Home

“ Kita tidak ingin hanya menjadi pewaris
betapapun sejarah masa lampau itu merupakan salah satu peristiwa besar abad ke  21 ini. 
Yang kita inginkan adalah menjadi pembuat sejarah masa sekarang dan masa yang akan datang.
Jika kita mengingat masa lampau,
maka tujuan utama kita adalah untuk menggali kekuatannya guna merampungkan tugas-tugas
kita pada masa yang akan datang.”

 

2 Comments

Filed under Gallery

   
    
    
    
 

Leave a comment

Filed under Articles

Saiva Siddhanta

FILSAFAT SAIVA SIDDHANTA
BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang

Siwaisme yang berkembang di India, merupakan asal mula dari agama Hindu. Berawal dari kelahiran dan perkembangan paham Siwaisme di daerah Jammu dan Kashmir, di sekitar pegunungan Himalaya (Parwata Kailasa). Di wilayah Jammu dan Kashmir, terdapat lembah sungai Sindhu. Di lembah inilah cikal bakal kehadiran paham Siwaisme pertama kali di India, dan berkembang pesat ke seluruh India, dan wilayah diluar India, salah satunya adalah Indonesia.

Arti kata Saiva Siddhanta : Kata Saiva disini bermakna paham Siva, Sedangkan kata Siddhanta bermakna ajaran agama. Jadi Saiva Siddhanta adalah paham yang berisikan ajaran – ajaran dari Tuhan Siva. Jadi dapat dikatakan bahwa (paksha atau Sampradaya) itu adalah paham yang berkembang pesat di daerah India selatan. Begitulah perkembangan Siwaisme sebagai pembangkit spiritual di negara asli asal agama Hindu. Adapun inti sari dari paham Saiva Siddhanta adalah Saiva sebagai realitas tertinggi, jiva atau roh pribadi adalah intisari yang sama dengan Saiva, walaupun tidak identik. Juga ada Pati (Tuhan), pacea (pengikat), serta beberapa ajaran yang tersurat dalam tattva sebagai prinsip dalam kesemestaan yang realita. Siwaisme dalam paksha Saiva Siddhanta sangat taat dengan inti ajaran Wedanta.

Selanjutnya bagaimana paham Saiva di Indonesia, dan di Bali khususnya? Siwaisme yang eksis di Bali adalah bersumber dari salah satu sastra Hindu bernama Buana Kosa. Buana Kosa merupakan naskah tradisional Bali khususnya salah satu sumber pembangkit spiritual umat Hindu di Bali khususnya dan Indonesia umumnya. Karena Buana Kosa merupakan intisari ajaran Weda yang isinya kaya dengan Siwaisme, terutama Saiva Siddhanta yang berkembang pesat di India Selatan. Buana Kosa dikatakan sebagai sumber suci pembangkit spiritual umat Hindu di Bali untuk umat Hindu secara umum maupun di kalangan orang suci (pandita atau sulinggih). Menjadi salah satu sumber suci bagi pemeluk Hindu di Bali, sekaligus cikal bakal dari sumber ajaran Hindu yang eksis sampai kini di Indonesia.

Dalam susastra Hindu di Bali banyak dijumpai ajaran Saiva Siddhanta. Beberapa sumber yang dimaksud adalah Bhuwanakosa, Wrhaspati tattwa, Tattwa Jnana, Ganapati Tattwa, Bhuwana Sang Ksepa, Siwa Tattwa Purana, Sang Hyang Maha Jnana, dan sebagainya. Masih diperlukan banyak kajian mengenai Saiva Siddhanta yang diajarkan dalam susastra Hindu di Bali. Dari sekian banyak teks atau susastra Hindu di Bali, sesuai dengan sumbernya; maka sangat kaya dengan nilai-nilai filsafat Hindu, terlebih lagi dengan ajaran Saiva Siddhanta.

Dari segi isinya bahwa ajaran Saiva Siddhanta ada disuratkan dalam bahasa Sansekerta, Bahasa Jawa Kuna, Bahasa Bali, dan ada juga yang diterjemahkan artinya dalam bahasa Indonesia. Penerapan ajaran Saiva Siddhanta di Bali sesungguhnya telah kental diterapkan dalam kehidupan masyarakat beragama hindu di Bali sejak dahulu. Hal ini terlihat dari segi penerapannya di desa adat atau desa pakraman yang ada di Bali. Melalui pemujaan, persembahan, kegiatan ritual, dan sebagainya menampakan bahwa Saiva Siddhanta sangat dipahami dan diterapkan dengan baik oleh umat Hindu di Bali.
I.2  Rumusan Masalah

Berdasarkan Latar Belakang diatas adapun rumusan masalah yang akan kita bahas dalam karya tulip ini adalah :

Bagaimana Tuhan Siwa atau Siwa Loka dalam Lontar Tutur Gong Besi?

Lingga merupakan lambang Tuhan Siwa?

Peranan Padma Tiga di Besakih sebagai konsep Tuhan Siwa?
I.3 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan dari karya tulis yang berupa paper ini adalah sebagai berikut :

Mengetahui bagaimana Siwa Loka dan Tuhan Siwa sebagai tujuan umat Hindu di Bali.

Mengetahui lambang dari Tuhan Siwa dalam bentuk Lingga.

Mengetahui dan memahami peranan Padma Tiga di Besakih sebagai konsep Tuhan Siwa,dalam hujud Parama Siwa, Sada Siwa, dan Siwa itu sendiri.
I.4 Manfaat Penulisan

Adapun manfaat yang diperoleh dari penulisan paper Saiwa Siddhanta yaitu :

Mahasiswa dapat mengetahui bentuk-bentuk  ajaran Saiva Siddhanta.

Dapat mengetahui konsep daripada ajaran Saiva Siddhanta.

Mengetahui lambang dan tempat pemujaan Tuhan Siwa,serta gelar beliau.
BAB II

PEMBAHASAN
II.1 Tuhan Siwa atau Siwa Loka sebagai tujuan umat Hindu di Bali

Sastra agama Hindu di Bali sangat banyak diungkapkan mengenai ajaran Siwa. Dalam bahasa yang sederhana dikatakan, Pura Dalem adalah linggih dari Ida Bhatara Dalem sebagai dewa paling utama. Salah satu sastra agama yang menyebutkan hal demikian adalah Lontar Tutur Gong Besi.

Arti Kata Lontar Tutur Gong Besi : Lontar adalah daun pohon lontar, Tutur adalah petunjuk, Gong Besi adalah nama dari sebuah kitab suci Agama Hindu . Gong Besi termasuk kelompok naskah yang memuat ajaran yang Siwaistik. Di dalam naskah ini, disebutkan bahwa Bhatara Dalem patut dipuja dengan sepenuh hati, penuh rasa tulus iklas. Dalam setiap pemujaannya, Ida Bhatara Dalem dapat dihadirkan (utpeti puja), distanakan (stiti puja) dan dikembalikan (pralina puja). Persembahan bhakti yang utama kehadapan Ida Bhatara Dalem menyebabkan orang mendapatkan kemuliaan lahir dan batin, dan pada akhirnya akan mencapai surga loka atau siwa loka.

Arti Kata Surga Loka atau Siwa Loka : Surga Loka artinya kebahagiaan lahir batin pada tempat yang langgeng atau abadi, Siwa Loka artinya Istana atau Stana Dewa Siwa sebagai manifestasi dari Tuhan, Surga Loka atau Siwa Loka artinya mendapat kebahagiaan lahir batin pada tempat yang langgeng atau abadi disisi Tuhan. Dalam hubungannya dengan sembah bhakti (pemujaan) kehadapan beliau, sebaiknya diketahui nama atau julukan beliau. Karena kemahakuasaan beliau sebagai pencipta, pemelihara dan pelebur, beliau disebut dengan banyak nama, sesuai dengan fungsi dan tempat beliau berstana. Ketika beliau yaitu Ida Bhatara Dalem berstana di Pura Puseh, maka Sanghyang Triyodasa Sakti nama beliau. Ketika berstana di Pura Desa, maka Sanghyang Tri Upasedhana sebutan beliau. Di Pura Bale Agung, beliau dipuja sebagai Sanghyang Bhagawati. Di perempatan jalan raya beliau dipuja sebagai Sanghyang Catur Bhuwana. Ketika beliau berstana di pertigaan jalan raya disebut dengan Sanghyang Sapu Jagat.

Ida Bhatara Dalem ketika berstana di kuburan atau setra agung beliau dipuja dengan nama Bethara Dhurga. Ketika kemudian beliau berstana di tunon atau pemuwunan (tempat pembakaran mayat), maka beliau dipuja sebagai Sanghyang Bherawi. Ketika beliau dipuja di Pura Pengulun Setra, maka beliau dinamakan Sanghyang Mrajapati. Di laut, Ida Bhatara Dalem dipuja dengan sebutan Sangyang Mutering Bhuwana. Pergi dari laut kemudian menuju langit, beliau dapat dipuja dengan sebutan Bhuwana Taskarapati. Taskara adalah surya atau matahari, sedangkan pati adalah Wulan atau bulan. Kemudian ketika beliau berstana di Gunung Agung dinamakan beliau Sanghyang Giri Putri. Giri adalah gunung, putri adalah putra atau anak, yakni putra dari Bhatara Guru yang berstana di Sanggar Penataran, Panti Parahyangan semuanya, dan berkuasa pada seluruh parahyangan. Pergi dari Gunung Agung kemudian berstana beliau di Gunung Lebah, maka sebutan beliau adalah Dewi Danu. Ketika beliau berstana di Panca Tirtha atau pancuran air, maka beliau bernama Sanghyang Gayatri. Dari pancuran, kemudian menuju ke jurang atau aliran sungai, maka beliau kemudian dipuja dengan sebutan Betari Gangga.

Bhatara Dalem ketika berstana disawah sebagai pengayom para petani dan semua yang ada disawah, maka beliau dipuja dengan sebutan sebagai Dewi Uma. Di jineng atau lumbung padi beliau dipuja dengan sebutan Betari Sri. Kemudian didalam bejana atau tempat beras (pulu), Ida Bhatara Dalem dipuja dengan Sanghyang Pawitra Saraswati. Didalam periuk tempat nasi atau makanan, maka beliau disebut Sanghyang Tri Merta. Kemudian di Sanggar Kemimitan (Kemulan) yaitu tempat suci keluarga, Ida Bhatara Dalem dipuja sebagai Sanghyang Aku Catur Bhoga. Aku berwujud laki, perempuan, dan banci. Menjadilah aku manusia seorang, bernama Aku Sanghyang Tuduh atau Sanghyang Tunggal, di Sanggar perhyangan stana beliau. Disebut pula beliau dengan Sanghyang Atma. Pada Kemulan Kanan adalah ayah yakni Sang Pratma (Paratma). Pada Kemulan Kiri adalah Ibu, Sang Siwatma. Pada Kemulan Tengah adalah dirinya atau raganya yakni roh suci yang menjadi ibu dan ayah, nantinya kembali pulang ke Dalem menjadi Sanghyang Tunggal. Ida Bahtara Dalem adalah Sanghyang Paramawisesa, karena semua rasa baik, rasa sakit, rasa sehat, rasa lapar dan sebagainya adalah beliau sumbernya. Beliau adalah asal dari kehidupan, beliau memelihara alam semesta ini, dan beliau adalah penguasa kematian, dalam air, cahaya, udara dan akasa, tidak ada yang dapat melebihi beliau. Sehingga beliau disebut dengan Sanghyang Pamutering Jagat. Ida Bhatara Dalem adalah Bhatara Guru atau Dewa Siwa itu sendiri sebagai sebutan Ida Sanghayng Widhi dengan segala manifestasi beliau. Dengan segala kemahakuasaan yang mencakup masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Sebagai pemuja atau penyembah yang taat akan menyebut beliau dengan banyak nama sesuai dengan fungsi dan juga dimana beliau dipuja. Demikian disebutkan dalam Tutur Gong Besi.
II.2 Lingga merupakan lambang Tuhan Siwa

Lingga merupakan lambang Dewa Siwa atau Tuhan Siwa, yang pada hakekatnya mempuriyai arti, parent dan fungsi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat lampau, khususnya bagi umat manusia yang beragama Hindu. Hal ini terbukti bahwasanya peninggalan lingga sampai saat ini pada umumnya di Bali kebanyakan terdapat di tempat-tempat suci seperti pada pura-pura kuno. Bahkan ada juga ditemukan pada goa-goa yang sampai sekarang masih tetap dihormati dan disucikan oleh masyarakat setempat.Di Indonesia khususnya Bali, walaupun ditemukan peninggalan lingga dalam jumlah yang banyak, akan tetapi masyarakat masih ada yang belum memahami arti lingga yang sebenarnya. Untuk memberikan penjelasan tentang pengertian lingga secara umum maka di dalam uraian ini akan membahas pengertian lingga, yang sudah tentu bersifat umum.

Lingga berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti tanda, ciri, isyarat, sifat khas, bukti, keterangan, petunjuk, lambang kemaluan laki-laki terutama lingga Siwa dalam bentuk tiang batu, Patung Dewa, titik tuju pemujaan, titik pusat, pusat, poros, sumbu (Zoetmulder, 2000 601). Sedangkan pengertian yang umum ditemukan dalam Bahasa Bali, bahwa lingga diidentikkan dengan : linggih, yang artinya tempat duduk, pengertian ini tidak jauh menyimpang dari pandangan umat beragama Hindu di Bali, dikatakan bahwa lingga sebagai linggih Dewa Siwa. Petunjuk tertua mengenai lingga terdapat pada ajaran tentang Rudra Siwa telah terdapat dihampir semua kitab suci agama Hindu, malah dalam berbagai penelitian umat oleh arkeolog dunia diketahui bahwa konsep tentang Siwa telah terdapat dalam peradaban Harappa yang merupakan peradaban pra-weda dengan ditemuinya suatu prototif tri mukha yogiswara pasupati Urdhalingga Siwa pada peradaban Harappa. (Agastia, 2002 : 2) kemudian pada peradaban lembah Hindus bahwa menurut paham Hindu, lingga merupakan lambang kesuburan. Perkembangan selanjutnya pemujaan terhadap lingga sebagai simbol Dewa Siwa terdapat di pusat candi di Chennittalai pada sebuah desa di Travancore, menurut anggapan orang Hindu di India pada umumnya pemujaan kepada lingga dilanjutkan kepada Dewa Siwa dan saktinya (Rao, 1916 : 69). Di India terutama di India selatan dan India Tengah pemujaan lingga sebagai lambang dewa Siwa sangat populer dan bahkan ada suatu sekte khusus yang memuja lingga yang menamakan dirinya sekte linggayat (Putra, 1975 : 104).

Mengenai pemujaan lingga di Indonesia, yang tertua dijumpai pada prasasti Canggal di Jawa Tengah yang berangka tahun 732 M ditulis dengan huruf pallawa dan digubah dalam bahasa Sansekerta yang indah sekali. Isinya terutama adalah memperingati didirikannya sebuah lingga (lambang Siwa) di atas sebuah bukit di daerah Kunjarakunja oleh raja Sanjaya (Soekmono, 1973 : 40). Dengan didirikannya sebuah lingga sebagai tempat pemujaan, sedangkan lingga adalah lambang untuk dewa Siwa, maka semenjak prasasti Canggal itulah mulai dikenal sekte Siwa (Siwaisme), di Indonesia. Hal ini terlihat pula dari isi prasasti tersebut dimana bait-baitnya paling banyak memuat/berisi doa-doa untuk Dewa Siwa. Dalam perkembangan berikutnya tradisi pemujaan Dewa Siwa dalam bentuk simbulnya berupa lingga terlihat pula pada jaman pemerintahan Gajayana di Kanjuruhan, Jawa Timur. Hal tersebut tercantum dalam prasasti Dinoyo yang berangka tahun 760 M isi prasasti ini antara lain menyebutkan bahwa raja Gajayana mendirikan sebuah tempat pemujaan Dewa Agastya. Bangunan suci yang dihubungkan dengan prasasti tersebut adalah candi Badut yang terdapat di desa Kejuron. Dalam candi itu ternyata bukan arca Agastya yang ditemukan melainkan sebuah lingga. Maka disini mungkin sekali lingga merupakan Lambang Agastya yang memang selalu digambarkan dalam Sinar Mahaguru. (Soekmono. 1973 : 41-42). Peninggalan Arkeolog dari jaman Majapahit ialah di Sukuh dan Candi Ceto dari abad ke-15 yang terletak dilereng Gunung Lawu daerah Karanganyar Jawa Tengah. Pada puncak candi ini terdapat lingga yang naturalis tingginya 2 meter dan sekarang disimpan di museum Jakarta. Pemujaan lingga di candi ini dihubungkan dengan upacara kesuburan (Kempers, 1959 102).

Berdasarkan kenyataannya yang ditemui di Bali banyak ditemukan peninggalan lingga, yang sampai saat ini lingga-lingga tersebut disimpan dan dipuja pada tempat atau pelinggih pura. Mengenai kepercayaan terhadap lingga di Bali masih hidup di masyarakat dimana lingga tersebut dipuja dan disucikan serta diupacarai. Masyarakat percaya lingga berfungsi sebagai tempat untuk memohon keselamatan, kesuburan dan sebagainya. Mengenai peninggalan lingga di Bali banyak ditemui di pura-pura seperti di Pura Besakih, Pura-pura di Pejeng, di Bedahulu dan di Goa Gajah.

Petunjuk yang lebih jelas lagi mengenai lingga terdapat pada kitab Lingga Purana dan Siwaratri Kalpa karya Mpu Tanakung. Di dalam lingga purana disebutkan sebagai berikut:

”Pradhanam prartim tatca ya dahurlingamuttaman. Gandhawarna rasairhinam sabdasparsadi warjitam”.

Artinya :

Lingga awal yang mula-mula tanpa bau, warna, rasa, pendengaran dan sebagainya dikatakan sebagai prakrti (alam).

Jadi dalam Lingga Purana, lingga merupäkan tanda pembedaan yang erat kaitannya dengan konsep pencipta alam semesta wujud alam semesta yang tak terhingga ini merupakan sebuah lingga dan kemaha-kuasaan Tuhan. Lingga pada Lingga Purana adalah simbol Dewa Siwa (Siwa lingga). Semua wujud diresapi oleh Dewa Siwa dan setiap wujud adalah lingga dan Dewa Siwa. Kemudian di dalam Siwaratrikalpa disebutkan sebagai berikut:

”Bhatara Siwalingga kurala sirarcanam I dalem ikang suralaya”.

Artinya:

Selalu memuja Hyang Siwa dalam perwujudan-Nya “Siwalingga” yang bersemayam di alam Siwa.
Jadi lingga merupakan simbol Siwa yang selalu dipuja untuk memuja alam Siwa. Kitab Lingga Purana dan Siwaratri Kalpa karya Mpu Tanakung ini semakin memperkuat kenyataan bahwa pada mulanya pemujaan terhadap lingga pada hakekatnya merupakan pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam wujudnya sebagai Siwa.
Bentuk Lingga

Haryati Subadio dalam bukunya yang berjudul : “Jnana Siddhanta” dengan mengambil istilah Atmalingga dan Siwalingga atau sering disebut stana dan pada Dewa Siwa atau sering disebut sebagai  ymbol kekuatan Tuhan Yang Maha Esa. Dalam Jnana Siddhanta disebutkan:

“Pranalo Brahma visnus ca Lingotpadah Siwarcayet”.

Artinya:

Salurannya ialah Brahma dan Visnu dan penampakan lingga dapat dianggap sebagai sumber siwa.

Dalam bahasa sansekerta pranala berarti saluran air, pranala dipandang sebagai kaki atau dasar lingga yang dilengkapi sebuah saluran air. Dengan istilah lingga pranala lalu di maksudkan seluruh konstruksi yang meliputi kaki dan lingga, jadi lingga dan yoni. Kemudian lingga yoni, berkaitan dengan tri purusa yaitu Brahma, Wisnu dan Siwa, di mana Siwa dinamakan lingga sedangkan Brahma, dan Wisnu bersama-sama dinamakan pranala sebagai dasar yaitu yoni. Sebuah lingga berdiri.

Sesuai dengan uraian di atas lingga mempunyai bagian-bagian yang sangat jelas. Pembagian lingga berdasarkan bentuknya terdiri atas: dasar lingga paling bawah yang pada umumnya berbentuk segi empat yang pada salah satu sisinya terdapat carat atau saluran air bagian ini disebut yoni. Di atas yoni yang merupakan bagian lingga paling bawah berbentuk segi empat disebut dengan Brahma Bhaga, bagian tengah berbentuk segi delapan disebut Wisnu Bhaga, sedangkan bagian atas berbentuk bulatan yang disebut Siwa Bhaga. Jadi bentuk lingga menggunakan konsep Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa) ketiga bagian lingga tersebut kiranya dapat disamakan dengan konsepsi Bhur Bwah Swah. Lingga pada umumnya diletakkan di atas lapik yang disebut pindika atau pitha. Bentuk lapik ini biasanya segi empat sama sisi, segi empat panjang, segi enam, segi delapan, segi dua belas, bulat, bulat telur, setengah bulatan, persegi enam belas dan yang lainnya. Yang paling sering dijumpai adalah Lapik yang berbentuk segi empat (Gopinatha Rao, 1916 :99). Mengenai bentuk-bentuk dan puncak lingga ada banyak ragam antara lain : berbentuk payung (chhatrakara), berbentuk telur (kukkutandakara), berbentuk buah mentimun (tripushakara), berbentuk bulan setengah lingkaran (arddhacandrakara), berbentuk balon (budbudhasadrisa) (Gopinatha Rao, 1916 : 93).
Jenis-Jenis Lingga

Berdasarkan penelitian dan TA. Gopinatha Rao, yang terangkum dalam bukunya berjudul “Elements Of Hindu Iconografi Vol. II part 1” di sini beliau mengatakan bahwa berdasarkan jenisnya Lingga dapat dikelompokkan atas dua bagian antara lain :

– Chalalingga

– Achalalingga
Chalalingga adalah lingga-lingga yang dapat bergerak, artinya lingga itu dapat dipindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa mengurangi suatu arti yang terkandung. Adapun yang termasuk dalam kelompok lingga ini adalah:

a. Mrinmaya Lingga

Merupakan suatu lingga yang dibuat dari tanah liat, baik yang sudah dibakar. Dalam kitab Kamikagama dijelaskan bahwa pembuatan lingga ini berasal dari tanah liat putih dan tempat yang bersih. Proses pengolahannya adalah tanah dicampur susu, tepung, gandum, serbuk cendana, menjadi adonan setelah beberapa lama disimpan lalu dibentuk sesuai dalam kitab agama.

b. Lohaja Lingga

Yaitu suatu lingga yang terbuat dari jenis logam, seperti : emas, perak, tembaga, logam besi, time dan kuningan.

c. Ratmaja Lingga

Yaitu lingga yang terbuat dan jenis batu-batuan yang berharga seperti, permata, mutiara, kristal, jamrud, waidurya, kwarsa

d. Daruja Lingga

Yaitu lingga yang terbuat dari bahan kayu seperti kayu sami, tinduka, karnikara, madhuka, arjuna, pippala dan udumbara. Dalam kitab Kamikagama disebutkan juga jenis kayu yang digunakan yaitu khadira, chandana, sala, bilva, badara, dan dewadara.

e. Kshanika Lingga

Yaitu lingga yang dibuat untuk sementara jenis-jenis lingga ini dibuat dari saikatam, beras, nasi, tanah pekat, rumput kurcha, janggery dan tepung, bunga dan rudrasha. Sedangkan yang dimaksud dengan Achala lingga, lingga yang tidak dapat dipindah-pindahkan seperti gunung sebagai linggih Dewa-Dewi dan Bhatara-Bhatari. Di samping itu pula lingga ini biasanya berbentuk batu besar dan berat yang sulit untuk dipindahkan. I Gusti Agung Gde Putra dalam bukunya berjudul : “Cudamani, kumpulan kuliah-kuliah agama jilid I”, menjelaskan bagian lingga atas bahan yang digunakan. Beliau mengatakan lingga yang dibuat dari barang-barang mulia seperti permata tersebut spathika lingga, lingga yang dibuat dari emas disebut kanaka lingga dan bahkan ada pula dibuat dari tahi sapi dengan susu disebut homaya lingga, lingga yang dibuat dari bahan banten disebut Dewa-Dewi, lingga yang biasa kita jumpai di Indonesia dari di Bali khususnya adalah linggapala yaitu lingga terbuat dari batu. Mengenai keadaan masing-masing jenis lingga T.A. Gopinatha Rao dalam bukunya berjudul “Elements of Hindu Iconografi Vol. II part I” dapat dijelaskan, sebagai berikut:

a) Svayambhuva lingga. Dalam mitologi, lingga dengan sendirinya tanpa diketahui keadaannya di bumi, sehingga oleh masyarakat lingga yang paling suci dan lingga yang paling utama (uttamottama).

b) Ganapatya lingga. Lingga ini berhubungan dengan Ganesa, Ganapatya lingga yaitu lingga yang berhubungan dengan kepercayaan dibuat oleh Gana (padukan Dewa Siwa) yang menyerupai bentuk mentimun, sitrun atau apel hutan.

c) Arsha lingga. Lingga yang dibuat dan dipergunakan oleh para Resi. Bentuknya bundar dengan bagian puncaknya bundar seperti buah kelapa yang sudah dikupas.

d) Daivika lingga. Lingga yang memiliki kesamaan dengan Ganapatya lingga dan arsha lingga hanya saja tidak memiliki brahma sutra (selempang tali atau benang suci, dipakai oleh brahman).

e) Manusa lingga. Lingga yang paling umum ditemukan pada bangunan suci, karena langsung dibuat oleh tangan manusia, sehingga mempunyai bentuk yang bervariasi. Lingga ini umumnya mencerminkan konsep tri bhaga yang Brahma bhaga (dasar), Wisnu bhaga (badan) dan Rudra bhaga (puncak). Mengenai ukuran panjang maupun lebar menyamai pintu masuk tempat pemujaan utama.

II.3 Padma Tiga di Besakih sebagai konsep Tuhan Siwa

Siwa Tattwa ngaranya sukha tanpa wali duhkha. Sadasiwa Tattwa ngaranya tanpa wwit tanpa tungtung ikang sukha. Paramasiwa Tattwa ngaranya niskala tan wenang winastwan ikang sukha.(Dikutip Dari Wrehaspati Tattwa.50)

Maksudnya: 

Hakikat memuja Tuhan Siwa untuk mencapai kebahagiaan yang tidak berbalik pada kedukaan. Memuja Tuhan sebagai Sadasiwa akan mencapai kebahagiaan yang tidak ada awal dan tidak akhirnya. Memuja Tuhan sebagai Paramasiwa mencapai kebahagiaan niskala yang tidak dapat dilukiskan kebahagiaan itu.

Pelinggih Padma Tiga di Pura Besakih sebagai sarana untuk memuja Tuhan sebagai Sang Hyang Tri Purusa yaitu jiwa agung alam semesta. Purusa artinya jiwa atau hidup. Tuhan sebagai jiwa dari Bhur Loka disebut Siwa, sebagai jiwa Bhuwah Loka disebut Sadha Siwa dan sebagai jiwa dari Swah Loka disebut Parama Siwa. Pelinggih Padma Tiga sebagai media pemujaan Sang Hyang Tri Purusa yaitu Siwa, Sada Siwa dan Parama Siwa. Hal ini dinyatakan dalam Piagam Besakih dan juga dalam beberapa sumber lainnya seperti dalam Pustaka Pura Besakih yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan Propinsi Bali tahun 1988. Busana hitam di samping busana warna putih dan merah dari Padma Tiga bukan simbol dari Wisnu, tetapi simbol dari Parama Siwa. Dalam Mantra Rgveda ada dinyatakan bahwa keberadan Tuhan Yang Maha Esa yang memenuhi alam semesta ini hanya seperempat bagian saja. Selebihnya ada di luar alam semesta. Keberadaan di luar alam semesta ini amat gelap karena tidak dijangkau oleh sinar matahari. Tuhan juga maha-ada di luar alam semesta yang gelap itu. Tuhan sebagai jiwa agung yang hadir di luar alam semesta itulah yang disebut Parama Siwa dalam pustaka Wrehaspati Tattwa itu.

Busana hitam Padma Tiga yang berada di kanan atau yang mengarah ke Pura Batu Madeg itu bukan lambang pemujaan Wisnu. Tetapi pemujaan untuk Parama Siwa yang berada di luar alam semesta. Parama Siwa adalah Tuhan dalam keadaan Nirguna Brahman artinya tanpa sifat atau manusia tidak mungkin melukiskan sifat-sifat Tuhan Yang Mahakuasa itu. Sedangkan Padma Tiga yang di tengah busananya putih kuning sebagai simbol dalam Tuhan keadaan Saguna Brahman. Artinya Tuhan sudah menunjukkan ciri-ciri niskala untuk mencipta kehidupan yang suci dan sejahtera. Putih lambang kesucian dan kuning lambang kesejahteraan. Sedangkan busana warna merah pada Padma Tiga yang di kiri atau yang mengarah pada Pura Kiduling Kreteg bukanlah sebagai lambang Dewa Brahma. Warna merah dalam Pelinggih Padma Tiga yang di bagian kiri memang arahnya ke Pura Kiduling Kreteg. Padma Tiga yang berwarna merah itu sebagai simbol yang melukiskan keberadaan Tuhan sudah dalam keadaan krida untuk Utpati, Stithi dan Pralina. Dalam hal inilah Tuhan Siwa bermanifestasi menjadi Tri Murti. Untuk di kompleks Pura Besakih sebagai Batara Brahma dipuja di Pura Kiduling Kreteg. Sebagai Batara Wisnu di Pura Batu Madeg dan sebagai Batara Iswara di Pura Gelap. Di tingkat Pura Padma Bhuwana sebagai Batara Wisnu dipuja di Pura Batur simbol Tuhan Mahakuasa di arah utara. Dipuja sebagai Bhatara Iswara di Pura Lempuhyang Luhur di arah timur dan sebagai Batara Brahma dipuja di Pura Andakasa simbol Tuhan Mahakuasa di arah selatan.

Sementara untuk di tingkat desa pakraman, Batara Tri Murti itu dipuja di Kahyangan Tiga. Mengapa ajaran agama Hindu demikian serius mengajarkan umatnya untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa itu dalam manifestasinya sebagai Dewa Tri Murti. Salah satu ciri hidup manusia melakukan dinamika hidup. Memuja Tuhan sebagai Tri Murti untuk menuntun umat manusia agar dalam hidupnya ini selalu berdinamika yang mampu memberikan kontribusi pada kemajuan hidup menuju hidup yang semakin baik, benar dan tepat. Pemujaan pada Dewa Tri Murti itu agar dinamika hidup manusia itu berada di koridor Utpati, Stithi dan Pralina. Maksudnya menciptakan sesuatu yang patut diciptakan disebut Utpati, memelihara serta melindungi sesuatu yang sepatutnya dipelihara dan dilindungi disebut Stithi, serta meniadakan sesuatu yang sudah usang yang memang sudah sepatutnya dihilangkan yang disebut Pralina.

Demikianlah keberadaan Pelinggih Padma Tiga yang berada di Mandala kedua dari Pura Penataran Agung Besakih. Di Mandala kedua ini sebagai simbol bertemunya antara bhakti dan sweca. Bhakti adalah upaya umat manusia atau para bhakta untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Sedangkan sweca dalam bahasa Bali maksudnya suatu anugerah Tuhan kepada para bhakta-nya. Sweca itu akan diterima oleh manusia atau para bhakta sesuai dengan tingkatan bhakti-nya pada Tuhan. Bentuk bhakti pada Tuhan di samping secara langsung juga seyogianya dilakukan dalam wujud asih dan punia. Asih adalah bentuk bhakti pada Tuhan dengan menjaga kelestarian alam lingkungan dengan penuh kasih sayang, karena alam semesta ini adalah badan nyata dari Tuhan. Sedangkan punia adalah bentuk bhakti pada Tuhan dalam wujud pengabdian pada sesama umat manusia sesuai dengan swadharma kita masing-masing.

Tuhan telah menciptakan Rta sebagai pedoman atau norma untuk memelihara dan melindungi alam ini dengan konsep asih. Tuhan juga menciptakan dharma sebagai pedoman untuk melakukan pengabdian pada sesama manusia. Dengan konsep asih, punia dan bhakti itulah umat manusia meraih sweca-nya Tuhan yang dilambangkan di Pura Besakih di Mandala kedua ini. Di Mandala kektiga ini tepatnya di sebelah kanan Padma Tiga itu ada bangunan suci yang disebut Bale Kembang Sirang. Di Bale Kembang Sirang inilah upacara padanaan dilangsungkan saat ada upacara besar di Besakih seperti saat ada upacara Bhatara Turun Kabeh, upacara Ngusaba Kapat maupun upacara Manca Walikrama, apalagi upacara Eka Dasa Ludra.Upacara padanaan yang dipusatkan di Bale Kembang Sirang inilah sebagai simbol bahwa antara bhakti umat dan sweca-nya Hyang Widhi bertemu. Di Pura Penataran Agung Besakih sebagai simbol Sapta Loka tergolong Pura Luhuring Ambal-ambal. Ini dilukiskan bagaimana umat seyogianya melakukan bhakti kepada Tuhan dan bagaimana Tuhan menurunkan sweca kepada umat yang dapat melakukan bhakti dengan baik dan benar. Semuanya dilukiskan dengan sangat menarik di Pura Penataran Agung Besakih dan amat sesuai dengan konsep Weda kitab suci agama Hindu.
 BAB III

PENUTUP
III.1 Kesimpulan

Dalam lontar Bhuwanakosa dikatakan bahwa semua yang ada ini muncul dari Bhatara Siwa dan akan kembali kepada-Nya juga. Dengan demikian maka Bhatara Siwa adalah sumber segala yang ada, sama halnya dengan Brahman dalam Upanisad.

(Bhuwanakosa III, 82). Yatottamam iti sarvve, jagat tatva vva liyate, yatha sambhavate sarvvam, tatra bhavati liyate. Sakwehning jagat kabeh, mijil sangkeng Bhatara Siwa ika, lina ring Bhatara Siwa ya.

Semua dunia ini muncul dari Bhatara Siwa, lenyap kembali pada Bhatara Siwa juga.

Segala yang muncul dari Bhatara Siwa itu sifatnya maya, bukan yang sesungguh nya dan merupakan dunia phenomena, yaitu dunia gajala yang tampak untuk sementara saja. Ibarat tampaknya bayang-bayang pada cermin, yang tampaknya saja ada namun sesungguhnya tidak ada, dan yang sesungguhnya ada berada di balik bayang-bayang itu. Adapun yang sembunyi di balik dunia ini, yang bersifat langgeng, hanyalah Bhatara Siwa sendiri.
III.2 Saran

Sebagai mahluk ciptaan yang paling utama hendaknya kita menjaga / memelihara dunia ini dan menjaga hubungan yang harmonis antara sesama. Semua ajaran tentang ke-Tuhanan sangat perlu kita pelajari agar kita dapat berbuat demi kemakmuran dunia. Seperti halnya ajaran Saiwa Siddhanta yang mengajarkan kita untuk memelihara dunia tempat kita terlahir, tumbuh,

3 Comments

Filed under Articles

Yama Purana Tattva

 UPAYA PENCEGAHAN NGULAH PATI DITINJAU DARI SUDUT PANDANG AGAMA HINDU

OLEH : IBG WIYANA 

PENDAHULUAN

Fenomena bunuh diri maupun percobaan bunuh diri dari masyarakat Bali adalah mmerupakan bagian dari fenomena kemanusiaan yang sangat mengerikan dan bertentangan dengan ajaran agama manapun. Mengapa dapat dikatakan demikian ?

Dari tahun ke tahun ke¬cenderungan kasus bunuh diri di Bali meningkat. Berdasar data yang di¬himpun Nusa Bali, selama tahun 2004 jumlah orang yang melakukan bunuh diri tercatat 103 orang. Tahun 2005 meningkat menjadi 137 korban, dan hingga Juni 2006 tercatat 89 orang menghabisi nyawanya sendiri dengan berbagai cara. 

Dari data WHO tahun 2000, sekitar 1 juta orang melakukan bunuh diri. Dengan begitu bisa dihitung bahwa setiap 40 detik, Satu orang melakukan bunuh diri di satu tempat dan setiap 3 detik ada seorang yang melakukan percobaan bunuh diri. Karena tingginya kasus kematian disebab¬kan oleh bunuh diri, menjadikan bunuh diri merupakan penyebab kematian kedua terbesar pada usia 15 – 35 tahun setelah kecelakaan, baik itu kecelakaan lalu lintas maupun kecelakaan kerja. 

Ada tiga tipe bunuh diri, yang pertama egoistic suicide, yaitu bunuh diri yang disebabkan oleh kerapuhan ikatan hubungan dalam keluarga dan kekerabatan. Misalnya kasus bunuh diri akibat pertengkaran, percek¬cokan, dan juga perasaan dipojokkan. Yang kedua tipe anomie suicide yaitu bunuh diri yang terjadi akibat depresi ekonomi, kekacauan, kemiskinan, penyakit kronik yang tidak sembuh, dan permasalahan lain. Dan yang terakhir adalah antruistic suicide kebalikan dari yang pertama, yakni bunuh diri justru terjadi akibat eratnya ikatan kekeluargaan dan kekerabatan yang sangat kuat. Seperti kasus harakiri, kamikaze di Jepang, Mesatya di masyarakat Hindu kuno, ataupun tindakan wirang ’mantuk ring rananggana’ / heroik Puputan (Puputan Badung, Puputan Klungkung, Puputan Jagaraga, Puputan Margarana dll).

Direktur Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bangli dr Rai Tirta SpKj, dalam sebuah diskusi menyatakan, setiap orang yang melakukan bunuh diri akan berdampak pada enam orang di sekitarnya. Enam orang terdekat itu bisa saja orangtua, pacar, teman, saudara bahkan tetangga. Karena itulah sebenarnya dalam menangani kasus bunuh diri, bukan hanya korbannya yang diperhatikan, tetapi juga Iingkungan di sekeliling yang juga terimbas dampak dari tindakan nekat seseorang itu.

  Penyebab seseorang melakukan tindakan nekat bunuh diri secara spesifik sulit untuk disebutkan. Tetapi salah satu pemicunya adalah karena faktor genetik, yaitu terkait dengan penyusun saraf manusia yang bisa menjadi pemicu seseorang mudah panik atau tidak. Ada susunan saraf seseorang, yang karena masalah kecil saja bisa cepat panik, ada juga yang stabil. Cepat panik atau tidaknya seseorang ini terkait dengan susunan saraf orang itu. Karena itulah orang yang cepat panik biasanya akan menanggapi segala sesuatunya dengan tergesa-gesa juga, dan karena tergesa maka cara pandangnya juga tidak akan menyeluruh, demikian versi psikolog dari Universitas Udayana (Unud) Drs Made Rustika MSi. 

Agar bunuh diri tidak dijadikan jalan keluar atas sebuah persoalan, serta untuk menekan jumlah korban bunuh diri, perlu ada tindakan yang melibatkan banyak orang untuk konsen membahas kasus tersebut dan me¬Iakukan aksi bersama. Karena persoalan bunuh diri merupakan masalah kompleks yang melibatkan banyak elemen dan imbasnya juga luas. 

Juga perlu penyadaran, bahwa ada kehidupan pascakematian. Apalagi, penyebab bunuh diri bukanlah penyebab tunggal. Bunuh diri terkait faktor genetik, biologi, lingkungan, pendidikan, keluarga, dan seba¬gainya. Jalan keluar yang diambil juga perlu menye¬luruh dengan melibatkan banyak elemen masyarakat. Pendidikan tidak hanya pendidikan formal, tetapi juga pendidikan norma dan agama, perlu ditanamkan di lingkungan keluarga. 

SOSIO KULTURAL MASYARAKAT 

Indonesia yang terdiri dari beribu-ribu pulau yang terpisah satu sama lainnya oleh lautan ‘Nusantara’ (archipelago), mempunyai luas wi1ayah lebih kurang sebesar benua Eropah. Jumlah penduduknya yang besar (k.l. 180 juta) dan terdiri dari ber¬macam-macam suku yang tersebar luas di pulau tersebut. Terdapat berbagai ragam perbedaan dalam alam budayanya yang meliputi segi¬segi, adat-istiadat, kebiasaan, religi, mata pencaharian dan sebagainya. Disatu pihak masih terdapat suku-suku pedalaman yang hidupnya seolah-olah terasing dari pergaulan umum seperti yang dapat dilihat di Papua, Kalimantan Tengah, dan sebagian di Provinsi yang kelihatannya maju namun kadang-kadang dapat dikatakan masih hidup di¬jaman tradisionil, dipihak lain terlihat pula perkembangan masyarakat yang sangat pesat dan modern sesudah masa kolonial, setelah dicapainya kemerdekaan, seperti yang tampak di kota-kota besar. Disamping itu masih diketemukan golongan penduduk minoritas yang kebanyakan adalah pendatang seperti keturunan-keturunan Cina, Arab, India dan sebagainya yang juga mempunyai sub-kulturnya sendiri. Saat ini kita menyaksikan terjadinya perubahan-perubahan sosial yang sangat• cepat dengan adanya kemajuan-kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan, tehnologi dan ekonomi, disertai oleh fenomena-fenomena penyertanya seperti hilangnya banyak nilai-nilai tradisionil dan timbulnya suatu per¬juangan dalam membentuk identitas bangsa yang baru ’globalisasi’. 

Maka penduduk tradisionillah yang paling menderita sebagai akibat daripada adanya perubahan-perubahan ini, karena penduduk ini berada dalam suatu proses pembentukan pribadi, dan oleh karenanya merupakan segmen masyarakat yang paling rendah dan paling mudah terkena. Dengan demikian maka kebutuhan-kebutuhandan problematik-problematik masyarakat ini lebih mudah dimengerti serta dihayati dengan latar belakang perubahan-perubahan ini. 

Heerdjan S., dalam usahanya untuk menganalisa masyarakat penduduk di Indonesia mengambil contoh struktur kebudayaan Jawa yang juga sama dengan keberadaan kebudayaan Bali yang hanya dibedakan oleh kepercayaan dan agamanya. Dibeda¬kannya 2 golongan masyarakat, yaitu yang tinggal di desa dan yang tinggal di kota. 

Suku bangsa Jawa mempunyai dasar kebudayaan yang juga hampir-¬hampir serupa dengan suku-suku bangsa lainnya dalam rumpun Melayu. Kebudayaan Jawa, termasuk kebudayaan Bali dalam perkembangan sejarah mengambil banyak pengaruh dari masa kolonial. Sifat-sifat yang berasal dari kebudayaan Jawa asli oleh Koentjaraningrat disebut sebagai mentalitas petani ’agricultural urban’.

Mentalitas ini digambarkan sebagai sikap yang menganggap hidup didunia ini sebagai buruk-jahat, penuh dosa, penuh keseng¬saraan, penuh kesalahan. Menurut kepercayaan agama dan kebudayaan Hindu di Bali bahwa lahir ke dunia ini yang disebut dengan ’reinkarnasi / punarbhawa / samsara’ merupakan kelahiran untuk menebus dosa-dosa pada kehidupan terdahulu (menjalankan Karmaphala / Karma Wasana).  Tidak berarti bahwa manusia harus begitu saja menyerah kepada nasib tanpa usaha apapun, bahkan sebaliknya orang harus mengakui adanya dosa didunia ini serta berusaha untuk bersikap baik dan jujur. Lebih-lebih manusia harus prihatin, yaitu suatu sikap jiwa yang mengutamakan kesabaran dan yang mem¬punyai kekuatan untuk menanggung bermacam-macam penderitaan. Petani-petani Jawa, termasuk petani Bali (petani gurem, petani tanpa lahan / penandu / pecatu) baleh dikatakan hanya hidup untuk hari ini, ia terlalu miskin untuk memikirkan hari esok, apalagi untuk merencanakan masa depan yang lebih jauh. 

Walaupun demikian ia tidak takut terhadap bencana-bencana alam, karena ia selalu dapat mengharapkan datangnya bantuan dari para tetangganya. 

Sistim gotong-royong penting baginya dan oleh sebab itu ia harus selalu memelihara adanya hubungan baik dengan mereka. Maka mudah dimengerti bahwa sedikit adanya semacam perjuangan pribadi dalam tata susunan masyarakat seperti ini, Perasaan “kita” sebagai kesatuan mewarnai hampir semua segi-segi relasi antara individu bahkan keluar melewati batas-batas daripada extended family. Sifat ramah tamah sebagai tuan rumah dihargai sekali, bilamana datang seorang asing kesatu desa misalnya ia akan disuguhi segelas air teh ataupun kopi dan malahan ada yang menawarkan untuk makan bersama walaupun dia sendiri belum masak dan makan (Ngiring Simpang, Ngiring Ngajeng ?) dll sapaan yang sangat akrab dan familier, ketulusan sikap menyama braya). Sekumpulan sifat-sifat lain didapatkan dari masyarakat feodal dan masa kolonial. Kebanyakan orang yang tidak termasuk golongan petani adalah pegawai-pegawai negeri serta keturunannya, masyarakat dari golongan ini disebut priyayi dan terdapat banyak dikota-kota dimana terdapat pusat dari aparatur pemerintahan. 

Mentalitas priyayi mudah dipelajari dengan latar belakang masyarakat feodal yang pada jaman pre-kolonial, pada waktu mana pulau Jawa, Bali dan daerah lainnya di Indonesia ini masih diperintah oleh raja-raja. Disini hubungan antara manusia diatur berdasarkan nilai-nilai feodal. Tingkah laku manusia berorientasi kepada mereka yang berkuasa, pemimpin-pemimpin, orang-orang tua, serta mereka-mereka dengan kedudukan yang lebih tinggi. Hal ini tercermin pada bahasanya, yang mempunyai berbagai tingkatan (bhasa basita, halus, ngoko, kromo madya, krama inggil). Mudah pula dapat ditarik kesimpulan bahwa pada masyarakat macam ini terdapat komunikasi satu arah. 

Otoritas adalah sesuatu yang bersifat mutlak dan tak dapat diganggu gugat. Kemudian sedikit mengenai pertumbuhan masyarakat pada famili¬-famili Jawa, Bali dan daerah lainnya. Anak kecil sehari-harinya berpakaian minimal dan ham¬pir-hampir telanjang. Total training terjadi berangsur-angsur dengan disertai sedikit cara-cara pemberian hukuman. Sampai dengan umur 3 tahun seorang anak ditimang-timang dan dipuji-puji, setelah masa tersebut ia diharapkan secara berangsur-angsur menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Cara-cara membimbing, mengajar serta menegakkan disiplin dilakukan dengan bentakan-bentakan, hu¬kuman-hukuman badan serta membandingkan dengan saudara¬-saudaranya yang lebih superior ataupun anak-anak yang lain lebih maju untuk menumbuhkan rasa bangga. Cara lainnya adalah dengan menakuti si anak dengan setan-setan, roh-roh jahat, hantu-hantu, mitos-mitos (na … ada leak ?) yang menakutkan ataupun orang-orang asing yang belum dikenal. Akibat yang sangat merugikan adalah antara lain rasamalu diantara kebanyakan anak¬-anak petani, mereka acapkali takut menghadapi orang-orang yang masih asing baginya, dan lambat sekali dalam menjalin hubungan-¬hubungan dengan individu-individu diluar lingkungan keluarganya sendiri. 

Kemudian bila si anak bertambah menjadi lebih besar, secara bertingkat meluas hubungan sosialnya, dan diwaktu yang bersamaan pula ia mencoba menyesuaikan dirinya dengan realitas-realitas sosial, serta membentuk suatu pola tingkah laku yang sesuai dengan nila-¬nilai sosial yang berlaku. Anak-anak perempuan diberi tambahan tanggung jawab dalam urusan rumah tangga seperti memasak, menumbuk padi, mengasuh adik-adiknya, sedangkah anak laki-laki membantu usaha-usaha pertanian orangtuanya. Banyak anak laki-laki maupun perempuan bekerja diluar rumahnya sebagai penggembala kerbau, sapi, kambing atau bebek. Pendidikan sekolah dianggap penting juga oleh beberapa orangtua, untuk itu mereka berusaha menyekolahkan anak-anaknya pada usia 8, 9 atau 10 tahun, walaupun kemudian sebagai akibatnya beberapa orangtua meng¬hadapi kesulitan-kesulitan berupa penolakan anaknya untuk bekerja sebagai petani setelah sekolahnya selesai. 

Selama masa transisi pada usia remaja tidak selalu dilakukan usaha-usaha dalam pendidikan seks. Orang-orang tua selalu berusaha menghindari pembicaraan mengenai bidang seks dihadapan anak-¬anaknya. Hubungan seks sebelum kawin dilarang keras. Cara-cara untuk mengendalikan tingkah laku sexual para remaja diatur dengan mengadakan pemisahan antara golongan-golongan seks yang ber¬lawanan, dan pula cara mengawal gadis-gadis kalau bepergian. 

Para remaja putra (Daha teruna) mengadakan pergaulan dengan remaja putri (daha teruni) se¬kolah, didalam rombongan-rombongan penuai padi dan juga pesta-¬pesta hari-hari raya, membuat bazar bersama disetiap komunitas masing-masing (Banjar=Bali). Biasanya diharapkan bahwa gadis-gadis masih suci atau perawan pada waktu sebelum perkawinan, akan tetapi per¬temuan-pertemuan gelap antara seks yang berlawanan dan hubungan seks sebelum perkawinan kadang-kadangpun masih terjadi. Seorang gadis yang hamil sebelum kawin menyebabkan timbulnya rasa malu pada keluarganya, tetapi tidak dilakukan usaha-usaha pengguguran karena hal tersebut memberikan rasa malu yang lebih besar. Biasanya cara penyelesaiannya ditempuh dengan memaksa si jejaka mengawini si gadis sebelum kehamilan ini juga dilihat oleh lingkungannya. Pendidikan anak-anak Jawa, Bali dan daerah lainnya mengambil insipirasi dari aspek-aspek etik dan religik, wayang, dan hal ini berlaku bagi didesa maupun dikota. Pahlawan-pahlawan atau wiracarita dari cerita wayang biasanya menjadi model yang diakui bagi kepribadian sianak. Anak dapat mengambil pelajaran serta contoh-contoh pola tingkah laku dan model-model dalam pewayangan ini, melalui cara ini ia akan berorientasi kedunia luar.  Menurut wiracarita Ramayana dan Mahabharata yang dilakonkan melalui pewayangan tidak lain untuk menyimbolkan nilai-nilai tokoh pewayangan yang merupakan titisan dari para dewa seperti Ramadewa, Laksmana dalam Wiracarita Ramayana serta Panca Pandawa dalam Mahabharata sebagai kekuatan Daiwa Sampad (perbuatan kebajikan – panengen) dan titisan dari para raksasa seperti Rahwana, Si Surpakanaka serta Seratus Kaurawa sebagai kekuatan Asuri Sampad (perbuatan kebatilan – pangiwa).

Tokoh-tokoh wayang memberikan kepada si anak suatu variasi yang cukup luas tentang contoh-contoh kepribadian dan hal ini diya¬kininya akan disetujui oleh masyarakat Jawa dimanapun, karena se¬mua tokoh-tokoh pahlawan dalam wayang ini dihormati, seperti Arju¬na, Werkudara / Bima dan Yudistira / Dharmawangsa, maka baik anak yang berbadan besar, aktif tetapi mempunyai kesulitan dalam berbicara dan anak yang berbadan kecil serta introspektif, kedua-duanya mempunyai cara-cara yang dapat diterima, dimana kepribadian dan bentuk jasmaniahnya dapat tumbuh serta berkembang tanpa banyak menderita tekanan-tekanan pada jiwanya. Daya tariknya yang besar dari Arjuna mem¬berikan suatu rasa kepercayaan diri pada anak yang bertubuhkembang  dan suatu kepastian bahwa ia tidak akan menderita dalam persaingan sosio-seksual sehari-harinya. Anak yang mempunyai bakat untuk berbicara didepan umum dan bakat berpolitik, mempunyai tokoh Kresna sebagai model identifikasinya. Anak laki-Iaki yang mem¬punyai bakat dalam bidang kegiatan intellektuil dan meditasi dapat mengambil model identifikasi tokoh Yudistira/Dharmawangsa, sedangkan mereka yang bertemperamen tinggi dan berani mengambil Baladewa sebagai tokoh kesombongan serta ketinggian hati digambarkan dalam diri to¬koh Karna. Gadis-gadis muda memperoleh tauladan dari Sumbadra seorang tokoh wayang wanita yang baik hati serta menarik, sedang mereka yang mencari peranan lebih aktif dan giat mempunyai contoh dalam diri Srikandi yang energik. Dapatlah disimpulkan bahwa wayang memberi satu rangkaian variasi yang besar mengenai model-¬model identifikasi untuk suatu kontras sosial dan tipe psikologik yang luas. Dengan kata lain sebetulnya diajarkan perlunya toleransi, yang kemudian dipelihara oleh suatu mitologi, berbagai informasi dan telah menggenangi seluruh tradisi Jawa & Bali. Tetapi tak berarti bahwa hal, tersebut telah merupakan satu sifat dasar orang Jawa & Bali, melainkan lebih mempunyai hubungan strukturil dengan tata sosial baik yang statis maupun tradisionil, serta penyerapan wayang sebagai sumber religius, moral dan falsafah. 

Kebutuhan dan problematik remaja didesa semakin timbul pengertian akan perlunya lembaga pendidikan berupa sekolah, dari pihak kaum remaja. maupun orang tuanya. Sekolah ini bukan¬nya dipandang periu dari segi kegunaannya dalam bentuk pekerjaan mereka yang berbentuk pertanian, akan tetapi lebih dianggap sebagai lambang status yang mengekspresikan nilai-nilai priyayi yang juga menginfiltrasi sistim tata nilai petani. Program pen¬didikan didesa yang lambat dalam perkembangannya, dan acapkali tidak ditingkatkan kepada kebutuhan praktis para remaja didesa, ditambah dengan persoalan kelebihan penduduk (overpopulation), berakibat bertambahnya daya tarik pindah kekota-kota. Sedang¬kan kota-kota yang telah penuh dengan beban-beban berupa pe¬ngangguran, kekurangan perumahan dan sebagainya mengakibatkan timbulnya suatu rasa proletar yang semakin besar jumlahnya, sehingga semakin bertambahlah beban pemikiran pemerintah se-tempat. 

Kebutuhan dan problematik remaja dikota komunikasi masa yang modern, perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang cepat mendorong kearah perubahan-perubahan dalam hubungan sosial. Hancurnya nilai-nilai tradisionil, pola tingkah laku tradisional serta tumbuhnya rasa kebebasan yang baru, serta kemungkinan-kemung¬kinan yang begitu luas pilihannya, diberikan oleh masyarakat yang makmur; semuanya ini telah membuat kabur bentuk-bentuk kepribadian, dan harus diatasi oleh para pria dan wanita yang muda. Sebagian daripada krisis kaum remaja masa kini, adalah akibat daripada kesulitan dan kesukaran mereka dalam mendapat¬kan identitas kepribadiannya mereka tidak mengambil lagi contoh model yang tradisional, tetapi model berdasarkan pilihannya sendiri tanpa adanya pedoman-pedoman. 

Walaupun demikian beberapa bentuk nilai-nilai tradisional masih tampak terdapat pada remaja-remajanya yang modern. 

Setyonegoro K, dalam meninjau masalah remaja di Tanah Air menekankan pentingnya dinamik interpersonal dan sosial dalam struktur keluarga. Struktur keluarga yang banyak dijumpai ada¬lah dari tipe keluarga gabungan (joint) atau bercabang (extended) semakin kearah desa (rural) orientasi suatu keluarga. Agaknya keluarga-keluarga keturunan Cina adalah yang paling extended, tidak jarang diketemukan sejumlah besar relasi keluarga yang tinggal dibawah satu atap. Hal ini didapatkan pula pada keturunan Arab dan pada mereka yang berasal dari keluarga yang berhubungan dengan kaum ningrat didaerah. Oleh karena itu biasanya setiap persoalan mengenai salah satu individu dalam kelompok itu di¬jadikan persoalan atau affair bagi keluarga bersangkutan. 

Remaja yang modern dan terdidik seringkali mengalami kesukaran-kesukaran yang besar dalam memadukan pan-dangan-pandangan yang dipelajarinya disekolah dan tradisi-tradisi yang berlaku dirumah. Dikota-kota tampak lambat laun adanya pergeseran kearah terbentuknya lebih banyak keluarga inti (nuclear families) walaupun adanya ikatan-ikatan yang kuat dengan saudara, keponakan-keponakan dan nenek masih dipertahankan. 
PROBLEMATIK MASYARAKAT YANG MEMERLUKAN PENCERAHAN

Dalam kebanyakan hal maka tingkah laku masyarakat khususnya kaum remaja yang men¬cemaskan serta mengkuatirkan, dalam waktu yang berikutnya cenderung untuk berubah dan membaik, berdasarkan nilai-nilai orang dewasa, dengan sendirinya tanpa intervensi. Walaupun demi¬kian halnya, cara mendiamkan saja tidak merupakan cara peme¬cahan yang terbaik pada berbagai kasus-kasus. Apabila tingkah laku remaja bertendensi destruktif terhadap dirinya maupun sekitarnya, serta diulangi berkali-kali, atau bersifat khronis-menahun (ber¬langsung beberapa hari atau minggu dan tidak 1 – 2 hari atau jam saja) maka diperlukan adanya suatu pertimbangan serius mengenai perlu tidaknya dicarinya bantuan profesional. 

Gangguan-gangguan kelakuan yang bersifat sementara tidak memerlukan pertolongan profesional, tetapi cukup diberikan pe¬ngertian dari pihak orang tuanya. 

Berikut ini adalah beberapa contoh daripada perangai tingkah¬laku remaja yang mungkin membutuhkan pertolongan professional : 

1) Kejadian yang berulang-kali daripada tingkah laku delikwen (tingkah laku melanggar hukum) seperti: mencuri, perusakan, menyerang orang lain, pemakaian berulangkali serta berlebihan dari alkohol ataupun obat-obatan (drugs, psikotropika, narkoba, dll).

2) Tingkah laku seksual yang terbuka yang berulangkali, serta dapat menimbulkan persoalan sosial atau hukum, misalnya : kehamilan, kelainan seks (bisex, homosex, heterosex), prostitusi yang berakibat terjangkitnya penyakit sosial HIV-Aids dan sebagainya. 

3) Prestasi sekolah yang secara terus menerus rendah pada individu yang sebenarnya mempunyai kapasitas yang baik. 

4) Gangguan keadaan effektif yang terus menerus atau berulang-ulang : seperti renungan tentang bunuh diri, depressi, kesedihan, tangisan, insomnia, anorexia, kehilangan gairah kerja, rasa tidak berdaya dan sebagainya. 

5) Episode yang berlarut-larut atau berulang-ulang dari suatu bentuk penarikan diri yang mula-mula tidak khas isolasi dari famili atau teman-teman dengan produktivitas yang menurun, antara lain prestasi sekolah yang buruk, perhatian yang ber¬kurang dalam aktivitas-aktivitas sosial, jumlah waktu yang bertambah guna menyendiri atau preokupasi yang nyata atau lamunan-lamunan. 

6) Tanda-tanda adanya gejala-gejala mental emosional yang aneh seperti: halusinasi wahana kejaran, wahana penghubung dan sehagainya. 
TANTANGAN KEMANUSIAAN DAN SOSIAL KEMASYARAKATAN

Dari proses perspektif moral dan agama yang merupakan problematik kemanusiaan dan kemasyarakatan dan selanjutnya menjadi krisis hati nurani kemanusiaan dalam berbagai ragam dan corak yan bentuknya berupa : tindakan kekerasan yang berkepanjangan ‘anarkhisme’, perilaku sosial yang menyimpang yang semakin lama menjadi ‘budaya’, sehingga proses penghancuran diri dalam satu bentuk keluarannya berupa upaya bunuh diri, merupakan penggambaran dari masalah besar dari sebuah fenomena ‘puncak gunung es’ dari persoalan besar kemasyarakatan yang berada dibawahnya.

Dari perpektif sosial budaya dan agama, tantangan kemanusiaan dan kemasyarakatan dalam wujudnya semakin nyata bagi masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat Bali pada khususnya ‘personal and social self destruction’, keinginan bunuh diri patut diduga factor pemicunya seperti yang disebutkan diatas.

Masyarakat semakin kehilangan panutan dan acuan moral keagamaan, rasa keagamaan sebagai akibat dari sebuah proses anomaly yang berlangsung dalam masyarakat kita di Bali sebagai akibat masyarakat terlalu berharap banyak terhadap keadaan yang unpredictable. Demikian juga masyarakat di dalam mengisi kehidupan ini pada era globalisasi yang tantangan dan ketidak menentunya ekonomi Negara ‘jobless’, proses reformasi yang tidak menentu diluar daya nalar masyarakat, dan bahkan sering menimbulkan perasaan kekecewaan yang mendalam. Dan ini semua berbuntut menjadikan masyarakat terasing di daerahnya sendiri karena  kesenjangan di berbagai aspek kehidupan sangat menonjol.

Didalam Kitab Susastra baik Nitisastra, Slokantara, Bhagavad Gita, Manawa Dharmasastra, Ketusin Catur Yuga, Roga Sangara Bhumi, Widhi Sastra, Wiksu Pungu dll, telah menyebutkan bahwa saat ini adalah jaman Kaliyuga dimana manusia lebih mengedepankan materi ’artha’ (kebendaan – keduniawian) dibandingkan dengan perbuatan dharma (spiritual – surgawi) dalam Catur Purusartha (Dharma, Artha, Kama dan Moksa)  
BUNUH DIRI DARI PERPEKTIF SUSASTRA AGAMA HINDU DI BALI

Sesuai dengan beberapa Lontar Susastra Agama Hindu di Bali ‘Sastra Yama Purana Tatwa’ menyebutkan bahwa akibat perbuatan bunuh diri secara agama Hindu di Bali sangat dilarang dan diharamkan. Itu tercermin dari kajian beberapa susastra lontar yang menyebutkan bahwa bagi mereka yang melakukan bunuh diri dengan cara apapun baik ‘salah pati & ngulah pati’ akan mendapatkan akibat perlakuan yang buruk bagi jasad yang melakukan tersebut dan roh / atmanya tidak akan diterima serta tidak mendapatkan tempat yang layak di alam baka atau memasuki ruang kawah chandra gohmuka (Neraka).

Dan yang lebih memprihatinkan bagi keluarga yang ditinggalkan dan tempat dimana ditempat kejadian (TKP) bunuh diri tersebut akan menjadi kawasan kedurmaggalan (suatu kejadian akibat suasana disharmoni ‘leteh’ / ‘karang kepanesan’) yang  mengakibatkan bagi keluarga akan menanggung rasa malu yang luar biasa dan membutuhkan biaya penyucian ‘pamrayascita kedurmanggalan’ yang tidak sedikit.

Pengertian Salah Pati dimana kematian yang tak terduga-duga atau kematian yang tidak dikehendaki, sedangkan Ngulah Pati karena kematian karena mengambil jalan sesat, jalan pintas serta sengaja dikehendaki dan bertentangan dengan ajaran agama Hindu.

Jenis Salah Pati seperti tertabrak kendaraan, mati jatuh (kerubuh bhaya), mati ketekuk (kastha bhaya), mati diterkam binatang buas (harimau, buaya dll), ditanduk banteng, terkena petir, kejatuhan tanah longsor dsb., sedangkan Ngulah Pati antara lain mati meracun diri, gantung diri, menembak diri, menceburkan diri, menusuk diri dll.

Petikan lontar yang dimasud dalam kaitan tatacara Pitra Yajna secara umum dan khusus mengenai tindakan bunuh diri ‘ngulah pati dan salah pati’  secara lengkap (tidak diterjemahkan secara utuh namun telah disarikan) :

’Om Awighnam Astu ! Iti Sastra Yama Purana Tatwa, ngaran, /  Indik sakramaning wwang mati mapendhem, ….. Muwah iti Uma Tatwa, pawarah Bhatari Uma Dewi, / Munggwing sastra, ri sedheng Bhatari Uma malingga, / Ring Kahyangan Dalem Panguluning Setra Agung, / Ling Bhatari Uma, “Ritatkala rawuh Kaliyuga Bhumi, / Gring sasab marana, makweh wwang mati, ………………. Yan wwang sudosa mati sakawangsanya, / Tka wenang nganti sengkernya dadi maprateka, / Yaning wwang ngulah pati, / Sengkernya 11 tahun, wenang prateka, / Yan dudu mangulah pati, matmahan sinangkala, / Kawase pjah, mapa lwirnya : sininghating kbo sapi, / Tiba mamenek, salwring mati kapangawan, / Padha 3 tahun sengkernya, / Yan lalung sengkernya, tan wenang hentasen, / Haywa murug linging sastra iki, / Rusak ikang bhumi, sang Prabu Pralaya, / Sang Panditha sudosa, / …..  Iti Sastra Yama Purwwana Tatwa, / Sedheng Bhatari Durgga ring gaganantara, / Ngaksi atma sangsara ring kawah agni, / Malinggod bhawa Bhetari, / Marupa SangHyang Yamapati, / Ngamel hale heyuning atma, / Waneh ring Yamaloka, mantuking panti bhumi, / Dadi Bhatari Uma Dewi, / Ring sedheng sira malinggih ring Setra Agung, / Maraga Bhatari Durgga Dewi, / Mangke cinarita Padandha Alapa Ender / Jumujug maring Iinggih Bhatari, / Dadi kagyat Paduka Bhatari, / ……….

Om Awighnam – astu. / Iti Widhisastra, saking nithi Padhanda Wawu Rawuh, / Indiking wwang mati, / ………. Iti Widhissastra, nga; saking niti Bhatara Mahadewa, / Jumeneng ring Kahyangan ring Basukih, / Tumut Bhatara Manik Gumawang, / Jumeneng ring Kahyangan Watumadheg ring Basukih, / Mwah Bhatara Ghnijaya, / Malingga ring Kahyangan Giri Lampuyang. / Tumut Bhatara Jayaningrat. / Jumeneng ring Giri Beratan, / Maka miwah Bhatara ring Pejeng, / Sira Bhatare Manik Galang, / Ling Bhatara Mahadewa, “Uduh anak mami dewata kabeh, / Rengo pawarah mami den pahenak, / Tata kramaning bhumi Bali, / Pati huriping manusa kabeh,/ ………. Ne wenang mapendehem salwiring wwang salah pati, / Mati kapangawan, wwang kneng gring agung, / ………. Iti Widhisastra, saking niti Bhatara Manik Gumawang, / Jumeneng ring Kahyangan Watumadheg ring Basukih, / ling Bhatara, “Udhuh sang ratu Bali, / Hana pawarah mami munggwing haji, / Krama kepayaning wwang, / Haywa mendhem sawa ring ksithi, liwaran ring satahun, / Yan hana wawu satahun, prateka juga wenang, / Rahayu ikang rat, yan lwaring satahun, / Yanya 2 tahun, 3 tahun, / Winastu de Bhatara Yama, / Dadi mawak Bhuta Atmanya, / Sah sangkeng Aweci Bhuta ika, / Ngranjing ring manusa loka, / Angadakaken gring sasab marana, / Amati-mati wwang sadesa-desa, / Tan papgatan wwang agring agung sabhumi nira, / Muksah Bhatara ring Basukih, / Mantuk maring gunung Mahameru. / Tan suka mahyang ring Nagara Bali, / Reh Nagara Bali dahating letuh, Kasusupan Bhuta, / Mangke wenang sang Haji Bali, / Kon amreteka wwang mati de age, / Aja sira nganti liwaring satahun, / Mangkana ling Bhatara munggwing sastra. / Muwah hana ling Bhatara samuha ring Basukih, / Tingkahing wwang mati mapendhem, / Mala kapatyan nga, / Yan hana mrateka wenang ring setra juga prateka, / Tawulan wangke ika dulurana sawa karesyan, / Tan wenang prateka ring Desa Pakraman, / Letuh ikang bhumi, / Haywa sira sang aji Bali amurug ling sastra iki, / Tan wandya kna upadrawa sang aji Bali, / Tkeng sang angentas, de Bhatara Basukih. Tlas. / 

Om Awighnam-astu, lti Yama Tatwa, nga, / Udhuh sang kretta diksita ring Madhyapada, / Hana pawarah mami ring sang Pandhita, / Ri kala kapatyaning wwang ring Madhyapada, / Ritatkalaning wwang mrateka sawa, / ………. Nihan Niti Sastra, / Wnang katama de nira Sang Sidhanta Brata kina-kina, / Tingkahing wwang mati mapendhem. / Haywa Sang pandhita nugraha, / Mwang sang rat yan hana wwang mati mapendhem,/ Yan durung hana satahun sengkernya, / Yan prateka sawa ika, / Tan siddha hentas, / Apan muliheng garbhan sang ibhu prettiwi, / Sang mati saksat mulih rare, / Munggwing ironing gharbha./ Ya tika kalane nganti sengkernya matu,/ Mangkana tatwanya. / Yan hane Pandhita murug tinging sastra iki. / Dudu Pandhlta ika, wiku dusta ngaran, / Arnatenin bhumi ika, / Ri tkaning kapatyanya, / Papa tan pasengker wiku mangkana, / Mwah wwang mati mapendhem, salawase adasa tahun, / Yan prateka tan pakaryya, / Tan siddha kna hentas atma ika, / Muwah wwang mati mapendhem, / Ne tan salah pati, wahu satahun ika wnang prateka, / Yan liwar kadi sahika, / Phalanya atma ika dadi kdukaning kawah, / Tumitis andadi bragala, dadi wgang, / Manigit pari, sarwwa tinandur kamaranan, / Gring makweh, mangkana kramanya, / ………. Iki hana panugrahan nira Sang Hyang Swamandala, / Ndi Sang Hyang Swamandala?, / Sira Bhatara Surya Candra, / Bhatara Arddanareswari ye, / Kalama de sang Sidhanla brala kina-kina, / Munggwing haji, / T ata kramaning wwang mati mapendhem, / Tan hana sengkemya, dadi prateka sakama-kama, / Gelaren pangentas karihin, / Ikang sawa wawu mapendhem, kramaning amendhem, ………. Iti Yama Purwwana Tatwa, ngaran;/ Saking Niti Bhatari Gayatri, / Katama de Sang Adhaka kina-kina, / Ri tatkalaning wwang sahananya, / Adruwe sawa mapendhern, / Madruwe wwang rare sdeng ligang sasih panamayanya, / Haywa makaryaken ageng, / Kewala gawenen sambutan labuh, / Muwah jajanganan, mangkana pajati ring wwang mati, / Muwah tata kramaning dadi wwang; / ……….

Om Awighnam-Astu. Nihan Catur Pataka, ngaran ; / Lwirnya, ndya ta : ya Sang Brahmana pati pataka, / 10 tahun, wnang wangunen,/ Yanlng Ksatriya, pati pataka, / 12 tahun wnang wangunen, / Yaning Walsya pati pataka,/ 15 tahun wnang wangunen,/ Ya nora Sudra pati pataka. / 25 tahun wnang wangunen, / Yan nora sengke Ika yusanye, / Ika ten wnang wangunen, / Saupakaraning mati bener,/ Yan makdwa lewih patakaning wwang mangkana, / Tken  sang menglakonin karyya,/  ………. Nyan muwah yan anggawa lara kapejahanya, / Lwiring pati salah pati, / Ika tan wnang upakara kadi nguni, / Sawulat-wulataning mati bener, / Wnang tibaken ring Sang Hyang Prattiwi, / Apan sira ulih Sang Hyang Ibhu Prattiwi, / Irika pwa sira mayoga, 3 tahun laminya, / Irika pwa sira kumingkin, saupakaraning mati, / 

Tingkah kadi lagi, / De sang humarepaken sang mati, / Mwang yan purugen, / Sang angentas ginrek de sang Kingkarabala, / Katureng Sang Yamadipati,/ Tinibeng kawah tambraghomuka, / Pinaka hentiping kawah. / Sang humentas pinaka patabeh, / Apan sira tan manon hala hayuning bhuwana, / Anjanma pwa sira wkasan. / Ring santana pratisantana nira, / Mijil pwa sira asuku tunggal, / Asuku tlu, dempet, darih. deyog, / Rumpuh, timpeng, perit. picek, wuta, / Tuli, hudug, basur, abong, gondhong, punuk, / Sakalwiraning papa klesa katemwa denya manusa, / Maharis tikang rat, / Bubur salawur salah ukur ikang rat bhuwana kabeh, / Hudan salah tiba, masanya. / Uler makweh, tikus mwang walang,/ Amangan pari, mangkana kramanya, / Nihan tingkahing Silagama catur cuntaka, / Ndya ta lwirnya? / Yan patakaning stri anggawa manik pjah, / Mwang madruwe putra pjah, ibhunya pjah, / Sapasar pjah, nora Iiwar sapuluh wengi, / Limang dina pjah, yan tan wetu rare ikanang pendhem, / Yan sampun kinardhi, aja amendhem yan tan kinardhi, ………. Nihan tingkahing patakaning wwang salah pati, / Helingakna de sang Bhujangga ujar ring Haji, / Yan hana mati apahkrama ngaranya, / 

Wwang sudra ngrabyani Brahmana, / Angrabining Ksatriya, / Angrapyaning Weisya, / Yan hana wwang Sudra kadi sahika, / Kadi hinucaping harep,lewih candhalanya, / Mwah yan angrabining Pangeran,/ Mwang ibhunya, nini, anak, mwang ring sanak tmen, / Salawase tan wnang upakara, mwang hentasen, /  Mwah van hana wwang salah pati, / Mati malabuh her, mati akendhat, / Salwiring mati kapangawan, / Makadi wwang gring agung, / Salwire kang tumuwuh, / Karaketan dening reged wwang candhala, / Sahiku, patunggalanya, kadi inucaping harep, / Rika ritkaning wnang winangun, / Wnang mapanebusan, / Mwah yan mati sininghating banteng, / Sinambering glap, mati tiba mamenek, / Mati tiben hembidan, mati kareming toya, / Mati sinawuting ula, mati pinangan iwak,/  Sahika mati salah pati, ngaran, / Kawenanganya kaya munggwing harep, / Mwah yan mati maperang,/ Sahika nggawe patinya, ngaran, / Tan wnang pendhem Ika,/ Wnang kinaryakna hante, / Saluhuring hulunati panjangnya, / Rinajah hante ika kayeki, : / Ang, Ang, Ang, mwah ring tengen, Ung, / Ang ring harep, ring kiwa, / Mang, ring harep, / Yan sampun mangkana, humarekna adasa dina, / Yan nora mtu wnang pendhem, / Norana bhaya sangkalanya, / Helem nya yan amreteka wwang kocaping harep, / Nghing sakadi pratekaning panebusan, / Nghing panginggwanya tan wnang bhaksanen, / Mapan wwang mati letuh, kabebeng aprang ngaranya, / Upamanya kadi antiga samuwuk, / Iku antiga tan pamanik, ngaran, / Hujar hala tan parupa, ika helingakna, / Aja murug linging Haji Silagama Catur Pataka, / Yan hana Brahmana nugraha, / Angupakara wwang mati kadi kocaping harep, / Dhandha sang anugraha, / Wnang maprayascitta,/ Mawanawasa 30 dina maring gunung, / 15 dina ring sagara, / Yan sang ratu nugraha wwang mati mangkana, / Kadi hinucap ring harep, / Wnang sira samadi dewa 110 dina,/ Mwang prayascitta ring hajeng padewahara, / Winastu de dhangascaryya purohita, /  Yan nora sahika kadi hucaping harep, / Cemer satata sang anugraha, / Mwah sahulyaning margganing pratingkahing mendhem,/ Yan nora manuting sengkernya, yaning prateka, / Sakwehing prateka tan prasiddha, / Tkeng angupakara ika, / Tan prasiddha dlaha, anmumwah andadi janma, / Sakwehing mala den sandhang, / Alpha patinya, dlaha wwang mangkana, / Tan wandhya rug ikang andha bhuwana, / Bahur ikang rat, / Age pinahayu, dening atabuh gentuh, / Mwang panca sanak agung, / Mangkana kajaring haji, /  ……….

………. Mametwa salah pati, / Mwang uttama, makadinya madhya, mwang nista, / Pjah asuduk sarira, mati magantung, / Pjah malabuh parung mati kareming wwai,/ Pjah gring hila agung, mati tiba mamenek, / Salwiraning salah pati. / Kang wwang uttama, tkaning madhya, mwang nistha,/ Panggawesaning wwang apahkrama, / Ikang handap dadi aluhur, ikang aluhur dadi sor, / Angaduha padha ne lumaku, / Sang ratu nora amagehaken makertti ring rat, / Makadi para Bhagawantha, / Long puja pangastutinya ring para Hyang, / Wong pada amurug ndatan bhakti matwan, / Mwang tan bhakti maguru, / Kewala wong uttama madhya nistha, / Makaryya nghulah sakala, / Niskala norana gawenya,/ Kewala nghulah sakala, / Mungpung kalegheng bhuddhi, / Kang tan kawnang wnangaken, / Tan kang kawnang anggonen-anggonen, / Sarna timpang palakwanya, timpang pangucapnya, / Sahika karananing mtu panawadyanlng tan patut,/ Mtu mawlcara, karananlng tan hanut mapakadhangan, / Makadi tan hanut asanak anak aputu, /  Pratitahnya prasama mangungsi, /  Kewalya hanak, ring lalabhahan sakala, / Nora manyisti ring niskala, / Akweh Wwang anranjana, / Maluhur-luhuran manah, phoraka bhangga, / Apan ika kabeh kasusupan dening bhuta kapiragan Pati bhaksa-bhaksain, / Sahika kojaranya ring Silagema Catur Patake, / Yan magawe hala, tan wangdhya tiba ring kawah aweci, / Yan magawe kertti hayu, / Tan wangdhya tiba ring swargga, / Mangke yan hana karep ira sang ratu, / Mwang sang Pandhitta, / Manepetaken kerttining rat, / Ring sampun wus kacihnan mangkana, / Wnang wangunakna samadhi prayascitta ning rat, / Makadi pamarisuddhaning jagat, / Asing katiben kadi kocaping harep, / Haywa hima-hima denira sang maharep akertti ring rat, / Sakala niskala, pagehakna de sang Prabhu maka tedunging rat, / Makadi sang para sadhaka makabehan, / Nghing yan nora pinahayu samangkana, / Tan wangdhya rugrag ikang rat salawase, / Mawetwa sayan padha angungsi unggon, / Malakwa sapara-paranya, / Sahananing wwang tan hana wruha ring jatinya, / Mangkana kajaring Haji Silagama. / ……….

Berdasarkan kajian sastra-sastra agama Hindu di Bali diatas, khususnya beberapa lontar tentang bunuh diri ‘salah pati dan ngulah pati’ masih sulit di mengerti oleh masyarakat awam pada umumnya maka, melalui Pesamuhan Agung Para Sulinggih dan Walaka di Campuhan Ubud, tertanggal 21 Oktober 1961 telah memutuskan bahwa bagi orang mati salah pati dan ngulah pati di upacarai seperti orang mati bener (biasa/wajar) dan ditambah dengan penebusan serta diupacarai di Setra (Kuburan) dan Tunon (Tempat Pembakaran jenasah / Crematorium).

Pelaksanaan Upacara & Upakara bagi setiap orang yang meninggal harus diuparai sesuai dengan ajaran sastra agama Hindu, namun khusus untuk yang ngulah pati  ‘bunuh diri’  upakaranya ditambah dengan banten pengulapan di tempat kejadian, perempatan / pertigaan jalan, dan cangkem setra / jalan masuk menuju setra ‘kuburan’ , dan banten pengulapannya dipersatukan dengan jenasahnya baik mependem maupun atiwa-tiwa ‘dikubur’. Dan inipun juga harus disesuaikan dengan kesepakatan yang berlaku di Desa Pekraman setempat berupa Awig-Awig, Perarem serta Hasil Rembug para pangelingsir / sesepuh Desa Pekraman berdasarkan Sastra Dresta (Ajaran agama Hindu di Bali), Kuna Dresta (aturan dahulu hingga sekarang yang masih diberlakukan), Loka Dresta (aturan kekinian) dan Desa Mawa Cara (aturan yang disesuaikan dengan Desa, Kala dan Patra / ruang, waktu dan upayalaksana)

KESIMPULAN

Berangkat dari pemikiran diatas, dapat ditawarkan kepada masyarakat sebagai solusi dalam upaya penangkalan dan pencegahan  dini (preemtif) untuk bunuh diri antara lain :

1. Akibat perbuatan bunuh diri ngulah pati maupun salah pati sangat dilarang dan diharamkan oleh agama Hindu di Bali (perlu untuk merevitalisasi arti penting kajian sastra-sastra agama diatas sebagai pegangan para Sulinggih dan Cendekiawan Hindu di Bali).

2. Proses penyucian / nyomya ‘mengharmoniskan suasana’ baik keluarga maupun tempat kejadian perkara bunuh diri harus dilakukan upacara & upakara agama pamrayascita kedurmanggalan dan bagi jasadnya harus dilakukan upacara Pitra Yajna yang khusus sesuai dengan sastra-sastra agama diatas melalui Paruman / Keputusan Perangkat Desa Pekraman sesuai dengan aturan sastra agama yang diberlakukan khusus untuk itu ‘Desa mawa cara di Bali’ sesuai dengan falsafah Tri Hita Karana.

3. Untuk pencegahannya diperlukan pencerahan ajaran agama dalam proses penyadaran dharma lebih mengedepankan Catur Purusartha dijalankan sesuai dengan ajaran sastra-sastra agama yang utuh dalam mengarungi kehidupan yang bersahaja untuk mencegah ancaman, tantangan, gangguan, hambatan, persaingan, depresi dalam kehidupan ini.

4. Kehidupan sosial kemasyarakatan lebih mengedepankan konsep kasih sayang dalam kehidupan menyama braya ’paras paros sarpana ya, salunglung sabhayantaka’, dengan menggalakkan kegiatan lembaga-lembaga kebudayaan tradisionil (berkesenian dalam mewujudkan kebersamaan).

5. Konsep Tat Twam Asi dijadikan pedoman keseharian masyarakat dan umat dalam proses pergaulan dan kehidupan bermasyarakat untuk saling introspeksi.

6. Menumbuhkembangkan kehidupan yang cerdas, memiliki etos kerja yang ulet tanpa mengenal lelah sehingga memiliki daya saing sesuai kebutuhan kehidupan kekinian.

7. Ditumbuh kembangkan motto Satyam – Sivam – Sundaram (satya, jujur untuk menemukan jati diri dalam suasana kesucian 

8. Proses penyucian sukla swanitha mulai ’pertemuan kama bapa & ibu, usia bayi dalam kandungan (prenathal)’ hingga usia lanjut sesuai dengan konsep Catur Asrama yang akhirnya akan memperoleh kedamaian skala dan niskala karena akan melahirkan bayi-bayi suputra (amrestyah putrah / putra sang abadi) yang akan tangguh menghadapi godaan serta cobaan hidup di dunia ini. 

’Om Awighnam Astu ! Iti Sastra Yama Purana Tatwa, ngaran, / Indik sakramaning wwang mati mapendhem, / Yan atahun, dwang tahun, tigang tahun, /  Petang tahun, mwang salawase nora maprateka, / Yaning wawu satahun maprateka, / Tan hana wighnan Sang Hyang Hatma, /  Nanghing wwange mati bener. /  Yan Iiwaring satahun, atmanya matmahan dete, / Tonyan setre, manas ring desa – desa, / Anggawe gring, mangkana halanya, /  Mwah wwang mati mapendhem yan hana mrateka, / Haywa ngarepang mrateka tawulaning wwangke ika, /  Mwah hana pawarah Bhatara Yama, / Munggwing sastra ling Bhatara. “Uduh Sang Pandita ring janaloka, / Yan hana wwang mati samuruping ksithi dharani, / Aja sira mrateka marepang tawulane wwangke ika, / Phalanya tan prasiddha hilang ikang letuh ikang hatma, / Tan siddha kang prateka apan wwangke ika, /Mulih ring jroning garbhan Sang Hyang Ibu Prathiwi, / Waluya sampun mageseng, humawak tanah, /Saletuhing prathiwi rumaket ing wwangke ika, / Tka wenang Pandhita ngarccana hayu hatman sang kaprateka, /Mangke wnang Sang Pandhita nugraha ring manusa loka, / Anggen awak-awakan sang mati, / Siddha mulih hatmanya ring bhyoma siwa, /Amanggih hayu, mangde nirmala, / Telas saletuhing hatma, rawuhing wwangkenya, / Gawen manih pangawak sang mati, / Yaning wwangsa Brahmana, Ksatriya, Waisya, /Candana-rum inganggen pangawak sang mati, /Panjangnya salengkat ring samusti, / Wiarnya patang nari, mesi sastra Pancaksara, /Dasaksara, Ongkara mula, rwa ambheda, /Duluren upakara ring mati pakraman, / Ring desa wenang upakara, ika tan hana salah, / Mwah wwangke mapendhem ika, / Wnang gagah ring dina pabresihan-ira hesuk, /Tulang wangke ika, wasuh dening we kumkuman, /Mwang toyan kalungah nyuh sasih, / Tulang wwangke ika genahakna ring setra, /Gawene kuwu wehana dahar kasturi, /Manah pangawak adegan sang mati, /Hembanen ring setra, hulapin hatman sang mati, /Kinon mulih ring dununganya, duk kari hurip, / irika sang hatma kapratistha umawak Candana miik, /Tkaning dina patiwa-tiwanya, / Tunggalang geseng tulang wwangke ika, / Pareng ring awak-awakan sang mati, / Haywa mrateka tulang juga, / Sang mati mapendhem, / Hidhep amrateka I Bhute Cuwil, /Ngaran tulang wwangke ika, / Atmanya tan kna preteka, mangkana kojaring sastra, /Mwah yening wwang sudra mati matenem, /Majagawu nggen awak-awakan sang mati, /Kramanya tunggal kadi nguni, / Yan nora samangkana, kna upadrawa sang angentas, / De Sang Hyang Prajapati, / Mwang sang angarepin sawa, / Mwah sang pitara sang ingentas, / Wahu lumaris rawuh ring banjaran santun, /Katon dening widyadara-widyadari, / Atma rawuh merupa Cuwil, mahambu apek apengit, /Malayu watek apsara, duleg angambuning atma wawu rawuh, /Hinatur haturing Bhatara Guru, / ” Atma letuh iki rawuh “. / Teher tinundung hingineban dwara wesi, /Atma ika, klinon munggwing jurang ajrem, /Masarira dete mangrik, /Angadakang gring marana ring bhumi, / Angrusak sadesa-desa, / Angrusak sang wiku, mwang sarwa pasu, / Amati-mati wwang, emanasi bhumi, /Anggawe gring tatan papegatan, / Ngebus gumigil, anglempuyeng, / Huyang, paling, tan wnang tinamban, /Mwah Sang Pandhita, / Tkening Sang Ratu ring Madhyaloka, / Haywa murug linging sastra iki, /Phalanya rusak ika sebhumi nira, /Muwah yan hana wwang mati salah pati, /Wwang mati gring ika agung, / Ring smasana juga prateka, tawulanya juga, / Nghing yan hana sengkernya, mangkana kajaring sastra, / 
Muwah iti Uma Tatwa, pawarah Bhatari Uma Dewi, / Munggwing sastra, ri sedheng Bhatari Uma malingga, / Ring Kahyangan Dalem Panguluning Setra Agung, / Ling Bhatari Uma, “Ritatkala rawuh Kaliyuga Bhumi, / Gring sasab marana, makweh wwang mati, / Hana wangsa Brahmana, Ksatriya, Waisya, Sudra, / Mati kna gring, harep age amreteka, / Rawuh sangkalaning bhumi, sumurupaken ring prathiwi, / Yan mahyun mamreteka diglis, / Gawenan banten pajati karihin, / Wawu pinendhem, katur ring Hyang Bhatari Uma, / Mwang ring Sang Asedahan Setre, / Ring Penataran Dalem Panghulun Setre, / Ngaturang daksina 1, ajuman 3 sorah, den asangkep. / Nunas nugraha amrateka, kang sinambat, / Pukulan Bhatari Prathiwi , / Mwah Sang Asedahan Setra Agung, / Nghulun aminta nugraha ring Bhatari, / Rumaksa sawa iki saksana, / Nugraha nghulun age amreteka, / Tan panganti tahunan, nugraha atma ipun, / Tan amanggih papa narake, / Tekaning hana gawe mrateka, /  Irika nghulun anebas ring Bhatari Prathiwi, / Mwah ring sira Asedahan Setra Agung, / Nghulun aminta nugraha ring Bhatari rumaksa sawe, / Mwah ring paduka Bhatari Dalem Panguluning Ksetra Agung, / Mwah ring Sang Sedahan Sma, haywa ta padha Bhatari, / Mweng watek Bhute rumakse setre midhanda, / Ong siddhi, siddhi pamastu ni nghulun”, Tlas, / Yan mangkana kramanya, / Phalanya rahayu Sang Hyang Atma, / Tkaning sang angentas, kasubhagan, /  Mwah sang adrewe sawa, amanggih dirghayusa, / Yan nora samangkana, wenang pendhem anganti tahunan. / Mwah yaning wwang mati mapendhem, / Teher anganti tahunan, / Tan kawenang sakama-kama, alphayusa sang amreteka, / Hala kajaring sastra, / Yan wwang sudosa mati sakawangsanya, / Tka wenang nganti sengkernya dadi maprateka, / Yaning wwang ngulah pati, / Sengkernya 11 tahun, wenang prateka, / Yan dudu mangulah pati, matmahan sinangkala, / Kawase pjah, mapa lwirnya : sininghating kbo sapi, / Tiba mamenek, salwring mati kapangawan, / Padha 3 tahun sengkernya, / Yan lalung sengkernya, tan wenang hentasen, / Haywa murung linging sastra iki, / Rusak ikang bhumi, sang Prabu Pralaya, / Sang Pandihta sudosa, /   
Iti Sastra Yama Purwwana Tatwa, / Sedheng Bhatari Durgga ring gaganantara, / Ngaksi atma sangsara ring kawah agni, / Malinggod bhawa Bhetari, / Marupa SangHyang Yamapati, / Ngamel hale heyuning atma, / Waneh ring Yamaloka, mantuking panti bhumi, / Dadi Bhatari Uma Dewi, / Ring sedheng sira malinggih ring Setra Agung, / Maraga Bhatari Durgga Dewi, / Mangke cinarita Padandha Alapa Ender / Jumujug maring Iinggih Bhatari, / Dadi kagyat Paduka Bhatari, / Mangrak-mangrik, kadi singha rodra, / Agya nugela gulu nira, / Sang jumujug ring Iinggih Bhatari, / Saksana dhateng Bhatari Brahma, / Humuhuti glong Paduka Bhatari, / Inangken anak de Bhatara Brahma, / Katkan lesu glong Bhatari, / Irika sira Sang Atapa Ender, / Aminta nugraha ring Bhatari, / Kasiddhya ning ajnyana kretta siksa, / Yan mahyun anaycang suryya siddha denya,/ Mwah aminta pangilangang letuhing atma ning wwang, / Siddha molih swatgga siwa bhawana, / Irika Bhatari asiluman rupa, / Arupa Sang Hyang Yama, akrura rupa, / Tulya Rudra murtti, /  Irika Sang Hyang Yama nugraha wanra warah suksme, / Ring sang Atapa Ender, kanugraha sing pntanen, / Sahunduking amahayu sawa ika, / Yatika kalane hana sastra Yama Purwwana Tatwa, / Sampun kabyaya de sang sadhaka kina-kina, / Ring pasuruhan, mwang Balangbangan, / Katkeng bhumi Bali rajya, / Rontal iki druwen Ida Bagus Gede Wiyana, / Agrha ya ring Wanasari Sanur, / 
Iti mangkana linging sastra, / Sahaning wwang mati mapendhem, ne mati bener, / Hidhep mulih ring jroning garbhan Hyang Ibu Prathiwi, / Hidhep sampun bhasmi, / Waluya mawak tanah, yadyan hana tawulan kantan kari, / Sampun winastu de Bhatara Yama, / Mawak Bhuta Cuwil, / Ya tika kalane wenang gawenen awak-awakan sang mati, / Olih candana miik, yadyan kusaghra ngalalang, / Matulang candana, wkasan Sang Hyang Atma molih rahayu, / Rawuhing sang amreteka, / Amanggih dirgghayusa, tkaning bhumi nira, / Tananggani cuntaka titir. Tlas. / Nyan tingkahing lare, yan mawangsa Brahmana, / Ksatriya, Waisya, yan matuwuh 5 lek, / Pjah kneng gring, wehana toya penglepas lare, / Gawenen saji tarpene, gesengakna juga, / Hanyut galihnya ring sagara pramangke, / Yan nora samangkana, winastu de nira Bhatara Yama, / Dadi Shuta Anggalara, / Angadhang-adhang atma wawu rawuh, / Wkasan tumitis, tan pangidhep tutur, / Yan hana Atma rawuh, wawu wus kaprateka, / Kahadang olih rare bajang, / Tatan sapira kwehnya, / Humampel-ampel sukuning atma wawu rawuh, / Kroda watek atma, tinembung dening lajer, / Tinedhel, pinanting rare bajang ika, / Pabrengik manangis, wkasan supat, / Dumadi jadma ring madyapadha, dadi dyog, / dopang, kibih, bengkuk, perut, cedangga awaknya, / Mwah hana atma kapangguh naraka, / Munggwing alang-alang aking. / Mangob ring soring wadhuri, reges, / Katiksnan dening panasing suryya, / Manangis mangisek-isek, / Sumambe anak putunya sangkan hurip, / Lwir sabdhaning atma papa, / “Uduh anakku ring madhyapada, / Tan hena matra wlas ta ring kawitanta, / Maweh bubur, muwah we satahap. / Akweh mami madrewya anak putu, / Padha mami maweh kasukan ring setra, / Muwah drewya mami hana kagamla de ne kite. / Tan hana wwang ku mati, sira juga amisesa, / Angge sira kasukan, tan heling sira ring rama rena, / Aweh tirttha panglepas, / Jah tas mat ta kita santananku, / Wastu kita amangguh halpha yusa”, / Mangkana tmah sang atma papa, Tlas./ 
Om Awighnam – astu. / Iti Widhisastra, saking nithi Padhanda Wawu Rawuh, / Indiking wwang mati, / Sumuruping ksithi maring Setra, / Yanya durung hana satahun, / Haywa mrateka, yen kedoh amreteka, / Phalanya tan prasiddha knaingentasatmen sang pinrateka, / Anemu sangsara ikang atma, Sang Hyang Pratiwi rumaga ibhu, / Kadi rare rare umunggwing, garbhan sang ibhu, / Durung puput leknya kinon mijila, / Salah wetu ika, dosa sang angentas, / Tkaning sang amrateka, / Tan kawenang wenangaken, / Asing tumuwuh ring prathiwi, / Hana sukat leknya, / Asing tinanem hana sukat leknya, / Hantinen patuwuhanya, yan nora samangkana, / Bahur ikang rat, hiweng kang bhumi tan pahingan, / Mangkana tka halaning rat, / Muwah yen hane sawe mependhem ring setre, / Yan sampun hana satahun sengkernya, / Yan hana mrateka, ring smasana prateka, / Haywa mrateka sawa mapendhem, / Anggawa ring desa tawulanya, / Yan hana nggawa ring desa, / Letuh ikang bhumi phalanya, / Karanjingan dening Kala Bhute desa ika, / Dewa mur tan suka mahyangan ring desa ika, / Mangkana halanya, mwah aja ngeliwaring setahun, / Amrateka wwangke ika, / Yan liwaring satahun, / Winastu de Bhatara Yama, / Tawulan wangke ika humawak Bhuta, / Sangsara atma ika, mwah salwiring mwang mati, Sumuruping ksithi tala, yan hana mrateka, / Wenang ring sma prateka, /  Reh hana sawa sake watang pratistha, / Uttama dahat gawe ika, / Dulurane awak-awakan sang mati, / Olih candana miik, tinulis pinindha sang mati, / Mesi sastra dasaksara, triyaksara, / Ongkara Mrettha, rwa bhineda, / Mangkana kramanya genahakna ring sawa, / Muwah yan hana wwang mati ten pasewa, / Wenang gawenen awak-awakan dening wwai wangke ika,  / Sakama-kama wenang genahing mamrateka, / Yan wwang mati bener, / Muwah tingkahing wwang mati pinendhem, / Wenang mapangentas sang wawu mapendhem, / Phalanya molih genah Sang Hyang Atma, / Munggwing batur kamulan, / Yadyan masuwe tan kaprateka, / Rahayu ikang atma, yen nora mangkana, / Winastu de Bhatara, / Mawak Shuta, salamine tan ingentas, / Muwah tingkahing mati pinendhem, / Ring desa pakraman angarccana pangawak  sang mati, / Lwirnya ne wenang angge candana miik kadi nguni, / Dulurin upakaraning mati masawa, / Ya tika pinangaskara de sang guru, / Ring desa pakraman, wnang prateka, / Tulang wangkene mapendhem, / Ika wangunen karihin maring setre, / Wehin tirttha panglukatan mwang pabersihan, / Dahar kasturi, suci, / Rawuhing dina patiwa-tiwanya geseng tulang Ika, / Sarengang awak-awakan wangke ika, / Siddha rahayu Sang Hyang Atma, / Nora ngeletuhin jagat, / Prasiddha ingentas Sang Hyang Atma, / Muwah sang mati sawangsanya, / Yan mahyun amendhem, mangde aglis mamrateka, / Hana panugraha Bhatara Yama, / Wenang ngaturang pajati suci mwang daksina, / Ring wawu pinendhem, / Aminta nugraha ring Bhatari Delem Pangulun Setra-Gung, / Mwang ring Hyang Prattiwi, / Rumaksa sawa saksana, / Tan panganti sengker, mwang tahunan, / Nunas anugraha ring Bhetari, / Mwah ring Sang Sedahan Aweci, / Digelis amrateka, irika sira anebas atma, / Ji gung arttha 8.000 ; maduluran suci daksina, / Mwang pras, katur ring Bhatari Panguluning Setra, / Muwah ring Bhatara Yama, sega pangkonan, / Iwak bawi ingolah, den asangkep, / Labahan Sang Asedahan Aweci, / Tunggal kadi labahan Bhatara Yama, / Yan durung hana segkernya, waneng tahunanya, / Yan prateka wwang mati mapendem, / Phalanya rusak ikang rat, nagaran, / Bahur ikang nagara, gring marana tan pgat, / Sang prabhu mwang sang Panditha, / Kabhedha-bhedha de Bhatara Yama, / Mangkana kajaring sastra,/ 
Iti Widhissastra, nga; saking niti Bhatara Mahadewa, / Jumeneng ring Kahyangan ring Basukih, / Tumut Bhatara Manik Gumawang, / Jumeneng ring Kahyangan Watumadheg ring Basukih, / Mwah Bhatara Ghnijaya, / Malingga ring Kahyangan Giri Lampuyang. / Tumut Bhatara Jayaningrat. / Jumeneng ring Giri Beratan, / Maka miwah Bhatara ring Pejeng, / Sira Bhatare Manik Galang, / Ling Bhatara Mahadewa, “Uduh anak mami dewata kabeh, / Rengo pawarah mami den pahenak, / Tata kramaning bhumi Bali, / Pati huriping manusa kabeh,/ Tan pakrama unduk kapetyania, / Tan paulah ring Pandhita ring madhyapada, / Tan paweda mantre, / Haji panglepas atmaning wwang mati, / Tan hilang letuhing sawa, / Trus katkaning linggih Bhatara letuh, / Kang jumeneng ring khayangan Bali, / Karanjingan ikang bhumi, / Olih Bhuta-Bhuti sarwwa Durgga Kali, / Wehen unduk tataning wwang kapatyania, / Nora hana angletuhin bhumi nira; / Reh pade Bhatara nusup malingga ring desa pakraman, / Tka wenang sang sadhaka mratistha wwang pati hurip, / Tkaning kahyangan Dewa, / Ling Bhatara Mahadewa munggwing sastra, / Mawara nugraha warah munggwing haji. / Udhuh sira para punggawa ratu Bali, / Catraning bhuwana kabeh, / Hana pawarahku ring sire, / Ri tatkalaning wwang mati, / Hana sumuruping ksithi tala maring setra, / Mala kapatyan, ngaran, / Yan tan matirttha panglepas, / Wkasan yan hana mrateka, / Haywa wineh amrateka ring Desa Pakraman, / Sebel punah aku, / Salwiring sawe mependhem, / Masarira Bhuta Cuwil, / Yadyan nambut sawe karesyan mawak candena, / Haywa mrateka ring desa Pakraman, / Ring sma sana juga prateka, / Salwiring wwang mati mapendhem, / Kalane mangkana, Desa Pakraman umawak Kahyangan, / Ring Setra umawak Kawah, / Phalanya yen mangkana, / Kasusupan sarwwa letuh ring setra, / Rumaketing Kahyangan ring Desa, / Reh subhe karmane swasthe ring aghni, / Winalik sira sumuruping ksithi, / Ika ingaran wwangke kamalan, / Yadyan mati bener, salah ulah hidhepe, / Hidhep mati kapangawan, / Mangkana halaning wwang mati mapendhem, / Tka wenang geseng juga mangde swastha, / Ya tika gugwanen, yan kahalangan bhumi, / Wnang mapajati ring Sang Sedahan Setra, / Banten suci, daksina, pras, / Nunas dununganing sawa ring Hyang ibu Prettiwi, / Mangkana kramanya, / Reh tan wenang wwange mati bener mapendhem, / Geseng juga kawenanganya, / Ne wenang mapendehem salwiring wwang salah pati, / Mati kapangawan, wwang kneng gring agung, / Mangkana ling Bhatara munggwing sastra. / Muwah ling Bhatara Yama, / Yan hana punggawa ring Bali Rajya, / Yanya murug pawarah aku munggwing sastra, / Phalanya tan pegat gring sang Bhupati, / Reh Bhatara Mahadewa sira jumeneng ring Basukih, / Padha mahyang ring kahyangan Agung-Alit, / Ring Negara Bali Rajya, / Tan kataman letuh ikang Desa Pakraman, / Duhka sarwa dewata kabeh ring sang Ratu Bali, / Dewa mur kalabuing gring sasab marana tan pgat, / Sang ratu mwang sang Brahmana, kna gring agung, / Para pitra duhkita tan molih genah hayu, / Mangkana halaning jagat, / Haywa sang rumaksa jagat mwang sang Pandhita, / Murug Iinging sastra iki, / 
Iti Widhisastra, saking niti Bhatara Manik Gumawang, / Jumeneng ring Kahyangan Watumadheg ring Basukih, / ling Bhatara, “Udhuh sang ratu Bali, / Hana pawarah mami munggwing haji, / Krama kepayaning wwang, / Haywa mendhem sawa ring ksithi, liwaran ring satahun, / Yan hana wawu satahun, prateka juga wenang, / Rahayu ikang rat, yan lwaring satahun, / Yanya 2 tahun, 3 tahun, / Winastu de Bhatara Yama, / Dadi mawak Bhuta Atmanya, / Sah sangkeng Aweci Bhuta ika, / Ngranjing ring manusa loka, / Angadakaken gring sasab marana, / Amati-mati wwang sadesa-desa, / Tan papgatan wwang agring agung sabhumi nira, / Muksah Bhatara ring Basukih, / Mantuk maring gunung Mahameru. / Tan suka mahyang ring Nagara Bali, / Reh Nagara Bali dahating letuh, Kasusupan Bhuta, / Mangke wenang sang Haji Bali, / Kon amreteka wwang mati de age, / Aja sira nganti liwaring satahun, / Mangkana ling Bhatara munggwing sastra. / Muwah hana ling Bhatara samuha ring Basukih, / Tingkahing wwang mati mapendhem, / Mala kapatyan nga, / Yan hana mrateka wenang ring setra juga prateka, / Tawulan wangke ika dulurana sawa karesyan, / Tan wenang prateka ring Desa Pakraman, / Letuh ikang bhumi, / Haywa sira sang aji Bali amurug ling sastra iki, / Tan wandya kna upadrawa sang aji Bali, / Tkeng sang angentas, de Bhatara Basukih. Tlas. / 
Om Awighnam-astu, lti Yama Tatwa, nga, / Udhuh sang kretta diksita ring Madhyapada, / Hana pawarah mami ring sang Pandhita, / Ri kala kapatyaning wwang ring Madhyapada, / Ritatkalaning wwang mrateka sawa, / Patuting upakaranys, kawnang awak sang mati mageseng, / Tka sangkalaning bhumi, rikala patiwa-tiwanya, / Tinitah de sang amawa bhumi, / Kinwan anyurupaken ring pratiwi wangke ika, / Aja ingangge prateka awak-awakan sang mati, / Krama genep wkasan, nekawenang angge upakara nyawasta; /  Nunas nugraha ring sang Pandhita, / Mwang ring sang Ratu, / Mangde swasta sang ingentas, / Yan sira ngangge prateka patututing prateka agong,/ Tikang awak-awakan sang mati, / Rawuhing panamayan sang matiwa-tiwa, / Dadya ta sumurup ring ksithi, / Dadi sawa kamalan, ngaran, / Wlang wlut ikang prateka, / Hning matemahan puwek, / Tan sida Ingentas ikang atma./ Andadi atmanya Bhuta Cuwil, / Kna sodha de nira Bhalara Yamadipati, / Salwir tirtthan Bhatara mendadi wisya, / Mwah ring wwang angarepin karyya, / Tkeng mwang desa, amanggih gring tan pgat, / Atmaning wwang ika, matmahan ngumbarana gring, / Amati-mati wwang, mwah sang anugraha panglepas, / Kna soddha de Bhatara Prajapati, / Wkasan katkaning atman sang anugraha, / Tiniwak ring kawah aghnl de nira Sang Hyang Yamadipati, I Duk kari hurip, amanggih wyadi tan pgat, /  Mangkana kajaring sastra. / Nihan Iingning Widhisastra Siwadharma, / Kramaning kapatin, / Sawa tan kna ingulatan, wnang swastha / Gawekna awak-awakan ring dyun, / Bebedin lawe, wnang 12 ileh,/ Hisya ning wawai purnna, walungana cendana.9./ Surating dyun, rwa bhinedha, / Mwah paripih candana. ‘1. / Sinurat dasa bayu, podi, 2: / Jijlih 12 siji, trena kusa pada 66 katih. / Recadana daluwang taru, sinurat Dasaksara, / Triyaksara, Rwa bhinedha, Ong kara lingodbhawa, / Wus mangkana hajegakna ring salu, / Wehin saji tarppana sakabwatan, / Asing pamkas, ring henjing hesuk, / Geseng ring hareping bale silunglung./ Wus gineseng hadhegakna ring posadi, / Kaya haneng pakiriman, pranawa iuga, / Kewala tibanin toya panglepas, /  Karuhun ridurungnya mageseng, punia hawu; mantra kaya pakiriman, / Astiwedana kunang, /  Yadyan harep anebasin wnang, I Riwusnya, hanyut ring wwai wnang, / Hana mangkana piteket Sang Hyang Dharma, / Ring Sang Bhasmakertti, / poma hila-hila, helingakna, / Haywa murug linging sastra iki, / Ian hantuk sira. Tlas ./ 
Nihan Niti Sastra, / Wnang katama de nira Sang Sidhanta Brata kina-kina, / Tingkahing wwang mati mapendhem. / Haywa Sang pandhita nugraha, / Mwang sang rat yan hana wwang mati mapendhem,/ Yan durung hana satahun sengkernya, / Yan prateka sawa ika, / Tan siddha hentas, / Apan muliheng garbhan sang ibhu prettiwi, / Sang mati saksat mulih rare, / Munggwing ironing gharbha./ Ya tika kalane nganti sengkernya matu,/ Mangkana tatwanya. / Yan hane Pandhita murug tinging sastra iki. / Dudu Pandhlta ika, wiku dusta ngaran, / Arnatenin bhumi ika, / Ri tkaning kapatyanya, / Papa tan pasengker wiku mangkana, / Mwah wwang mati mapendhem, salawase adasa tahun, / Yan prateka tan pakaryya, / Tan siddha kna hentas atma ika, / Muwah wwang mati mapendhem, / Ne tan salah pati, wahu satahun ika wnang prateka, / Yan liwar kadi sahika, / Phalanya atma ika dadi kdukaning kawah, / Tumitis andadi bragala, dadi wgang, / Manigit pari, sarwwa tinandur kamaranan, / Gring makweh, mangkana kramanya, / 
Iki hana panugrahan nira Sang Hyang Swamandala, / Ndi Sang Hyang Swamandala?, / Sira Bhatara Surya Candra, / Bhatara Arddanareswari ye, / Kalama de sang Sidhanla brala kina-kina, / Munggwing haji, / T ata kramaning wwang mati mapendhem, / Tan hana sengkemya, dadi prateka sakama-kama, / Gelaren pangentas karihin, / Ikang sawa wawu mapendhem, kramaning amendhem, /  Rikala apasang pangentas, / Hana kukundhanga nira, Ma / ‘Pukulun Bhalari prattiwi, / Paduka Shalari pinaka ibuning sarwa tumuwuh ring jagal, / Rawuhing manus a pada, / Punika sawa hyang nganak Bhatari Pratiwi, /  Hembanen dukeng rat, / Sampun hingentasan de sang Guru Siwa, /  Mangke nghulun aminta ring Paduka Bhateri, / Angraksa lawulanlng saws, / Mwah Sang Sedahan Aweci, / Walek Dorakala kabeh, / Tan hana asengker tahun,/ Yan siddha de sanghulun, amretistha sawa iki, / Nghulun anebasna ri Sang Sedahan Awaci, / Muwah ri Hyang Bhatari Prattiwi, / Muwah ri Sang Makmit Setra, / Ri Sang Asedahan Bangbang, / Sang Kalapati, hawya midandha atma ika, / Hana kalaning panangaskaran hulun wkasan, /  Samangkana pangastawaningsun’. Tlas./ 

Banten panebas sawa ring Setre ; /  Mapendhem durung tutug sengkernya, / Banten suci katur ring Bhatari Prattiwi, 1, / Ring Sedahan Kawah, 1; / Ring Sang Kalapati, 1 : sodhahan 4 punjung, / Muwah punjungan agung, 1 : lwak bawi akerang, / Muwah jajrowan mentah, gtih, rumbah gila,/  Sesanlun hartlanya 8.000 : bras 4 catu ;/ Nyuh 4 bungkul: taluh 4 bungkul ; / Sarwa patpat den agnep kadi sesantun,/ Malih pangambe atma den agnep. / Ma; Ong indah ta sira Kaki Sedhahan Aweci,/ Kaki Sedhahan Bangbang, Kaki Kalapati; / Sahananing makmit ring Setra Agung, / Muwah sang catur sanak, /  Nghulun anebasin sawane si anu ring sira padha, / Aja sira midhandha, amidosa, atma iki, / Muwah ta•nghulun angupakara atma, / Wastu amanggih dalan rahayu, / Muwah ta nghulun amanggih dirggha yusa, / Sih nugraha nghulun, de paduka Brahmana sakti, / Siwa Buddha, malingga ring Kahyangan Pusering Desa, / Ring Katewel, kajenengana de paduka Bhatara  Surya Prajapati, / muwah Sang ingentas atmanya amanggih sadhya rahayu,/ Puniki panebasan nghulun ri sira, / Bhukti den abecik, / Ong pradhana purusa swasthi swasthi, / Dewa Bhuta bhuktyantu sarwwa Dorakala, poma, 3./ Manih banten panebas atma wwang mati mapendem, / Kang mati bener, Iwimya, / Banten suci asoroh, pras panyeneng asoroh, / Sga apunjung,lwak bawi ingolah akarang, / Sajong, loya, jajrowan bawi malah, gtih. rumbah gile, / Segehan, daksina agung,  ; den agenep, / Panebusan harttha 4.000 ; , panak pisang apuwun, / Mantra kakundhanga nira, / Ma : Ong indah ta kita Kaki Sedhahan Aweci, / Muwah Sadahan Bangbang, / Nghulun anebusin sawane si anu, I Aja anyangkalen, iki ganjaran sira, poma 3 . / Nihan tingkahing wwang mati, / Kataman gring kamaranan, / Haywa nyekeh ring umah, I/ Phalanya suka watek klngkara Bhuta,/ Kala, sasab, maumah ring Kahyangan semi, / Salwiring kahyangan anggenya pedhem , / Rusak ikang bumi, / Pendhem juga kabeh, / Sang Pandhita, yadyan wwang sudra,/ Lamun sampun wus asurudayu, / Tan wenang pendhem, / Yadyan pamongmong Dewa,/ Lamun tan asurudayu,/ Katampak olih Siwanya, / Kewala manusa krama,/ Wnang pendhem juga,/ 
Iti Yama Purwwana Tatwa, ngaran;/ Saking Niti Bhatari Gayatri, / Katama de Sang Adhaka kina-kina, / Ri tatkalaning wwang sahananya, / Adruwe sawa mapendhern, / Madruwe wwang rare sdeng ligang sasih panamayanya, / Haywa makaryaken ageng, / Kewala gawenen sambutan labuh, / Muwah jajanganan, mangkana pajati ring wwang mati, / Muwah tata kramaning dadiwwang; / Ne tan wenang ngawangun karya, / Amuja sasapuh ring sanggar, / Salwiring karyya ring Kahyangan, / Muwah magunting, mahingkup, wiwaha karyya, / Salwiring gawe mahayu sarira, / Yan hana adruwe bapa babu, / Sanak ta ring ka anak femen, / Anak dya nyama, ne sampun pjah sumuruping ksithi, / Ikang sampun wus adyus, / Durung pinrateka ingentas, / Tatan kawenang ngawangun karyya kadi kocaping harep, / Apa kalane mangkana, / Reh bhuwana Agung mwah Bhuwana Alit kari letuh, / Duka Shatara Prajapati, kna upadrawa wwang mangkana, / Yan hana ngwangun gawe kadi sahika,/ Madruwe harep-harepan sawa kari mapendhem. / Yaning kdoh mangambahin, ring tka gawenya, /  Kawretta rawuh ring pilaran sawa mapendhem, / Manangis sang Pitara, sumesel awaknya, / Masasambat anesel sang kari hurip, / Ling sang Pitara, ; Uduh tanayan mami sangkarihurip, / Suka sira amangan anginum,/ Angupakara awakta, manira manggih lara, / Apen durung hinentas, olih sire, / Suka bungah nganggo lewih, / Tuhu kamu tan pakretti kadharman, / Krengo de Bhatara Yama, / Panangis nikang atma papa, / Kaupadrawan sang awangun gawe ika,/ Jah tas mat kito manusa, ngwangun gawe langgah,/ Wastu kneng upadrawa, amanggih hala alpha yusa, / Kinwan I Bhuta Cuwil, ngater sang atma manangis, / Maring umah sang akaryya. / Kadyusi awaknya sang atma, / Ring banyeh wangke mapendhem, / I Bhuta Cuwil maguyang ring sawa sedeng awuk, / Masambayut basang wangke, / Kalunlun atma ika, olih rante wesi, / Rawuh ring umah sang akaryya, / Munggah I Bhuta Cuwil ring Panggungan Agung, / Ambhukti banten, nimitta pengit mahambu kunapa, / Dadya mur sang arwwa Dewata, / Pitwi sira Hyang Guru Kamulan, / Sahananing Dewa muksah, / Winastu sang angwangun karyya, / Amanggih bhaya agung, reh ngaturaken aweci ring Hyang, / Mangkana sudosane wwang amurugeken kajaring haji iki, / Yan hena nugraha samangkana, yadyan sang Pandhita, / Maka miwah Sang Ratu, / Tan siddha gawenya yan mangkana. Tlas, /  
Om Awighnam-Astu. Nihan Catur Pataka, ngaran ; / Lwirnya, ndya ta : ya Sang Brahmana pati pataka, / 10 tahun, wnang wangunen,/ Yanlng Ksatriya, pati pataka, / 12 tahun wnang wangunen, / Yaning Walsya pati pataka,/ 15 tahun wnang wangunen,/ Ya nora Sudra pati pataka. / 25 tahun wnang wangunen, / Yan nora sengke Ika yusanye, / Ika ten wnang wangunen, / Saupakaraning mati bener,/ Yan makdwa lewih patakaning wwang mangkana, / Tken  sang menglakonin karyya,/  Bhyakta kalebwing triyyak. / Nguni parikramaning angentas-entas, sang Brahmana,/  Pati pataka nistha madhya, / Ikang utamanya, haywa sumare-sare, / Adhepakna gening wuluh gading, / Gulihin candana, mastaka tkeng muka, / Carmenene kerenom, / Hinejum, roning kumudha,/ Hisenin dasaksara, sasangka nira,/  Hisenin lawe, lamaking wedhl waringin, / Hisenin carmma, aksarani tryaksara, rwabhinedha,/ Hentasen ring sma sana rumuhun,/ Wehi pras, mwah tkaning pangaskare, / Kasthawa, tuntun Sang Hyang Atma, / De ning Sang Hyang Ongkaratma mantra, / Mwah tepung tewarin, lisin, / Kajemas, kusuhi, wiyahi, widdheyusi, sma. / Pasangana pangaskara, / Apan tan wnang Sang Pitre andilah anuhun peda, / Apan mijil Sang Hyang Atma, / Sakeng Sang Hyang Ongkara, / Hupasaksi ring Sang Hyang Kasuhun, / Tlas ring parikrama, pangaskaran, / Angarepi sapratekaning amati, / Bhasma dening candena, hentasi, / Bhasminen dening candana, kaloping, / Madori jnar, kameri, kusa, krama saliksaka, / Kunang duking smasana, / Tebasen sang Pitra ring Sang Atunggu Setra, / Sasari hartta 8.000 ; kampuh saparadeg, /  Bras 4 catu, genep, saupakaraning daksina, / Kadi nguni, tkaning hebatan, / Saha pras, lukat pengentas, / Nyan pratekening wong tan wnang upakare,/ Sahulat-hulataning mati bener, / Kang ingaranan wong sudosa,i/ Triya lawen sudosa, kajatmikan, / Ndya ta Iwirnya, nihen : / Yan hana sudra angalap Sang Brahmana,/ Ksatriya, mwang Brahmana, / Mwang Brahmana, Ksatrya, / Yan amalat abhicaruke,  Muwah larangan Sang Brahmana, / Ksatrya sadaya, hinalap dening Sudra, / Yan huwus katenger dening loka, / Jana loka, katawuran pwekang Jana loka,/ Dedi pineribhuta pinejahan pweka ya, / Ri huwusnya pinejahan, / Ika tan wnang upakara, / Sahulataning mati bener, / Mwang tan wnang hentasen de Sang Brahmana, / Apan wong sudosa, ngaran, / Tkeng atmanye amanggih sengsara papa, / Tibeng aweci, maka dhasaring kawah, / Kadi hilining lwah papania, / Tan wnang sang Brahmana, / Mwang Bhujangga, / Humentasaken wwang mangkana, / Apan wwang mangkana sudosa, / Ndya ta lwirnya, / Sing amungpang sinapa de Bhatara Harichandhana, / Apan sira sahekan corah ngarania, / Wnang sira maka patabeh, / Tibeng aweci, muwah rangda ning mati, / Kang ingaran dosa, yan Brahmana, Ksatriya, / Wnang sira alabuh-apuy, / Sinapa de nira Bhatara Haricandhana, / Sinungan Bhatara Brahma, / Dosanya mungpang laku, angrebahaken kajaten, / Nyan muwah yan anggawa lara kapejahanya, / Lwiring pati salah pati, / Ika tan wnang upakara kadi nguni, / Sawulat-wulataning mati bener, / Wnang tibaken ring Sang Hyang Prattiwi, / Apan sira ulih Sang Hyang Ibhu Prattiwi, / Irika pwa sira mayoga, 3 tahun laminya, / Irika pwa sira kumingkin, saupakaraning mati, / Tingkah kadi lagi, / De sang humarepaken sang mati, / Mwang yan purugen, / Sang angentas ginrek de sang Kingkarabala, / Katureng Sang Yamadipati,/ Tinibeng kawah tambraghomuka, / Pinaka hentiping kawah. / Sang humentas pinaka patabeh, / Apan sira tan manon hala hayuning bhuwana, / Anjanma pwa sira wkasan. / Ring santana pratisantana nira, / Mijil pwa sira asuku tunggal, / Asuku tlu, dempet, darih. deyog, / Rumpuh, timpeng, perit. picek, wuta, / Tuli, hudug, basur, abong, gondhong, punuk, / Sakalwiraning papa klesa katemwa denya manusa, / Maharis tikang rat, / Bubur salawur salah ukur ikang rat bhuwana kabeh, / Hudan salah tiba, masanya. / Uler makweh, tikus mwang walang,/ Amangan pari, mangkana kramanya, / Nihan tingkahing Silagama catur cuntaka, / Ndya ta lwirnya? / Yan patakaning stri anggawa manik pjah, / Mwang madruwe putra pjah, ibhunya pjah, / Sapasar pjah, nora Iiwar sapuluh wengi, / Limang dina pjah, yan tan wetu rare ikanang pendhem, / Yan sampun kinardhi, aja amendhem yan tan kinardhi, / Trang ikang bhuwana alit bhuwana agung, / Sahika wwang mati cmer, ngaran, / Geng letuhing nagara, / Bhuwana agung mwang bhuwana alit, / Mwah tan wnang upakara, / Mwang hentasen, wnang pinendhem masengker,/ Yan nora wwang rare sahika metu tutug sengkere,/ Wnang sadak ring pamalungan dening wuluh ghading,/ Reka ikang rare, dening kusa, / Kramaning angreka sahika, saha sasantun, / Nistha madhya mottama, saha suci asoroh genep, / Pras panyeneng, mesi hartta, / Magelang benang, hartta satak aneh, / Tingkahing amendhem pangrekan ika, / Dohakna ring ibhunya, / Yan nora sahika trang bhuwana rwa, / Kunang sengkernya, yaning wwang uttama, / Satahun wnang upakara hentasen, / Yaning Ksatriya,2 tahun wnang hentasen./ Yaning Weisya, 3 tahun wnang hentasen./ Yaning Sudra, 4 tahun wnang hentasen, / Pamarisuddhaning pangentasnya, / Ghni-nglayang, hastupungku, /  Samalaning lara pataka, suddha sirnna denya, / Mwah panebus atma ring setra,/  Ring Dalem, Bhatari Durggha, / Saupakaraning panebus,/ Yan nora kadi sahika, / Tan siddha sang atma maupakara, / Sageng pangupakaranya tan presiddha, / Yan sampun liwar sengkernya./ Nora ngeletuhika ri sabhayanya, / Yan nora sahika, campur bhuwana kalih, / Bhuwana agung mwang bhuwana alit. / Sumarambah tikang prattiwi. / Makadi Kahyangan. mwang Bhuwana alit, / Sang Brahmana Pandhita, Ksatriya, / Makadi Waisya mabala. mwah Sudra Jati, / Yan nora tutug sengkernya winangun, / Bahur ikang rat, / Wadwan sang Prabhu milag, Sang Ratu kagringan, / Gring tan pgat ring jagat, / Tikus wreddhi, gaga sawah tan dadi, / Tumpur kang bhuwana rwa, / Mapan letuhing aletuh, / Mwah tingkahing ngawetuang rare, / Wnang sira sang Pandhita, / Aja wwang Iyan, dhendha sang makon, / Dhandhanya kadi candhalaning sang mati manakan, / Sama rwa sang makon lawan sang kinon, / Sama amanggih candala, sahika kadadianya, / Mwah tingkah ngawijilang rare ika, / Sa; payuk anyar, sekar pucuk, wwai putra, / Upakaranya, pras panyeneng, hartta 225, / Sasantun sakottama. aja salah surup, / 
Nihan tingkahing patakaning wwang salah pati, / Helingakna de sang Bhujangga ujar ring Haji, / Yan hana mati apahkrama ngaranya, / Wwang sudra ngrabyani Brahmana, / Angrabining Ksatriya, / Angrapyaning Weisya, / Yan hana wwang Sudra kadi sahika, / Kadi hinucaping harep,lewih candhalanya, / Mwah yan angrabining Pangeran,/ Mwang ibhunya, nini, anak, mwang ring sanak tmen, / Salawase tan wnang upakara, mwang hentasen, /  Mwah van hana wwang salah pati, / Mati malabuh her, mati akendhat, / Salwiring mati kapangawan, / Makadi wwang gring agung, / Salwire kang tumuwuh, / Karaketan dening reged wwang candhala, / Sahiku, patunggalanya, kadi inucaping harep, / Rika ritkaning wnang winangun, / Wnang mapanebusan, / Mwah yan mati sininghating banteng, / Sinambering glap, mati tiba mamenek, / Mati tiben hembidan, mati kareming toya, / Mati sinawuting ula, mati pinangan iwak,/  Sahika mati salah pati, ngaran, / Kawenanganya kaya munggwing harep, / Mwah yan mati maperang,/ Sahika nggawe patinya, ngaran, / Tan wnang pendhem Ika,/ Wnang kinaryakna hante, / Saluhuring hulunati panjangnya, / Rinajah hante ika kayeki, : / Ang, Ang, Ang, mwah ring tengen, Ung, / Ang ring harep, ring kiwa, / Mang, ring harep, / Yan sampun mangkana, humarekna adasa dina, / Yan nora mtu wnang pendhem, / Norana bhaya sangkalanya, / Helem nya yan amreteka wwang kocaping harep, / Nghing sakadi pratekaning panebusan, / Nghing panginggwanya tan wnang bhaksanen, / Mapan wwang mati letuh, kabebeng aprang ngaranya, / Upamanya kadi antiga samuwuk, / Iku antiga tan pamanik, ngaran, / Hujar hala tan parupa, ika helingakna, / Aja murug linging Haji Silagama Catur Pataka, / Yan hana Brahmana nugraha, / Angupakara wwang mati kadi kocaping harep, / Dhandha sang anugraha, / Wnang maprayascitta,/ Mawanawasa 30 dina maring gunung, / 15 dina ring sagara, / Yan sang ratu nugraha wwang mati mangkana, / Kadi hinucap ring harep, / Wnang sira samadi dewa 110 dina,/ Mwang prayascitta ring hajeng padewahara, / Winastu de dhangascaryya purohita, /  Yan nora sahika kadi hucaping harep, / Cemer satata sang anugraha, / Mwah sahulyaning margganing pratingkahing mendhem,/ Yan nora manuting sengkernya, yaning prateka, / Sakwehing prateka tan prasiddha, / Tkeng angupakara ika, / Tan prasiddha dlaha, anmumwah andadi janma, / Sakwehing mala den sandhang, / Alpha patinya, dlaha wwang mangkana, / Tan wandhya rug ikang andha bhuwana, / Bahur ikang rat, / Age pinahayu, dening atabuh gentuh, / Mwang panca sanak agung, / Mangkana kajaring haji, / 
Mwah tingkahing amreteka TIKUS, / Mwang walang sangit, / Makadi basah candhang, mati muncuk, / Ika mijil sakeng janma kang apahkrama, / Apahkrama ngaranya, wwang Sudra angrabining Brahmana, / Ksatriya, Weisya, kaya kocaping harep, / Yan angrabining Brahmana, / Mwang angrabining pattik wnang, / Yeka anaknya metu salah wetu, / Mandadi tikus, hari-harinya mandadi walang sangit, / Yeh nyomnya mandadi basah, / Lamad-lamadnya mandadi candhang, / Getihnya mandadi matya muncuk,/ Yan tan pratekanen, mwang hentasen, / Salamine cemer Bhuwana rwa, / Dewata mur tan kari ring bhuh, / Sarwwa tinuku malarang, / Gring agung tan pgat ring desa-desa, / Mwah gring tutumpur, / Mutah mising, bengka, ngebus gumigil, / Sumarambah ikang gring, / Watuk kamaranan Ika, wwang makweh pjah, / Mwah sang Brahmana, makadi Sang Prabhu, catraning rat, / Mwang sang Ratu Mantri, yan make wenanganya, / Amreteka kalaning wwang mati bener, / Nghing tingkahing amreteka ring pinggiring samudra, / Gesengen sahika, mangkana kramanya, / Yan kalaning pari kamaranan, / Mwah wwang apahkrama, patinya,/ Tan wnang pinaten dening lalandhep, / Mwang cuntaka sang amjah ika, / Maka wnang sang amjah ika, maka wnang kapatinya, / Ikang apahkrama, janma, kawnanganya rinante rinungkus, / Jinepit dening walatung, lebwakna ring samudra,/ Yan ring sarwwa satwa, gawyakna Iwang wwang ika, / Kadi kocaping harep, lebwakna ring iwang, / Hilyaken ikang wwe, bebengakna ika, / Mangkana kawnanganya kapatyanya, / Yaning wwang nguci karma, / Arabi kaprenah tumin ne marep, / Rarama ring harep, rarama ring sanak,/ Maring tumin dimisan, anak marep, / Yan hana sahika, kadi pidharta ring harep, / Kawnanganya kapatyanya, / Katampak dening kbo sakandhang, / Lembhu sakandhang, ayah sakandhang,/ Yan tan mati jaragakna dening watu, mwang taru-taru, / Mangkana maka kapatyanya, / Haywa kareneng, rug pwara nikang rat,/ 

Mametwa salah pati, / Mwang uttama, makadinya madhya, mwang nista, / Pjah asuduk sarira, mati magantung, / Pjah malabuh parung. mati kareming wwai,/ Pjah gring hila agung, mati tiba mamenek, / Salwiraning salah pati. / Kang wwang uttama, tkaning madhya, mwang nistha,/ Panggawesaning wwang apahkrama, / Ikang handap dadi aluhur, ikang aluhur dadi sor, / Angaduha padha ne lumaku, / Sang ratu nora amagehaken makertti ring rat, / Makadi para Bhagawantha, / Long puja pangastutinya ring para Hyang, / Wong pada amurug ndatan bhakti matwan, / Mwang tan bhakti maguru, / Kewala wong uttama madhya nistha, / Makaryya nghulah sakala, / Niskala noram~ gawenya,/ Kewala nghulah sakala, / Mungpung kalegheng bhuddhi, / Kang tan kawnang wnangaken, / Tan kang kawnang anggonen-anggonen, / Sarna timpang palakwanya, timpang pangucapnya, / Sahika karananing mtu panawadyanlng tan patut,/ Mtu mawlcara, karananlng tan hanut mapakadhangan, / Makadi tan hanut asanak anak aputu, /  Pratitahnya prasama mangungsi, /  Kewalya hanak, ring lalabhahan sakala, / Nora manyisti ring niskala, / Akweh Wwang anranjana, / Maluhur-luhuran manah, phoraka bhangga, / Apan ika kabeh kasusupan dening bhuta kapiragan Pati bhaksa-bhaksain, / Sahika kojaranya ring Silagema Catur Patake, / Yan magawe hala, tan wangdhya tiba ring kawah aweci, / Yan magawe kertti hayu, / Tan wangdhya tiba ring swargga, / Mangke yan hana karep ira sang ratu, / Mwang sang Pandhitta, / Manepetaken kerttining rat, / Ring sampun wus kacihnan mangkana, / Wnang wangunakna samadhi prayascitta ning rat, / Makadi pamarisuddhaning jagat, / Asing katiben kadi kocaping harep, / Haywa hima-hima denira sang maharep akertti ring rat, / Sakala niskala, pagehakna de sang Prabhu maka tedunging rat, / Makadi sang para sadhaka makabehan, / Nghing yan nora pinahayu samangkana, / Tan wangdhya rugrag ikang rat salawase, / Mawetwa sayan padha angungsi unggon, / Malakwa sapara-paranya, / Sahananing wwang tan hana wruha ring jatinya, / Mangkana kajaring Haji Silagama. /

Leave a comment

Filed under Articles

2015/01/img_2373.jpg

2015/01/img_2374.jpg

2015/01/img_2357.jpg

2015/01/img_2370.jpg

2015/01/img_2376.jpg

2015/01/img_2360.jpg

2015/01/img_2359.jpg

Leave a comment

Filed under Articles

FORUM KEWASPADAAN DINI MASYARAKAT (FKDM)

PERAN FKDM DALAM TEMU CEPAT DAN LAPOR CEPAT
TERHADAP POTENSI ANCAMAN DI DAERAH
GUNA MENDUKUNG TERWUJUDNYA
KEAMANAN, KETENTRAMAN DAN KETERTIBAN MASYARAKAT

1. Pendahuluan.
a. Penyelenggaraan keamanan, ketenteraman dan ketertiban masyarakat pada dasarnya menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, Polri dan masyarakat.
b. Keamanan, ketenteraman dan ketertiban masyarakat adalah suatu kondisi dinamis masyarakat sebagai salah satu prasyarat terselenggaranya proses pembangunan nasional dalam rangka tercapainya tujuan nasional.
c. Hal tersebut ditandai oleh terjaminnya keamanan, ketertiban dan tegaknya hukum serta terbinanya ketenteraman, yang mengandung kemampuan membina serta mengembangkan potensi dan kekuatan masyarakat dalam menangkal, mencegah, dan menanggulangi segala bentuk pelanggaran hukum dan bentuk-bentuk gangguan lainnya yang dapat meresahkan masyarakat.
d. Dengan demikian, tampak adanya benang merah tanggung jawab bersama dalam masalah keamanan, ketenteraman dan ketertiban antara pemerintah, Polri dan masyarakat.

2. Tujuan pembentukan FKDM.
a. Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) dibentuk berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewaspadaan Dini Masyarakat di Daerah, dibentuk mulai dari tingkat propinsi, kabupaten/ kota, kecamatan, sampai di tingkat desa/kelurahan.
b. Tujuan pembentukan Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat adalah untuk membantu instrumen negara dalam menyelenggarakan urusan keamanan, ketenteraman dan ketertiban masyarakat, melalui upaya “deteksi dini” terhadap potensi dan kecenderungan ancaman serta gejala atau peristiwa bencana.
c. Dengan fungsi pendeteksian dan pengidentifikasian, maka FKDM perlu diberikan gambaran umum mengenai potensi atau kecenderungan ancaman, dalam perspektif intelijen, khususnya terkait dengan perkembangan situasi nasional.

3. Perkembangan Situasi Nasional.
a. Bidang Ideologi.
Sebagian masyarakat Indonesia telah kehilangan orientasi terhadap ideologi Pancasila, sehingga memunculkan keinginan untuk mencari ideologi alternatif (Demokrasi Liberal, Sosial Demokrat / New Left atau Islam Radikal). Di sisi lain, tidak ada lembaga yang bertugas menangani pemasyarakatan ideologi Pancasila. Rapuhnya wawasan kebangsaan pada komunitas masyarakat tertentu, memunculkan komunitas-komunitas yang rentan terhadap gangguan pada semangat kesatuan dan persatuan bangsa, bahkan secara aktual telah mengumandangkan semangat anti NKRI.
b. Bidang Politik.
Proses kehidupan politik di Indonesia, masih sangat diwarnai dengan euphoria reformasi dan demokratisasi, belum nampak bentuk dan arahnya serta dinilai telah menyimpang dari aturan perundang-undangan dan cita-cita nasional. Hal tersebut terlihat pada proses Pemilukada dibeberapa daerah, tarik menarik kepentingan antara eksekutif dan legislatif, konflik antar partai, penegakan hukum dan lainlain.
c. Bidang Ekonomi.
Situasi ekonomi nasional cenderung membaik, karena ditunjang oleh penerimaan pajak, namun kondisi mikro ekonomi, terutama sektor riil masih stagnan, sehingga mengakibatkan meningkatnya pengangguran, kemiskinan dan kurang berjalannya investasi di daerah. Sementara sektor perhubungan menghadapi banyak masalah (kecelakaan kapal, kereta api dan pesawat terbang) sebagai akibat lemahnya sistem pengawasan dan manajerial serta terbatasnya sarana dan prasarana.
d. Bidang Sosial Budaya.
1) Beberapa masalah sosial budaya yang berdampak pada keamanan dan ketentraman masyarakat, diantaranya adalah konflik bernuansa SARA (pendirian rumah ibadah/Bekasi, aliran sesat/Ahmadiyah, konflik antar etnis/Tarakan), konflik antar kelompok masyarakat (permasalahan adat, ekonomi, budaya, politik).
2) Penegakan hukum terhadap kasus-kasus dugaan korupsi di beberapa daerah masih tuntas, sehingga menimbulkan ketidakpuasan masyarakat yang berdampak pada keamanan dan ketertiban masyarakat.
3) Adanya upaya sistematis untuk menghancurkan generasi muda bangsa Indonesia melalui Narkoba, tayangan kekerasan serta pornografi di media massa dan cyber media.
4) Potret kependudukan di Indonesia juga masih diwarnai dengan rendahnya kualitas hidup yang disebabkan adanya gizi buruk, tingginya angka kematian, kemiskinan, dan pengangguran.
5) Pendidikan gratis dan kesehatan gratis masih menjadi dambaan sebagian masyarakat, khususnya ditingkat bawah.
6) Perubahan iklim yang tidak menentu dibeberapa daerah serta perilaku manusia, sehingga menimbulkan gangguan bencana alam, seperti tanah longsor, banjir dan lain-lain sehingga berpengaruh terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat.
e. Bidang Pertahanan Keamanan.
1) Wilayah perbatasan (laut dan darat), serta pulau-pulau terluar yang berbatasan langsung dengan negara tetangga belum bisa terpantau seluruhnya oleh aparat keamanan. Hal tersebut berdampak pada terjadinya kasus-kasus pelanggaran wilayah serta maraknya pencurian sumber daya alam dan bahkan klaim terhadap wilayah oleh pihak asing.
2) Jaringan terorisme masih tetap melanjutkan kegiatan dan bekerjasama dengan kelompok Islam ekstrim internasional, meskipun penangkapan terhadap tokoh-tokohnya dan upaya deradikalisasi telah dilakukan.
3) Situasi Aceh cenderung mulai kondusif, dan eks GAM merubah cara perjuangan dari kekerasan ke jalur politik dan lembaga adat yang ada.
4) Gerakan Separatis OPM telah menyusup ke lembaga-lembaga adat Papua untuk melakukan gerilya politik.
5) RMS masih memiliki pendukung di dalam dan luar negeri, dan terus berupaya menunjukkan eksistensinya.
6) Potensi munculnya separatisme baru di beberapa daerah yang kaya sumber daya alam.

4. Kecenderungan Ancaman Nasional.
a. Ancaman di bidang ideologi.
1) SosDem/NewLeft berusaha mempengaruhi dan menarik dukungan masyarakat dengan mengembangkan isu-isu perburuhan dan HAM.
2) Anasir komunis di Indonesia terus berupaya membangkitkan kembali paham komunisme dengan memanfaatkan ”lahan subur” kemiskinan dan ketidakadilan.
3) Elemen-elemen komunis akan semakin aktif melakukan kegiatan dan menggalang dukungan massa dengan membela kepentingan masyarakat di desa-desa.
4) Kelompok Islam garis keras terus berupaya untuk memformalkan penerapan Syariat Islam di Indonesia.
5) Proses demokrasi di Indonesia yang masih dalam masa transisi, dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak asing untuk memasukan ide tertentu, seperti kapitalis, neo liberal dan lain-lain.
b. Ancaman dibidang politik.
1) Tuntutan agar Amandemen UUD 1945 ditinjau kembali akan makin menguat, termasuk dari kelompok yang ingin kembali ke UUD 1945 sebelum diamandemen (asli). Hal ini akan memicu pro dan kontra, baik ditingkat elit politik maupun kalangan masyarakat, sehingga berpotensi terjadinya konflik vertikal maupun horisotal.
2) Hubungan eksekutif dan legislative yang dinilai kurang harmonis, semakin menumbuhkan rasa pesimis masyarakat terhadap pemerintah dan dewan perwakilan rakyat.
3) Ketidakpercayaan sebagian masyarakat atas kinerja pemerintah, dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk kepentingan politiknya, antara lain upaya mengganti kepemimpinan nasional.
4) Tugas pemerintahan akan terganggu oleh persiapan parpol-parpol menghadapi Pemilukada didaerah, sementara partai pendukung pemerintah terfragmentasi dalam kepentingan politik masing-masing.
5) Pemilukada 2010-2011 akan menjadi perebutan partai-partai politik untuk mendapatkan posisi jabatan, sehingga berpotensi menimbulkan konflik didaerah.
c. Ancaman dibidang ekonomi.
1) Turunnya produksi pangan nasional karena bencana alam dan perubahan iklim serta terbatasnya dukungan pupuk, sehingga memaksa pemerintah untuk melakukan impor yang akhirnya akan berdampak pada naiknya harga pangan.
2) Terganggunya pemenuhan kebutuhan energi nasional karena terhambatnya konversi minyak ke gas, sehingga berpengaruh negatif terhadap produksi dalam negeri.
3) Industri dalam negeri dikhawatirkan akan terpuruk karena membanjirnya produksi luar negeri, hal ini akan berdampak negatif terhadap masyarakat, khususnya yang mengelola home industri.
d. Ancaman di bidang sosial budaya.
1) Terjadinya kemiskinan dibeberapa daerah, khususnya daerah-daerah terpencil.
2) Munculnya wabah penyakit, khususnya didaerah yang terkena bencana alam, banjir dan tanah longsor.
3) Maraknya penggunaan obat-obat terlarang oleh sebagian masyarakat, khususnya pada generasi muda serta maraknya aksi pornografi dan pornoaksi di kalangan generasi muda.
4) Konflik antar umat beragama, terkait dengan penolakan pembangunan rumah ibadah maupun munculnya beberapa aliran sesat serta kelompok garis keras mengatasnamakan agama atau fundamentalisme agama.
5) Konflik antar warga maupun antar pelajar yang dipicu oleh masalah-masalah adat, budaya dan ekonomi sosial lainnya.
6) Munculnya konflik vertikal, akibat kasus-kasus pertanahan maupun kasus-kasus penggusuran.
7) Aksi-aksi unjuk rasa buruh menolak UMP/UMK yang dinilai belum memenuhi kebutuhan hidup layak.
8) Maraknya tuntutan penyelesaian masalah korupsi didaerah.
9) Tuntutan peningkatan anggaran pendidikan dan sekolah gratis.
10) Tuntutan biaya kesehatan gratis dan penyediaan obat dengan harga murah.
e. Ancaman dibidang pertahanan dan keamanan.
1) Keamanan regional.
a) Potensi konflik di perbatasan-perbatasan laut dan darat, serta pulau-pulau terluar karena belum tuntasnya penetapan garis batas wilayah.
b) Kejahatan-kejahatan transnasional seperti perdagangan manusia (human trafficking), narkoba, penyelundupan senjata api dan bahan peledak, pencucian uang, dan kejahatan ekonomi internasional lainnya di wilayah perairan Indonesia.
2) Separatis GAM.
a) Masih ada sebagian masyarakat, khususnya eks GAM yang masih ingin memperjuangkan Aceh Merdeka.
b) Pemanfaatan eks GAM oleh pihak tertentu untuk kepentingan politik atau kepentingan lainnya.
3) Separatis OPM.
a) Aksi-aksi bersenjata didaerah terpencil dengan sasaran TNI/Polri dan masyarakat.
b) Aksi propaganda dengan aksi unjukrasa dan pengibaran bendera separatis, khususnya pada hari-hari tertentu.
c) Pemanfaatan isu-isu pelanggaran HAM dan kegagalan Otsus untuk menggalang dukungan internasional.
d) Meningkatkan perjuangan politik melalui jalur-jalur adat DAP dan MRP.
e) Mengintensifkan lobi ke Parlemen Eropa dan Kongres Amerika.
4) Separatis RMS.
a) Aksi propaganda di dalam maupun luar negeri dengan aksi unjuk rasa dan mengibarkan bendera RMS, khususnya pada hari peringatan RMS.
5) Terorisme.
a) Kelompok teroris masih berpotensi melakukan aksi-aksinya, mengingat beberapa yang dicurigai masih belum tertangkap.
b) Untuk memenuhi dukungan logistiknya, kelompok teroris melakukan perampokan, khususnya di bank-bank, toko ataupun perusahaan milik asing.
c) Ada upaya untuk mengalihkan pola aksi, dari aksi bom bunuh diri menjadi aksi penembakan dengan sasaran langsung terhadap aparat keamanan.
d) Ada upaya melakukan perekrutan terhadap anggota baru, dengan sasaran anak-anak muda terpelajar, baik melalui kelompok-kelompok pengajian maupun lembaga pendidikan.
f. Berbagai ancaman tersebut pada hakekatnya merupakan suatu usaha yang bersifat mengubah atau merombak kebijakan secara konsepsional dari sudut kriminal ataupun politis. Demikian juga aktivitas-aktivitas, baik dari dalam maupun luar negeri yang membahayakan eksistensi bangsa, kedaulatan negara, keutuhan NKRI, stabilitas nasional dan kredibilitas pemerintah serta kepentingan nasional lainnya, merupakan ancaman yang harus ditanggulangi secara dini. Namun demikian, ancaman-ancaman tersebut dalam skala-skala tertentu harus disikapi secara proporsional agar efektif dan tidak berdampak kontra produktif. Oleh karena itu, kemampuan deteksi dini merupakan hal yang penting dalam mengantisipasi berbagai potensi gangguan dalam masyarakat. Hal tersebut tidak saja akan sangat membantu dalam mencegah kemungkinan terjadinya gangguan dalam masyarakat sedini mungkin, namun juga membantu dalam menentukan kebijakan agar penanganannya tidak over dosis, sehingga langkah yang diambil tepat dan efektif.

5. Peran Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat.
a. Keberadaan FKDM.
1) Kewaspadaan dini masyarakat adalah kondisi kepekaan, kesiagaan dan antisipasi masyarakat dalam menghadapi potensi dan indikasi timbulnya bencana, baik bencana perang, bencana alam, maupun bencana karena ulah manusia. Dalam hal ini, kewaspadaan dini masyarakat adalah merupakan bagian integral dari penyelenggaraan keamanan, ketenteraman dan ketertiban masyarakat.
2) Di era reformasi dan demokrasi saat ini, perkembangan ipoleksos-budhankam menjadi demikian dinamis dengan segala bentuk pengaruh dan ekses negatifnya.
Kadang-kadang perangkat pemerintahan sulit mengantisipasi dan tidak mampu untuk membendung ekses negative yang terjadi di masyarakat, sehingga sering kali memunculkan tindakan-tindakan yang melanggar hukum dan berdampak negatif terhadap keamanan dan ketertiban masyarakat, oleh karena itu, perlu pembudayaan sikap kewaspadaan dini di masyarakat.
3) Peran serta masyarakat dalam urusan keamanan, ketenteraman dan ketertiban tersebut dapat diperluas melalui wadah Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) yang dibentuk sebagai upaya untuk menjawab kebutuhan dalam mengakselerasikan terbangunnya budaya waspada di masyarakat.
b. Peran FKDM.
1) Penyelenggaraan kewaspadaan dini masyarakat menjadi tanggungjawab masyarakat, sedangkan pemerintah wajib untuk memfasilitasi. Oleh karena itu peran FKDM menjadi sangat penting, artinya apabila tugas dan pekerjaan FKDM tersebut dapat berjalan dengan baik dan ditindaklanjuti oleh pemerintah, maka hal tersebut dapat mencegah terjadinya ancaman keamanan maupun bencana, sehingga dapat menyelamatkan masyarakat atau paling tidak, ancaman maupun bencana tersebut dapat diantisipasi dan diminimalisir, sehingga tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar.
2) Oleh karena peran FKDM yang dinilai sangat penting, maka untuk perekrutan anggota FKDM juga harus selektif memenuhi persyaratan tertentu, misalnya harus mempunyai mental ideologi yang baik, mempunyai naluri dan kepekaan yang tinggi, mempunyai kepedulian, mampu berkomunikasi, memiliki loyalitas, cukup cerdas, memiliki setia kawan, dapat dipercaya, sadar bela negara, dapat membuat laporan secara baik dan lain-lain.
c. Tugas FKDM.
1) Menjaring, menampung, mengkoordinasikan, mengkomunikasikan data dan informasi dari masyarakat mengenai potensi ancaman keamanan, gejala atau peristiwa bencana dalam rangka upaya pencegahan dan penanggulangannya secara dini.
2) Memberikan rekomendasi sebagai bahan pertimbangan bagi gubernur, bupati/walikota, camat atau lurah mengenai kebijakan yang berkaitan dengan kewaspadaan dini masyarakat.
3) Tugas tersebut dapat dijabarkan dalam tugas-tugas lain, diantaranya adalah:
a) FKDM sebagai ujung tombak dalam pengumpulan informasi terkait dengan potensi ancaman didaerahnya.
b) FKDM sebagai mata dan telinga serta membantu penyelenggaraan pemerintahan didaerah.
c) FKDM membantu pencegahan awal terhadap ancaman didaerahnya.
d) FKDM sebagai jembatan antara masyarakat dengan pemerintah.
d. Temu Cepat dan Lapor Cepat.
1) Dengan adanya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 12 Tahun 2006 tentang Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat di Daerah (FKDM), maka keberadaan dan kemampuan forum tersebut perlu terus ditingkatkan, diperkuat, dan dipertajam, khususnya dalam fungsi deteksi dini. Koordinasi dengan forum-forum lainnya dan jajaran komuitas intelijen juga perlu lebih didinamisasikan secara optimal, karena hal-hal tersebut merupakan fungsi yang sangat sentral dalam upaya pencegahan dini terhadap gangguan-gangguan dalam masyarakat.
2) Dalam perspektif intelijen, temu cepat dan lapor cepat merupakan premis intelijen yang esensial. Dengan penyelidikan yang menggunakan metoda deteksi dini (temu cepat) dan prinsip “velox at exatus” (cepat dan akurat) dalam pelaporan (lapor cepat), maka intelijen dapat terhindar dari pendadakan. Demikian halnya dengan FKDM, jika prinsip “temu cepat” dan “lapor cepat” menjadi dasar dalam penyelenggaraan tugas dan fungsi FKDM, maka peran FKDM menjadi sangat elementer dalam mengantisipasi datangnya ancaman.
3) Adapun peningkatan fungsi kewaspadaan dini, dapat diakselerasi dengan meningkatkan kemampuan mengidentifikasi permasalahan-permasalahan secara tepat dan cepat. Misalnya kewaspadaan di bidang ideologi, hal ini dapat dilakukan dengan fokus pada penguatan kembali nilai-nilai Pancasila dalam masyarakat. Dibidang politik, fungsi kewaspadaan dini dapat dipertajam antara lain dengan melakukan pemetaan kekuatan politik dan elemen-elemen lain yang berpengaruh terhadap dinamika politik, serta penataan peran masyarakat sipil (civil society). Dibidang ekomomi, dapat dilakukan dengan mencermati fluktuasi kenaikan harga sembilan bahan pokok, dibidang sosial dapat dilakukan dengan pemetaan daerah rawan pangan, rawan penyakit, rawan bencana alam, rawan penduduk, rawan kriminal dan lain-lain, dibidang pertahanan keamanan dapat dilakukan dengan pemetaan daerah basis kriminal, membuat sistem keamanan lingkungan dan lain-lain. Hal tersebut sangat diperlukan kepedulian dan kreatifitas dari unsur-unsur Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat.
4) Pada tataran kerjasama komunitas intelijen dalam menghadapi berbagai konflik maupun potensi konflik, FKDM dapat menjadi mata dan telinga negara untuk mengamankan kepentingan nasional, dimana harus mampu menjalankan empat fungsi utamanya, yaitu to anticipate, to detect, to identify, dan to forewarn. Dengan mengantisipasi, mendeteksi, mengindentifikasi, dan memberikan peringatan dini, yang pada hakekatnya merupakan kegiatan cegah tangkal terhadap hal-hal yang terkait dengan ancaman, diharapkan ketentraman dan ketertiban umum masyarakat dapat senantiasa terjaga. Untuk menjalankan fungsi cegah tangkal tersebut, perlu peningkatan kerjasama dan sinergisitas institusi intelijen baik di pusat maupun di daerah. Selain itu, perlu dilakukan penajaman deteksi dini dan cegah dini melalui optimalisasi fungsi FKDM dalam rangka meningkatkan kemampuan kewaspadaan dini terhadap potensi gangguan ketenteraman, ketertiban, dan keamanan masyarakat.
5) Agar tugas dan peran tersebut dapat dijalankan dengan baik, FKDMpun perlu mengembangkan diri melalui forum komunikasi masyarakat atau koordinasi dengan forum yang sudah ada (seperti Kominda, FKUB dan lain-lain), untuk memperoleh informasi, baik yang terkait dengan kepentingan keamanan maupun kepentingan sosial lainnya. Disamping itu juga perlu dibuatkan prosedur tetap dan pelatihannya, bagaimana mekanisme untuk memperoleh informasi serta melaporkannya kepada pemerintah secara cepat, tepat dan akurat serta bagaimana mekanisme hubungannya dengan organisasi/forum lainnya.

6. Harapan.
a. Dilihat dari struktur organisasi, dimana FKDM tergelar mulai tingkat propinsi sampai ketingkat kelurahan/desa dan apabila organisasi tersebut berjalan dengan baik, maka hal tersebut akan memberikan konstribusi yang sangat baik bagi pemerintah, khususnya dalam pengelolaan terhadap potensi ancaman didaerahnya.
b. Sebagai lembaga yang sudah berumur kurang lebih 5 tahun, semestinya FKDM sudah memiliki kemampuan temu cepat dan lapor cepat.
Namun tidak dipungkiri bahwa disebagian daerah hal tersebut belum bisa terlaksana dengan baik karena terkendala dengan beberapa masalah baik terkait dengan mekanisme maupun pendanaan, bahkan mungkin disebagian daerah juga belum dibentuk FKDM. Hal ini sangat disayangkan, mengingat keberadaan FKDM mempunyai peran yang sangat penting dalam membantu tugas-tugas pemerintah, khususnya dalam mengantisipasi kemungkinan adanya ancaman dan gangguan keamanan dan ketertiban dalam masyarakat. Namun setidaknya, dengan organisasi lain yang sudah ada (Kominda, FKUB dan lain-lain) maka upaya pengidentifikasian setiap masalah yang bekaitan dengan urusan keamanan, ketenteraman dan ketertiban masyarakat, maupun terhadap potensi dan kecenderungan ancaman dapat dilakukan secara optimal. Oleh karena itu dalam forum ini diharapkan dapat digunakan sebagai ajang pembenahan dan koreksi, sehingga kedepan keberadaan FKDM didaerah semakin berperan dan berfungsi dalam mengantisipasi potensi gangguan ketenteraman, ketertiban, dan keamanan masyarakat.

7. Penutup.
Dengan memahami gambaran tersebut diatas, diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan oleh yang berwenang, baik dalam memberikan dukungan terhadap keberadaan FKDM maupun peningkatan peran Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat untuk merumuskan mekanisme dan prosedur dalam upaya meningkatkan proses temu cepat, lapor cepat, tepat dan meyakinkan terhadap potensi ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan (ATHG) di daerah guna mendukung terwujudnya keamanan, ketenteraman dan ketertiban masyarakat.

Denpasar, 30 Mei 2012
FORUM KEWASPADAAN DINI MASYARAKAT
(FKDM) PROPINSI BALI

Leave a comment

Filed under Articles

BRAHMANA WANGSA

DHARMOPADESA
BRAHMANA WANGSA DI BADUNG

Agama sesungguhnya adalah Bakti kepada Hyang Widhi, menegakkan kebenaran, jujur dan setia. Rta tentang ajaran Dharma, yang nantinya dipakai sebagai tolak ukur pada saat lahir kembali ke dunia. Diksa tentang penyucian. Tapa sebagai pengikat indrya, untuk berbuat kebaikan. Brahman tentang pemujaan. Yadnya seperti Panca Yadnya, semua itu dipakai pedoman dalam kehidupan ini, baik yang telah dilalui ataupun yang akan datang dan kita senantiasa harus menegakkan dharma, menciptakan kedamaian seperti leluhur-leluhur kita yang telah menyatu dengan Brahman (Atman Aikyam Brahman).
Sembah sujud bakti hamba kehadapan Bhatara Sinuhun yang telah menyatu dengan Brahman, anugrah Bhatara selalu hamba syukuri, semoga hamba luput dari nestapa berikut seluruh keturunan hamba, karena hamba telah berani menuliskan perjalanan Bhatara, itu semua hamba lakukan karena rasa bhakti hamba kehadapan Bhatara.
Sebagaimana uraian Dwijendra Tattwa maupun Pamancangah, Piagem dan Prasasti-Prasasti, Bhatara Sakti, Ida Danghyang Nirartha datang ke Bali Pulina, pada jaman kerajaan Ida Dalem Waturenggong (1460-1550 M) tahun Isaka 1411 (1489 Masehi).
Pada masa itu, Bhatara Sakti berkedudukkan sebagai Bhagawanta Dalem Bali, Beliau mempunyai sepuluh putra dan putri dari beberapa istri, diantaranya 2 orang putra Kemenuh beribu dari Daha, 2 orang Manuabha beribu dari Pasuruan, 3 orang Keniten beribu dari Blambangan, seorang Mas beribu dari Mas Bali, dan 2 orang lagi beribu dari Panawing.
Kita bicarakan Putra Ida Bhatara yang dilahirkan oleh Ida Patni Keniten, yang tertua bernama Ida Ayu Swabhawa (Ida Rahi Istri), adiknya bernama Ida Made Wetan (terkenal dengan nama Ida Telaga Sakti Ender) dan yang terkecil bernama Ida Nyoman Wetan (Ida Bukcabe/Ida Nyoman Keniten).
Ida Made Wetan (Ida Telaga Sakti Ender) bertempat tinggal di Katyagan-Siku Kamasan Klungkung, mempunyai 4 orang putra, yang tertua bernama Ida Pedanda Telaga Tawang, adiknya bernama Ida Pedanda Made Telaga, yang ketiga bernama Ida Pedanda Anom Bandesa dan yang terkecil bernama Ida Pedanda Penida.
Setelah Dalem Waturenggong mangkat, Beliau digantikan oleh Dalem Bekung (1550-1580 M) kemudian digantikan oleh Ida Dalem Sagening/Dalem Ile (1580-1580). Pada jaman pemerintahan Dalem Sagening, putra Ida Bhatara Sakti Ender meninggalkan Katyagan-Kamasan Klungkung, sedangkan Ida Pedanda Telaga Tawang tetap tinggal di Kamasan. Setelah menghaturkan Yadnya Catur Winasa dengan punggalan kepala kerbau berhias di tengah Sungai Unda, Ida Pedanda (Anom) Bandesa, Ida Pedanda Made Telaga dan Ida Pedanda Ketut Penida beserta saudara sepupu beliau Bhatara Ida Pedanda Empu (Putra dari Ida Wayahan Kidul/Mas), meninggalkan Kamasan menuju Padang Galak, Enjungin Biaung, yang merupakan daerah kekuasaan dari I Gusti Ngurah Agung Pinatih di Kertalangu Kesiman. Konon diceritakan, dihaturkannya Yadnya Catur Winasa karena pada waktu itu keadaan pemerintahan sangat kacau. Dalem Klungkung kurang memperhatikan pendeta. Sehingga beliau meninggalkan Desa Katyagan Kamasan (Gelgel) – Klungkung menuju ke Padang Galak (Pradesa Wirasana Tangtu Padang Galak). Di wilayah I Gusti Ngurah Gede Pinatih.
Kembali diceritakan Ida Pedanda (Anom) Bandesa, Ida Pedanda Made Telaga dan Ida Pedanda Ketut Penida beserta saudara sepupu beliau Bhatara Ida Pedanda Empu di Wirasana Tangtu mereka diberikan tempat tinggal. Dari sini mereka berpisah, Ida Pedanda Ketut Penida mengungsi ke Tabanan dan menetap di Wanasara, selama Pedanda Penida di Wanasara beliau dianugrahi putra bernama Pedanda Tembau yang membuat kidung Brahmara Sangupati. Ida Pedanda Made Telaga pindah ke Denbukit, bertempat tinggal di Banjar Ponjok Buleleng, berputra Ida Pedanda Sabo. Sedangkan Pedanda Empu menuju desa Perean, bertempat tinggal di Balwangan-Baturiti, Tabanan.
Tidak diceritakan berapa lama Ida Pedanda (Anom) Bandesa di Padang Galak, atas keluhuran I Gusti Ngurah Gede Pinatih beliau menghaturkan adiknya yang bernama Ni Gusti Ayu Putu Pacung untuk diperistri berikut braya / panjak sebanyak 40 keluarga gegilingan / pilihan. Dari perkawinan ini beliau mempunyai putra yang bernama Ida Pedanda Sakti Ngenjung. Sedangkan putra dari perkawinan beliau dengan Jero Abian dari Abian Kapas bernama Ida Wayahan Abian yang selanjutnya kesah ke Sibang dan Ida Made Abian kesah ke Tegal Badung.
Diceritakan Jero Abian sangat cemburu (duhkita) dengan madunya. Kemudian Jero Abian matur sesangi yang isinya ‘yen mati madun tiange, tiang pacang maturan guling celeng saha baris abajo” (kalau meninggal madu saya, saya akan menghaturkan babi guling serta baris abajo). Sehingga sampai sekarang ada tarian 
baris Gede (Tumbak) di Br. Belong Sanur.
Ida Pedanda Sakti Ngenjung yang masih menetap di Wirasana Tangtu, mempunyai dua orang putra saksat surya chandra sira kalih bernama, Ida Pedanda Wayahan Bandesa dan Ida Pedanda Made Bandesa laksana Surya Chandra atau Surya Kalih – yaitu bagaikan Surya Kembar (lumra prabhanira).
Pada suatu hari Tangtu tertimpa wabah penyakit, tiba-tiba Beliau memanggil makhluk halus (tonya) yang bersuara WAWUR DEG SIRRR dan ketika matahari tenggelam, makhluk halus itu bersuara, kemudian beliau menusuk makhluk halus itu dengan tombak dan makhluk tersebut tersungkur jatuh bagaikan rebahnya pohon Jaka (enau). Tombak pusaka tersebut dikenal dengan nama 
I WAWU RAWUH (I BARU WAWA).
Selama Ida Pedanda (Anom) Bandesa di Padang Galak Wirasana Tangtu, rakyat aman tentram kertha raharja, beliau juga menjalankan konsep Tri Hita Karana melalui Nyatur Bandana Dharma Praja seperti yang dilakukan oleh kakek beliau (Danghyang Dwijendra). Selama Pedanda Anom Bandesa menetap di Wirasana Tangtu, beliau mendirikan Tri Kahyangan yaitu : Pura Dalem Kedewatan, Pura Puseh, Pura Kentel Gumi, Pura Padang Sakti, PelinggihPenghayatan Bhatara Batur, Pelinggih Gunung Agung, begitu pula dengan I Gusti Ngurah Agung Pinatih, beliau mendirikan Pura Bangun Sakti di sebelah timur Tangtu atas petunjuk Ida Pedanda Anom Bandesa.
Tidak diceritakan berapa lama beliau tinggal di Wirasana, Padanggalak Tangtu kemudian pindah menuju Desa Gunung Klandis, Desa Sumerta, tetapi tidak lama beliau tinggal disana. Sebab Ki Bandesa Singgi, Intaran memohon supaya beliau tinggal di wilayahnya di Wirasana Singgi Desa Intaran. Dari tempat inilah Bhatara Sinuhun mencari tempat yang cocok untuk dibangun sebuah Graha, hingga pada suatu hari dari suatu tempat yang tegeh / tinggi, beliau melihat sinar seperti janur putih dan di tempat inilah akhirnya dibangun Graha Grhya Gede Sanur. Sanur berasal dari kata Sa yang artinya tunggal, sedangkan Nur artinya Sinar suci.
Sejak saat itu pula, krama, panjak dan kawula yang masih setia mengikuti Beliau, mencari daerah untuk mendirikan tempat tinggal. Mereka tersebar sepanjang Wilayah Batanpoh-Belong (lintasan kangin-kauh), Pekandelan-Pemamoran (lintasan kaja-kelod) yang merupakan penyatuan pengider-ider jagad Padma Bhuwana (padma kuncup dan padma kembang) dengan tatanan pertahanan Jaga Satru di wilayah Bali Rajya Bandana yaitu manunggalnya Dharma Negara dan Dharma Agama yang merupakan kewajiban seorang Pedanda dengan Nyurya Sewana melihat dari keberadaan Pura Surya Batanpoh di Timur – Pura Surya Belong di Barat dan Kahyangan Rwa Bhineda / Kiwa-Tengen yaitu dengan keberadaan Pura Dalem Kedewatan serta seluruh Pura-Pura Prasanak di sebelah utara dan Pura Kembar di sebelah selatan), sedangkan para putra beliau mengambil tempat di tengah-tengah yang merupakan bagian wilayah Catus Pataning Desa (pusat penyelenggaraan dharma agama dan dharma negara).
Ida Bhatara Sinuhun (Surya Kalih) juga mendirikan Parhyangan, nuntun serta memindahkan pura-pura dari Padang Galak, seperti Pura Dalem Kedewatan (termasuk di dalamnya Pura Batur, Pura Gunung Agung dan Pura Desa – Puseh) di Tegehan Singgi, sedangkan Pura Kentel Gumi, Padang Sakti masih berada di Tangtu sehingga masih ada panjak / kawula tinggal di sana 10 keluarga, sampai sekarang tetap menjadi krama Desa Adat Sanur.
Pembangunan Parhyangan di Sanur terus ditingkatkan, yang selanjutnya membangun Parhyangan di tepi siring wetan (timur) seperti Pura Dalem (seperti tersebut di atas), Pura Kembar yang merupakan pura pemersatu (bandana dharma) bagi para sentana – prati sentanan bhatara seterusnya karena beliau berdua bagaikan amutering Negara Badung, yang melahirkan bhisama ‘adi made … panjak adine elingang, beli baang a dasa kuren dogen, nanging abot-ingane adi ngitungang’, dan seterusnya mendirikan Pura-Pura lain seperti Pura Kahyangan Ksetra, Pura Maospahit, Pura Tanggun Suwan. Sejak saat inilah Desa Sanur mempunyai Kahyangan Tiga sehingga diberi nama Desa Adat Sanur (Desa Pekraman Sanur) sekarang, sesuai dengan yang tersurat dan tersirat dalam Lontar Raja Purana menyebutkan usaha Empu Kuturan untuk membangun tempat-tempat suci beserta upacaranya sebagai berikut :
… ngaran dewa ring kahyangan pewangunan Empu Kuturan kapastikan saking Pura Silayukti, mwang ngewangun seraya karya, ngadegang raja purana, mwang nangun karya ngenteg linggih bhatara ring Bali, kapreteka antuk sira Empu Kuturan, ngeraris nangun catur agama, catur lokika bhasa, catur gila, mekadi ngewangun Sanggah Kemulan, ngewangun Kahyangan Tiga, Pura Desa, Puseh mwang Dalem …
… adapun dewa di kahyangan pewangunan Empu Kuturan diciptakan atau dibangun oleh Empu Kuturan, direncanakan dari Pura Silayukti dan menyelenggarakan segala pekerjaan 
sehubungan dengan pembangunan pura-pura kahyangan jagad, demikian pula mengadakan pemelaspasan dan mengisi pedagingan linggih bhatara-bhatari di Bali diatur oleh Empu Kuturan. Selanjutnya dibuat peraturan agama, empat tatacara berbahasa, empat ajaran pokok dalam kesusilaan dan lima tattwa agama, seperti mengajar membuat Sanggah Kemulan, Kahyangan Tiga, 
Pura Puseh, Pura Desa dan Pura Dalem …
Diceritakan kembali pembangunan Pura-Pura lain seperti Pura Dalem Mangening Belatri sudah ada sejak jaman dahulu, begitu juga dengan keberadaan Pura Segara, sudah ada sebelum Bhatara Sinuhun sampai di Sanur.
Diceritakan pada saat memindahkan bahan-bahan untuk mendirikan Palinggih Parhyangan Dalem Kedewatan dari Padang Galak menuju Sanur, seluruh kawula / braya melaksanakannya dengan senang hati, mereka mengadakan tari-tarian dan ikut menari-nari. Berdasarkan pawisik yang diterima, maka sejak saat itu setiap Piodalan di Pura Dalem Kedewatan Sanur selalu diadakan tarian Baris Tumbak yang bernama I Kebo Dengkol.
Semasa hidupnya Ida Wayahan Bandesa dan Ida Pedanda Made Bandesa di Grhya Gede Sanur pemerintahan desa dipegang oleh Ida Pedanda Made Bandesa, sedangkan Ida Pedanda Wayahan Bandesa memusatkan pikiran untuk melaksanakan dharmaning agama. Ida Pedanda Made Bandesa berputra seorang bernama Ida Pedanda Gede Ngenjung, mengambil istri ke Puri Agung Pemecutan, putri dari Raja Sakti Pemecutan I. Dari perkawinan ini melahirkan seorang putri bernama Ida Pedanda Istri Agung Kaniya. Sedangkan istri beliau dari Grhya Pasekan, Tabanan berputra seorang bernama Ida Wayahan Pasekan. Selanjutnya Ida Pedanda Wayahan Pasekan mengambil istri dari Pemecutan Gelogor berputra Ida Pedanda Made Ngenjung, dan dari istri lainnya (Jero Abian) berputra seorang bernama Ida Pedanda Wayahan Meranggi.
Selama pemerintahan Ida Pedanda Made Ngenjung sekitar tahun 1780 M. Beliau mengambil istri dari Puri Pamecutan Kaleran bernama I Gusti Ayu Agung Kaleran yang merupakan saudara tertua dari tiga bersaudara. Sedangkan yang kedua bernama I Gusti Ngurah Made yang ketiga bernama I Gusti Ngurah Rai. Diceritakan di Puri Satria berkuasa Ida Cokorda Sakti Jambe, putra dari Cokorda Jambe Merik yang merupakan putra pedanan dari Dalem Sukawati. Sedangkan adik dari Cokorda Sakti Jambe (Cokorda Made) berpuri di Jero Kuta.
Sebutan Jero Gede Sanur ini dimulai dari kisah I Gusti Ngurah Rai dari Puri Pemecutan Kaleran, yang pada saat itu sering berada di Puri Satria dituduh berhubungan asmara dengan salah satu dari para istri Cokorda Sakti Jambe, sehingga Cokorda Sakti Jambe menjatuhkan hukuman mati. Mengetahui dirinya akan di bunuh 
I Gusti Ngurah Rai melarikan diri ke Kerobokan. Namun terus dikejar, dan melarikan diri lagi ke Jimbaran. Diketahui berada di Jimbaran I Gusti Ngurah Rai dicari lagi ke Jimbaran, akhirnya melarikan diri menyeberangi Selat Lombok menuju daerah Lombok. Di Lombok I Gusti Ngurah Rai mengabdi kepada Raja Lombok. Beliau suka mebotoh / berjudi dan karena kesaktiannya beliau disayangi oleh Raja Lombok.
Lama-kelamaan beliau bosan tinggal di Lombok, dan ingin kembali lagi ke Bali. Raja Lombok memberikan bhisama kepada 
I Gusti Ngurah Rai, bahwa bila ingin kembali ke Bali supaya menemui keluarganya yang berada di Karangasem. Bosan di Karangasem I Gusti Ngurah Rai melanjutkan ke arah barat menuju Gianyar. I Gusti Ngurah Rai terus berpindah-pindah oleh sebab beliau senang berjudi / memotoh.
Diceritakan Raja Gianyar ingin menjadikan I Gusti Ngurah Rai abdinya untuk selamanya. Demikian pula I Gusti Ngurah Rai ingin kembali ke Puri Satria Badung. Akhirnya keluarlah bhisama Raja Gianyar, ‘Bila I Gusti Ngurah Rai dapat mengalahkan jangkrik milik raja, maka raja siap membantu I Gusti Ngurah Rai kembali ke Satria Badung. Dan sebaliknya bila jangkrik milik I Gusti Ngurah Rai kalah, harus siap mengabdi selama hayatnya di Gianyar’. Bhisama ini diterima oleh I Gusti Ngurah Rai.
I Gusti Ngurah Rai kemudian menghadap kepada Ida Pedanda Made Ngenjung di Sanur guna memohon petunjuk dalam menghadapi Raja Gianyar. Sesampai di Sanur Ida Pedanda Made Ngenjung memberikan saran supaya I Gusti Ngurah Rai melakukan tapa semadi untuk memohon petunjuk kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa. Bila sudah saatnya tiba di pagi hari apa pun yang jatuh dari atas, I Gusti Ngurah Rai patut memungutnya dan langsung memasukkan kedalam kantong jangkrik / bungbung. Waktu dini hari menjelang pagi setelah melakukan surya sewana, maka jatuhlah bunga kamboja / jepun. I Gusti Ngurah Rai langsung memungut dan memasukkannya ke dalam bungbung, tiba-tiba berubahlah bunga jepun itu menjadi seekor jangkrik. Jangkrik itu tak lain adalah duwe Ida Bhatara di Sanur. Sedangkan jangkrik Raja Gianyar adalah duwe Ida Bhatara di Dalem Peed Nusa Penida.
Tak lama diceritakan sampailah I Gusti Ngurah Rai di Gianyar, namun beliau kesiangan sampainya karena harus berjalan dari Sanur ke Gianyar. Raja Gianyar telah siap lebih dahulu menunggu kedatangan I Gusti Ngurah Rai dengan panjak dan para pengikutnya. Kemudian bersoraklah para penonton begitu melihat I Gusti Ngurah Rai telah datang. Tidak diceritakan serunya pertarungan jangkrik itu, akhirnya jangkrik milik Raja Gianyar kalah. Raja Gianyar menepati janjinya membantu I Gusti Ngurah Rai kembali ke Satria Badung.
Kembali I Gusti Ngurah Rai menghadap Ida Pedanda Made Ngenjung untuk memohon petunjuk dalam usahanya membalas dendam kepada Cokorda Sakti Jambe di Puri Satria. Ida Pedanda Made Ngenjung menyarankan agar I Gusti Ngurah Rai menghadap I Gusti Ngurah Made di Puri Pemecutan Kaleran guna mencari tanggapan bila ia menyerang Satria. Raja Pemecutan berjanji akan membantu penyerangan itu. Setelah dicapai kata sepakat, I Gusti Ngurah Rai kembali ke Sanur menghadap Ida Pedanda Made Ngenjung melaporkan kesepakatan penyerangan ke Puri Satria. Ida Pedanda Made Ngenjung dan Ida Pedanda Wayahan Meranggi membuka busana pandita dan siap membantu penyerangan dari arah timur.
Ida Pedanda Made Ngenjung dan Ida Pedanda Wayahan Meranggi beserta laskar I Gusti Ngurah Rai tiba di Desa Kesiman. Beliau dihadang oleh Mangku Dalem Kesiman yang bela pati kepada Raja Satria. Mangku Dalem Kesiman adalah seorang yang sangat sakti, beliau adalah andalan / tabeng dada dari Cokorda Sakti Jambe di Puri Satria. I Gusti Ngurah Rai bersama laskar bantuan Raja Gianyar menyerang Pemangku Dalem Kesiman lewat Batubulan namun laskar bantuan Gianyar dapat dikalahkan oleh Mangku Dalem Kesiman. Pertempuran berlanjut antara Mangku Dalem Kesiman dengan Ida Pedanda Made Ngenjung dan Ida Pedanda Wayahan Meranggi. Perut Mangku Dalem Kesiman dapat ditumbak oleh Ida Pedanda berdua. Merasa perutnya terluka, Mangku Dalem Kesiman mengeluarkan ususnya kemudian melilitkan ke lehernya dan siap menyerang kembali. Karena sangat parah keadaannya, maka Ida Pedanda Made Ngenjung berucap “adik mari tinggalkan Mangku Dalem Kesiman, janganlah dihadapi lagi karena akan membuang tenaga saja. Mangku Dalem Kesiman sudah tidak berdaya dan sebentar lagi akan mati”. Selanjutnya Ida Pedanda Made Ngenjung dan Ida Pedanda Wayahan Meranggi meninggalkan tempat peperangan menuju Puri Satria Badung. Mangku Kesiman rebah dan menemui ajal sepeninggal Ida Pedanda.
Diceritakan laskar Ida Pedanda Made Ngenjung dan Ida Pedanda Wayahan Meranggi sampai di Puri Satria. Perang antara laskar I Ngusti Ngurah Made melawan laskar Cokorda Sakti Jambe yang dipimpin oleh patihnya masih berkecamuk. Laskar Sanur yang dipimpin oleh beliau berdua langsung turun ke medan perang membantu laskar I Gusti Ngurah Made. Dalam pertempuran sengit tersebut laskar Cokorda Sakti Jambe kalah, sisanya yang masih hidup melarikan diri.
Setelah perang selesai I Gusti Ngurah Made, Pedanda Made Ngenjung, Pedanda Wayan Meranggi dan I Gusti Ngurah Rai yang berada di tempat itu, masuk ke istana. Semua pintu gerbang sudah tertutup dan dikunci dari dalam. Ida Pedanda Made Ngenjung memerintahkan dua laskarnya memanjat tembok untuk membuka pintu gerbang dari dalam. Tetapi baru menginjakkan kaki di dalam istana sudah dihadang oleh Raja Jambe yang duduk di sebuah batu ceper (lempeh) hitam dengan seekor anjing hitam yang sangat besar di sebelah kanannya. Dengan sangat terkejut beliau berkata keras kepada kedua orang tersebut, “Siapa engkau berdua, berani masuk kedalam keraton tanpa seijinku?”. Kedua laskar itu menjawab, “Kami laskar dari Sanur yang berani beradu jurit dengan paduka”. Cokorda Sakti Jambe sangat berang dan berkata lagi, “Aku tidak pernah ada masalah dengan Sanur, mengapa Sanur turut campur dalam perang ini. Kalau demikian kehendakmu terimalah kutukku ini….”. Sambil mencabut sarung kerisnya dan melemparkan kepada kedua laskar itu, kena tepat dibibirnya sampai bengor. Cokorda Sakti Jambe mengutuk dengan berkata jah tah smat, “Moga-moga sampai tujuh keturunanmu bengor”. Sampai sekarang keturunan itu menjadi bibirnya miring (bengor) dan diberi nama I Bengor. Begitu pintu gerbang terbuka Ida Pedanda Made Ngenjung, Ida Pedanda Wayahan Meranggi, I Gusti Ngurah Made dan I Gusti Ngurah Rai beserta beberapa orang laskar menyerbu ke istana bersama-sama menangkap Cokorda Sakti Jambe. Beliau diusung menemui Cokorda Made di Jero Kuta. I Gusti Ngurah Rai melampiaskan dendamnya dengan membunuh Cokorda Sakti Jambe dan menyerahkan jenasah beliau kepada Cokorda Made. Setelah peristiwa itu rombongan menuju ke selatan dan beristirahat di Puri Pemecutan Kaleran (Kaleran Kawan). Sambil beristirahat matur I Gusti Ngurah Made kepada Ida Pedanda Made Ngenjung dan Ida Pedanda Wayahan Meranggi. Apa yang harus kami perbuat sekarang setelah kita memenangkan perang, begitu pula Cokorda Sakti Jambe telah wafat. Berkatalah Ida Pedanda Made Ngenjung kepada I Gusti Ngurah Made dan I Gusti Ngurah Rai. “Hai Ngurah berdua karena sudah demikian keadaannya, saya minta agar Ngurah Made madeg menjadi Raja untuk menggantikan Cokorda Sakti Jambe dan bangunlah istana Kerajaan di sebelah timur Kali Badung dengan sebutan Kerajaan Denpasar, bergelar Cokorda Denpasar, sedangkan Ngurah Rai kembali ke Puri Pemecutan Kaleran”. Selesai Ida Pedanda Made Ngenjung menyampaikan bhisama kepada I Gusti Ngurah Made dan I Gusti Ngurah Rai, berangkatlah beliau dengan Ida Pedanda Wayahan Meranggi beserta laskar kembali ke Sanur.
Tiba di desa Tanjung Bungkak beliau dihadang oleh I Gusti Ngurah Abian Timbul dari desa Intaran beserta laskar dengan senjata terhunus, siap bertempur. Berkatalah Ida Pedanda Made Ngenjung kepada I Gusti Ngurah Abian Timbul. “Hai Bapa hendak pergi kemana dengan senjata terhunus ?”. “Ratu Pedanda berdua, kami mau pergi ke Puri Satria karena kami mendengar kabar bahwa Cokorda Sakti Jambe diserang oleh I Gusti Ngurah Made dan I Gusti Ngurah Rai dari Puri Pemecutan Kaleran”. Kemudian dijawab oleh Ida Pedanda, bahwa berita itu memang benar. Dimana kami dengan laskar telah ikut bersama-sama I Gusti Ngurah Made dan I Gusti Ngurah Rai dalam penyerangan itu. Sekarang Cokorda Sakti Jambe telah wafat. Oleh karena itu keadaannya, sebaiknya kita kembali ke Sanur bersama-sama. Yang selanjutnya ajakan tersebut disetujui oleh I Gusti Ngurah Abian Timbul serta kedua rombongan itu kembali ke Puri dan Grhya masing-masing.
Pada tahun 1789, setelah mapan menjabat sebagai raja di Puri Denpasar, I Gusti Ngurah Made sebagai Cokorda Denpasar, turunlah bisama beliau bahwa : Ida Pedanda Made Ngenjung diberi kekuasaan Ngambeng di sebelah timur Bantas (Setra Bantas) garis lurus utara / selatan. Karena perubahan status fungsi beliau dari pendeta (pedanda) menjadi penguasa (Raja) maka berubahlah sebutan Grhya Gede menjadi Jero Gede Sanur dan sampai sekarang sebutan itu dipadukan menjadi Grhya Jero Gede Sanur. Sedangkan Pedanda Wayahan meranggi di berikan kedudukan menjadi penguasa di Desa Sumerta dan pindah membangun Grhya di sana (di Abian Kapas) dengan sebutan Grhya Meranggi, sampai sekarang.
Diceritakan keturunan lurus Pedanda Made Ngenjung yang ada sekarang di Grhya / Jero Gede Sanur. Ida Pedanda Made Ngenjung berputra Ida Pedanda Ngenjung Putra – berputra Ida Pedanda Gede Ngenjung – berputra Ida Pedanda Ngurah (wafat di segara) – berputra Ida Bagus Ngurah (pernah menjabat Punggawa) – berputra Ida Bagus Anom Ngurah – berputra 3 orang : 1. Ida Bagus Oka Natha, 2. Ida Bagus Gede (almarhum), 3. Ida Bagus Tjethana Putra, bertiga inilah sekarang yang berada tinggal di Grhya / Jero Gede Sanur.
Selanjutnya sentana-pratisentana tusning Bhatara Sinuhun, berikut keluarga besar beliau baik dari warih langsung berdasarkan pamancangah yang ada maupun dari keluarga pewarangan (kerabat) dan braya, warga-wargi, ada yang menetap di Sanur dan ada pula yang pindah ke desa-desa lain di seluruh Bali, diantaranya :
Grhya-Grhya yang berada di Sanur :
Grhya Timbul Puseh, Grhya Kaleran, Grhya Manesa, Grhya Oka, Grhya Mecutan, Grhya Nagi, Grhya Jambe, Grhya Kanginan, Grhya Jumpung, Grhya Wanasari, Grhya Sari, Grhya Mawang, Grhya Intaran, Grhya Simpar, Grhya Bun, Grhya Bangun, Grhya Sibang, Grhya Gulingan, Grhya Glogor, Grhya Telaga, Grhya Timbul Anggarkasih, Grhya Bangli, Grhya Kaler, Grhya Gelgel, Grhya Perasi, Grhya Bangun Sindhu, Grhya Simpar Sindhu.

Yang berada di kawasan Renon adalah Grhya Telaga Renon.
Grhya-Grhya yang berada di kawasan Kesiman :
Grhya Tegal Jinga ‘Bajing’ Kesiman, Grhya Tegal Jinga ‘Bajing’ Lebah, Grhya Meranggi Abian Kapas, Grhya Meranggi Lebah, Grhya Bangun Briyung, Grhya Timbul Kesiman, Grhya Gede Bindu, Grhya Tegeh Bindu, Grhya Tegeh Ngenjung, Grhya Ambengan Bindu, Grhya Natih, Grhya Panasan Bindu, Grhya Piadnya Bindu, Grhya Tegal Bindu, Grhya Pelaci Bindu, Grhya Tengah Bindu, Grhya Karang Bindu, Grhya Pacung Bindu, Grhya Abian Nangka.
Grhya-Grhya yang berada di Denpasar :
Grhya Karang Kluwi Tampakgangsul, Grhya Wangaya Kelod, Grhya Keniten Taensiat, Grhya Timbul Belaluan Kaja dan Grhya Timbul Belaluan Kelod, Grhya Telaga Telabah, Grhya Telaga Tegal, Grhya Telaga Beji Tegal, Grhya Telaga Sari Tegal, Grhya Telaga Carik Tegal, Grhya Telaga Bangket Yangbatu, Grhya Telaga Sidakarya, Grhya Telaga Gemeh, Grhya Telaga Penyobekan, Grhya Braban, Grhya Pemedilan, Grhya Padangsumbu, Grhya Penyaitan, Grhya Tegal Linggah.
Grhya-Grhya di kawasan Kuta :
Grhya Telaga Dalem Kerobokan, Grhya Telaga Tawang Kerobokan, Grhya Tuban.
Grhya-Grhya di daerah Petang dan Abiansemal :
Grhya Telaga Carangsari, Grhya Wanasari Pangsan, Grhya Dalem Sibang, Grhya Bun Sibang, Grhya Angantaka, Grhya Sigaran.
Grhya-Grhya di Gianyar :
Grhya Gede Ketewel, Grhya Rangkan Ketewel, Grhya Bun Batuan, Grhya Pacung Batuan, Grhya Selat Celuk Sukawati, Grhya Tegal Suci Pejeng, Grhya Tegal Sumampan, Grhya Bajing Belahbatuh, Grhya Taman Serongga, Grhya Angkatan Serongga, Grhya Bun Serongga, Grhya Siangan, Grhya Kerurak, Grhya Senggwan Baler Puri, Grhya Sanur Pejeng, Grhya Panyembahan, Grhya Kabetan, Grhya Jukut Paku, Grhya Madawa, Grhya Yang Api.
Grhya-Grhya di daerah Bangli :
Grhya Sama, Grhya Kelempung, Grhya Sanur Br. Pande, Grhya Paninjoan.
Grhya-Grhya di daerah Klungkung :
Grhya Karang Satrya, Grhya Tembau Aan, Grhya Tegal Wangi, Grhya Bakas, Grhya Intaran Tihingan, Grhya Intaran Koripan, Grhya Intaran Getakan, Grhya Telaga Banjarangkan.
Grhya-Grhya di Karangasem :
Grhya Gede Duda Selat, Grhya Sanur Laya Omba Duda, Grhya Sanur Bebandem, Grhya Ngenjung Bongaya, Grhya Keniten Manggis.
Grhya di Tabanan : Grhya Sanur Belayu.
Grhya-Grhya di Jembrana : Grhya Sanur Yeh Embang, Grhya Putra Dalem Ekasari Malaya.
Grhya di Lombok Barat : Grhya Pagesangan, Grhya Ngenjung, Grhya Suweta Kawan.
Para prati sentana yang masih setia seperti :
Soroh Tangkas Sekeh / Tuban (turunan Pekak Kacong), Soroh Tangkas Bualu, Soroh Tangkas Tengkulung, Soroh Tangkas Tanjung Benoa, Turunan Gusti Tengkulung, (Geria), Soroh Pan Jati Kedonganan, Soroh Sawah/Pedungan, Soroh Ngenjung Penatih Kesiman, Soroh Pande Br. Panti Sanur, Wargi Seblanga Abiantimbul Badung, Soroh Ngenjung Renon, Soroh Kandel Renon, Wargi Mangku Puseh Renon, Wargi Pasek Renon, Soroh Abyan Br. Gulingan Sanur, Soroh Panti Br. Taman Sanur, Soroh Minggir Br. Kelandis, Wargi Bandesa Singgi / Langon, Wargi Wirasana Tangkas Br. Wirasana, Soroh Jero Agung Br. Singgi, Turunan I Goplong Serangan, Turunan I Bakti Penatih Serangan, Turunan I Rabeng Serangan, Turunan I Roto Semawang, Turunan I Resek Mangku Br. Panti, Jro Gde Penestanan Ubud, Warga Mangku Gede Sanur Kesiman, Soroh Belong Abianangka Kesiman, Soroh Mamoran, Soroh Kalah Br. Singgi, Soroh Meranggi Br. Singgi, Soroh Tangkeban Langon, Soroh Selat Langon, Soroh Tameng Langon. Wargi Br. Batan Poh, Wargi Belong, Wargi Pekandelan, Wargi Pemamoran, Wargi Tangtu, Wargi Pejeng.
Para Santanan Bhatara, braya warga-wargi yang bertempat tinggal di Sanur sudah melaksanakan upacara pada saat Tilem Kajeng di Pura Dalem Kadewatan Sanur, menurut banjar masing-masing seperti :
Banjar Batanpoh, Banjar Pekandelan, Banjar Belong, Banjar Adat Tegal Asah, Banjar Adat Wirasana, Tempekan Banjar Adat Tangtu, Tempekan Banjar Adat Langon, Tempekan Br. Anggar Kasih dan Tempekan Br. Tegeh Selang.
Dengan demikian, ada dua cikal bakal Brahmana Keniten (Wangsa Wetan) yang diturunkan oleh Bhatara Empu Dhangyang Dwijendra, seperti warih Sanur yang merupakan sentanan dari Ida Pedanda Sakti Telaga Ender dan warih Batulepang dari Sinuhun Ida Pedanda Telaga Tawang yang bertempat tinggal di Kamasan.
Setelah memiliki Grhya, masing-masing diberikan tugas untuk bertanggung jawab pada masing-masing parhyangan dibantu oleh braya dan kulawarga, seperti yang diwarisi sampai sekarang yaitu : Pura Kentel Gumi menjadi tanggung jawab Grhya Jumpung, beserta panjak braya Banjar Tangtu. Pura Padang Sakti menjadi tanggung jawab Grhya Simpar beserta Banjar Tangtu. Pura Kembar menjadi tanggung jawab Grhya Tambau, oleh karena pindah ke Desa Aan Klungkung maka pura tersebut diambil alih oleh Grhya Wanasari, dan menjadi tanggung jawab bersama dengan Grhya Telaga Anggarkasih dan Pamaksan Pura Kembar. Pura Tanggun Swan menjadi tanggung jawab turunan Pekak Sabang. Pura Segara menjadi tanggung jawab Pamaksan Segara. Pura Dalem Mangening menjadi tanggung jawab Pamaksan Pura Belatri. Pura Dalem Kadewatan dan Pura Tanjung Sari Santrian menjadi tanggung jawab Grhya Jero Gede Sanur, juga dibantu oleh Pamaksan dan braya. Pura Puseh, Desa Bale Agung, Pura Dalem Kahyangan Ksetra, Pura Merajapati dan Pura Pamuwunan (Tunon), menjadi tanggung jawab Desa Adat (Pekraman) Sanur. Pura Batur menjadi tanggung jawab Grhya Oka, Grhya Mecutan dan Pamaksan. Pura Rambut Siwi menjadi tanggung jawab Grhya Intaran. Pura Kembengan (Pengubengan) dan Pura Tegal Penangsaran menjadi tanggung jawab Grhya Jumpung, namun sekarang dibantu oleh Pewaris Mangku Kembengan.
Palinggih yang didirikan oleh Bhatara yang merupakan kesahan dari Puri Ksatrya bernama Santrian, bertempat di sebuah tanjung yang dulunya merupakan tempat peristirahatan Bhatara Empu Bharadah (1007 M) dari Jawa, yang akan mengunjungi kakak beliau Ida Empu Danghyang Kuturan di Silayukti. Sebagai tanda tempat Ida Bhatara Empu Bharadah memuja Bhatara Tohlangkir di Puncak Gunung Agung, diberi nama Tanjung Sari.
Walaupun Bhatara Leluhur tidak henti-henti melaksanakan Yadnya seperti Panca Yadnya, bakti kepada Sanghyang Widhi dan Bhatara Kawitan, berpedoman pada tattwa seperti Panca Sraddha, menciptakan Jagadhita, dan selalu membela kebenaran, tetapi tidak luput dari beberapa permasalahan yang datang dari kapal Sri Komala, sehingga Kerajaan Badung melaksanakan perang puputan, pada Wrespati Keliwon wara Ukir, tanggal masehi 20 September 1906 melawan Belanda.
Setelah kalah, dan dijajah oleh Bangsa Belanda, keturunan Ida Bhatara Sinuhun Leluhur masih bersatu mempertahankan keberadaan Sanur. Hingga pada tahun 1917 M terjadi bencana gempa bumi yang merusak bangunan-bangunan besar.
Pada saat itu Bhatara Leluhur beserta kulawarga, santana, braya, wargi, sameton panyungsung sapakraman Desa Adat (Pekraman) Sanur kembali membangun palinggih-palinggih Parhyangan, selanjutnya membangun Kori Agung (1931 M), Bale Agung yang berpedoman pada Asta Bumi Asta Kosala-Kosali, hingga melaksanakan Karya Ngenteg Linggih di Pura Dalem dan Pura Puseh (1937 M).
Demikianlah perjalanan Bhatara Sinuhun berikut tempat-tempat suci yang telah Beliau dirikan dan kita warisi sampai saat ini sebagai PARAMA DHARMA BHATARA IDA PEDANDA (ANOM) BANDESA dan Keturunannya, yang sangat perlu untuk diyakini, dihayati dan dilaksanakan sebagai sebuah persembahan kepada leluhur untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan antara Keluarga Besar (semeton), braya, warga-wargi dalam rangka menyelenggarakan Karya Agung Memungkah Dan Ngenteg Linggih di Pemerajan Agung Grhya Jero Gede Sanur (2003).

Leave a comment

Filed under Articles

DWIJENDRA TATWA

PARAMA DHARMA 
DANGHYANG NIRARTHA
Untuk membuka lembaran Riwayat Hidup Danghyang Dwijendera dan keturunannya, terlebih dahulu saya menghaturkan pangastuti dengan terjemahan dari Dwijendra Stawa dengan tembang Kidung Demung Wilis :
Ya Tuhan, ampunilah kami, semoga tidak tertimpa kutuk dan kualat, karena kami kini memuja Dhanghyang Dwijendra yang merupakan guru suci, yang menganugerahkan ajaran ilmu pengetahuan suci, Ajaran Ketuhanan Hindu di Bali berupa weda – mantra – nyanyian-nyanyian suci – tingkah laku – peradaban hidup, dengan lima yadnyanya, antara lain Dewa Yadnya, yang selalu membuat ketentraman rasa bathin, selamat sentosanya jiwa kami, semoga berhasillah cita-cita kami, Negara kami selamat sejahtera untuk diselenggarakan …
DAHA
Kisah ini dimulai dari seorang keturunan brahmana (Brahmana wangsa) bernama Nirartha adik dari Dhanghyang Angsoka, putra dari Dhanghyang Asmaranatha. Ketika Sang Nirartha sedang muda jejaka beliau mengambil istri, di Daha, putri dari Danghyang Panawaran yaitu golongan keturunan Bregu di Grhya Mas Daha bernama Ida Istri Mas.
Setelah bersuami istri, Sang Nirartha dilantik (diniksan) oleh Danghyang Panawaran menjadi pendeta (Brahmana janma) diberi gelar Danghyang Nirartha. Dari perkawinan ini Danghyang Nirartha mendapat 2 orang putra, yang sulung putri diberi nama Ida Ayu Swabhawa alias Hyangning Salaga (yang berarti Dewanya kuncup bunga melur) sebagai nama sanjungan karena cantik jelita rupa dan perawakannya serta pula ahli tentang ajaran bathin. Adiknya seorang putra diberi nama Ida Kulwan (artinya kawuh / barat) dan diberi nama sanjungan Wiraga Sandhi yang berarti kuntum bunga gambir, karena tampan dan gagah perawakannya.

PASURUAN
Sementara itu kehidupan masyarakat di Jawa sangat kacau. Di sana-sini terjadi perkelahian dan pertempuran, penumpasan-penumpasan yang sangat mengerikan dan menyedihkan antara orang-orang Jawa yang telah masuk Agama Islam dengan orang-orang Jawa yang masih taat mempertahankan agama lamanya, (sesungguhnya agama lama yaitu agama warisan leluhurnya dengan agama baru yaitu Agama Islam sama saja hakekat tujuannya. Yang berbeda ialah cara-caranya, bahasa yang dipergunakan dan upakara, upacaranya, serta tata tertib pergaulan hidupnya). Akhirnya “kalah” agama lama oleh Agama Islam. Orang-orang Jawa yang masih taat pada agama lamanya, agama yang diwariskan oleh leluhurnya, terutama orang-orang Majapahit, banyak pindah diantaranya ada yang ke Pasuruan, ke pegunungan Tengger, ke Brambangan (Banyuwangi) dan ada yang menyeberang ke Bali. Ketika itulah Danghyang Nirartha turut pindah dari Daha ke Pasuruan disertai dua orang putra-putrinya, sedang istrinya tidak disebutkan turut ke Pasuruan.
Setelah berselang beberapa tahun lamanya di Pasuruan, Danghyang Nirartha mengambil istri pula, yaitu seorang wanita yang terhitung saudara sepupu olehnya, putri Danghyang Panawasikan bernama Ida Istri Pasuruan, dengan nama sanjungan disebut Diah Sanggawati (seorang wanita yang sangat menarik dalam pertemuan) karena cantiknya. Perkawinan ini menghasilkan 
2 orang putra laki-laki, yang sulung diberi nama Ida Wayahan Lor atau Manuaba. Manuaba (mulanya Manukabha) berarti burung yang sangat indah karena tampan dan indah raut roman muka dan bentuk raganya. Adiknya bernama Ida Wiyatan atau Ida Wetan berarti fajar menyingsing.

BRAMBANGAN (BANYUWANGI)
Kemudian Danghyang Nirartha pindah dari Pasuruan ke Brambangan (Banyuwangi) disertai oleh 4 orang putra-putrinya namun istrinya tidak disebutkan turut. Tiada beberapa lama antaranya Danghyang Nirartha mengambil istri di sana yaitu adik dari Sri Aji Juru raja Brambangan bernama Sri Patni Kaniten yang sungguh-sungguh cantik molek rupanya sehingga terkenal dengan sebutan “jempyaning ulangun” yaitu sebagai obat penawar jampi orang yang kena penyakit birahi asmara. Beliau itu turunan raja-raja (Dalem) dan turunan brahmana, terhitung buyut dari Danghyang Kresna Kapakisan di Majapahit, putri dari raja Brambangan kedua. Adik dari raja Brambangan ketiga yang menjadi raja ketika itu, tegasnya bersaudara kumpi sepupu Danghyang Nirartha kepada Sri Patni Kaniten. Perkawinan ini menghasilkan 3 orang anak: seorang putri dan 2 orang putra. Yang sulung seorang putri bernama Ida Rahi Istri rupanya cantik dan pandai tentang ilmu kebatinan. Yang kedua bernama Ida Putu Wetan atau Telaga atau disebut juga Ida Ender (yang berarti ugal-ugalan), terkenal kepandainya, kesaktiannya dan ahli ilmu gaib, banyak tulisan buah tangannya. Yang bungsu bernama Ida Nyoman Kaniten (yang berarti tenang / bagaikan tenangnya air).

MPULAKI / DALEM MELANTING
Setelah beberapa tahun lamanya Danghyang Nirartha bertempat tinggal di Brambangan, maka terjadi suatu hal yang menyebabkan tidak baik hubungan Danghyang Nirartha terhadap raja Sri Aji Juru, karena raja mengandung benci dan murka kepada Empu Danghyang. Empu Danghyang didakwa oleh raja memasang guna-guna disebabkan oleh keringat Empu Danghyang Nirartha harum sebagai minyak mawar. Tiap-tiap orang duduk berdekatan dengan beliau turut harum tanpa memakai minyak wangi. Adik wanita Sri Dalem Juru mengandung cinta birahi kepada Empu Danghyang. Sebab itu Danghyang Nirartha berusaha pindah dari Brambangan, hendak menyeberang ke Bali bersama 7 orang putra-putrinya dan istrinya Sri Patni Kaniten.
Pada suatu hari menyeberanglah sang pendeta bersama anak istrinya mengarungi laut selat Bali yang disebut Segara Rupek. Sang pendeta sendiri waktu menyeberang mempergunakan sebuah labu pahit (waluh pait) bekas kele kepunyaan orang desa Mejaya, dan kaki tangannya dipergunakan sebagai dayung dan kemudi. Penyeberangan selamat tidak mendapat rintangan suatu apa. Danghyang Nirartha seorang pendeta yang tajam perasaan intuisinya itu mengerti bahwa penyeberangannya itu selamat atas bantuan sebuah waluh pahit dan kekuasaan Tuhan. Sebab itu beliau bersumpah dalam lautan tidak akan mengganggu hidupnya waluh pahit seumur hidupnya sampai pada turunan-turunannya. Adapun anak istrinya menyeberang menumpang jukung (perahu) bocor yang disumbat dengan daun waluh pahit, juga kepunyaan orang desa Mejaya.
Tiada berapa lama antaranya karena mendapat tiupan angin barat yang baik, maka tibalah di pantai pulau Bali Barat. Sang pendeta telah sampai lebih dahulu, menantikan anak istrinya sambil menggembala sapi. Di tempat itu lambat laun dibangun sebuah pura kecil lalu dinamai Purancak. Atas petunjuk orang-orang gembala itu, sang pendeta bersama anak istrinya berangkat berjalan kearah timur memasuki hutan belukar. Di tengah perjalanan, rombongan sang pendeta agak ragu-ragu. Jalan kecil (selisikan – bhs. Bali) mana harus dituruti, karena banyak cabang-cabangnya. Tiba-tiba muncul seekor kera di tengah jalan. Ia berjalan lebih dahulu sambil bersuara grok-grok seraya melompat-lompat di atas dahan-dahan pohon seperti menunjukkan jalan.
Sang pendeta berkata kepada kera itu : “Hai kera, semoga turun-turunanku kelak tidak boleh menyakiti kera dengan dalih memelihara”, demikian pastu beliau terus berjalan arah ke timur.
Tiba-tiba bertemu dengan seekor naga yang besar terbuka mulutnya sangat lebar dengan rupa dan bentuk yang dahsyat mengerikan. Putra-putri dan istrinya terperanjat hebat, nyaris lari cepat-cepat, namun sang pendeta dengan wajah yang tenang masuk ke dalam mulut naga itu. Setibanya di dalam perut naga itu dijumpainya sebuah telaga yang berisi bunga tunjung (teratai) tiga warna yaitu tunjung yang di pinggir timur berwarna putih, yang dipinggir selatan merah, yang dipinggir utara hitam. Ketiga kuntum tunjung itu dipetik oleh sang pendeta, yang merah disuntingkan di atas telinga kanan, yang hitam di atas telinga kiri, yang putih dipegang dengan tangannya, lalu ke luar dari perut naga itu seraya mengucapkan weda mantra “Ayu Werddhi”. Naga itu musnah dengan tidak meninggalkan bekas. Rupa sang pendeta terlihat oleh putra-putri dan istrinya berwarna merah dan hitam, kemudian berubah berwarna emas. Melihat keadaan yang demikian, maka putra-putri dan istrinya diserang oleh perasaan takut yang amat dahsyat, sehingga tidak dapat menahan dirinya, lalu lari tunggang-langgang masuk ke dalam hutan tidak tentu tujuannya, masing-masing membawa dirinya sendiri.
Danghyang Nirartha setelah tiba di luar tercengang terperanjat karena anak istrinya tidak ada lagi. Dengan perasaan yang sangat cemas sang pendeta tergopoh-gopoh mencarinya ke dalam hutan belukar yang rapat dengan tumbuh-tumbuhannya, tambahan pula hari telah mulai menggelap. Untung tidak jauh dari tempatnya semula didapati istrinya seorang diri duduk bersimpuh terengah-engah dalam kepayahan, pucat-lesi, lesu-letih tidak dapat berjalan lagi.
“Wahai Ketut,” kata sang pendeta kepada istrinya, “Kemana larinya anak-anak kita?”. Jawab istrinya, “Ampun sang pendeta dinda tidak mengetahui ke mana larinya anak-anak kita, karena mereka lari tak berketentuan dan…,terpencar masing-masing dengan kehendaknya sendiri-sendiri….. Dinda tidak dapat mengikutinya karena lesu kepayahan….”
Sang pendeta merasa cemas dan ada pula getaran perasaan yang tidak enak menyelinap dalam hatinya yang seakan-akan membisikkan ada sesuatu bahaya menimpa salah seorang putrinya.
Setelah istrinya reda sedikit payahnya, lalu bangun bersama sang pendeta berjalan perlahan-lahan mencari dan mengumpulkan putra-putrinya di dalam hutan yang gelap diselimuti malam itu. Semalam-malam itu sang pendeta terus berjalan bersama istrinya sambil memanggil-manggil nama putra-putrinya itu. Karena suara panggilan itu maka lama kelamaan dapat dikumpulkan putra-putrinya seorang demi seorang dan akhirnya kurang lagi seorang, yaitu putrinya yang tertua, Ida Ayu Swabhawa belum ditemukannya. Empu Danghyang disertai oleh anak istrinya terus mencari Ida Ayu Swabhawa sambil memanggil-manggil namanya. Setelah lama dicari, ditemuinya telah berbadan halus (badan astral) tampak rupanya pucat pasi.
Ditanyai oleh Empu Danghyang, katanya, “Apa sebabnya anakku sayang lari sejauh ini?”. Jawab Ida Ayu Swabhawa, “Ampunilah Empu Danghyang, …sebabnya hamba lari sejauh ini, karena diserang oleh rasa takut yang sangat hebat …tatkala melihat rupa ayahanda ketika baru keluar dari mulut naga,….sebentar merah sebentar hitam rupa dan badan jasmani ayahanda. Hamba lari terus dibuntuti dan dikejar oleh rasa takut itu, sehingga lari hamba….kian lama kian cepat menghabiskan tenaga….sampai ke luar hutan, memasuki daerah desa, lalu …, ” baru sampai sekian katanya lalu terdiam, wajah mukanya tampak sedih pedih kemudian berkata lagi : “Empu Danghyang,…hamba malu hidup sebagai manusia lagi…karena merasa cemar diri,…penuh dosa. Kasihanilah hamba, ajarilah sungguh-sungguh….supaya hamba bersih dari dosa, tidak dilihat orang. Bisa menjadi dewa di sorga, tidak lagi menjadi manusia….,” demikian katanya.
Danghyang Nirartha terharu hatinya mendengarkan, kasihan kepada putrinya dan murka kepada orang-orang desa (Pegametan).
Katanya : “Jangan khawatir anakku, ayah sedia mengajar anakku suatu ilmu rahasia, agar anakku terlepas dari segala dosa dan dapat duduk sebagai dewa”, demikian katanya.
Lalu Ida Ayu Swabhawa diajar suatu ilmu rahasia kaparamarthan yang berkuasa melepaskan segala dosa. Setelah selesai ajarannya maka Ida Ayu Swabhawa menggaib, suci dari dosa, menjadi dewa, disebut Bhatari (Dewi) Melanting, yang akan menjadi junjungan persembahan orang-orang desa di sana. Adapun ketika sang pendeta mengajar ilmu rahasia kepada putrinya, didengar pula oleh seekor cacing kalung (?) maka dengan tiba-tiba musnah (supat) papa dosanya, lalu menjelma menjadi seorang wanita yang memohon agar diperkenankan menghamba kepada Empu Danghyang dengan menyembah kakinya sang pendeta dan mengajukan permohonan tersebut, sebagai pembalasan jasa beliau memusnahkan papanya kembali menjadi manusia. Sang pendeta menerima permohonannya, lalu diberi nama Ni Brit.
Ketika itu istri sang pendeta Sri Patni Kaniten yang telah diberi gelar Empu Istri Ketut, dalam keadaan payah berdatang sembah kepada sang pendeta.
Katanya, “Empu Danghyang, dinda tidak kuasa berjalan lagi, rasanya ajal dinda akan datang, ijinkanlah dinda turut sampai di sini dan ajarilah juga dinda ilmu yang diberikan kepada anaknda Ni Ayu Swabhawa, agar dinda terlepas dari segala dosa kembali menjadi dewa”. Jawab sang pendeta. “Baiklah adikku, diam di sini saja bersama-sama dengan putri kita Ni Swabhawa. Ia sudah suci menjadi Bhatari Dalem Melanting dan adinda boleh menjadi Bhatari Dalem Ketut yang akan dijunjung disembah oleh orang-orang di sini di desa bersama orang-orangnya yang ada di sini yang akan kanda pralinakan (hanguskan) agar tidak kelihatan oleh manusia biasa, semuanya menjadi orang halus, orang sumedang, dan daerah desa ini kemudian bernama Mpulaki”. Demikian kata sang pendeta.
Setelah mengajarkan ilmu rahasia kepada istrinya maka Empu Danghyang mengeluarkan agni rahasia (api gaib) menghanguskan seluruh desa dan penghuninya.

GADING WANGI
Kemudian Danghyang Nirartha bersama 6 orang putra-putrinya berangkat meneruskan perjalanannya ke timur, lalu tiba di sebuah desa : Gading Wangi, yang kebetulan waktu itu orang-orang desa diserang penyakit sampar (gering gerubug). Bendesa (Kepala Desa) Gading Wangi tatkala mengetahui sang pendeta datang lalu segera menjemput di tengah jalan, duduk bersila berdatang sembah lalu.
Katanya, “Empu Danghyang, kami mengucapkan selamat datang, bahwa sang pendeta telah sudi datang ke desa kami yang sedang ditimpa penyakit gerubug. Setiap hari ada saja orang-orang kami meninggal dengan mendadak. Kami mohon hurip (hidup) mohon dengan hormat sudilah kiranya Empu Danghyang memberi obat kepada kami agar yang sakit bisa sembuh dan hama penyakit bisa hilang”.
Demikian katanya seraya berlinang-linang air mata. Danghyang Nirartha terharu dan belas kasihan mendengarkannya. Seketika Ki Bendesa disuruh mengambil air bersih ditempatkan di sangku, periuk atau sibuh. Setelah diberi mantram oleh sang pendeta, lalu disuruh memercikkan kepada yang sakit dan meminumnya. Empu Danghyang dan putra-putrinya dihaturi pesanggrahan tempat beristirahat dan dipersiapkan hidangan santap-santapan dan buah-buahan. Orang yang sakit setelah diperciki dan diminumi air tirtha yang telah diberi mantram oleh sang pendeta, seketika itu bisa sembuh segar bugar.
Pada sore harinya (sandhya kala) sang pendeta memerintahkan orang-orang meletakkan ganten (kunyahan sirih) beliau itu di empat penjuru tepi desa untuk mengusir bhuta kala (hantu setan) yang membikin penyakit. Orang-orang desa yang diberi perintah menyembah segera berjalan melakukan perintah sang pendeta. Memang betul-betul sang pendeta orang yang sakti, seketika itu orang desa dapat membuktikan dan melihat bayangan bangsa bhuta kala itu lari ke dalam laut, rupanya beraneka ragam. Orang desa banyak yang turun mempersaksikan pemandangan yang ajaib itu, dan semuanya heran terhadap kesaktian sang pendeta. Mulai ketika itu beliau diberi gelar Pedanda Sakti Bahu Rawuh (pendeta sakti yang baru datang). Yang pandai bahasa Kawi (Jawa Kuno) menyebut beliau itu Danghyang Dwijendra (raja pendeta guru Agama).
Orang-orang desa semuanya riang gembira, tiap-tiap hari bergilir menghaturkan santapan kepada sang pendeta dan putra-putrinya dan membuatkan pamereman (tempat tinggal) di desa Wani Tegeh. Harapan orang-orang desa supaya sang pendeta menetap di sana, tetapi sang pendeta keberatan karena masih akan meneruskan perjalanan ke timur. Kemudian Ki Bendesa Gading Wangi mohon berguru dan mabersih (madiksa) menjadi pendeta. Sang pendeta berkenan meluluskan permohonannya agar ada orang tua pembimbing Agama di sana. Ki Bendesa diajar ilmu kebatinan dan Ketuhanan, selanjutnya dibersihi (diniksan) menjadi pendeta (Dukuh) Gading Wani. Setelah itu diberi suatu panugrahan (anugerah) dicantumkan dalam “Kidung Sebun Bangkung”. Ki Bendesa Gading Wani setelahnya dilantik menjadi pendeta (Dukuh) menghaturkan anaknya wanita yang cantik kepada Empu Danghyang Dwijendra, bernama Ni Jro Patapan sebagai pangguru Yoga, yaitu tanda bakti berguru, untuk menjadi pelayan Empu Danghyang Dwijendra dalam mengatur sesajen-sesajen bersama-sama Ni Brit. Dengan senang hati Danghyang Dwijendra menerimanya.

PURA RESI DESA MUNDEH
Entah berapa waktu lamanya Pedanda Sakti Bahu Rawuh berasrama di desa Wani Tegeh, maka tersebarlah beritanya sampai ke desa Mas Gianyar, yaitu sanak saudaranya Ki Bendesa Gading Wani yang bertempat tinggal di Desa Mas, Gianyar dan sanak keluarganya di desa Mundeh daerah Kaba-Kaba.
Pada suatu hari Ki Pangeran Mas mengadakan persiapan pergi ke Desa Wani Tegeh atau Gading Wangi perlu menghaturi Danghyang Dwijendra supaya sudi datang ke Desa Mas. Sang Pendeta menyetujui. Pada suatu ketika berangkatlah Empu Danghyang bersama putra-putrinya dari desa Wani Tegeh hendak pergi ke Desa Mas maksudnya. Setelah tiba di desa Mundeh dijemput oleh Ki Bendesa Mundeh di tengah jalan dengan suatu maksud mohon berguru pada sang pendeta, tetapi ditolak oleh sang pendeta karena permohonannya itu dilakukan sedang ada di jalan. Tetapi oleh karena sangat khidmat baktinya Ki Bendesa menjemput beliau, maka ada juga anugrahnya, yaitu debu tapak kaki beliau ketika beliau berdiri berhenti di tempat itu, laksana suatu lingga yang harus dihormati oleh orang-orang Mundeh sampai kemudian. Ki Bendesa Mundeh amat senang hatinya menerima anugerah sang pendeta itu. Di tempat itu lambat laun dibangun sebuah pura (tempat suci) diberi nama Pura Resi atau Pura Grhya Kawitan Resi.

MANGA PURI (MANGUI)
Dari desa Mundeh sang pendeta berangkat arah ke timur laut, jalannya. Di tengah jalan berjumpa dengan sebatang sungai. Di pinggir sebelah baratnya ada sebuah mata air, airnya sangat suci dan sejuk dan di pinggir-pinggirnya terhias dengan serba bunga yang sedang mekar, menyebarkan bau harum yang menyedapkan rasa penciuman hidung. Bunga rampai yang pupus gugur dari kuntumnya menutupi tanah seakan-akan kasur tilam sari, sungguh-sungguh menggugah rasa indah nikmat mesra membatin. Sang pendeta berhenti di tempat itu, dengan tenang melakukan yoga samadhi disertai pujastuti dan japa mantra utama. Dan sekelilingnya itu disebut Mangopuri (Mangui).

PURA SADA
Tidak lama sang pendeta ada di sana, lalu didengar oleh Ki Bendesa Kapal turunan dari Ki Patih Wulung, tentang sang pendeta ada di Mangopuri (Mangui), maka cepat-cepat Ki Bendesa Kapal datang menghadap Empu Danghyang untuk menghaturi agar beliau singgah di sana serta menjelaskan bahwa beliau membawa surat pemberian Krian Patih Gajah Mada yang berisi perintah supaya memperbaiki pura Kahyangan yang ada di Bali, dan pada waktu itu kebetulan ada karya puja wali (odalan) di Pura Sada Kapal. Demikan isi permohonan Ki Bendesa Kapal. Sang pendeta memenuhi permohonannya dengan senang hati dan berangkat seketika itu juga.
Tiada diceritakan betapa halnya di tengah jalan, maka tibalah sang pendeta di desa Kapal, lalu masuk ke dalam pura serta duduk di balai piyasan di sebelah barat.
Sang pendeta bertanya kepada Ki Bendesa. “Kaki Arya,” panggilan beliau kepada Ki Bendesa, “Siapakah yang akan menyelesaikan karya puja wali Bhatara di Parhyangan ini?”. Jawab Ki Bendesa, “Singgih Empu Danghyang, tidak lain Empu Guto kami haturi di gunung Agung, untuk menyelesaikan upacara karya puja wali ini”. “Ki Arya”, kata sang pendeta, “Ki Guto itu adalah pelayan bapak yang disangka pendeta brahmana. Ia adalah penjelmaan gandarwa yang terkutuk dahulunya. Yang harus diselesaikan olehnya segala caru (korban) yang kecil dan untuk upacara selamatan sawah ladang, demikianlah hak wewenangnya”. Demikian kata Empu Danghyang.
Tidak lama antaranya maka datanglah rakyatnya yang diutus pergi ke Gunung Agung menghaturi Ki Guto, memikul Ki Guto dengan tandu pegayotan serta berpayung agung, langsung masuk ke dalam parhyangan Pura Sada. Demi dilihat Danghyang Dwijendra duduk di balai piyasan, maka Ki Guto cepat-cepat turun dari tandu duduk bersimpuh di hadapan sang Pendeta seraya mohon ampun tentang kesalahan tingkah lakunya.
Kata sang pendeta, “Hai kamu Guto, mulai sekarang kamu jangan menipu masyarakat umum, aku mengampuni kesalahanmu”. Demikian kata sang pendeta kepada Ki Guto, kemudian menoleh kepada Ki Bendesa. Katanya : “Kaki Arya, ketahuilah, bapak yang mengutus Ki Guto pergi ke Bali untuk menyelidiki Dalem Sri Baturenggong, telah lama tidak muncul kembali ke Jawa. Kini urungkan Ki Guto menyelesaikan puja wali Bhatara di sini. Yang patut dihadapinya ialah upacara korban (pacaruan) terutama pada waktu-waktu tileming kasanga (bulan mati pada bulan kesembilan menurut perhitungan kalender Bali yakni pada bulan Maret tahun Masehi), anangluk marana (upacara menghindarkan tanaman dari hama), mabalik sumpah di sawah ladang dan amugpug desti teluh tranjana (menghalau sebangsa ilmu hitam). Itulah wewenangnya. Jika ditugaskan untuk puja wali persembahyangan dewa di pura-pura, panas kesakitan masyarakat desa olehnya”. Demikian kata pendeta.
Ki Guto dan Ki Bendesa menyembah berulang-ulang. Danghyang Dwijendra dihaturi memuja menyelesaikan upacara puja wali di Pura Sada, sedang Ki Guto disuruh memuja pada upacara korban (pacaruan).
DESA TUBAN
Setelah selesai upacara odalan di Pura Sada maka sang pendeta bersama putra-putrinya dan 2 orang pelayannya pergi arah ke selatan tiba di desa Tuban daerah selatan Badung, dijemput oleh orang-orang desa Tuban. Semuanya dengan hormat dan tulus bakti mengaturkan hidangan santapan kepada sang pendeta dan putra-putrinya semua. Sementara sang pendeta berdiam di sana banyak ikan laut yang tertangkap. Itu adalah karena kasidhian (kesaktian) Pedanda Sakti Bahu Rawuh itu. Demikian juga tanam-tanaman dan segala sesuatunya menjadi baik semuanya.
Pada suatu hari sang pendeta dan putra-putrinya diaturi hidangan yang penuh dengan berbagai masakan ikan laut. Sang pendeta bersama putra-putrinya dengan senang menikmati hidangan yang luar biasa itu. Setelah bersantap ada masih tersisa ikan separo (daging seekor ikan sebagian habis disantap sebagian masih utuh). Setelah diberi mantram oleh sang pendeta lalu dilemparkan ke dalam laut, maka ikan itu hidup kembali diberi nama ikan tampak (telapak), oleh karena dagingnya habis sebagian. Ikan tampak itu diberi mantram suci oleh pendeta dan diumumkan kepada orang-orang yang ada disana, apabila kemudian ada orang megawe hayu (melaksanakan upacara untuk kesejahteraan), ikan tampak itu boleh digunakan menjadi isi sesajen suci (banten suci). Orang-orang desa Tuban yang kebetulan ada di tempat itu melihat dan menyaksikan keadaan yang sedemikian itu, semuanya tercengang heran takjub dengan kesaktian sang pendeta itu. Kemudian sang pendeta mengajar dan menasehati orang-orang desa Tuban membuat pukat (bubu) tanpa umpan agar banyak mendapat ikan dengan cara diam-diam.

ARYA TEGEH KURI
Kurang lebih tujuh hari lamanya sang pendeta di desa Tuban maka datang Kyayi Arya Tegeh Kuri menjemput sang pendeta bersama putra-putrinya agar sudi simpang di puri beliau. Pada suatu ketika berangkatlah sang pendeta diiringkan oleh Kyayi Tegeh Kuri. Setibanya di desa Buagan terpaksa beliau berhenti dalam sebuah parhyangan Pura Batan Nyuh karena dihalangi oleh banjir besar. Banyak orang datang menghadap dari sebelah timur jalan melalui jembatan gantung, semuanya menyembah serta bermohon pengalah air oleh karena rumah-rumahnya dilanda banjir. Sang pendeta belas kasihan kepada orang-orang yang kena bencana alam kebanjiran itu. Lalu beliau memberi sepotong kayu anceng (tongkat) yang telah dirajah (ditulisi) Sanghyang Klar, disuruh memancangkan di muara banjir itu. Dengan tiba-tiba, menggelombang naik air itu lalu bertolak lari ke barat memutus jalan. Sangat heran orang-orang yang melihat tentang kekuatan batin sang pendeta demikian itu.
Orang-orang desa berdatangan menghaturkan buah-buahan dan santap-santapan lainnya. Tidak diceritakan lebih lanjut perihal sang pendeta di tengah jalan, akhirnya tiba di Puri Arya Tegeh Kuri di Badung.

DESA MAS
Setelah beberapa lama beristirahat di Badung, maka datang Ki Pangeran Mas menjemput Empu Danghyang dihaturi pergi ke Desa Mas. Danghyang Dwijendra bersama putra-putri dan 2 orang pelayan pergi ke Desa Mas. Di sana beliau itu dibuatkan grhya (rumah untuk brahmana) yang baik, sehingga menetap sang pendeta, diam di Desa Mas. Lama kelamaan Ki Pangeran Mas mengaturkan anaknya wanita yang amat cantik. Putri Ki Bendesa Gading Wani, yang dipakai pelayan oleh sang pendeta bersama Ni Brit, kini dipakai pelayan oleh putrinya Pangeran Mas yang bernama Sang Ayu Mas Genitir. Kemudian setelah itu Pangeran Mas dibersihkan (diniksan) oleh Empu Danghyang, menjadi pendeta dan telah lama paham dengan Agama ilmu Ketuhanan dan ilmu Batin.
Setahun telah berselang pertemuan suami istri Danghyang Nirartha dengan Sang Ayu Mas Genitir lalu melahirkan seorang putra diberi nama Ida Putu Kidul.
Dalam antara itu ada seorang pelayan Pangeran Mas bernama Pan Geleng mengaturkan sebuah pusuh (jantung pisang) pisang batu yang berisi gading mas asal tanamannya sendiri kepada Danghyang Dwijendra. Kata Danghyang waktu menerima pusuh pisang batu, “Semoga Pan Geleng kaya sampai seturun-keturunannya kelak”.

DHARMANING BRAHMANA WANGSA
Diceritakan pada suatu hari sang pendeta memancing di taman, berdiri di tengah telaga, kakinya beralas daun tunjung (teratai), bisa mengambang tidak tenggelam. Setelah banyak mendapat ikan sang pendeta berhenti memancing, lalu mandi menyucikan diri, kemudian melakukan Surya Sewana. Setelah selesai, sang pendeta dihaturi hidangan santapan. Setelah selesai bersantap, keempat orang putranya disuruh meneruskan menikmati. Empat orang putranya yaitu : Ida Putu Telaga (Brambangan), dan Ida Putu Mas (Desa Mas), yang biasa disebut Kulwan, Lor, Wetan dan Kidul. Sedang para putranya itu menikmati hidangan maka sang pendeta memberikan nasehat.
Katanya, “Anakku semua, engkau boleh saling cuntakain sampai turun-turunanmu kemudian. Saling cuntakain artinya, tenggang-menenggang, gotong-royong, bela-membela dalam keadaan suka duka hidup di dunia. Apabila seorang ditimpa duka harus semuanya bela sungkawa. Tentang perkawinan boleh ambil-mengambil. Tiap orang yang lebih tua dan lebih pandai boleh dipakai guru (nabe). Jika kemudian engkau lupa dengan ikatan bersaudara, astu (semoga) salah satu di antaranya yang melanggar amanatku ini turun dan surut derajat kewibawaannya”. Demikian amanat sang pendeta, ayahnya.
Lama-kelamaan terjadi hal yang agak ganjil mungkin karena kodrat Tuhan, yaitu Danghyang menjamah pelayan Sang Istri Ayu Mas anak dari Ki Bendesa Gading Wani yang bernama Jro Patapan, akhirnya berputra seorang laki-laki bernama Ida Wayan Sangsi atau Ida Patapan nama lainnya.
Lain dari itu, pelayan yang bernama Ni Brit pada suatu malam dijumpai sedang mengeluarkan air kencing sebagai air pancuran sehingga menembus tanah sehasta dalamnya, lalu dijamah juga oleh sang pendeta, kemudian melahirkan seorang putra laki-laki diberi nama Ida Wayahan Tamesi atau Ida Bindu namanya lain.
Diceriterakan setelah 2 orang putranya terakhir sama-sama besar, sang pendeta pagi-pagi pergi pula ke suatu telaga di taman untuk memancing ikan, berdiri di tengah telaga beralas daun tunjung, tetapi daun tunjung itu tenggelam sepergelangan kaki sang pendeta, dan terlihat oleh beliau ikan kakul (siput) yang telah disantap dagingnya, sisanya dilemparkan ke dalam telaga, lalu hidup kembali. Dalam keadaan yang demikian itu menyelinap suatu perasaan ke dalam hati sanubarinya, bahwa 2 orang putranya terakhir ini akan surut perbawanya. Setelah selesai memancing lalu beliau bersiram menyucikan diri, kemudian pulang dan masuk ke tempat pemujaan, melakukan pemujaan sebagai biasa.
Setelah ke luar dari tempat memuja maka diaturi hidangan untuk bersantap. Setelah sang pendeta habis bersantap maka dipanggil putranya berenam orang untuk makan bersama-sama dalam satu hidangan. Putra-putranya berenam datang dan telah siap akan makan bersama (magibung) satu hidangan, demi masing-masing telah memegang nasi kepalan di tangannya, maka tiap-tiap alat makan itu berontak berkelahi dengan kawan-kawannya. Ada yang bertarung, ada yang jatuh, ada yang berbenturan kepada dulang (tempat makan dari kayu), yang kalah membalas pula dan lain sebagainya sehingga alat-alat makan itu berantakan. Hal itu dilihat oleh sang pendeta, lalu disuruh orang membawakan lagi makanan dua hidangan yang berlain-lainan. Setelah siap, maka Ida Wayahan Sangsi (Ida Patapan) dikumpulkan dengan Ida Bindu (Ida Tamesi) makan menjadi satu hidangan, sedang putranya yang 4 orang lagi yaitu Ida Putu Kemenuh, Ida Putu Manuaba, Ida Putu Telaga dan Ida Putu Mas makan menjadi satu hidangan. Dengan keadaan yang demikian maka tenteramlah masing-masing asyik menikmati hidangan dengan sepuas-puasnya tidak sesuatu sengketa apapun terjadi.
Sementara itu sang pendeta memberikan nasehat. “Anakku sekalian, dengarlah nasehatku baik-baik! Anakku Putu Sangsi dan Putu Tamesi dalam kehidupanmu turun-temurun boleh sembah-kasembah dan boleh ambil-mengambil istri, tetapi terhadap turun-turunannya anak-anakku yang 4 orang (yaitu Putu Kulwan (Kamenuh) Putu Lor (Manuaba) Putu Wetan (Telaga Keniten) dan Putu Mas tidak boleh. Tetapi engkau Putu Sangsi dan Putu Bindu seturun-turunanmu boleh menghaturkan sembah, menghaturkan putri dan berguru kepada saudara-saudaramu yang empat orang ini dan turun-turunannya, sebab ibumu adalah orang-orang pelayan. Demikianlah harus diingat betul-betul amanatku ini. Siapa yang melanggar akan mendapat papa, surut wibawa dan wangsanya”. Demikian amanat Danghyang Dwijendra.

KI GUSTI PANYARIKAN DAWUH BALEAGUNG
Lambat laun tersebar berita Danghyang Dwijendra sampai ke Gelgel, bahwasannya ada seorang pendeta sakti baru datang disebut oleh umum Padanda Sakti Bahu Rawuh, saktinya hampir sama dengan pendeta Loh Gawe. Sebab itu Dalem Baturenggong (raja Bali saat itu) sangat besar hasratnya hendak memanggil pendeta yang sakti itu untuk dijadikan gurunya. Pada suatu hari diutus Ki Gusti Panyarikan Dawuh Baleagung pergi ke Desa Mas untuk menghaturi Danghyang Dwijendra datang ke Gelgel dan diharapkan datang besok harinya.
Pada hari yang baik berangkatlah Ki Gusti Panyarikan mengendarai kuda putih, berpakaian putih, hanya giginya saja yang hitam. Setibanya di Desa Mas terlihat olehnya Ki Bandesa Mas sedang menghadap sang pendeta di balai pendopo kecil, maka segera beliau turun dari kendaraan.
Ki Bandesa Mas segera juga datang menjemput, “Selamat datang Ki Gusti Panyarikan, silakan duduk!”
Ki Gusti Dawuh Baleagung segera duduk menghadap sang pendeta seraya memperkenalkan diri dan mempermaklumkan kepentingannya datang. Setelah banyak kata-katanya menceriterakan keadaan di Bali kemudian timbul pikirannya hendak menyelami pengetahuan sang pendeta tentang ajaran pemerintahan negara. “Tolong ajarilah saya”. Jawab sang pendeta. “Dalam ajaran agama (sastra) begini. Tentang penerapannya dalam praktek (sas) begini”. Ki Gusti Panyarikan bertanya pula, “Bagaimana ajaran peraturan peperangan (dharma yudha) ?”. Jawab sang pendeta. “Dalam ajaran agama (sastra) begini, pelaksanaan dalam prakteknya begini”.
Kyayi Panyarikan diam seraya mengunyah sirih. Setelah dibuang susurnya (sepah) lalu bertanya lagi. “Bagaimana ajarannya pertemuan asmara laki dan perempuan (smara gama, cumbwana krama) ?”. Jawab sang pendeta, “Dalam ajaran agama (sastra) begini, pelaksanaan dalam prakteknya (sas) begini”.
Kyayi Dawuh diam dengan dalih mengunyah sirih. Setelah dibuang sepahnya lalu bertanya, “Singgih Empu Danghyang bagaimana pelaksanaan memukur atau maligya (maha sraddha) untuk mensorgakan leluhur yang telah meninggal ?”. Jawab sang pendeta. “Jika dalam ajaran agama begini, dalam prakteknya begini”.
(Catatan : dalam percakapan yang sebenarnya mungkin panjang lebar keterangan sang pendeta mengenai pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada beliau, tetapi didalam riwayat ini disebutkan pendek-pendek saja yaitu dalam sastra begini dalam sas begini). Nanti kita menjumpai ajaran beliau dalam kitab-kitab (lontar-lontar lain).
Oleh karena Ki Gusti Dawuh diam lama dan duduknya kian turun dari tempatnya semula.
Maka sang pendeta bertanya, “Kenapa Ki Gusti diam, bertanyalah lagi! Baru sedikit yang ke luar, masih banyak yang tersimpan”. Jawab Kyayi Panyarikan, “Empu Danghyang adalah laksana laut, berapa banyak tempayan tempat air tentu saja terpenuhi semuanya”.
Selanjutnya Kyayi Panyarikan merasa sangat beruntung dalam hatinya, sebagai kodrat Tuhan mempertemukannya dengan seorang pendeta yang sakti dan ahli dalam hal agama. Lalu memajukan permohonan supaya beliau diterima menjadi muridnya, berguru kepada sang pendeta, belajar rahasia ilmu Ketuhanan dan akhirnya mohon dibersihkan dan dinobatkan sebagai Bhagawan, pendeta ksatria. Sang pendeta berkenan meluluskan permohonan Ki Gusti Panyarikan. Pada malam harinya sang pendeta mengajar rahasia ilmu Ketuhanan dengan yoga samadhinya dan Weda mantram yang penting-penting. Ki Gusti Panyarikan memang sudah mempunyai dasar dan bakat yang kuat tentang ilmu Ketuhanan, karena usaha dan latihannya sendiri, sebab itu segala ajaran sang pendeta cepat dapat ditampung dan dipenuhinya. Besok paginya kebetulan hari baik, beliau dibersihkan (diniksan) oleh sang pendeta menjadi Bhagawan. Setelah diniksan lanjut sehari itu Empu Danghyang asyik memberi nasehat dan ajaran-ajaran yang penting-penting kepada muridnya, sehingga Kyayi Panyarikan lupa dengan janjinya atas perintah Dalem harus kembali hari itu. Karena keadaan memaksa Kyayi Panyarikan terlambat sehari kembali ke Gelgel mengiringkan Danghyang Nirartha.

PURA SILAYUKTI, TELUK PADANG
Pagi-pagi setelah dua malam lewat, maka Kyayi Panyarikan berangkat mengiring Pedanda Sakti Bawu Rawuh ke Gelgel sama-sama mengendarai kuda. Tiada diceritakan halnya di tengah jalan maka tibalah di Gelgel. Tetapi sayang Dalem telah berangkat pagi-pagi ke Teluk Padang (Padangbai) untuk berburu binatang dan menangkap ikan diiringi oleh para mantri punggawa dan rakyat sangat banyaknya. Oleh karena demikian halnya maka terpaksa Ki Gusti Dawuh mengiringkan Danghyang Dwijendra pergi Teluk Padang. Setibanya di Padang, sang surya telah lewat tengah hari, para punggawa mantri telah sama-sama mulai mencari pondoknya masing-masing Kyayi Panyarikan mengiring Danghyang menuju pesanggrahan Dalem.
Dalem Baturenggong agak murka kepada Kyayi Panyarikan katanya, “Panyarikan, kenapa sampai lewat janji baru datang? Sebagai bukan orang tua, Panyarikan! Empu Danghyang antarkan ke parhyangan istananya Empu Kuturan!”
Setelah Danghyang Nirartha beristirahat, datang Dalem Baturenggong menghadap bersama beberapa orang pelayan membawa santapan. Seraya berkata, “Selamat datang Empu Danghyang, maafkan keadaan tempat yang tidak sepertinya ini, dan persilakan menikmati santapan ala kadarnya”.
Sang pendeta mengucapkan banyak terima kasih lanjut berkata, “Tuanku, maafkanlah Ki Nanak Panyarikan agak terlambat pada janjinya, sebab ingin berguru ilmu Ketuhanan dan ingin dibersihkan dirinya menjadi Bhagawan. Jika tuan ingin juga bersih (madiksa), kami sedia melakukannya, jangan tuanku kecewa karena belakangan, sebab soal Agama (Dharma) tidak mengenal carikan atau sisa-sisa, karena soal Agama adalah Ketuhanan Yang Suci”. Demikianlah kata sang pendeta. Dan Sang Pendeta menyambung pula katanya, “Banyakkah tuanku dapat menangkap ikan dan binatang?”. Jawab Dalem. “Tuanku coba sekarang perintahkan rakyat tuanku menangkap ikan dan berburu binatang, kiranya banyak berhasil”.
Dalem menurut sang pendeta, memerintahkan rakyatnya mengulangi menangkap ikan dan berburu. Sebelum rakyat masuk ke laut akan menangkap ikan dan ke hutan belukar akan berburu binatang sang pendeta ke luar berdiri di halaman memandang ke laut memanggil ikan dan memandang ke hutan memanggil binatang. Tidak antara lama banyak ikan dan binatang tertangkap oleh rakyat. Dalem dan sang pendeta sangat gembira melihatnya. Setelah hari sore semua rakyat penangkap ikan dan pemburu binatang telah kembali ke tempatnya dengan membawa hasilnya sangat banyak, maka Sri Aji Bali dan sang pendeta kembali lagi ke pesanggrahan. Pada malam harinya sampai larut malam Dalem Waturenggong bercakap-cakap dengan sang pendeta tentang soal Agama. Tetapi soal mabersih (madiksa) Dalem masih bertangguh, masih berpikir.
Besok paginya Dalem kembali ke Gelgel diiring oleh seluruh menteri, punggawa dan rakyat. Dalem duduk dalam satu pedati yang ditarik kuda bersama sang pendeta. Setibanya di kali Unda jalan pedati berhenti karena air kali Unda pasang naik, banjir karena hujan di pegunungan.
Sang pendeta bertanya pada Dalem, “Tuanku, apa sebab pedati kita terhenti?”. Jawab Dalem. “Air kali Unda sedang pasang naik tidak dapat dilalui”. Kata sang pendeta, “Mungkin tuanku belum tahu dengan pelaksanaan aswa-siksa, (ajaran melatih kuda)”.
Dalem mengaku terus terang bahwa beliau belum mengetahui ajaran aswa-siksa, sebab itu dibisiki ajarannya oleh sang pendeta. Setelah Dalem mengerti dan paham tentang ajaran aswa-siksa terutama mantramnya, lalu diambil oleh beliau sebuah cambuk dilecutkannya dengan keras, maka ujungnya keluar api sedang pangkalnya keluar air amrta. Dalam keadaan demikian itu kuda mendobrak air sungai, kakinya tenggelam sepergelangan lari dengan selamat ke tepi sungai di barat. Semua yang melihat sangat heran.
Tiada diceritakan lebih lanjut betapa hal iring-iringan raja Bali di tengah jalan, maka tibalah di istana Gelgel. Sang pendeta ditempatkan di tempat yang suci dengan menikmati hidangan yang secukupnya.
Dalem pada kesempatan ini menjelaskan sikapnya, katanya : “Empu Danghyang, sampai saat ini saya belum ada niat akan mabersih (madiksa) karena telah merupakan surudan (sisa-sisa) dari Pangeran Dawuh”. Jawab sang pendeta. “Tuanku, maklumilah seyakin-yakinnya, bahwa Agama (Ketuhanan) itu tidak ada merupakan surudan (sisa-sisa), kalau diandaikan samahalnya dengan air yang dikucurkan”.
Sekalipun demikian penjelasan sang pendeta, namun Dalem Baturenggong tetap pada pendiriannya tidak mau madiksa (mabersih).

IDA BURUAN
Diceritakan Ki Gusti Panyarikan Dawuh Baleagung yang telah berkedudukan sebagai pendeta Bhagawan acapkali menghadap kepada Dhangguru mendalami ajaran agama dan kebatinan sampai juga kepada kesusastraan, tembang-tembang bersanjak, pupuh kidung dan guru laghu kekawin, sehingga pengetahuan Ki Gusti Bhagawan sungguh-sungguh padat dan suci. Lama-kelamaan sebagai pangguru yoga (bakti kepada guru) beliau mengaturkan seorang putrinya yang terkenal cantik dan menaruh bakat keagamaan dan kesusastraan kepada Dhangguru. Danghyang Dwijendra menerima dengan senang hati pangguru yoga itu, lalu dikawinkan dengan putranya yang bernama Ida Putu Lor. Dari perkawinan ini menurunkan 2 orang putra laki-laki di berinama : Ida Ketut Buruan.
Danghyang Nirartha mempunyai asrama (grhya) di dua tempat, yaitu : di Desa Mas dan di Desa Gelgel. Tiap-tiap hari purnama atau tilem Sira Empu tetap masuk ke istana menghadap Dalem diiringi oleh cucundanya yang masih kecil Ida Wayahan Buruan. Pada hari-hari baik yang sedemikian itu Dalem dipuja oleh Empu Danghyang dengan Weda pangjaya-jaya dan diperciki air tirta yang telah diberi mantram kekuatan batin Ketuhanan. Dengan hal yang demikian lambat-laun Dalem menjadi seorang raja besar perbawanya, karena segala batin kependetaan ada pada beliau, namun sayang beliau belum mau madiksa (mabersih) karena belum bersih hatinya didahului oleh Kyayi Panyarikan Dawuh Baleagung.

DALEM BATURENGGONG BERGURU (MADIKSA)
Diceritakan Empu Danghyang Angsoka, kakak dari Danghyang Nirartha, beliau membuat suatu karangan yang diberi nama Smara Rencana dikirim ke Bali kepada adiknya, kemudian dibalas dari Bali oleh Empu Danghyang Nirartha dengan kidung Sarakusuma. Dengan hal demikian tahu Dalem bahwa Danghyang Angsoka seorang pendeta yang pandai, maka niatnya timbul akan berguru kepada beliau, lalu mengirim utusan ke Daha untuk menghaturi Danghyang Angsoka datang ke Bali untuk menjadi gurunya Dalem dan lanjut memberi pembersihan (padiksan). Tetapi Danghyang Angsoka menolak permintaan Dalem Bali.
Katanya, “Di Bali telah ada adik saya yang lebih pandai dari saya. Sangat patut menjadi purohitanya (gurunya) Dalem”.
Setelah beberapa lama kemudian, tiba-tiba turun Bhatara Mahadewa dari Gunung Agung, diiringi oleh Sang Boddha datang ke Gelgel menemui Dalem.
Lalu bersabda, “Anakku Dalem Baturenggong, jika tidak terus anakku berguru kepada Empu Dwijendra, karena tidak ada pendeta yang sama dengannya, tak dapat tiada akan kacau negara anakku, segala tanah tidak bisa dipetik buahnya, penyakit akan mengembang, musuh akan timbul banyak, tidak selamat negara olehmu”, demikian sabda Bhatara Mahadewa lalu musnah dari pandangan.
Dalem Baturenggong menyembah dan berjanji akan mentaati sabda Bhatara. Setelah itu Dalem bermohon hormat kepada Danghyang Dwijendra untuk berguru anuhun pada dan diniksan. Empu Danghyang dengan gembira meluluskan permohonan Dalem, karena telah lama dinanti-nantikan. Hari untuk madiksa dipilih hari purnamaning Kapat (purnama pada bulan keempat menurut perhitungan tahun Bali, yakni sekitar Oktober). Setelah tiba hari yang baik itu, maka dengan upacara kebesaran Dalem diniksan oleh Empu Danghyang. Setelah selesai upacara padiksan itu, Empu Danghyang memberi nasehat tentang tata cara orang memangku kerajaan dan supaya jangan lupa kepada Ketuhanan dan leluhur. Tetapi tatkala mengucapkan weda puja jangan memegang genta menyamai Bhatara namanya, sangat berbahaya.
Sesudah Sri Aji Baturenggong kian mashyur namanya memegang pemerintahan, negaranya tenteram kerta raharja, makmur sandang pangan, tidak ada wabah penyakit merajalela, tidak ada musuh timbul.

SIRA AJI KRAHENGAN DARI SASAK
Pada suatu ketika Seri Aji Baturenggong mempermaklumkan kepada Dhanggurunya bahwa negara Bali sering diserang oleh Sira Aji Krahengan dari Sasak (Lombok) yang amat sakti dan pandai mengubah diri (maya-maya) dan ahli melayang. Acapkali prajurit beliau kalah dalam pertempuran di tepi laut. Itu saja yang mengganggu negaranya. Sebab itu beliau mohon nasehat bagaimana caranya menghadapi musuh itu.
Jawab Danghyang Dwijendra. “Nanak Baturenggong, baiklah bapak mencoba pergi ke Sasak sebagai utusan nanak, untuk datang kepada Sira Aji Krahengan mengadakan persahabatan oleh karena untuk keselamatan bersama, lebih baik bersahabat daripada bermusuhan. Bersahabat akan banyak mendapat keuntungan bersama, sedangkan kalau bermusuhan banyak mendapat kerugian”.
Pada suatu hari yang baik Danghyang Dwijendra berlayar dengan menumpang jukung. Pelayarannya lancar dan tidak mendapat rintangan suatu apa pun. Setibanya di Sasak langsung beliau masuk ke dalam purinya Sira Aji Krahengan. Ketika Sira Aji Krahengan melihat pendeta datang, segera turun dari tempat duduknya menjemput sang pendeta dengan hormat dan dipersilahkan duduk berdekatan dengan beliau. Setelah bersama-sama menikmati suguhan minuman maka Sira Aji Krahengan berkata dengan hormat menanyakan kepentingan sang pendeta datang. Danghyang Dwijendra menjelaskan maksud beliau datang itu, yaitu atas perkenan bahkan merupakan utusan dari Sira Aji Baturenggong untuk mengadakan suatu ikatan persahabatan kepada Sira Aji Krahengan.
“Tuanku,” kata sang pendeta. “Bapak datang sekarang ini adalah atas usaha bapak, yang disetujui oleh Seri Aji Baturenggong, yakni untuk mengadakan suatu ikatan persahabatan yang akrab di antara beliau dengan tuanku. Sebab menurut pendapat bapak adalah banyak untungnya bila dapat mengadakan ikatan persahabatan dari pada permusuhan. Persahabatan dapat menyebabkan negara masing-masing berkeadaan tenteram dan sejahtera, karena masyarakat masing-masing tekun bekerja untuk kemakmuran, tidak ada yang mengganggu. Kalau bermusuhan masing-masing akan mendapat kerugian. Sebagai suatu bukti untuk menyatakan betul-betul ikatan persahabatan ini berlaku, ada baiknya kalau tuanku memberikan seorang putri tuanku untuk menjadi istrinya Seri Aji Baturenggong”, Demikian kata sang pendeta. Jawab Sira Aji Krahengan, “Sang pendeta harap dimaafkan saja, karena kami tidak dapat memenuhi sebagai anjuran sang pendeta itu, sebaiknya sang pendeta pulang saja!”.
Dengan hal yang demikian sang pendeta ke luar dari dalam puri seraya mengeluarkan kata kutukan (pamastu) : “Moga-moga si Krahengan surut kesaktianmu dan hancur kebesaranmu”. Demikian katanya terus menuju pesisir, naik ke atas jukung yang ditumpangi tadinya lalu menuju pulau Bali.
Tidak diceritakan dalam perjalanan, sang pendeta telah tiba di Puri Gelgel dijemput oleh Dalem Baturenggong dengan khidmad.
Setalah sama-sama duduk, Dalem bertanya, “Ya sang Maharsi, apakah berhasil usaha sang Maharsi?”. Jawab sang pendeta, “Nanak Baturenggong, tidak berhasil usaha bapak mengadakan ikatan persahabatan kepada Si Krahengan dan bapak telah memberi kutukan (pastu) agar ia surut kewibawaannya, tidak lanjut menjadi ksatria”.

PURA RAMBUT SIWI
Setelah beberapa lamanya di Gelgel maka Danghyang Nirartha ingin bercengkerama menjelajah daerah Nusa Dua Bali. Keinginan beliau itu disampaikan kepada Dalem, maka Dalem menyetujui dan mengijinkan beliau menjelajah daerah Nusa Bali.
Mula-mula beliau berangkat arah ke barat, sampai di daerah Jembrana berbelok ke selatan, berbalik ke timur menyusur pantai. Akhirnya bertemu dengan seorang tukang sapu suatu parhyangan sedang duduk-duduk di luar parhyangan itu.
Setelah sang pendeta dekat maka orang itu cepat-cepat mendatangi seraya menyapa. Katanya, “Ya sang pendeta, dari mana dan mau ke mana sang Maharsi sekarang ini ? Sebaiknya berhenti sebentar di sini, jangan tergesa-gesa terus berjalan, saya mempermaklumkan bahwa di sana malahan ada suatu parhyangan tempat kami sembahyang yang angker dan keramat. Barang siapa lalu di sini tidak menyembah di parhyangan kami, tentu nanti diterkam oleh harimau. Untuk keselamatan sang pendeta, silakanlah dulu menyembah di parhyangan kami!”. Demikian katanya seraya menghambat perjalanan sang pendeta. Jawab Empu Danghyang. “Kalau harus demikian, baiklah antarkan saya masuk ke parhyanganmu untuk menyembah!”.
Sang pendeta diantar masuk dalam parhyangan. Setibanya di hadapan suatu bangunan palinggih tempat menyembah, sang pendeta lalu duduk melakukan yoga, mengheningkan cipta memandang ujung hidung (angrana sika), menunggalkan jiwatmanya kepada Ida Sanghyang Widhi. Ketika beliau sedang asyiknya melakukan yoga, tiba-tiba rubuh gedung palinggih tempat menyembah itu. Hal itu nyata dilihat oleh orang yang mengantar tadi, lalu menangis mohon ampun kepada sang pendeta.
Katanya, “Ampunilah saya sang Maha Empu, ampunilah kesalahan hamba karena memaksa sang Maha Empu menyembah di sini! Dan hamba mohon dengan hormat belas kasihan sang Maha Empu, agar diperbaiki lagi parhyangan kami sebagai semula, supaya ada kami junjung dan kami sembah setiap hari,” demikian katanya seraya menangis tersedu-sedu.
Danghyang Dwijendra belas kasihan juga melihat bangunan palinggih itu rubuh dan mendengar tangis orang itu. Katanya, “Kalau begitu kehendakmu baiklah saya memperbaikinya”.
Sang pendeta lalu memperbaiki bangunan itu sehingga berdiri lagi seperti semula, dan selanjutnya beliau melepaskan gelung rambutnya sehingga terurai, dicabutnya sehelai diberikan kepada orang itu. Seraya berkata, “Inilah sehelai rambut, siwi (junjungan sembahyang) di sini, letakkan di atas bangunan ini, agar kamu dan sanak keluargamu mendapat selamat sejahtera selanjutnya”.
Orang itu menyembah seraya menerima sehelai rambut sang pendeta itu seraya menuruti segala nasehat beliau. Semenjak itu parhyangan itu disebut Pura Rambut Siwi.
Matahari ketika itu telah pudar cahayanya, kian merendah hendak menyembunyikan wajahnya di tepi langit barat, sebab itu sang pendeta berniat akan bermalam di dalam Pura Rambut Siwi. Orang-orang makin banyak menghadap sang pendeta, yang berniat mohon nasehat soal Agama, adapula yang mohon obat. Semalam-malaman itu sang pendeta menasehatkan ajaran Agama, terutama berbakti kepada Ida Sanghyang Widhi dan Bhatara-bhatari leluhurnya, agar sejahtera hidupnya di dunia. Dan diperingatkan supaya tiap-tiap hari Rabu Umanis Prangbakat mengadakan pujawali (perayaan) di Pura Rambut Siwi itu untuk keselamatan desa.

PURA PAKENDUNGAN
Diceritakan besok paginya setelah sang surya mulai memancarkan cahayanya ke seluruh permukaan bumi, Empu Danghyang melakukan sembahyang Surya Sewana disertai oleh orang-orang yang ada di sana, setelah memercikkan air tirtha kepada orang-orang yang turut sembahyang maka Empu Danghyang berangkat dari dalam Pura Rambut Siwi arah ke timur menyusuri tepi pantai, diiringi oleh beberapa orang yang tertaut cinta baktinya kepada sang pendeta. Empu Danghyang selalu memperhatikan keindahan alam yang dilaluinya dan dilihatnya. Dalam keindahan pandangan itu selalu terbayang kebesaran Tuhan yang menjiwai keindahan itu yang menyebabkan mesra menyerap menyulut batin orang menjadi indah bahagia. Sang pendeta selalu membawa lembaran lontar dan pengutik pengrupak (pisau raut alat manulis daun rontal) untuk menggoreskan keindahan alam yang dijumpainya. Akhirnya tiba di daerah Tabanan, di sana terlihat olehnya sebuah pulau kecil di tepi pantai yang terjadi dari tanah parangan, indah tampaknya dan suci suasananya. Lalu beliau berhenti di sana. Kemudian dilihat oleh orang-orang penangkap ikan yang ada di sana, lalu mereka itu datang menghadap sang pendeta masing-masing membawa persembahannya.
Pada waktu itu hari sudah sore, orang-orang nelayan itu menghaturi sang pendeta supaya beristirahat di pondoknya saja, tetapi sang pendeta menolak, beliau lebih suka beristirahat di pulau kecil itu. Malam itu sang pendeta mengajarkan agama kepada orang-orang yang datang dan dinasehatkan supaya membuat parhyangan di tempat itu karena tempat itu dirasa sangat suci, baik untuk tempat memuja Tuhan untuk kesejahteraan dan kemakmuran daerah lingkungannya. Orang-orang yang menghadap berjanji akan membuat parhyangan di sana dinamai Pura Pakendungan atau Pura Tanah Lot.

PURA HULU WATU DAN PURA BUKIT GONG
Besok paginya setelah melakukan sembahyang Surya Sewana maka Empu Danghyang Nirartha berangkat dari Pakedungan ke arah Tenggara dengan jalan darat menyusuri pantai. Dari jauh tampak oleh beliau suatu tanjung yang menonjol ke laut di bagian wilayah bukit Badung, maka tanjung itulah yang beliau tuju, perjalanan agak dipercepat di pantai, air laut sedang surut. Setibanya di sana maka diperhatikan oleh beliau bahwa tanjung itu terjadi dari batu karang seluruhnya dan sangat besar. Selanjutnya diperiksa keadaan batu karang itu ke utara, ke barat, ke selatan dan ke timur serta diperhatikan pula pemandangan yang terlihat dari sana. Sungguh-sungguh indah dan bebas lepas ke seluruh penjuru dunia. Kemudian terdengar bisikan jiwa beliau bahwa tempat itu baik tempat memuja Ida Sanghyang Widhi dan terutama tempat “ngaluhur” melepas jiwa atmanya kelak ke alam sorga.
Akhirnya beliau mengambil keputusan membuat kahyangan di tempat itu. Untuk kepentingan itu terpaksa beliau membuat asrama di sebelahnya untuk menetap sementara mengerjakan kahyangan itu. Pekerjaan membuat kahyangan itu mendapat bantuan dari orang-orang yang dekat di sana. Setelah beberapa hari lamanya maka kahyangan itu selesai diberi nama Pura Hulu Watu. Di tempat asrama Empu Danghyang lama kelamaan didirikan juga sebuah kahyangan oleh orang-orang di sana dinamai Pura Bukit Gong.

PURA BUKIT PAYUNG
Setelah Pura Hulu Watu selesai dan telah dinasehatkan kepada orang-orang di sana untuk menjaganya, maka Danghyang Nirartha melanjutkan perjalanan lagi ke arah timur dengan melalui tanah berbukit-bukit, tiba di goa Watu, dari sana menuju Bualu. 
Di sebelah tenggara Bualu ada sebuah tanjung yang menjorok ke laut, di sana beliau berhenti. Ketika beliau menancapkan payungnya ke tanah, maka tiba-tiba memancur air dari dalam tanah, sangat suci dan hening. Air itu dipergunakan menyucikan diri. Oleh orang-orang yang dekat di sana karena gembira hatinya seakan-akan mendapat anugrah air amrta (air kehidupan), maka di tempat itu dibangun sebuah kahyangan dinamai Pura Bukit Payung..

PURA SAKENAN
Setelah menyucikan diri di Bukit Payung, maka Danghyang Nirartha berangkat pergi arah ke utara menyusuri pantai. Tidak jauh dari sana dijumpainya dua buah pulau batu “NUSA DWA” disebut orang. Di sana beliau berhenti dan mengarang kekawin Anyang Nirartha. (Kakawin atau karangannya itu melukiskan segala obyek keindahan yang dilihat oleh beliau sepanjang perjalanan, digubah dijadikan sanjak kakawin yang terikat dengan guru laghu).
Setelah selesai mencatat bahan-bahan kakawinnya, lalu Danghyang Dwijendra melanjutkan perjalanan arah ke utara. Tidak diceritakan halnya di tengah jalan maka sampailah beliau di Serangan. Pada bagian tepi barat laut Serangan sang pendeta kagum merasakan keindahan alam di sana, yaitu keindahan laut yang tenang berpadu dengan keindahan daratan yang melingkunginya. Sang pendeta tak puas-puasnya memandang keindahan alam yang dianugrahkan Tuhan di sana dapat mempengaruhi batin menjadi suci tak ternoda sedikitpun, sehingga beliau terpaksa berhenti dan menginap beberapa malam di sana. Terasa oleh beliau bahwa di tempat itu ada suatu sumbu kekuatan gaib yang suci, dan baik sebagai tempat sembahyang memuja Tuhan untuk keselamatan dan kesejahteraan.
Sebab itu beliau membangun juga suatu kahyangan di sana diberi nama cakenan (yang asal katanya dari cakya = dapat langsung menyatukan pikiran). Pujawali dilakukan pada hari Sabtu Kliwon Kuningan dan keramaiannya pada hari manisnya (sehari sesudahnya).

PURA AIR JERUK
Setelah Pura Sakenan itu selesai dibangun, maka Danghyang Dwijendra ke luar dari dalam pura lalu berangkat pergi ke utara menumpang sebuah jukung, lalu mendarat di Renon. Selama beliau berdiam di sana ada suatu kejadian, yaitu ketika tongkat beliau itu dipancangkan, tidak berapa lama lalu keluar tunas dan hidup menjadi pohon sukun. Setelah beberapa hari ada di sana, beliau meneruskan perjalanan arah ke timur, tiba beliau di Udyana Mimba (Taman Intaran). Dari sana sang pendeta meneruskan perjalanan ke arah timur laut, menyusur pantai laut kemudian tiba di pantai selatan wilayah Bumi Timbul (Sukawati).
Dari sana beliau masuk ke darat arah ke utara lalu tiba di sawah Subak Laba. Di sana sang pendeta berhenti dan menginap, dijamu oleh orang-orang subak (organisasi masyarakat Bali mengurusi pengairan) dengan buah jeruk yang sedap rasa airnya. Di asrama tempat menginap Empu Danghyang setiap malam penuh orang-orang subak menghadap mohon nasehat ajaran agama terutama dari hal bercocok tanam padi dan palawija lainnya menurut masa (musim) dan hari wewaran (hari-hari baik menurut perhitungan Bali). Sejak sang pendeta ada di sana segala tanam-tanaman dan binatang ternak berhasil baik. Sebab itu setelah Empu Danghyang pergi dari sana, maka oleh orang-orang subak dibuatnya satu pura di bekas tempat asrama sang pendeta (yang dikenal dengan sebutan Pedanda Sakti Bahu Rawuh) di beri nama Pura Air Jeruk, tempat sembahyang mohon keselamatan tanam-tanaman dan binatang ternak. Dan di sana ditanam satu pohon rontal sebagai peringatan ajaran agama yang diberikan oleh sang pendeta.

PURA TUGU
Diceritakan Danghyang Dwijendra berangkat dari Subak Laba pergi ke timur pula menyusuri pantai laut. Setelah tiba di Rangkung lalu berbelok ke utara. Sesudahnya di hulu desa Tegal Tugu sang pendeta berhenti di luar suatu kahyangan.
Kemudian keluar seorang pamangku (pendeta pura) dari dalam pura setelah menyapu melakukan pembersihan, datang kepada sang pendeta yang sedang berhenti di luar pura. Setelah bertemu sang pamangku berkata dan menyuruh sang pendeta menyembah ke dalam pura. Sang pendeta tidak membantah, menuruti permintaan pamangku itu lalu berjalan masuk ke dalam pura, diiringi oleh pamangku tadi. Sang pendeta duduk bersila di halaman pura berhadapan dengan bangunan-bangunan palinggih, lalu melakukan yoga mengheningkan cipta menghubungkan jiwatmanya dengan Tuhan. Tiba-tiba rusak bangunan-bangunan palinggih itu semua. Sang pamangku bukan main terkejutnya dan terharu hatinya melihat keadaan itu, lalu menangis mohon ampun kepada Empu Danghyang disertai permohonan agar sang pendeta menaruh belas kasihan supaya tidak terus puranya mengalami kerusakan dan dapat kembali selamat sebagai sedia kala. Demikian kata sang pamangku seraya menyembah kepada sang pendeta.
Danghyang Dwijendra meluluskan permohonan pamangku itu, dengan jalan yoga dapat pula dikembalikan keselamatan kahyangan itu yang tampak sebagai semula. Sang pamangku sangat girang hatinya, menyembah berulang-ulang kepada sang pendeta seraya mengucapkan banyak terima kasih. Sang pendeta berkata kepada sang pamangku. “Sri Mangku, ini kancing gelung saya, saya berikan kepada mangku, tempatkanlah di pura ini, dan sesudahnya kahyangan ini diberi nama Pura Tugu”, demikian kata beliau seraya memberikan kancing gelung beliau kepada sang mangku. Sangat gembira pamangku itu menerimanya dan berjanji akan melakukan segala nasehatnya.

GENTA SAMPRANGAN
Setelah selesai persoalan di Pura Tugu maka Danghyang Nirartha meneruskan perjalanan ke arah timur sampai di Samprangan lalu berhenti. Ketika beliau duduk-duduk beristirahat, tiba-tiba terdengar oleh beliau suara genta yang digoyang-goyang-kan memenuhi angkasa, sangat merdu dan indah dirasa oleh sang pendeta, sehingga lama beliau termenung mengira-ngirakan di mana suara genta itu. Tidak
lama antaranya datang dari arah timur seorang pangalu (pedagang) menuntun seekor kuda yang berkalung gentorag (genta) yang suaranya sangat indah dirasa oleh sang pendeta, lalu dipanggil pangalu itu.
Setelah pangalu itu dekat maka kata sang pendeta, “Bolehkah saya minta genta gentorag kalung kuda saudara, untuk saya pergunakan dalam memuja, karena saya tertarik dengan suaranya sangat indah!”.
Orang pangalu itu demi mendengar kata sang pendeta demikian, dengan cepat membuka kalung kudanya, dan dengan hidmat serta tulus ikhlas menghaturkan kepada sang pendeta.
Ketika sang pendeta menerima genta itu dari tangan orang pangalu itu, dengan gembira berkata, “Semoga engkau berbahagia dan selamat sejahtera selalu dalam perlindungan Sanghyang Widhi”.
Sebagai diperciki tirtha amrta perasaan hati pangalu itu ketika mohon diri dan berangkat menuntun kudanya. Genta itu diberinama “Genta Samprangan”, karena didapat dari Samprangan.

PURA TENGKULAK
Berangkat pula sang pendeta dari Samprangan ke timur sampai di desa Syut Tulikup, di pinggir kali beliau berhenti duduk-duduk. Kemudian datang beberapa orang turut duduk menghadap sang pendeta, dengan hormat menyapa sang pendeta menanyakan dari mana datang ke mana tujuannya. Setelah sang pendeta menerangkan halnya berkelana menjelajah pulau Bali, maka mereka menyuruh salah seorang di antaranya memanjat pohon nyiur memetik buah kelapa muda (kelungah) untuk dihaturkan kepada sang pendeta.
Yang disuruh segera memanjat sepohon nyiur memetik sebuah kelungah, dan sesudah kelungah itu dikasturi (dipotong bagian tampuknya) lalu dihaturkan kepada sang pendeta untuk diminum.
Sang pendeta menerima kelungah itu dengan ucapan terima kasih. Sebagai biasa apabila sang pendeta akan minum atau akan bersantap sesuatu apapun, selalu didahului dengan ucapan-ucapan weda mantram yang mengandung ucapan syukur kepada Tuhan, barulah diminum atau disantap. Setelah selesai sang pendeta minum airnya, maka kelungah itu dipecah dua untuk disantap isinya. Sang pendeta menyantap isi kelungah itu perlahan-perlahan sambil bercakap-cakap kepada orang-orang desa di sana. Orang-orang itu menjelaskan bahwa kesejahteraan dan kemakmuran mereka kurang memuaskan, karena sering diserang penyakit dan tanam-tanamannya kurang berhasil. Sang pendeta menasehatkan apabila ada halangan sesuatu, agar beliau dipanggil secara batin, tentu beliau akan datang secara niskala memberi pertolongan memohonkan kepada Tuhan agar halangan itu bisa dimusnahkan. Setelah sang pendeta habis bersantap lalu berangkat arah ke selatan diiringi oleh orang-orang yang menghadap itu sampai di tepi pantai laut.
Setiap malam celebongkakan (pecahan) kelungah yang isinya santap oleh sang pendeta dilihat oleh orang-orang Syut menyala sebagai bulan, sehingga seluruh orang desa dapat menyaksikan setiap malam celebongkakan kelungah itu bercahaya gemilang sebagai bulan, dan dapat dirasakan di tempat itu ada sesuatu kekuatan gaib.
Oleh karena itu orang-orang desa sepakat untuk membuat suatu pura di sana untuk memohon kepada Tuhan untuk keselamatan dan kemakmuran desa. Pura itu diberi nama Pura Tengkulak.

PURA GOWA LAWAH
Diceritakan Danghyang Dwijendra terus berjalan ke timur menyusur pantai laut, sampai di Sowan Cekug, mengalami ombak yang besar dan hebat sebagai barisan bukit-bukit berkejaran menebah pantai dan melimbur segala sesuatu yang ada di tepi pantai. Suaranya gemuruh riuh tak putus-putusnya seakan-akan laut itu marah hendak menghancurkan daratan, namun demikian yang bekas dilandai ombak terus dilewati dengan selamat sampai lewat dari pantai Gelgel. Dari sana terus juga ke timur melalui pantai Kusamba dan akhirnya sampai pada suatu goa yang penuh dengan kelelawar bergantungan di dalamnya, suaranya riuh hiruk-pikuk tidak putus-putusnya laksana bunyi-bunyian keindahan goa itu. Sebab itu goa itu disebut Goa Lawah (goa kelelawar). Di atas goa itu penuh dengan bunga-bunga yang sedang kembang mekar, baunya harum disebarkan oleh angin sepoi basa, dapat menenangkan batin melalui penciuman. Dari sana tampak pula keindahan pulau Nusa Penida. Segala keindahan itu menawan hati Empu Danghyang sehingga berkenan menginap beberapa malam di sana.
Lambat laun di tempat Danghyang menginap dibangun orang suatu kahyangan dinamai Pura Goa Lawah. Setelah beberapa malam sang pendeta menginap di Goa Lawah lalu kembali ke Gelgel.
Tidak terperikan gembira hati Sri Dalem Baturenggong tatkala Empu Danghyang datang kembali dengan tidak kurang suatu apa. Dalem menghaturkan sebuah rumah lengkap dengan halamannya yang indah kepada gurunya dan rakyat 200 orang sebagai pelayan. Tiap malam Dalem menghadap gurunya untuk memperdalam ajaran batin Ketuhanan, terutama ajaran ilmu Kalepasan (moksa) untuk bersatu kepada Ida Sanghyang Widhi.

PURA PONJOK BATU
Beberapa bulan kemudian, Danghyang Nirartha berniat akan melihat-lihat daerah Bali Denbukit, yaitu daerah Bali utara dan apabila ada kesempatan akan terus ke Sasak (Lombok) untuk mengetahui agama yang dipeluk di sana. Dalem Baturenggong berkenan akan niat gurunya itu, dengan harapan jangan lama-lama bepergian. Pada suatu hari Empu Danghyang berangkat dari Gelgel arah ke utara dengan melalui barisan bukit-bukit akhirnya tiba di pantai arah barat laut dari Gunung Agung.
Di sana ada suatu tanjung yang terjadi dari tumpukan batu bulatan atau batu gunung yang ditutupi dengan selaput lumut yang hijau warnanya, dinaungi oleh tumbuhan semak-semak yang muncul dari celah-celah batu. Di sana beliau berhenti di tempat ketinggian dan memperhatikan pemandangan ke laut yang luas laksana hamparan permadani beludru membiru menutupi setengah permukaan dunia dari barat, utara dan timur. Bila matahari telah tinggi, angin bertiup dari timur kian lama kian deras, ombak laut tampak bergulung-gulung menggunung besarnya, berlari berkejar-kejaran menuju tepi pantai, masing-masing membanting diri di tepi pantai yang berbatu-batu, membuih memutih indah tampaknya.
Pada suatu ketika ada sebuah perahu terdampar di sebelah timur dari tanjung (ponjok) batu tempat sang pendeta duduk yang kebetulan pantainya berpasir. Tiangnya patah, kain layarnya robek-robek, tali-temalinya berputusan, tubuh perahu itu dilemparkan dan dibanting oleh ombak yang bergulung menggunung. Anak buahnya semua pingsan mabuk laut, lemas menggeletak di pasir sebagai tak berjiwa lagi. Empu Danghyang, demi melihat keadaan yang mengerikan dan menyedihkan itu, segera datang menolong anak buah perahu itu, dengan diberi kekuatan gaib(bebayon). Masing-masing bisa ingat dan duduk di pasir. Setelah mereka mengetahui bahwa yang menolong itu adalah Empu Danghyang maka semuanya menyembah seraya mengucapkan terima kasih.
Danghyang Nirartha bertanya, “Dari mana engkau sekalian?”.
Seraya menyembah juragan perahu itu menjawab, “Ya sang pendeta, kami bertujuh orang dari Sasak hanyut dibawa arus hampir satu bulan diombang-ambingkan ombak kesana-kemari, sehingga perbekalan kami habis. Entah berapa hari kami tidak makan, kami tidak tahu karena tidak sadar dengan diri akibat kelaparan serta mabuk laut. Tidak ada harapan untuk hidup lagi. Segalanya kami serahkan kepada Allah. Kami mengaturkan banyak terima kasih ke hadapan sang pendeta karena pertolongan yang suci, menghidupkan kami”.
Empu Danghyang menasehatkan anak buah perahu itu minum air dan membersihkan diri pada mata air yang baru-baru saja timbul di tepi pantai itu, dan sesudahnya agar mencari buah-buahan untuk menyegarkan badan di dalam hutan yang tidak jauh dari sana, besok pagi baru berlayar ke Sasak, sang pendeta juga akan turut. Tidak diceritakan anak buah perahu itu menginap tidur dengan lelapnya semalam di pantai laut itu. Besok paginya semua bangun dengan segar bugar kembali. Tenaganya seperti sedia kala. Ombak laut pada hari itu mulai teduh dan angin bertiup lembut dari barat. Sang pendeta menasehatkan bahwa hari itu baik untuk berlayar ke Sasak dan beliau akan turut. Anak buah perahu semua menaruh kepercayaan bahwa sang pendeta memiliki kekuatan yang luar biasa sebagai utusan Allah. Sebab itu mereka itu menuruti nasehat sang pendeta, mendorong bersama-sama perahunya ke permukaan laut lalu berlayar. Sang pendeta duduk di atas atap perahu sambil melihat-lihat pemandangan dan keadaan cuaca, kadang-kadang tampak beliau itu merenung bermeditasi. Anak buah perahu semuanya heran, karena perahunya berlayar lancar ke timur sekalipun tidak memakai layar dan berkemudi patah. Laut di antara pulau Bali dan pulau Lombok besar juga namun tidak menjadi halangan sesuatu apa dan kemudian turun di pantai yang teduh ombaknya yaitu di Karang Bolong.
Diceritakan kembali perihal keadaan di Ponjok Batu, setiap malam tampak dilihat oleh orang-orang yang berdekatan di sana bahwa batu-batu bekas peristirahatan Danghyang Nirartha di sana menyala terus-menerus. Sebab itu tiap-tiap hari banyak orang-orang datang ke sana bersembahyang mohon keselamatan dan akhirnya dibuat suatu Pura dengan bangunan Sanggar Agung (tempat memuja kebesaran Hyang Widhi) dinamai Pura Ponjok Batu.

TUAN SEMERU DAN PURA SURANADI
Setibanya di Sasak (Lombok) Danghyang Nirartha mengajarkan Agama Islam Waktu Tiga kepada orang-orang Sasak, sehingga beliau itu dianggap guru (nabi) yang digelari Tuan Semeru. Sebab itu baliau berkenan membuat suatu syair bernama Tuan Semeru bertembang Dangdang. Asrama tempat beliau mengajar agama yang terutama diberi nama Suranadi, yaitu suatu asrama yang sangat indah diapit oleh dua buah telaga yang penuh dengan pohon bunga yang harum.
Karena kebesaran dan kesaktian jiwa beliau maka di pinggir asrama itu muncul empat buah mata air yang disebut Catur Tirtha, yaitu tirtha panglukatan, tirtha pabersihan, tirta pangentas dan toya racun. Tidak putus-putusnya orang datang dari tempat jauh untuk memohon pembersihan diri terutama yang hendak mengheningkan cipta. Orang-orang yang beragama Islam dan tidak beragama Islam menjadi satu hidup rukun tidak pernah ada percekcokan atau permusuhan akibat kesucian batin sang pendeta mengajarkan agama. Beliau menjelaskan bahwa tujuan agama itu tidak ada berlainan kecuali satu kepada Ida Sanghyang Widhi yang disebut juga Tuhan Allah. Yang berbeda hanya dalam pelaksanaannya dan bahasanya. Pelaksanaannya pun sesungguhnya satu juga, yaitu membuat orang susila berjiwa tenang, dapat mengatasi segala serangan suka duka dunia. Tentang bahasanya, bahasa apapun dipergunakan boleh saja, yang terutama bahasa batin setiap orang.

NASEHAT KEBATINAN KEPADA SERI SELAPARANG
Setelah lama diam berasrama di Suranadi dan telah dianggap cukup memberi ajaran agama Islam Waktu Tiga, maka Danghyang Nirartha berniat akan melawat ke Sumbawa. Pada suatu hari beliau berangkat dari Suranadi ke timur menuju pantai laut timur untuk menyeberang.
Diceritakan Seri Selaparang (Raja Lombok Timur) mendengar bahwa ada seorang pendeta sakti yang bernama Tuan Semeru tiba di pantai timur hendak menyeberang ke Sumbawa, maka tergesa-gesa beliau datang menjemput sang pendeta dengan maksud menghaturi singgah ke purinya untuk mohon nasehat-nasehat agama. Setibanya di sana segera menghadap sang pendeta menghaturi singgah ke purinya.
Tetapi sang pendeta minta maaf tidak dapat singgah, karena sedang dalam perjalanan pergi ke Sumbawa hendak menengok saudara sepupu baliau di sana, apa masih hidup atau tidak.
Kata Seri Selaparang, “Maaf Tuan Semeru, kalau-kalau saya mengganggu perjalanan sang pendeta. Kalau sang pendeta sudi kiranya, saya ingin mendapat nasehat, bagaimana caranya untuk mendapat kebahagiaan hidup? Sekalipun saya dianggap orang yang berkuasa di Sasak Timur namun kebahagiaan hidup itu tidak dapat dicapai dengan jalan kekuasaan, harta benda dan nafsu,” demikian kata Seri Selaparang dengan wajah muka sangat berharap.
Jawab sang pendeta, “Memang tuanku, kebahagiaan itu tidak dapat dicapai denganjalan kekuasaan, harta kekayaan dan memenuhi nafsu. Bahkan soal kekuasaan, harta kekayaan dan nafsu itu pada dasarnya menjadi penghambat kebahagiaan hidup. Susah mencapai bahagia dengan jalan itu.
Padahal seluruh manusia berusaha untuk mendapat kebahagiaan tidak lain dengan jalan berbagai ragam. Ada dengan jalan mengejar kekuasaan, mengejar harta kekayaan, mengejar memenuhi nafsu, ada dengan jalan jahat, curang, memalsu, menipu, ada yang terang-terangan, ada yang sembunyi-sembunyi dan lain sebagainya. Sesungguhnya sudah ada diturunkan ajaran untuk mencapai kebahagiaan hidup oleh Tuhan Allah yang disebut Agama. Semua agama tujuannya satu-tidak dua, yaitu untuk kebahagiaan hidup manusia. Kalau ada orang mengatakan dirinya beragama dan ia tidak merasakan dirinya berbahagia, jangan menganggap agama itu salah, sebab ia tidak melakukan ajaran agama dengan tepat. Sebab itu setiap orang bebas memilih agama yang dipeluknya sebagai pedoman hidup yang kira-kira dapat dilakukannya dengan tepat. Singkatnya ajaran agama itu adalah ajaran Ketuhanan yang berkuasa akan mempengaruhi pikiran atau batin manusia menjadi suci, karena suci itu menimbulkan rasa bahagia, bahan menghadapi baik buruk pengaruh dunia. Memang baik buruk dan suka duka itu selamanya ada dan memang demikian sifat dunia, sebagaimana halnya di sebelah hati kita ada juga empedu yang pahit rasanya. Kalau orang telah suci pikirannya atau batinnya, sekalipun ia berkedudukan tinggi dan berkuasa, kaya raya, beristri lebih dari satu dan lain sebagainya, tidak ada tergangggu kebahagiaannya, karena dibentengi oleh kesuciannya. Hatinya tetap bersih, tidak berani menyeleweng dari hukum agama, hukum negara, tidak berani berlaku curang, palsu, menipu,dan selamanya berlaku jujur, adil, disiplin dalam segala tugas kewajibannya. Pikiran yang demikian itu laksana air tirtha suci merupakan pembersih diri alam sekala sampai niskala (lahir sampai batin), sebagai halnya dengan nabi dapat mencapai alam bahagia tinggi adalah karena kesucian hatinya”. Demikian nasehat Danghyang Bawu Rawuh.
Seri Aji Selaparang dengan senang menerima nasehat Tuan Semeru demikian. Lalu mengucapkan banyak-banyak terima kasih dan selamat jalan, akhirnya mohon diri. Pantai laut tempat pembicaraan itu kemudian disebut Labuhan Haji.

GUNUNG API TAMBORA
Perahu yang kandas di Ponjok Batu dan yang ditumpangi oleh sang pendeta ke Sasak, kini telah menanti di pantai dengan perlengkapan yang sempurna, bersiap akan menyebrangkan sang pendeta ke Sumbawa. Sesudah sang pendeta habis bercakap-cakap lalu naik ke perahu dan terus berlayar. Tak lama antaranya telah tiba di pantai Sumbawa, perahu berlabuh dan sang pendeta turun ke darat dengan pelan-pelan diiringi juragan perahu (kepala anak buah perahu). Di jalan banyak orang yang dijumpai atau berpapasan, semuanya mengelak atau minggir memberi jalan kepada sang pendeta yang baru datang dengan sikap menundukkan kepala, ada yang melirik memperhatikan, semuanya takjub melihat perbawa wajah muka sang pendeta sungguh-sungguh angker dan suci tak ada bandingannya.
Ada diantaranya yang bertanya kepada juragan perahu yang mengiring, “Siapakah orang yang baru ini?”
Juragan perahu menjawab dan menjelaskan, “Orang ini adalah seorang pendeta yang suci, bernama Tuan Semeru, sungguh-sungguh suci dan sakti tak ada bandingannya berasal dari Daha Jawa Timur. Kami pernah mendapat bahaya hanyut. Perahu kami dibawa arus hampir sebulan lamanya sampai perbekalan kami habis, sehingga kelaparan dan mabuk laut, pingsan tidak sadarkan diri, akhirnya kandas di pantai pesisir Bali. Beliau Tuan Semeru yang menolong memberikan kami hidup kembali, sebab itu kami mengiring beliau sebagai pembalas jasa dengan hati yang sungguh-sungguh bakti. Beliau mengatakan, konon ada saudara sepupu beliau disini, sebab itu beliau datang kemari ingin jumpa kepada saudara sepupunya kalau masih hidup”.
Jawab orang Sumbawa itu, “O … ya, junjungan kami yang dari Majapahit itu telah pulang ke alam baka dan telah lama sekali”.
Demikian percakapan mereka itu, namun sang pendeta terus saja berjalan sampai ke kaki gunung berapi yaitu Gunung Tambora.
Di sana baru beliau berhenti dan bermalam di sebuah pondok orang tani. Yang punya pondok menerima dengan hormat Tuan Semeru bermalam di sana. Beliau disuguhi ketela rebus dan pisang rebus ala kadarnya, karena sawah tegalnya tidak menghasilkan tahun itu, sebab tanaman padi gagal dan palawija tidak jadi karena diserang hama penyakit ulat dan belalang.
Besok paginya Kepala Desa mendengar ada seorang pendeta sakti mengunjungi daerah desanya. Segera ia menghadap kepada sang pendeta di pondok orang itu. Setelah bertemu Kepala Desa dengan khidmad berjabat tangan dan mencium tangan sang pendeta.
Sesudah sama-sama duduk Kepala Desa bertanya kepada sang pendeta, “Dari mana datang dan apa kepentingan beliau datang ke Sumbawa”. Jawab sang pendeta, “Bapak dari Bali, tapi sudah lama diam di Sasak. Bapak datang ke mari sekedar ingin mengetahui keadaan alam di sini, terutama ingin mengetahui gunung api Tambora dari dekat”.
“Kalau demikian, Tuan pendeta, kami menghaturi sang pendeta pindah menginap di rumah kami selama di Sumbawa, karena rumah kami cukup besar dan ada tempat yang layak untuk Tuan pendeta. Lain dari itu kami permaklumkan bahwa sawah tegal desa kami di pegunungan ini sejak lama diserang hama penyakit ulat dan belalang sehingga segala tanam-tanaman tidak menjadi. Karena itu rakyat Tuan pendeta di sini mengalami kekurangan bahan makanan, sehingga hidupnya dalam kesulitan besar. Kedatangan Tuan pendeta sekarang ini, kami anggap dari Tuhan Allah menolong kemelaratan hidup umatnya di sini. Kesimpulannya kami mohon tolong dengan segala hormat agar tuan pendeta memberikan hidup rakyat di sini, dengan mengusir atau memusnahkan hama penyakit tanam-tanaman itu”.
Sang pendeta menjawab, “Kalau begitu, baiklah nanti malam dicoba, supaya semua orang yang punya sawah ladang mengisi sawah ladangnya suatu pedupaan yang berisi api dan kemenyan yang harum yang mengepul asapnya semalam-malaman. Bapak nanti memuja dari suatu tempat, memohonkan kepada Tuhan dan Dewa di Gunung Tambora agar seluruh hama penyakit itu dipindahkan dari sini” demikian sang pendeta.
Kepala Desa itu sangat gembira hatinya mendengar kata Tuan Semeru, lalu diiring pindah tempat ke rumahnya. Pembantu-pembantunya diberitahu agar memerintahkan orang-orang desa yang punya sawah ladang supaya semua membawa pedupaan berisi api dan kemenyan ke sawah ladangnya masing-masing malam nanti.
Setelah sang surya terbenam dan hari mulai menggelap malam, Tuan Semeru diiringi oleh Kepala Desa pergi ke suatu tempat di ladang yang tanahnya agak tinggi. Di sana beliau itu memuja dengan melakukan Yoga. Sampai larut malam baru kembali ke pesanggrahannya. Keadaan di sawah ladang malam itu diliputi dengan bau harum asap kemenyan. Besok paginya seluruh ulat dan belalang yang biasanya memenuhi sawah ladang tidak ada tampak seekorpun. Bersih sama sekali. Orang-orang desa semuanya heran dengan kesaktian sang pendeta. Semuanya memuji mengatakan sungguh-sungguh seorang pendeta sakti dan suci, tidak memikirkan upah, belas kasihan kepada orang-orang melarat. Semenjak itu tanaman-tanaman di sana menjadi baik subur dan berhasil. Tuan Semeru tiap-tiap hari keluar juga melihat-lihat alam dan tanam-tanaman orang disertai beberapa pengiring. Di dalam perjalanan banyak menjumpai orang-orang sakit yang memohon obat kepada beliau dan semuanya menjadi sehat segar bugar setelah diobati, sehingga beliau masyhur di sana, seorang pendeta sakti dan mampu mengobati orang-orang sakit.

PUTRI DENDEN SARI
Diceritakan di Sumbawa ada seorang penghulu yang banyak punya anak dan kaya. Karena kayanya ia menjadi orang yang sangat kikir. Tiap-tiap hari kerjanya menghitung uang, mengeluarkan dan memasukkan uang, membungakan uang dengan bunga yang tinggi, menggadai benda dengan bayaran berlipat ganda. Ke luar memungut bunga uang, pulang memasukkan dan menghitung uang. Demikian saja kerjanya. Anaknya banyak tidak diperhatikan sandang pangannya, sehingga hidupnya melarat. Ada di antaranya anak wanita bernama Si Denden Sari baru berumur 6 tahun, dalam keadaan sakit. Ia sejak kecil tidak dihiraukan. Akhirnya keras sakitnya. Badannya lemas tidak sadar dengan diri untuk beberapa hari.
Penghulu Sumbawa mendengar berita itu di jalan, bahwa ada seorang pendeta sakti mengobati orang sakit sangat makbul. Penghulu Sumbawa tergerak hatinya untuk mohon tolong kepada sang pendeta mengobati sakit anaknya, karena dianggapnya tidak dapat lagi ditolong. Demikian pikirnya lalu ia pergi ke pesanggrahan sang pendeta.
Tiada diceritakan betapa pertemuanya, kemudian tampak sang pendeta diiringi oleh penghulu datang menengok anak yang sakit. Danghyang Nirartha melihat dan memperhatikan anak yang sakit itu dalam keadaan sakit payah, nafasnya terengah-terengah, mukanya pun pucat pasi seakan-akan mayat, tetapi cantik bentuknya.
Sang penghulu berkata kepada sang pendeta, “Ya Tuan pendeta, kami mohon dengan hormat sudi apalah kiranya tuan pendeta mengembalikan jiwanya supaya kembali anak kami. Kalau ia bisa hidup kembali kami akan menghadiahkan anak kami kepada tuan pendeta menjadi budak pendeta”. “Baiklah kalau begitu!” jawab Tuan Semeru, “Bapak minta anak ini akan bapak bawa ke Bali!”. “Silakan tuan pendeta,” kata penghulu Sumbawa, “Kami dengan tulus ikhlas mengaturkan”.
Empu Danghyang sangat belas kasihan melihat anak yang sakit itu, lalu diraba mukanya seraya diberikan bebayon (kekuatan gaib Ketuhanan). Beberapa detik saja antaranya maka anak itu tersenyum lalu bergerak duduk dengan cahaya muka yang segar.
Empu Danghyang berkata, “Anakku sekarang bapak menjadi bapakmu, semoga engkau hidup kuat, mari bersama-sama pergi ke Bali”. Anak itu menjawab, “Ya” lalu bergerak bangun dengan gembira. Kepala penghulu Empu Danghyang berkata, “Bapak sekarang mohon diri, dan anak ini bapak bawa”. Jawab penghulu, “Silakan tuan pendeta, selamat jalan! Anakku Denden Sari, iringlah tuan pendeta yang suci, beliau menghidupkan engkau!”.
Sang pendeta berjalan dengan tenang seraya memimpin anak kecil itu menuju ke pelabuhan. Tidak diceriterakan halnya dalam perjalanan, akhirnya tiba di pulau Bali dan menuju asrama Mas. Anak itu terus sehat-sehat saja tidak pernah sakit. Setelah anak itu meningkat gadis, rupanya sungguh-sungguh cantik, lalu dikawinkan dengan cucu beliau, yang bernama Ida Ketut Buruan Manuaba.

BUAH TANGAN GURU DAN MAHAPUTRA
Ketika Danghyang Dwijendra kembali ke Gelgel bukan main gembiranya Dalem. Setiap malam membicarakan ilmu batin dan Ketuhanan. Dan Pangeran Dawuh tetap juga menghadap gurunya untuk mohon nasehat-nasehat. Segala nasehat-nasehat gurunya itu telah dicatat dalam sebuah tulisan (rontal) yang diberi judul “Wukir Padelegan”.
Untuk mengetahui berapa banyak buah tangan guru (Danghyang Nirartha) dan mahaputranya (pangeran Dawuh), di bawah ini dicantumkan nama-namanya :
Buah tangan Pangeran Dawuh, yaitu :
1. Rareng Canggu
2. Wilang Sebun Bangkung
3. Wukir Padelegan
4. Sagara Gunung
5. Aras Negara
6. Jagul Tuwa
7. Wilet Manyura Tahun Caka 1414
8. Anting-Anting Timah
9. Kakawin Arjuna Pralabda
Sekian buah tangan Pangeran Dawuh Baleagung.

Buah tangan Danghyang Nirartha, yaitu :
1. Nusa Bali Tahun Caka 1411
2. Kidung sebun Bangkung
3. Sara Kusuma
4. Ampik
5. Legarang
6. Ewer
8. Majadanawantaka
9. Wasista Sraya
10. Dharma Pitutur
11. Kawya Dharma Putus
12. Dharma Sunya Kling
13. Mahisa Megat Kung Tahun caka 1458
14. Kakawin Anyang Nirartha
15. Wilet Demung Sawit
16. Gagutuk Menur
17 Brati Sasana
18. Siwa Sasana
19. Tuan Semeru
20. Putra Sasana
21. Kidung Aji Pangukiran

MADIKSA DAN MEMBAGI WARISAN
Pada suatu ketika Danghyang Nirartha mempermaklumkan kepada Dalem Baturenggong, bahwa beliau itu akan pulang ke desa Mas.
Katanya, “Nanak Baturenggong, ingatkan segala nasehat bapak yang sudah-sudah. Kini bapak akan pulang ke Mas hendak melaksanakan upacara padiksan (pembersihan menjadi pendeta) kepada 4 orang anak bapak yang akan mengganti bapak, yang akan melanjutkan tugas bapak sebagai brahmana di dunia, sebab bapak akan segera pulang ke alam Siwa Loka. Hari padiksan itu nanti pada hari tilem sasih kalima (bulan mati sekitar Nopember). Jangan anak kecewa sepeninggal bapak. Pilih di antara 4 anak bapak sebagai bhagawanta atau pathirthan (pendeta khusus kerajaan) nanak!”. Demikian nasehat Empu Danghyang. Dalem menyembah dengan khidmat tanda menerima segala nasehat Dhanggurunya.
Setibanya Danghyang Dwijendra di desa Mas, dititahkan Pangeran Mas mempersiapkan segala upacara padiksan untuk dilaksanakan 30 hari yang akan datang
Kepada putra-putranya beliau berkata, “Anak-anakku, bapak akan segera pulang ke Siwa Loka, sebab itu engkau berempat akan segera bapak diksa, dinobatkan sebagai pendeta menggantikan tugas bapak sebagai guru loka di dunia.” Putra-putranya semua menyembah dengan perasaan terharu menjunjung titah ayahnya.
Diceritakan tepat pada hari upacara padiksan itu Sri Aji Dalem Baturenggong datang diiring oleh para punggawa, turut mempersaksikan upacara suci itu. Sesudah upacara selesai, maka Empu Danghyang berkenan memberi nasehat kepada putra-putranya.
Katanya, “Anak-anakku sekalian, kini engkau telah resmi duduk sebagai pendeta yang bertugas untuk menegakkan kesejahteraan dunia dan jangan sekali menyimpang dari dharmaning (tugas dan kewajiban dari) seorang pendeta, misalnya : jangan suka minum tuak dan segala minuman yang mengandung alkohol yang dapat menyebabkan mabuk. Dan segala yang bersifat mabuk harus dihindari. Jangan makan daging sapi sebab ia sebagai ibu yang memberi susu kepada kita. Jangan makan daging babi rumah dan ayam itik rumah sebab dianggap kotor suka makan najis dan dihindari segala yang dianggap kotor. Dan jangan kau bertindak iri hati terhadap kakak-adikmu. Boleh engkau ambil-mengambil, boleh engkau sembah-sinembah. Yang tuaan boleh dipakai guru. Tidak boleh berzina, mengambil istri wanita yang telah berlaki. Demikianlah harus juga dinasehatkan kepada turun-turunanmu”. Demikian antara lain nasehat Empu Danghyang.
Selanjutnya Danghyang Dwijendra mengeluarkan harta benda kekayaan beliau seluruhnya, akan dibagikan kepada semua putra-putranya. Dalem Baturenggong turut mempersaksikan pembagian warisan itu, diiringi oleh Sira Arya Kenceng pelayannya Ida Kidul.
Adapun harta benda yang dibagi yaitu : mas, perak, uang kepeng, permata mirah, cincin, tegal sawah, lontar-lontar pustaka, alat pawedaan (pemujaan kependetaan), rakyat dan lain-lainnya. Tempat membagi harta benda itu di luar geria asramanya di Mas. Harta benda itu dibagi menjadi 5 bagian untuk putra-putranya 6 orang, yaitu : di luar geria itu diletakkan 5 buah balai-balai amanca desa (lima arah) yakni : di timur, di selatan, di barat, di utara dan di tengah. Masing-masing diisi harta benda, yang satu berisi alat pawedaan, pangrupak (pisau tulis untuk lontar) yang bernama Ki Tamlang, keris yang bernama Ki Sepak, genta 2 buah yang bernama Ki Brahmana dan Ki Samprangan dan uang kepeng 20.000. Setelah selesai harta benda dibagi maka Seri Aji Baturenggong mempersilahkan guru putra semua mengambil bagian. Katanya, “Singgih Empu Danghyang sekalian, sekarang boleh mengambil bagian masing-masing menurut minatnya masing-masing”.
Empu Kulon lebih dulu mengambil bagian yaitu : mas, perak, uang kepeng, permata, surat tegal sawah dan rakyat, akibatnya akan mempunyai keturunan banyak, tetapi kurang ilmu.
Empu Lor mengambil surat tegal sawah, mas, perak, uang kepeng, permata perhiasan dan rakyat, akibatnya anak banyak kepandaian kurang.
Empu Wetan mengambil surat tegal sawah, mas perak, uang kepeng, permata perhiasan dan rakyat, maknanya anak banyak kepandaian kurang.
Ida Putu Sangsi dan Ida Putu Bindu mengambil bagian satu bagian dibagi dua berupa sawah dan uang, maknanya kepandaian kurang, tetapi turunannya banyak kemudian.
Empu Kidul masih tetap tenang diam sebagai tidak menghiraukan bagian, karena asyik melihat saudara-saudaranya berebutan mengambil bagian dipegang oleh rakyatnya, sehingga Dalem Baturenggong mengingatkan Empu Kidul, apa sebabnya diam saja tidak mengambil bagian. Karena itu baru Empu Kidul mengambil bagian sisa-sisanya. Yang didapat lontar pustaka, alat pawedaan, 2 buah genta Ki Brahmana dan Ki Samprangan, pisau Pangrupak Ki Tamlang dan keris Ki Sepak, maknanya penuh kepandaian, kesaktian, cakap segala kesenian tetapi turunan kurang, dan mengambil Pan Geleng pelayannya Bandesa Mas.
Setelah selesai pembagian, masih ada ketinggalan seorang rakyat, seekor ayam kurungan dan sebatang pisau Pangrupak. Empu Kulon mengambil rakyat, Empu Lor mengambil ayam kurungan dan Empu Kidul mengambil pisau Pangrupak.

PURA PANGAJENGAN
Setelah selesai semuanya maka Danghyang Dwijendra mengucapkan selamat tinggal pada hadirin semuanya, sebab akan berangkat mencari tempat yang suci untuk pulang ke Siwa Loka (sorga). Putra-putranya semua menyembah dengan sujud, demikian pula Seri Aji Baturenggong dan Pangeran Dawuh Baleagung, Para Arya dan rakyat yang hadir semua menyembah dengan tulus bakti.
Setelah itu Dhanghyang Dwijendra berjalan dengan tenang sendiri arah ke Selatan, tidak diijinkan orang mengiringkan, tidak membawa benda apa-apa kecuali peti kecil tempat pacanangan (tempat sirih). Setelah beberapa hari lamanya Empu Dhanghyang berjalan mengembara memasuki tempat-tempat yang suci tidak ada orang mengetahui, pada suatu hari ada orang memberitakan kepada Pangeran Mas bahwa Empu Danghyang sedang ada di penghulu sawah di antara desa Sumampan dengan Tangkulak di suatu tempat yang sangat suci, dilihat sedang menulis lontar.
Beberapa hari kemudian kebetulan hari Panampahan Kuningan (sehari sebelum hari raya Kuningan) Bandesa Mas bersama istrinya pergi ke penghulu sawah dengan membawa hidangan makanan yang nikmat-nikmat rasanya akan diaturkan kepada Empu Danghyang, kalau beliau masih ada di sana, karena baktinya kepada guru (nabe). Ketika empu Dangguru melihat siswanya datang hendak menghadap.
Lalu berkata menyapa dengan tersenyum, “O. nanak datang, silakan datang kemari, bapak mengijinkan nanak menghadap!” (Catatan : kata “nanak” adalah suatu kata yang biasa dipergunakan oleh seorang guru kebatinan kepada muridnya yang resmi. Padahal Bandesa Mas ini adalah mertua dari Empu Danghyang, atau Empu Danghyang anak menantu dari Bandesa Mas. Kiranya pengaruh mertua dibanding dengan guru, lebih berpengaruh kedudukan guru di batin orang).
Bandesa Mas datang menghadap dengan menyembah kemudian katanya, “Singgih Empu Danghyang, kami datang menghadap ini untuk mengaturkan sekedar santapan, karena hari ini hari Panampahan Kuningan, sekedar sebagai tanda bakti kami kepada Dhangguru”. Jawab Empu Danghyang. “Dengan senang hati bapak menerimanya. Coba tolong carikan bungkak (kelapa muda kecil) untuk membersihkan makanan ini supaya suci!”.
Istri Pangeran Mas dengan segera minta tolong kepada orang untuk memanjat pohon nyiur memetik sebuah bungkak. Tidak lama antaranya bungkak sudah siap dihaturkan dengan sudah berkasturi (dilobangi sebagian tampuknya). Setelah hidangan selesai dipersiapkan oleh istri Pangeran Mas, maka Empu Danghyang mengucapkan mantram lalu bersantap. Mungkin karena kekuatan gaib mantram yang diucapkan oleh Empu Danghyang maka seluruh makanan berbau harum. Setelah sang pendeta bersantap, sisanya dinikmati pula oleh Pangeran Mas bersama istrinya. Sesudah selesai semuanya, Pangeran Mas beserta istrinya menyembah lalu mohon diri dengan gembira.
Setelah itu Danghyang Nirartha meninggalkan tempat itu. Namun tempat bekas sang pendeta bersantap itu dilihat oleh orang-orang desa setiap malam bercahaya terang dan berbau harum semerbak. Karena itu di tempat itu dibuat suatu palinggih pemujaan Tuhan disebut namanya : Pura Pangajengan, sebab tempat pangajengan (bersantap) Pedanda Sakti Bahu Rawuh.

PURA MASCETI
Diceritakan setelah Danghyang Nirartha pergi dari penghulu sawah terus menuju pantai laut selatan, berjalan perlahan-lahan sendirian di desa Rangkung ke barat mendekati pelabuhan Masceti. Setibanya di sana dirasa ada sapuan angin sepoi-sepoi membawa bau yang harum semerbak menyedapkan perasaan batin suci. Dirasa oleh beliau bahwa hal itu adalah tanda makhluk roh kudus atau Dewa yang turun mendekati beliau. Timbul semangatnya gembira berjalan, tiba-tiba terlihat oleh beliau suatu cahaya gemilang di dalam Pura Masceti, lalu beliau masuk ke dalam kahyangan itu, duduk dengan tertib mengucapkan Weda mantram menyembah Tuhan.
Bhatara Masceti terperanjat melihat, segera turun mendekati memegang tangan Empu Danghyang seraya berkata dengan halus : “Tidak patut Danghyang menyembah, karena sudah suci menunggal dengan Tuhan dan sudah patut kembali ke alam Acintya Loka, apa sebab Danghyang masih suka di dunia?”. Jawab Danghyang, “Saya masih menunggu saat turunnya perintah dari Tuhan”. “Kalau begitu,” jawab Bhatara Masceti, “Mari kita bersama-sama bercengkrama di pinggir laut”.

PURA PETI TENGET
Dhanghyang Dwijendra mengiring Bhatara Masceti bercengkrama di daerah pantai, tiada berapa lama karena kesaktian Bhatara Masceti telah sampai di pulau Serangan bagian barat lautnya.
Di sana beliau bercakap-cakap soal Ketuhanan. Kemudian ada orang melihat cahaya cemerlang merah dan kuning. Lalu menyelidiki. Didapati Empu Danghyang bercakap-cakap dengan orang tidak kelihatan nyata.
Maka ia memberanikan diri bertanya, “Tuan pendeta, maafkan saya bertanya, siapakah tuan hamba datang ke daerah kami?”. “Bapa Pedanda Sakti Bahu Rawuh,” jawab Danghyang. “Bapa ke mari mengiring Bhatara Masceti bercengkrama, dulu bapak telah pernah ke mari”. “Kami menghaturkan selamat datang,” kata orang Serangan. “Silakan tuan hamba berdua diam di sini, kami orang-orang Serangan akan nyungsung (memuja) Sesuhunan (junjungan)”. “Baiklah,” jawab Danghyang. “Buatlah di sini sebuah candi yang akan disungsung (dipuja) oleh jagat dan buat pula sebuah gedong pelinggih Bhatara Masceti, karena beliau bapak iring sampai ke mari!”
Orang Serangan itu menyembah dan berjanji menuruti nasehat Danghyang. Empu Danghyang bersama Bhatara Masceti pergi dari Serangan melanjutkan cengkramanya, tiba-tiba telah sampai di pantai laut Kerobokan. Dari sana dilihat oleh Empu Danghyang Tanjung Hulu Watu sebagai perahu hendak berlayar memuat orang-orang suci menuju tepi langit dan terus ke sorga. Bhatara Masceti memaklumi pikiran Danghyang Nirartha demikian. Lalu berkata, “Danghyang maaf saya mohon diri di sini, tidak boleh orang ngeluhur (pergi ke sorga)”, demikian katanya lalu menggaib.
Danghyang Nirartha berjalan akan menuju Hulu Watu, pecanangannya (tempat sirih) diletakkan. Ketika itu beliau melihat ada orang halus bersembunyi di semak-semak karena takut melihat perbawa Danghyang yang suci. Danghyang memanggil, “Hai Bhuto Hijo kemari, jangan bersembunyi, jangan takut !”. Bhuto Hijo datang menghadap, duduk menundukkan kepala. Danghyang berkata, “Bhuto Hijo, sekarang engkau aku beri tugas menjaga pecananganku ini, kalau ada yang hendak merusak engkau melawan!”. Bhuto Hijo menyembah menjunjung titah Danghyang katanya, “Hamba mohon pasikepan, senjata untuk menjaga!”.
Danghyang lalu memberi suatu mantram yang sakti, kemudian berkata pula, “Sekarang engkau sudah sakti, engkau jangan lalai menjaga dan nengetang (mengsakralkankan) pecananganku ini. Kini aku memberi nama tegal ini yaitu Tegal Peti Tenget”.
Danghyang Nirartha terus pergi ke Hulu Watu ke tempat kahyangan yang dibuatnya dulu. Setelah tiba di sana tidak terperikan senang hati beliau, karena tempat itu sunyi hening dan suci, menonjol di atas air laut, pemandangan indah ke seluruh permukaan laut yang dibatasi oleh tepi langit. Di sana beliau menetap seorang diri mengheningkan cipta, menanti panggilan Tuhan untuk ngeluhur, beliau tidak mau memaksakan diri sebelum saatnya tiba.
Pada suatu hari datang Kelihan (kepala desa) Kerobokan bersama beberapa orang kawannya menghadap Empu Danghyang. Setelah duduk menyembah, Danghyang bersabda, “Siapakah engkau ini, ada kepentingan apa kepada bapa?”. Kelihan Kerobokan menjawab, “Singgih sesuhunan, kami ini orang mendapat kesusahan hebat; di daerah kami di tepi pantai ada sebuah tegal, baru sekarang sangat angker sekali, tiap-tiap orang yang datang kesana mencari sesuatu untuk kepentingan hidup, sekembalinya mesti sakit keras dan susah diobati. Telah banyak yang mengalami hal demikian. Beberapa dukun tidak dapat mengobatinya. Kemudian kami dengar sesuhunan ada di sini, sebab itu kami memberanikan diri menghadap untuk mohon urip”.
Belum selesai aturnya lalu Danghyang menjawab, “O, ya, pecanangan bapa ada di sana bapa taruh karena tidak perlu lagi. 
Ki Bhuto Hijo menjaganya dan menengetkannya. Siapa saja yang datang ke sana merusak sesuatu, tentu Ki Bhuto Hijo yang menyakiti. Coba sekarang usahakan membangun sebuah kahyangan di sana pelinggih Bhatara Masceti. Bapak dulu dapat mengiring baliau bercengkrama, mula-mulanya ke Sakenan kemudian ke Kerobokan, sampai di sana beliau menggaib. Peti pecanangan bapa di sana bapa taruh dijaga oleh Ki Bhuto Hijo, ia yang nengetang, bapak namai Peti Tenget. Itulah sungsung di sana tempat memuja Tuhan untuk mohon kesejahteraan desa. Tiap-tiap kali terutama pada hari puja wali, berilah Ki Bhuto Hijo cecaron, nasi segehan atanding (korban kecil satu porsi), ikannya jejeron (jeroan) babi mentah, segehan agung, lengkap upakaranya tetabuh tuak arak.Tentu ia tidak menyakiti lagi, bahkan disayang dan dibantu sembarang kerja”.
Kelihan Kerobokan menuruti nasehat Danghyang Nirartha demikian. Kemudian di sana dibangun sebuah kahyangan dinamai Pura Peti Tenget. Semenjak itu Desa Kerobokan selamat sejahtera diberkahi oleh Bhatara Masceti dan Bhatara Sakti Bahu Rawuh atas kehendak Tuhan.

PURA LUHUR HULU WATU
Pada suatu hari Selasa Kliwon Wuku Medangsya Dhanghyang Nirartha menerima wahyu Tuhan bahwa beliau pada hari itu dipanggil untuk pulang ke sorga. Merasa bahagia suci hatinya karena saat yang dinanti-nantikan telah datang. Hanya ada sebuah pustaka belum dapat diserahkan kepada salah seorang putranya. Tiba-tiba Empu Danghyang melihat seorang bandega (nelayan) bernama Ki Pasek Nambangan sedang mendayung jukungnya di laut di bawah ujung Hulu Watu, lalu dipanggil.
Setelah bandega itu menghadap, Danghyang lalu berkata, “Hai bandega, engkau aku suruh menyampaikan kepada anakku Empu Mas di desa Mas, katakan kepada beliau bahwa bapak menaruh sebuah pustaka mereka di sini yang berisi ajaran ilmu kesaktian!”. Jawab Ki Bandega, “Singgih pukulun sang sinuhun,” lalu mohon diri setelah menyembah.
Setelah Ki Pasek Nambangan pergi, maka Danghyang Nirartha mulai melakukan yoga samadhinya, bersiap untuk meninggalkan dunia ini. Beberapa saat kemudian beliau moksa ngaluhur, cepat sebagai kilat masuk ke angkasa. Ki Pasek Nambangan memperhatikan juga hal beliau dari tempat yang agak jauh, namun ia tidak melihat Empu Danghyang, hanya cahaya yang cemerlang dilihat membubung ke angkasa.
Demikianlah akhir riwayat Danghyang Dwijendra. Kahyangan tempat beliau ngaluhur kemudian disebut Pura Luhur, lengkapnya Pura Luhur Hulu Watu.
Pada tiap-tiap pamerajan (pura keluarga) umat Hindu Bali dibuat suatu pelinggih beratap ijuk ditandai dengan limas di atasnya, dinamai pelinggih Gunung Hulu Watu tempat memuja Roh Suci Danghyang Dwijendra atau Bhatara Sakti Bahu Rawuh atau juga Danghyang Nirartha sebagai Guru Agama di Bali. Diceritakan Ki Bandega Pasek Nambangan telah tiba di Desa Mas dan menghadap Empu Kidul.
Katanya : “Singgih pukulun, hamba ini adalah rakyat Empu, golongan Bandega Tambangan. Hamba diutus oleh sesuhunan Danghyang Dwijendra. Empu dititahkan pergi ke Hulu Watu mengambil pustaka beliau di sana di ujung Bukit Pecatu sebelah barat. Ida sesuhunan telah moksa pulang ke alam niskala. Sekian pesan ayah Empu. Jika pukulun akan ke sana hamba sedia mengantar,” demikian kata Pasek Nambangan.
Empu Kidul mengucap terima kasih kepadanya dan segera berangkat diiringi oleh Pangeran Mas, tidak ketinggalan Pan Geleng dan Ki Bandega.
Tidak diceriterakan dalam perjalanan Empu Mas telah tiba di Bukit Pecatu terus ke Hulu Watu. Setelah ada dihadapan sebuah meru (bangunan suci dengan atap bertingkat) Empu Mas menyembah, kemudian naik ke dalam meru mengambil pustaka tersebut. Sesudah mengambil pustaka itu, Empu Mas mohon diri kembali ke desa Mas bersama seluruh pengiringnya beserta Ki Pasek Nambangan Perahu. Setibanya di Mas, Ki Pasek Bandega bersama anak istrinya menetap menghamba kepada Empu Mas, diberi tanah pekarangan rumah dan sawah serta 4 ternak.

MEMILIH GURU AGAMA (SIWA / NABHE)
Setelah Empu Mas mamukti keresian (menjalankan kependetaan), maka datanglah Arya Damar (Tegeh Kori), Pangeran Dawuh, Arya Batuparas, Arya Pacung, Arya Caragi, golongan Bandesa Mas, Pasek, Kamasan, Pande, semua sama-sama berguru agama (masiwa) kepada Empu Kidul, sampai dengan turun-temurunnya, masiwa dalam kehidupan dan kematian (panca yadnya)
Empu Wetan sesudah mangresi, datang familinya Pangeran Dawuh Arya Batulepang turunan Pasung Grigis, Arya Pinatih, Dangka Ngukuhi, Brangsinga, Patandakan, Telabah, Tembuku, semuanya masiwa kepada Empu Wetan.
Empu Lor setelah mangresi, datang Arya Cacahe, Arya Tambahan, Arya Jelantik, Batanjeruk, Abyan Tubuh, Gaduh, Arya Belog, sama-sama masiwa kepada Empu Lor.
Empu Kulwan sesudahnya mangresi, datang Arya Buringkit, Arya Kepakisan, Gajahpara, yang mendua pesiwaan Arya Tambahan, Tegeh Kori, Sampih, Pucuk, sama-sama berguru kepada Empu Kulwan.
Tinggal Arya Kenceng dan putra-putranya Dalem Baturenggong belum bernabhe.
Diceriterakan Ida Putu Sangsi dan Ida Putu Bindu pada suatu hari menghadap Dalem Baturenggong di Puri Gelgel bermohon nasehat, bahwa para arya yang belum manabhe sebaiknya masiwa saja kepada Empu Kidul, karena beliau yang memegang seluruh pustaka. Dalem menyetujui.
Ketika para putra Dalem, para Arya dan Wesya penuh menghadap, maka Dalem bersabda “Anakku sekalian, para Arya dan Wesya semuanya yang belum mempunyai Siwa, kiranya baik kalau bersiwa kepada Empu Kidul, karena beliau yang memegang warisan Empu Dhanghyang Nirartha, misalnya pustaka Racadana, bajra (genta) dan alat-alat pawedaan, atau boleh juga kepada Empu Kulon, Empu Lor, Empu Wetan, semuanya itu sama-sama boleh, lain daripada itu tidak boleh. Kalau nanti Ida Putu Sangsi dan Ida Putu Tamesi menjadi resi, tidak boleh anak-anakku dan adik-adikku para Arya dan para Wesya masiwa kepada adik-adikku dua brahmana tadi, karena beliau beribu pelayan dan pernah menjunjung petaranaku (tilam tempat duduk Dalem), ketika itu belum aku kenal. Jika engkau bersiwa kepadanya niscaya surut kesaktianmu, berkurang rakyatmu, desamu kacau balau, karena murka Sanghyang Sinuhun Kidul”. Demikian Nasehat Dalem.

Leave a comment

Filed under Articles