SivaRatri


PERAYAAN HARI SUCI SIWARATRI

Kegiatan diseputar Siwaratri belakangan ini sudah semakin banyak dilakukan oleh lapisan masyarakat, baik dikalangan masyarakat umum, para pelajar / Maha Siswa, para ilmuwan, generasi muda maupun di kalangan pencinta seni sastra. Sebagaimana diketahui bahwa perayaan hari suci Siwaratri ini erat kaitannya dengan sebuah kisah seorang pemburu bernama Lubdhaka yang diuraikan sebuah Karya Sastra Jawa Kuna, Kekawin Siwaratri Kalpa karya Empu Tanakung dan di Bali lebih dikenal dengan Kekawin Lubdhaka. Kalau kita telusuri secara seksama kisah Lubdhaka ini mempuyai wawasan relegius yang sangat dalam serta dijiwai oleh nilai ajaran Hindu baik aspek filosofisnya, aspek moral atau etikanya dan juga aspek ritualnya. Di masa lampau kita pernah mendengar persepsi bahwa cerita Lubdhaka dengan brata Siwaratri dikaitkan dengan usaha umat Hindu dalam melakukan Dharma peleburan dosa atau malam penebusan dosa, namun setalah dikaji dengan hati-hati dan lebih mendalam ternyata nilai yang terkandung di dalamnya tidaklah sesempit, sedangkal dan semudah itu orang-orang dapat menebus dosa-dosanya, serta nampaknya sangat bertentangan dengan Srddha hukum karma atau Karma Phala. Perlu diingat bahwa si pemburu Lubdhaka sebagai orang yang hidupnya papa. Kata Papa disini tidak sama maknanya disini dengan kata dosa kendatipun kata-kata itu dapat diterjemahkan dengan dosa. Dalam hal ini kepapaan si Lubdhaka jiwanya diliputi oleh kegelapan atau Awidya yang berakibat munculnya ketidak- sadaran, kebodohan, rendah kualitas hidup yang selalu dibelenggu oleh keduniawian dan ini ia lakukan dengan perbuatan himsa karma yaitu memburu dan membunuh binatang buruannya setiap hari guna dapat menghidupi keluarganya. Kisah Lubdhaka dengan Siwaratrinya sesungguhnya mengandung makna sebagai tonggak peringatan dimana umat Hindu senantiasa berusaha untuk melebur kepapaan hidupnya, pada malam payogan Bhatara Siwa agar terlepas dari belenggu kegelapan hidup, gelapnya jiwa atau Awidya, bebas dari kebodohan, bebas dari ketidaksadaran, bebas dari ikatan duniawi, hingga pada akhirnya nanti dapat mencapai Widya, hidup yang terang, jagadhita dan tercapainya moksa bersatu kembali dengan asal mula kehidupan yaitu Sang Hyang Widhi.
Pada bagian kisahnya diceritakan bahwa dalam perburuannya Lubdhaka kemalaman di hutan. Hal ini mengandung arti simbolis bahwa dirinya yang hidupnya papa itu sesungguhnya berada dalam kegelapan duniawi. Jiwa atau pikiran yang ada dalam kegelapan, ketidak sadaran, ketidak tahuan disebut Awidya. Inilah kiranya yang melandasi kenapa itu disebut Siwaratri atau Malam Siwa. Malam berarti gelap. Pikiran atau jiwa yang gelap, berarti Awidya, dan orang yag berada dalam keadaan Awidya pasti hidupnya papa. Sedang kata Siwa tiada lain Ista Dewa Sang Hyang Widhi dalam fungsi beliau sebagai pelebur. Jadi Siwaratri atau Malam Siwa berarti peleburan Awidya atau peleburan kepapaan hidup.
Guha petang tang mada moho kasmala,
Maladi yolanya magong mahawisa,
Wisata sang wruh rikanang jurang kali,
Kalinganing sastra suluhnikapraba.
Artinya :
Bahwa diri kita ibaratnya seperti sebuah gua yang gelap, tempatnya kecongkakan, kekalutan pikiran dan keangkuhan perilaku ; segala keburukan itu ibaratnya seekor ular besar berbisa dasyat; bila orang itu dapat memahami hal itu akan tetap merasa tenang kendatipun berada dalam lembah penderitaan; karena sastra pulalah merupakan pedoman sebagai sesuluh menerangi hidup ini.

Lubdhaka menyadari hidupnya yang papa itu, lalu berusaha mening­katkan kualitas hidupnya itu melalui berata Siwaratri yaitu Jagra, Upawasa dan Monobrata.
Jagra berarti selalu mawas diri, sadar diri dengan terus berusaha mempertinggi pengetahuannya, sehingga ia menjadi orang yang melek atau orang yang berpengetahuan, tetapi harus tetap jagra atau mawas diri, karena kepandaian itu sendiri sering kali mendorong orang lupa diri atau mabuk menyombongkan kepandaiannya itu yaitu berada dalam siklus Guna Timira, karena itu kita harus tetap waspada, tidak mudah terbawa arus “Guna” sambil mengintrospeksi diri akan semua perbuatan di masa lampau. Kesalahan demi kesala­han dibuang atau ditinggalkan satu demi satu, ibaratnya Lubdhaka tatkala memetik-metik daun Bila atau Maja, serta serahkan semua itu agar lebur sirna dibawah kekuatan kekuasaan Siwa Lingga, sehingga pada akhirnya dapat mencapai kesadaran yang agung, jiwa menjadi terang (Widya).
Upawasa yaitu brata untuk tidak makan atau minum, mengandung makna pengendalian diri, untuk membebaskan diri dari belenggu duniawi sehingga tahap demi tahap hidup ini dapat diarahkan untuk mencapai kesempurnaannya
Dan Monobrata yaitu pantang dalam berbicara untuk waktu tertentu guna mendapatkan suasana yang hening, tentram sehingga mempermu­dah pemusatan pikiran dalam mengadakan yoga (menghubungkan diri dengan Tuhan). Dengan demikian jiwa atau pikiran ini benar-benar menjadi terang (Widya). Hanya orang yang telah mencapai tingkat hidup Widya sajalah yang memungkinkan mencapai Siwa Loka (Sorga), sebagaimana halnya Lubdhaka yang telah berhasil melaksanakan Brata Siwaratri itu mampu mencapai tingkatan hidup Widya, terle­pas dari belenggu Awidya (Papa), akhirnya dapat bersatu dan bertemu dengan Tuhan di Siwa Loka atau mencapai Sorga.
Keadaan si pemburu Lubdhaka yang pada mulanya hidupnya papa itu, namun akhirnya berkat ketaatannya melaksanakan brata Siwaratri dapat mencapai Siwaloka masuk sorga. Disini sebenarnya Bhatara Siwa telah membuka kuncinya, sebagaimana yang diterangkan dalam Pustaka Wrespati Tattwa sebagi berikut :
Yan matutur ikang atma ri jatinya,
Irika ta ya alilang, Sanghyang Atma juga
humidepe saka sukhadukha ning sarira,
Apan sira magopta hanerikang sarira.
Artinya :
Jika dapat memahami keadaan atma yang sebenarnya, saat itulah ia (papa itu) akan lenyap, Sanghyang Atma jualah yang dapat memahami sukha dukanya badan yang bersembunyi berada dalam badan kita.

Untuk dapat memahami Sanghyang Atma yang diinterpretasikan dengan “Kesadaran akan sang diri”, dapat dicapai melalui keutamaan berata Siwaratri yang sangat mulia itu.
Nah sekarang, bagaimanakah sebenarnya petunjuk betara Siwa
berke­naan dengan papa yang dikaitkan dengan keutamaan berata Siwara­tri. Dalam hal ini dapat kita simak kutipan lontar Kekawin Siwar­atri Kalpa berikut ini :
Sapapa niki nasa de nikin atanghi
manuju Siwaratri kotama, sapapa nika
sirna de ni phala ning brata winuusakenku tan salah.

Artinya :
Segala tapa itu akan lebur oleh pelaksanaan Jagra yang dilakukan pada hari Siwaratri yang utama itu, segala papa itu akan musnah oleh pala brata yang telah kuceriterakan, tiadalah salah.

Adapun pelaksanaan brata dan upacara Siwaratri itu dapat dilaku­kan secara bertahap sesuai dengan tingkatannya yaitu :
– Upacara tingkatan Nista, dengan brata cukup Jagra saja.
– Upacara tingkatan Madya, dengan brata ; Jagra dan Upawasa.
– Upacara tingkatan Utama, dengan brata yang lengkap yaitu : Jagra, Upawasa dan Monobrata.

Khusus upacara tingkatan utama ini akan sulit dilakukan secara berkelompok banyak orang karena ada Monobrata nya, sehingga cende­rung dilaksanakan secara individual atau dalam kelompok kecil saja. Khusus mengenai pelaksanaan upacara Siwaratri tingkat Nista (kecil) yaitu upacara yang biasa dilakukan oleh masyarakat pada umumnya sesuia dengan hasil Paruman Sulinggih Propinsi Bali (September 1995), khusus bagi welaka adalah sebagai berikut :
Pagi hari sejak matahari terbit pada purwaning Tilem kapitu, melakukan asuci laksana, mandi serta berpakaian rapi sesuai sesa­na, mulai saat ini sudah menggelar brata Jagra ; sambil memohon tuntunan kehadapan Bhatara Surya dan Bhatara Kamimitan agar beliau berkenan memberi kekuatan.
Sarana upacara Siwaratri pada tingkat ini yang perlu dipersiapkan antara lain :
a. Di Sanggar Surya menghaturkan banten pejati.
b. Di hadapan memuja menghaturkan sesayut pengambian, prayascita dan banten lingga yang terbuat dari bunga widuri putih beralaskan daun pisang kayu, dihiasi dengan bunga, padang dreman, wangi-wangian dan 108 lembar daun Bila (Maja).
c. Untuk di Pura / Kemimitan menghaturkan banten daksina dan
bebera­pa canang dan dinatar menghaturkan segehan nasi cacah.
Pelaksanaan jagra dilakukan selama 36 jam yaitu sejak matahari terbit pada pengelong ping 14 sasih ka pitu sampai keesokan harinya setelah matahari terbenam yaitu setelah upacara mapunia.
Adapun acara pemujaan dilakukan pada malam harinya sebanyak 3 (tiga) kali / tahap dengan upakara yang telah dipersiapkan.
1. Sejak malam tiba pada pengelong ping 14 sasih ke pitu, melaku­kan pemujaan yang ditujukan kehadapan Bhatara Siwa Lingga dengan beberapa Ista dewata beliau.
Persembahyangan pada tahap ini ditujukan ke hadapan Bhatara Suryaraditya, Iswara, Wisnu, Brahma Siwa dan Bhatara Sumur (gangga) dan Gana.
2. Pada pase kedua (tengah malam), kembali melakukan pemujaan dengan sarana upakara tadi yang juga dibarengi dengan persembahy­angan. Kali ini sembah ditujukan kehadapan Suryaraditya, Iswara, Wisnu, Brahma, Siwa dan Giriputri.

3. Pada pase ketiga (menjelang pagi) melakukan pemujaan yang sama dengan persembahyangan ditujukan kehadapan Suryaraditya, Iswara, Wisnu, Brahma, Siwa dan Bhatara Kumara.

Perlu kami ingatkan disini bahwa setiap kali kita selesai melak­sanakan persembahyangan maka seperti biasa dilanjutkan dengan nunas tirtha dan mebija. Namun pada kesempatan ini sehabis metir­tha dan mebija akan diakhiri dengan menaburkan sepertiga daun bila (Maja) keatas Siwalingga dari daun bila 108 lembar yang disertakan pada banten Lingga tadi dengan cara setengah dari sepertiga bagian daun Bila tadi ditaburkan keatas Siwalingga dan sebagiannya lagi disobek-sobek lalu dimasukkan ke dalam sebuah Kumba. Pusatkan pikiran pada Padmasana dan kekuatan tengah samu­dra agar lebur segala papa neraka kita sekalian. Mohonlah persak­sian kehadapan Bhatara Siwaditya, Predana Purusa, Triyodasasaksi, Jagatnatha dan Pasupathi.
Keesokan harinya pagi-pagi dilakukan upacara nyurud dengan ngele­bar brata puasa dan monobrata (bagi yang melaksanakan) tapi brata jagra masih tetap dilakukan sampai sore harinya menjelang mata­hari terbenam. Jagra baru berakhir tatkala telah dilakukan upaca­ra Medana-punia.
Demikian Dharma Wacana yang dapat kami sampaikan pada kesempatan yang berbahagia ini, semoga ada manfaatnya.

Leave a comment

Filed under Articles

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s