KONSEP AJARAN AGAMA HINDU DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP


Masyarakat-masyarakat lokal di Indonesia juga telah memiliki pedoman untuk memanfaatkan lingkungan dengan sebaik-baiknya. Contohnya, penyelidikan Schefold (1985) tentang Mentawai. Orang-orang Mentawai membudidayakan pisang dan umbi-umbian dengan menggunakan apa yang kelihatannya merupakan teknologi perladangan berpindah, kecuali mengabaikan salah satu hal yang biasanya dilakukan para peladang berpindah, yaitu membuka hutan untuk ladang berpindahnya tetapi tidak dengan membakar hutan. Pada masyarakat Mentawai juga ada kepercayaan-kepercayaan tradisional untuk pantang berburu. Ketaatan masyarakat dalam melaksanakan pantangan ini menolong melindungi sumber-sumber alam. Aturan dari upacara adat juga ditujukkan oleh Daeng (1985) sebagai bagian yang penting di kalangan orang Ngada di dalam pengelolaan lingkungan. Pada orang Ngada ada tradisi yang disebut dengan pesta gaya bersaing, setiap penduduk akan mendapat pembagian tanah sesuai dengan jumlah hewan yang dapat mereka tangkap. Semakin banyak dapat menangkap hewan maka semakin banyak mereka akan mendapat pembagian tanah. Pesta gaya bersaing ini secara langsung dan selama jangka beberapa tahun dapat mengurangi tekanan hewan pada tanah. Upacara Tumpek Bubuh pada masyarakat Bali, yang dilaksanakan pada hari Saniscara Kliwon Wariga setiap 210 hari sekali dapat ditanggapi sebagai usaha untuk melestarikan lingkungan. Upacara ini adalah dalam rangka pemujaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Sangkara sebagai dewanya tumbuh-tumbuhan. Upacara  Tumpek Kandang, yang diselenggarakan untuk menyatakan terima kasih kepada Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Pasupati pencipta binatang seperti ayam, itik, babi, dan sapi yang telah membantu pekerjaan manusia maupun sebagai makanan. Upacara ini dilaksankan pada hari Saniscara Kliwon Uye setiap 210 hari sekali. Dalam masyarakat Bali juga ada petunjuk yang menyatakan bahwa tidak boleh menebang pohon bambu pada hari Minggu, tidak boleh menebang kayu untuk bangunan apabila harinya berisi “was” (menurut kalender Bali hari “was” datang setiap enam hari sekali), tidak boleh menyakiti binatang seperti memotong ekor si putung (capung) memotong ekor cecak, mencari anak burung di sarangnya. Usaha untuk melestarikan lingkungan alam dengan sebaik-baiknya juga ditemukan dalam agama Hindu, dan kajian ini mencoba untuk memberi jawaban tentang karangka konseptual Hindu dalam melihat hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan hidup.

Kerangka Konseptual Hindu Tentang Lingkungan Hidup

Rta, Yadnya : Perkembangan kebudayaan suatu suku bangsa tidak terlepas dari penafsiran dan pengetahuan bangsa tersebut terhadap lingkungan. Kebudayaan di sini bisa diartikan, keseluruhan dari pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterprestasikan lingkungan dan pengetahuannya. Karena ini menjadi kerangka landasan bagi mendorong terwujudnya kelakuan mereka dalam masyarakat. Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana dan strategi yang terdiri atas serangkaian model-model kognitif yang digunakan secara selektif oleh manusia yang memilikinya sesuai dengan lingkungan yang dihadapinya.Agama Hindu dalam menginterpretasikan hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan hidup pada dasarnya berpangkal pada kitab suci Weda, dan kerangka dasar dari agama Hindu yaitu, Tattwa, Susila dan Upacara. Ajaran Tattwa memberikan petunjuk filosofis yang mendalam mengenai pokok-pokok keyakinan maupun mengenai konsepsi ketuhanan, sedangkan ajaran susila merupakan kerangka untuk bertingkah laku yang baik sesuai dengan dharma, dan upacara merupakan kerangka untuk menghubungkan diri dengan Tuhan dalam bentuk persembahan. Esensi dari upacara pada dasarnya adalah yadnya korban suci dengan hati tulus ikhlas, serta dasar hukum dari yadnya adalah “Rna” (Dewa Rna, Rsi Rna dan Pitra Rna). Secara lebih rinci konsep-konsep dasar agama Hindu tentang hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan hidup dimulai dari konsep “Rta” dan “ Yadnya”.

Rta : Sebagai bagian imanen (tak terpisahkan) dari alam, manusia pada setiap tahap dalam kehidupannya dikuasai oleh fenomena dan hukum alam, bahwa semua yang ada ini tunduk pada alam semesta, tidak ada sesuatu apapun yang luput dari hukum yang berlaku dalam dirinya. Matahari terbit di timur dan tengelam di barat, air mengalir ketempat yang lebih rendah, api membakar, angin berhembus, manusia lapar, haus dan akhirnya mati, karena memang demikianlah hukum yang berlaku pada dirinya. Kewajiban umat Hindu agar lingkungan tetap terjaga dalam artian harmoni ditegaskan dalam Kitab Atharwaweda (XII:1), menegaskan : ‘satyam brhad rtam nram diksha tapa brahma yajna prthirviam dharayanti’ : satya, rta, diksa, tapa, brahma dan yajna inilah yang menegakkan bumi, satya adalah kebenaran, yang diwujudkan dengan berbuat kebajikan, rta adalah hukum yang sepatutnya secara sadar haruslah ditaati, diksa adalah kesucian yang diwujudkan dengan trikaya parisudha (berpikir, berkata dan berbuat diatas kebenaran), yajna adalah persembahan (korban suci), brahma adalah brahman yang tiada lain adalah Tuhan / Sanghyang Widhi sendiri (widhi tattwa), tapa adalah pengendalian yang selalu mampu mewujudkan kebenaran berdasarkan dharma sehingga dari satya mewujudkan siwam, dari siwam mewujudkan sundaram (kebenaran, kesucian, keindahan).

Yadnya : Hakikat hubungan antara manusia dengan alam adalah apabila terjadi keadaan yang harmonis, seimbang antara unsur-unsur yang ada pada alam dan unsur-unsur yang dimiliki oleh manusia. keseimbangan inilah yang selalu meski dijaga, dan salah satu cara yang ditempuh adalah dengan melakukan yadnya. Dalam kontek hubungan manusia dengan lingkungan (alam, binatang dan tumbuh-tumbuhan) pada masyarakat Bali misalnya, ada upacara Tumpek Bubuh dan Tumpek Kandang. Dasar filosofis Tumpek Bubuh berpijak pada sikap untuk memberi sebelum menikmati, dalam konteks dengan pelestarian sumber daya hayati, sebelum manusia menikmati dan menggunakan tumbuh-tumbuhan sebagai bagian menu  makanan haruslah diawali dengan proses penanaman dan pemeliharaan, misalnya seorang petani sebelum menikmati nasi, ia terlebih dahulu menanam padi. Seperti halnya Tumpek Bubuh, Tumpek Kandang juga menawarkan kepada kita untuk selalu mencintai segala jenis satwa, dan dasar filosofis Tumpek Kandang berpegang pada ajaran bahwa manusia dengan lingkungan ibarat singa dengan hutan, singa adalah penjaga hutan dan hutanpun menjaga singa. Dalam Kitab Suci Bhagawadgita, III:10, menyebutkan :
‘sahayajnah prajah srstva, puro’vaca prajapatih, anena prosavisyadhvam, esa vo’stv istakamadhuk’ : dahulukala Tuhan menciptakan manusia dengan yajna dan berkata : ‘dengan yajna pulalah hendaknya engkau berkembang, dan biarlah ini (bumi) menjadi sapi perahanmu dengan maksud bahwa bumi / alam / lingkungan ini menjadi sapi perahanmu untuk dapat memenuhi kinginan manusia untuk dapat hidup yang layak dan harmoni dan selalu dipelihara dengan baik dan diusahakan  seoptimal mungkin bagi kemakmuran bersama. ‘annad bhavanti bhutani, parjanyad annasambhawah, yajna bhavati parjanyo, yajnah karma samudbhawah’karena makanan mahluk hidup, karena hujan makanan tumbuh, karena yajna persembahan hujan turun, dan dari persembahan melahirkan karma perbuatan.
Manusia sebagai komponen sentral dalam sistem lingkungan ini sudah sepantasnya selalu menjaga keseimbangan diantara komponen-komponen lingkungan yang lainnya. Dalam Kitab Bhagawadgita ada disebutkan demikian : ‘Istan bhogan hi vo deva, desvante yadnya bhavitah, Tair dattan aoradayai bhyo, yo blunte stena eva sah’ : Dipelihara oleh yadnya, para dewa akan memberi kesenangan yang kami ingini, ia yang menikmati ini tanpa memberikan balasan kepadanya adalah pencuri.
Apabila manusia hanya ingin mencari kesenangan tanpa terlebih dahulu memberi kesenangan terhadap makhluk lain adalah pencuri. Manusia yang semena-mena menjadikan sumber hidupnya sebagai obyek kesenangan tidak disertai tindakan memelihara sama dengan perilaku pencuri. Mengambil tanpa sebelumnya memberi, menikmati dengan tidak memberi, menggunakan tanpa sikap memelihara, sama dengan perilaku pencuri.
Bhuana Alit, Bhuana Agung : Ada keyakinan dalam masyarakat Hindu bahwa Tuhan menciptakan alam dengan mempergunakan lima benih unsur tenaga yang disebut pancatanmatra  terdiri dari, 1. Gandhatanmatra adalah benih unsur pertiwi, 2. Rasatanmatra adalah benih unsur apah, 3. Rupatanmatra adalah benih unsur teja, 4. Sparsatanmatra adalah benih unsur bayu, 5. Sabdatanmatra adalah benih unsur akasa. Kelima jenis-jenis unsur yang disebut pancatanmatra itu kemudian masing-masing berubah menjadi atom-atom yang disebut Paramanu. Dari Paramanu itu muncullah unsur-unsur benda yang disebut Pancamahabhuta (lima unsur yang maha ada) yaitu : 1. Pertiwi adalah unsur zat padat, 2. Apah adalah unsur zat cair, 3. Teja adalah unsur sinar atau panas, 4. Bayu adalah unsur udara5. Akasa adalah unsur ether.

Interaksi antara alam dan manusia, antara bhuana agung dengan bhuana alit, antara makrokosmos dan mikrokosmos diperlihatkan oleh model di bawah ini :                                             Hubungan timbal balik antara manusia dan alam harus selalu dijaga, salah satu cara yang dipakai untuk menjaga hubungan timbal balik ini adalah dengan upacara (caru). Ada beberapa jenis dan tingkatan caru tersebut yaitu, ekasatha, pancasatha, pancakelud, rsighana, baliksumpah, labuh gentuh, pancawalikrama dan tawur ekadasarudra.
Rwa Bhineda, Tri Hita KaranaRwa Bhineda : Konsepsi ini merupakan keyakinan masyarakat bawah walaupun merupakan dua unsur yang selalu berbeda namun jika dihayati maka perbedaan tersebut sebanarnya proses penciptaan yang tujuannya untuk mencapai kebahagiaan, dimana keselarasan dan keseimbangan akan dapat terwujud dalam kehidupan di dunia ini. Ajaran ini berpesan bahwa laki-perempuan, baik-buruk, mati hidup, neraka-sorga, senang-susah, siang-malam, matahari-bulan, keduanya bersamaan munculnya pergi dan datang. Jika tidak muncul keburukan maka waktu itu pula kebaikan akan menyertai, jika muncul kebaikan, maka bersama itu pula keburukan akan muncul sebab baik dan buruk itu tidak terpisah-kan. Dalam konteks hubungan manusia dengan lingkungan hidup, konsep ini kemudian dirinci ke dalam konsep-konsep yang lebih mendetail yaitu konsep Luan-Teben, Segara-Gunung, Kaja-kelod.
Tri Hita Karana, Refleksi dan Aktualisasi : Di dalam konsep ini terkandung unsur-unsur 1. Unsur Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa, 2. Unsur manusia, 3. Unsur alam.

Perwujudannya konsep itu dalam pola permukiman misalnya menjadi : 1. Parhyangan, berupa unit pura tertentu sebagai unsur pencerminan Ketuhanan, 2. Pawongan, keorganisasian masyarakat adat, sebagai perwujudan manusianya, 3. Palemahan, berupa perwujudan unsur alamnya.

Konsep di atas akan lebih jelas apabila kita bandingkan penerapannya dengan konsep Tri Angga pada manusia, konsep Tri Mandala pada rumah tangga dan desa.
1. Tri Angga pada Manusia, 1.1. Utama angga (kepala), 1.2. Madya angga (badan), 1.3. Nista angga (kaki), 2. Tri Mandala pada : Rumah. 2.1. Pemerajan (utama, parhyangan), 2.2. Tegak umah (madya, pawongan), 2.3. Teba (Nista, palemahan). 3. Desa : 3.1. Pura/kahyangan tiga (parhyangan), 3.2. Lingkungan karang perumahan (pawongan), 3.3. Lingkungan karang perkawinan (pelemahan). Ketiga unsur itu, harus terjadi hubungan timbal balik yang harmonis dan serasi sehingga kesejahteraan dan kebahagiaan hidup akan tercapai.

a. Latar BelakangIstilah Tri Hita Karana pertama kali muncul pada tanggal 11 Nopember 1966, pada waktu diselenggarakan Konperensi Daerah I Badan Perjuangan Umat Hindu Bali bertempat di Perguruan Dwijendra Denpasar. Konperensi tersebut diadakan kesadaran umat Hindu di Bali akan dharmanya untuk berperan serta dalam pembangunan bangsa menuju masyarakat sejahtera, adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Kemudian istilah Tri Hita karana ini berkembang, meluas, dan memasyarakat hingga sekarang.b. PengertianSecara leksikal Tri Hita karana berarti tiga penyebab kesejahteraan, (Tri = tiga, Hita = sejahtera, Karana = penyebab). Pada hakekatnya Tri Hita Karana mengandung pengertian tiga penyebab kesejahteraan itu bersumber pada keharmonisan hubungan antara : > Manusia dengan Tuhannya, > Manusia dengan alam lingkungannnya, > Manusia dengan sesamanya.c. Unsur-unsur Tri Hita Karana1. Unsur-unsur Tri Hita Karana meliputi : > Sanghyang Jagatkarana > Bhuwana > Manusia2. Unsur-unsur Tri Hita Karana terdapat dalam kitab-kitab suci a.l. : Bhagavadgita (III.10), berbunyi sebagai berikut : sahayajnah prajah srishtva, puro ‘vacha prajapatih, anena prasavishya dhvam, esha vo ‘stv ishta kamadhuk Artinya :dahulukala Prajapati menciptakan manusia, bersama bhakti-persembahannya dan berkata : ‘dengan ini engkau akan berkembang-biak dan biarlah ini menjadi sapi-perahanmu’
Taittiriya Upanishad mengatakan : Dia yang mengetahui Tuhan (Brahman) yang adalah Kebenaran, Kesadaran, dan Kebahagiaan Tak Terbatas, tersembunyi di tempat terdalam dari jiwa kita dan di surga yang tertinggi, menikmati segala sesuatu yang diinginkannya dalam persatuan dengan Tuhan Yang Maha Mengetahui. Dari Tuhan (Brahman) pada awalnya muncul ruang. Dari ruang muncul udara. Dari Udara muncul api. Dari api muncul air. Dari Air muncul tanah yang padat. Dari tanah muncul tumbuh-tumbuhan. Dari tumbuh-tumbuhan muncul makanan dan biji (bibit). Dan dari biji dan makanan muncullah satu makhluk hidup, manusia”. Umat Hindu pada hakekatnya dalam pencerahan hidupnya, membangun dirinya ingin menjadi divine man yang selanjutnya membangun divine society (dalam diri manusia, masyarakat dan lingkungannya yang memancarkan sinar suci Tuhan Yang Maha Kuasa. Yang secara etis manusia Hindu ingin melenyapkan sifat-sifat kegelapan dalam dirinya (asuri sampat) dan mencari serta memupuk sifat-sifat kedewaan (daiwi sampat) sehingga mendapatkan divine god yang akan melahirkan manusia / putra yang abadi (amrestyah putra). Inilah landasan yang sangat esensial bagi pembangunan manusia dan peradaban Hindu. Tuhan Yang Maha Kuasa adalah realitas absolut (abadi) oleh karena itu beliau disebut sebagai “Sangkan paraning dumadi” (dari mana dan hendak ke mana manusia pergi), atau menjadi pusat orientasi kehidupan manusia. Dalam kaitannya dengan pelaksanaan Upacara / Upakara setiap menyambut Hari Raya Hindu, yaitu merupakan pelaksanaan Panca Yajna dan khususnya pada pelaksanaan Bhuta Yajna yang dapat kita ketahui bahwa Bhuta Yajna pada hakekatnya bermakna Penyucian Bhuwana yang terbangun oleh Panca Maha Bhuta (Pratiwi, Apah, Teja, Bayu, Akasa) dan Panca Tanmatra (Gandha, Rasa, Sparsa, Rupa, Sabda). Bhuwana yang harmoni dan suci (Jagadhita, Bhutahita) diharapkan dapat memberi kerahayuan bagi hidup manusia, karena manusia menjadikan unsur-unsur tersebut sebagai objek indriyanya (Dasendriya).

Umat Hindu sangat mendambakan kerahayuan, keharmonisan dalam hidup, keseimbangan ekosistem, keseimbangan unsur-unsur yang membangun Bhuwana Alit dan Bhuwana Agung yang nanti pada gilirannya akan memberikan kerahayuan dan kedamaian. Dengan demikian umat Hindu memiliki wawasan kesemestaan, wawasan alam raya, wawasan globalisasi yang berarti wawasan umat Hindu tidak sempit (asorohan-awatekan). Umat Hindu sebagaimana diajarkan oleh agamanya yang tertuang dalam Kitab-kitab Sucinya sangat memperhatikan dari lingkungan yang terkecil sampai jagad raya, memperhatikan gerakan alam raya (posisi matahari/surya), bulan (candra), serta bumi (bhumi) dengan mempersembahkan keharmonisan itu berupa Bhuta Yajna (Bali Karmana – Bali Krama). Dalam sloka Bhagavadgita tersebut diatas ada nampak tiga unsur yang saling beryajna untuk mendapatkan yaitu terdiri dari : > Prajapati = Tuhan Yang Maha Esa> Praja = ManusiaYasa Kirti Dalam Rangka Karya Agung WANA KRETIH di Pura Luhur Watukaru Tabanan Tgl. 30 Maret 2002 (Saniscara Kliwon Wariga / Tumpek (Uduh, Bubuh, Pengatag). Adapun yasa kirti ini dilaksanakan berkenaan dengan akhir-akhir ini telah terjadi berbagai bencana alam yang menimpa alam semesta (Dunia / Jagat) termasuk daerah Bali seperti banjir, tanah longsor, angin ribut dan lain-lain. Bencana alam tersebut disamping tampak menimpa daerah perkotaan, tetapi juga daerah pedesaan, gunung, khususnya hutan. Menurut terdisi Agama Hindu di Bali hal itu termasuk kadurmanggalan jagat yang memerlukan keharmonisan dengan melakukan kegiatan upacara pamahayu yang disebut dengan Upacara Wana Kretih (salah satu dari Sad Kretih). Landasan pelaksanaannya antara lain adalah sebagai berikut :
Namo Vrksebhyo Harikesebhyah, Vananam Pataye Namah, Osadhinam Pataye Namah, Vrksanam Pataye Namah (YW. XVI,17) Sembah kehadapan Sanghyang Rudra yang adalah pengawal hutan belantara, tanam-tanaman dan tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat obat, Sanghyang Siwa menyantap racun dan memberi minuman para dewa (nectar) dengan cara yang sama, tanam-tanaman menyerap karbon-dioxida dan memancarkan zat asam (oxigin), maka dari itu mereka dipuja sebagai Pra Rudra yang dijelmakan.
Madhu vata rtayate, Untuk orang-orang yang sesuai dengan Rta/hukum,Madha ksaranti sindhavah, angin  membawa keharmonisan, Sungai mengalir-Madhvir nah santvoghadhih, kan air yang sejuk, demikian juga pepohonan mem-Madhu nakatam ntosaso, beri kenikmatan kepada kita,Madhumat parthidam rajah, Malam yang indah dan fajar yang cantik,Madhu dyanr asrn nah pita, Tanah bumi yang baik, Langit yang indah bagi kamiMadhuman no vanaspatir, Semoga pohon-pohon di hutan memberi nikmat,Maghuman astu suryah, Matahari memberi kebaikan,Madhvir gano bhavantu nah Dan sapi memberi kenikmatan kepada kami.           (Rg Veda I.90,6-7-8)

Indra ya dyana osadhir vta apah, Rayim raksanti jarayo vanani.Yang berikut ini adalah para pelindung kekayaan alam, atmosfir, tanam-tanaman dan tumbuh-tumbuhan berkhasiat obat, sungai-sungai besar dan kecil, sumber-sumber air dan hutan-hutan belantara.                          (Rg Veda III. 51.5)
….. bhuta yajna ngaranya tawur mwang kapujaning tuwuh ada pamunggwan kundawulan makadi walikrama, ekadasa dewata mandala, ya bhuta yajna ngaranya           (Agastya Parwa XIV)
….. wariga, sa, ka, nga. pangudhuh, nga. pujakrtti Sanghyang Sangkara, apan sira umrdhyaken sarvaning tumuvuh, kayu-kayu kunang, vidhi-vidhananya pras tulung sayut, tumpeng, bubur, mwah tumpeng agung 1, iwak guling bawi, itik wenang, saha raka-raka, panyeneng tatebus, kalinganya anguduh ikang tanem tuvuh asehen, asekar, avoh ngodong, ika dadi ya pamrthaning urip, ikang sarva janma, sesayut cakragni 1, maka pamadhang ati, nga. anuvuhaken ajnana sandi …..       (Lontar Sundarigama)
Dalam tradisi agama Hindu dan masyarakat di Bali antara lain diketahui adanya berbagai upacara Pamahayu Wana yang disebut sebagai “Ameras Alas atau Ameras Wana”. Di samping itu diketahui juga adanya “Pemangku Alas atau Pemangku Wana”, yang menunjukkan bahwa alas / wana / hutan benar-benar dijaga baik secara fisik maupun spiritual. Dalam Raja Purana Pura Ulun Danu Batur ada disuratkan upacara “Upacara Katur ring Ratu Alas unuhan kidang saha runtutannya”, yang secara khusus juga dilaksanakan oleh masyarakat Batukaru secara tradidi apabila terjadi tanah longsor di hutan maka dilaksanakan upacara yang disebut sebagai upacara Panyahitan, dan apabila terjadi kadhurmanggalan akan dilaksanakan upacara caru balik sumpah.Uraian di atas telah menunjukkan dan merujuk betapa arif dan bijaksananya kita yang sering disebut dengan ‘kearifan tradisional’ dengan memperhatian dengan cermat kepada keberadaan hutan baik secara fisik maupun spiritual. Itulah beberapa landasan pelaksanaan Upacara Wana Kretih.Upacara tersebut dilaksanakan di hutan di Kaki Gunung Batukaru, Tabanan, dengan dasar filosofi / tatwa (lontar-lontar) yang melandasi menyebutkan bahwa Gunung Batukaru adalah stana Bhatara Tumuwuh atau Hyang-Hyangning Tumuwuh, di samping karena hutan di kaki Gunung Batukaru adalah hutan yang masih lebat dan lestari di Bali.

Leave a comment

Filed under Articles

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s