BRAHMANA WANGSA


DHARMOPADESA
BRAHMANA WANGSA DI BADUNG

Agama sesungguhnya adalah Bakti kepada Hyang Widhi, menegakkan kebenaran, jujur dan setia. Rta tentang ajaran Dharma, yang nantinya dipakai sebagai tolak ukur pada saat lahir kembali ke dunia. Diksa tentang penyucian. Tapa sebagai pengikat indrya, untuk berbuat kebaikan. Brahman tentang pemujaan. Yadnya seperti Panca Yadnya, semua itu dipakai pedoman dalam kehidupan ini, baik yang telah dilalui ataupun yang akan datang dan kita senantiasa harus menegakkan dharma, menciptakan kedamaian seperti leluhur-leluhur kita yang telah menyatu dengan Brahman (Atman Aikyam Brahman).
Sembah sujud bakti hamba kehadapan Bhatara Sinuhun yang telah menyatu dengan Brahman, anugrah Bhatara selalu hamba syukuri, semoga hamba luput dari nestapa berikut seluruh keturunan hamba, karena hamba telah berani menuliskan perjalanan Bhatara, itu semua hamba lakukan karena rasa bhakti hamba kehadapan Bhatara.
Sebagaimana uraian Dwijendra Tattwa maupun Pamancangah, Piagem dan Prasasti-Prasasti, Bhatara Sakti, Ida Danghyang Nirartha datang ke Bali Pulina, pada jaman kerajaan Ida Dalem Waturenggong (1460-1550 M) tahun Isaka 1411 (1489 Masehi).
Pada masa itu, Bhatara Sakti berkedudukkan sebagai Bhagawanta Dalem Bali, Beliau mempunyai sepuluh putra dan putri dari beberapa istri, diantaranya 2 orang putra Kemenuh beribu dari Daha, 2 orang Manuabha beribu dari Pasuruan, 3 orang Keniten beribu dari Blambangan, seorang Mas beribu dari Mas Bali, dan 2 orang lagi beribu dari Panawing.
Kita bicarakan Putra Ida Bhatara yang dilahirkan oleh Ida Patni Keniten, yang tertua bernama Ida Ayu Swabhawa (Ida Rahi Istri), adiknya bernama Ida Made Wetan (terkenal dengan nama Ida Telaga Sakti Ender) dan yang terkecil bernama Ida Nyoman Wetan (Ida Bukcabe/Ida Nyoman Keniten).
Ida Made Wetan (Ida Telaga Sakti Ender) bertempat tinggal di Katyagan-Siku Kamasan Klungkung, mempunyai 4 orang putra, yang tertua bernama Ida Pedanda Telaga Tawang, adiknya bernama Ida Pedanda Made Telaga, yang ketiga bernama Ida Pedanda Anom Bandesa dan yang terkecil bernama Ida Pedanda Penida.
Setelah Dalem Waturenggong mangkat, Beliau digantikan oleh Dalem Bekung (1550-1580 M) kemudian digantikan oleh Ida Dalem Sagening/Dalem Ile (1580-1580). Pada jaman pemerintahan Dalem Sagening, putra Ida Bhatara Sakti Ender meninggalkan Katyagan-Kamasan Klungkung, sedangkan Ida Pedanda Telaga Tawang tetap tinggal di Kamasan. Setelah menghaturkan Yadnya Catur Winasa dengan punggalan kepala kerbau berhias di tengah Sungai Unda, Ida Pedanda (Anom) Bandesa, Ida Pedanda Made Telaga dan Ida Pedanda Ketut Penida beserta saudara sepupu beliau Bhatara Ida Pedanda Empu (Putra dari Ida Wayahan Kidul/Mas), meninggalkan Kamasan menuju Padang Galak, Enjungin Biaung, yang merupakan daerah kekuasaan dari I Gusti Ngurah Agung Pinatih di Kertalangu Kesiman. Konon diceritakan, dihaturkannya Yadnya Catur Winasa karena pada waktu itu keadaan pemerintahan sangat kacau. Dalem Klungkung kurang memperhatikan pendeta. Sehingga beliau meninggalkan Desa Katyagan Kamasan (Gelgel) – Klungkung menuju ke Padang Galak (Pradesa Wirasana Tangtu Padang Galak). Di wilayah I Gusti Ngurah Gede Pinatih.
Kembali diceritakan Ida Pedanda (Anom) Bandesa, Ida Pedanda Made Telaga dan Ida Pedanda Ketut Penida beserta saudara sepupu beliau Bhatara Ida Pedanda Empu di Wirasana Tangtu mereka diberikan tempat tinggal. Dari sini mereka berpisah, Ida Pedanda Ketut Penida mengungsi ke Tabanan dan menetap di Wanasara, selama Pedanda Penida di Wanasara beliau dianugrahi putra bernama Pedanda Tembau yang membuat kidung Brahmara Sangupati. Ida Pedanda Made Telaga pindah ke Denbukit, bertempat tinggal di Banjar Ponjok Buleleng, berputra Ida Pedanda Sabo. Sedangkan Pedanda Empu menuju desa Perean, bertempat tinggal di Balwangan-Baturiti, Tabanan.
Tidak diceritakan berapa lama Ida Pedanda (Anom) Bandesa di Padang Galak, atas keluhuran I Gusti Ngurah Gede Pinatih beliau menghaturkan adiknya yang bernama Ni Gusti Ayu Putu Pacung untuk diperistri berikut braya / panjak sebanyak 40 keluarga gegilingan / pilihan. Dari perkawinan ini beliau mempunyai putra yang bernama Ida Pedanda Sakti Ngenjung. Sedangkan putra dari perkawinan beliau dengan Jero Abian dari Abian Kapas bernama Ida Wayahan Abian yang selanjutnya kesah ke Sibang dan Ida Made Abian kesah ke Tegal Badung.
Diceritakan Jero Abian sangat cemburu (duhkita) dengan madunya. Kemudian Jero Abian matur sesangi yang isinya ‘yen mati madun tiange, tiang pacang maturan guling celeng saha baris abajo” (kalau meninggal madu saya, saya akan menghaturkan babi guling serta baris abajo). Sehingga sampai sekarang ada tarian 
baris Gede (Tumbak) di Br. Belong Sanur.
Ida Pedanda Sakti Ngenjung yang masih menetap di Wirasana Tangtu, mempunyai dua orang putra saksat surya chandra sira kalih bernama, Ida Pedanda Wayahan Bandesa dan Ida Pedanda Made Bandesa laksana Surya Chandra atau Surya Kalih – yaitu bagaikan Surya Kembar (lumra prabhanira).
Pada suatu hari Tangtu tertimpa wabah penyakit, tiba-tiba Beliau memanggil makhluk halus (tonya) yang bersuara WAWUR DEG SIRRR dan ketika matahari tenggelam, makhluk halus itu bersuara, kemudian beliau menusuk makhluk halus itu dengan tombak dan makhluk tersebut tersungkur jatuh bagaikan rebahnya pohon Jaka (enau). Tombak pusaka tersebut dikenal dengan nama 
I WAWU RAWUH (I BARU WAWA).
Selama Ida Pedanda (Anom) Bandesa di Padang Galak Wirasana Tangtu, rakyat aman tentram kertha raharja, beliau juga menjalankan konsep Tri Hita Karana melalui Nyatur Bandana Dharma Praja seperti yang dilakukan oleh kakek beliau (Danghyang Dwijendra). Selama Pedanda Anom Bandesa menetap di Wirasana Tangtu, beliau mendirikan Tri Kahyangan yaitu : Pura Dalem Kedewatan, Pura Puseh, Pura Kentel Gumi, Pura Padang Sakti, PelinggihPenghayatan Bhatara Batur, Pelinggih Gunung Agung, begitu pula dengan I Gusti Ngurah Agung Pinatih, beliau mendirikan Pura Bangun Sakti di sebelah timur Tangtu atas petunjuk Ida Pedanda Anom Bandesa.
Tidak diceritakan berapa lama beliau tinggal di Wirasana, Padanggalak Tangtu kemudian pindah menuju Desa Gunung Klandis, Desa Sumerta, tetapi tidak lama beliau tinggal disana. Sebab Ki Bandesa Singgi, Intaran memohon supaya beliau tinggal di wilayahnya di Wirasana Singgi Desa Intaran. Dari tempat inilah Bhatara Sinuhun mencari tempat yang cocok untuk dibangun sebuah Graha, hingga pada suatu hari dari suatu tempat yang tegeh / tinggi, beliau melihat sinar seperti janur putih dan di tempat inilah akhirnya dibangun Graha Grhya Gede Sanur. Sanur berasal dari kata Sa yang artinya tunggal, sedangkan Nur artinya Sinar suci.
Sejak saat itu pula, krama, panjak dan kawula yang masih setia mengikuti Beliau, mencari daerah untuk mendirikan tempat tinggal. Mereka tersebar sepanjang Wilayah Batanpoh-Belong (lintasan kangin-kauh), Pekandelan-Pemamoran (lintasan kaja-kelod) yang merupakan penyatuan pengider-ider jagad Padma Bhuwana (padma kuncup dan padma kembang) dengan tatanan pertahanan Jaga Satru di wilayah Bali Rajya Bandana yaitu manunggalnya Dharma Negara dan Dharma Agama yang merupakan kewajiban seorang Pedanda dengan Nyurya Sewana melihat dari keberadaan Pura Surya Batanpoh di Timur – Pura Surya Belong di Barat dan Kahyangan Rwa Bhineda / Kiwa-Tengen yaitu dengan keberadaan Pura Dalem Kedewatan serta seluruh Pura-Pura Prasanak di sebelah utara dan Pura Kembar di sebelah selatan), sedangkan para putra beliau mengambil tempat di tengah-tengah yang merupakan bagian wilayah Catus Pataning Desa (pusat penyelenggaraan dharma agama dan dharma negara).
Ida Bhatara Sinuhun (Surya Kalih) juga mendirikan Parhyangan, nuntun serta memindahkan pura-pura dari Padang Galak, seperti Pura Dalem Kedewatan (termasuk di dalamnya Pura Batur, Pura Gunung Agung dan Pura Desa – Puseh) di Tegehan Singgi, sedangkan Pura Kentel Gumi, Padang Sakti masih berada di Tangtu sehingga masih ada panjak / kawula tinggal di sana 10 keluarga, sampai sekarang tetap menjadi krama Desa Adat Sanur.
Pembangunan Parhyangan di Sanur terus ditingkatkan, yang selanjutnya membangun Parhyangan di tepi siring wetan (timur) seperti Pura Dalem (seperti tersebut di atas), Pura Kembar yang merupakan pura pemersatu (bandana dharma) bagi para sentana – prati sentanan bhatara seterusnya karena beliau berdua bagaikan amutering Negara Badung, yang melahirkan bhisama ‘adi made … panjak adine elingang, beli baang a dasa kuren dogen, nanging abot-ingane adi ngitungang’, dan seterusnya mendirikan Pura-Pura lain seperti Pura Kahyangan Ksetra, Pura Maospahit, Pura Tanggun Suwan. Sejak saat inilah Desa Sanur mempunyai Kahyangan Tiga sehingga diberi nama Desa Adat Sanur (Desa Pekraman Sanur) sekarang, sesuai dengan yang tersurat dan tersirat dalam Lontar Raja Purana menyebutkan usaha Empu Kuturan untuk membangun tempat-tempat suci beserta upacaranya sebagai berikut :
… ngaran dewa ring kahyangan pewangunan Empu Kuturan kapastikan saking Pura Silayukti, mwang ngewangun seraya karya, ngadegang raja purana, mwang nangun karya ngenteg linggih bhatara ring Bali, kapreteka antuk sira Empu Kuturan, ngeraris nangun catur agama, catur lokika bhasa, catur gila, mekadi ngewangun Sanggah Kemulan, ngewangun Kahyangan Tiga, Pura Desa, Puseh mwang Dalem …
… adapun dewa di kahyangan pewangunan Empu Kuturan diciptakan atau dibangun oleh Empu Kuturan, direncanakan dari Pura Silayukti dan menyelenggarakan segala pekerjaan 
sehubungan dengan pembangunan pura-pura kahyangan jagad, demikian pula mengadakan pemelaspasan dan mengisi pedagingan linggih bhatara-bhatari di Bali diatur oleh Empu Kuturan. Selanjutnya dibuat peraturan agama, empat tatacara berbahasa, empat ajaran pokok dalam kesusilaan dan lima tattwa agama, seperti mengajar membuat Sanggah Kemulan, Kahyangan Tiga, 
Pura Puseh, Pura Desa dan Pura Dalem …
Diceritakan kembali pembangunan Pura-Pura lain seperti Pura Dalem Mangening Belatri sudah ada sejak jaman dahulu, begitu juga dengan keberadaan Pura Segara, sudah ada sebelum Bhatara Sinuhun sampai di Sanur.
Diceritakan pada saat memindahkan bahan-bahan untuk mendirikan Palinggih Parhyangan Dalem Kedewatan dari Padang Galak menuju Sanur, seluruh kawula / braya melaksanakannya dengan senang hati, mereka mengadakan tari-tarian dan ikut menari-nari. Berdasarkan pawisik yang diterima, maka sejak saat itu setiap Piodalan di Pura Dalem Kedewatan Sanur selalu diadakan tarian Baris Tumbak yang bernama I Kebo Dengkol.
Semasa hidupnya Ida Wayahan Bandesa dan Ida Pedanda Made Bandesa di Grhya Gede Sanur pemerintahan desa dipegang oleh Ida Pedanda Made Bandesa, sedangkan Ida Pedanda Wayahan Bandesa memusatkan pikiran untuk melaksanakan dharmaning agama. Ida Pedanda Made Bandesa berputra seorang bernama Ida Pedanda Gede Ngenjung, mengambil istri ke Puri Agung Pemecutan, putri dari Raja Sakti Pemecutan I. Dari perkawinan ini melahirkan seorang putri bernama Ida Pedanda Istri Agung Kaniya. Sedangkan istri beliau dari Grhya Pasekan, Tabanan berputra seorang bernama Ida Wayahan Pasekan. Selanjutnya Ida Pedanda Wayahan Pasekan mengambil istri dari Pemecutan Gelogor berputra Ida Pedanda Made Ngenjung, dan dari istri lainnya (Jero Abian) berputra seorang bernama Ida Pedanda Wayahan Meranggi.
Selama pemerintahan Ida Pedanda Made Ngenjung sekitar tahun 1780 M. Beliau mengambil istri dari Puri Pamecutan Kaleran bernama I Gusti Ayu Agung Kaleran yang merupakan saudara tertua dari tiga bersaudara. Sedangkan yang kedua bernama I Gusti Ngurah Made yang ketiga bernama I Gusti Ngurah Rai. Diceritakan di Puri Satria berkuasa Ida Cokorda Sakti Jambe, putra dari Cokorda Jambe Merik yang merupakan putra pedanan dari Dalem Sukawati. Sedangkan adik dari Cokorda Sakti Jambe (Cokorda Made) berpuri di Jero Kuta.
Sebutan Jero Gede Sanur ini dimulai dari kisah I Gusti Ngurah Rai dari Puri Pemecutan Kaleran, yang pada saat itu sering berada di Puri Satria dituduh berhubungan asmara dengan salah satu dari para istri Cokorda Sakti Jambe, sehingga Cokorda Sakti Jambe menjatuhkan hukuman mati. Mengetahui dirinya akan di bunuh 
I Gusti Ngurah Rai melarikan diri ke Kerobokan. Namun terus dikejar, dan melarikan diri lagi ke Jimbaran. Diketahui berada di Jimbaran I Gusti Ngurah Rai dicari lagi ke Jimbaran, akhirnya melarikan diri menyeberangi Selat Lombok menuju daerah Lombok. Di Lombok I Gusti Ngurah Rai mengabdi kepada Raja Lombok. Beliau suka mebotoh / berjudi dan karena kesaktiannya beliau disayangi oleh Raja Lombok.
Lama-kelamaan beliau bosan tinggal di Lombok, dan ingin kembali lagi ke Bali. Raja Lombok memberikan bhisama kepada 
I Gusti Ngurah Rai, bahwa bila ingin kembali ke Bali supaya menemui keluarganya yang berada di Karangasem. Bosan di Karangasem I Gusti Ngurah Rai melanjutkan ke arah barat menuju Gianyar. I Gusti Ngurah Rai terus berpindah-pindah oleh sebab beliau senang berjudi / memotoh.
Diceritakan Raja Gianyar ingin menjadikan I Gusti Ngurah Rai abdinya untuk selamanya. Demikian pula I Gusti Ngurah Rai ingin kembali ke Puri Satria Badung. Akhirnya keluarlah bhisama Raja Gianyar, ‘Bila I Gusti Ngurah Rai dapat mengalahkan jangkrik milik raja, maka raja siap membantu I Gusti Ngurah Rai kembali ke Satria Badung. Dan sebaliknya bila jangkrik milik I Gusti Ngurah Rai kalah, harus siap mengabdi selama hayatnya di Gianyar’. Bhisama ini diterima oleh I Gusti Ngurah Rai.
I Gusti Ngurah Rai kemudian menghadap kepada Ida Pedanda Made Ngenjung di Sanur guna memohon petunjuk dalam menghadapi Raja Gianyar. Sesampai di Sanur Ida Pedanda Made Ngenjung memberikan saran supaya I Gusti Ngurah Rai melakukan tapa semadi untuk memohon petunjuk kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa. Bila sudah saatnya tiba di pagi hari apa pun yang jatuh dari atas, I Gusti Ngurah Rai patut memungutnya dan langsung memasukkan kedalam kantong jangkrik / bungbung. Waktu dini hari menjelang pagi setelah melakukan surya sewana, maka jatuhlah bunga kamboja / jepun. I Gusti Ngurah Rai langsung memungut dan memasukkannya ke dalam bungbung, tiba-tiba berubahlah bunga jepun itu menjadi seekor jangkrik. Jangkrik itu tak lain adalah duwe Ida Bhatara di Sanur. Sedangkan jangkrik Raja Gianyar adalah duwe Ida Bhatara di Dalem Peed Nusa Penida.
Tak lama diceritakan sampailah I Gusti Ngurah Rai di Gianyar, namun beliau kesiangan sampainya karena harus berjalan dari Sanur ke Gianyar. Raja Gianyar telah siap lebih dahulu menunggu kedatangan I Gusti Ngurah Rai dengan panjak dan para pengikutnya. Kemudian bersoraklah para penonton begitu melihat I Gusti Ngurah Rai telah datang. Tidak diceritakan serunya pertarungan jangkrik itu, akhirnya jangkrik milik Raja Gianyar kalah. Raja Gianyar menepati janjinya membantu I Gusti Ngurah Rai kembali ke Satria Badung.
Kembali I Gusti Ngurah Rai menghadap Ida Pedanda Made Ngenjung untuk memohon petunjuk dalam usahanya membalas dendam kepada Cokorda Sakti Jambe di Puri Satria. Ida Pedanda Made Ngenjung menyarankan agar I Gusti Ngurah Rai menghadap I Gusti Ngurah Made di Puri Pemecutan Kaleran guna mencari tanggapan bila ia menyerang Satria. Raja Pemecutan berjanji akan membantu penyerangan itu. Setelah dicapai kata sepakat, I Gusti Ngurah Rai kembali ke Sanur menghadap Ida Pedanda Made Ngenjung melaporkan kesepakatan penyerangan ke Puri Satria. Ida Pedanda Made Ngenjung dan Ida Pedanda Wayahan Meranggi membuka busana pandita dan siap membantu penyerangan dari arah timur.
Ida Pedanda Made Ngenjung dan Ida Pedanda Wayahan Meranggi beserta laskar I Gusti Ngurah Rai tiba di Desa Kesiman. Beliau dihadang oleh Mangku Dalem Kesiman yang bela pati kepada Raja Satria. Mangku Dalem Kesiman adalah seorang yang sangat sakti, beliau adalah andalan / tabeng dada dari Cokorda Sakti Jambe di Puri Satria. I Gusti Ngurah Rai bersama laskar bantuan Raja Gianyar menyerang Pemangku Dalem Kesiman lewat Batubulan namun laskar bantuan Gianyar dapat dikalahkan oleh Mangku Dalem Kesiman. Pertempuran berlanjut antara Mangku Dalem Kesiman dengan Ida Pedanda Made Ngenjung dan Ida Pedanda Wayahan Meranggi. Perut Mangku Dalem Kesiman dapat ditumbak oleh Ida Pedanda berdua. Merasa perutnya terluka, Mangku Dalem Kesiman mengeluarkan ususnya kemudian melilitkan ke lehernya dan siap menyerang kembali. Karena sangat parah keadaannya, maka Ida Pedanda Made Ngenjung berucap “adik mari tinggalkan Mangku Dalem Kesiman, janganlah dihadapi lagi karena akan membuang tenaga saja. Mangku Dalem Kesiman sudah tidak berdaya dan sebentar lagi akan mati”. Selanjutnya Ida Pedanda Made Ngenjung dan Ida Pedanda Wayahan Meranggi meninggalkan tempat peperangan menuju Puri Satria Badung. Mangku Kesiman rebah dan menemui ajal sepeninggal Ida Pedanda.
Diceritakan laskar Ida Pedanda Made Ngenjung dan Ida Pedanda Wayahan Meranggi sampai di Puri Satria. Perang antara laskar I Ngusti Ngurah Made melawan laskar Cokorda Sakti Jambe yang dipimpin oleh patihnya masih berkecamuk. Laskar Sanur yang dipimpin oleh beliau berdua langsung turun ke medan perang membantu laskar I Gusti Ngurah Made. Dalam pertempuran sengit tersebut laskar Cokorda Sakti Jambe kalah, sisanya yang masih hidup melarikan diri.
Setelah perang selesai I Gusti Ngurah Made, Pedanda Made Ngenjung, Pedanda Wayan Meranggi dan I Gusti Ngurah Rai yang berada di tempat itu, masuk ke istana. Semua pintu gerbang sudah tertutup dan dikunci dari dalam. Ida Pedanda Made Ngenjung memerintahkan dua laskarnya memanjat tembok untuk membuka pintu gerbang dari dalam. Tetapi baru menginjakkan kaki di dalam istana sudah dihadang oleh Raja Jambe yang duduk di sebuah batu ceper (lempeh) hitam dengan seekor anjing hitam yang sangat besar di sebelah kanannya. Dengan sangat terkejut beliau berkata keras kepada kedua orang tersebut, “Siapa engkau berdua, berani masuk kedalam keraton tanpa seijinku?”. Kedua laskar itu menjawab, “Kami laskar dari Sanur yang berani beradu jurit dengan paduka”. Cokorda Sakti Jambe sangat berang dan berkata lagi, “Aku tidak pernah ada masalah dengan Sanur, mengapa Sanur turut campur dalam perang ini. Kalau demikian kehendakmu terimalah kutukku ini….”. Sambil mencabut sarung kerisnya dan melemparkan kepada kedua laskar itu, kena tepat dibibirnya sampai bengor. Cokorda Sakti Jambe mengutuk dengan berkata jah tah smat, “Moga-moga sampai tujuh keturunanmu bengor”. Sampai sekarang keturunan itu menjadi bibirnya miring (bengor) dan diberi nama I Bengor. Begitu pintu gerbang terbuka Ida Pedanda Made Ngenjung, Ida Pedanda Wayahan Meranggi, I Gusti Ngurah Made dan I Gusti Ngurah Rai beserta beberapa orang laskar menyerbu ke istana bersama-sama menangkap Cokorda Sakti Jambe. Beliau diusung menemui Cokorda Made di Jero Kuta. I Gusti Ngurah Rai melampiaskan dendamnya dengan membunuh Cokorda Sakti Jambe dan menyerahkan jenasah beliau kepada Cokorda Made. Setelah peristiwa itu rombongan menuju ke selatan dan beristirahat di Puri Pemecutan Kaleran (Kaleran Kawan). Sambil beristirahat matur I Gusti Ngurah Made kepada Ida Pedanda Made Ngenjung dan Ida Pedanda Wayahan Meranggi. Apa yang harus kami perbuat sekarang setelah kita memenangkan perang, begitu pula Cokorda Sakti Jambe telah wafat. Berkatalah Ida Pedanda Made Ngenjung kepada I Gusti Ngurah Made dan I Gusti Ngurah Rai. “Hai Ngurah berdua karena sudah demikian keadaannya, saya minta agar Ngurah Made madeg menjadi Raja untuk menggantikan Cokorda Sakti Jambe dan bangunlah istana Kerajaan di sebelah timur Kali Badung dengan sebutan Kerajaan Denpasar, bergelar Cokorda Denpasar, sedangkan Ngurah Rai kembali ke Puri Pemecutan Kaleran”. Selesai Ida Pedanda Made Ngenjung menyampaikan bhisama kepada I Gusti Ngurah Made dan I Gusti Ngurah Rai, berangkatlah beliau dengan Ida Pedanda Wayahan Meranggi beserta laskar kembali ke Sanur.
Tiba di desa Tanjung Bungkak beliau dihadang oleh I Gusti Ngurah Abian Timbul dari desa Intaran beserta laskar dengan senjata terhunus, siap bertempur. Berkatalah Ida Pedanda Made Ngenjung kepada I Gusti Ngurah Abian Timbul. “Hai Bapa hendak pergi kemana dengan senjata terhunus ?”. “Ratu Pedanda berdua, kami mau pergi ke Puri Satria karena kami mendengar kabar bahwa Cokorda Sakti Jambe diserang oleh I Gusti Ngurah Made dan I Gusti Ngurah Rai dari Puri Pemecutan Kaleran”. Kemudian dijawab oleh Ida Pedanda, bahwa berita itu memang benar. Dimana kami dengan laskar telah ikut bersama-sama I Gusti Ngurah Made dan I Gusti Ngurah Rai dalam penyerangan itu. Sekarang Cokorda Sakti Jambe telah wafat. Oleh karena itu keadaannya, sebaiknya kita kembali ke Sanur bersama-sama. Yang selanjutnya ajakan tersebut disetujui oleh I Gusti Ngurah Abian Timbul serta kedua rombongan itu kembali ke Puri dan Grhya masing-masing.
Pada tahun 1789, setelah mapan menjabat sebagai raja di Puri Denpasar, I Gusti Ngurah Made sebagai Cokorda Denpasar, turunlah bisama beliau bahwa : Ida Pedanda Made Ngenjung diberi kekuasaan Ngambeng di sebelah timur Bantas (Setra Bantas) garis lurus utara / selatan. Karena perubahan status fungsi beliau dari pendeta (pedanda) menjadi penguasa (Raja) maka berubahlah sebutan Grhya Gede menjadi Jero Gede Sanur dan sampai sekarang sebutan itu dipadukan menjadi Grhya Jero Gede Sanur. Sedangkan Pedanda Wayahan meranggi di berikan kedudukan menjadi penguasa di Desa Sumerta dan pindah membangun Grhya di sana (di Abian Kapas) dengan sebutan Grhya Meranggi, sampai sekarang.
Diceritakan keturunan lurus Pedanda Made Ngenjung yang ada sekarang di Grhya / Jero Gede Sanur. Ida Pedanda Made Ngenjung berputra Ida Pedanda Ngenjung Putra – berputra Ida Pedanda Gede Ngenjung – berputra Ida Pedanda Ngurah (wafat di segara) – berputra Ida Bagus Ngurah (pernah menjabat Punggawa) – berputra Ida Bagus Anom Ngurah – berputra 3 orang : 1. Ida Bagus Oka Natha, 2. Ida Bagus Gede (almarhum), 3. Ida Bagus Tjethana Putra, bertiga inilah sekarang yang berada tinggal di Grhya / Jero Gede Sanur.
Selanjutnya sentana-pratisentana tusning Bhatara Sinuhun, berikut keluarga besar beliau baik dari warih langsung berdasarkan pamancangah yang ada maupun dari keluarga pewarangan (kerabat) dan braya, warga-wargi, ada yang menetap di Sanur dan ada pula yang pindah ke desa-desa lain di seluruh Bali, diantaranya :
Grhya-Grhya yang berada di Sanur :
Grhya Timbul Puseh, Grhya Kaleran, Grhya Manesa, Grhya Oka, Grhya Mecutan, Grhya Nagi, Grhya Jambe, Grhya Kanginan, Grhya Jumpung, Grhya Wanasari, Grhya Sari, Grhya Mawang, Grhya Intaran, Grhya Simpar, Grhya Bun, Grhya Bangun, Grhya Sibang, Grhya Gulingan, Grhya Glogor, Grhya Telaga, Grhya Timbul Anggarkasih, Grhya Bangli, Grhya Kaler, Grhya Gelgel, Grhya Perasi, Grhya Bangun Sindhu, Grhya Simpar Sindhu.

Yang berada di kawasan Renon adalah Grhya Telaga Renon.
Grhya-Grhya yang berada di kawasan Kesiman :
Grhya Tegal Jinga ‘Bajing’ Kesiman, Grhya Tegal Jinga ‘Bajing’ Lebah, Grhya Meranggi Abian Kapas, Grhya Meranggi Lebah, Grhya Bangun Briyung, Grhya Timbul Kesiman, Grhya Gede Bindu, Grhya Tegeh Bindu, Grhya Tegeh Ngenjung, Grhya Ambengan Bindu, Grhya Natih, Grhya Panasan Bindu, Grhya Piadnya Bindu, Grhya Tegal Bindu, Grhya Pelaci Bindu, Grhya Tengah Bindu, Grhya Karang Bindu, Grhya Pacung Bindu, Grhya Abian Nangka.
Grhya-Grhya yang berada di Denpasar :
Grhya Karang Kluwi Tampakgangsul, Grhya Wangaya Kelod, Grhya Keniten Taensiat, Grhya Timbul Belaluan Kaja dan Grhya Timbul Belaluan Kelod, Grhya Telaga Telabah, Grhya Telaga Tegal, Grhya Telaga Beji Tegal, Grhya Telaga Sari Tegal, Grhya Telaga Carik Tegal, Grhya Telaga Bangket Yangbatu, Grhya Telaga Sidakarya, Grhya Telaga Gemeh, Grhya Telaga Penyobekan, Grhya Braban, Grhya Pemedilan, Grhya Padangsumbu, Grhya Penyaitan, Grhya Tegal Linggah.
Grhya-Grhya di kawasan Kuta :
Grhya Telaga Dalem Kerobokan, Grhya Telaga Tawang Kerobokan, Grhya Tuban.
Grhya-Grhya di daerah Petang dan Abiansemal :
Grhya Telaga Carangsari, Grhya Wanasari Pangsan, Grhya Dalem Sibang, Grhya Bun Sibang, Grhya Angantaka, Grhya Sigaran.
Grhya-Grhya di Gianyar :
Grhya Gede Ketewel, Grhya Rangkan Ketewel, Grhya Bun Batuan, Grhya Pacung Batuan, Grhya Selat Celuk Sukawati, Grhya Tegal Suci Pejeng, Grhya Tegal Sumampan, Grhya Bajing Belahbatuh, Grhya Taman Serongga, Grhya Angkatan Serongga, Grhya Bun Serongga, Grhya Siangan, Grhya Kerurak, Grhya Senggwan Baler Puri, Grhya Sanur Pejeng, Grhya Panyembahan, Grhya Kabetan, Grhya Jukut Paku, Grhya Madawa, Grhya Yang Api.
Grhya-Grhya di daerah Bangli :
Grhya Sama, Grhya Kelempung, Grhya Sanur Br. Pande, Grhya Paninjoan.
Grhya-Grhya di daerah Klungkung :
Grhya Karang Satrya, Grhya Tembau Aan, Grhya Tegal Wangi, Grhya Bakas, Grhya Intaran Tihingan, Grhya Intaran Koripan, Grhya Intaran Getakan, Grhya Telaga Banjarangkan.
Grhya-Grhya di Karangasem :
Grhya Gede Duda Selat, Grhya Sanur Laya Omba Duda, Grhya Sanur Bebandem, Grhya Ngenjung Bongaya, Grhya Keniten Manggis.
Grhya di Tabanan : Grhya Sanur Belayu.
Grhya-Grhya di Jembrana : Grhya Sanur Yeh Embang, Grhya Putra Dalem Ekasari Malaya.
Grhya di Lombok Barat : Grhya Pagesangan, Grhya Ngenjung, Grhya Suweta Kawan.
Para prati sentana yang masih setia seperti :
Soroh Tangkas Sekeh / Tuban (turunan Pekak Kacong), Soroh Tangkas Bualu, Soroh Tangkas Tengkulung, Soroh Tangkas Tanjung Benoa, Turunan Gusti Tengkulung, (Geria), Soroh Pan Jati Kedonganan, Soroh Sawah/Pedungan, Soroh Ngenjung Penatih Kesiman, Soroh Pande Br. Panti Sanur, Wargi Seblanga Abiantimbul Badung, Soroh Ngenjung Renon, Soroh Kandel Renon, Wargi Mangku Puseh Renon, Wargi Pasek Renon, Soroh Abyan Br. Gulingan Sanur, Soroh Panti Br. Taman Sanur, Soroh Minggir Br. Kelandis, Wargi Bandesa Singgi / Langon, Wargi Wirasana Tangkas Br. Wirasana, Soroh Jero Agung Br. Singgi, Turunan I Goplong Serangan, Turunan I Bakti Penatih Serangan, Turunan I Rabeng Serangan, Turunan I Roto Semawang, Turunan I Resek Mangku Br. Panti, Jro Gde Penestanan Ubud, Warga Mangku Gede Sanur Kesiman, Soroh Belong Abianangka Kesiman, Soroh Mamoran, Soroh Kalah Br. Singgi, Soroh Meranggi Br. Singgi, Soroh Tangkeban Langon, Soroh Selat Langon, Soroh Tameng Langon. Wargi Br. Batan Poh, Wargi Belong, Wargi Pekandelan, Wargi Pemamoran, Wargi Tangtu, Wargi Pejeng.
Para Santanan Bhatara, braya warga-wargi yang bertempat tinggal di Sanur sudah melaksanakan upacara pada saat Tilem Kajeng di Pura Dalem Kadewatan Sanur, menurut banjar masing-masing seperti :
Banjar Batanpoh, Banjar Pekandelan, Banjar Belong, Banjar Adat Tegal Asah, Banjar Adat Wirasana, Tempekan Banjar Adat Tangtu, Tempekan Banjar Adat Langon, Tempekan Br. Anggar Kasih dan Tempekan Br. Tegeh Selang.
Dengan demikian, ada dua cikal bakal Brahmana Keniten (Wangsa Wetan) yang diturunkan oleh Bhatara Empu Dhangyang Dwijendra, seperti warih Sanur yang merupakan sentanan dari Ida Pedanda Sakti Telaga Ender dan warih Batulepang dari Sinuhun Ida Pedanda Telaga Tawang yang bertempat tinggal di Kamasan.
Setelah memiliki Grhya, masing-masing diberikan tugas untuk bertanggung jawab pada masing-masing parhyangan dibantu oleh braya dan kulawarga, seperti yang diwarisi sampai sekarang yaitu : Pura Kentel Gumi menjadi tanggung jawab Grhya Jumpung, beserta panjak braya Banjar Tangtu. Pura Padang Sakti menjadi tanggung jawab Grhya Simpar beserta Banjar Tangtu. Pura Kembar menjadi tanggung jawab Grhya Tambau, oleh karena pindah ke Desa Aan Klungkung maka pura tersebut diambil alih oleh Grhya Wanasari, dan menjadi tanggung jawab bersama dengan Grhya Telaga Anggarkasih dan Pamaksan Pura Kembar. Pura Tanggun Swan menjadi tanggung jawab turunan Pekak Sabang. Pura Segara menjadi tanggung jawab Pamaksan Segara. Pura Dalem Mangening menjadi tanggung jawab Pamaksan Pura Belatri. Pura Dalem Kadewatan dan Pura Tanjung Sari Santrian menjadi tanggung jawab Grhya Jero Gede Sanur, juga dibantu oleh Pamaksan dan braya. Pura Puseh, Desa Bale Agung, Pura Dalem Kahyangan Ksetra, Pura Merajapati dan Pura Pamuwunan (Tunon), menjadi tanggung jawab Desa Adat (Pekraman) Sanur. Pura Batur menjadi tanggung jawab Grhya Oka, Grhya Mecutan dan Pamaksan. Pura Rambut Siwi menjadi tanggung jawab Grhya Intaran. Pura Kembengan (Pengubengan) dan Pura Tegal Penangsaran menjadi tanggung jawab Grhya Jumpung, namun sekarang dibantu oleh Pewaris Mangku Kembengan.
Palinggih yang didirikan oleh Bhatara yang merupakan kesahan dari Puri Ksatrya bernama Santrian, bertempat di sebuah tanjung yang dulunya merupakan tempat peristirahatan Bhatara Empu Bharadah (1007 M) dari Jawa, yang akan mengunjungi kakak beliau Ida Empu Danghyang Kuturan di Silayukti. Sebagai tanda tempat Ida Bhatara Empu Bharadah memuja Bhatara Tohlangkir di Puncak Gunung Agung, diberi nama Tanjung Sari.
Walaupun Bhatara Leluhur tidak henti-henti melaksanakan Yadnya seperti Panca Yadnya, bakti kepada Sanghyang Widhi dan Bhatara Kawitan, berpedoman pada tattwa seperti Panca Sraddha, menciptakan Jagadhita, dan selalu membela kebenaran, tetapi tidak luput dari beberapa permasalahan yang datang dari kapal Sri Komala, sehingga Kerajaan Badung melaksanakan perang puputan, pada Wrespati Keliwon wara Ukir, tanggal masehi 20 September 1906 melawan Belanda.
Setelah kalah, dan dijajah oleh Bangsa Belanda, keturunan Ida Bhatara Sinuhun Leluhur masih bersatu mempertahankan keberadaan Sanur. Hingga pada tahun 1917 M terjadi bencana gempa bumi yang merusak bangunan-bangunan besar.
Pada saat itu Bhatara Leluhur beserta kulawarga, santana, braya, wargi, sameton panyungsung sapakraman Desa Adat (Pekraman) Sanur kembali membangun palinggih-palinggih Parhyangan, selanjutnya membangun Kori Agung (1931 M), Bale Agung yang berpedoman pada Asta Bumi Asta Kosala-Kosali, hingga melaksanakan Karya Ngenteg Linggih di Pura Dalem dan Pura Puseh (1937 M).
Demikianlah perjalanan Bhatara Sinuhun berikut tempat-tempat suci yang telah Beliau dirikan dan kita warisi sampai saat ini sebagai PARAMA DHARMA BHATARA IDA PEDANDA (ANOM) BANDESA dan Keturunannya, yang sangat perlu untuk diyakini, dihayati dan dilaksanakan sebagai sebuah persembahan kepada leluhur untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan antara Keluarga Besar (semeton), braya, warga-wargi dalam rangka menyelenggarakan Karya Agung Memungkah Dan Ngenteg Linggih di Pemerajan Agung Grhya Jero Gede Sanur (2003).

Leave a comment

Filed under Articles

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s