mendiamkan saja tidak merupakan cara peme¬cahan yang terbaik pada berbagai kasus-kasus. Apabila tingkah laku remaja bertendensi destruktif terhadap dirinya maupun sekitarnya, serta diulangi berkali-kali, atau bersifat khronis-menahun (ber¬langsung beberapa hari atau minggu dan tidak 1 – 2 hari atau jam saja) maka diperlukan adanya suatu pertimbangan serius mengenai perlu tidaknya dicarinya bantuan profesional. 

Gangguan-gangguan kelakuan yang bersifat sementara tidak memerlukan pertolongan profesional, tetapi cukup diberikan pe¬ngertian dari pihak orang tuanya. 

Berikut ini adalah beberapa contoh daripada perangai tingkah¬laku remaja yang mungkin membutuhkan pertolongan professional : 

1) Kejadian yang berulang-kali daripada tingkah laku delikwen (tingkah laku melanggar hukum) seperti: mencuri, perusakan, menyerang orang lain, pemakaian berulangkali serta berlebihan dari alkohol ataupun obat-obatan (drugs, psikotropika, narkoba, dll).

2) Tingkah laku seksual yang terbuka yang berulangkali, serta dapat menimbulkan persoalan sosial atau hukum, misalnya : kehamilan, kelainan seks (bisex, homosex, heterosex), prostitusi yang berakibat terjangkitnya penyakit sosial HIV-Aids dan sebagainya. 

3) Prestasi sekolah yang secara terus menerus rendah pada individu yang sebenarnya mempunyai kapasitas yang baik. 

4) Gangguan keadaan effektif yang terus menerus atau berulang-ulang : seperti renungan tentang bunuh diri, depressi, kesedihan, tangisan, insomnia, anorexia, kehilangan gairah kerja, rasa tidak berdaya dan sebagainya. 

5) Episode yang berlarut-larut atau berulang-ulang dari suatu bentuk penarikan diri yang mula-mula tidak khas isolasi dari famili atau teman-teman dengan produktivitas yang menurun, antara lain prestasi sekolah yang buruk, perhatian yang ber¬kurang dalam aktivitas-aktivitas sosial, jumlah waktu yang bertambah guna menyendiri atau preokupasi yang nyata atau lamunan-lamunan. 

6) Tanda-tanda adanya gejala-gejala mental emosional yang aneh seperti: halusinasi wahana kejaran, wahana penghubung dan sehagainya. 
TANTANGAN KEMANUSIAAN DAN SOSIAL KEMASYARAKATAN

Dari proses perspektif moral dan agama yang merupakan problematik kemanusiaan dan kemasyarakatan dan selanjutnya menjadi krisis hati nurani kemanusiaan dalam berbagai ragam dan corak yan bentuknya berupa : tindakan kekerasan yang berkepanjangan ‘anarkhisme’, perilaku sosial yang menyimpang yang semakin lama menjadi ‘budaya’, sehingga proses penghancuran diri dalam satu bentuk keluarannya berupa upaya bunuh diri, merupakan penggambaran dari masalah besar dari sebuah fenomena ‘puncak gunung es’ dari persoalan besar kemasyarakatan yang berada dibawahnya.

Dari perpektif sosial budaya dan agama, tantangan kemanusiaan dan kemasyarakatan dalam wujudnya semakin nyata bagi masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat Bali pada khususnya ‘personal and social self destruction’, keinginan bunuh diri patut diduga factor pemicunya seperti yang disebutkan diatas.

Masyarakat semakin kehilangan panutan dan acuan moral keagamaan, rasa keagamaan sebagai akibat dari sebuah proses anomaly yang berlangsung dalam masyarakat kita di Bali sebagai akibat masyarakat terlalu berharap banyak terhadap keadaan yang unpredictable. Demikian juga masyarakat di dalam mengisi kehidupan ini pada era globalisasi yang tantangan dan ketidak menentunya ekonomi Negara ‘jobless’, proses reformasi yang tidak menentu diluar daya nalar masyarakat, dan bahkan sering menimbulkan perasaan kekecewaan yang mendalam. Dan ini semua berbuntut menjadikan masyarakat terasing di daerahnya sendiri karena  kesenjangan di berbagai aspek kehidupan sangat menonjol.

Didalam Kitab Susastra baik Nitisastra, Slokantara, Bhagavad Gita, Manawa Dharmasastra, Ketusin Catur Yuga, Roga Sangara Bhumi, Widhi Sastra, Wiksu Pungu dll, telah menyebutkan bahwa saat ini adalah jaman Kaliyuga dimana manusia lebih mengedepankan materi ’artha’ (kebendaan – keduniawian) dibandingkan dengan perbuatan dharma (spiritual – surgawi) dalam Catur Purusartha (Dharma, Artha, Kama dan Moksa)  
BUNUH DIRI DARI PERPEKTIF SUSASTRA AGAMA HINDU DI BALI

Sesuai dengan beberapa Lontar Susastra Agama Hindu di Bali ‘Sastra Yama Purana Tatwa’ menyebutkan bahwa akibat perbuatan bunuh diri secara agama Hindu di Bali sangat dilarang dan diharamkan. Itu tercermin dari kajian beberapa susastra lontar yang menyebutkan bahwa bagi mereka yang melakukan bunuh diri dengan cara apapun baik ‘salah pati & ngulah pati’ akan mendapatkan akibat perlakuan yang buruk bagi jasad yang melakukan tersebut dan roh / atmanya tidak akan diterima serta tidak mendapatkan tempat yang layak di alam baka atau memasuki ruang kawah chandra gohmuka (Neraka).

Dan yang lebih memprihatinkan bagi keluarga yang ditinggalkan dan tempat dimana ditempat kejadian (TKP) bunuh diri tersebut akan menjadi kawasan kedurmaggalan (suatu kejadian akibat suasana disharmoni ‘leteh’ / ‘karang kepanesan’) yang  mengakibatkan bagi keluarga akan menanggung rasa malu yang luar biasa dan membutuhkan biaya penyucian ‘pamrayascita kedurmanggalan’ yang tidak sedikit.

Pengertian Salah Pati dimana kematian yang tak terduga-duga atau kematian yang tidak dikehendaki, sedangkan Ngulah Pati karena kematian karena mengambil jalan sesat, jalan pintas serta sengaja dikehendaki dan bertentangan dengan ajaran agama Hindu.

Jenis Salah Pati seperti tertabrak kendaraan, mati jatuh (kerubuh bhaya), mati ketekuk (kastha bhaya), mati diterkam binatang buas (harimau, buaya dll), ditanduk banteng, terkena petir, kejatuhan tanah longsor dsb., sedangkan Ngulah Pati antara lain mati meracun diri, gantung diri, menembak diri, menceburkan diri, menusuk diri dll.

Petikan lontar yang dimasud dalam kaitan tatacara Pitra Yajna secara umum dan khusus mengenai tindakan bunuh diri ‘ngulah pati dan salah pati’  secara lengkap (tidak diterjemahkan secara utuh namun telah disarikan) :

’Om Awighnam Astu ! Iti Sastra Yama Purana Tatwa, ngaran, /  Indik sakramaning wwang mati mapendhem, ….. Muwah iti Uma Tatwa, pawarah Bhatari Uma Dewi, / Munggwing sastra, ri sedheng Bhatari Uma malingga, / Ring Kahyangan Dalem Panguluning Setra Agung, / Ling Bhatari Uma, “Ritatkala rawuh Kaliyuga Bhumi, / Gring sasab marana, makweh wwang mati, ………………. Yan wwang sudosa mati sakawangsanya, / Tka wenang nganti sengkernya dadi maprateka, / Yaning wwang ngulah pati, / Sengkernya 11 tahun, wenang prateka, / Yan dudu mangulah pati, matmahan sinangkala, / Kawase pjah, mapa lwirnya : sininghating kbo sapi, / Tiba mamenek, salwring mati kapangawan, / Padha 3 tahun sengkernya, / Yan lalung sengkernya, tan wenang hentasen, / Haywa murug linging sastra iki, / Rusak ikang bhumi, sang Prabu Pralaya, / Sang Panditha sudosa, / …..  Iti Sastra Yama Purwwana Tatwa, / Sedheng Bhatari Durgga ring gaganantara, / Ngaksi atma sangsara ring kawah agni, / Malinggod bhawa Bhetari, / Marupa SangHyang Yamapati, / Ngamel hale heyuning atma, / Waneh ring Yamaloka, mantuking panti bhumi, / Dadi Bhatari Uma Dewi, / Ring sedheng sira malinggih ring Setra Agung, / Maraga Bhatari Durgga Dewi, / Mangke cinarita Padandha Alapa Ender / Jumujug maring Iinggih Bhatari, / Dadi kagyat Paduka Bhatari, / ……….

Om Awighnam – astu. / Iti Widhisastra, saking nithi Padhanda Wawu Rawuh, / Indiking wwang mati, / ………. Iti Widhissastra, nga; saking niti Bhatara Mahadewa, / Jumeneng ring Kahyangan ring Basukih, / Tumut Bhatara Manik Gumawang, / Jumeneng ring Kahyangan Watumadheg ring Basukih, / Mwah Bhatara Ghnijaya, / Malingga ring Kahyangan Giri Lampuyang. / Tumut Bhatara Jayaningrat. / Jumeneng ring Giri Beratan, / Maka miwah Bhatara ring Pejeng, / Sira Bhatare Manik Galang, / Ling Bhatara Mahadewa, “Uduh anak mami dewata kabeh, / Rengo pawarah mami den pahenak, / Tata kramaning bhumi Bali, / Pati huriping manusa kabeh,/ ………. Ne wenang mapendehem salwiring wwang salah pati, / Mati kapangawan, wwang kneng gring agung, / ………. Iti Widhisastra, saking niti Bhatara Manik Gumawang, / Jumeneng ring Kahyangan Watumadheg ring Basukih, / ling Bhatara, “Udhuh sang ratu Bali, / Hana pawarah mami munggwing haji, / Krama kepayaning wwang, / Haywa mendhem sawa ring ksithi, liwaran ring satahun, / Yan hana wawu satahun, prateka juga wenang, / Rahayu ikang rat, yan lwaring satahun, / Yanya 2 tahun, 3 tahun, / Winastu de Bhatara Yama, / Dadi mawak Bhuta Atmanya, / Sah sangkeng Aweci Bhuta ika, / Ngranjing ring manusa loka, / Angadakaken gring sasab marana, / Amati-mati wwang sadesa-desa, / Tan papgatan wwang agring agung sabhumi nira, / Muksah Bhatara ring Basukih, / Mantuk maring gunung Mahameru. / Tan suka mahyang ring Nagara Bali, / Reh Nagara Bali dahating letuh, Kasusupan Bhuta, / Mangke wenang sang Haji Bali, / Kon amreteka wwang mati de age, / Aja sira nganti liwaring satahun, / Mangkana ling Bhatara munggwing sastra. / Muwah hana ling Bhatara samuha ring Basukih, / Tingkahing wwang mati mapendhem, / Mala kapatyan nga, / Yan hana mrateka wenang ring setra juga prateka, / Tawulan wangke ika dulurana sawa karesyan, / Tan wenang prateka ring Desa Pakraman, / Letuh ikang bhumi, / Haywa sira sang aji Bali amurug ling sastra iki, / Tan wandya kna upadrawa sang aji Bali, / Tkeng sang angentas, de Bhatara Basukih. Tlas. / 

Om Awighnam-astu, lti Yama Tatwa, nga, / Udhuh sang kretta diksita ring Madhyapada, / Hana pawarah mami ring sang Pandhita, / Ri kala kapatyaning wwang ring Madhyapada, / Ritatkalaning wwang mrateka sawa, / ………. Nihan Niti Sastra, / Wnang katama de nira Sang Sidhanta Brata kina-kina, / Tingkahing wwang mati mapendhem. / Haywa Sang pandhita nugraha, / Mwang sang rat yan hana wwang mati mapendhem,/ Yan durung hana satahun sengkernya, / Yan prateka sawa ika, / Tan siddha hentas, / Apan muliheng garbhan sang ibhu prettiwi, / Sang mati saksat mulih rare, / Munggwing ironing gharbha./ Ya tika kalane nganti sengkernya matu,/ Mangkana tatwanya. / Yan hane Pandhita murug tinging sastra iki. / Dudu Pandhlta ika, wiku dusta ngaran, / Arnatenin bhumi ika, / Ri tkaning kapatyanya, / Papa tan pasengker wiku mangkana, / Mwah wwang mati mapendhem, salawase adasa tahun, / Yan prateka tan pakaryya, / Tan siddha kna hentas atma ika, / Muwah wwang mati mapendhem, / Ne tan salah pati, wahu satahun ika wnang prateka, / Yan liwar kadi sahika, / Phalanya atma ika dadi kdukaning kawah, / Tumitis andadi bragala, dadi wgang, / Manigit pari, sarwwa tinandur kamaranan, / Gring makweh, mangkana kramanya, / ………. Iki hana panugrahan nira Sang Hyang Swamandala, / Ndi Sang Hyang Swamandala?, / Sira Bhatara Surya Candra, / Bhatara Arddanareswari ye, / Kalama de sang Sidhanla brala kina-kina, / Munggwing haji, / T ata kramaning wwang mati mapendhem, / Tan hana sengkemya, dadi prateka sakama-kama, / Gelaren pangentas karihin, / Ikang sawa wawu mapendhem, kramaning amendhem, ………. Iti Yama Purwwana Tatwa, ngaran;/ Saking Niti Bhatari Gayatri, / Katama de Sang Adhaka kina-kina, / Ri tatkalaning wwang sahananya, / Adruwe sawa mapendhern, / Madruwe wwang rare sdeng ligang sasih panamayanya, / Haywa makaryaken ageng, / Kewala gawenen sambutan labuh, / Muwah jajanganan, mangkana pajati ring wwang mati, / Muwah tata kramaning dadi wwang; / ……….

Om Awighnam-Astu. Nihan Catur Pataka, ngaran ; / Lwirnya, ndya ta : ya Sang Brahmana pati pataka, / 10 tahun, wnang wangunen,/ Yanlng Ksatriya, pati pataka, / 12 tahun wnang wangunen, / Yaning Walsya pati pataka,/ 15 tahun wnang wangunen,/ Ya nora Sudra pati pataka. / 25 tahun wnang wangunen, / Yan nora sengke Ika yusanye, / Ika ten wnang wangunen, / Saupakaraning mati bener,/ Yan makdwa lewih patakaning wwang mangkana, / Tken  sang menglakonin karyya,/  ………. Nyan muwah yan anggawa lara kapejahanya, / Lwiring pati salah pati, / Ika tan wnang upakara kadi nguni, / Sawulat-wulataning mati bener, / Wnang tibaken ring Sang Hyang Prattiwi, / Apan sira ulih Sang Hyang Ibhu Prattiwi, / Irika pwa sira mayoga, 3 tahun laminya, / Irika pwa sira kumingkin, saupakaraning mati, / 

Tingkah kadi lagi, / De sang humarepaken sang mati, / Mwang yan purugen, / Sang angentas ginrek de sang Kingkarabala, / Katureng Sang Yamadipati,/ Tinibeng kawah tambraghomuka, / Pinaka hentiping kawah. / Sang humentas pinaka patabeh, / Apan sira tan manon hala hayuning bhuwana, / Anjanma pwa sira wkasan. / Ring santana pratisantana nira, / Mijil pwa sira asuku tunggal, / Asuku tlu, dempet, darih. deyog, / Rumpuh, timpeng, perit. picek, wuta, / Tuli, hudug, basur, abong, gondhong, punuk, / Sakalwiraning papa klesa katemwa denya manusa, / Maharis tikang rat, / Bubur salawur salah ukur ikang rat bhuwana kabeh, / Hudan salah tiba, masanya. / Uler makweh, tikus mwang walang,/ Amangan pari, mangkana kramanya, / Nihan tingkahing Silagama catur cuntaka, / Ndya ta lwirnya? / Yan patakaning stri anggawa manik pjah, / Mwang madruwe putra pjah, ibhunya pjah, / Sapasar pjah, nora Iiwar sapuluh wengi, / Limang dina pjah, yan tan wetu rare ikanang pendhem, / Yan sampun kinardhi, aja amendhem yan tan kinardhi, ………. Nihan tingkahing patakaning wwang salah pati, / Helingakna de sang Bhujangga ujar ring Haji, / Yan hana mati apahkrama ngaranya, / 

Wwang sudra ngrabyani Brahmana, / Angrabining Ksatriya, / Angrapyaning Weisya, / Yan hana wwang Sudra kadi sahika, / Kadi hinucaping harep,lewih candhalanya, / Mwah yan angrabining Pangeran,/ Mwang ibhunya, nini, anak, mwang ring sanak tmen, / Salawase tan wnang upakara, mwang hentasen, /  Mwah van hana wwang salah pati, / Mati malabuh her, mati akendhat, / Salwiring mati kapangawan, / Makadi wwang gring agung, / Salwire kang tumuwuh, / Karaketan dening reged wwang candhala, / Sahiku, patunggalanya, kadi inucaping harep, / Rika ritkaning wnang winangun, / Wnang mapanebusan, / Mwah yan mati sininghating banteng, / Sinambering glap, mati tiba mamenek, / Mati tiben hembidan, mati kareming toya, / Mati sinawuting ula, mati pinangan iwak,/  Sahika mati salah pati, ngaran, / Kawenanganya kaya munggwing harep, / Mwah yan mati maperang,/ Sahika nggawe patinya, ngaran, / Tan wnang pendhem Ika,/ Wnang kinaryakna hante, / Saluhuring hulunati panjangnya, / Rinajah hante ika kayeki, : / Ang, Ang, Ang, mwah ring tengen, Ung, / Ang ring harep, ring kiwa, / Mang, ring harep, / Yan sampun mangkana, humarekna adasa dina, / Yan nora mtu wnang pendhem, / Norana bhaya sangkalanya, / Helem nya yan amreteka wwang kocaping harep, / Nghing sakadi pratekaning panebusan, / Nghing panginggwanya tan wnang bhaksanen, / Mapan wwang mati letuh, kabebeng aprang ngaranya, / Upamanya kadi antiga samuwuk, / Iku antiga tan pamanik, ngaran, / Hujar hala tan parupa, ika helingakna, / Aja murug linging Haji Silagama Catur Pataka, / Yan hana Brahmana nugraha, / Angupakara wwang mati kadi kocaping harep, / Dhandha sang anugraha, / Wnang maprayascitta,/ Mawanawasa 30 dina maring gunung, / 15 dina ring sagara, / Yan sang ratu nugraha wwang mati mangkana, / Kadi hinucap ring harep, / Wnang sira samadi dewa 110 dina,/ Mwang prayascitta ring hajeng padewahara, / Winastu de dhangascaryya purohita, /  Yan nora sahika kadi hucaping harep, / Cemer satata sang anugraha, / Mwah sahulyaning margganing pratingkahing mendhem,/ Yan nora manuting sengkernya, yaning prateka, / Sakwehing prateka tan prasiddha, / Tkeng angupakara ika, / Tan prasiddha dlaha, anmumwah andadi janma, / Sakwehing mala den sandhang, / Alpha patinya, dlaha wwang mangkana, / Tan wandhya rug ikang andha bhuwana, / Bahur ikang rat, / Age pinahayu, dening atabuh gentuh, / Mwang panca sanak agung, / Mangkana kajaring haji, /  ……….

………. Mametwa salah pati, / Mwang uttama, makadinya madhya, mwang nista, / Pjah asuduk sarira, mati magantung, / Pjah malabuh parung mati kareming wwai,/ Pjah gring hila agung, mati tiba mamenek, / Salwiraning salah pati. / Kang wwang uttama, tkaning madhya, mwang nistha,/ Panggawesaning wwang apahkrama, / Ikang handap dadi aluhur, ikang aluhur dadi sor, / Angaduha padha ne lumaku, / Sang ratu nora amagehaken makertti ring rat, / Makadi para Bhagawantha, / Long puja pangastutinya ring para Hyang, / Wong pada amurug ndatan bhakti matwan, / Mwang tan bhakti maguru, / Kewala wong uttama madhya nistha, / Makaryya nghulah sakala, / Niskala norana gawenya,/ Kewala nghulah sakala, / Mungpung kalegheng bhuddhi, / Kang tan kawnang wnangaken, / Tan kang kawnang anggonen-anggonen, / Sarna timpang palakwanya, timpang pangucapnya, / Sahika karananing mtu panawadyanlng tan patut,/ Mtu mawlcara, karananlng tan hanut mapakadhangan, / Makadi tan hanut asanak anak aputu, /  Pratitahnya prasama mangungsi, /  Kewalya hanak, ring lalabhahan sakala, / Nora manyisti ring niskala, / Akweh Wwang anranjana, / Maluhur-luhuran manah, phoraka bhangga, / Apan ika kabeh kasusupan dening bhuta kapiragan Pati bhaksa-bhaksain, / Sahika kojaranya ring Silagema Catur Patake, / Yan magawe hala, tan wangdhya tiba ring kawah aweci, / Yan magawe kertti hayu, / Tan wangdhya tiba ring swargga, / Mangke yan hana karep ira sang ratu, / Mwang sang Pandhitta, / Manepetaken kerttining rat, / Ring sampun wus kacihnan mangkana, / Wnang wangunakna samadhi prayascitta ning rat, / Makadi pamarisuddhaning jagat, / Asing katiben kadi kocaping harep, / Haywa hima-hima denira sang maharep akertti ring rat, / Sakala niskala, pagehakna de sang Prabhu maka tedunging rat, / Makadi sang para sadhaka makabehan, / Nghing yan nora pinahayu samangkana, / Tan wangdhya rugrag ikang rat salawase, / Mawetwa sayan padha angungsi unggon, / Malakwa sapara-paranya, / Sahananing wwang tan hana wruha ring jatinya, / Mangkana kajaring Haji Silagama. / ……….

Berdasarkan kajian sastra-sastra agama Hindu di Bali diatas, khususnya beberapa lontar tentang bunuh diri ‘salah pati dan ngulah pati’ masih sulit di mengerti oleh masyarakat awam pada umumnya maka, melalui Pesamuhan Agung Para Sulinggih dan Walaka di Campuhan Ubud, tertanggal 21 Oktober 1961 telah memutuskan bahwa bagi orang mati salah pati dan ngulah pati di upacarai seperti orang mati bener (biasa/wajar) dan ditambah dengan penebusan serta diupacarai di Setra (Kuburan) dan Tunon (Tempat Pembakaran jenasah / Crematorium).

Pelaksanaan Upacara & Upakara bagi setiap orang yang meninggal harus diuparai sesuai dengan ajaran sastra agama Hindu, namun khusus untuk yang ngulah pati  ‘bunuh diri’  upakaranya ditambah dengan banten pengulapan di tempat kejadian, perempatan / pertigaan jalan, dan cangkem setra / jalan masuk menuju setra ‘kuburan’ , dan banten pengulapannya dipersatukan dengan jenasahnya baik mependem maupun atiwa-tiwa ‘dikubur’. Dan inipun juga harus disesuaikan dengan kesepakatan yang berlaku di Desa Pekraman setempat berupa Awig-Awig, Perarem serta Hasil Rembug para pangelingsir / sesepuh Desa Pekraman berdasarkan Sastra Dresta (Ajaran agama Hindu di Bali), Kuna Dresta (aturan dahulu hingga sekarang yang masih diberlakukan), Loka Dresta (aturan kekinian) dan Desa Mawa Cara (aturan yang disesuaikan dengan Desa, Kala dan Patra / ruang, waktu dan upayalaksana)

KESIMPULAN

Berangkat dari pemikiran diatas, dapat ditawarkan kepada masyarakat sebagai solusi dalam upaya penangkalan dan pencegahan  dini (preemtif) untuk bunuh diri antara lain :

1. Akibat perbuatan bunuh diri ngulah pati maupun salah pati sangat dilarang dan diharamkan oleh agama Hindu di Bali (perlu untuk merevitalisasi arti penting kajian sastra-sastra agama diatas sebagai pegangan para Sulinggih dan Cendekiawan Hindu di Bali).

2. Proses penyucian / nyomya ‘mengharmoniskan suasana’ baik keluarga maupun tempat kejadian perkara bunuh diri harus dilakukan upacara & upakara agama pamrayascita kedurmanggalan dan bagi jasadnya harus dilakukan upacara Pitra Yajna yang khusus sesuai dengan sastra-sastra agama diatas melalui Paruman / Keputusan Perangkat Desa Pekraman sesuai dengan aturan sastra agama yang diberlakukan khusus untuk itu ‘Desa mawa cara di Bali’ sesuai dengan falsafah Tri Hita Karana.

3. Untuk pencegahannya diperlukan pencerahan ajaran agama dalam proses penyadaran dharma lebih mengedepankan Catur Purusartha dijalankan sesuai dengan ajaran sastra-sastra agama yang utuh dalam mengarungi kehidupan yang bersahaja untuk mencegah ancaman, tantangan, gangguan, hambatan, persaingan, depresi dalam kehidupan ini.

4. Kehidupan sosial kemasyarakatan lebih mengedepankan konsep kasih sayang dalam kehidupan menyama braya ’paras paros sarpana ya, salunglung sabhayantaka’, dengan menggalakkan kegiatan lembaga-lembaga kebudayaan tradisionil (berkesenian dalam mewujudkan kebersamaan).

5. Konsep Tat Twam Asi dijadikan pedoman keseharian masyarakat dan umat dalam proses pergaulan dan kehidupan bermasyarakat untuk saling introspeksi.

6. Menumbuhkembangkan kehidupan yang cerdas, memiliki etos kerja yang ulet tanpa mengenal lelah sehingga memiliki daya saing sesuai kebutuhan kehidupan kekinian.

7. Ditumbuh kembangkan motto Satyam – Sivam – Sundaram (satya, jujur untuk menemukan jati diri dalam suasana kesucian 

8. Proses penyucian sukla swanitha mulai ’pertemuan kama bapa & ibu, usia bayi dalam kandungan (prenathal)’ hingga usia lanjut sesuai dengan konsep Catur Asrama yang akhirnya akan memperoleh kedamaian skala dan niskala karena akan melahirkan bayi-bayi suputra (amrestyah putrah / putra sang abadi) yang akan tangguh menghadapi godaan serta cobaan hidup di dunia ini. 

’Om Awighnam Astu ! Iti Sastra Yama Purana Tatwa, ngaran, / Indik sakramaning wwang mati mapendhem, / Yan atahun, dwang tahun, tigang tahun, /  Petang tahun, mwang salawase nora maprateka, / Yaning wawu satahun maprateka, / Tan hana wighnan Sang Hyang Hatma, /  Nanghing wwange mati bener. /  Yan Iiwaring satahun, atmanya matmahan dete, / Tonyan setre, manas ring desa – desa, / Anggawe gring, mangkana halanya, /  Mwah wwang mati mapendhem yan hana mrateka, / Haywa ngarepang mrateka tawulaning wwangke ika, /  Mwah hana pawarah Bhatara Yama, / Munggwing sastra ling Bhatara. “Uduh Sang Pandita ring janaloka, / Yan hana wwang mati samuruping ksithi dharani, / Aja sira mrateka marepang tawulane wwangke ika, / Phalanya tan prasiddha hilang ikang letuh ikang hatma, / Tan siddha kang prateka apan wwangke ika, /Mulih ring jroning garbhan Sang Hyang Ibu Prathiwi, / Waluya sampun mageseng, humawak tanah, /Saletuhing prathiwi rumaket ing wwangke ika, / Tka wenang Pandhita ngarccana hayu hatman sang kaprateka, /Mangke wnang Sang Pandhita nugraha ring manusa loka, / Anggen awak-awakan sang mati, / Siddha mulih hatmanya ring bhyoma siwa, /Amanggih hayu, mangde nirmala, / Telas saletuhing hatma, rawuhing wwangkenya, / Gawen manih pangawak sang mati, / Yaning wwangsa Brahmana, Ksatriya, Waisya, /Candana-rum inganggen pangawak sang mati, /Panjangnya salengkat ring samusti, / Wiarnya patang nari, mesi sastra Pancaksara, /Dasaksara, Ongkara mula, rwa ambheda, /Duluren upakara ring mati pakraman, / Ring desa wenang upakara, ika tan hana salah, / Mwah wwangke mapendhem ika, / Wnang gagah ring dina pabresihan-ira hesuk, /Tulang wangke ika, wasuh dening we kumkuman, /Mwang toyan kalungah nyuh sasih, / Tulang wwangke ika genahakna ring setra, /Gawene kuwu wehana dahar kasturi, /Manah pangawak adegan sang mati, /Hembanen ring setra, hulapin hatman sang mati, /Kinon mulih ring dununganya, duk kari hurip, / irika sang hatma kapratistha umawak Candana miik, /Tkaning dina patiwa-tiwanya, / Tunggalang geseng tulang wwangke ika, / Pareng ring awak-awakan sang mati, / Haywa mrateka tulang juga, / Sang mati mapendhem, / Hidhep amrateka I Bhute Cuwil, /Ngaran tulang wwangke ika, / Atmanya tan kna preteka, mangkana kojaring sastra, /Mwah yening wwang sudra mati matenem, /Majagawu nggen awak-awakan sang mati, /Kramanya tunggal kadi nguni, / Yan nora samangkana, kna upadrawa sang angentas, / De Sang Hyang Prajapati, / Mwang sang angarepin sawa, / Mwah sang pitara sang ingentas, / Wahu lumaris rawuh ring banjaran santun, /Katon dening widyadara-widyadari, / Atma rawuh merupa Cuwil, mahambu apek apengit, /Malayu watek apsara, duleg angambuning atma wawu rawuh, /Hinatur haturing Bhatara Guru, / ” Atma letuh iki rawuh “. / Teher tinundung hingineban dwara wesi, /Atma ika, klinon munggwing jurang ajrem, /Masarira dete mangrik, /Angadakang gring marana ring bhumi, / Angrusak sadesa-desa, / Angrusak sang wiku, mwang sarwa pasu, / Amati-mati wwang, emanasi bhumi, /Anggawe gring tatan papegatan, / Ngebus gumigil, anglempuyeng, / Huyang, paling, tan wnang tinamban, /Mwah Sang Pandhita, / Tkening Sang Ratu ring Madhyaloka, / Haywa murug linging sastra iki, /Phalanya rusak ika sebhumi nira, /Muwah yan hana wwang mati salah pati, /Wwang mati gring ika agung, / Ring smasana juga prateka, tawulanya juga, / Nghing yan hana sengkernya, mangkana kajaring sastra, / 
Muwah iti Uma Tatwa, pawarah Bhatari Uma Dewi, / Munggwing sastra, ri sedheng Bhatari Uma malingga, / Ring Kahyangan Dalem Panguluning Setra Agung, / Ling Bhatari Uma, “Ritatkala rawuh Kaliyuga Bhumi, / Gring sasab marana, makweh wwang mati, / Hana wangsa Brahmana, Ksatriya, Waisya, Sudra, / Mati kna gring, harep age amreteka, / Rawuh sangkalaning bhumi, sumurupaken ring prathiwi, / Yan mahyun mamreteka diglis, / Gawenan banten pajati karihin, / Wawu pinendhem, katur ring Hyang Bhatari Uma, / Mwang ring Sang Asedahan Setre, / Ring Penataran Dalem Panghulun Setre, / Ngaturang daksina 1, ajuman 3 sorah, den asangkep. / Nunas nugraha amrateka, kang sinambat, / Pukulan Bhatari Prathiwi , / Mwah Sang Asedahan Setra Agung, / Nghulun aminta nugraha ring Bhatari, / Rumaksa sawa iki saksana, / Nugraha nghulun age amreteka, / Tan panganti tahunan, nugraha atma ipun, / Tan amanggih papa narake, / Tekaning hana gawe mrateka, /  Irika nghulun anebas ring Bhatari Prathiwi, / Mwah ring sira Asedahan Setra Agung, / Nghulun aminta nugraha ring Bhatari rumaksa sawe, / Mwah ring paduka Bhatari Dalem Panguluning Ksetra Agung, / Mwah ring Sang Sedahan Sma, haywa ta padha Bhatari, / Mweng watek Bhute rumakse setre midhanda, / Ong siddhi, siddhi pamastu ni nghulun”, Tlas, / Yan mangkana kramanya, / Phalanya rahayu Sang Hyang Atma, / Tkaning sang angentas, kasubhagan, /  Mwah sang adrewe sawa, amanggih dirghayusa, / Yan nora samangkana, wenang pendhem anganti tahunan. / Mwah yaning wwang mati mapendhem, / Teher anganti tahunan, / Tan kawenang sakama-kama, alphayusa sang amreteka, / Hala kajaring sastra, / Yan wwang sudosa mati sakawangsanya, / Tka wenang nganti sengkernya dadi maprateka, / Yaning wwang ngulah pati, / Sengkernya 11 tahun, wenang prateka, / Yan dudu mangulah pati, matmahan sinangkala, / Kawase pjah, mapa lwirnya : sininghating kbo sapi, / Tiba mamenek, salwring mati kapangawan, / Padha 3 tahun sengkernya, / Yan lalung sengkernya, tan wenang hentasen, / Haywa murung linging sastra iki, / Rusak ikang bhumi, sang Prabu Pralaya, / Sang Pandihta sudosa, /   
Iti Sastra Yama Purwwana Tatwa, / Sedheng Bhatari Durgga ring gaganantara, / Ngaksi atma sangsara ring kawah agni, / Malinggod bhawa Bhetari, / Marupa SangHyang Yamapati, / Ngamel hale heyuning atma, / Waneh ring Yamaloka, mantuking panti bhumi, / Dadi Bhatari Uma Dewi, / Ring sedheng sira malinggih ring Setra Agung, / Maraga Bhatari Durgga Dewi, / Mangke cinarita Padandha Alapa Ender / Jumujug maring Iinggih Bhatari, / Dadi kagyat Paduka Bhatari, / Mangrak-mangrik, kadi singha rodra, / Agya nugela gulu nira, / Sang jumujug ring Iinggih Bhatari, / Saksana dhateng Bhatari Brahma, / Humuhuti glong Paduka Bhatari, / Inangken anak de Bhatara Brahma, / Katkan lesu glong Bhatari, / Irika sira Sang Atapa Ender, / Aminta nugraha ring Bhatari, / Kasiddhya ning ajnyana kretta siksa, / Yan mahyun anaycang suryya siddha denya,/ Mwah aminta pangilangang letuhing atma ning wwang, / Siddha molih swatgga siwa bhawana, / Irika Bhatari asiluman rupa, / Arupa Sang Hyang Yama, akrura rupa, / Tulya Rudra murtti, /  Irika Sang Hyang Yama nugraha wanra warah suksme, / Ring sang Atapa Ender, kanugraha sing pntanen, / Sahunduking amahayu sawa ika, / Yatika kalane hana sastra Yama Purwwana Tatwa, / Sampun kabyaya de sang sadhaka kina-kina, / Ring pasuruhan, mwang Balangbangan, / Katkeng bhumi Bali rajya, / Rontal iki druwen Ida Bagus Gede Wiyana, / Agrha ya ring Wanasari Sanur, / 
Iti mangkana linging sastra, / Sahaning wwang mati mapendhem, ne mati bener, / Hidhep mulih ring jroning garbhan Hyang Ibu Prathiwi, / Hidhep sampun bhasmi, / Waluya mawak tanah, yadyan hana tawulan kantan kari, / Sampun winastu de Bhatara Yama, / Mawak Bhuta Cuwil, / Ya tika kalane wenang gawenen awak-awakan sang mati, / Olih candana miik, yadyan kusaghra ngalalang, / Matulang candana, wkasan Sang Hyang Atma molih rahayu, / Rawuhing sang amreteka, / Amanggih dirgghayusa, tkaning bhumi nira, / Tananggani cuntaka titir. Tlas. / Nyan tingkahing lare, yan mawangsa Brahmana, / Ksatriya, Waisya, yan matuwuh 5 lek, / Pjah kneng gring, wehana toya penglepas lare, / Gawenen saji tarpene, gesengakna juga, / Hanyut galihnya ring sagara pramangke, / Yan nora samangkana, winastu de nira Bhatara Yama, / Dadi Shuta Anggalara, / Angadhang-adhang atma wawu rawuh, / Wkasan tumitis, tan pangidhep tutur, / Yan hana Atma rawuh, wawu wus kaprateka, / Kahadang olih rare bajang, / Tatan sapira kwehnya, / Humampel-ampel sukuning atma wawu rawuh, / Kroda watek atma, tinembung dening lajer, / Tinedhel, pinanting rare bajang ika, / Pabrengik manangis, wkasan supat, / Dumadi jadma ring madyapadha, dadi dyog, / dopang, kibih, bengkuk, perut, cedangga awaknya, / Mwah hana atma kapangguh naraka, / Munggwing alang-alang aking. / Mangob ring soring wadhuri, reges, / Katiksnan dening panasing suryya, / Manangis mangisek-isek, / Sumambe anak putunya sangkan hurip, / Lwir sabdhaning atma papa, / “Uduh anakku ring madhyapada, / Tan hena matra wlas ta ring kawitanta, / Maweh bubur, muwah we satahap. / Akweh mami madrewya anak putu, / Padha mami maweh kasukan ring setra, / Muwah drewya mami hana kagamla de ne kite. / Tan hana wwang ku mati, sira juga amisesa, / Angge sira kasukan, tan heling sira ring rama rena, / Aweh tirttha panglepas, / Jah tas mat ta kita santananku, / Wastu kita amangguh halpha yusa”, / Mangkana tmah sang atma papa, Tlas./ 
Om Awighnam – astu. / Iti Widhisastra, saking nithi Padhanda Wawu Rawuh, / Indiking wwang mati, / Sumuruping ksithi maring Setra, / Yanya durung hana satahun, / Haywa mrateka, yen kedoh amreteka, / Phalanya tan prasiddha knaingentasatmen sang pinrateka, / Anemu sangsara ikang atma, Sang Hyang Pratiwi rumaga ibhu, / Kadi rare rare umunggwing, garbhan sang ibhu, / Durung puput leknya kinon mijila, / Salah wetu ika, dosa sang angentas, / Tkaning sang amrateka, / Tan kawenang wenangaken, / Asing tumuwuh ring prathiwi, / Hana sukat leknya, / Asing tinanem hana sukat leknya, / Hantinen patuwuhanya, yan nora samangkana, / Bahur ikang rat, hiweng kang bhumi tan pahingan, / Mangkana tka halaning rat, / Muwah yen hane sawe mependhem ring setre, / Yan sampun hana satahun sengkernya, / Yan hana mrateka, ring smasana prateka, / Haywa mrateka sawa mapendhem, / Anggawa ring desa tawulanya, / Yan hana nggawa ring desa, / Letuh ikang bhumi phalanya, / Karanjingan dening Kala Bhute desa ika, / Dewa mur tan suka mahyangan ring desa ika, / Mangkana halanya, mwah aja ngeliwaring setahun, / Amrateka wwangke ika, / Yan liwaring satahun, / Winastu de Bhatara Yama, / Tawulan wangke ika humawak Bhuta, / Sangsara atma ika, mwah salwiring mwang mati, Sumuruping ksithi tala, yan hana mrateka, / Wenang ring sma prateka, /  Reh hana sawa sake watang pratistha, / Uttama dahat gawe ika, / Dulurane awak-awakan sang mati, / Olih candana miik, tinulis pinindha sang mati, / Mesi sastra dasaksara, triyaksara, / Ongkara Mrettha, rwa bhineda, / Mangkana kramanya genahakna ring sawa, / Muwah yan hana wwang mati ten pasewa, / Wenang gawenen awak-awakan dening wwai wangke ika,  / Sakama-kama wenang genahing mamrateka, / Yan wwang mati bener, / Muwah tingkahing wwang mati pinendhem, / Wenang mapangentas sang wawu mapendhem, / Phalanya molih genah Sang Hyang Atma, / Munggwing batur kamulan, / Yadyan masuwe tan kaprateka, / Rahayu ikang atma, yen nora mangkana, / Winastu de Bhatara, / Mawak Shuta, salamine tan ingentas, / Muwah tingkahing mati pinendhem, / Ring desa pakraman angarccana pangawak  sang mati, / Lwirnya ne wenang angge candana miik kadi nguni, / Dulurin upakaraning mati masawa, / Ya tika pinangaskara de sang guru, / Ring desa pakraman, wnang prateka, / Tulang wangkene mapendhem, / Ika wangunen karihin maring setre, / Wehin tirttha panglukatan mwang pabersihan, / Dahar kasturi, suci, / Rawuhing dina patiwa-tiwanya geseng tulang Ika, / Sarengang awak-awakan wangke ika, / Siddha rahayu Sang Hyang Atma, / Nora ngeletuhin jagat, / Prasiddha ingentas Sang Hyang Atma, / Muwah sang mati sawangsanya, / Yan mahyun amendhem, mangde aglis mamrateka, / Hana panugraha Bhatara Yama, / Wenang ngaturang pajati suci mwang daksina, / Ring wawu pinendhem, / Aminta nugraha ring Bhatari Delem Pangulun Setra-Gung, / Mwang ring Hyang Prattiwi, / Rumaksa sawa saksana, / Tan panganti sengker, mwang tahunan, / Nunas anugraha ring Bhetari, / Mwah ring Sang Sedahan Aweci, / Digelis amrateka, irika sira anebas atma, / Ji gung arttha 8.000 ; maduluran suci daksina, / Mwang pras, katur ring Bhatari Panguluning Setra, / Muwah ring Bhatara Yama, sega pangkonan, / Iwak bawi ingolah, den asangkep, / Labahan Sang Asedahan Aweci, / Tunggal kadi labahan Bhatara Yama, / Yan durung hana segkernya, waneng tahunanya, / Yan prateka wwang mati mapendem, / Phalanya rusak ikang rat, nagaran, / Bahur ikang nagara, gring marana tan pgat, / Sang prabhu mwang sang Panditha, / Kabhedha-bhedha de Bhatara Yama, / Mangkana kajaring sastra,/ 
Iti Widhissastra, nga; saking niti Bhatara Mahadewa, / Jumeneng ring Kahyangan ring Basukih, / Tumut Bhatara Manik Gumawang, / Jumeneng ring Kahyangan Watumadheg ring Basukih, / Mwah Bhatara Ghnijaya, / Malingga ring Kahyangan Giri Lampuyang. / Tumut Bhatara Jayaningrat. / Jumeneng ring Giri Beratan, / Maka miwah Bhatara ring Pejeng, / Sira Bhatare Manik Galang, / Ling Bhatara Mahadewa, “Uduh anak mami dewata kabeh, / Rengo pawarah mami den pahenak, / Tata kramaning bhumi Bali, / Pati huriping manusa kabeh,/ Tan pakrama unduk kapetyania, / Tan paulah ring Pandhita ring madhyapada, / Tan paweda mantre, / Haji panglepas atmaning wwang mati, / Tan hilang letuhing sawa, / Trus katkaning linggih Bhatara letuh, / Kang jumeneng ring khayangan Bali, / Karanjingan ikang bhumi, / Olih Bhuta-Bhuti sarwwa Durgga Kali, / Wehen unduk tataning wwang kapatyania, / Nora hana angletuhin bhumi nira; / Reh pade Bhatara nusup malingga ring desa pakraman, / Tka wenang sang sadhaka mratistha wwang pati hurip, / Tkaning kahyangan Dewa, / Ling Bhatara Mahadewa munggwing sastra, / Mawara nugraha warah munggwing haji. / Udhuh sira para punggawa ratu Bali, / Catraning bhuwana kabeh, / Hana pawarahku ring sire, / Ri tatkalaning wwang mati, / Hana sumuruping ksithi tala maring setra, / Mala kapatyan, ngaran, / Yan tan matirttha panglepas, / Wkasan yan hana mrateka, / Haywa wineh amrateka ring Desa Pakraman, / Sebel punah aku, / Salwiring sawe mependhem, / Masarira Bhuta Cuwil, / Yadyan nambut sawe karesyan mawak candena, / Haywa mrateka ring desa Pakraman, / Ring sma sana juga prateka, / Salwiring wwang mati mapendhem, / Kalane mangkana, Desa Pakraman umawak Kahyangan, / Ring Setra umawak Kawah, / Phalanya yen mangkana, / Kasusupan sarwwa letuh ring setra, / Rumaketing Kahyangan ring Desa, / Reh subhe karmane swasthe ring aghni, / Winalik sira sumuruping ksithi, / Ika ingaran wwangke kamalan, / Yadyan mati bener, salah ulah hidhepe, / Hidhep mati kapangawan, / Mangkana halaning wwang mati mapendhem, / Tka wenang geseng juga mangde swastha, / Ya tika gugwanen, yan kahalangan bhumi, / Wnang mapajati ring Sang Sedahan Setra, / Banten suci, daksina, pras, / Nunas dununganing sawa ring Hyang ibu Prettiwi, / Mangkana kramanya, / Reh tan wenang wwange mati bener mapendhem, / Geseng juga kawenanganya, / Ne wenang mapendehem salwiring wwang salah pati, / Mati kapangawan, wwang kneng gring agung, / Mangkana ling Bhatara munggwing sastra. / Muwah ling Bhatara Yama, / Yan hana punggawa ring Bali Rajya, / Yanya murug pawarah aku munggwing sastra, / Phalanya tan pegat gring sang Bhupati, / Reh Bhatara Mahadewa sira jumeneng ring Basukih, / Padha mahyang ring kahyangan Agung-Alit, / Ring Negara Bali Rajya, / Tan kataman letuh ikang Desa Pakraman, / Duhka sarwa dewata kabeh ring sang Ratu Bali, / Dewa mur kalabuing gring sasab marana tan pgat, / Sang ratu mwang sang Brahmana, kna gring agung, / Para pitra duhkita tan molih genah hayu, / Mangkana halaning jagat, / Haywa sang rumaksa jagat mwang sang Pandhita, / Murug Iinging sastra iki, / 
Iti Widhisastra, saking niti Bhatara Manik Gumawang, / Jumeneng ring Kahyangan Watumadheg ring Basukih, / ling Bhatara, “Udhuh sang ratu Bali, / Hana pawarah mami munggwing haji, / Krama kepayaning wwang, / Haywa mendhem sawa ring ksithi, liwaran ring satahun, / Yan hana wawu satahun, prateka juga wenang, / Rahayu ikang rat, yan lwaring satahun, / Yanya 2 tahun, 3 tahun, / Winastu de Bhatara Yama, / Dadi mawak Bhuta Atmanya, / Sah sangkeng Aweci Bhuta ika, / Ngranjing ring manusa loka, / Angadakaken gring sasab marana, / Amati-mati wwang sadesa-desa, / Tan papgatan wwang agring agung sabhumi nira, / Muksah Bhatara ring Basukih, / Mantuk maring gunung Mahameru. / Tan suka mahyang ring Nagara Bali, / Reh Nagara Bali dahating letuh, Kasusupan Bhuta, / Mangke wenang sang Haji Bali, / Kon amreteka wwang mati de age, / Aja sira nganti liwaring satahun, / Mangkana ling Bhatara munggwing sastra. / Muwah hana ling Bhatara samuha ring Basukih, / Tingkahing wwang mati mapendhem, / Mala kapatyan nga, / Yan hana mrateka wenang ring setra juga prateka, / Tawulan wangke ika dulurana sawa karesyan, / Tan wenang prateka ring Desa Pakraman, / Letuh ikang bhumi, / Haywa sira sang aji Bali amurug ling sastra iki, / Tan wandya kna upadrawa sang aji Bali, / Tkeng sang angentas, de Bhatara Basukih. Tlas. / 
Om Awighnam-astu, lti Yama Tatwa, nga, / Udhuh sang kretta diksita ring Madhyapada, / Hana pawarah mami ring sang Pandhita, / Ri kala kapatyaning wwang ring Madhyapada, / Ritatkalaning wwang mrateka sawa, / Patuting upakaranys, kawnang awak sang mati mageseng, / Tka sangkalaning bhumi, rikala patiwa-tiwanya, / Tinitah de sang amawa bhumi, / Kinwan anyurupaken ring pratiwi wangke ika, / Aja ingangge prateka awak-awakan sang mati, / Krama genep wkasan, nekawenang angge upakara nyawasta; /  Nunas nugraha ring sang Pandhita, / Mwang ring sang Ratu, / Mangde swasta sang ingentas, / Yan sira ngangge prateka patututing prateka agong,/ Tikang awak-awakan sang mati, / Rawuhing panamayan sang matiwa-tiwa, / Dadya ta sumurup ring ksithi, / Dadi sawa kamalan, ngaran, / Wlang wlut ikang prateka, / Hning matemahan puwek, / Tan sida Ingentas ikang atma./ Andadi atmanya Bhuta Cuwil, / Kna sodha de nira Bhalara Yamadipati, / Salwir tirtthan Bhatara mendadi wisya, / Mwah ring wwang angarepin karyya, / Tkeng mwang desa, amanggih gring tan pgat, / Atmaning wwang ika, matmahan ngumbarana gring, / Amati-mati wwang, mwah sang anugraha panglepas, / Kna soddha de Bhatara Prajapati, / Wkasan katkaning atman sang anugraha, / Tiniwak ring kawah aghnl de nira Sang Hyang Yamadipati, I Duk kari hurip, amanggih wyadi tan pgat, /  Mangkana kajaring sastra. / Nihan Iingning Widhisastra Siwadharma, / Kramaning kapatin, / Sawa tan kna ingulatan, wnang swastha / Gawekna awak-awakan ring dyun, / Bebedin lawe, wnang 12 ileh,/ Hisya ning wawai purnna, walungana cendana.9./ Surating dyun, rwa bhinedha, / Mwah paripih candana. ‘1. / Sinurat dasa bayu, podi, 2: / Jijlih 12 siji, trena kusa pada 66 katih. / Recadana daluwang taru, sinurat Dasaksara, / Triyaksara, Rwa bhinedha, Ong kara lingodbhawa, / Wus mangkana hajegakna ring salu, / Wehin saji tarppana sakabwatan, / Asing pamkas, ring henjing hesuk, / Geseng ring hareping bale silunglung./ Wus gineseng hadhegakna ring posadi, / Kaya haneng pakiriman, pranawa iuga, / Kewala tibanin toya panglepas, /  Karuhun ridurungnya mageseng, punia hawu; mantra kaya pakiriman, / Astiwedana kunang, /  Yadyan harep anebasin wnang, I Riwusnya, hanyut ring wwai wnang, / Hana mangkana piteket Sang Hyang Dharma, / Ring Sang Bhasmakertti, / poma hila-hila, helingakna, / Haywa murug linging sastra iki, / Ian hantuk sira. Tlas ./ 
Nihan Niti Sastra, / Wnang katama de nira Sang Sidhanta Brata kina-kina, / Tingkahing wwang mati mapendhem. / Haywa Sang pandhita nugraha, / Mwang sang rat yan hana wwang mati mapendhem,/ Yan durung hana satahun sengkernya, / Yan prateka sawa ika, / Tan siddha hentas, / Apan muliheng garbhan sang ibhu prettiwi, / Sang mati saksat mulih rare, / Munggwing ironing gharbha./ Ya tika kalane nganti sengkernya matu,/ Mangkana tatwanya. / Yan hane Pandhita murug tinging sastra iki. / Dudu Pandhlta ika, wiku dusta ngaran, / Arnatenin bhumi ika, / Ri tkaning kapatyanya, / Papa tan pasengker wiku mangkana, / Mwah wwang mati mapendhem, salawase adasa tahun, / Yan prateka tan pakaryya, / Tan siddha kna hentas atma ika, / Muwah wwang mati mapendhem, / Ne tan salah pati, wahu satahun ika wnang prateka, / Yan liwar kadi sahika, / Phalanya atma ika dadi kdukaning kawah, / Tumitis andadi bragala, dadi wgang, / Manigit pari, sarwwa tinandur kamaranan, / Gring makweh, mangkana kramanya, / 
Iki hana panugrahan nira Sang Hyang Swamandala, / Ndi Sang Hyang Swamandala?, / Sira Bhatara Surya Candra, / Bhatara Arddanareswari ye, / Kalama de sang Sidhanla brala kina-kina, / Munggwing haji, / T ata kramaning wwang mati mapendhem, / Tan hana sengkemya, dadi prateka sakama-kama, / Gelaren pangentas karihin, / Ikang sawa wawu mapendhem, kramaning amendhem, /  Rikala apasang pangentas, / Hana kukundhanga nira, Ma / ‘Pukulun Bhalari prattiwi, / Paduka Shalari pinaka ibuning sarwa tumuwuh ring jagal, / Rawuhing manus a pada, / Punika sawa hyang nganak Bhatari Pratiwi, /  Hembanen dukeng rat, / Sampun hingentasan de sang Guru Siwa, /  Mangke nghulun aminta ring Paduka Bhateri, / Angraksa lawulanlng saws, / Mwah Sang Sedahan Aweci, / Walek Dorakala kabeh, / Tan hana asengker tahun,/ Yan siddha de sanghulun, amretistha sawa iki, / Nghulun anebasna ri Sang Sedahan Awaci, / Muwah ri Hyang Bhatari Prattiwi, / Muwah ri Sang Makmit Setra, / Ri Sang Asedahan Bangbang, / Sang Kalapati, hawya midandha atma ika, / Hana kalaning panangaskaran hulun wkasan, /  Samangkana pangastawaningsun’. Tlas./ 

Banten panebas sawa ring Setre ; /  Mapendhem durung tutug sengkernya, / Banten suci katur ring Bhatari Prattiwi, 1, / Ring Sedahan Kawah, 1; / Ring Sang Kalapati, 1 : sodhahan 4 punjung, / Muwah punjungan agung, 1 : lwak bawi akerang, / Muwah jajrowan mentah, gtih, rumbah gila,/  Sesanlun hartlanya 8.000 : bras 4 catu ;/ Nyuh 4 bungkul: taluh 4 bungkul ; / Sarwa patpat den agnep kadi sesantun,/ Malih pangambe atma den agnep. / Ma; Ong indah ta sira Kaki Sedhahan Aweci,/ Kaki Sedhahan Bangbang, Kaki Kalapati; / Sahananing makmit ring Setra Agung, / Muwah sang catur sanak, /  Nghulun anebasin sawane si anu ring sira padha, / Aja sira midhandha, amidosa, atma iki, / Muwah ta•nghulun angupakara atma, / Wastu amanggih dalan rahayu, / Muwah ta nghulun amanggih dirggha yusa, / Sih nugraha nghulun, de paduka Brahmana sakti, / Siwa Buddha, malingga ring Kahyangan Pusering Desa, / Ring Katewel, kajenengana de paduka Bhatara  Surya Prajapati, / muwah Sang ingentas atmanya amanggih sadhya rahayu,/ Puniki panebasan nghulun ri sira, / Bhukti den abecik, / Ong pradhana purusa swasthi swasthi, / Dewa Bhuta bhuktyantu sarwwa Dorakala, poma, 3./ Manih banten panebas atma wwang mati mapendem, / Kang mati bener, Iwimya, / Banten suci asoroh, pras panyeneng asoroh, / Sga apunjung,lwak bawi ingolah akarang, / Sajong, loya, jajrowan bawi malah, gtih. rumbah gile, / Segehan, daksina agung,  ; den agenep, / Panebusan harttha 4.000 ; , panak pisang apuwun, / Mantra kakundhanga nira, / Ma : Ong indah ta kita Kaki Sedhahan Aweci, / Muwah Sadahan Bangbang, / Nghulun anebusin sawane si anu, I Aja anyangkalen, iki ganjaran sira, poma 3 . / Nihan tingkahing wwang mati, / Kataman gring kamaranan, / Haywa nyekeh ring umah, I/ Phalanya suka watek klngkara Bhuta,/ Kala, sasab, maumah ring Kahyangan semi, / Salwiring kahyangan anggenya pedhem , / Rusak ikang bumi, / Pendhem juga kabeh, / Sang Pandhita, yadyan wwang sudra,/ Lamun sampun wus asurudayu, / Tan wenang pendhem, / Yadyan pamongmong Dewa,/ Lamun tan asurudayu,/ Katampak olih Siwanya, / Kewala manusa krama,/ Wnang pendhem juga,/ 
Iti Yama Purwwana Tatwa, ngaran;/ Saking Niti Bhatari Gayatri, / Katama de Sang Adhaka kina-kina, / Ri tatkalaning wwang sahananya, / Adruwe sawa mapendhern, / Madruwe wwang rare sdeng ligang sasih panamayanya, / Haywa makaryaken ageng, / Kewala gawenen sambutan labuh, / Muwah jajanganan, mangkana pajati ring wwang mati, / Muwah tata kramaning dadiwwang; / Ne tan wenang ngawangun karya, / Amuja sasapuh ring sanggar, / Salwiring karyya ring Kahyangan, / Muwah magunting, mahingkup, wiwaha karyya, / Salwiring gawe mahayu sarira, / Yan hana adruwe bapa babu, / Sanak ta ring ka anak femen, / Anak dya nyama, ne sampun pjah sumuruping ksithi, / Ikang sampun wus adyus, / Durung pinrateka ingentas, / Tatan kawenang ngawangun karyya kadi kocaping harep, / Apa kalane mangkana, / Reh bhuwana Agung mwah Bhuwana Alit kari letuh, / Duka Shatara Prajapati, kna upadrawa wwang mangkana, / Yan hana ngwangun gawe kadi sahika,/ Madruwe harep-harepan sawa kari mapendhem. / Yaning kdoh mangambahin, ring tka gawenya, /  Kawretta rawuh ring pilaran sawa mapendhem, / Manangis sang Pitara, sumesel awaknya, / Masasambat anesel sang kari hurip, / Ling sang Pitara, ; Uduh tanayan mami sangkarihurip, / Suka sira amangan anginum,/ Angupakara awakta, manira manggih lara, / Apen durung hinentas, olih sire, / Suka bungah nganggo lewih, / Tuhu kamu tan pakretti kadharman, / Krengo de Bhatara Yama, / Panangis nikang atma papa, / Kaupadrawan sang awangun gawe ika,/ Jah tas mat kito manusa, ngwangun gawe langgah,/ Wastu kneng upadrawa, amanggih hala alpha yusa, / Kinwan I Bhuta Cuwil, ngater sang atma manangis, / Maring umah sang akaryya. / Kadyusi awaknya sang atma, / Ring banyeh wangke mapendhem, / I Bhuta Cuwil maguyang ring sawa sedeng awuk, / Masambayut basang wangke, / Kalunlun atma ika, olih rante wesi, / Rawuh ring umah sang akaryya, / Munggah I Bhuta Cuwil ring Panggungan Agung, / Ambhukti banten, nimitta pengit mahambu kunapa, / Dadya mur sang arwwa Dewata, / Pitwi sira Hyang Guru Kamulan, / Sahananing Dewa muksah, / Winastu sang angwangun karyya, / Amanggih bhaya agung, reh ngaturaken aweci ring Hyang, / Mangkana sudosane wwang amurugeken kajaring haji iki, / Yan hena nugraha samangkana, yadyan sang Pandhita, / Maka miwah Sang Ratu, / Tan siddha gawenya yan mangkana. Tlas, /  
Om Awighnam-Astu. Nihan Catur Pataka, ngaran ; / Lwirnya, ndya ta : ya Sang Brahmana pati pataka, / 10 tahun, wnang wangunen,/ Yanlng Ksatriya, pati pataka, / 12 tahun wnang wangunen, / Yaning Walsya pati pataka,/ 15 tahun wnang wangunen,/ Ya nora Sudra pati pataka. / 25 tahun wnang wangunen, / Yan nora sengke Ika yusanye, / Ika ten wnang wangunen, / Saupakaraning mati bener,/ Yan makdwa lewih patakaning wwang mangkana, / Tken  sang menglakonin karyya,/  Bhyakta kalebwing triyyak. / Nguni parikramaning angentas-entas, sang Brahmana,/  Pati pataka nistha madhya, / Ikang utamanya, haywa sumare-sare, / Adhepakna gening wuluh gading, / Gulihin candana, mastaka tkeng muka, / Carmenene kerenom, / Hinejum, roning kumudha,/ Hisenin dasaksara, sasangka nira,/  Hisenin lawe, lamaking wedhl waringin, / Hisenin carmma, aksarani tryaksara, rwabhinedha,/ Hentasen ring sma sana rumuhun,/ Wehi pras, mwah tkaning pangaskare, / Kasthawa, tuntun Sang Hyang Atma, / De ning Sang Hyang Ongkaratma mantra, / Mwah tepung tewarin, lisin, / Kajemas, kusuhi, wiyahi, widdheyusi, sma. / Pasangana pangaskara, / Apan tan wnang Sang Pitre andilah anuhun peda, / Apan mijil Sang Hyang Atma, / Sakeng Sang Hyang Ongkara, / Hupasaksi ring Sang Hyang Kasuhun, / Tlas ring parikrama, pangaskaran, / Angarepi sapratekaning amati, / Bhasma dening candena, hentasi, / Bhasminen dening candana, kaloping, / Madori jnar, kameri, kusa, krama saliksaka, / Kunang duking smasana, / Tebasen sang Pitra ring Sang Atunggu Setra, / Sasari hartta 8.000 ; kampuh saparadeg, /  Bras 4 catu, genep, saupakaraning daksina, / Kadi nguni, tkaning hebatan, / Saha pras, lukat pengentas, / Nyan pratekening wong tan wnang upakare,/ Sahulat-hulataning mati bener, / Kang ingaranan wong sudosa,i/ Triya lawen sudosa, kajatmikan, / Ndya ta Iwirnya, nihen : / Yan hana sudra angalap Sang Brahmana,/ Ksatriya, mwang Brahmana, / Mwang Brahmana, Ksatrya, / Yan amalat abhicaruke,  Muwah larangan Sang Brahmana, / Ksatrya sadaya, hinalap dening Sudra, / Yan huwus katenger dening loka, / Jana loka, katawuran pwekang Jana loka,/ Dedi pineribhuta pinejahan pweka ya, / Ri huwusnya pinejahan, / Ika tan wnang upakara, / Sahulataning mati bener, / Mwang tan wnang hentasen de Sang Brahmana, / Apan wong sudosa, ngaran, / Tkeng atmanye amanggih sengsara papa, / Tibeng aweci, maka dhasaring kawah, / Kadi hilining lwah papania, / Tan wnang sang Brahmana, / Mwang Bhujangga, / Humentasaken wwang mangkana, / Apan wwang mangkana sudosa, / Ndya ta lwirnya, / Sing amungpang sinapa de Bhatara Harichandhana, / Apan sira sahekan corah ngarania, / Wnang sira maka patabeh, / Tibeng aweci, muwah rangda ning mati, / Kang ingaran dosa, yan Brahmana, Ksatriya, / Wnang sira alabuh-apuy, / Sinapa de nira Bhatara Haricandhana, / Sinungan Bhatara Brahma, / Dosanya mungpang laku, angrebahaken kajaten, / Nyan muwah yan anggawa lara kapejahanya, / Lwiring pati salah pati, / Ika tan wnang upakara kadi nguni, / Sawulat-wulataning mati bener, / Wnang tibaken ring Sang Hyang Prattiwi, / Apan sira ulih Sang Hyang Ibhu Prattiwi, / Irika pwa sira mayoga, 3 tahun laminya, / Irika pwa sira kumingkin, saupakaraning mati, / Tingkah kadi lagi, / De sang humarepaken sang mati, / Mwang yan purugen, / Sang angentas ginrek de sang Kingkarabala, / Katureng Sang Yamadipati,/ Tinibeng kawah tambraghomuka, / Pinaka hentiping kawah. / Sang humentas pinaka patabeh, / Apan sira tan manon hala hayuning bhuwana, / Anjanma pwa sira wkasan. / Ring santana pratisantana nira, / Mijil pwa sira asuku tunggal, / Asuku tlu, dempet, darih. deyog, / Rumpuh, timpeng, perit. picek, wuta, / Tuli, hudug, basur, abong, gondhong, punuk, / Sakalwiraning papa klesa katemwa denya manusa, / Maharis tikang rat, / Bubur salawur salah ukur ikang rat bhuwana kabeh, / Hudan salah tiba, masanya. / Uler makweh, tikus mwang walang,/ Amangan pari, mangkana kramanya, / Nihan tingkahing Silagama catur cuntaka, / Ndya ta lwirnya? / Yan patakaning stri anggawa manik pjah, / Mwang madruwe putra pjah, ibhunya pjah, / Sapasar pjah, nora Iiwar sapuluh wengi, / Limang dina pjah, yan tan wetu rare ikanang pendhem, / Yan sampun kinardhi, aja amendhem yan tan kinardhi, / Trang ikang bhuwana alit bhuwana agung, / Sahika wwang mati cmer, ngaran, / Geng letuhing nagara, / Bhuwana agung mwang bhuwana alit, / Mwah tan wnang upakara, / Mwang hentasen, wnang pinendhem masengker,/ Yan nora wwang rare sahika metu tutug sengkere,/ Wnang sadak ring pamalungan dening wuluh ghading,/ Reka ikang rare, dening kusa, / Kramaning angreka sahika, saha sasantun, / Nistha madhya mottama, saha suci asoroh genep, / Pras panyeneng, mesi hartta, / Magelang benang, hartta satak aneh, / Tingkahing amendhem pangrekan ika, / Dohakna ring ibhunya, / Yan nora sahika trang bhuwana rwa, / Kunang sengkernya, yaning wwang uttama, / Satahun wnang upakara hentasen, / Yaning Ksatriya,2 tahun wnang hentasen./ Yaning Weisya, 3 tahun wnang hentasen./ Yaning Sudra, 4 tahun wnang hentasen, / Pamarisuddhaning pangentasnya, / Ghni-nglayang, hastupungku, /  Samalaning lara pataka, suddha sirnna denya, / Mwah panebus atma ring setra,/  Ring Dalem, Bhatari Durggha, / Saupakaraning panebus,/ Yan nora kadi sahika, / Tan siddha sang atma maupakara, / Sageng pangupakaranya tan presiddha, / Yan sampun liwar sengkernya./ Nora ngeletuhika ri sabhayanya, / Yan nora sahika, campur bhuwana kalih, / Bhuwana agung mwang bhuwana alit. / Sumarambah tikang prattiwi. / Makadi Kahyangan. mwang Bhuwana alit, / Sang Brahmana Pandhita, Ksatriya, / Makadi Waisya mabala. mwah Sudra Jati, / Yan nora tutug sengkernya winangun, / Bahur ikang rat, / Wadwan sang Prabhu milag, Sang Ratu kagringan, / Gring tan pgat ring jagat, / Tikus wreddhi, gaga sawah tan dadi, / Tumpur kang bhuwana rwa, / Mapan letuhing aletuh, / Mwah tingkahing ngawetuang rare, / Wnang sira sang Pandhita, / Aja wwang Iyan, dhendha sang makon, / Dhandhanya kadi candhalaning sang mati manakan, / Sama rwa sang makon lawan sang kinon, / Sama amanggih candala, sahika kadadianya, / Mwah tingkah ngawijilang rare ika, / Sa; payuk anyar, sekar pucuk, wwai putra, / Upakaranya, pras panyeneng, hartta 225, / Sasantun sakottama. aja salah surup, / 
Nihan tingkahing patakaning wwang salah pati, / Helingakna de sang Bhujangga ujar ring Haji, / Yan hana mati apahkrama ngaranya, / Wwang sudra ngrabyani Brahmana, / Angrabining Ksatriya, / Angrapyaning Weisya, / Yan hana wwang Sudra kadi sahika, / Kadi hinucaping harep,lewih candhalanya, / Mwah yan angrabining Pangeran,/ Mwang ibhunya, nini, anak, mwang ring sanak tmen, / Salawase tan wnang upakara, mwang hentasen, /  Mwah van hana wwang salah pati, / Mati malabuh her, mati akendhat, / Salwiring mati kapangawan, / Makadi wwang gring agung, / Salwire kang tumuwuh, / Karaketan dening reged wwang candhala, / Sahiku, patunggalanya, kadi inucaping harep, / Rika ritkaning wnang winangun, / Wnang mapanebusan, / Mwah yan mati sininghating banteng, / Sinambering glap, mati tiba mamenek, / Mati tiben hembidan, mati kareming toya, / Mati sinawuting ula, mati pinangan iwak,/  Sahika mati salah pati, ngaran, / Kawenanganya kaya munggwing harep, / Mwah yan mati maperang,/ Sahika nggawe patinya, ngaran, / Tan wnang pendhem Ika,/ Wnang kinaryakna hante, / Saluhuring hulunati panjangnya, / Rinajah hante ika kayeki, : / Ang, Ang, Ang, mwah ring tengen, Ung, / Ang ring harep, ring kiwa, / Mang, ring harep, / Yan sampun mangkana, humarekna adasa dina, / Yan nora mtu wnang pendhem, / Norana bhaya sangkalanya, / Helem nya yan amreteka wwang kocaping harep, / Nghing sakadi pratekaning panebusan, / Nghing panginggwanya tan wnang bhaksanen, / Mapan wwang mati letuh, kabebeng aprang ngaranya, / Upamanya kadi antiga samuwuk, / Iku antiga tan pamanik, ngaran, / Hujar hala tan parupa, ika helingakna, / Aja murug linging Haji Silagama Catur Pataka, / Yan hana Brahmana nugraha, / Angupakara wwang mati kadi kocaping harep, / Dhandha sang anugraha, / Wnang maprayascitta,/ Mawanawasa 30 dina maring gunung, / 15 dina ring sagara, / Yan sang ratu nugraha wwang mati mangkana, / Kadi hinucap ring harep, / Wnang sira samadi dewa 110 dina,/ Mwang prayascitta ring hajeng padewahara, / Winastu de dhangascaryya purohita, /  Yan nora sahika kadi hucaping harep, / Cemer satata sang anugraha, / Mwah sahulyaning margganing pratingkahing mendhem,/ Yan nora manuting sengkernya, yaning prateka, / Sakwehing prateka tan prasiddha, / Tkeng angupakara ika, / Tan prasiddha dlaha, anmumwah andadi janma, / Sakwehing mala den sandhang, / Alpha patinya, dlaha wwang mangkana, / Tan wandhya rug ikang andha bhuwana, / Bahur ikang rat, / Age pinahayu, dening atabuh gentuh, / Mwang panca sanak agung, / Mangkana kajaring haji, / 
Mwah tingkahing amreteka TIKUS, / Mwang walang sangit, / Makadi basah candhang, mati muncuk, / Ika mijil sakeng janma kang apahkrama, / Apahkrama ngaranya, wwang Sudra angrabining Brahmana, / Ksatriya, Weisya, kaya kocaping harep, / Yan angrabining Brahmana, / Mwang angrabining pattik wnang, / Yeka anaknya metu salah wetu, / Mandadi tikus, hari-harinya mandadi walang sangit, / Yeh nyomnya mandadi basah, / Lamad-lamadnya mandadi candhang, / Getihnya mandadi matya muncuk,/ Yan tan pratekanen, mwang hentasen, / Salamine cemer Bhuwana rwa, / Dewata mur tan kari ring bhuh, / Sarwwa tinuku malarang, / Gring agung tan pgat ring desa-desa, / Mwah gring tutumpur, / Mutah mising, bengka, ngebus gumigil, / Sumarambah ikang gring, / Watuk kamaranan Ika, wwang makweh pjah, / Mwah sang Brahmana, makadi Sang Prabhu, catraning rat, / Mwang sang Ratu Mantri, yan make wenanganya, / Amreteka kalaning wwang mati bener, / Nghing tingkahing amreteka ring pinggiring samudra, / Gesengen sahika, mangkana kramanya, / Yan kalaning pari kamaranan, / Mwah wwang apahkrama, patinya,/ Tan wnang pinaten dening lalandhep, / Mwang cuntaka sang amjah ika, / Maka wnang sang amjah ika, maka wnang kapatinya, / Ikang apahkrama, janma, kawnanganya rinante rinungkus, / Jinepit dening walatung, lebwakna ring samudra,/ Yan ring sarwwa satwa, gawyakna Iwang wwang ika, / Kadi kocaping harep, lebwakna ring iwang, / Hilyaken ikang wwe, bebengakna ika, / Mangkana kawnanganya kapatyanya, / Yaning wwang nguci karma, / Arabi kaprenah tumin ne marep, / Rarama ring harep, rarama ring sanak,/ Maring tumin dimisan, anak marep, / Yan hana sahika, kadi pidharta ring harep, / Kawnanganya kapatyanya, / Katampak dening kbo sakandhang, / Lembhu sakandhang, ayah sakandhang,/ Yan tan mati jaragakna dening watu, mwang taru-taru, / Mangkana maka kapatyanya, / Haywa kareneng, rug pwara nikang rat,/ 

Mametwa salah pati, / Mwang uttama, makadinya madhya, mwang nista, / Pjah asuduk sarira, mati magantung, / Pjah malabuh parung. mati kareming wwai,/ Pjah gring hila agung, mati tiba mamenek, / Salwiraning salah pati. / Kang wwang uttama, tkaning madhya, mwang nistha,/ Panggawesaning wwang apahkrama, / Ikang handap dadi aluhur, ikang aluhur dadi sor, / Angaduha padha ne lumaku, / Sang ratu nora amagehaken makertti ring rat, / Makadi para Bhagawantha, / Long puja pangastutinya ring para Hyang, / Wong pada amurug ndatan bhakti matwan, / Mwang tan bhakti maguru, / Kewala wong uttama madhya nistha, / Makaryya nghulah sakala, / Niskala noram~ gawenya,/ Kewala nghulah sakala, / Mungpung kalegheng bhuddhi, / Kang tan kawnang wnangaken, / Tan kang kawnang anggonen-anggonen, / Sarna timpang palakwanya, timpang pangucapnya, / Sahika karananing mtu panawadyanlng tan patut,/ Mtu mawlcara, karananlng tan hanut mapakadhangan, / Makadi tan hanut asanak anak aputu, /  Pratitahnya prasama mangungsi, /  Kewalya hanak, ring lalabhahan sakala, / Nora manyisti ring niskala, / Akweh Wwang anranjana, / Maluhur-luhuran manah, phoraka bhangga, / Apan ika kabeh kasusupan dening bhuta kapiragan Pati bhaksa-bhaksain, / Sahika kojaranya ring Silagema Catur Patake, / Yan magawe hala, tan wangdhya tiba ring kawah aweci, / Yan magawe kertti hayu, / Tan wangdhya tiba ring swargga, / Mangke yan hana karep ira sang ratu, / Mwang sang Pandhitta, / Manepetaken kerttining rat, / Ring sampun wus kacihnan mangkana, / Wnang wangunakna samadhi prayascitta ning rat, / Makadi pamarisuddhaning jagat, / Asing katiben kadi kocaping harep, / Haywa hima-hima denira sang maharep akertti ring rat, / Sakala niskala, pagehakna de sang Prabhu maka tedunging rat, / Makadi sang para sadhaka makabehan, / Nghing yan nora pinahayu samangkana, / Tan wangdhya rugrag ikang rat salawase, / Mawetwa sayan padha angungsi unggon, / Malakwa sapara-paranya, / Sahananing wwang tan hana wruha ring jatinya, / Mangkana kajaring Haji Silagama. /

Leave a comment

Filed under Articles

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s