DWIJENDRA TATWA


PARAMA DHARMA 
DANGHYANG NIRARTHA
Untuk membuka lembaran Riwayat Hidup Danghyang Dwijendera dan keturunannya, terlebih dahulu saya menghaturkan pangastuti dengan terjemahan dari Dwijendra Stawa dengan tembang Kidung Demung Wilis :
Ya Tuhan, ampunilah kami, semoga tidak tertimpa kutuk dan kualat, karena kami kini memuja Dhanghyang Dwijendra yang merupakan guru suci, yang menganugerahkan ajaran ilmu pengetahuan suci, Ajaran Ketuhanan Hindu di Bali berupa weda – mantra – nyanyian-nyanyian suci – tingkah laku – peradaban hidup, dengan lima yadnyanya, antara lain Dewa Yadnya, yang selalu membuat ketentraman rasa bathin, selamat sentosanya jiwa kami, semoga berhasillah cita-cita kami, Negara kami selamat sejahtera untuk diselenggarakan …
DAHA
Kisah ini dimulai dari seorang keturunan brahmana (Brahmana wangsa) bernama Nirartha adik dari Dhanghyang Angsoka, putra dari Dhanghyang Asmaranatha. Ketika Sang Nirartha sedang muda jejaka beliau mengambil istri, di Daha, putri dari Danghyang Panawaran yaitu golongan keturunan Bregu di Grhya Mas Daha bernama Ida Istri Mas.
Setelah bersuami istri, Sang Nirartha dilantik (diniksan) oleh Danghyang Panawaran menjadi pendeta (Brahmana janma) diberi gelar Danghyang Nirartha. Dari perkawinan ini Danghyang Nirartha mendapat 2 orang putra, yang sulung putri diberi nama Ida Ayu Swabhawa alias Hyangning Salaga (yang berarti Dewanya kuncup bunga melur) sebagai nama sanjungan karena cantik jelita rupa dan perawakannya serta pula ahli tentang ajaran bathin. Adiknya seorang putra diberi nama Ida Kulwan (artinya kawuh / barat) dan diberi nama sanjungan Wiraga Sandhi yang berarti kuntum bunga gambir, karena tampan dan gagah perawakannya.

PASURUAN
Sementara itu kehidupan masyarakat di Jawa sangat kacau. Di sana-sini terjadi perkelahian dan pertempuran, penumpasan-penumpasan yang sangat mengerikan dan menyedihkan antara orang-orang Jawa yang telah masuk Agama Islam dengan orang-orang Jawa yang masih taat mempertahankan agama lamanya, (sesungguhnya agama lama yaitu agama warisan leluhurnya dengan agama baru yaitu Agama Islam sama saja hakekat tujuannya. Yang berbeda ialah cara-caranya, bahasa yang dipergunakan dan upakara, upacaranya, serta tata tertib pergaulan hidupnya). Akhirnya “kalah” agama lama oleh Agama Islam. Orang-orang Jawa yang masih taat pada agama lamanya, agama yang diwariskan oleh leluhurnya, terutama orang-orang Majapahit, banyak pindah diantaranya ada yang ke Pasuruan, ke pegunungan Tengger, ke Brambangan (Banyuwangi) dan ada yang menyeberang ke Bali. Ketika itulah Danghyang Nirartha turut pindah dari Daha ke Pasuruan disertai dua orang putra-putrinya, sedang istrinya tidak disebutkan turut ke Pasuruan.
Setelah berselang beberapa tahun lamanya di Pasuruan, Danghyang Nirartha mengambil istri pula, yaitu seorang wanita yang terhitung saudara sepupu olehnya, putri Danghyang Panawasikan bernama Ida Istri Pasuruan, dengan nama sanjungan disebut Diah Sanggawati (seorang wanita yang sangat menarik dalam pertemuan) karena cantiknya. Perkawinan ini menghasilkan 
2 orang putra laki-laki, yang sulung diberi nama Ida Wayahan Lor atau Manuaba. Manuaba (mulanya Manukabha) berarti burung yang sangat indah karena tampan dan indah raut roman muka dan bentuk raganya. Adiknya bernama Ida Wiyatan atau Ida Wetan berarti fajar menyingsing.

BRAMBANGAN (BANYUWANGI)
Kemudian Danghyang Nirartha pindah dari Pasuruan ke Brambangan (Banyuwangi) disertai oleh 4 orang putra-putrinya namun istrinya tidak disebutkan turut. Tiada beberapa lama antaranya Danghyang Nirartha mengambil istri di sana yaitu adik dari Sri Aji Juru raja Brambangan bernama Sri Patni Kaniten yang sungguh-sungguh cantik molek rupanya sehingga terkenal dengan sebutan “jempyaning ulangun” yaitu sebagai obat penawar jampi orang yang kena penyakit birahi asmara. Beliau itu turunan raja-raja (Dalem) dan turunan brahmana, terhitung buyut dari Danghyang Kresna Kapakisan di Majapahit, putri dari raja Brambangan kedua. Adik dari raja Brambangan ketiga yang menjadi raja ketika itu, tegasnya bersaudara kumpi sepupu Danghyang Nirartha kepada Sri Patni Kaniten. Perkawinan ini menghasilkan 3 orang anak: seorang putri dan 2 orang putra. Yang sulung seorang putri bernama Ida Rahi Istri rupanya cantik dan pandai tentang ilmu kebatinan. Yang kedua bernama Ida Putu Wetan atau Telaga atau disebut juga Ida Ender (yang berarti ugal-ugalan), terkenal kepandainya, kesaktiannya dan ahli ilmu gaib, banyak tulisan buah tangannya. Yang bungsu bernama Ida Nyoman Kaniten (yang berarti tenang / bagaikan tenangnya air).

MPULAKI / DALEM MELANTING
Setelah beberapa tahun lamanya Danghyang Nirartha bertempat tinggal di Brambangan, maka terjadi suatu hal yang menyebabkan tidak baik hubungan Danghyang Nirartha terhadap raja Sri Aji Juru, karena raja mengandung benci dan murka kepada Empu Danghyang. Empu Danghyang didakwa oleh raja memasang guna-guna disebabkan oleh keringat Empu Danghyang Nirartha harum sebagai minyak mawar. Tiap-tiap orang duduk berdekatan dengan beliau turut harum tanpa memakai minyak wangi. Adik wanita Sri Dalem Juru mengandung cinta birahi kepada Empu Danghyang. Sebab itu Danghyang Nirartha berusaha pindah dari Brambangan, hendak menyeberang ke Bali bersama 7 orang putra-putrinya dan istrinya Sri Patni Kaniten.
Pada suatu hari menyeberanglah sang pendeta bersama anak istrinya mengarungi laut selat Bali yang disebut Segara Rupek. Sang pendeta sendiri waktu menyeberang mempergunakan sebuah labu pahit (waluh pait) bekas kele kepunyaan orang desa Mejaya, dan kaki tangannya dipergunakan sebagai dayung dan kemudi. Penyeberangan selamat tidak mendapat rintangan suatu apa. Danghyang Nirartha seorang pendeta yang tajam perasaan intuisinya itu mengerti bahwa penyeberangannya itu selamat atas bantuan sebuah waluh pahit dan kekuasaan Tuhan. Sebab itu beliau bersumpah dalam lautan tidak akan mengganggu hidupnya waluh pahit seumur hidupnya sampai pada turunan-turunannya. Adapun anak istrinya menyeberang menumpang jukung (perahu) bocor yang disumbat dengan daun waluh pahit, juga kepunyaan orang desa Mejaya.
Tiada berapa lama antaranya karena mendapat tiupan angin barat yang baik, maka tibalah di pantai pulau Bali Barat. Sang pendeta telah sampai lebih dahulu, menantikan anak istrinya sambil menggembala sapi. Di tempat itu lambat laun dibangun sebuah pura kecil lalu dinamai Purancak. Atas petunjuk orang-orang gembala itu, sang pendeta bersama anak istrinya berangkat berjalan kearah timur memasuki hutan belukar. Di tengah perjalanan, rombongan sang pendeta agak ragu-ragu. Jalan kecil (selisikan – bhs. Bali) mana harus dituruti, karena banyak cabang-cabangnya. Tiba-tiba muncul seekor kera di tengah jalan. Ia berjalan lebih dahulu sambil bersuara grok-grok seraya melompat-lompat di atas dahan-dahan pohon seperti menunjukkan jalan.
Sang pendeta berkata kepada kera itu : “Hai kera, semoga turun-turunanku kelak tidak boleh menyakiti kera dengan dalih memelihara”, demikian pastu beliau terus berjalan arah ke timur.
Tiba-tiba bertemu dengan seekor naga yang besar terbuka mulutnya sangat lebar dengan rupa dan bentuk yang dahsyat mengerikan. Putra-putri dan istrinya terperanjat hebat, nyaris lari cepat-cepat, namun sang pendeta dengan wajah yang tenang masuk ke dalam mulut naga itu. Setibanya di dalam perut naga itu dijumpainya sebuah telaga yang berisi bunga tunjung (teratai) tiga warna yaitu tunjung yang di pinggir timur berwarna putih, yang dipinggir selatan merah, yang dipinggir utara hitam. Ketiga kuntum tunjung itu dipetik oleh sang pendeta, yang merah disuntingkan di atas telinga kanan, yang hitam di atas telinga kiri, yang putih dipegang dengan tangannya, lalu ke luar dari perut naga itu seraya mengucapkan weda mantra “Ayu Werddhi”. Naga itu musnah dengan tidak meninggalkan bekas. Rupa sang pendeta terlihat oleh putra-putri dan istrinya berwarna merah dan hitam, kemudian berubah berwarna emas. Melihat keadaan yang demikian, maka putra-putri dan istrinya diserang oleh perasaan takut yang amat dahsyat, sehingga tidak dapat menahan dirinya, lalu lari tunggang-langgang masuk ke dalam hutan tidak tentu tujuannya, masing-masing membawa dirinya sendiri.
Danghyang Nirartha setelah tiba di luar tercengang terperanjat karena anak istrinya tidak ada lagi. Dengan perasaan yang sangat cemas sang pendeta tergopoh-gopoh mencarinya ke dalam hutan belukar yang rapat dengan tumbuh-tumbuhannya, tambahan pula hari telah mulai menggelap. Untung tidak jauh dari tempatnya semula didapati istrinya seorang diri duduk bersimpuh terengah-engah dalam kepayahan, pucat-lesi, lesu-letih tidak dapat berjalan lagi.
“Wahai Ketut,” kata sang pendeta kepada istrinya, “Kemana larinya anak-anak kita?”. Jawab istrinya, “Ampun sang pendeta dinda tidak mengetahui ke mana larinya anak-anak kita, karena mereka lari tak berketentuan dan…,terpencar masing-masing dengan kehendaknya sendiri-sendiri….. Dinda tidak dapat mengikutinya karena lesu kepayahan….”
Sang pendeta merasa cemas dan ada pula getaran perasaan yang tidak enak menyelinap dalam hatinya yang seakan-akan membisikkan ada sesuatu bahaya menimpa salah seorang putrinya.
Setelah istrinya reda sedikit payahnya, lalu bangun bersama sang pendeta berjalan perlahan-lahan mencari dan mengumpulkan putra-putrinya di dalam hutan yang gelap diselimuti malam itu. Semalam-malam itu sang pendeta terus berjalan bersama istrinya sambil memanggil-manggil nama putra-putrinya itu. Karena suara panggilan itu maka lama kelamaan dapat dikumpulkan putra-putrinya seorang demi seorang dan akhirnya kurang lagi seorang, yaitu putrinya yang tertua, Ida Ayu Swabhawa belum ditemukannya. Empu Danghyang disertai oleh anak istrinya terus mencari Ida Ayu Swabhawa sambil memanggil-manggil namanya. Setelah lama dicari, ditemuinya telah berbadan halus (badan astral) tampak rupanya pucat pasi.
Ditanyai oleh Empu Danghyang, katanya, “Apa sebabnya anakku sayang lari sejauh ini?”. Jawab Ida Ayu Swabhawa, “Ampunilah Empu Danghyang, …sebabnya hamba lari sejauh ini, karena diserang oleh rasa takut yang sangat hebat …tatkala melihat rupa ayahanda ketika baru keluar dari mulut naga,….sebentar merah sebentar hitam rupa dan badan jasmani ayahanda. Hamba lari terus dibuntuti dan dikejar oleh rasa takut itu, sehingga lari hamba….kian lama kian cepat menghabiskan tenaga….sampai ke luar hutan, memasuki daerah desa, lalu …, ” baru sampai sekian katanya lalu terdiam, wajah mukanya tampak sedih pedih kemudian berkata lagi : “Empu Danghyang,…hamba malu hidup sebagai manusia lagi…karena merasa cemar diri,…penuh dosa. Kasihanilah hamba, ajarilah sungguh-sungguh….supaya hamba bersih dari dosa, tidak dilihat orang. Bisa menjadi dewa di sorga, tidak lagi menjadi manusia….,” demikian katanya.
Danghyang Nirartha terharu hatinya mendengarkan, kasihan kepada putrinya dan murka kepada orang-orang desa (Pegametan).
Katanya : “Jangan khawatir anakku, ayah sedia mengajar anakku suatu ilmu rahasia, agar anakku terlepas dari segala dosa dan dapat duduk sebagai dewa”, demikian katanya.
Lalu Ida Ayu Swabhawa diajar suatu ilmu rahasia kaparamarthan yang berkuasa melepaskan segala dosa. Setelah selesai ajarannya maka Ida Ayu Swabhawa menggaib, suci dari dosa, menjadi dewa, disebut Bhatari (Dewi) Melanting, yang akan menjadi junjungan persembahan orang-orang desa di sana. Adapun ketika sang pendeta mengajar ilmu rahasia kepada putrinya, didengar pula oleh seekor cacing kalung (?) maka dengan tiba-tiba musnah (supat) papa dosanya, lalu menjelma menjadi seorang wanita yang memohon agar diperkenankan menghamba kepada Empu Danghyang dengan menyembah kakinya sang pendeta dan mengajukan permohonan tersebut, sebagai pembalasan jasa beliau memusnahkan papanya kembali menjadi manusia. Sang pendeta menerima permohonannya, lalu diberi nama Ni Brit.
Ketika itu istri sang pendeta Sri Patni Kaniten yang telah diberi gelar Empu Istri Ketut, dalam keadaan payah berdatang sembah kepada sang pendeta.
Katanya, “Empu Danghyang, dinda tidak kuasa berjalan lagi, rasanya ajal dinda akan datang, ijinkanlah dinda turut sampai di sini dan ajarilah juga dinda ilmu yang diberikan kepada anaknda Ni Ayu Swabhawa, agar dinda terlepas dari segala dosa kembali menjadi dewa”. Jawab sang pendeta. “Baiklah adikku, diam di sini saja bersama-sama dengan putri kita Ni Swabhawa. Ia sudah suci menjadi Bhatari Dalem Melanting dan adinda boleh menjadi Bhatari Dalem Ketut yang akan dijunjung disembah oleh orang-orang di sini di desa bersama orang-orangnya yang ada di sini yang akan kanda pralinakan (hanguskan) agar tidak kelihatan oleh manusia biasa, semuanya menjadi orang halus, orang sumedang, dan daerah desa ini kemudian bernama Mpulaki”. Demikian kata sang pendeta.
Setelah mengajarkan ilmu rahasia kepada istrinya maka Empu Danghyang mengeluarkan agni rahasia (api gaib) menghanguskan seluruh desa dan penghuninya.

GADING WANGI
Kemudian Danghyang Nirartha bersama 6 orang putra-putrinya berangkat meneruskan perjalanannya ke timur, lalu tiba di sebuah desa : Gading Wangi, yang kebetulan waktu itu orang-orang desa diserang penyakit sampar (gering gerubug). Bendesa (Kepala Desa) Gading Wangi tatkala mengetahui sang pendeta datang lalu segera menjemput di tengah jalan, duduk bersila berdatang sembah lalu.
Katanya, “Empu Danghyang, kami mengucapkan selamat datang, bahwa sang pendeta telah sudi datang ke desa kami yang sedang ditimpa penyakit gerubug. Setiap hari ada saja orang-orang kami meninggal dengan mendadak. Kami mohon hurip (hidup) mohon dengan hormat sudilah kiranya Empu Danghyang memberi obat kepada kami agar yang sakit bisa sembuh dan hama penyakit bisa hilang”.
Demikian katanya seraya berlinang-linang air mata. Danghyang Nirartha terharu dan belas kasihan mendengarkannya. Seketika Ki Bendesa disuruh mengambil air bersih ditempatkan di sangku, periuk atau sibuh. Setelah diberi mantram oleh sang pendeta, lalu disuruh memercikkan kepada yang sakit dan meminumnya. Empu Danghyang dan putra-putrinya dihaturi pesanggrahan tempat beristirahat dan dipersiapkan hidangan santap-santapan dan buah-buahan. Orang yang sakit setelah diperciki dan diminumi air tirtha yang telah diberi mantram oleh sang pendeta, seketika itu bisa sembuh segar bugar.
Pada sore harinya (sandhya kala) sang pendeta memerintahkan orang-orang meletakkan ganten (kunyahan sirih) beliau itu di empat penjuru tepi desa untuk mengusir bhuta kala (hantu setan) yang membikin penyakit. Orang-orang desa yang diberi perintah menyembah segera berjalan melakukan perintah sang pendeta. Memang betul-betul sang pendeta orang yang sakti, seketika itu orang desa dapat membuktikan dan melihat bayangan bangsa bhuta kala itu lari ke dalam laut, rupanya beraneka ragam. Orang desa banyak yang turun mempersaksikan pemandangan yang ajaib itu, dan semuanya heran terhadap kesaktian sang pendeta. Mulai ketika itu beliau diberi gelar Pedanda Sakti Bahu Rawuh (pendeta sakti yang baru datang). Yang pandai bahasa Kawi (Jawa Kuno) menyebut beliau itu Danghyang Dwijendra (raja pendeta guru Agama).
Orang-orang desa semuanya riang gembira, tiap-tiap hari bergilir menghaturkan santapan kepada sang pendeta dan putra-putrinya dan membuatkan pamereman (tempat tinggal) di desa Wani Tegeh. Harapan orang-orang desa supaya sang pendeta menetap di sana, tetapi sang pendeta keberatan karena masih akan meneruskan perjalanan ke timur. Kemudian Ki Bendesa Gading Wangi mohon berguru dan mabersih (madiksa) menjadi pendeta. Sang pendeta berkenan meluluskan permohonannya agar ada orang tua pembimbing Agama di sana. Ki Bendesa diajar ilmu kebatinan dan Ketuhanan, selanjutnya dibersihi (diniksan) menjadi pendeta (Dukuh) Gading Wani. Setelah itu diberi suatu panugrahan (anugerah) dicantumkan dalam “Kidung Sebun Bangkung”. Ki Bendesa Gading Wani setelahnya dilantik menjadi pendeta (Dukuh) menghaturkan anaknya wanita yang cantik kepada Empu Danghyang Dwijendra, bernama Ni Jro Patapan sebagai pangguru Yoga, yaitu tanda bakti berguru, untuk menjadi pelayan Empu Danghyang Dwijendra dalam mengatur sesajen-sesajen bersama-sama Ni Brit. Dengan senang hati Danghyang Dwijendra menerimanya.

PURA RESI DESA MUNDEH
Entah berapa waktu lamanya Pedanda Sakti Bahu Rawuh berasrama di desa Wani Tegeh, maka tersebarlah beritanya sampai ke desa Mas Gianyar, yaitu sanak saudaranya Ki Bendesa Gading Wani yang bertempat tinggal di Desa Mas, Gianyar dan sanak keluarganya di desa Mundeh daerah Kaba-Kaba.
Pada suatu hari Ki Pangeran Mas mengadakan persiapan pergi ke Desa Wani Tegeh atau Gading Wangi perlu menghaturi Danghyang Dwijendra supaya sudi datang ke Desa Mas. Sang Pendeta menyetujui. Pada suatu ketika berangkatlah Empu Danghyang bersama putra-putrinya dari desa Wani Tegeh hendak pergi ke Desa Mas maksudnya. Setelah tiba di desa Mundeh dijemput oleh Ki Bendesa Mundeh di tengah jalan dengan suatu maksud mohon berguru pada sang pendeta, tetapi ditolak oleh sang pendeta karena permohonannya itu dilakukan sedang ada di jalan. Tetapi oleh karena sangat khidmat baktinya Ki Bendesa menjemput beliau, maka ada juga anugrahnya, yaitu debu tapak kaki beliau ketika beliau berdiri berhenti di tempat itu, laksana suatu lingga yang harus dihormati oleh orang-orang Mundeh sampai kemudian. Ki Bendesa Mundeh amat senang hatinya menerima anugerah sang pendeta itu. Di tempat itu lambat laun dibangun sebuah pura (tempat suci) diberi nama Pura Resi atau Pura Grhya Kawitan Resi.

MANGA PURI (MANGUI)
Dari desa Mundeh sang pendeta berangkat arah ke timur laut, jalannya. Di tengah jalan berjumpa dengan sebatang sungai. Di pinggir sebelah baratnya ada sebuah mata air, airnya sangat suci dan sejuk dan di pinggir-pinggirnya terhias dengan serba bunga yang sedang mekar, menyebarkan bau harum yang menyedapkan rasa penciuman hidung. Bunga rampai yang pupus gugur dari kuntumnya menutupi tanah seakan-akan kasur tilam sari, sungguh-sungguh menggugah rasa indah nikmat mesra membatin. Sang pendeta berhenti di tempat itu, dengan tenang melakukan yoga samadhi disertai pujastuti dan japa mantra utama. Dan sekelilingnya itu disebut Mangopuri (Mangui).

PURA SADA
Tidak lama sang pendeta ada di sana, lalu didengar oleh Ki Bendesa Kapal turunan dari Ki Patih Wulung, tentang sang pendeta ada di Mangopuri (Mangui), maka cepat-cepat Ki Bendesa Kapal datang menghadap Empu Danghyang untuk menghaturi agar beliau singgah di sana serta menjelaskan bahwa beliau membawa surat pemberian Krian Patih Gajah Mada yang berisi perintah supaya memperbaiki pura Kahyangan yang ada di Bali, dan pada waktu itu kebetulan ada karya puja wali (odalan) di Pura Sada Kapal. Demikan isi permohonan Ki Bendesa Kapal. Sang pendeta memenuhi permohonannya dengan senang hati dan berangkat seketika itu juga.
Tiada diceritakan betapa halnya di tengah jalan, maka tibalah sang pendeta di desa Kapal, lalu masuk ke dalam pura serta duduk di balai piyasan di sebelah barat.
Sang pendeta bertanya kepada Ki Bendesa. “Kaki Arya,” panggilan beliau kepada Ki Bendesa, “Siapakah yang akan menyelesaikan karya puja wali Bhatara di Parhyangan ini?”. Jawab Ki Bendesa, “Singgih Empu Danghyang, tidak lain Empu Guto kami haturi di gunung Agung, untuk menyelesaikan upacara karya puja wali ini”. “Ki Arya”, kata sang pendeta, “Ki Guto itu adalah pelayan bapak yang disangka pendeta brahmana. Ia adalah penjelmaan gandarwa yang terkutuk dahulunya. Yang harus diselesaikan olehnya segala caru (korban) yang kecil dan untuk upacara selamatan sawah ladang, demikianlah hak wewenangnya”. Demikian kata Empu Danghyang.
Tidak lama antaranya maka datanglah rakyatnya yang diutus pergi ke Gunung Agung menghaturi Ki Guto, memikul Ki Guto dengan tandu pegayotan serta berpayung agung, langsung masuk ke dalam parhyangan Pura Sada. Demi dilihat Danghyang Dwijendra duduk di balai piyasan, maka Ki Guto cepat-cepat turun dari tandu duduk bersimpuh di hadapan sang Pendeta seraya mohon ampun tentang kesalahan tingkah lakunya.
Kata sang pendeta, “Hai kamu Guto, mulai sekarang kamu jangan menipu masyarakat umum, aku mengampuni kesalahanmu”. Demikian kata sang pendeta kepada Ki Guto, kemudian menoleh kepada Ki Bendesa. Katanya : “Kaki Arya, ketahuilah, bapak yang mengutus Ki Guto pergi ke Bali untuk menyelidiki Dalem Sri Baturenggong, telah lama tidak muncul kembali ke Jawa. Kini urungkan Ki Guto menyelesaikan puja wali Bhatara di sini. Yang patut dihadapinya ialah upacara korban (pacaruan) terutama pada waktu-waktu tileming kasanga (bulan mati pada bulan kesembilan menurut perhitungan kalender Bali yakni pada bulan Maret tahun Masehi), anangluk marana (upacara menghindarkan tanaman dari hama), mabalik sumpah di sawah ladang dan amugpug desti teluh tranjana (menghalau sebangsa ilmu hitam). Itulah wewenangnya. Jika ditugaskan untuk puja wali persembahyangan dewa di pura-pura, panas kesakitan masyarakat desa olehnya”. Demikian kata pendeta.
Ki Guto dan Ki Bendesa menyembah berulang-ulang. Danghyang Dwijendra dihaturi memuja menyelesaikan upacara puja wali di Pura Sada, sedang Ki Guto disuruh memuja pada upacara korban (pacaruan).
DESA TUBAN
Setelah selesai upacara odalan di Pura Sada maka sang pendeta bersama putra-putrinya dan 2 orang pelayannya pergi arah ke selatan tiba di desa Tuban daerah selatan Badung, dijemput oleh orang-orang desa Tuban. Semuanya dengan hormat dan tulus bakti mengaturkan hidangan santapan kepada sang pendeta dan putra-putrinya semua. Sementara sang pendeta berdiam di sana banyak ikan laut yang tertangkap. Itu adalah karena kasidhian (kesaktian) Pedanda Sakti Bahu Rawuh itu. Demikian juga tanam-tanaman dan segala sesuatunya menjadi baik semuanya.
Pada suatu hari sang pendeta dan putra-putrinya diaturi hidangan yang penuh dengan berbagai masakan ikan laut. Sang pendeta bersama putra-putrinya dengan senang menikmati hidangan yang luar biasa itu. Setelah bersantap ada masih tersisa ikan separo (daging seekor ikan sebagian habis disantap sebagian masih utuh). Setelah diberi mantram oleh sang pendeta lalu dilemparkan ke dalam laut, maka ikan itu hidup kembali diberi nama ikan tampak (telapak), oleh karena dagingnya habis sebagian. Ikan tampak itu diberi mantram suci oleh pendeta dan diumumkan kepada orang-orang yang ada disana, apabila kemudian ada orang megawe hayu (melaksanakan upacara untuk kesejahteraan), ikan tampak itu boleh digunakan menjadi isi sesajen suci (banten suci). Orang-orang desa Tuban yang kebetulan ada di tempat itu melihat dan menyaksikan keadaan yang sedemikian itu, semuanya tercengang heran takjub dengan kesaktian sang pendeta itu. Kemudian sang pendeta mengajar dan menasehati orang-orang desa Tuban membuat pukat (bubu) tanpa umpan agar banyak mendapat ikan dengan cara diam-diam.

ARYA TEGEH KURI
Kurang lebih tujuh hari lamanya sang pendeta di desa Tuban maka datang Kyayi Arya Tegeh Kuri menjemput sang pendeta bersama putra-putrinya agar sudi simpang di puri beliau. Pada suatu ketika berangkatlah sang pendeta diiringkan oleh Kyayi Tegeh Kuri. Setibanya di desa Buagan terpaksa beliau berhenti dalam sebuah parhyangan Pura Batan Nyuh karena dihalangi oleh banjir besar. Banyak orang datang menghadap dari sebelah timur jalan melalui jembatan gantung, semuanya menyembah serta bermohon pengalah air oleh karena rumah-rumahnya dilanda banjir. Sang pendeta belas kasihan kepada orang-orang yang kena bencana alam kebanjiran itu. Lalu beliau memberi sepotong kayu anceng (tongkat) yang telah dirajah (ditulisi) Sanghyang Klar, disuruh memancangkan di muara banjir itu. Dengan tiba-tiba, menggelombang naik air itu lalu bertolak lari ke barat memutus jalan. Sangat heran orang-orang yang melihat tentang kekuatan batin sang pendeta demikian itu.
Orang-orang desa berdatangan menghaturkan buah-buahan dan santap-santapan lainnya. Tidak diceritakan lebih lanjut perihal sang pendeta di tengah jalan, akhirnya tiba di Puri Arya Tegeh Kuri di Badung.

DESA MAS
Setelah beberapa lama beristirahat di Badung, maka datang Ki Pangeran Mas menjemput Empu Danghyang dihaturi pergi ke Desa Mas. Danghyang Dwijendra bersama putra-putri dan 2 orang pelayan pergi ke Desa Mas. Di sana beliau itu dibuatkan grhya (rumah untuk brahmana) yang baik, sehingga menetap sang pendeta, diam di Desa Mas. Lama kelamaan Ki Pangeran Mas mengaturkan anaknya wanita yang amat cantik. Putri Ki Bendesa Gading Wani, yang dipakai pelayan oleh sang pendeta bersama Ni Brit, kini dipakai pelayan oleh putrinya Pangeran Mas yang bernama Sang Ayu Mas Genitir. Kemudian setelah itu Pangeran Mas dibersihkan (diniksan) oleh Empu Danghyang, menjadi pendeta dan telah lama paham dengan Agama ilmu Ketuhanan dan ilmu Batin.
Setahun telah berselang pertemuan suami istri Danghyang Nirartha dengan Sang Ayu Mas Genitir lalu melahirkan seorang putra diberi nama Ida Putu Kidul.
Dalam antara itu ada seorang pelayan Pangeran Mas bernama Pan Geleng mengaturkan sebuah pusuh (jantung pisang) pisang batu yang berisi gading mas asal tanamannya sendiri kepada Danghyang Dwijendra. Kata Danghyang waktu menerima pusuh pisang batu, “Semoga Pan Geleng kaya sampai seturun-keturunannya kelak”.

DHARMANING BRAHMANA WANGSA
Diceritakan pada suatu hari sang pendeta memancing di taman, berdiri di tengah telaga, kakinya beralas daun tunjung (teratai), bisa mengambang tidak tenggelam. Setelah banyak mendapat ikan sang pendeta berhenti memancing, lalu mandi menyucikan diri, kemudian melakukan Surya Sewana. Setelah selesai, sang pendeta dihaturi hidangan santapan. Setelah selesai bersantap, keempat orang putranya disuruh meneruskan menikmati. Empat orang putranya yaitu : Ida Putu Telaga (Brambangan), dan Ida Putu Mas (Desa Mas), yang biasa disebut Kulwan, Lor, Wetan dan Kidul. Sedang para putranya itu menikmati hidangan maka sang pendeta memberikan nasehat.
Katanya, “Anakku semua, engkau boleh saling cuntakain sampai turun-turunanmu kemudian. Saling cuntakain artinya, tenggang-menenggang, gotong-royong, bela-membela dalam keadaan suka duka hidup di dunia. Apabila seorang ditimpa duka harus semuanya bela sungkawa. Tentang perkawinan boleh ambil-mengambil. Tiap orang yang lebih tua dan lebih pandai boleh dipakai guru (nabe). Jika kemudian engkau lupa dengan ikatan bersaudara, astu (semoga) salah satu di antaranya yang melanggar amanatku ini turun dan surut derajat kewibawaannya”. Demikian amanat sang pendeta, ayahnya.
Lama-kelamaan terjadi hal yang agak ganjil mungkin karena kodrat Tuhan, yaitu Danghyang menjamah pelayan Sang Istri Ayu Mas anak dari Ki Bendesa Gading Wani yang bernama Jro Patapan, akhirnya berputra seorang laki-laki bernama Ida Wayan Sangsi atau Ida Patapan nama lainnya.
Lain dari itu, pelayan yang bernama Ni Brit pada suatu malam dijumpai sedang mengeluarkan air kencing sebagai air pancuran sehingga menembus tanah sehasta dalamnya, lalu dijamah juga oleh sang pendeta, kemudian melahirkan seorang putra laki-laki diberi nama Ida Wayahan Tamesi atau Ida Bindu namanya lain.
Diceriterakan setelah 2 orang putranya terakhir sama-sama besar, sang pendeta pagi-pagi pergi pula ke suatu telaga di taman untuk memancing ikan, berdiri di tengah telaga beralas daun tunjung, tetapi daun tunjung itu tenggelam sepergelangan kaki sang pendeta, dan terlihat oleh beliau ikan kakul (siput) yang telah disantap dagingnya, sisanya dilemparkan ke dalam telaga, lalu hidup kembali. Dalam keadaan yang demikian itu menyelinap suatu perasaan ke dalam hati sanubarinya, bahwa 2 orang putranya terakhir ini akan surut perbawanya. Setelah selesai memancing lalu beliau bersiram menyucikan diri, kemudian pulang dan masuk ke tempat pemujaan, melakukan pemujaan sebagai biasa.
Setelah ke luar dari tempat memuja maka diaturi hidangan untuk bersantap. Setelah sang pendeta habis bersantap maka dipanggil putranya berenam orang untuk makan bersama-sama dalam satu hidangan. Putra-putranya berenam datang dan telah siap akan makan bersama (magibung) satu hidangan, demi masing-masing telah memegang nasi kepalan di tangannya, maka tiap-tiap alat makan itu berontak berkelahi dengan kawan-kawannya. Ada yang bertarung, ada yang jatuh, ada yang berbenturan kepada dulang (tempat makan dari kayu), yang kalah membalas pula dan lain sebagainya sehingga alat-alat makan itu berantakan. Hal itu dilihat oleh sang pendeta, lalu disuruh orang membawakan lagi makanan dua hidangan yang berlain-lainan. Setelah siap, maka Ida Wayahan Sangsi (Ida Patapan) dikumpulkan dengan Ida Bindu (Ida Tamesi) makan menjadi satu hidangan, sedang putranya yang 4 orang lagi yaitu Ida Putu Kemenuh, Ida Putu Manuaba, Ida Putu Telaga dan Ida Putu Mas makan menjadi satu hidangan. Dengan keadaan yang demikian maka tenteramlah masing-masing asyik menikmati hidangan dengan sepuas-puasnya tidak sesuatu sengketa apapun terjadi.
Sementara itu sang pendeta memberikan nasehat. “Anakku sekalian, dengarlah nasehatku baik-baik! Anakku Putu Sangsi dan Putu Tamesi dalam kehidupanmu turun-temurun boleh sembah-kasembah dan boleh ambil-mengambil istri, tetapi terhadap turun-turunannya anak-anakku yang 4 orang (yaitu Putu Kulwan (Kamenuh) Putu Lor (Manuaba) Putu Wetan (Telaga Keniten) dan Putu Mas tidak boleh. Tetapi engkau Putu Sangsi dan Putu Bindu seturun-turunanmu boleh menghaturkan sembah, menghaturkan putri dan berguru kepada saudara-saudaramu yang empat orang ini dan turun-turunannya, sebab ibumu adalah orang-orang pelayan. Demikianlah harus diingat betul-betul amanatku ini. Siapa yang melanggar akan mendapat papa, surut wibawa dan wangsanya”. Demikian amanat Danghyang Dwijendra.

KI GUSTI PANYARIKAN DAWUH BALEAGUNG
Lambat laun tersebar berita Danghyang Dwijendra sampai ke Gelgel, bahwasannya ada seorang pendeta sakti baru datang disebut oleh umum Padanda Sakti Bahu Rawuh, saktinya hampir sama dengan pendeta Loh Gawe. Sebab itu Dalem Baturenggong (raja Bali saat itu) sangat besar hasratnya hendak memanggil pendeta yang sakti itu untuk dijadikan gurunya. Pada suatu hari diutus Ki Gusti Panyarikan Dawuh Baleagung pergi ke Desa Mas untuk menghaturi Danghyang Dwijendra datang ke Gelgel dan diharapkan datang besok harinya.
Pada hari yang baik berangkatlah Ki Gusti Panyarikan mengendarai kuda putih, berpakaian putih, hanya giginya saja yang hitam. Setibanya di Desa Mas terlihat olehnya Ki Bandesa Mas sedang menghadap sang pendeta di balai pendopo kecil, maka segera beliau turun dari kendaraan.
Ki Bandesa Mas segera juga datang menjemput, “Selamat datang Ki Gusti Panyarikan, silakan duduk!”
Ki Gusti Dawuh Baleagung segera duduk menghadap sang pendeta seraya memperkenalkan diri dan mempermaklumkan kepentingannya datang. Setelah banyak kata-katanya menceriterakan keadaan di Bali kemudian timbul pikirannya hendak menyelami pengetahuan sang pendeta tentang ajaran pemerintahan negara. “Tolong ajarilah saya”. Jawab sang pendeta. “Dalam ajaran agama (sastra) begini. Tentang penerapannya dalam praktek (sas) begini”. Ki Gusti Panyarikan bertanya pula, “Bagaimana ajaran peraturan peperangan (dharma yudha) ?”. Jawab sang pendeta. “Dalam ajaran agama (sastra) begini, pelaksanaan dalam prakteknya begini”.
Kyayi Panyarikan diam seraya mengunyah sirih. Setelah dibuang susurnya (sepah) lalu bertanya lagi. “Bagaimana ajarannya pertemuan asmara laki dan perempuan (smara gama, cumbwana krama) ?”. Jawab sang pendeta, “Dalam ajaran agama (sastra) begini, pelaksanaan dalam prakteknya (sas) begini”.
Kyayi Dawuh diam dengan dalih mengunyah sirih. Setelah dibuang sepahnya lalu bertanya, “Singgih Empu Danghyang bagaimana pelaksanaan memukur atau maligya (maha sraddha) untuk mensorgakan leluhur yang telah meninggal ?”. Jawab sang pendeta. “Jika dalam ajaran agama begini, dalam prakteknya begini”.
(Catatan : dalam percakapan yang sebenarnya mungkin panjang lebar keterangan sang pendeta mengenai pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada beliau, tetapi didalam riwayat ini disebutkan pendek-pendek saja yaitu dalam sastra begini dalam sas begini). Nanti kita menjumpai ajaran beliau dalam kitab-kitab (lontar-lontar lain).
Oleh karena Ki Gusti Dawuh diam lama dan duduknya kian turun dari tempatnya semula.
Maka sang pendeta bertanya, “Kenapa Ki Gusti diam, bertanyalah lagi! Baru sedikit yang ke luar, masih banyak yang tersimpan”. Jawab Kyayi Panyarikan, “Empu Danghyang adalah laksana laut, berapa banyak tempayan tempat air tentu saja terpenuhi semuanya”.
Selanjutnya Kyayi Panyarikan merasa sangat beruntung dalam hatinya, sebagai kodrat Tuhan mempertemukannya dengan seorang pendeta yang sakti dan ahli dalam hal agama. Lalu memajukan permohonan supaya beliau diterima menjadi muridnya, berguru kepada sang pendeta, belajar rahasia ilmu Ketuhanan dan akhirnya mohon dibersihkan dan dinobatkan sebagai Bhagawan, pendeta ksatria. Sang pendeta berkenan meluluskan permohonan Ki Gusti Panyarikan. Pada malam harinya sang pendeta mengajar rahasia ilmu Ketuhanan dengan yoga samadhinya dan Weda mantram yang penting-penting. Ki Gusti Panyarikan memang sudah mempunyai dasar dan bakat yang kuat tentang ilmu Ketuhanan, karena usaha dan latihannya sendiri, sebab itu segala ajaran sang pendeta cepat dapat ditampung dan dipenuhinya. Besok paginya kebetulan hari baik, beliau dibersihkan (diniksan) oleh sang pendeta menjadi Bhagawan. Setelah diniksan lanjut sehari itu Empu Danghyang asyik memberi nasehat dan ajaran-ajaran yang penting-penting kepada muridnya, sehingga Kyayi Panyarikan lupa dengan janjinya atas perintah Dalem harus kembali hari itu. Karena keadaan memaksa Kyayi Panyarikan terlambat sehari kembali ke Gelgel mengiringkan Danghyang Nirartha.

PURA SILAYUKTI, TELUK PADANG
Pagi-pagi setelah dua malam lewat, maka Kyayi Panyarikan berangkat mengiring Pedanda Sakti Bawu Rawuh ke Gelgel sama-sama mengendarai kuda. Tiada diceritakan halnya di tengah jalan maka tibalah di Gelgel. Tetapi sayang Dalem telah berangkat pagi-pagi ke Teluk Padang (Padangbai) untuk berburu binatang dan menangkap ikan diiringi oleh para mantri punggawa dan rakyat sangat banyaknya. Oleh karena demikian halnya maka terpaksa Ki Gusti Dawuh mengiringkan Danghyang Dwijendra pergi Teluk Padang. Setibanya di Padang, sang surya telah lewat tengah hari, para punggawa mantri telah sama-sama mulai mencari pondoknya masing-masing Kyayi Panyarikan mengiring Danghyang menuju pesanggrahan Dalem.
Dalem Baturenggong agak murka kepada Kyayi Panyarikan katanya, “Panyarikan, kenapa sampai lewat janji baru datang? Sebagai bukan orang tua, Panyarikan! Empu Danghyang antarkan ke parhyangan istananya Empu Kuturan!”
Setelah Danghyang Nirartha beristirahat, datang Dalem Baturenggong menghadap bersama beberapa orang pelayan membawa santapan. Seraya berkata, “Selamat datang Empu Danghyang, maafkan keadaan tempat yang tidak sepertinya ini, dan persilakan menikmati santapan ala kadarnya”.
Sang pendeta mengucapkan banyak terima kasih lanjut berkata, “Tuanku, maafkanlah Ki Nanak Panyarikan agak terlambat pada janjinya, sebab ingin berguru ilmu Ketuhanan dan ingin dibersihkan dirinya menjadi Bhagawan. Jika tuan ingin juga bersih (madiksa), kami sedia melakukannya, jangan tuanku kecewa karena belakangan, sebab soal Agama (Dharma) tidak mengenal carikan atau sisa-sisa, karena soal Agama adalah Ketuhanan Yang Suci”. Demikianlah kata sang pendeta. Dan Sang Pendeta menyambung pula katanya, “Banyakkah tuanku dapat menangkap ikan dan binatang?”. Jawab Dalem. “Tuanku coba sekarang perintahkan rakyat tuanku menangkap ikan dan berburu binatang, kiranya banyak berhasil”.
Dalem menurut sang pendeta, memerintahkan rakyatnya mengulangi menangkap ikan dan berburu. Sebelum rakyat masuk ke laut akan menangkap ikan dan ke hutan belukar akan berburu binatang sang pendeta ke luar berdiri di halaman memandang ke laut memanggil ikan dan memandang ke hutan memanggil binatang. Tidak antara lama banyak ikan dan binatang tertangkap oleh rakyat. Dalem dan sang pendeta sangat gembira melihatnya. Setelah hari sore semua rakyat penangkap ikan dan pemburu binatang telah kembali ke tempatnya dengan membawa hasilnya sangat banyak, maka Sri Aji Bali dan sang pendeta kembali lagi ke pesanggrahan. Pada malam harinya sampai larut malam Dalem Waturenggong bercakap-cakap dengan sang pendeta tentang soal Agama. Tetapi soal mabersih (madiksa) Dalem masih bertangguh, masih berpikir.
Besok paginya Dalem kembali ke Gelgel diiring oleh seluruh menteri, punggawa dan rakyat. Dalem duduk dalam satu pedati yang ditarik kuda bersama sang pendeta. Setibanya di kali Unda jalan pedati berhenti karena air kali Unda pasang naik, banjir karena hujan di pegunungan.
Sang pendeta bertanya pada Dalem, “Tuanku, apa sebab pedati kita terhenti?”. Jawab Dalem. “Air kali Unda sedang pasang naik tidak dapat dilalui”. Kata sang pendeta, “Mungkin tuanku belum tahu dengan pelaksanaan aswa-siksa, (ajaran melatih kuda)”.
Dalem mengaku terus terang bahwa beliau belum mengetahui ajaran aswa-siksa, sebab itu dibisiki ajarannya oleh sang pendeta. Setelah Dalem mengerti dan paham tentang ajaran aswa-siksa terutama mantramnya, lalu diambil oleh beliau sebuah cambuk dilecutkannya dengan keras, maka ujungnya keluar api sedang pangkalnya keluar air amrta. Dalam keadaan demikian itu kuda mendobrak air sungai, kakinya tenggelam sepergelangan lari dengan selamat ke tepi sungai di barat. Semua yang melihat sangat heran.
Tiada diceritakan lebih lanjut betapa hal iring-iringan raja Bali di tengah jalan, maka tibalah di istana Gelgel. Sang pendeta ditempatkan di tempat yang suci dengan menikmati hidangan yang secukupnya.
Dalem pada kesempatan ini menjelaskan sikapnya, katanya : “Empu Danghyang, sampai saat ini saya belum ada niat akan mabersih (madiksa) karena telah merupakan surudan (sisa-sisa) dari Pangeran Dawuh”. Jawab sang pendeta. “Tuanku, maklumilah seyakin-yakinnya, bahwa Agama (Ketuhanan) itu tidak ada merupakan surudan (sisa-sisa), kalau diandaikan samahalnya dengan air yang dikucurkan”.
Sekalipun demikian penjelasan sang pendeta, namun Dalem Baturenggong tetap pada pendiriannya tidak mau madiksa (mabersih).

IDA BURUAN
Diceritakan Ki Gusti Panyarikan Dawuh Baleagung yang telah berkedudukan sebagai pendeta Bhagawan acapkali menghadap kepada Dhangguru mendalami ajaran agama dan kebatinan sampai juga kepada kesusastraan, tembang-tembang bersanjak, pupuh kidung dan guru laghu kekawin, sehingga pengetahuan Ki Gusti Bhagawan sungguh-sungguh padat dan suci. Lama-kelamaan sebagai pangguru yoga (bakti kepada guru) beliau mengaturkan seorang putrinya yang terkenal cantik dan menaruh bakat keagamaan dan kesusastraan kepada Dhangguru. Danghyang Dwijendra menerima dengan senang hati pangguru yoga itu, lalu dikawinkan dengan putranya yang bernama Ida Putu Lor. Dari perkawinan ini menurunkan 2 orang putra laki-laki di berinama : Ida Ketut Buruan.
Danghyang Nirartha mempunyai asrama (grhya) di dua tempat, yaitu : di Desa Mas dan di Desa Gelgel. Tiap-tiap hari purnama atau tilem Sira Empu tetap masuk ke istana menghadap Dalem diiringi oleh cucundanya yang masih kecil Ida Wayahan Buruan. Pada hari-hari baik yang sedemikian itu Dalem dipuja oleh Empu Danghyang dengan Weda pangjaya-jaya dan diperciki air tirta yang telah diberi mantram kekuatan batin Ketuhanan. Dengan hal yang demikian lambat-laun Dalem menjadi seorang raja besar perbawanya, karena segala batin kependetaan ada pada beliau, namun sayang beliau belum mau madiksa (mabersih) karena belum bersih hatinya didahului oleh Kyayi Panyarikan Dawuh Baleagung.

DALEM BATURENGGONG BERGURU (MADIKSA)
Diceritakan Empu Danghyang Angsoka, kakak dari Danghyang Nirartha, beliau membuat suatu karangan yang diberi nama Smara Rencana dikirim ke Bali kepada adiknya, kemudian dibalas dari Bali oleh Empu Danghyang Nirartha dengan kidung Sarakusuma. Dengan hal demikian tahu Dalem bahwa Danghyang Angsoka seorang pendeta yang pandai, maka niatnya timbul akan berguru kepada beliau, lalu mengirim utusan ke Daha untuk menghaturi Danghyang Angsoka datang ke Bali untuk menjadi gurunya Dalem dan lanjut memberi pembersihan (padiksan). Tetapi Danghyang Angsoka menolak permintaan Dalem Bali.
Katanya, “Di Bali telah ada adik saya yang lebih pandai dari saya. Sangat patut menjadi purohitanya (gurunya) Dalem”.
Setelah beberapa lama kemudian, tiba-tiba turun Bhatara Mahadewa dari Gunung Agung, diiringi oleh Sang Boddha datang ke Gelgel menemui Dalem.
Lalu bersabda, “Anakku Dalem Baturenggong, jika tidak terus anakku berguru kepada Empu Dwijendra, karena tidak ada pendeta yang sama dengannya, tak dapat tiada akan kacau negara anakku, segala tanah tidak bisa dipetik buahnya, penyakit akan mengembang, musuh akan timbul banyak, tidak selamat negara olehmu”, demikian sabda Bhatara Mahadewa lalu musnah dari pandangan.
Dalem Baturenggong menyembah dan berjanji akan mentaati sabda Bhatara. Setelah itu Dalem bermohon hormat kepada Danghyang Dwijendra untuk berguru anuhun pada dan diniksan. Empu Danghyang dengan gembira meluluskan permohonan Dalem, karena telah lama dinanti-nantikan. Hari untuk madiksa dipilih hari purnamaning Kapat (purnama pada bulan keempat menurut perhitungan tahun Bali, yakni sekitar Oktober). Setelah tiba hari yang baik itu, maka dengan upacara kebesaran Dalem diniksan oleh Empu Danghyang. Setelah selesai upacara padiksan itu, Empu Danghyang memberi nasehat tentang tata cara orang memangku kerajaan dan supaya jangan lupa kepada Ketuhanan dan leluhur. Tetapi tatkala mengucapkan weda puja jangan memegang genta menyamai Bhatara namanya, sangat berbahaya.
Sesudah Sri Aji Baturenggong kian mashyur namanya memegang pemerintahan, negaranya tenteram kerta raharja, makmur sandang pangan, tidak ada wabah penyakit merajalela, tidak ada musuh timbul.

SIRA AJI KRAHENGAN DARI SASAK
Pada suatu ketika Seri Aji Baturenggong mempermaklumkan kepada Dhanggurunya bahwa negara Bali sering diserang oleh Sira Aji Krahengan dari Sasak (Lombok) yang amat sakti dan pandai mengubah diri (maya-maya) dan ahli melayang. Acapkali prajurit beliau kalah dalam pertempuran di tepi laut. Itu saja yang mengganggu negaranya. Sebab itu beliau mohon nasehat bagaimana caranya menghadapi musuh itu.
Jawab Danghyang Dwijendra. “Nanak Baturenggong, baiklah bapak mencoba pergi ke Sasak sebagai utusan nanak, untuk datang kepada Sira Aji Krahengan mengadakan persahabatan oleh karena untuk keselamatan bersama, lebih baik bersahabat daripada bermusuhan. Bersahabat akan banyak mendapat keuntungan bersama, sedangkan kalau bermusuhan banyak mendapat kerugian”.
Pada suatu hari yang baik Danghyang Dwijendra berlayar dengan menumpang jukung. Pelayarannya lancar dan tidak mendapat rintangan suatu apa pun. Setibanya di Sasak langsung beliau masuk ke dalam purinya Sira Aji Krahengan. Ketika Sira Aji Krahengan melihat pendeta datang, segera turun dari tempat duduknya menjemput sang pendeta dengan hormat dan dipersilahkan duduk berdekatan dengan beliau. Setelah bersama-sama menikmati suguhan minuman maka Sira Aji Krahengan berkata dengan hormat menanyakan kepentingan sang pendeta datang. Danghyang Dwijendra menjelaskan maksud beliau datang itu, yaitu atas perkenan bahkan merupakan utusan dari Sira Aji Baturenggong untuk mengadakan suatu ikatan persahabatan kepada Sira Aji Krahengan.
“Tuanku,” kata sang pendeta. “Bapak datang sekarang ini adalah atas usaha bapak, yang disetujui oleh Seri Aji Baturenggong, yakni untuk mengadakan suatu ikatan persahabatan yang akrab di antara beliau dengan tuanku. Sebab menurut pendapat bapak adalah banyak untungnya bila dapat mengadakan ikatan persahabatan dari pada permusuhan. Persahabatan dapat menyebabkan negara masing-masing berkeadaan tenteram dan sejahtera, karena masyarakat masing-masing tekun bekerja untuk kemakmuran, tidak ada yang mengganggu. Kalau bermusuhan masing-masing akan mendapat kerugian. Sebagai suatu bukti untuk menyatakan betul-betul ikatan persahabatan ini berlaku, ada baiknya kalau tuanku memberikan seorang putri tuanku untuk menjadi istrinya Seri Aji Baturenggong”, Demikian kata sang pendeta. Jawab Sira Aji Krahengan, “Sang pendeta harap dimaafkan saja, karena kami tidak dapat memenuhi sebagai anjuran sang pendeta itu, sebaiknya sang pendeta pulang saja!”.
Dengan hal yang demikian sang pendeta ke luar dari dalam puri seraya mengeluarkan kata kutukan (pamastu) : “Moga-moga si Krahengan surut kesaktianmu dan hancur kebesaranmu”. Demikian katanya terus menuju pesisir, naik ke atas jukung yang ditumpangi tadinya lalu menuju pulau Bali.
Tidak diceritakan dalam perjalanan, sang pendeta telah tiba di Puri Gelgel dijemput oleh Dalem Baturenggong dengan khidmad.
Setalah sama-sama duduk, Dalem bertanya, “Ya sang Maharsi, apakah berhasil usaha sang Maharsi?”. Jawab sang pendeta, “Nanak Baturenggong, tidak berhasil usaha bapak mengadakan ikatan persahabatan kepada Si Krahengan dan bapak telah memberi kutukan (pastu) agar ia surut kewibawaannya, tidak lanjut menjadi ksatria”.

PURA RAMBUT SIWI
Setelah beberapa lamanya di Gelgel maka Danghyang Nirartha ingin bercengkerama menjelajah daerah Nusa Dua Bali. Keinginan beliau itu disampaikan kepada Dalem, maka Dalem menyetujui dan mengijinkan beliau menjelajah daerah Nusa Bali.
Mula-mula beliau berangkat arah ke barat, sampai di daerah Jembrana berbelok ke selatan, berbalik ke timur menyusur pantai. Akhirnya bertemu dengan seorang tukang sapu suatu parhyangan sedang duduk-duduk di luar parhyangan itu.
Setelah sang pendeta dekat maka orang itu cepat-cepat mendatangi seraya menyapa. Katanya, “Ya sang pendeta, dari mana dan mau ke mana sang Maharsi sekarang ini ? Sebaiknya berhenti sebentar di sini, jangan tergesa-gesa terus berjalan, saya mempermaklumkan bahwa di sana malahan ada suatu parhyangan tempat kami sembahyang yang angker dan keramat. Barang siapa lalu di sini tidak menyembah di parhyangan kami, tentu nanti diterkam oleh harimau. Untuk keselamatan sang pendeta, silakanlah dulu menyembah di parhyangan kami!”. Demikian katanya seraya menghambat perjalanan sang pendeta. Jawab Empu Danghyang. “Kalau harus demikian, baiklah antarkan saya masuk ke parhyanganmu untuk menyembah!”.
Sang pendeta diantar masuk dalam parhyangan. Setibanya di hadapan suatu bangunan palinggih tempat menyembah, sang pendeta lalu duduk melakukan yoga, mengheningkan cipta memandang ujung hidung (angrana sika), menunggalkan jiwatmanya kepada Ida Sanghyang Widhi. Ketika beliau sedang asyiknya melakukan yoga, tiba-tiba rubuh gedung palinggih tempat menyembah itu. Hal itu nyata dilihat oleh orang yang mengantar tadi, lalu menangis mohon ampun kepada sang pendeta.
Katanya, “Ampunilah saya sang Maha Empu, ampunilah kesalahan hamba karena memaksa sang Maha Empu menyembah di sini! Dan hamba mohon dengan hormat belas kasihan sang Maha Empu, agar diperbaiki lagi parhyangan kami sebagai semula, supaya ada kami junjung dan kami sembah setiap hari,” demikian katanya seraya menangis tersedu-sedu.
Danghyang Dwijendra belas kasihan juga melihat bangunan palinggih itu rubuh dan mendengar tangis orang itu. Katanya, “Kalau begitu kehendakmu baiklah saya memperbaikinya”.
Sang pendeta lalu memperbaiki bangunan itu sehingga berdiri lagi seperti semula, dan selanjutnya beliau melepaskan gelung rambutnya sehingga terurai, dicabutnya sehelai diberikan kepada orang itu. Seraya berkata, “Inilah sehelai rambut, siwi (junjungan sembahyang) di sini, letakkan di atas bangunan ini, agar kamu dan sanak keluargamu mendapat selamat sejahtera selanjutnya”.
Orang itu menyembah seraya menerima sehelai rambut sang pendeta itu seraya menuruti segala nasehat beliau. Semenjak itu parhyangan itu disebut Pura Rambut Siwi.
Matahari ketika itu telah pudar cahayanya, kian merendah hendak menyembunyikan wajahnya di tepi langit barat, sebab itu sang pendeta berniat akan bermalam di dalam Pura Rambut Siwi. Orang-orang makin banyak menghadap sang pendeta, yang berniat mohon nasehat soal Agama, adapula yang mohon obat. Semalam-malaman itu sang pendeta menasehatkan ajaran Agama, terutama berbakti kepada Ida Sanghyang Widhi dan Bhatara-bhatari leluhurnya, agar sejahtera hidupnya di dunia. Dan diperingatkan supaya tiap-tiap hari Rabu Umanis Prangbakat mengadakan pujawali (perayaan) di Pura Rambut Siwi itu untuk keselamatan desa.

PURA PAKENDUNGAN
Diceritakan besok paginya setelah sang surya mulai memancarkan cahayanya ke seluruh permukaan bumi, Empu Danghyang melakukan sembahyang Surya Sewana disertai oleh orang-orang yang ada di sana, setelah memercikkan air tirtha kepada orang-orang yang turut sembahyang maka Empu Danghyang berangkat dari dalam Pura Rambut Siwi arah ke timur menyusuri tepi pantai, diiringi oleh beberapa orang yang tertaut cinta baktinya kepada sang pendeta. Empu Danghyang selalu memperhatikan keindahan alam yang dilaluinya dan dilihatnya. Dalam keindahan pandangan itu selalu terbayang kebesaran Tuhan yang menjiwai keindahan itu yang menyebabkan mesra menyerap menyulut batin orang menjadi indah bahagia. Sang pendeta selalu membawa lembaran lontar dan pengutik pengrupak (pisau raut alat manulis daun rontal) untuk menggoreskan keindahan alam yang dijumpainya. Akhirnya tiba di daerah Tabanan, di sana terlihat olehnya sebuah pulau kecil di tepi pantai yang terjadi dari tanah parangan, indah tampaknya dan suci suasananya. Lalu beliau berhenti di sana. Kemudian dilihat oleh orang-orang penangkap ikan yang ada di sana, lalu mereka itu datang menghadap sang pendeta masing-masing membawa persembahannya.
Pada waktu itu hari sudah sore, orang-orang nelayan itu menghaturi sang pendeta supaya beristirahat di pondoknya saja, tetapi sang pendeta menolak, beliau lebih suka beristirahat di pulau kecil itu. Malam itu sang pendeta mengajarkan agama kepada orang-orang yang datang dan dinasehatkan supaya membuat parhyangan di tempat itu karena tempat itu dirasa sangat suci, baik untuk tempat memuja Tuhan untuk kesejahteraan dan kemakmuran daerah lingkungannya. Orang-orang yang menghadap berjanji akan membuat parhyangan di sana dinamai Pura Pakendungan atau Pura Tanah Lot.

PURA HULU WATU DAN PURA BUKIT GONG
Besok paginya setelah melakukan sembahyang Surya Sewana maka Empu Danghyang Nirartha berangkat dari Pakedungan ke arah Tenggara dengan jalan darat menyusuri pantai. Dari jauh tampak oleh beliau suatu tanjung yang menonjol ke laut di bagian wilayah bukit Badung, maka tanjung itulah yang beliau tuju, perjalanan agak dipercepat di pantai, air laut sedang surut. Setibanya di sana maka diperhatikan oleh beliau bahwa tanjung itu terjadi dari batu karang seluruhnya dan sangat besar. Selanjutnya diperiksa keadaan batu karang itu ke utara, ke barat, ke selatan dan ke timur serta diperhatikan pula pemandangan yang terlihat dari sana. Sungguh-sungguh indah dan bebas lepas ke seluruh penjuru dunia. Kemudian terdengar bisikan jiwa beliau bahwa tempat itu baik tempat memuja Ida Sanghyang Widhi dan terutama tempat “ngaluhur” melepas jiwa atmanya kelak ke alam sorga.
Akhirnya beliau mengambil keputusan membuat kahyangan di tempat itu. Untuk kepentingan itu terpaksa beliau membuat asrama di sebelahnya untuk menetap sementara mengerjakan kahyangan itu. Pekerjaan membuat kahyangan itu mendapat bantuan dari orang-orang yang dekat di sana. Setelah beberapa hari lamanya maka kahyangan itu selesai diberi nama Pura Hulu Watu. Di tempat asrama Empu Danghyang lama kelamaan didirikan juga sebuah kahyangan oleh orang-orang di sana dinamai Pura Bukit Gong.

PURA BUKIT PAYUNG
Setelah Pura Hulu Watu selesai dan telah dinasehatkan kepada orang-orang di sana untuk menjaganya, maka Danghyang Nirartha melanjutkan perjalanan lagi ke arah timur dengan melalui tanah berbukit-bukit, tiba di goa Watu, dari sana menuju Bualu. 
Di sebelah tenggara Bualu ada sebuah tanjung yang menjorok ke laut, di sana beliau berhenti. Ketika beliau menancapkan payungnya ke tanah, maka tiba-tiba memancur air dari dalam tanah, sangat suci dan hening. Air itu dipergunakan menyucikan diri. Oleh orang-orang yang dekat di sana karena gembira hatinya seakan-akan mendapat anugrah air amrta (air kehidupan), maka di tempat itu dibangun sebuah kahyangan dinamai Pura Bukit Payung..

PURA SAKENAN
Setelah menyucikan diri di Bukit Payung, maka Danghyang Nirartha berangkat pergi arah ke utara menyusuri pantai. Tidak jauh dari sana dijumpainya dua buah pulau batu “NUSA DWA” disebut orang. Di sana beliau berhenti dan mengarang kekawin Anyang Nirartha. (Kakawin atau karangannya itu melukiskan segala obyek keindahan yang dilihat oleh beliau sepanjang perjalanan, digubah dijadikan sanjak kakawin yang terikat dengan guru laghu).
Setelah selesai mencatat bahan-bahan kakawinnya, lalu Danghyang Dwijendra melanjutkan perjalanan arah ke utara. Tidak diceritakan halnya di tengah jalan maka sampailah beliau di Serangan. Pada bagian tepi barat laut Serangan sang pendeta kagum merasakan keindahan alam di sana, yaitu keindahan laut yang tenang berpadu dengan keindahan daratan yang melingkunginya. Sang pendeta tak puas-puasnya memandang keindahan alam yang dianugrahkan Tuhan di sana dapat mempengaruhi batin menjadi suci tak ternoda sedikitpun, sehingga beliau terpaksa berhenti dan menginap beberapa malam di sana. Terasa oleh beliau bahwa di tempat itu ada suatu sumbu kekuatan gaib yang suci, dan baik sebagai tempat sembahyang memuja Tuhan untuk keselamatan dan kesejahteraan.
Sebab itu beliau membangun juga suatu kahyangan di sana diberi nama cakenan (yang asal katanya dari cakya = dapat langsung menyatukan pikiran). Pujawali dilakukan pada hari Sabtu Kliwon Kuningan dan keramaiannya pada hari manisnya (sehari sesudahnya).

PURA AIR JERUK
Setelah Pura Sakenan itu selesai dibangun, maka Danghyang Dwijendra ke luar dari dalam pura lalu berangkat pergi ke utara menumpang sebuah jukung, lalu mendarat di Renon. Selama beliau berdiam di sana ada suatu kejadian, yaitu ketika tongkat beliau itu dipancangkan, tidak berapa lama lalu keluar tunas dan hidup menjadi pohon sukun. Setelah beberapa hari ada di sana, beliau meneruskan perjalanan arah ke timur, tiba beliau di Udyana Mimba (Taman Intaran). Dari sana sang pendeta meneruskan perjalanan ke arah timur laut, menyusur pantai laut kemudian tiba di pantai selatan wilayah Bumi Timbul (Sukawati).
Dari sana beliau masuk ke darat arah ke utara lalu tiba di sawah Subak Laba. Di sana sang pendeta berhenti dan menginap, dijamu oleh orang-orang subak (organisasi masyarakat Bali mengurusi pengairan) dengan buah jeruk yang sedap rasa airnya. Di asrama tempat menginap Empu Danghyang setiap malam penuh orang-orang subak menghadap mohon nasehat ajaran agama terutama dari hal bercocok tanam padi dan palawija lainnya menurut masa (musim) dan hari wewaran (hari-hari baik menurut perhitungan Bali). Sejak sang pendeta ada di sana segala tanam-tanaman dan binatang ternak berhasil baik. Sebab itu setelah Empu Danghyang pergi dari sana, maka oleh orang-orang subak dibuatnya satu pura di bekas tempat asrama sang pendeta (yang dikenal dengan sebutan Pedanda Sakti Bahu Rawuh) di beri nama Pura Air Jeruk, tempat sembahyang mohon keselamatan tanam-tanaman dan binatang ternak. Dan di sana ditanam satu pohon rontal sebagai peringatan ajaran agama yang diberikan oleh sang pendeta.

PURA TUGU
Diceritakan Danghyang Dwijendra berangkat dari Subak Laba pergi ke timur pula menyusuri pantai laut. Setelah tiba di Rangkung lalu berbelok ke utara. Sesudahnya di hulu desa Tegal Tugu sang pendeta berhenti di luar suatu kahyangan.
Kemudian keluar seorang pamangku (pendeta pura) dari dalam pura setelah menyapu melakukan pembersihan, datang kepada sang pendeta yang sedang berhenti di luar pura. Setelah bertemu sang pamangku berkata dan menyuruh sang pendeta menyembah ke dalam pura. Sang pendeta tidak membantah, menuruti permintaan pamangku itu lalu berjalan masuk ke dalam pura, diiringi oleh pamangku tadi. Sang pendeta duduk bersila di halaman pura berhadapan dengan bangunan-bangunan palinggih, lalu melakukan yoga mengheningkan cipta menghubungkan jiwatmanya dengan Tuhan. Tiba-tiba rusak bangunan-bangunan palinggih itu semua. Sang pamangku bukan main terkejutnya dan terharu hatinya melihat keadaan itu, lalu menangis mohon ampun kepada Empu Danghyang disertai permohonan agar sang pendeta menaruh belas kasihan supaya tidak terus puranya mengalami kerusakan dan dapat kembali selamat sebagai sedia kala. Demikian kata sang pamangku seraya menyembah kepada sang pendeta.
Danghyang Dwijendra meluluskan permohonan pamangku itu, dengan jalan yoga dapat pula dikembalikan keselamatan kahyangan itu yang tampak sebagai semula. Sang pamangku sangat girang hatinya, menyembah berulang-ulang kepada sang pendeta seraya mengucapkan banyak terima kasih. Sang pendeta berkata kepada sang pamangku. “Sri Mangku, ini kancing gelung saya, saya berikan kepada mangku, tempatkanlah di pura ini, dan sesudahnya kahyangan ini diberi nama Pura Tugu”, demikian kata beliau seraya memberikan kancing gelung beliau kepada sang mangku. Sangat gembira pamangku itu menerimanya dan berjanji akan melakukan segala nasehatnya.

GENTA SAMPRANGAN
Setelah selesai persoalan di Pura Tugu maka Danghyang Nirartha meneruskan perjalanan ke arah timur sampai di Samprangan lalu berhenti. Ketika beliau duduk-duduk beristirahat, tiba-tiba terdengar oleh beliau suara genta yang digoyang-goyang-kan memenuhi angkasa, sangat merdu dan indah dirasa oleh sang pendeta, sehingga lama beliau termenung mengira-ngirakan di mana suara genta itu. Tidak
lama antaranya datang dari arah timur seorang pangalu (pedagang) menuntun seekor kuda yang berkalung gentorag (genta) yang suaranya sangat indah dirasa oleh sang pendeta, lalu dipanggil pangalu itu.
Setelah pangalu itu dekat maka kata sang pendeta, “Bolehkah saya minta genta gentorag kalung kuda saudara, untuk saya pergunakan dalam memuja, karena saya tertarik dengan suaranya sangat indah!”.
Orang pangalu itu demi mendengar kata sang pendeta demikian, dengan cepat membuka kalung kudanya, dan dengan hidmat serta tulus ikhlas menghaturkan kepada sang pendeta.
Ketika sang pendeta menerima genta itu dari tangan orang pangalu itu, dengan gembira berkata, “Semoga engkau berbahagia dan selamat sejahtera selalu dalam perlindungan Sanghyang Widhi”.
Sebagai diperciki tirtha amrta perasaan hati pangalu itu ketika mohon diri dan berangkat menuntun kudanya. Genta itu diberinama “Genta Samprangan”, karena didapat dari Samprangan.

PURA TENGKULAK
Berangkat pula sang pendeta dari Samprangan ke timur sampai di desa Syut Tulikup, di pinggir kali beliau berhenti duduk-duduk. Kemudian datang beberapa orang turut duduk menghadap sang pendeta, dengan hormat menyapa sang pendeta menanyakan dari mana datang ke mana tujuannya. Setelah sang pendeta menerangkan halnya berkelana menjelajah pulau Bali, maka mereka menyuruh salah seorang di antaranya memanjat pohon nyiur memetik buah kelapa muda (kelungah) untuk dihaturkan kepada sang pendeta.
Yang disuruh segera memanjat sepohon nyiur memetik sebuah kelungah, dan sesudah kelungah itu dikasturi (dipotong bagian tampuknya) lalu dihaturkan kepada sang pendeta untuk diminum.
Sang pendeta menerima kelungah itu dengan ucapan terima kasih. Sebagai biasa apabila sang pendeta akan minum atau akan bersantap sesuatu apapun, selalu didahului dengan ucapan-ucapan weda mantram yang mengandung ucapan syukur kepada Tuhan, barulah diminum atau disantap. Setelah selesai sang pendeta minum airnya, maka kelungah itu dipecah dua untuk disantap isinya. Sang pendeta menyantap isi kelungah itu perlahan-perlahan sambil bercakap-cakap kepada orang-orang desa di sana. Orang-orang itu menjelaskan bahwa kesejahteraan dan kemakmuran mereka kurang memuaskan, karena sering diserang penyakit dan tanam-tanamannya kurang berhasil. Sang pendeta menasehatkan apabila ada halangan sesuatu, agar beliau dipanggil secara batin, tentu beliau akan datang secara niskala memberi pertolongan memohonkan kepada Tuhan agar halangan itu bisa dimusnahkan. Setelah sang pendeta habis bersantap lalu berangkat arah ke selatan diiringi oleh orang-orang yang menghadap itu sampai di tepi pantai laut.
Setiap malam celebongkakan (pecahan) kelungah yang isinya santap oleh sang pendeta dilihat oleh orang-orang Syut menyala sebagai bulan, sehingga seluruh orang desa dapat menyaksikan setiap malam celebongkakan kelungah itu bercahaya gemilang sebagai bulan, dan dapat dirasakan di tempat itu ada sesuatu kekuatan gaib.
Oleh karena itu orang-orang desa sepakat untuk membuat suatu pura di sana untuk memohon kepada Tuhan untuk keselamatan dan kemakmuran desa. Pura itu diberi nama Pura Tengkulak.

PURA GOWA LAWAH
Diceritakan Danghyang Dwijendra terus berjalan ke timur menyusur pantai laut, sampai di Sowan Cekug, mengalami ombak yang besar dan hebat sebagai barisan bukit-bukit berkejaran menebah pantai dan melimbur segala sesuatu yang ada di tepi pantai. Suaranya gemuruh riuh tak putus-putusnya seakan-akan laut itu marah hendak menghancurkan daratan, namun demikian yang bekas dilandai ombak terus dilewati dengan selamat sampai lewat dari pantai Gelgel. Dari sana terus juga ke timur melalui pantai Kusamba dan akhirnya sampai pada suatu goa yang penuh dengan kelelawar bergantungan di dalamnya, suaranya riuh hiruk-pikuk tidak putus-putusnya laksana bunyi-bunyian keindahan goa itu. Sebab itu goa itu disebut Goa Lawah (goa kelelawar). Di atas goa itu penuh dengan bunga-bunga yang sedang kembang mekar, baunya harum disebarkan oleh angin sepoi basa, dapat menenangkan batin melalui penciuman. Dari sana tampak pula keindahan pulau Nusa Penida. Segala keindahan itu menawan hati Empu Danghyang sehingga berkenan menginap beberapa malam di sana.
Lambat laun di tempat Danghyang menginap dibangun orang suatu kahyangan dinamai Pura Goa Lawah. Setelah beberapa malam sang pendeta menginap di Goa Lawah lalu kembali ke Gelgel.
Tidak terperikan gembira hati Sri Dalem Baturenggong tatkala Empu Danghyang datang kembali dengan tidak kurang suatu apa. Dalem menghaturkan sebuah rumah lengkap dengan halamannya yang indah kepada gurunya dan rakyat 200 orang sebagai pelayan. Tiap malam Dalem menghadap gurunya untuk memperdalam ajaran batin Ketuhanan, terutama ajaran ilmu Kalepasan (moksa) untuk bersatu kepada Ida Sanghyang Widhi.

PURA PONJOK BATU
Beberapa bulan kemudian, Danghyang Nirartha berniat akan melihat-lihat daerah Bali Denbukit, yaitu daerah Bali utara dan apabila ada kesempatan akan terus ke Sasak (Lombok) untuk mengetahui agama yang dipeluk di sana. Dalem Baturenggong berkenan akan niat gurunya itu, dengan harapan jangan lama-lama bepergian. Pada suatu hari Empu Danghyang berangkat dari Gelgel arah ke utara dengan melalui barisan bukit-bukit akhirnya tiba di pantai arah barat laut dari Gunung Agung.
Di sana ada suatu tanjung yang terjadi dari tumpukan batu bulatan atau batu gunung yang ditutupi dengan selaput lumut yang hijau warnanya, dinaungi oleh tumbuhan semak-semak yang muncul dari celah-celah batu. Di sana beliau berhenti di tempat ketinggian dan memperhatikan pemandangan ke laut yang luas laksana hamparan permadani beludru membiru menutupi setengah permukaan dunia dari barat, utara dan timur. Bila matahari telah tinggi, angin bertiup dari timur kian lama kian deras, ombak laut tampak bergulung-gulung menggunung besarnya, berlari berkejar-kejaran menuju tepi pantai, masing-masing membanting diri di tepi pantai yang berbatu-batu, membuih memutih indah tampaknya.
Pada suatu ketika ada sebuah perahu terdampar di sebelah timur dari tanjung (ponjok) batu tempat sang pendeta duduk yang kebetulan pantainya berpasir. Tiangnya patah, kain layarnya robek-robek, tali-temalinya berputusan, tubuh perahu itu dilemparkan dan dibanting oleh ombak yang bergulung menggunung. Anak buahnya semua pingsan mabuk laut, lemas menggeletak di pasir sebagai tak berjiwa lagi. Empu Danghyang, demi melihat keadaan yang mengerikan dan menyedihkan itu, segera datang menolong anak buah perahu itu, dengan diberi kekuatan gaib(bebayon). Masing-masing bisa ingat dan duduk di pasir. Setelah mereka mengetahui bahwa yang menolong itu adalah Empu Danghyang maka semuanya menyembah seraya mengucapkan terima kasih.
Danghyang Nirartha bertanya, “Dari mana engkau sekalian?”.
Seraya menyembah juragan perahu itu menjawab, “Ya sang pendeta, kami bertujuh orang dari Sasak hanyut dibawa arus hampir satu bulan diombang-ambingkan ombak kesana-kemari, sehingga perbekalan kami habis. Entah berapa hari kami tidak makan, kami tidak tahu karena tidak sadar dengan diri akibat kelaparan serta mabuk laut. Tidak ada harapan untuk hidup lagi. Segalanya kami serahkan kepada Allah. Kami mengaturkan banyak terima kasih ke hadapan sang pendeta karena pertolongan yang suci, menghidupkan kami”.
Empu Danghyang menasehatkan anak buah perahu itu minum air dan membersihkan diri pada mata air yang baru-baru saja timbul di tepi pantai itu, dan sesudahnya agar mencari buah-buahan untuk menyegarkan badan di dalam hutan yang tidak jauh dari sana, besok pagi baru berlayar ke Sasak, sang pendeta juga akan turut. Tidak diceritakan anak buah perahu itu menginap tidur dengan lelapnya semalam di pantai laut itu. Besok paginya semua bangun dengan segar bugar kembali. Tenaganya seperti sedia kala. Ombak laut pada hari itu mulai teduh dan angin bertiup lembut dari barat. Sang pendeta menasehatkan bahwa hari itu baik untuk berlayar ke Sasak dan beliau akan turut. Anak buah perahu semua menaruh kepercayaan bahwa sang pendeta memiliki kekuatan yang luar biasa sebagai utusan Allah. Sebab itu mereka itu menuruti nasehat sang pendeta, mendorong bersama-sama perahunya ke permukaan laut lalu berlayar. Sang pendeta duduk di atas atap perahu sambil melihat-lihat pemandangan dan keadaan cuaca, kadang-kadang tampak beliau itu merenung bermeditasi. Anak buah perahu semuanya heran, karena perahunya berlayar lancar ke timur sekalipun tidak memakai layar dan berkemudi patah. Laut di antara pulau Bali dan pulau Lombok besar juga namun tidak menjadi halangan sesuatu apa dan kemudian turun di pantai yang teduh ombaknya yaitu di Karang Bolong.
Diceritakan kembali perihal keadaan di Ponjok Batu, setiap malam tampak dilihat oleh orang-orang yang berdekatan di sana bahwa batu-batu bekas peristirahatan Danghyang Nirartha di sana menyala terus-menerus. Sebab itu tiap-tiap hari banyak orang-orang datang ke sana bersembahyang mohon keselamatan dan akhirnya dibuat suatu Pura dengan bangunan Sanggar Agung (tempat memuja kebesaran Hyang Widhi) dinamai Pura Ponjok Batu.

TUAN SEMERU DAN PURA SURANADI
Setibanya di Sasak (Lombok) Danghyang Nirartha mengajarkan Agama Islam Waktu Tiga kepada orang-orang Sasak, sehingga beliau itu dianggap guru (nabi) yang digelari Tuan Semeru. Sebab itu baliau berkenan membuat suatu syair bernama Tuan Semeru bertembang Dangdang. Asrama tempat beliau mengajar agama yang terutama diberi nama Suranadi, yaitu suatu asrama yang sangat indah diapit oleh dua buah telaga yang penuh dengan pohon bunga yang harum.
Karena kebesaran dan kesaktian jiwa beliau maka di pinggir asrama itu muncul empat buah mata air yang disebut Catur Tirtha, yaitu tirtha panglukatan, tirtha pabersihan, tirta pangentas dan toya racun. Tidak putus-putusnya orang datang dari tempat jauh untuk memohon pembersihan diri terutama yang hendak mengheningkan cipta. Orang-orang yang beragama Islam dan tidak beragama Islam menjadi satu hidup rukun tidak pernah ada percekcokan atau permusuhan akibat kesucian batin sang pendeta mengajarkan agama. Beliau menjelaskan bahwa tujuan agama itu tidak ada berlainan kecuali satu kepada Ida Sanghyang Widhi yang disebut juga Tuhan Allah. Yang berbeda hanya dalam pelaksanaannya dan bahasanya. Pelaksanaannya pun sesungguhnya satu juga, yaitu membuat orang susila berjiwa tenang, dapat mengatasi segala serangan suka duka dunia. Tentang bahasanya, bahasa apapun dipergunakan boleh saja, yang terutama bahasa batin setiap orang.

NASEHAT KEBATINAN KEPADA SERI SELAPARANG
Setelah lama diam berasrama di Suranadi dan telah dianggap cukup memberi ajaran agama Islam Waktu Tiga, maka Danghyang Nirartha berniat akan melawat ke Sumbawa. Pada suatu hari beliau berangkat dari Suranadi ke timur menuju pantai laut timur untuk menyeberang.
Diceritakan Seri Selaparang (Raja Lombok Timur) mendengar bahwa ada seorang pendeta sakti yang bernama Tuan Semeru tiba di pantai timur hendak menyeberang ke Sumbawa, maka tergesa-gesa beliau datang menjemput sang pendeta dengan maksud menghaturi singgah ke purinya untuk mohon nasehat-nasehat agama. Setibanya di sana segera menghadap sang pendeta menghaturi singgah ke purinya.
Tetapi sang pendeta minta maaf tidak dapat singgah, karena sedang dalam perjalanan pergi ke Sumbawa hendak menengok saudara sepupu baliau di sana, apa masih hidup atau tidak.
Kata Seri Selaparang, “Maaf Tuan Semeru, kalau-kalau saya mengganggu perjalanan sang pendeta. Kalau sang pendeta sudi kiranya, saya ingin mendapat nasehat, bagaimana caranya untuk mendapat kebahagiaan hidup? Sekalipun saya dianggap orang yang berkuasa di Sasak Timur namun kebahagiaan hidup itu tidak dapat dicapai dengan jalan kekuasaan, harta benda dan nafsu,” demikian kata Seri Selaparang dengan wajah muka sangat berharap.
Jawab sang pendeta, “Memang tuanku, kebahagiaan itu tidak dapat dicapai denganjalan kekuasaan, harta kekayaan dan memenuhi nafsu. Bahkan soal kekuasaan, harta kekayaan dan nafsu itu pada dasarnya menjadi penghambat kebahagiaan hidup. Susah mencapai bahagia dengan jalan itu.
Padahal seluruh manusia berusaha untuk mendapat kebahagiaan tidak lain dengan jalan berbagai ragam. Ada dengan jalan mengejar kekuasaan, mengejar harta kekayaan, mengejar memenuhi nafsu, ada dengan jalan jahat, curang, memalsu, menipu, ada yang terang-terangan, ada yang sembunyi-sembunyi dan lain sebagainya. Sesungguhnya sudah ada diturunkan ajaran untuk mencapai kebahagiaan hidup oleh Tuhan Allah yang disebut Agama. Semua agama tujuannya satu-tidak dua, yaitu untuk kebahagiaan hidup manusia. Kalau ada orang mengatakan dirinya beragama dan ia tidak merasakan dirinya berbahagia, jangan menganggap agama itu salah, sebab ia tidak melakukan ajaran agama dengan tepat. Sebab itu setiap orang bebas memilih agama yang dipeluknya sebagai pedoman hidup yang kira-kira dapat dilakukannya dengan tepat. Singkatnya ajaran agama itu adalah ajaran Ketuhanan yang berkuasa akan mempengaruhi pikiran atau batin manusia menjadi suci, karena suci itu menimbulkan rasa bahagia, bahan menghadapi baik buruk pengaruh dunia. Memang baik buruk dan suka duka itu selamanya ada dan memang demikian sifat dunia, sebagaimana halnya di sebelah hati kita ada juga empedu yang pahit rasanya. Kalau orang telah suci pikirannya atau batinnya, sekalipun ia berkedudukan tinggi dan berkuasa, kaya raya, beristri lebih dari satu dan lain sebagainya, tidak ada tergangggu kebahagiaannya, karena dibentengi oleh kesuciannya. Hatinya tetap bersih, tidak berani menyeleweng dari hukum agama, hukum negara, tidak berani berlaku curang, palsu, menipu,dan selamanya berlaku jujur, adil, disiplin dalam segala tugas kewajibannya. Pikiran yang demikian itu laksana air tirtha suci merupakan pembersih diri alam sekala sampai niskala (lahir sampai batin), sebagai halnya dengan nabi dapat mencapai alam bahagia tinggi adalah karena kesucian hatinya”. Demikian nasehat Danghyang Bawu Rawuh.
Seri Aji Selaparang dengan senang menerima nasehat Tuan Semeru demikian. Lalu mengucapkan banyak-banyak terima kasih dan selamat jalan, akhirnya mohon diri. Pantai laut tempat pembicaraan itu kemudian disebut Labuhan Haji.

GUNUNG API TAMBORA
Perahu yang kandas di Ponjok Batu dan yang ditumpangi oleh sang pendeta ke Sasak, kini telah menanti di pantai dengan perlengkapan yang sempurna, bersiap akan menyebrangkan sang pendeta ke Sumbawa. Sesudah sang pendeta habis bercakap-cakap lalu naik ke perahu dan terus berlayar. Tak lama antaranya telah tiba di pantai Sumbawa, perahu berlabuh dan sang pendeta turun ke darat dengan pelan-pelan diiringi juragan perahu (kepala anak buah perahu). Di jalan banyak orang yang dijumpai atau berpapasan, semuanya mengelak atau minggir memberi jalan kepada sang pendeta yang baru datang dengan sikap menundukkan kepala, ada yang melirik memperhatikan, semuanya takjub melihat perbawa wajah muka sang pendeta sungguh-sungguh angker dan suci tak ada bandingannya.
Ada diantaranya yang bertanya kepada juragan perahu yang mengiring, “Siapakah orang yang baru ini?”
Juragan perahu menjawab dan menjelaskan, “Orang ini adalah seorang pendeta yang suci, bernama Tuan Semeru, sungguh-sungguh suci dan sakti tak ada bandingannya berasal dari Daha Jawa Timur. Kami pernah mendapat bahaya hanyut. Perahu kami dibawa arus hampir sebulan lamanya sampai perbekalan kami habis, sehingga kelaparan dan mabuk laut, pingsan tidak sadarkan diri, akhirnya kandas di pantai pesisir Bali. Beliau Tuan Semeru yang menolong memberikan kami hidup kembali, sebab itu kami mengiring beliau sebagai pembalas jasa dengan hati yang sungguh-sungguh bakti. Beliau mengatakan, konon ada saudara sepupu beliau disini, sebab itu beliau datang kemari ingin jumpa kepada saudara sepupunya kalau masih hidup”.
Jawab orang Sumbawa itu, “O … ya, junjungan kami yang dari Majapahit itu telah pulang ke alam baka dan telah lama sekali”.
Demikian percakapan mereka itu, namun sang pendeta terus saja berjalan sampai ke kaki gunung berapi yaitu Gunung Tambora.
Di sana baru beliau berhenti dan bermalam di sebuah pondok orang tani. Yang punya pondok menerima dengan hormat Tuan Semeru bermalam di sana. Beliau disuguhi ketela rebus dan pisang rebus ala kadarnya, karena sawah tegalnya tidak menghasilkan tahun itu, sebab tanaman padi gagal dan palawija tidak jadi karena diserang hama penyakit ulat dan belalang.
Besok paginya Kepala Desa mendengar ada seorang pendeta sakti mengunjungi daerah desanya. Segera ia menghadap kepada sang pendeta di pondok orang itu. Setelah bertemu Kepala Desa dengan khidmad berjabat tangan dan mencium tangan sang pendeta.
Sesudah sama-sama duduk Kepala Desa bertanya kepada sang pendeta, “Dari mana datang dan apa kepentingan beliau datang ke Sumbawa”. Jawab sang pendeta, “Bapak dari Bali, tapi sudah lama diam di Sasak. Bapak datang ke mari sekedar ingin mengetahui keadaan alam di sini, terutama ingin mengetahui gunung api Tambora dari dekat”.
“Kalau demikian, Tuan pendeta, kami menghaturi sang pendeta pindah menginap di rumah kami selama di Sumbawa, karena rumah kami cukup besar dan ada tempat yang layak untuk Tuan pendeta. Lain dari itu kami permaklumkan bahwa sawah tegal desa kami di pegunungan ini sejak lama diserang hama penyakit ulat dan belalang sehingga segala tanam-tanaman tidak menjadi. Karena itu rakyat Tuan pendeta di sini mengalami kekurangan bahan makanan, sehingga hidupnya dalam kesulitan besar. Kedatangan Tuan pendeta sekarang ini, kami anggap dari Tuhan Allah menolong kemelaratan hidup umatnya di sini. Kesimpulannya kami mohon tolong dengan segala hormat agar tuan pendeta memberikan hidup rakyat di sini, dengan mengusir atau memusnahkan hama penyakit tanam-tanaman itu”.
Sang pendeta menjawab, “Kalau begitu, baiklah nanti malam dicoba, supaya semua orang yang punya sawah ladang mengisi sawah ladangnya suatu pedupaan yang berisi api dan kemenyan yang harum yang mengepul asapnya semalam-malaman. Bapak nanti memuja dari suatu tempat, memohonkan kepada Tuhan dan Dewa di Gunung Tambora agar seluruh hama penyakit itu dipindahkan dari sini” demikian sang pendeta.
Kepala Desa itu sangat gembira hatinya mendengar kata Tuan Semeru, lalu diiring pindah tempat ke rumahnya. Pembantu-pembantunya diberitahu agar memerintahkan orang-orang desa yang punya sawah ladang supaya semua membawa pedupaan berisi api dan kemenyan ke sawah ladangnya masing-masing malam nanti.
Setelah sang surya terbenam dan hari mulai menggelap malam, Tuan Semeru diiringi oleh Kepala Desa pergi ke suatu tempat di ladang yang tanahnya agak tinggi. Di sana beliau itu memuja dengan melakukan Yoga. Sampai larut malam baru kembali ke pesanggrahannya. Keadaan di sawah ladang malam itu diliputi dengan bau harum asap kemenyan. Besok paginya seluruh ulat dan belalang yang biasanya memenuhi sawah ladang tidak ada tampak seekorpun. Bersih sama sekali. Orang-orang desa semuanya heran dengan kesaktian sang pendeta. Semuanya memuji mengatakan sungguh-sungguh seorang pendeta sakti dan suci, tidak memikirkan upah, belas kasihan kepada orang-orang melarat. Semenjak itu tanaman-tanaman di sana menjadi baik subur dan berhasil. Tuan Semeru tiap-tiap hari keluar juga melihat-lihat alam dan tanam-tanaman orang disertai beberapa pengiring. Di dalam perjalanan banyak menjumpai orang-orang sakit yang memohon obat kepada beliau dan semuanya menjadi sehat segar bugar setelah diobati, sehingga beliau masyhur di sana, seorang pendeta sakti dan mampu mengobati orang-orang sakit.

PUTRI DENDEN SARI
Diceritakan di Sumbawa ada seorang penghulu yang banyak punya anak dan kaya. Karena kayanya ia menjadi orang yang sangat kikir. Tiap-tiap hari kerjanya menghitung uang, mengeluarkan dan memasukkan uang, membungakan uang dengan bunga yang tinggi, menggadai benda dengan bayaran berlipat ganda. Ke luar memungut bunga uang, pulang memasukkan dan menghitung uang. Demikian saja kerjanya. Anaknya banyak tidak diperhatikan sandang pangannya, sehingga hidupnya melarat. Ada di antaranya anak wanita bernama Si Denden Sari baru berumur 6 tahun, dalam keadaan sakit. Ia sejak kecil tidak dihiraukan. Akhirnya keras sakitnya. Badannya lemas tidak sadar dengan diri untuk beberapa hari.
Penghulu Sumbawa mendengar berita itu di jalan, bahwa ada seorang pendeta sakti mengobati orang sakit sangat makbul. Penghulu Sumbawa tergerak hatinya untuk mohon tolong kepada sang pendeta mengobati sakit anaknya, karena dianggapnya tidak dapat lagi ditolong. Demikian pikirnya lalu ia pergi ke pesanggrahan sang pendeta.
Tiada diceritakan betapa pertemuanya, kemudian tampak sang pendeta diiringi oleh penghulu datang menengok anak yang sakit. Danghyang Nirartha melihat dan memperhatikan anak yang sakit itu dalam keadaan sakit payah, nafasnya terengah-terengah, mukanya pun pucat pasi seakan-akan mayat, tetapi cantik bentuknya.
Sang penghulu berkata kepada sang pendeta, “Ya Tuan pendeta, kami mohon dengan hormat sudi apalah kiranya tuan pendeta mengembalikan jiwanya supaya kembali anak kami. Kalau ia bisa hidup kembali kami akan menghadiahkan anak kami kepada tuan pendeta menjadi budak pendeta”. “Baiklah kalau begitu!” jawab Tuan Semeru, “Bapak minta anak ini akan bapak bawa ke Bali!”. “Silakan tuan pendeta,” kata penghulu Sumbawa, “Kami dengan tulus ikhlas mengaturkan”.
Empu Danghyang sangat belas kasihan melihat anak yang sakit itu, lalu diraba mukanya seraya diberikan bebayon (kekuatan gaib Ketuhanan). Beberapa detik saja antaranya maka anak itu tersenyum lalu bergerak duduk dengan cahaya muka yang segar.
Empu Danghyang berkata, “Anakku sekarang bapak menjadi bapakmu, semoga engkau hidup kuat, mari bersama-sama pergi ke Bali”. Anak itu menjawab, “Ya” lalu bergerak bangun dengan gembira. Kepala penghulu Empu Danghyang berkata, “Bapak sekarang mohon diri, dan anak ini bapak bawa”. Jawab penghulu, “Silakan tuan pendeta, selamat jalan! Anakku Denden Sari, iringlah tuan pendeta yang suci, beliau menghidupkan engkau!”.
Sang pendeta berjalan dengan tenang seraya memimpin anak kecil itu menuju ke pelabuhan. Tidak diceriterakan halnya dalam perjalanan, akhirnya tiba di pulau Bali dan menuju asrama Mas. Anak itu terus sehat-sehat saja tidak pernah sakit. Setelah anak itu meningkat gadis, rupanya sungguh-sungguh cantik, lalu dikawinkan dengan cucu beliau, yang bernama Ida Ketut Buruan Manuaba.

BUAH TANGAN GURU DAN MAHAPUTRA
Ketika Danghyang Dwijendra kembali ke Gelgel bukan main gembiranya Dalem. Setiap malam membicarakan ilmu batin dan Ketuhanan. Dan Pangeran Dawuh tetap juga menghadap gurunya untuk mohon nasehat-nasehat. Segala nasehat-nasehat gurunya itu telah dicatat dalam sebuah tulisan (rontal) yang diberi judul “Wukir Padelegan”.
Untuk mengetahui berapa banyak buah tangan guru (Danghyang Nirartha) dan mahaputranya (pangeran Dawuh), di bawah ini dicantumkan nama-namanya :
Buah tangan Pangeran Dawuh, yaitu :
1. Rareng Canggu
2. Wilang Sebun Bangkung
3. Wukir Padelegan
4. Sagara Gunung
5. Aras Negara
6. Jagul Tuwa
7. Wilet Manyura Tahun Caka 1414
8. Anting-Anting Timah
9. Kakawin Arjuna Pralabda
Sekian buah tangan Pangeran Dawuh Baleagung.

Buah tangan Danghyang Nirartha, yaitu :
1. Nusa Bali Tahun Caka 1411
2. Kidung sebun Bangkung
3. Sara Kusuma
4. Ampik
5. Legarang
6. Ewer
8. Majadanawantaka
9. Wasista Sraya
10. Dharma Pitutur
11. Kawya Dharma Putus
12. Dharma Sunya Kling
13. Mahisa Megat Kung Tahun caka 1458
14. Kakawin Anyang Nirartha
15. Wilet Demung Sawit
16. Gagutuk Menur
17 Brati Sasana
18. Siwa Sasana
19. Tuan Semeru
20. Putra Sasana
21. Kidung Aji Pangukiran

MADIKSA DAN MEMBAGI WARISAN
Pada suatu ketika Danghyang Nirartha mempermaklumkan kepada Dalem Baturenggong, bahwa beliau itu akan pulang ke desa Mas.
Katanya, “Nanak Baturenggong, ingatkan segala nasehat bapak yang sudah-sudah. Kini bapak akan pulang ke Mas hendak melaksanakan upacara padiksan (pembersihan menjadi pendeta) kepada 4 orang anak bapak yang akan mengganti bapak, yang akan melanjutkan tugas bapak sebagai brahmana di dunia, sebab bapak akan segera pulang ke alam Siwa Loka. Hari padiksan itu nanti pada hari tilem sasih kalima (bulan mati sekitar Nopember). Jangan anak kecewa sepeninggal bapak. Pilih di antara 4 anak bapak sebagai bhagawanta atau pathirthan (pendeta khusus kerajaan) nanak!”. Demikian nasehat Empu Danghyang. Dalem menyembah dengan khidmat tanda menerima segala nasehat Dhanggurunya.
Setibanya Danghyang Dwijendra di desa Mas, dititahkan Pangeran Mas mempersiapkan segala upacara padiksan untuk dilaksanakan 30 hari yang akan datang
Kepada putra-putranya beliau berkata, “Anak-anakku, bapak akan segera pulang ke Siwa Loka, sebab itu engkau berempat akan segera bapak diksa, dinobatkan sebagai pendeta menggantikan tugas bapak sebagai guru loka di dunia.” Putra-putranya semua menyembah dengan perasaan terharu menjunjung titah ayahnya.
Diceritakan tepat pada hari upacara padiksan itu Sri Aji Dalem Baturenggong datang diiring oleh para punggawa, turut mempersaksikan upacara suci itu. Sesudah upacara selesai, maka Empu Danghyang berkenan memberi nasehat kepada putra-putranya.
Katanya, “Anak-anakku sekalian, kini engkau telah resmi duduk sebagai pendeta yang bertugas untuk menegakkan kesejahteraan dunia dan jangan sekali menyimpang dari dharmaning (tugas dan kewajiban dari) seorang pendeta, misalnya : jangan suka minum tuak dan segala minuman yang mengandung alkohol yang dapat menyebabkan mabuk. Dan segala yang bersifat mabuk harus dihindari. Jangan makan daging sapi sebab ia sebagai ibu yang memberi susu kepada kita. Jangan makan daging babi rumah dan ayam itik rumah sebab dianggap kotor suka makan najis dan dihindari segala yang dianggap kotor. Dan jangan kau bertindak iri hati terhadap kakak-adikmu. Boleh engkau ambil-mengambil, boleh engkau sembah-sinembah. Yang tuaan boleh dipakai guru. Tidak boleh berzina, mengambil istri wanita yang telah berlaki. Demikianlah harus juga dinasehatkan kepada turun-turunanmu”. Demikian antara lain nasehat Empu Danghyang.
Selanjutnya Danghyang Dwijendra mengeluarkan harta benda kekayaan beliau seluruhnya, akan dibagikan kepada semua putra-putranya. Dalem Baturenggong turut mempersaksikan pembagian warisan itu, diiringi oleh Sira Arya Kenceng pelayannya Ida Kidul.
Adapun harta benda yang dibagi yaitu : mas, perak, uang kepeng, permata mirah, cincin, tegal sawah, lontar-lontar pustaka, alat pawedaan (pemujaan kependetaan), rakyat dan lain-lainnya. Tempat membagi harta benda itu di luar geria asramanya di Mas. Harta benda itu dibagi menjadi 5 bagian untuk putra-putranya 6 orang, yaitu : di luar geria itu diletakkan 5 buah balai-balai amanca desa (lima arah) yakni : di timur, di selatan, di barat, di utara dan di tengah. Masing-masing diisi harta benda, yang satu berisi alat pawedaan, pangrupak (pisau tulis untuk lontar) yang bernama Ki Tamlang, keris yang bernama Ki Sepak, genta 2 buah yang bernama Ki Brahmana dan Ki Samprangan dan uang kepeng 20.000. Setelah selesai harta benda dibagi maka Seri Aji Baturenggong mempersilahkan guru putra semua mengambil bagian. Katanya, “Singgih Empu Danghyang sekalian, sekarang boleh mengambil bagian masing-masing menurut minatnya masing-masing”.
Empu Kulon lebih dulu mengambil bagian yaitu : mas, perak, uang kepeng, permata, surat tegal sawah dan rakyat, akibatnya akan mempunyai keturunan banyak, tetapi kurang ilmu.
Empu Lor mengambil surat tegal sawah, mas, perak, uang kepeng, permata perhiasan dan rakyat, akibatnya anak banyak kepandaian kurang.
Empu Wetan mengambil surat tegal sawah, mas perak, uang kepeng, permata perhiasan dan rakyat, maknanya anak banyak kepandaian kurang.
Ida Putu Sangsi dan Ida Putu Bindu mengambil bagian satu bagian dibagi dua berupa sawah dan uang, maknanya kepandaian kurang, tetapi turunannya banyak kemudian.
Empu Kidul masih tetap tenang diam sebagai tidak menghiraukan bagian, karena asyik melihat saudara-saudaranya berebutan mengambil bagian dipegang oleh rakyatnya, sehingga Dalem Baturenggong mengingatkan Empu Kidul, apa sebabnya diam saja tidak mengambil bagian. Karena itu baru Empu Kidul mengambil bagian sisa-sisanya. Yang didapat lontar pustaka, alat pawedaan, 2 buah genta Ki Brahmana dan Ki Samprangan, pisau Pangrupak Ki Tamlang dan keris Ki Sepak, maknanya penuh kepandaian, kesaktian, cakap segala kesenian tetapi turunan kurang, dan mengambil Pan Geleng pelayannya Bandesa Mas.
Setelah selesai pembagian, masih ada ketinggalan seorang rakyat, seekor ayam kurungan dan sebatang pisau Pangrupak. Empu Kulon mengambil rakyat, Empu Lor mengambil ayam kurungan dan Empu Kidul mengambil pisau Pangrupak.

PURA PANGAJENGAN
Setelah selesai semuanya maka Danghyang Dwijendra mengucapkan selamat tinggal pada hadirin semuanya, sebab akan berangkat mencari tempat yang suci untuk pulang ke Siwa Loka (sorga). Putra-putranya semua menyembah dengan sujud, demikian pula Seri Aji Baturenggong dan Pangeran Dawuh Baleagung, Para Arya dan rakyat yang hadir semua menyembah dengan tulus bakti.
Setelah itu Dhanghyang Dwijendra berjalan dengan tenang sendiri arah ke Selatan, tidak diijinkan orang mengiringkan, tidak membawa benda apa-apa kecuali peti kecil tempat pacanangan (tempat sirih). Setelah beberapa hari lamanya Empu Dhanghyang berjalan mengembara memasuki tempat-tempat yang suci tidak ada orang mengetahui, pada suatu hari ada orang memberitakan kepada Pangeran Mas bahwa Empu Danghyang sedang ada di penghulu sawah di antara desa Sumampan dengan Tangkulak di suatu tempat yang sangat suci, dilihat sedang menulis lontar.
Beberapa hari kemudian kebetulan hari Panampahan Kuningan (sehari sebelum hari raya Kuningan) Bandesa Mas bersama istrinya pergi ke penghulu sawah dengan membawa hidangan makanan yang nikmat-nikmat rasanya akan diaturkan kepada Empu Danghyang, kalau beliau masih ada di sana, karena baktinya kepada guru (nabe). Ketika empu Dangguru melihat siswanya datang hendak menghadap.
Lalu berkata menyapa dengan tersenyum, “O. nanak datang, silakan datang kemari, bapak mengijinkan nanak menghadap!” (Catatan : kata “nanak” adalah suatu kata yang biasa dipergunakan oleh seorang guru kebatinan kepada muridnya yang resmi. Padahal Bandesa Mas ini adalah mertua dari Empu Danghyang, atau Empu Danghyang anak menantu dari Bandesa Mas. Kiranya pengaruh mertua dibanding dengan guru, lebih berpengaruh kedudukan guru di batin orang).
Bandesa Mas datang menghadap dengan menyembah kemudian katanya, “Singgih Empu Danghyang, kami datang menghadap ini untuk mengaturkan sekedar santapan, karena hari ini hari Panampahan Kuningan, sekedar sebagai tanda bakti kami kepada Dhangguru”. Jawab Empu Danghyang. “Dengan senang hati bapak menerimanya. Coba tolong carikan bungkak (kelapa muda kecil) untuk membersihkan makanan ini supaya suci!”.
Istri Pangeran Mas dengan segera minta tolong kepada orang untuk memanjat pohon nyiur memetik sebuah bungkak. Tidak lama antaranya bungkak sudah siap dihaturkan dengan sudah berkasturi (dilobangi sebagian tampuknya). Setelah hidangan selesai dipersiapkan oleh istri Pangeran Mas, maka Empu Danghyang mengucapkan mantram lalu bersantap. Mungkin karena kekuatan gaib mantram yang diucapkan oleh Empu Danghyang maka seluruh makanan berbau harum. Setelah sang pendeta bersantap, sisanya dinikmati pula oleh Pangeran Mas bersama istrinya. Sesudah selesai semuanya, Pangeran Mas beserta istrinya menyembah lalu mohon diri dengan gembira.
Setelah itu Danghyang Nirartha meninggalkan tempat itu. Namun tempat bekas sang pendeta bersantap itu dilihat oleh orang-orang desa setiap malam bercahaya terang dan berbau harum semerbak. Karena itu di tempat itu dibuat suatu palinggih pemujaan Tuhan disebut namanya : Pura Pangajengan, sebab tempat pangajengan (bersantap) Pedanda Sakti Bahu Rawuh.

PURA MASCETI
Diceritakan setelah Danghyang Nirartha pergi dari penghulu sawah terus menuju pantai laut selatan, berjalan perlahan-lahan sendirian di desa Rangkung ke barat mendekati pelabuhan Masceti. Setibanya di sana dirasa ada sapuan angin sepoi-sepoi membawa bau yang harum semerbak menyedapkan perasaan batin suci. Dirasa oleh beliau bahwa hal itu adalah tanda makhluk roh kudus atau Dewa yang turun mendekati beliau. Timbul semangatnya gembira berjalan, tiba-tiba terlihat oleh beliau suatu cahaya gemilang di dalam Pura Masceti, lalu beliau masuk ke dalam kahyangan itu, duduk dengan tertib mengucapkan Weda mantram menyembah Tuhan.
Bhatara Masceti terperanjat melihat, segera turun mendekati memegang tangan Empu Danghyang seraya berkata dengan halus : “Tidak patut Danghyang menyembah, karena sudah suci menunggal dengan Tuhan dan sudah patut kembali ke alam Acintya Loka, apa sebab Danghyang masih suka di dunia?”. Jawab Danghyang, “Saya masih menunggu saat turunnya perintah dari Tuhan”. “Kalau begitu,” jawab Bhatara Masceti, “Mari kita bersama-sama bercengkrama di pinggir laut”.

PURA PETI TENGET
Dhanghyang Dwijendra mengiring Bhatara Masceti bercengkrama di daerah pantai, tiada berapa lama karena kesaktian Bhatara Masceti telah sampai di pulau Serangan bagian barat lautnya.
Di sana beliau bercakap-cakap soal Ketuhanan. Kemudian ada orang melihat cahaya cemerlang merah dan kuning. Lalu menyelidiki. Didapati Empu Danghyang bercakap-cakap dengan orang tidak kelihatan nyata.
Maka ia memberanikan diri bertanya, “Tuan pendeta, maafkan saya bertanya, siapakah tuan hamba datang ke daerah kami?”. “Bapa Pedanda Sakti Bahu Rawuh,” jawab Danghyang. “Bapa ke mari mengiring Bhatara Masceti bercengkrama, dulu bapak telah pernah ke mari”. “Kami menghaturkan selamat datang,” kata orang Serangan. “Silakan tuan hamba berdua diam di sini, kami orang-orang Serangan akan nyungsung (memuja) Sesuhunan (junjungan)”. “Baiklah,” jawab Danghyang. “Buatlah di sini sebuah candi yang akan disungsung (dipuja) oleh jagat dan buat pula sebuah gedong pelinggih Bhatara Masceti, karena beliau bapak iring sampai ke mari!”
Orang Serangan itu menyembah dan berjanji menuruti nasehat Danghyang. Empu Danghyang bersama Bhatara Masceti pergi dari Serangan melanjutkan cengkramanya, tiba-tiba telah sampai di pantai laut Kerobokan. Dari sana dilihat oleh Empu Danghyang Tanjung Hulu Watu sebagai perahu hendak berlayar memuat orang-orang suci menuju tepi langit dan terus ke sorga. Bhatara Masceti memaklumi pikiran Danghyang Nirartha demikian. Lalu berkata, “Danghyang maaf saya mohon diri di sini, tidak boleh orang ngeluhur (pergi ke sorga)”, demikian katanya lalu menggaib.
Danghyang Nirartha berjalan akan menuju Hulu Watu, pecanangannya (tempat sirih) diletakkan. Ketika itu beliau melihat ada orang halus bersembunyi di semak-semak karena takut melihat perbawa Danghyang yang suci. Danghyang memanggil, “Hai Bhuto Hijo kemari, jangan bersembunyi, jangan takut !”. Bhuto Hijo datang menghadap, duduk menundukkan kepala. Danghyang berkata, “Bhuto Hijo, sekarang engkau aku beri tugas menjaga pecananganku ini, kalau ada yang hendak merusak engkau melawan!”. Bhuto Hijo menyembah menjunjung titah Danghyang katanya, “Hamba mohon pasikepan, senjata untuk menjaga!”.
Danghyang lalu memberi suatu mantram yang sakti, kemudian berkata pula, “Sekarang engkau sudah sakti, engkau jangan lalai menjaga dan nengetang (mengsakralkankan) pecananganku ini. Kini aku memberi nama tegal ini yaitu Tegal Peti Tenget”.
Danghyang Nirartha terus pergi ke Hulu Watu ke tempat kahyangan yang dibuatnya dulu. Setelah tiba di sana tidak terperikan senang hati beliau, karena tempat itu sunyi hening dan suci, menonjol di atas air laut, pemandangan indah ke seluruh permukaan laut yang dibatasi oleh tepi langit. Di sana beliau menetap seorang diri mengheningkan cipta, menanti panggilan Tuhan untuk ngeluhur, beliau tidak mau memaksakan diri sebelum saatnya tiba.
Pada suatu hari datang Kelihan (kepala desa) Kerobokan bersama beberapa orang kawannya menghadap Empu Danghyang. Setelah duduk menyembah, Danghyang bersabda, “Siapakah engkau ini, ada kepentingan apa kepada bapa?”. Kelihan Kerobokan menjawab, “Singgih sesuhunan, kami ini orang mendapat kesusahan hebat; di daerah kami di tepi pantai ada sebuah tegal, baru sekarang sangat angker sekali, tiap-tiap orang yang datang kesana mencari sesuatu untuk kepentingan hidup, sekembalinya mesti sakit keras dan susah diobati. Telah banyak yang mengalami hal demikian. Beberapa dukun tidak dapat mengobatinya. Kemudian kami dengar sesuhunan ada di sini, sebab itu kami memberanikan diri menghadap untuk mohon urip”.
Belum selesai aturnya lalu Danghyang menjawab, “O, ya, pecanangan bapa ada di sana bapa taruh karena tidak perlu lagi. 
Ki Bhuto Hijo menjaganya dan menengetkannya. Siapa saja yang datang ke sana merusak sesuatu, tentu Ki Bhuto Hijo yang menyakiti. Coba sekarang usahakan membangun sebuah kahyangan di sana pelinggih Bhatara Masceti. Bapak dulu dapat mengiring baliau bercengkrama, mula-mulanya ke Sakenan kemudian ke Kerobokan, sampai di sana beliau menggaib. Peti pecanangan bapa di sana bapa taruh dijaga oleh Ki Bhuto Hijo, ia yang nengetang, bapak namai Peti Tenget. Itulah sungsung di sana tempat memuja Tuhan untuk mohon kesejahteraan desa. Tiap-tiap kali terutama pada hari puja wali, berilah Ki Bhuto Hijo cecaron, nasi segehan atanding (korban kecil satu porsi), ikannya jejeron (jeroan) babi mentah, segehan agung, lengkap upakaranya tetabuh tuak arak.Tentu ia tidak menyakiti lagi, bahkan disayang dan dibantu sembarang kerja”.
Kelihan Kerobokan menuruti nasehat Danghyang Nirartha demikian. Kemudian di sana dibangun sebuah kahyangan dinamai Pura Peti Tenget. Semenjak itu Desa Kerobokan selamat sejahtera diberkahi oleh Bhatara Masceti dan Bhatara Sakti Bahu Rawuh atas kehendak Tuhan.

PURA LUHUR HULU WATU
Pada suatu hari Selasa Kliwon Wuku Medangsya Dhanghyang Nirartha menerima wahyu Tuhan bahwa beliau pada hari itu dipanggil untuk pulang ke sorga. Merasa bahagia suci hatinya karena saat yang dinanti-nantikan telah datang. Hanya ada sebuah pustaka belum dapat diserahkan kepada salah seorang putranya. Tiba-tiba Empu Danghyang melihat seorang bandega (nelayan) bernama Ki Pasek Nambangan sedang mendayung jukungnya di laut di bawah ujung Hulu Watu, lalu dipanggil.
Setelah bandega itu menghadap, Danghyang lalu berkata, “Hai bandega, engkau aku suruh menyampaikan kepada anakku Empu Mas di desa Mas, katakan kepada beliau bahwa bapak menaruh sebuah pustaka mereka di sini yang berisi ajaran ilmu kesaktian!”. Jawab Ki Bandega, “Singgih pukulun sang sinuhun,” lalu mohon diri setelah menyembah.
Setelah Ki Pasek Nambangan pergi, maka Danghyang Nirartha mulai melakukan yoga samadhinya, bersiap untuk meninggalkan dunia ini. Beberapa saat kemudian beliau moksa ngaluhur, cepat sebagai kilat masuk ke angkasa. Ki Pasek Nambangan memperhatikan juga hal beliau dari tempat yang agak jauh, namun ia tidak melihat Empu Danghyang, hanya cahaya yang cemerlang dilihat membubung ke angkasa.
Demikianlah akhir riwayat Danghyang Dwijendra. Kahyangan tempat beliau ngaluhur kemudian disebut Pura Luhur, lengkapnya Pura Luhur Hulu Watu.
Pada tiap-tiap pamerajan (pura keluarga) umat Hindu Bali dibuat suatu pelinggih beratap ijuk ditandai dengan limas di atasnya, dinamai pelinggih Gunung Hulu Watu tempat memuja Roh Suci Danghyang Dwijendra atau Bhatara Sakti Bahu Rawuh atau juga Danghyang Nirartha sebagai Guru Agama di Bali. Diceritakan Ki Bandega Pasek Nambangan telah tiba di Desa Mas dan menghadap Empu Kidul.
Katanya : “Singgih pukulun, hamba ini adalah rakyat Empu, golongan Bandega Tambangan. Hamba diutus oleh sesuhunan Danghyang Dwijendra. Empu dititahkan pergi ke Hulu Watu mengambil pustaka beliau di sana di ujung Bukit Pecatu sebelah barat. Ida sesuhunan telah moksa pulang ke alam niskala. Sekian pesan ayah Empu. Jika pukulun akan ke sana hamba sedia mengantar,” demikian kata Pasek Nambangan.
Empu Kidul mengucap terima kasih kepadanya dan segera berangkat diiringi oleh Pangeran Mas, tidak ketinggalan Pan Geleng dan Ki Bandega.
Tidak diceriterakan dalam perjalanan Empu Mas telah tiba di Bukit Pecatu terus ke Hulu Watu. Setelah ada dihadapan sebuah meru (bangunan suci dengan atap bertingkat) Empu Mas menyembah, kemudian naik ke dalam meru mengambil pustaka tersebut. Sesudah mengambil pustaka itu, Empu Mas mohon diri kembali ke desa Mas bersama seluruh pengiringnya beserta Ki Pasek Nambangan Perahu. Setibanya di Mas, Ki Pasek Bandega bersama anak istrinya menetap menghamba kepada Empu Mas, diberi tanah pekarangan rumah dan sawah serta 4 ternak.

MEMILIH GURU AGAMA (SIWA / NABHE)
Setelah Empu Mas mamukti keresian (menjalankan kependetaan), maka datanglah Arya Damar (Tegeh Kori), Pangeran Dawuh, Arya Batuparas, Arya Pacung, Arya Caragi, golongan Bandesa Mas, Pasek, Kamasan, Pande, semua sama-sama berguru agama (masiwa) kepada Empu Kidul, sampai dengan turun-temurunnya, masiwa dalam kehidupan dan kematian (panca yadnya)
Empu Wetan sesudah mangresi, datang familinya Pangeran Dawuh Arya Batulepang turunan Pasung Grigis, Arya Pinatih, Dangka Ngukuhi, Brangsinga, Patandakan, Telabah, Tembuku, semuanya masiwa kepada Empu Wetan.
Empu Lor setelah mangresi, datang Arya Cacahe, Arya Tambahan, Arya Jelantik, Batanjeruk, Abyan Tubuh, Gaduh, Arya Belog, sama-sama masiwa kepada Empu Lor.
Empu Kulwan sesudahnya mangresi, datang Arya Buringkit, Arya Kepakisan, Gajahpara, yang mendua pesiwaan Arya Tambahan, Tegeh Kori, Sampih, Pucuk, sama-sama berguru kepada Empu Kulwan.
Tinggal Arya Kenceng dan putra-putranya Dalem Baturenggong belum bernabhe.
Diceriterakan Ida Putu Sangsi dan Ida Putu Bindu pada suatu hari menghadap Dalem Baturenggong di Puri Gelgel bermohon nasehat, bahwa para arya yang belum manabhe sebaiknya masiwa saja kepada Empu Kidul, karena beliau yang memegang seluruh pustaka. Dalem menyetujui.
Ketika para putra Dalem, para Arya dan Wesya penuh menghadap, maka Dalem bersabda “Anakku sekalian, para Arya dan Wesya semuanya yang belum mempunyai Siwa, kiranya baik kalau bersiwa kepada Empu Kidul, karena beliau yang memegang warisan Empu Dhanghyang Nirartha, misalnya pustaka Racadana, bajra (genta) dan alat-alat pawedaan, atau boleh juga kepada Empu Kulon, Empu Lor, Empu Wetan, semuanya itu sama-sama boleh, lain daripada itu tidak boleh. Kalau nanti Ida Putu Sangsi dan Ida Putu Tamesi menjadi resi, tidak boleh anak-anakku dan adik-adikku para Arya dan para Wesya masiwa kepada adik-adikku dua brahmana tadi, karena beliau beribu pelayan dan pernah menjunjung petaranaku (tilam tempat duduk Dalem), ketika itu belum aku kenal. Jika engkau bersiwa kepadanya niscaya surut kesaktianmu, berkurang rakyatmu, desamu kacau balau, karena murka Sanghyang Sinuhun Kidul”. Demikian Nasehat Dalem.

Leave a comment

Filed under Articles

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s