MENGHORMATI KEARIFAN LOKAL SEBAGAI LANDASAN STRATEGIS MEWUJUDKAN MAKNA MENYAMA BRAYA SEBAGAI PENGUATAN JATI DIRI BANGSA


Drs. Ida Bagus Gede Wiyana
Ketua FKAUB Bali

PENDAHULUAN
Dewasa ini, suatu krisis maha besar akibat perubahan demografi, teknologi, organisasi, ideologi, ekologi den ekonomi yang tiada taranya sedang terjadi. Masalah ini diduga muncul sebagai akibat dari perkembangan kebutuhan manusia dalam aspek jasmaniah yang jauh lebih cepat daripada perkembangan kesadaran manusia tentang aspek spiritual.
Krisis yang muncul juga lebih disebabkan oleh arus globalisasi (dari masyarakat tradisi, modern, post modern & global), dimana dunia semakin kecil dan saling mempengaruhi antar bangsa yang tidak dapat dihindari dampak negatif yang juga muncul adalah terjadinya pergeseran nilai-nilai dan orientrasi manusia, yakni selalu menganggap hidup ini buruk, selalu ingin menundukkan alam, bekerja hanya untuk mendapatkan suatu kedudukan tertentu dan berkembangnya sifat-sifat individualistik.
Perkermbangan masyarakat, baik karena sebab-sebab internal maupun ekstemal, terutama dalam keterbukaan dengan peradaban global, akan makin terkomunikasi dengan berbagai sistem nilai. Introduksi dan adopsi nilai-nilai baru merupakan fenomena kultural dalam upaya masyarakat beradaptasi dengan perkembangan lingkungan. Memasuki masa reformasi, otonomi dan ekologi budaya ini diasumsikan bahwa transformasi nilai akan mengalami percepatan yang makin tinggi, sehingga peranan agama yang lebih nyata dalam proses pembangunan perlu ditingkatkan. Di pihak lain, tantangan sosial yang begitu cepat dan banyak justru menciptakan medan yang luas untuk menjalin suatu kerjasama antara berbagai agama, tidak saja karena tantangan itu tidak kuat lagi dihadapi secara sendiri-sendiri, tetapi juga karena tantangan yang mengancam keselamatan manusia merupakan tantangan yang senantiasa memanggil fungsi agama untuk berperan, secara langsung atau tidak langsung, kita wujudkan konsep ideal menyama braya dalam pikiran, perkataan dan perilaku (trikaya parisuda) sehari-hari. Sudah tidak masanya lagi kalau ada umat beragama tetap berpegang pada pandangan sepihak, bahwa hanya agamanya yang benar, yang baik, dan agama diluar agamanya itu salah. Pandangan seperti itu sudah harus ditinggalkan jauh¬jauh. Persoalan-persoalan kemanusiaan akan tidak selesai dan tidak akan bisa dihadapi oleh satu kelompok agama atau satu golongan agama. Sebab itu, sebagai umat manusia yang memiliki iman atas nilai-nilai keagamaan perlu menghadapi segala persoalan yang sedang berlangsung, termasuk yang diakibatkan oleh kesalahan menempatkan dan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, di sinilah konsepsi menyama braya menjadi sangat penting dan berarti bagi kehidupan umat manusia .

Umat manusia pada tahap evolusi hidupnya sekarang telah dihadapkan dengan suatu kompleks dilema. IImu pengetahuan dan teknologi telah mendapatkan kemajuan-kemajuan yang luar biasa dan akan terus berkembang. Iptek apabila dengan bijaksana memakainya telah membuktikan dapat mengatasi penderitaan, kemiskinan, menghapuskan buta huruf, menghilangkan penyakit¬ penyakit, ketidak merataan kesejahteraan, mengurangi pengangguran dan sebagainya, tetapi sebaliknya apabila kurang bijaksana penggunaannya dapat menghancurkan umat manusia dan peradabannya.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu dihadapkan dengan berbagai fenomena pluralistik, kemajemukan hidup bermasyarakat dan berbangsa. Pluralitas warna kulit, pluralitas etnis / suku bangsa, pluralitas bahasa, pluralitas kepercayaan agama, pluralitas latar belakang pendidikan dan seterusnya.
Selama belum dicampuri berbagai macam pertimbangan dan kepentingan ideologis, ekonomi, sosial politik dan lain-lain, umat manusia menjalani kehidupan yang bersifat pluralistik secara alamiah dan wajar, tidak melihatnya sebagai ancaman yang serius.
Namun ketika manusia dengan berbagai kepentingannya mengangkat isu pluralitas pada puncak kesadarannya, lalu menjadikannya sebagai ultimate concern maka realitas plural yang semula bersifat wajar dan alamiah itu segera akan menjadi problematik.
Bangsa Indonesia merupakan salah satu bangsa yang sangat plural dan kompleks. Bangsa kepulauan yang hidup di gugusan ribuan pulau, terdiri atas lebih dari 200 etnis yang memiliki bahasa dan adat istiadat yang berbeda. Belum lagi jika kita sebut percampuran berbagai etnis dari ras yang berbeda, menurunkan pula etnis baru (campuran), sebagai akibat letak geografis Nusantara dan sejarah panjang kedatangan para pedagang dan bangsa penjajah yang silih berganti.
Keragaman bangsa Indonesia dari segi agama cukup dominan, dimana enam agama besar : Islam, Protestan, Katholik, Hindu, Budha, Kong Hu Cu dll, semua ada pengikutnya, disamping pengikut dari berbagai kelompok yang tetap memeluk kepercayaan asli mereka seperti Kaharingan, Sakai, Dayak, dan lain-lain. Keragaman yang demikian dapat menimbulkan potensi konflik jika kita tidak mampu memenej dengan baik dan jika kita tidak memiliki kebijaksanaan yang luas dan mantap dalam menumbuhkan dan membina kerukunan.
Untuk ini agama menghadapi tantangan-tantangan yang begitu besar dalam menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi di dunia ini. Bagi setiap agama persoalannya antara lain adalah bagaimana menghubungkan dirinya sendiri dengan perubahan yang besar dan mendesak di zaman kita ini, yaitu yang berupa usaha melenyapkan kemiskinan, kebodohan dan penghinaan. Perjuangan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di dunia ini, munculnya struktur masyarakat baru dan datangnya perubahan yang berkesinambungan, dan bagaimana umat beragama dapat membangun peradaban yang kaya dengan nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai menyama braya.
Sebagai kasus misalnya pulau Bali dengan pariwisatanya di satu sisi memang membawa dampak positif terhadap beberapa aspek kehidupan, namun harus diakui pula bahwa industri ini ada membawa dampak negatif. Setiap tahun diperkirakan sekitar seribu hektar lahan sawah di Bali mengalami penyusutan. Di sisi lain alih fungsi tanah terutama sawah menjadi pemukiman atau fasilitas pariwisata, temyata telah menimbulkan pergeseran budaya. Sebab tanah merupakan identitas dan jatidiri orang Bali, sementara itu alih fungsi itu dengan sendirinya mengancam keharmonisan lingkungan subak sebagai sistem irigasi andal yang kini mulai diakui secara luas. Tergerusnya subak bukan tidak mungkin jika tidak ada satu strategi pengendalian di masa depan subak akan tinggal nama. Jika areal habis beralih fungsi baik sebagai perumahan maupun aktivitas pariwisata. Lalu bagaimana dengan pura yang ada di dalamnya? Kian sempitnya areal tanah menunjukkan kian terdesaknya subak, bahkan subak mungkin bisa punah. Contoh ini misalnya menimpa subak Denpasar dan subak Sanglah yang tidak lagi mempunyai areal atau pelemahan. Tanah adalah komponen paling inti dalam sistem subak, jika komponen ini hilang akan menimbulkan perubahan. Sementara munculnya pemilik baru dengan fungsi tanah baru akan menimbulkan masalah, munculnya distorsi pada pelemahan, muncul manusia yang tidak partisipasitif, dan parhyangan pura (Pura Subak, Ulun Suwi, Bedugul dll) yang ada jadi ngambang, bisa saja tidak ada pendukungnya lagi, sehingga muncul berbagai ketegangan yg berakibat masyarakatnya disharmoni..
Dalam dimensi sosial ekonomi persaingan atau konflik agama biasanya berkisar pada sistem organisasinya. Persaingan bukan pada tingkat missi agama itu sendiri, yakni iman dan kepercayaan yang tadinya inklusif, melainkan organisasinya. Masalahnya menjadi bagaimana menambah dan mempertahankan jumlah anggota serta bagaimana mendapatkan dana yang lebih banyak. Persaingannya bukan lagi pada masalah peningkatan kualitas keimanan umatnya, tetapi menambah kuantitas jumlah anggotanya yang eksklusif. Arah persaingan berubah dari mengejar kualitas ke mengejar kuantitas. Organisasi itu bersifat badan atau fisik sedangkan missi agama bersifat rohaniah. Banyak pertentangan antar agama sebenarnya didasarkan pada aspek organisasi itu yaitu usaha pengikut yang pada akhirnya selalu berhubungan dengan usaha mencari dana. Maka terjadilah konflik antar agama (Budiman, 1963: 184). Di samping itu konflik agama seringkali disebabkan karena faktor ekonomi, kesenjangan kaya dan miskin yang terlalu lebar sehingga kelompok yang miskin kerapkali di dalam usahanya menggalang kekuatan, kemudian memakai bendera agama. Oleh sebab itu maka organisasi agama harus selalu ingat perspektif missionnya. Kalau tidak, dia akan menjadi destruktif.
Kenyataan bahwa agama merupakan suatu sumber motivasi sosial, yang dapat menempati posisi penting dalam usaha pembangunan. Ini akan berarti bahwa agama tidak cukup untuk memahami pengertian mengenai baik dan buruk, misalnya, namun harus mengerti pula latar belakang gejalanya untuk kemudian dapat merumuskan tindakan pemecahan.
Kenyataan juga memperlihatkan bahwa agama merupakan suatu sistem yang total, dan menurut Koentjaraningrat (1977), dengan mengutip pendapat dari Ourkheim (1915); E.B Tylor (1873); J.G. Frazer (1960) ; RR. Marett (1909) menyatakan bahwa ada empat unsur pokok dalam agama, ialah emosi keagamaan, sistem kepercayaan, sistem upacara, dan komuniti keagamaan, yang dapat kita pakai sebagai konsep-konsep untuk menganalisis suatu agama dalam kenyataan kehidupan sosial mana saja di dunia. Sebagai contoh misalnya hubungan antara komunitas keagamaan den sistem kepercayaan dalam suatu .agama itu juga bersifat timbal balik. Terutama konsepsi Ourkheim mengenai agama mementingkan hubungan ini karena pendiriannya bahwa adat istiadat dalam tiap kebudayaan itu merupakan penjelmaan dari faham-faham kolektif atau representation collectives yang hidup dalam masyarakat itu, sedangkan kesatuan masyarakat juga terpelihara oleh rasa kepribadian yang juga dijelmakan oleh faham-faham kolektif.
Teori Durkheim juga mementingkan hubungan antara komuniti keagamaan dan emosi keagamaan, dan malahan menganggap sumber dari emosi keagamaan itu sentlmen kemasyarakatan, sedangkan sebaliknya suatu emosi keagamaan serupa itu tentu juga meninggalkan solidaritas kelompok.
Kerukunan adalah suatu sentimen kemasyarakatan (rasa bhakti, rasa hormat, rasa memiliki) komunitas yang akan memunculkan emosi keagamaan, dan emosi keagamaan ini juga akan meninggikan solidaritas antar umat beragama, sehingga pesatuan dan kesatuan akan tecapai.
Manusia dalam kehidupan selalu berusaha menanggapi lingkungan kehidupannya untuk kemudian mengembangkan pola-pola hubungannya, baik dengan alam lingkungan itu sendiri maupun dengan sesamanya yang terwujud dalam berbagai bentuk kebudayaan manusia yang ada di dunia. Dari pola-pola hubungan tadi tercipta suatu bentuk kebudayaan yang khas yang kadang-kadang sangat ditentukan oleh lingkungan alam kehidupan tadi dan bagaimana kemudian usaha manusia untuk menanggapi lingkungan kehidupannya tersebut. Dalam suatu lingkungan kehidupan yang terbatas maupun tidak terbatas manusia berusaha mengabstraksikan pengalamannya dan memasyarakatkan cara yang paling baik dan tepat dalam mengatasi berbagai tantangan lingkungan yang ada, maka terciptalah budaya-budaya daerah sesuai dengan tanggapan manusia terhadap lingkungan tadi, nilai budaya menyama braya adalah sebuah model yang telah tumbuh dari lingkungan alam dan manusia di Bali.

RUKUN = APLIKASI MENYAMA BRAYA DI BALI
Nyama braya adalah adalah sebuah konsep ideal yang bersumber dari sistem nilai budaya masyarakat Bali. Sistem nilai budaya merupakan tingkat yang paling tinggi dan paling abstrak dari adat istiadat. Hal ini disebabkan karena nilai-¬nilai budaya itu merupakan konsep-konsep mengenai apa yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari warga sesuatu masyarakat mengenai apa yang mereka anggap bemilai, berharga, penting dan benar yang mesti dilaksanakan dalam hidup di dunia ini, nilai-nilai luhur itu diharapkan dapat berfungsi sebagai suatu pedoman yang memberi arah dan orientasi kepada kehidupan para warga masyarakat Bali.
Dalam masyarakat Bali, baik yang berada di perkotaan yang kompleks maupun yang berada di desa dan pegunungan dengan kehidupan yang sederhana, ada sejumlah nilai budaya yang satu dengan lain terkait hingga merupakan suatu sistem, dan sistem itu sebagai pedoman dari konsep-konsep ideal dalam kebudayaan memberi pendorong yang kuat terhadap arah kehidupan warga masyarakat.

a. Arti Rukun Yang Sebenarnya
Kata rukun mengandung makna akrab, damai dan tidak berseteru, sehingga diibaratkan pada kehidupan sepasang suami istri dalam rumah tangga yang rukun artinya harmonis dan damai. Kata rukun itu sendiri berarti sendi dasar atau tiang pada sebuah bangunan yang merupakan kualitas daripada kokohnya bangunan tersebut sebagai penyangga dalam menghadapi goncangan (gempa bumi, badai dan seterusnya).
b. Kerukunan Yang Harmonis dan Serasi
Kata harmonis berarti selaras, serasi dan seirama, diibaratkan seperti tali dawai (senar) yang selaras menimbulkan suara yang merdu, enak didengar dari hasil dawai yang berbeda ukurannya serta ketegangan setelannya. Sangat sepadan dengan kata rukun dan kerukunan yang terbina dalam pluralitas hidup karena kesadaran akan pentingnya menjaga keamanan dan kedamaian.
c. Hakikat Kerukunan Hidup
Makna yang paling esensial dari kerukunan hidup, adalah menjaga keharmonisan dalam bermasyarakat yang multikultural dengan menumbuhkan sikap saling menghormati dan saling melengkapi karena menyadari bahwa :
1. Manusia merupakan ciptaan Tuhan sebagai mahluk mulia (wasudewa kuthumbhakam = di dunia kita semua bersaudara, amrestyah Putrah / Putra Sang Abadi)
2. Tidak ada manusia yang mutlak sempurna (tan hana wwong swasta nulus)
3. Manusia saling menghajatkan pertolongan (paras paros sarpanaya, salunglung sabhayantaka, saling : asah, asih dan asuh)
4. Perbedaan / keragaman adalah keniscayaan (rwa bhineda)
5. Kesadaran beragama teruji ketika menyikapi pluralitas hidup (tat twam asi )
6. Menyikapi perbedaan sebagai hak azasi masing-masing (sarva santhu niramayah), selama tidak melanggar hak orang lain (HAM).

Namun perlu diingat dan ditekankan di sini, bahwa manusia pada hakikatnya mempunyai banyak keinginan, pikiran yang kadang-kadang sangat susah dikendalikan, pikiran selalu berubah dari waktu ke waktu, pikiran telah mengendalikan tubuh manusia, dia bekerja dengan tiada hentinya, merespon segala situasi yang ada. Secara ideal kita menginginkan bahwa pikiran dan pengetahuan yang dimiliki setiap manusia dilanjutkan dengan mengambil atau menentukan sikap dengan memilih dan menentukan arah hidupnya sesuai dengan konteksnya. Di lain pihak manusia juga berdiri diantara banyak variabel sesuai dengan peran-peran di dalam kehidupannya, pada saat tertentu dia berperan sebagai umat beragama namun pada saat yang lain dia berperan sebagai warga adat, sebagai kepala rumah tangga, sebagai guru, dosen dan sebagainya. Peran-peran yang bervariasi dan berubah-ubah ini sepatutnya bisa dimainkan dengan sebaik-baiknnya untuk mencapai ketentraman dan kemajuan dalam kehidupan. Secara ideal kita menginginkan bahwa nilai budaya yang telah dipilih dan dianut oleh seseorang itu adalah sebuah kebenaran positif, mengarahkan sikap sese orang menjadi positif dan berperliaku positif. Namun dalam kenyataan sehari-hari tidak jarang kita menemukan seseorang berperan ganda dan berperan atau bertingkahlaku tidak sesuai dengan nilai, norma yang dianut, sering juga kita temui delam kehidupan sosial bahwa seseorang itu mempunyai pengetahuan yang positif namun dalam perilaku dan sikapnya menjadi negatif, dalam kehidupan riil kita sering menemukan ada orang yang mempunyai pengetahuan agama demlkian tinggi dan banyak, namun tidak bisa bersikap dengan positif dan senantiasa berpindah-pindahan kepercayaan dan keyakinan, demikian juga dalam perilakunya jauh dari apa yang mereka sering katakan dan pikirkan, bahkah menyimpang sama sekali. Tidaklah aneh apabila kita sering menemukan seseorang yang telah menjadi penceramah agama di mana-mana dan menggurui tokoh-tokoh dan masyarakat desa adat sampai kepelosok desa namun dalam perilakunya sehari-hari tidak sesual dengan apa yang mereka ceramahkan dan malah menyimpang sama sekali. Hal-hal seperti adanya penyimpangan dan tidak kesesuaian ini sangat dihindari oleh agama dan nilai budaya Hindu di Bali. Orang Bali menginginkan sesuatu yang holistik antara pengetahuan, sikap, perkataan dan perilaku (Tri Kaya Parisudha). Orang yang pinter berpikir dan berkata namun tidak cerdas dalam berbuat dan berperilaku akan ditinggalkan oleh masyarakat, hal ini juga berlaku dalam konsep menyama braya, konsepsi ini harus dijalankan secara holistik, reciprocity dan tidak sepotong-potong. Apabila konsep ini dijalankan secara sepihak dan sepotong¬-sepotong disanalah kegagalan sebuah konsepsi.

BALI BERSAUDARA = MENYAMA (WASUDEWA KUTHUMBHAKAM)

Hendaknya kita menyadari bahwa manusia itu tidak hidup sendiri di dunia ini, tetapi dilingkungi oleh komunitasnya, masyarakatnya, dan alam semesta sekitarnya. Dalam sistem makrokosmos tersebut ia merasakan dirinya hanya sebagai suatu unsur kecil saja, yang ikut terbawa oleh proses peredaran alam semesta yang maha besar itu; dengan demikian, manusia pada hakikatnya tergantung dalam segala aspek kehidupannya kepada sesamanya; karena itu ia selalu berusaha untuk sedapat mungkin memelihara hubungan baik dengan sesamanya, terdorong oleh jiwa sarna rata sarna rasa; dan selalu berusaha untuk sedapat mungkin bersifat konform, berbuat sama dan bersama dengan sesamanya dalam komunity, terdorong oleh jiwa sama tinggi sama rendah.
Beberapa konsep kunci yang dipegang teguh oleh umat Hindu di Bali sebagai pedoman di dalam hubungan antara manusia dengan manusia antara lain konsep Tat Twam Asi, Yama Niyama Brata. Tat Twam Asi yang berarti aku adalah engkau, engkau adalah aku. Apabila kita menyayangi diri sendiri, mengasihi diri sendiri begitulah seharusnya kita berpikir, berkata dan berbuat kepada orang lain. Apabila prinsip-prinsip ini bisa kita jalankan maka kedamaian hidup di dunia ini akan bisa diwujudkan. Wujud nyata dari penerapan konsep itu dalam kehidupan sehari-hari muncullah beberapa konsep operasional dalam kebudayaan Bali seperti ngoopin, mejenukkan, ngejot, mapitulung dan lain-lain.
Dalam kehidupan sehari-hari tentunya kita berhadapan dengan berbagai watak dan variasi manusia. Terhadap orang yang berbahagia kita diharapkan untuk selalu mengadakan hubungan baik dan turut merasakan kebahagiaan itu, di lain pihak kita juga secara riil berhadapan dengan orang-orang yang menderita, orang-orang yang kesedihan maka terhadap orang yang demikian kita diharapkan untuk turut merasakan kesedihan dan merasakan penderitaan yang dirasakan oleh orang itu, terhadap orang-orang yang bjaksana orang yang senantiasa menebarkan kebajikan maka kita diharapkan untuk senantiasa menunjukkan rasa kepuasaan atas perilaku orang itu, dan terakhlr terhadap orang-orang jahat , orang yang senantlasa mencela dan menyebarkan kejelekan orang lain di hadapan umum maka sudah sepatutnya kita bersikap dan berperilaku acuh tak acuh terhadap orang jahat itu. Inilah beberapa konsep kuncl dan telah menjadi orientasi nilai budaya masyarakat Bali di dalam hubungan antara manusia dengan manusla. Orang Bali berpihak pada kemanunggalan dalam kebhinekaan dan selalu ingin hldup berdampingan dalam kedamaian.
Dalam menghadapi globalisasi, dan bersamaaan dengan itu dlperlukan suatu etika global (global etic) maka landasan etika seperti ahimsa (don’t kill) dan astenya (don’t steal) mendapat tempatnya yang tepat. Dalam pertemuan parlemen agama-agama sedunia baru-baru ini di Amerika Serikat kedua konsepsi itu yaitu Ahimsa (tidak menyakiti, tidak membunuh), Astenya (tidak mencuri, memanipulasi, korupsi) dijadikan etika global. Ahimsa paramodharmah (tanpa kekerasan adalah bentuk tertinggi dari agama) dan sarve santu niramayah (biarkan semuannya ada dalam keadaan selamat di dunia ini).
Nilai-nilai spiritual seperti nilai keindahan, kecintaan atau kasih sayang, kebenaran dan keadilan menduduki tempat terpenting dalam seluruh struktur nilai yang ada. Mengentaskan kemiskinan spiritual (awidya) adalah tujuan diturunkannya kitab suci.

KESIMPULAN

1. Nilai-nilai spiritual seperti kecintaan atau kasih sayang, kebenaran, keadilan, tidak menyakiti, tidak membunuh, tidak memanipulasi menduduki tempat terpenting dalam seluruh struktur nilai yang ada pada masyarakat Bali. Nilai¬-nilai material seperti metetulung, nguopin, majenukan, ngajakin berfungsi mendukung dan menegakkan nilai-nilai spiritual yang berfungsi menata mengarahkan perilaku Krama Bali di dalam segala aspek kehidupan, sehingga kerja sama dan kerukunan dan menyama braya diantara para anggota yang berbeda agama dapat diwujudkan, juga kerena adanya kesadaran masyarakat melihat tujuan yang sama dari masing-masing agama mereka. Bali adalah sebuah keluarga besar, marilah kita wujudkan konsepsl menyama braya secara holistik.
2. Agama haruslah dipahami sebagal hal yang totalitas dan teratur serta diwujudkan dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Apabila agama dilihat sebagai hal sepotong-sepotong disinilah kritik terhadap agama timbul. Kalau kita dalam misi agama, pada intinya semua agama menyerukan manusia untuk berbuat baik. Kalau semua agama menjalankan hal ini, tidak ada masalah dan tidak akan terjadi konflik antar agama. Yang menjadi masalah adalah jika agama sudah menjadi amat ambivalen. Nilai-nilai luhurnya sering terpuruk menjadi topeng bagi hipokrisi, menjadi alat manipulasi psikologis yang menanamkan fanatisme sempit dan menyebar kebencian, serta tidak jarang menjadi sumber legitimasi bagi pertumpahan darah.
3. Marilah kita wujudkan konsepsi menyama braya (wasudewa kuthumbhakam) dalam segala segi kehidupan, orang Bali & masyarakat Indonesia pada hakikatnnya berpihak kepada kemanunggalan dalam kebhinekaan, selalu mempertahankan evolusi damal dan hidup berdampingan. Dan tidaklah aneh kalau Tuhanpun dianggap sebagai seorang warga Istimewa dari sebuah keluarga ataupun comunity dalam masyarakat Bali yang beragama Hindu. Oleh sebab itu dalam setiap pemeluk agama hendaklah senantiasa tertulis kata-kata: ”bantu bukan hantam”, ”berasimilasi bukan menghancurkan”, ”Serasi dan damai dan bukan keonaran”.

DAFTAR BACAAN
Alamsjah,H. 1982. Pembinaan Kerukunan Hidup Umat Beragama Deparetmen Agama RIJakarta: Wilayah kajian Agama di Indonesia Depatemen Agama R I.

Dharmika, Ida Bagus. 1996. Kerukunan Hidup Beragama: Studi Kasus di Subak Medewi, Jembrana Bali. dalam Profil Kerukunan Hidup Umat Beragama. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Agama, Departeman Agama RI.

Dharmika, Ida Bagus. 2000. Kerukunan Antar Umat Beragama di desa Angantiga, Petang Badung. Denpasar: Univ. Hindu Indonesia Denpasar.

Dharmika, Ida Bagus. 2005. Menyama Braya (Hakikat Hubungan Manusia Dengan Manusia Di Bali), Denpasar : Musyawarah Majelis Agama dalam Forum Komunikasi Antar Umat Beragama Prop. Bali di Hotel Oranje, 2005

Budiman, Arief. 1993. ”Dimensi Sosial Ekonomi dalam Konflik Antar Agama di Indonesia” dalam Dialog Kritik & Identitas Agama. Yogyakarta: Intertidei.

Durkheim, Emile, 1985. The Elementary Form of the Religious Life A study In Religious Sociology. Joseph Ward Swain (Trans.).

Gedong Bagoes Oka, 1994. ”Spiritualitas baru dalam Agama Hindu” dalam Spiritualitas Baru : Agama dan Asplrasi Rakyat. Yogyakarta: Intertidei

Koentjaraningrat 1977. Beberapa pokok Antropologi Sosial. Jakarta: PT. Dian Rakyat.
Naim, Sahibi 1985. Kerukunan Antar Umat Beragama. Jakarta: Gunung Agung.

1 Comment

Filed under Articles

One response to “MENGHORMATI KEARIFAN LOKAL SEBAGAI LANDASAN STRATEGIS MEWUJUDKAN MAKNA MENYAMA BRAYA SEBAGAI PENGUATAN JATI DIRI BANGSA

  1. HaRysha_rysha

    Selamat Malam Pak. Saya mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Dwijendra. dengan Dekan saya yang tehormat yaitu Ibu Ida Ayu Ratna Wesnawati. Semoga FIKOM semakin jaya dan untuk dosen dan mahasiswanya semakin semangat kuliah.. he :)
    Astungkara, semua akan berjalan dengan baik. salam untuk semua keluarga.. Angkatan 2011 :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s