Home

“ Kita tidak ingin hanya menjadi pewaris
betapapun sejarah masa lampau itu merupakan salah satu peristiwa besar abad ke  21 ini. 
Yang kita inginkan adalah menjadi pembuat sejarah masa sekarang dan masa yang akan datang.
Jika kita mengingat masa lampau,
maka tujuan utama kita adalah untuk menggali kekuatannya guna merampungkan tugas-tugas
kita pada masa yang akan datang.”

 

2 Comments

Filed under Gallery

Pura Segara

PENGERTIAN DAN FUNGSI

PURA SEGARA DAN PELESTARIANNYA

Bali yang terkenal dimata dunia dengan banyak sebutan salah satunya yaitu Pulau Seribu Pura. Karena di Bali memang banyak terdapat pura. Sebelum kita mengulas tentang Pura Segara sebaiknya kita mengetahui tentang Makna, Fungsi sert Pengertiyan Pura. Seperti halnya Pura Khayangan Tiga yang terdapat disetiap desa adat yang juga terkait dengan keberadaan Pura Segara itu sendiri yg sering disebut di beberapa daerah atau Desa sebagai Pura Puseh.

Secara etimologi kata Kahyangan Tiga terdiri dari dua kata yaitu kahyangan dan tiga. Kahyangan berasal dari kata hyang yang berarti suci mendapat awalan ka dan akhiran an, an menunjukkan tempat dan tiga artinya tiga. Arti selengkapnya adalah tiga buah tempat suci yang terdiri dari:

1 Pura Desa, tempat pemujaan Dewa Brahma dalam fungsinya sebagai pencipta alam semesta.

2 Pura Puseh, tempat pemujaan Dewa Wisnu dalam fungsinya sebagai pemelihara.

3 Pura Dalem, tempat memuja Dewa Siwa dalam wujud Dewi Durga dengan fungsi sebagai pemralina alam semesta.

Sejarah Pura Khayangan Tiga

Sejarah mengenai Pura Khayangan Tiga yang ada disetiap Desa Adat, masih belum pasti karena sumber tertulis yang menyebutkan secara jelas belum ditemukan. Akan tetapi ada yang menyebutkan bahwa adanya Pura Khayangan Tiga berawal ketika pada masa sebelum pemerintahan raja suami-istri Udayana dan Gunapriya Darmapatni tahun 989 -1011M di Bali berkembang yang mana pada saat itu banyak aliran-aliran keagamaan seperti: Pasupata, Bairawa, Wesnawa, Boda, Brahmana, Resi, Sora, Ganapatya dan Siwa Sidanta.

Adanya banyak aliran-aliran di Bali menimbulkan perbedaan kepercayaan di masyarakat sehingga sering menimbulkan pertentangan dan perbedaan pendapat di antara aliran yang satu dengan yang lainnya. Akibat adanya pertentangan ini membawa pengaruh buruk terhadap jalannya roda pemerintahan kerajaan dan mengganggu kehidupan masyarakat.

Menyadari keadaan yang demikian itu maka raja Udayana menugaskan Empu Kuturan untuk mengadakan pasamuhan (pertemuan) para tokoh- tokoh agama di Bali. Pasamuhan para tokoh agama itu bertempat di Desa Bedahulu Kabupaten Gianyar.

Dari pertemuan itu menghasilkan sebuah keputusan yaitu diharuskan agar dalam lingkungan masyarakat Desa dibangun Kahyangan Tiga, yang berfungsi sebagai tempat suci untuk memuja Tri Murthi yaitu: Brahma, Wisnu dan Siwa yang merupakan manifestasi  Hyang Widhi Wasa .Dan berkat pendekatan, pemikiran dan usaha yang dilakukan Mpu Kuturan tersebut, sekte-sekte dalam masyarakat Bali itu berhasil lebur dan menyatu (manunggal).

Tentang Khayangan Tiga

Kahyangan Tiga yang merupakan unsur parhyangan dari Tri Hita Karana, penempatannya pada desa adat diatur sebagai berikut:

• Pura Desa biasanya dibangun di tengah-tengah pada salah satu sudut dari Caturpata atau perempatan agung. Pada sudut yang lain terdapat bale wantilan (bale desa) rumah pejabat desa, pasar dengan Pura Melanting.

• Pura Puseh dibangun pada bagian arah selatan dari desa yang mengarah ke pantai karena itu Pura Puseh sering disebut Pura Segara di Bali. Contoh : Pura Penimbangan di Buleleng yang dipuja di pelinggih itu agak sulit melacak menurut sistem pemujaan sistem pantheon Dewa-dewa Hindu. Yang jelas Pura Segara Penimbangan ini terkait dengan konsep pelestarian alam dan masyarakat yang dituangkan dalam ajaran Sad Kerti sebagaimana diajarkan dalam Lontar Purana Bali. Salah satu dari Sad Kerti itu adalah Samudeara Kerti yaitu ajaran untuk mengingatkan umat Hindu untuk senantiasa menjaga kelestarian samudera. Pendirian Pura Segara di beberapa pantai di Bali salah satu tujuannya adalah pemujaan kepada Tuhan untuk memohon agar umat termotivasi secara spiritual untuk senantiasa memperhatikan kelestarian samuder. Dari samudera itulah air menguap menjadi mendung. Mendung yang turun menjadi hujan ditampung oleh hutan. Hutan yang menampung air itu terus menjadi sumber terwujudnya danau. Di Pura Segara Penimbangan terdapat Pelinggih Dewa Ngurah Ulun Danu. Pemujaan di Pelinggih Ulun Danu inilah umat dimotivasi secara spiritual agar menjaga kelestarian danau. Dala, ajaran Sad Kerti terdapat unsur Danu Kerti sebagai amanat kitab suci untuk menjaga secara baik agar danau itu tidak rusak tercemar perilaku yang tidak terpuji pada sumber air sebagai unsur alam yang paling menentukan kehidupan di bumi ini. Pura Segara juga betujuan untuk menanamkan wawasan kelautan atau wawasan maritim kepada umat Hindu bahwa laut itu memegang peranan yang strategis dalam kehidupan di bumi ini

• Pura Dalem dibangun mengarah ke arah barat daya dari desa karena arah barat daya adalah arah mata angin yang dikuasai oleh Dewa Rudra yaitu aspek Siwa yang berfungsi mempralina segala yang hidup.

Kahyangan Tiga bisa dalam wujud tiga buah Pura, tetapi bisa juga dalam dua buah Pura saja, di mana Pura Desa dan Puseh menyatu, biasanya disebut Pura Puseh-Desa Bale Agung. Pura Dalem menyendiri karena letaknya di teben dekat Sema atau Tunon (Kuburan).

“Para dewa tidak hanya berkenaan untuk turun dan tinggal di Tìrtha (Patìrthan), di tepi sungai, dan danau, tetapi juga di tepi pantai, pertemuan dua atau lebih sungai-sungai, dan kuala (muara sungai), di puncak-puncak gunung atau bukit-bukit, di lereng-lereng pegunungan, di hutan, di semak belukar dan kebun atau taman-taman, dekat tempat-tempat yang dirakhmati atau pertapaan, di desa-desa, kota-kota dan di tempat-tempat lain yang membahagiakan” Tantra Samuccaya I.1.28 Pendahuluan Pura atau kahyangan dibangun di tempat-tempat yang dianggap suci. Tempat-tempat yang dianggap suci disebutkan pada bagian awal dari tulisan ini (Tantra Samuccaya I.1.28), yakni di Tìrtha atau Patìrthan, di tepi sungai, tepi danau, tepi pantai, pertemuan dua atau lebih sungai-sungai yang di Bali disebut Campuhan, sedang di India disebut dengan nama Saògam yang mengandung makna sama, yakni bertemunya dua sungai atau lebih. Di muara sungai, di puncak-puncak gunung atau bukit-bukit, di lereng-lereng pegunungan, dekat pertapaan, di desa-desa, di kota atau pusat-pusat kota dan di tempat-tempat lain yang dapat memberikan suasana bahagia. Dengan memperhatikan kutipan di atas, maka tiada halangan untuk membangun sebuah pura atau kahyangan di mana saja di tempat-tempat yang dipandang suci. Ada suatu yang unik, yakni tempat yang dipandang indah dan memiliki getaran spiritual yang tinggi adalah tempat yang disebut ‘hyang-hyang ning sagara giri‘ atau ‘sagara-giri adomukha‘, tempat bila di tepi pantai terlihat puncak-pucak gunung yang indah, sebaliknya bila berdiri di pegunungan, tampak pantai-pantai dengan gulung-gemulungnya ombak yang memukau. Tempat-tempat yang disebut ‘hyang-hyang ning sagara giri‘ ini hampir dijumpai di mana saja di seantero Bali, karena pulau Bali tidak begitu luas dan ditengah-tengahnya membentang pegunungan vulkanik yang beberapa di antaranya masih aktif. Di samping itu, di pulau yang kecil ini terdapat 4 buah danau yang besar dan kecil dan ratusan mata air yang jernih, yang menyegarkan dan mempesona siapa saja yang memiliki kepekaan dan apresiasi terhadap keindahan. Tidak mengherankan leluhur umat Hindu di Bali membangun pura di mana saja hampir di seluruh Bali.

Tidak sembarangan tempat dapat dijadikan tempat untuk membangun pura, dalam tradisi Bali (termuat dalam beberapa lontar) menyatakan tanah yang layak dipakai adalah tanah yang berbau harum dan tidak berbau busuk, sedangkan tempat-tempoat yang ideal untuk membangun pura, adalah seperti disebutkan pada kutipan dari Bhaviûya Puràóa dan Båhat Saýhità, yang secara sederhana disebut sebagai “hyang-hyangning sàgara-giri“, atau “sàgara-giri adumukha“, tempatnya tentu sangat indah disamping vibbrasi kesucian memancar pada lokasi yang ideal tersebut. Dan sering yg berada di sekitar campuhan sungai dan laut yg di sucikan disebut dengan : Bantang Metiyem, Belulang Yeh, Bias Aud, Lesung Bolong, dll. yang termasuk harus dijaga kelestariannya dari kerusakan akibat alih fungsi kawasan tersebut dengan Bhisama Kesucian Pura (terlampir).

Pengelompokan Pura

Dari berbagai jenis pura di Bali dengan pengertian sebagai tempat suci untuk memuja Hyang Widhi/dewa dan bhaþàra, dapat seb berdasarkan fungsinya:

1. Pura yang berfungsi sebagai tcmpat untuk memuja Hyang Widhi, para devatà.

2. Pura yang berfungsi sebagai tempat untuk memuja bhaþàra yaitu roh suci leluhur.

Selain kelompok pura yang mempunyai fungsi seperti tersebut di atas, bukan tidak mungkin terdapat pula pura yang berfungsi gandayaitu sclain untuk memuja Hyang Widhi/dewa juga untuk memuja bhaþàra. Hal itu di mungkinkan mengingat adanya kepercayaan bahwa sctelah melalui upacara penyucian, roh leluhur tesebut telah mencapai tingkatan úiddhadevatà(telah memasuki alam devatà ) dan disebut bhaþàra.

Fungsi pura tcrscbut dapat diperinci lebih jauh berdasarkan ciri (kekhasan ) yang antara lain dapat diketahui atas dasar adanya kelompok masyarakat ke dalam berbagai jenis ikatan seperti: ikatan sosial, politik, ekonomis, genealogis (garis kelahiran). Ikatan sosial antara lain berdasarkan ikatan wilayah tempat tinggal (teritorial), ikatan pengakuan atas jasa seorang guru suci (Dang Guru), ikatan politik di masa yang silam antara lain berdasarkan kepentingan penguasa dalam usaha menyatukan masyarakat dan wilayah kekuasaannya. Ikatan ekonomis antara lain dibedakan atas dasar kepentingan sistem mata pencaharian hidup seperti bertani, nelayan , berdagang, nelayan dan lain-lainnya. Ikatan geneologis adalah atas dasar garis kelahiran dengan perkembangan lebih lanjut dan dapat dikelompokkan menjadi :

1. Pura Umum

Pura ini mempunyai ciri umum sebagai tempat pemujaan Hyang Widhi dengan segala manifestasinya (dewa). Pura yang tergolong umum ini dipuja oleh seluruh umat Hindu, sehingga sering disebut Kahyangan Jagat Bali. Pura-pura yang tcrgolong mempunyai ciri-ciri tersebut adalah pura Besakih, pura Batur, pura Caturlokapàla dan pura Sadkahyangan. Pura lainnya yang juga tergolong pura umum adalah pura yang berfungsi sebagai tempat pemujaan untuk memuja kebesaran jasa seorang pandita guru suci atau Dang Guru.

Pura tersebut juga dipuja oleh seluruh umat Hindu, karena pada hakekatnya semua umat Hindu merasa berhutang jasa kepada beliau Dang Guru atas dasar ajaran agama Hindu yang disebut åûiåóa. Pura pura tersebut ini tergolong kedalam karakter yang disebut Dang Kahyangan seperti: pura Rambut Siwi, pura Purancak, pura Pulaki, pura Ponjok Batu, pura Sakenan, pura Úìlayukti, pura Lempuyang Madya dan lain-lainnya. Pura-pura tersebut berkaitan dengan dharmayàtrà yang dilakukan oleh Dang Hyang Nirartha, paúraman Mpu Kuturan dan Mpu Agnijaya karena peranannya sebagai Dang Guru.

Selain pura-pura yang dihubungkan dengan Dang Guru, tergolong pula ke dalam ciri Dang Kahyangan adalah pura-pura yang dihubungkan dengan pura tempat pemujaan dari kerajaan yang pernah ada di Bali (Panitia Pemugaran tempat-tempat bersejarah dan peninggalan purbakala, 1977: 10) seperti pura Sakenan, yang merupakan pura kerajaan Kesiman, pura Taman Ayun yang merupakan pura kerajaan Mengwi. Ada tanda-tanda bahwa masing-masing kerajaan yang pemah ada di Bali, sekurang kurangnya mempunyai satu jenis pura, yaitu: pura Penataran yang terletak di ibu kota kerajaan, pura puncak yang ter!etak di puncak bukit atau pegunungan dan pura Segara yang terletak di tepi pantai laut. Pura-pura kerajaan tersebut rupa-rupanya mewakili tiga jenis tempat pemujaan yaitu: pura gunung, pura pusat kerajaan dan pura laut. Pembagian mandala atas gunung, daratan dan laut sesuai benar dengan pembagian makrokosmos menjadi dunia atas atau uranis, dunia tengah tempat manusia itu hidup dan dunia bawah atau chithonis.

2. Pura Teritorial

Pura ini mempunyai ciri kesatuan wilayah (teritorial) sebagai tempat pemujaan dari anggota masyarakat suatu banjar atau suatu desa yang diikat ikat oleh kesatuan wilayah dari suatu banjar atau desa tersebut. Wilayah banjar sebagai kelompok sub kelompok dari masyarakat desa adat ada yang memiliki pura tersendiri. Ciri khas suatu desa adat pada dasamya memiliki tiga buah pura disebut Kahyangan Tiga, yaitu: pura Desa, pura Puseh, pura Dalem yang merupakan tempat pemujaan bersama. Dengan lain perkataan, bahwa Kahyangan Tiga itulah merupakan unsur mengikat kesatuan desa adat bersangkutan. Nama-nama kahyangan tiga ada juga yang bervariasi pada beberapa desa di Bali, pura Desa sering juga disebut pura Bale Agung. Pura Puseh juga disebut pura Segara, bahkan pura Puseh desa Besakih disebut pura Banua.

Pura Dalem banyak juga macamnya. Namun pura Dalem yang merupakan unsur Kahyangan Tiga adalah pura Dalem yang memiliki setra (kuburan). Di samping itu banyak juga terdapat pura yang disebut Dalem, tetapi bukan merupakan pura sebagai unsur Kahyangan Tiga di antaranya: pura Dalem Maspahit, pura Dalem Canggu, pura Dalem Gagelang dan sebagainya (Panitia Pemugaran Tempat- tempat bersejarah dan peninggalan Purbakala, 1977,12). Di dekat pura Watukaru terdapat sebuah pura yang bernama pura Dalem yang tidak merepunyai hubungan dengan pura Kahyangan Tiga, melainkan dianggap mempunyai hubungan dengan pura Watukaru. Masih banyak ada pura Dalem yang tidak mempunyai kaitan dengan Kahyangan Tiga seperti pura Dalem Puri mempunyai hubungan dengan pura Besakih. Pura Dalem Jurit mempunyai hubungan dengan pura Luhur Uluwatu.

3. Pura Fungsional

Pura ini mempunyai karakter fungsional, umat panyiwinya terikat oleh ikatan kekaryaan karena mempunyai, profesi yang sama dalam sistem mata pencaharian bidup seperti: bertani, berdagang dan nelayan. Kekaryaan karena bertani, dalam mengolah tanah basah mempunyai ikatan pemujaan yang disebut pura Empelan yang sering juga disebut pura Bedugul atau pura Subak. Dalam tingkatan hirarkhis dari pura itu kita mengenal pura Ulun Carik, pura Masceti, pura Ulun Siwi dan pura Ulun Danu. Apabila petani tanah basah mempunyai ikatan pcmujaan seperd tersebut diatas, maka petani tanah kering juga mempunyai ikatan pemujaan yang disebut pura Alas Angker, Alas Harum, Alas Rasmini dan lain sebagainya. Berdagang merupakan salah satu sistim mata pencaharian hidup menyebabkan adanya ikatan pemujaan dalam wujud pura yang disebut pura Melanting. Umumnya pura Melanting didirikan didalam pasar yang dipuja oleh para pedagang dalam lingkungan pasar tersebut.

Pura Segara sering juga dipergunakan sebagai Pura swagina kaum nelayan di pinggir pantai untuk memohon kehadapan Sanghyang Widhi sebagai Dewa Laut atau dewa Baruna.

Dalam ajaran agama Hindu, Baruna atau Waruna (Devanagari: वरुण; Latin: Varuna) adalah manifestasi Brahman yang bergelar sebagai dewa air, penguasa lautan dan samudra. Kata Baruna (Varuna) berasal dari kata var (bahasa Sanskerta) yang berarti membentang, atau menutup. Kata “var” tersebut kemudian dihubungkan dengan laut, sebab lautan membentang luas dan menutupi sebagian besar wilayah bumi

Menurut kepercayaan umat Hindu, Baruna menguasai hukum alam yang disebut Reta. Ia mengandarai makhluk yang disebut makara, setengah buaya setengah kambing (kadangkala makara disamakan dengan buaya, atau dapat pula digambarkan sebagai makhluk separuh kambing separuh ikan). Istri beliau bernama Baruni, yang tinggal di istana mutiara. Oleh orang bijaksana, Dewa Baruna juga disebut sebagai Dewa langit, Dewa Hujan, dan dewa yang menguasai hukum.

Nama lain :

Jalapati (penguasa air)

Pracheta (yang bijaksana)

Yadapati ( Raja binatang laut)

Ambhuraja (Raja awan)

Pasi (yang membawa jaring)

4. Pura Kawitan

Pura ini mempunyai karakter yang ditentukan oleh adanya ikatan wit atau lcluhur berdasarkan garis kelabiran (genealogis). Pura ini sering pula disebut Padharman yang merupakan bentuk perkembangan yang lebib luas dari pura milik warga atau pura klen. Dengan demikian mika pura Kawitan adalah tempat pemujaan roh leluhur yang telah suci dari masing-masing warga atau kelompok kekerabatan. Klen kecil adalah kelompok kerabat yang terdiri dari beberapa keluarga inti maupun keluarga luas yang merasakan diri berasal dari nenek moyang yang sama. Klen ini mcmpunyai tempat pemujaan yang discbut pura Dadya sehingga mereka disebut tunggal Dadya. Keluarga inti disebut juga keluarga batih (nuclear family ) dan keluarga luas terdiri lebih dari satu keluarga inti yang juga disebut keluarga besar (extended family). Suatu keluarga inti terdiri dari seorang suami, seorang istri dan anak-anak mereka yang belum kawin .

Tempat pemujaan satu keluarga inti disebut sanggah atau marajan yang juga disebut kamulan taksu, sedangkan tempat pemujaan kciuarga luas disebut sanggah gede atau pamarajan agung. Klen besar merupakan kelompok kerabat yang lebih luas dari klen kecil (dadya) dan terdiri dari beberapa kelompok kerabat dadya. Anggota kelompok kerabat tcrsebut mempunyai ikatan tempat pemujaan yang disebut pura paibon atau pura panti. Di beberapa daerah di Bali, tempat pemujaan seperti itu, ada yang menyebut pura Batur (Batur Klen), pura Penataran (Penataran Klen) dan sebagainya. Didalam rontal Úiwàgama, disebutkan bahwa setiap 40 keluarga batih patut membuat pura panti, setiap 20 keluarga batih patut mendirikan pura lbu, setiap 10 keluarga batih supaya membuat palinggih Påtiwì dan setiap keluarga batih membuat palinggih Kamulan yang kesemuanya itu untuk pemujaan roh leluhur yang telah suci. Tentang pengelompokan pura di Bali ini , dalam Seminar kesatuan tafsir terhadap aspek-aspek agama Hindu ke X tanggal 28 sampai dengan 30 Mei 1984 ditetapkan pengelompokan pura di Bali sebagai berikut :

1). Berdasarkan atas Fungsinya :

(a). Pura Jagat, yaitu pura yang berfungsi sebagai tempat memuja Sang Hyang Widhi Wasa dalam segala prabawa-Nya (manifestasi-Nya).

(b). Pura kawitan, yaitu pura sebagai tempat suci untuk memuja “Àtmàúiddhadevatà” (roh suci leluhur).

2). Berdasarkan atas Karakterisasi nya

(a). Pura Kahyangan Jagat, yaitu pura tempat memuja Sang Hyang Widhi dalam aneka prabhawa-Nya misalnya pura Sad Kahyangan dan pura Kahyangan Jagat.

(b). Pura Kahyangan Desa (teritorial )yaitu pura yang disungsung (dipuja dan dipelihara) oleh desa Pakraman atau desa Adat.

(c). Pura Swagina (pura fungsional)yaitu pura yang penyungsungnya terikat oleh ikatan swagina (kekaryaan) yang mempunyai profesi sama dalam mata pencaharian seperti: pura Subak, Melanting dan sebagainya .

(d). Pura Kawitan,yaitu pura yang penyungsungnya ditcntukan oleb ikatan “wit” atau leluhur berdasarkan garis (vertikal geneologis) seperti: sanggah, pamarajan, ibu, panti, dadya, batur, panataran, padharman dan yang sejenisnya.

Daftar Pustaka :

Ardana, I Gusti Gde. 1982. Sejarah Perkembangan Hinduisme di Bali. Denpasar: tanpa penerbit.

Kempers, A. J. Bernet. 1959. Monumental Bali. Den Haag: Van Goor Zonen. Covarubias, Miguel. 1989. Island of Bali. Kualalumpur: Oxford University Press.

Goris, Roelof. 1954. Prasasti Bali, I. Bandung: Masa Baru. Mishra, Rajendra.1989.Sejarah Kesusastraan Sanskåta, Denpasar: Publisher.

Soekmono, 1974. Candi Fungsi dan Pengertiannya. Disertasi dalam Ilmu-ilmu Sastra Universitas Indonesia, 27 April 1974. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

KEPUTUSAN

PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA PUSAT

NOMOR: 11/Kep/I/PHDIP/1994

TENTANG BHISAMA KESUCIAN PURA

Menimbang:

Bahwa dengan semakin berkembangnya Pembangunan Nasional pada umumnya dan pembangunan kepariwisataan pada khususnya dan demi terjaminnya kesucian Pura dengan kawasan sucinya disatu pihak dan tetap berlangsungnya Pembangunan Nasional dan Daerah dilain pihak.

Mengingat:

Anggaran Dasar Parisada Hindu Dharma Indonesia Bab. IX Pasal 28, Pasal 29, Pasal 33 dan Pasal 34.

Mendengar:

Hasil musyawarah para anggota Pesamuhan Sulinggih dan Pesamuhan Walaka serta Pengurus Harian Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat pada tanggal 25 Januari 1994 di Universitas Hindu Indonesia dengan acara membahas Kesucian Pura bagi umat Hindu.

Memperhatikan:

Aspirasi Umat Hindu yang berkembang tentang Kesucian Pura

MEMUTUSKAN

Menetapkan:

A. PENDAHULUAN

Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat senantiasa mendukung kebijaksanaan pemerintah dalam Pembangunan Nasional sebagaimana ditegaskan di dalam GBHN tahun 1993. Bahwa Pembangunan jangka panjang 25 tahun tahap ke II merupakan proses berlanjut, peningkatan, perluasan, dan pembaharuan dari Pembangunan Jangka Panjang 25 tahun Tahap I.

Dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap ke II Bangsa Indonesia memasuki proses tinggal landas menuju terwujudnya masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

Dalam rangka menyukseskan pelaksanaan Pembangunan Nasional kecenderungan- kecenderungan yang diperkirakan timbul khususnya yang berdampak negatip perlu diwaspadai, dan kendala- kendala yang muncul perlu ditanggulangi secara dini, tepat dan benar.

Mengingat Bangsa Indonesia akan segera memasuki tahap tinggal landas dan meningkatnya kemajuan Industrialisasi dan Globalisasi yang ditunjang oleh kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, dimana Bali merupakan daerah wisata yang utama. Untuk menjamin kelancaran Pembangunan Nasional maka dibutuhkan landasan- landasan Pembangunan Agama Hindu dan kebudayaan secara kuat dan ampuh. Umat Hindu dituntut agar mampu mengantisipasi masalah-masalah yang merupakan dampak negatip akibat dari Pembangunan itu sendiri. Hal ini sangat penting mengingat masyarakat Hindu Indonesia khususnya Hindu di Bali bersifat sosial keagamaan. Oleh karena itu maka perlu pengkajian-pengkajian secara mendalam dan terarah.

B. UMUM

1. Agama Hindu dalam kitab sucinya yaitu Weda-weda telah menguraikan tentang apa yang disebut dengan tempat-tempat suci dan Kawasan Suci, Gunung, Danau, Campuan (pertemuan sungai), Pantai, Laut dan sebagainya diyakini memiliki nilai- nilai kesucian. Oleh karena itu Pura dan tempat- tempat suci umumnya didirikan ditempat tersebut, karena ditempat orang-orang suci dan umat Hindu mendapatkan pikiran-pikiran suci (wahyu).

2. Tempat- tempat suci tersebut telah menjadi pusat- pusat bersejarah yang melahirkan karya- karya besar dan abadi lewat tangan orang-orang suci dan para Pujangga untuk kedamaian dan kesejahteraan umat manusia. maka didirikanlah Pura-Pura Sad Khayangan, Dang Khayangan, Khayangan Tiga, dan lain-lain. Tempat-tempat suci tersebut memiliki radius kesucian yang disebut daerah kekeran dengan ukuran Apeneleng Apenimpug, dan Apenyengker. Untuk Pura Sad Khayangan dipakai ukuran Apeneleng Agung (minimal 5 Km dari Pura), untuk Dang Khayangan dipakai ukuran Apeneleng Alit (minimal 2 km dari Pura), dan untuk Khayangan Tiga dan lain-lain dipakai ukuran Apenimpug atau Apenyengker.

3. Mengingat perkembangan pembangunan yang semakin pesat, dan Umat Hindu yang bersifat sosial keagamaan maka kegiatan pembangunan mengikutsertakan Umat Hindu disekitarnya, mulai dari perencanaan pelaksanaan dan pengawasan, demi kelancaran pembangunan tersebut. Agama Hindu menjadikan umatnya menyatu dengan alam lingkungan, oleh karena itu konsepsi Tri Hita Karana wajib diterapkan dengan sebaik-baiknya. Untuk memelihara keseimbangan antara pembangunan dan tempat suci, maka tempat-tempat suci (pura) perlu dikembangkan untuk menjaga keserasian dengan lingkungannya.

4. Berkenaan dengan terjadinya perkembangan pembanugnan yang semakin pesat, maka pembangunan harus dilaksanakan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Didaerah Radius kesucian pura (daerah kekeran) hanya boleh ada bangunan yang terkait dengan kehidupan keagamaan Hindu, misalnya didirikan Dharmasala, Pasraman dan lain-lain, bagi kemudahan umat Hindu melakukan kegiatan keagamaan (misalnya Tirta yatra, Dharma Wacana, Dharma Githa, Dharma Sedana dan lain-lain).

C. KHUSUS

1. Menyadari bahwa suksesnya pembinaan umat Hindu dan kebudayaan menyebabkan keberhasilan pariwisata budaya, maka diperlukan adanya kerjasama yang sebaik- baiknya antara instansi kepariwisataan dengan PHDI dan lembaga adat.

2. Perlu diadakan pengkajian ulang yang lebih mendalam terhadap segala aktivitas pembangunan yang ada di kawasan suci Tanah Lot untuk menjaga kelestarian dan kesucian sesuai dengan ketentuan di atas.

Om Santhih, Santhih, Santhih, Om

Denpasar, 25 Januari 1994

Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat

Ketua Umum: Sekretaris Jenderal:

Ida Pedanda Putra Telaga Drs. Ida Bagus Suyasa Negara

Bisama Kesucian Pura

Seperti kita ketahui, pura Kahyangan Jagat dibagi menjadi empat jenis yaitu Pura Kahyangan Jagat yang didirikan berdasarkan konsepsi Rwa Bhineda, Catur Loka Pala, Sad Winayaka dan Padma Bhuwana. Ada beberapa pura yang tergolong berfungsi rangkap, baik sebagai pura Rwa Bhineda, pura Catur Loka Pala maupun sebagai pura Sad Winayaka dan juga sebagai pura Padma Bhuwana. Pura Besakih dan Pura Batur di Kintamani adalah pura yang tergolong pura Rwa Bhineda. Pura Catur Loka Pala adalah Pura Lempuhyang Luhur di arah timur Bali, Pura Luhur Batukaru arah barat, Pura Andakasa arah selatan dan Pura Puncak Mangu arah utara.

Pura yang didirikan berdasarkan konsepsi Sad Winayaka ini umumnya disebut Pura Sad Kahyangan. Tidak kurang dari sembilan lontar menyatakan adanya Pura Sad Kahyangan. Namun setiap lontar menyatakan pura yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena saat Bali menjadi sembilan kerajaan. Tiap-tiap kerajaan memiliki Sad Kahyangan masing-masing. Ada yang sama dan ada juga yang tidak sama.

Pura Sad Kahyangan yang dinyatakan dalam Lontar Kusuma Dewa itu adalah Sad Kahyangan saat Bali masih satu kerajaan. Pura Luhur Uluwatu adalah salah satu pura yang dinyatakan sebagai Pura Sad Kahyangan dalam Lontar Kusuma Dewa dan juga beberapa lontar lainnya. Pura Luhur Uluwatu itu juga dinyatakan sebagai pura Padma Bhuwana yang berada di arah barat daya Pulau Bali.

Untuk menjaga agar Pura Kahyangan Jagat tersebut tetap lestari maka PHDI Pusat telah mengeluarkan Bhisama tentang Kesucian Pura. Bhisama Kesucian Pura tersebut dikeluarkan oleh PHDI Pusat tanggal 25 Januari 1994 adalah suatu produk untuk melanjutkan sistem beragama Hindu di Bali, khususnya tentang keberadaan Pura Kahyangan Jagat. Jarak keberadaan pura yang tergolong Kahyangan Jagat itu yakni desa pakraman terdekat dengan Kahyangan Jagat umumnya berjarak apeneleng agung (sekitar lima kilometer).

Kahyangan Jagat tersebut khususnya Kahyangan Jagat yang tergolong Kahyangan Rwa Bhineda, Kahyangan Catur Loka Pala, Pura Sad Kahyangan dan Pura Padma Bhuwana yang berada di sembilan penjuru Pulau Bali. Sedangkan Pura Kahyangan Jagat yang tergolong Pura Dang Kahyangan berjarak apeneleng alit kurang lebih dua kilometer. Sedangkan untuk Pura Kahyangan Tiga dan lain-lainnya dengan jarak apenimpug dan apenyengker.

Istilah-istilah apeneleng agung, apeneleng alit, apenimpug dan apenyengker semuanya itu adalah istilah yang terdapat dalam tradisi budaya Bali warisan leluhur umat Hindu yang sudah ada sejak berabad-abad. Tujuan utama Bhisama Kesucian Pura tersebut untuk menata keseimbangan perilaku manusia dalam memanfaatkan alam agar tidak semata-mata dijadikan sarana untuk kepentingan hidup sekala yang bersifat sementara. Pemanfaatan ruang di alam ini agar digunakan secara seimbang untuk memenuhi kebutuhan hidup yang bersifat sekala dan niskala dengan landasan filosofi Tri Hita Karana.

Bhisama Kesucian Pura ini dibuat untuk mencegah pelanggaran tentang keberadaan pura tersebut tidak berlangsung terus. Namun, bhisama ini adalah produk pandita melalui Pasamuan Sulinggih PHDI Pusat yang dibantu oleh Sabha Walaka dan Pengurus Harian PHDI Pusat. Bhisama ini adalah tergolong norma agama. Sanksi norma agama bagi pelanggar-pelanggarnya tergantung dari keyakinan umat pada ajaran agamanya.

Bhisama itu adalah penafsiran suatu ajaran agama yang belum jelas dan tegas dinyatakan dalam kitab suci Veda. Namun secara filosofis sudah tercantum dalam kitab suci. Dalam Manawa Dharmasastra XII.108 menyatakan, kalau ada hal-hal yang belum secara jelas dinyatakan dalam ajaran Veda (Dharma), maka yang berwewenang menentukan jawabannya adalah Brahmana Sista (Pandita Ahli). Ketentuan itu memiliki kekuatan legal.

Selanjutnya dalam Manawa Dharmasastra XII.110 dinyatakan bahwa apa pun yang telah ditetapkan oleh Brahmana Sista yang memegang jabatan di Parisada, memiliki kekuatan hukum yang sah, siapa pun sebaiknya tidak ada yang membantahnya.

Substansi bhisama adalah menjaga kawasan suci di areal pura agar jangan terjadi polusi dan vibrasi negatif. Kalau di sekitar pura sudah terjadi polusi dan vibrasi negatif karena terjadi berbagai kegiatan hidup yang tidak sesuai dengan norma agama yang diberlakukan di areal pura tersebut, apa lagi ditambah dengan lingkungan yang sudah terpolusi, dapat menyebabkan pura tidak lagi memancarkan kesucian dan kelestarian alam lingkungan.

Keberadaan pura dengan lingkungannya hendaknya ditata sedemikian rupa sehingga dapat dihadirkan sebagai fasilitas spiritual yang memadai. Dengan demikian pura dengan fasilitas spiritualnya dapat memberikan kontribusi spiritual yang lebih dalam kepada mereka yang sedang menjadikan pura sebagai media untuk mengembalikan daya spiritualnya. Karena itu, Bhisama Kesucian Pura membenarkan adanya berbagai fasilitas yang menunjang keberadaan pura sebagai media spiritual.

Yang dapat dibangun di sekitar pura seperti dharmasala dan pasraman dan bangunan-bangunan lainnya yang berfungsi untuk lebih mengeksistensikan keberadaan pura sebagai media untuk menguatkan aspek spiritual umat. Dharmasala adalah bangunan sebagai tempat menginap umat yang dari jauh yang ingin mengikuti berbagai kegiatan keagamaan di pura bersangkutan. Dharmasala ini dalam sistem pengelolaannya dapat saja memungut biaya kepada umat yang menginap sebagai biaya untuk memberikan pelayanan kepada umat bersangkutan.

Dharmasala bukanlah hotel sebagai tempat penginapan umum. Yang boleh menginap di dharmasala adalah mereka yang khusus akan mengikuti berbagai kegiatan keagamaan di pura bersangkutan. Sedangkan pasraman adalah suatu fasilitas yang menyediakan fasilitas pendidikan kerohanian untuk menyiapkan umat yang akan mengikuti berbagai kegiatan di pura bersangkutan. Di samping dharmasala dan pasraman dapat saja dibangun fasilitas lainnya di areal kesucian pura sepanjang hal itu menunjang eksistensi pura sebagai kawasannya sebagai media spiritual.

Dalam areal radius lima kilometer di Pura Luhur Uluwatu dengan Pura-pura Prasanak-nya itu dapat saja dibangun dharmasala dan pasraman. Apalagi dilengkapi dengan bangunan ”diorama” yang dapat memvisualisasikan berbagai nilai filosofi hidup yang dikandung oleh keberadaan Pura Luhur Uluwatu dengan Pura Prasanak-nya. Upaya itu tentunya amat positif, sepanjang dilakukan dan didahului dengan pengkajian yang mendalam. Hasil pengkajian tersebut dituangkan ke dalam program yang matang, baik untuk jangka pendek maupun untuk jangka panjang. Dengan demikian generasi sekarang akan memiliki komitmen spiritual untuk melanjutkan warisan leluhur yang amat mulia itu.

Daftar Pustaka :

Ardana, I Gusti Gde. 1982. Sejarah Perkembangan Hinduisme di Bali. Denpasar: tanpa penerbit.

Kempers, A. J. Bernet. 1959. Monumental Bali. Den Haag: Van Goor Zonen. Covarubias, Miguel. 1989. Island of Bali. Kualalumpur: Oxford University Press.

Goris, Roelof. 1954. Prasasti Bali, I. Bandung: Masa Baru. Mishra, Rajendra.1989.Sejarah Kesusastraan Sanskåta, Denpasar: Publisher.

Soekmono, 1974. Candi Fungsi dan Pengertiannya. Disertasi dalam Ilmu-ilmu Sastra Universitas Indonesia, 27 April 1974. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Leave a comment

Filed under Articles

Brahmokta Widhi Sastra

BRAHMOKTA WIDHI ÚÀSTRA

[1b]

Ong úrì paúupatayé namaá.

Bhaþàra paúupati sira màjarakên tàstra, ling nira ;

Na bhùmiá, na, ja, la, mwà, pi, na, té, jo, na, ca, mà, ru, taá,

na ca, bràhmà, na, ca, wiûóuá, na, ca, éwa mahéúwaraá.

Kalìngan ikang úabda ; na bhùmiá, nga, tan hana ng lêmah, na jala÷, nga, tan hana bañu, muwah samangkana, na téjaá tan hana ng candràditya, wintang, mégha, kilat, gêntêr patêr, kêtug, kuwung-kuwung, ikà kabéh tan hana juga. Muwah ri samangkana ; na màrutah, nga, tan hana ng angin, muwah ri samangkana, na bràhmà, nga, tan hana bhaþara bràhmà, muwah ri samangkana, na wiûóuá, nga, tan hana bhaþàra wiûóu. Muwah ri samangkana, na mahéúwara, nga, tan hana bhaþàra mahéúwara, éwa÷, kalìngan ika kéwala huwung-huwung, úùnyataya mangawang-awang ikang ràt, yékà úùnyatatwa ngaran ikà.

Ri sêdhêng ikang tatwa mangkana, kawruhana dé sang mahyuning dharmma, ndan ri wêkasan ta sanghyang wiúéûa, iúwarécchàtaá swabhàwa ri sira. Iúwarécchà, nga, mahyun ta sira màwaka prabhu ring ràt, nàhan técchà nira, mahyun ta sira gumawaya ng bhuwana, samangkana ta sira n patêmahan iúwara bhaþàra. Ri têlas niràn mangkana, pinatêlu ta yàwak bhaþà -/-

[2a]

réúwara, ika rwà, matêmahan bràhmà wiûóu, alihakna ng úabda, nihan kramanya ; sanghyang bràhmà sira jagatkartta, winéh nganugraha dé bhaþàra, makàwaka catur wéda ; åg, yajuá, sama, atharwa. Nàhan tang catur wéda, kramanya ikang wéda úàstra maúarìra, ndya tàwak nikang catur wéda, kumwa kunang linga déwata kaki, ri kita sang mahyun wruhéng tatwa.

Candaá pàdo tu wédañca, hasto kalpotha padyaté,

jyotiûa nayaóañ cakûuá, mukha÷ wyakaraóa÷ småta÷.

Nahan ta yàwak sanghyang wéda, kalìngan ikang úabda ; ikang inucap canda dé sang paódita pinaka suku dé nira sanghyang wéda, rwà bhédanya, ndya ta ; candasi, upacandasi. Ikang candasi pinaka suku ri têngên pakna nika dé nira sanghyang wéda, ikang upa candasi pinaka suku ri kiwà paknanya dé nira sanghyang wéda.

Kunang ikang úàstra kalpana làwan akalpana, pinaka tangan ira sanghyang wéda paknanya. Ikang kalpana úàstra pinaka tangan ira ri têngên sanghyang wéda. Ikang akalpana úàstra pinaka tangan ira ri kiwà dé sanghyang wéda. Hana ta jyotiûa úàstra ngaran ira pinaka cakûuh dé sanghyang wéda. Ndya ta lwir nikang jyotiûa ; arkka sphuþa mwang candra sphuþa, yé -/-

[2b]

ka pinaka nétra nira sanghyang wéda. Ikang arkka sphuþa, pinaka nétra nira sanghyang wéda ri têngên paknanya, ikang candra sphuþa, pinaka nétra nira ri kiwà dé sanghyang wéda pakna nikà.

Kunang ikang wyakàraóa úàstra, pinaka mukha dé sanghyang wéda paknanya, ndya ta pratyéka nikang wyakàraóa úàstra ; dhàtu, awyaya, pratyaya, sandhi, sùtra. Ikang dhàtu pinaka talinga ri têngên pakna nika dé sanghyang wéda. Ikang awyàya, pinaka talinga ri kiwà pakna nika têkap sanghyang wéda. Ikang pratyàya pinaka tutuk paknanya dé sanghyang wéda. Ikang sandhi pinaka wiwaraning nàúika ri têngên têkap sanghyang wéda pakna nikà.

Ikang sùtra pinaka wiwaraning nàúika ri kiwà pakna nika dé sanghyang wéda, don ika pinaka hawaning bàyu mangucapakna akûara dattànudatta mwang samawåtti paknanya. Ikang akûara datta maka lakûaóa ng umingsor koccaraóa ning akûara. Ikang anudatta maka lakûaóa ng uming ruhur koccaraóa ning akûara.

Kunang ikang samawåtti, maka lakûaóa ng tan umingsor tan uming ruhur koccaraóa ning akûara, arddha juga. Muwah hana ta ya úàstrénajarakên pinaka úarìra sanghyang wéda, ndya ta nihan ;

Kàmatantrà pi guhyaté, kukûo mìmangúa sangsthitaá,

Paúu -/- pata pi hådayé, mahànàthaú ca uraké.

[3a]

Kaóþé wéûaúikàá céwa, jihwo úikûà tatha iwa ca,

alépakas tu úìrûaya÷, iti wéda úarìra wai.

Ikang kàmatantra pinaka guhya puruûa pakna nika dé sanghyang wéda. Ikang mimangúa úàstra, pinaka wêtêng pakna nika dé sanghyang wéda. Ikang paúupata úàstra pinaka hati pakna nika têkap sanghyang wéda. Ikang mahànàtha úàstra, pinaka ðaða pakna nika dé sanghyang wéda. Ikang wéûaúika úàstra pinaka hulu paknanya dé sanghyang wéda.

Muwah ikang úikûa widhiúàstra, pinaka jihwà paknanya têkap sanghyang wéda. Kunang ikang alépaka jñànaúàstra pinaka úìrûa pakna nika dé sanghyang wéda. Byakta mangkana krama ning awak ira sanghyang catur wéda ginrêhita dé bhaþàra bràhmà. Ri têlas niràn panggrêhitàwak sanghyang wéda, ngkàna ta sira yan panrêûþi bhuwana, aparan ta ya sinrêûþi nira pùrwwaka, nihan lwirnya ;

Àkàúàñ jayaté marut, màrutañ jayaté dyutiá,

dyotiûañ jayaté niraá, niras tu bhùmi jàyaté.

Kalìnganing úabda ; manrêûþi ta sira àkàúa pùrwwaka sangkéng àkàúa, mijil tang bàyu, sangkéng bàyu mijil tang téja, àdinya ; arkka, candra, tarangganà, mégha, agni, kila -/- t,

[3b]

kuwung-kuwung, saprakàra ning téja, sangkéng téja mijil toya, mijil bhùmi. Kunang guóanya matunggalan, ndya tang guóa ; àkàúa guóa úabda, bàyu guóa sparúa, téja guóa rùpa, jala guóa rasa, prêthiwi guóa gandha. Ikà ta kalima inajarakên pañcamahàbhùta tatwa, nga, muwah ling sanghyang agama.

Athaúàstram prawàksyami, paraman tatwa durlabham,

jagat såûþi ritir sarwwé, utpàtti sthiti lìóakam.

Atha mangkana ikang úàstra inajarakên dé bhaþàra parama karaóa, an sumrêûþi irikang jagat kabéh, têkéng sapta dwìpa, sapta parwata, sapta sàgara mwang déwatanya. Kunang sanghyang parama tatwa, ati dùlabha, iwêh sirénangên-nangên, tuhu nikang srêûþi katon wàhya ring ràt, sira ta sùkûmàtisùkûma, tar wênang kagrahya déning srêûþi nira, kintu têlas karuhun yan katona sangka pisan déning srêûþi nira. O tahàmpih tan katon sira ring ràt, àpan masilumaning pañcamahàbhùta, kéwala sira pinakotpàtti sthiti pralìóanya kabéh, ri têlas ikang pañcamahàbhùta tumuwuh ring aóda bhuwana, ngkàna ta bhaþàra jagatkartta sumrêûþi pinakésyan ikang pañcamahàbhùta, ndya ta ling sang -/-

[4a]

hyang aji.

Lalàté jàyaté wipraá, kûatriyo bahujas tathà,

wéúya urùúca jàyaté, úudras tu pàdayor jataá.

Kalìngan ikang úabda, irikà ta sanghyang bràhmàn panrêûþi irikang mànuûa rumuhun, o sang apa ta pùrwwakaning srêûþi nira ngkàna, linga ngkwérikita sang åûi putra. Nyan mulaning srêûþi nira n manuûya ; sang bràhmàóa sira winijilakên sangkéng lalàþa nira, ri têlas ira n umijil sangkéng lalaþa sanghyang, makàwak mànuûa twa, sira ta dwijàti ngaran ira, ri dé nira dwijàtaá, kaping rwà sanghyang bràhmà mangdadi manuûya ikang sang bràhmàóa, matangyan bràhmàóa, bràhmà niyaté, ikang inajarakên bràhmà úarìra, sang bràhmaóa sangké sih sanghyang bràhmà ri sang bràhmaóa, winéh ta ya siràn kumawruhana ng wéda úàstra, àpan pinakàwak sang bràhmaóa ikang catùr wéda mwang sarwwa úàstràdhyàyanya, ndya wyaktinya nihan.

Pañcawingúàkûaro warggaá, sarwwàngga tatwa sangsthitaá,

bràhmaóa twà wajànantaá, jagat sthàwara janggamaá.

Kalìngan ikang úabda ; sang bràhmaóa sira pinakàdi ning srêûþi sanghyang bràhmà. Kunang katatwaning sarwwàngga nira umijil sangkéng pañcawingúàkûara, matangyan dwijàtwà, sira ta pinaka pùrwwakaning jagat sthàwara janggama sinrêûþi dé -/-

[4b]

Bhaþàra bràhmà. Ndya ng pañcawingúàkûara wargga, nga ;

Ka wargga twà iti jñéyaá, ca wargga mangsar éwa ca,

ta wargga raktaké sangsthàá, da wargga snàyawé småtaá.

Pa wargga sarwwa garbbhéûu, hrêdayéûu yawàdayaá,

pañcawingúàkûaran déhé, bràhmà såûþé dwijàtayaá.

Yéki lwirnya ;

Ka wargga, nga ; ka kha ga gha nga, matêmahan kulit mwang wulu.

Ca wargga, nga ; ca cha ja jha ña/nya, matêmahan daging mwang lamad-lamad.

Ta wargga, nga ; ta tha da dha na, matêmahan rudhira mwang aringêt saprakàraning ajuring úarìra.

Þa wargga, nga ; þa þha ða ðha óa, matêmahan nadi mwang otot têkéng sarwwa sandhi.

Pa wargga, nga ; pa pha ba bha ma, matêmahan sakalwiring hanéng garbbha, hrêdayàdinya.

Yéka hinaranan pañcawingúàkûara, 25, nàhan wilangnya, muwah hana tàkûara.

Kàpàlàsthi lawaya sthàá, tryàkûaraá parikìrttitaá.

Hana pwékang akûara lawaya, matêmahan kapàla mwang balung.

Àkàúàtma úa mùrddhanyaá, dantyaá sa puruûa småtaá,

bhùdharàtmà ûa thalawyaá, akàraá prakåttis tathà.

Hana pwékang úa ( ûa ? ) mùrddhanya matêmahan àkàúa, pinaka wiwaraning sarwwàngga paknanya, hawaning bàyu mêtu mwang masuk. Hana pwékang ûa (úa ? ) thalawya makatêmahan kulit daging sakalwiring aganal ing úarìra. Kunang ikang sa dantya làwan akàra, pinaka -/-

[5a]

pàntaraning bàyu mingsor umingruhur, ngkànéng trinadhì. Ikà ta inajarakên wyañjana nàma.

a à kàra dwayo sthapya, i ì maiúira tathà,

u ù pàda dwayonyasya, å æ sthàna dwayo sthitaá.

í í nétra dwayoányasya, é ai karóna dwayos tathà,

o au bàhu dwayo sthapya, a÷ nàbho aá graóé sthitaá.

Hana pwéka swara ngaranyan mangkwékìnajarakên rumakêt irikang wyañjanàkûara, makadon umulahakna ng srêûþi.

Ikang a à, matêmahan tangan kalih, pinaka panggamêl donya.

Ikang i ì, matêmahan hulu mwang utêk pinakottamàngga ning úarìra wiúéûa ngkàna.

Ikang u ù, matêmahan suku, lumakwakna ng srêûþi donya.

Ikang å æ, pinaka susu, manguripi srêûþi donya.

Ikang í í, matêmahan nétra pinaka panon paknanya.

Ikang é ai, pinaka talinga, rumungwakna ng úabda hala hayu donya.

Ikang o au, pinaka bàyudhaóda, makral donya.

Ikang a÷ matêmahan nabhi, pinaka sthàna ning agni ring úarìra, rumatêngi sarwwa kapangan kénum paknanya.

Ikang aá pinaka jìwa, pinaka sthàna ning bàyu wiúéûa maréng graóa mwang maréng tutuk, pinaka úabda donya.

Hana pwékang

prakàúa donya, manguhuh -/-

[5b]

lumumpat, malayù paknanya, àsing ulah maúru têmahnya, umunggwing srêûþi sanghyang. Nàhan tang swara inaranan déwì swarañjikà ngaran ira, ya panangkaning dadi kabéh, sang bràhmaóàdinya inutus dé bhaþàra bhaþàra kumawruhana ng tatwa ning úarìra.

Ri têlas sang bràhmaóa mijil sangkéng lalàþa, mijil tang kûatriya sangkéng bàhu sanghyang, winéh ta sira wruhéng dhanur wéda úàstra, rumàkûa srêûþi don ira, sira ta wiûóu awatara. Ri têlas sang kûatriya mijil sangkéng bàhu sanghyang, mijil tang waiúya sangkéng pupù sanghyang, kinon ira n umulahakna ng krêûi karyya mwang rumàkûa lêmbu pinaka sàdhananyan pasawah-sawah pinakopajìwaning srêûþi donya.

Ri têlas ika sang waiúya mijil sangkéng pupù sanghyang, mijil tikang úudra sangkéng dalamakaning suku bhaþàra, inutus ta ya adagang alayara gawénya, makadonan kàknàsing sinaódang inanggo nikang srêûþi asing uttama rùpa waróna, mangkana ng catùr warnottpàti. Kunang yan ikang srêûþi durúúilàpakrama buddhinya, linging wàkya nihan.

Yé wyatitaá swakàrmmé bhyaá, para karmmopajiwinaá,

dwija twamàwajànantaá, wipraá úudràwada carét.

Kalìngan ikang ujar ; hana pwéka sang bràhmaóa mwang sang kûatriya umulahakên kaduúúì -/-

[6a]

lan niskrama, sumalahakên kadwijan ira, kakûatriya nira, salah bhàûa, salah kàryya mangulahakên dudù gawé nira, úumabdakên dudù úabda nira, makadon knaha nikang upajìwa bhogopabhoga, ikang gawéning lén ginawayakên ira, adyapi dwija twa tuwi sira, bràhmaóa jàti, niyata nira dadi úudra, tan haranana bhàgya mantaya n sira sugih màs pirak, tathàpi yàn kasyàsih têhêr úìlanya salah, yéka bhagna brata, bhagna kramanya.

Kunang ika sang waiúya mwang úudra, yan salah kàryya, dudù sangkéng kàrmma ning wéúya úudra, yéka janma caódala ngaranya, kalungsur sakéng catur janma, ndya caódala kàrmma, nga ;

Surasut krimidàhaúca, pràóagnaá kumbhakàrikaá,

dhàtudagdaúca pañcété, caódàlaá parikìrttitaá.

Lilima lwir ikang inajarakên caódàla ring ràt, lwirnya ; surasut, nga, wwang amahat. Krimidàha, nga, wwang amalantên. Pràóaghna, nga, wwang ajagal. Kumbhakàrikà, wwang adyun. Dhàtudagda, nga, wwang apaódé màs. Yéka wwang caódàla jàti, antyanta ngaranya lulungsuraning catur janma, tan wênang inàmbah umahnya dé sang uttama janma, yàwàt caódàla buddhinya.

Ri têlas ikang catur janma hana ring ràt, umêtu tikang sthàwara janggama, -/-

[6b]

srêûti sanghyang, ndya ta nihan ; sthàwara, nga, ikang tan wênang lumakwakên ry àwak nikà, ityéwamadi, magöng alit awaknya, kadyàngganing wrêkûa, gulma, lata, trêóa. Ndya ta ikang wrêkûàdi, boddhi, ikang gulmàdi, intala, ikang latàdi, udwadwiûalya hariói, ikang trênàdi, prihi. Ndya ta kawijilanya dé bhaþàra sumrêûþìriya, ikang wrêkûàdi, mijil sangkéng rarab-rarabing kéúa sanghyang, prêthak-prêthak lakûaóanya, bhéda-bhéda rùpa mwang warónanya sowang-sowang làwan sor pangalêwihnya. Mangkana kawijilanya, manùt satingkahing prawrêttining paúu lêmbwàdi srêûþi, hana n pinakoûadha, hana n makàwak wiûa.

Mangkanékang gulmàdi mêtu sangkéng rarab-rarab ning wok bris kumis bhaþàra,prêthak-prêthak lakûaóanya, bhéda-bhéda rùpa mwang warónanya sowang-sowang mwang sor pangalêwihnya, anùt satingkahing wrêkûa prawrêtti boddhyàdi srêûþi. Mangkana tikang latàdi mêtu sangkéng rarab-rarab ing wuluning janggut sanghyang, prêthak-prêthak lakûaóanya, bhéda-bhéda rùpa mwang warónanya sowang-sowang mwang sor pangalêwihnya, manùt satingkahing gulma prawrêttyàdi srêûþi.Mangkana tikang trêóàdi mêtu saking rarab-rarab ing wulu ning sarwwàngga sanghyang, prêthak-prêthak lakûaóanya, bhéda-bhéda rùpa mwang warónanya sowang-so -/-

[7a]

wang mwang sor pangalêwihnya, anùt satingkahing prawrêttining latàdi srêûþi.

Kunang ikang sinangguh caódàlériya, lwirnya ; ikang wrêkûa, si wiûapatra, ikang gulma, si jamùr tahi papung. Ikang lata, si rawé-rawé, nàhan tang sthàwara srêûþi. Kunang yan ikang janggama satwàdi nikang tiryyak, lwirnya ; ikang wênang lumakwakên ry àwaknya, ityéwamadi magöng adhêmit kadyàngganing paúu,mrêga, pakûi, mìóa, lwirnya, ikang paúwàdi lêmbu.

Ikang mrêgàdi singha, ikang pakûyàdi garudha. Ikang mìóàdi, matangga prêþukà. Ikang janggama lwirnya ; prêthak-prêthak lakûaóanya, bhéda-bhéda rùpa lwirnya sowang-sowang mwang sor pangalêwih ning yoninya. Kunang ikang paúu lêmbwàdi mêtu sangkéng jihwà sanghyang ikà, ri sêdhêng ira n somya rùpa, nàhan hétunyan mahà pawitra paúu, nga, ring ràt, maka hawan úanta budhi bhaþàrì kàlanyan sinrêûþi. Mapa ta donya hinanakên dé bhaþàra, wênang mamêtwakên kûìra, ðaðighrêta, nàhan paknanya, iwa nihan padhanya pinaka sajining yajña kàryya, kadyàngganing nawagraha samìt, an pinaka sàdhana ning agnihotra.

Ndya lwirnya ; ikang wrêkûàdi samìt. Waduri, sùryya hyangnya. Pàlàúa, soma hyangnya. Pöng, anggara hyangnya. Dhangðangan, budha hyangnya. Boddhi, wrêhaspati hyangnya. Lwà, bhàrggawa hyang -/-

[7b]

nya. Rukêm, úori hyangnya. Nyang trêóàdi samìt, dukut lêpas, kétu hyangnya. Alalang, ràhu hyangnya. Kunang ikang gulma warggàdi, kadyanggàning wwahing tal, wwahing nyù, pinaka caru donya. Kunang ikang latàdi pinakoûadha prayoga. Hana pwékang trêóàdi pinaka wìja panutul samit donya ring yajña kàryya mwang anna niwédya. Muwah ikang mrêga singhàdi mijil sangké lêka-lêkaning sihung bhaþàra, hétunya mrêga rodra, sinrêûþi ri sêdhêng bhaþàra rodra rùpa.

Kunang ikang mrêga kasor sangké rikà, prêthak-prêthak lakûaóanya, bhéda-bhéda rùpa mwang warónanya sowang-sowang, anùt satingkahing prawrêtti ning paúu srêûþi lêmbwàdi. Kunang ikang mrêga caódàla ; si garddhabha, nga, mangkana ikang pakûyàdi, garudha mijil saking kalar-kalar ing kukù bhaþàra, hétunyan kaga rodra, sinrêûþi ri sêdhêng sanghyang rodra rùpa. Kunang ikang pakûi sor sangké rikà, prêthak-prêthak lakûaóanya, bhéda-bhéda rùpa mwang waróa lwirnya sowang-sowang, anùt satingkahing prawrêtti ning srêûþi mrêgàdi.

Kunang ikang pakûi caódàla, si wayaúa. Mangkana ikang mìóàdi, màtangga prêþuka, mijil saking rarab-rarab ing kalar-kalar ing pàda sanghyang, hétunyan mìóarodra rùpa, sinrêûþi ri sêdhêng sang -/-

[8a]

hyang rodra rùpa. Kunang ikang mióa sor sakérikà, prêthak-prêthak lakûaóanya, bhéda-bhéda rùpa mwang warónanya sowang-sowang anùt satingkahing prawrêtti ning srêûþi pakûyàdi wargga.

Kunang ikang mìóa caódàla, si timinggila, nga. Hana ta tiryyak ati caódàla buddhi, mijil sangké wuriring wulu sanghyang, ri sêdhêng ira n krùra rùpa. Ndya ta ; sarisrêpa, pipilikà, bàwupàda, jaloka. Sarisrêpa, nga ; si sarppa mahà wiûàdi mwang ikang tan mandi, ityéwamadi, magöng adhêmit awaknya, pinaka katakuting ràt ring mahàwiûa.

Si pipilikà, nga, si lumur tan paràh, kinélikaning ràt ikà. Si bàhupàda, nga, si lumur makwéh sukunya, makàdìkang kinahananing wiûa, ityéwamadi magöng adhêmit. Si jaloka, nga, asing umunggwing wwé, mangisêp rah ning manuûya, paúu, mrêga, yéka jaloka, kadyanggàning lintah, kapilaóduh, ityéwamadi saprakàra, ikà ta si sarisrêpa, si pipilika, si bàhupàda, si jaloka, tatwa kaping sor ngaranya, wêkas ning mahà pàtaka hanéng ràt, krimi ikà, kinohutakên ring janma manuûya, kalìnganya, liwat sangkéng caódàla ikà. Nihan lwir ing caódàla

Pakûìóàng kàka caódalaá, måga caódàla garddhabhaá,

buddhinang kopa caódàlaá, sarwwa caódàla durjjanaá.

Kalìngan ikang úabda, -/-

[8b]

ring pakûi tan hana caódàla ng kadi gagak, ring mrêga tan hana caódàla kadi garddhabha, ring buddhi tan hana caódàla kadi kopa. Kopa, nga, gêlêng, ika ta kabéh, alah déning caódàla nikang wwang mahà dùrjjana.

Krùràñ capala hastañca, hingsa kàrmma paràyaóaá,

parawìtta para strì ca, kûaóikan narakang gataá.

Kalìngan ikang úabda ; ikang wwang sakajàtihanya, sàwakanya, adyapi bràhmaóa tuwi, krùra buddhi, hasta capala, parawìtta, nga, wala-walaning drêwya ning adrêwya, parastrì, nga, mangalwaning strì ning lén, hingsa kàrmma paràyaóa, nga, úakta ri kagawayaning amàti-màti samanya janma, ikang sudoûa nirdoûa, pinatyan ikà, ika ta wwang mangkana tan wurung tumampuhing narakaloka, yapwan têkà ri patinya, gatah têkà ya, kûaóika lakûaóanya maréng naraka, tan asowé ya pinañjara dé sanghyang yama. Matangyan sang mahyuning dharmma, apagêha ring màryyada rahayu, kumwa ling ing úàstra nihan.

Madhuwat dåûþi somyéna, puûpawàttandiwàcakaá,

na paro pataá saá kàryyé, swargga pràpyanna sangúayaá.

Kalìngan ikang úabda ; ikang wwang sàwakanya, saka janmanya, yan maka buddhi rahayu, ndya rahayu gawayên, wulatnya kadi manising madhu, úabdanya kadi wangining sarwwa sêkar, kunêng ri sêdhêng -/-

[9a]

nya gumawayakên kàryya, àsing kinàryya nikà tan hana manasi para, kéwala kàruóa, mudhita, upékûa. Mangkana dénya mangàmbêki para. Yan hana wwang mangkana, tan wurung manêmu swarggaloka, tuwi ri janma-janmanya tumêmung ayu, haywa úangûaya, yàwàt swargga tinêmunya, tan hana sanghyang agama lêñok.

Têlas ikang hala hayu inajarakên saking aji, hana ta ya lakûaóa ning catur yuga kàryya, ndya ng catur yuga, lwirnya ; krêta yuga, traita yuga dwàpara yuga, kali yuga. Ndya ta singhiting manah ning wwang ri sayuga-sayuga, lwirnya ;

Tapaá para÷ kåté yugé, traitaya÷ jñanam ityahuá,

dwàparam ityahùr yajñaá, dhanam éwang kalo yugé.

Kalìngan ikang úabda ; ngùni ring krêta yuga kinalêwihakên tan hana wiúéûa kadi tapa, tapa juga minulyan samangkà, ikang rajata, kañcana, ratna, tan mulya sahananya, trêóawàt, kadi dukutaking padhanya, kahidhêp déning wwang ring krêta. Syapa ta magöng i kàla samangkà, o sang bràhmaóa åûi úaiwa sogata sira magöng.

Kunang ring traita yuga ; ikang kinalêwihakên tan hana wiúéûa kadi jñàna, jñàna juga minulya n samangkà, ikang rajata, kanaka, ratna, kiñcit mulyanya, ndatan dahat pinakémanya, syapa ta ma -/-

[9b]

göng i kàla samangkàna, sang kûatriya sira magöng.

Kunang ring dwàpara yuga ; ikang kinalêwihakên, tan hana wiúéûa kadi yajña, yajña juga minulya n samangkà, ikang rajata, kanaka, ratna, satêngah mulyanya, kinêkêsan dé sang kûatriya, pinaka dàna ri kàlaning yajña kàryya, winéhakên ri sang bràhmaóa åûi úaiwa sogata, paknanya minulya n, mwang pinaka úaraóa ning apêrang, winéhakên ing sénàdhipa mwang ring wadwà samùha, pinaka byàyaning mapratiûþa kahyangan àdi ning kàryyanya. Kunêng ring dàna kawruhakna ika prabhédanya, nahan ling sanghyang agama.

Annañca pàóa÷ kanakàdi ratna÷, dànañca wastra÷, úayanañca bhoga÷, ratha úrìyàúwa÷ nagarañca dhatwà, wipraya dànéá.

Nihan mùlaning dàna hinanakên ring dwàpara yuga, lwiring dàna ; anna, nga, sêkul. Pàóa, nga, sajöng. Kanaka, nga, màs. Ratna, nga, úoúoca. Wastra, nga, dodot. Úayana, nga, paturwan. Bhoga, nga, sarwwa pinangan. Ratha, nga, gulungan. Úrìya, nga, sarwwa drêwya. Aúwa, nga, kuda. Nagara, nga, kadhatwan. Ika ta sakawaúa dé sang kinahananing wibhawa, winéhakên ing sang bràhmaóa ri têpi ning payajñan, ya yajña atidàna, nga.

[10a]

Swañca pi daryya÷, tanaya priyañca, dhàtwà parényaá na punasta tåûóaá, kàlé, na citta÷ samayànu màtram, dwijé padé naiwa wadanti dànam.

Muwah hana ta dàna hinanakên dé sang mahyun i kagawayaning dàna, lwirnya ; swa, nga, ikang úarìra ya dinanàkên ing lén, ri wêkasan tinêbus nira tàwak nira ring màs pirak, sakawaúa ning panêbusan ira, ya úarìra dàna, nga.

Muwah hana ta dàna nàridàna, nga, mawéh strì ring lén, ikang sayogya dànanana, ya strìdàna, nga. Muwah hana ta tanaya dàna, nga, putra-putrì nira ya dinànàkên ing para, kunang ikang putra, wênang tinêbus ika samulyaning panêbusa, yan putrì dàna tan wênang têbusên ira, yékà putrìdàna, nga.

Kunêng ikang priyadàna, anakbi nira ya dinànakên ing para, wênang tan panêbus, wênang manêbus, mapa ta kàla niràn mawéh dàna, ring sthàna sang bràhmaóa mayajña, ngkàna tonggwan ira awéhang dàna. Kunang dé niràn panghanakên dàna ; haywa trêûóa, haywa citta sêkêl ikà, haywa mangucapakên göng mulya waróna ning dàna, adyapi samàtra mangohêla, haywa mangkana, makàdi yan pangucapakna göng ing dàna muwah-muwah, haywa juga mangkana hila-hila.

Dhàtwà samaré ûudhìran parébhyaá, jitwa suréndra hådayé po úùraá,

dhairyyànu bhawàtma na duhka÷ état, mahàtidànam prawadanti santu. -/-

[10b]

Kalìnganing úabda ; hana téka bhùpati suúìla sàdhu buddhi, aminta pwayàúraya ri sang dànaúùra, ikang kadhìra nira ring raóa atah winéhakên ing para ngkàna, ri sêdhênging inalahakên déning úatru parangmukha. Kunang yan ikang parangmukha pêjah dénta, atiúaya kottaman sang dànaúùra ring ràt, adyapi hana asanak tuwi mwang waódu wargga, wadwà kunêng, yan pêjaha ri màdhyaning papêrangan, haywa juga pinaka duhka ning hati dé sang dànaúùra, hana pwéka sang sudhìra yan màti têkap nira n dànaúùra, kasoran déning musuh mahà prabhàwa, atyanta kottaman ika lìóa nira, tuhu-tuhu dànaúùra ngaran ira, byakta sira pinuji dé sanghyang wiûóu, aparanta kottaman ika sang mangkana, indra déwatàdi tuwi sor swargga nira. Mangkana ling sanghyang agama.

Nàhan ta mahàtidàna lakûaóa, ika ta yajña wiúéûa, nga, ika ta ulah ngùni ring dwàpara yuga, kagöngan ira sang kûatriyàngúa ring traita, ring dwàpara, mayajña, madàna yéka gawé nira, sang wéúya agöng sukhanya ring dwàpara yuga.

Kunang ika ri têkàning kali yuga, kumwa ling ning úàstra.

Ni bija påthìwi loké, latani roûadhis tathà,

kûatryàngúaá nirdànaú caiwa, dwijàtir ati niskramaá.

Úudras tu witta wåddhisyat, anyàya wåtti wìryyawàn,

nir dharmma kåt mahà rogi, ayuá kûayang kalo yugé.

[11a]

kalìngan ikang úabda ; ri têka ning kaliyuga ngkàna, ikang lêmah matuna dényàmêtwakên sarwwa wìja mwah ikang lata tan pamarasakên pinakoûadha, sang kûatriya nirdhana, tan kinahananing màs pirak, kawangúa nira hilang, ratu winaúa, sang kûatriya niskrama makàdi sang brahmàóa, atiúaya niskrama, tan pacàra, úàsana brata kula nira hilang. Kunang ikang úudra wrêddhi màs pirak ikà, asing anyàya prawrêtti atiúaya wìryyawàn, ikang wwang kulìna jàti rahayu buddhinya antyanta kàsyasih, mahà duhka sira, nora wwang magawé puóyadàna dharmma, ikang ràt kinahananing roga, gring awêh, sabsab amêwêh, durbhikûa ikang jagat, uriping janma kûaya, akwéh tan anutugakna yuûanya, mangkana prawrêttining ràt ring kaliyuga.

Pira karika jìwaning janma ring sayuga-sayuga, o pàjarakna têkapku mangké ling sanghyang agama widhi.

Koþi kåtayugé warûam, traitaya÷ lakûa jìwita÷,

yo dwàparé sahasra smin, warûa÷ úatang kaloyugé.

Kalìnganing úabda ning úàstra ; patunggal-tunggalaning ayuûya nikang janma ring catur yuga, nihan warûanya ; yan ring kåtayuga warûa yuûaning janma, 100.000, yéki jìwanya, tan hana wighna -/-

[11b]

roga, awêh, prang, hilan, hilén, tuwi tan hana raré màtì jêro wêtêng mwang bajang, pisaningù yan màtya sêdhêng wêrê-wêrê, tahàmpih, kadi sphaþikà mamêtwakên tirtha mahàmrêtha buddhi ning janma, úuddha manarawang, tapa ginêng. Tapa, nga, ikang ulah mamàtìndriya, si ûad ripu pinanasanya, tan winéh ri sawiûayanya. Ndya ûad ripu, nga ; kàma, krodha, lobha, moha, màtsaryya, hingsa.

Kàma, nga ; hyun. Krodha, nga ; srêngên. Lobha, nga ; arêpi drêwyaning lén tan saking réh, tan padàna. Moha, nga ; mapunggung. Màtsaryya, nga ; méliking sama-sama tumuwuh tan pakàraóa. Hingsa, nga ; pati prang-prangi agêlêm mamàti-màti padhanya janma sudoûa nirdoûa. Nàhan ta ûad ripu pinaka úatruning tapa.

Kunang ikang pañcéndriya, lilima lwirnya, ndya ta nihan ; wàk, pàói, pàda, payu, paûþa, nyan wiûayanya yan hana ; doûaning wàk, yan amêtwakên úabda paruûya, mamisuh, manapathani. Doûaning pàói ; manampyal, manêpak, manggitik, mamêrang, mangalap drêwyaning lén tan réh. Doûaning pàda ; mangjêjêk, mangdhupak, manépak. Doûaning payu ; mangêntuti, mangisingi. Doûaning upaûþa ; yan mangêyêhi, mangalwani strì ning -/-

[12a]

lén, mangramuhi strì tan yogya sanggaman. Nàhan halaning pañcéndriya pinaka úatruning tapa.

Nihan tang pañca kàrmméndriya, lilima lwirnya, ndya ta lwirnya, nihan ; twak, cakûuh, jihwa, graóa, úroté. Ikang twakindriya ; tanàrêp kapuruga déning akasap, agatêl, apanas, atis, aprih, kaharêpnya. Ikang cakûwindriya ; tanàrêp tuminghala ri sarwwa hala rùpanya. Ikang jihwéndriya, tanàrêp angrasanana si tan purusa. Ikang graóéndriya ; tanàrêp angambunga si durgandha. Ikang úroténdriya ; tanàrêpa rumêngwaknàsing úabda hala tan énak rinêngwakên. Yéka doûaning pañca karmméndriya, ika ta kabéh úatruning tapa.

Matangyan ikang pañcéndriya, pañca karmméndriya, patêmunya inajarakên dadi daúéndriya, rinowangan déning ûad wargga ripu, nênêm wilangnya, ya ta hétunyan dadi ûodaúa wikàra, nga, pinaka úatruning tapa, kéngêtakna ika ta kabéh, tan hana ri buddhining janma ring krêta, hétunyan padha mamanggih mokûapada ikang wwang ing krêta.

Kunang tuwuh ing wwang ring traita ; 10.000, warûa, jñàna juga linêwihakên, ndya jñana nihan ; dharaóa, dhyàna, yoga, samàdhi, iúwarapraóidhana, tarkka, kaúùnyan, nàhan tang jñàna -/-

[12b]

màrgga ning sang paódita ring traita mamangguh kamokûapadan. Kunang ring dwàpara yuga, yuûa ning wwang, 1.000, warûa, ulahing wwang ngkana ; yajña kinalêwihakên, ndya ng yajña lwirnya nihan ; aúwamédha yajña, måtyuñjaya yajña, paúupati yajña, bràhmà yajña, ika ta kabéh, dàna dharmma lumaku.

Hana ta sang bràhmaóa, sira yan umulahakên dàna prati graha, mananggap dàna sira, bhéda làwan sang bràhmaóa ring krêta yuga. Kunang yuûaning janma ring kaliyuga, 100, warûa, prawrêttining janma ring kaliyuga ; dhana juga lêwih tan hana lén, ndya ng dhana ; màs pirak minulyan, adyapi janma sora tuwi, yan sugih màs pirak yéka dinalihnya lêwih, tan hana kula kawangúan, buddhi ning wwang kabalik, bhéda làwan duking krêta yuga mwang ring traita làwan dwàpara. Hétunyan kali, pangawaking kàla buddhi, sang catur janma paling sira, tan hana bràhmaóa, kûatriya, wéúya, úudra, waróna sangkara ikang wwang, tan hana tapa, tan hana jñàna, tan hana yajna.

Ékacit kåta jantanam, trayo cit traita wåttiké,

dwàparé japtu cit dwiya, kàlo cit céndriya gramaá.

Kalìnganing úabda ; ikang wwang ring krêtta yuga éka citta, tunggal-tunggal atah cittaning wwang irikà, param wairogya ké -/-

[13a]

wala tan hana ng ràga mwang irûya, tan élik, tanàrêp, yéka buddhi tan pamalih, nga, matangyan éka citta krêta ring bhàûa. Kunang ring traita ulah nikang wwang, trayo citta, mapatêlu ikang citta, ndya lwirnya pàtiga ; puóya, bhakti, asih ring samanya tumuwuh, adyapi satwa tiryyak tuwi, yan manêmu lara kinawêlasan ira, manggàwak nira malaraha, lamun agawaya sukhaning lén, mangkana swabhàwaning buddhi ning wwang ring traita yuga, màsih ring sarwwa tumuwuh.

Puóya, nga, rumàkûa ri sang mangulah úìlayukti, tan bhinédakên làwan úarìra, asing buddhi pawitra kahyuning twas, matangyan úuci jñàna ikang wwang kabéh ri samangkana. Bhakti, nga, bhakti ring ràmaréóa, asing sinangguh wwang atuha kinabhaktyan ira, bhakti ring guru, asing sinangguh guru déning loka, matwang ri sang wrêddha tapaswi, mwang ri sang bràhmaóa úaiwa sogata, nguni-nguni ring lingga kahyangan, saprakàraning pratiûþa, yan úiwa puruûa, yan pradhàna paúupati, yan wiûóu pratiûþa, yaning úiwa nirbbhàóa, yéki kinabhaktyaning wwang ring traita, àpan malaning hana déwa kahyangan ring traita yuga, umêtu saking jñàna sang mahàn, étuning ikang kahyangan inajarakên wrêddhà jñàna, apan pinaka sthàna sanghyang catur wijàkûara, ikang lingga kahyangan.

Kunang ikang ring dwàpara, dwi har -/-

[13b]

ûa citta, rwa doning citta, ndya ta nihan ; guóàdi doûa citta ra hita, cittanya pinênuhan nikang guóàdi doûa, agöng guóanya, inastuti déning ràt kabéh, agöng doûanya cinalan ta ya déning ràt kabéh, matangyan ring dwàpara yuga, unggwaning janma katuwuhan ràga mwang doûa, pamujihana pañaléhana, hana asih, hana puóya, hana bhakti, hana ðaóda, apan ikang doûa mamêtwakên ðaóda, matangyan hana dwéûa.

Kunang ikang guóa, mamêtwakên kàma. Kàma, nga, ràga. Ràga, nga, hyun. Dwéûa, nga, ilik, hétuning hana pêrang inucap, hétu sang bràhmaóa mananggap dàna ring dwàpara mùlanya. Yéka sang catur janma kêna ring ràga dwéûa kabéh, mùlaning janma kênéng tuhapati samangkana pùrwwaka nikà, kintu têlas karuhun ikang wwang ing kaliyuga, apan paúarìra ning kàla ikang wwang ring kali, inênahan déning pañcéndriya, pañca karmméndriya, ûad wargga ripu. Matangyan wilanging wikàra, 16, hana pwéka wwang ing krêta yuga, makàmbêk kadi buddhi ning wwang ring kaliyuga, saka ri tan hingêtnya, yan tumuwuh ring krêta, yapwan paràtra.

Ri têlas ikang kàrmma waúàóa bhinuktinya ;

Na wandya patitaá dåûþa kaliyugé,

Kunang atmanya tan wandya tumibà ring kaliyuga, yan tan mingêring swabhàwa buddhi sang tumuwu -/-

[14a]

hing krêtayuga, iwa nihan padhanya kadyanggàning mìóa kàñuting wwayàdrês, ri kàlaning wwah gunung, umingsor prakrêttinya.

Tan ucapakna ikang wwang ing traita, apan sor yuganya sangkéng krêta, adyapi ring krêta tuwi mangkana. Kalìnganya, sang tumaki-taki dharmma rahayu, haywa tan prayatna ri kagêgwaning úuddhi buddhi, palarên mantuka déwà úarìra, swargga phala prihêning sira, Kunang ikang kamokûan, parama durllabha têmên-têmên, éwêh sang tumêmwé sira, apan paramàcintya, salah inidhêp, swargga sthàna juga wuwusên, déwaktaki ri sang tumaki-taki dharmma parayaóa, ndya ta lwirnya ; ikang janma ring kaliyuga méngêt pwa ya ri durggamaning kàli sanghàra, magêgwan ta ya dharmma, mwang sandhining acintyàjñàna paramàrtha, byakta kita tumuwuh ring dwàparayuga.

Muwah yan méngêt kiténg dwàpara, gumêgwaning acintyàjñàna, paramàrtha, byakta ta kita tumuwuhing traita yuga. Muwah yan méngêting traitayuga, gumêgwaning acintyàjñàna, byakta ta kita tumuwuhing krêta muwah. Mangkana brat sanghyang àtma yan kaping sor déning ûodaúa wikàra, anghél ulih niran mantukéng parama kéwalyapada. Kunêng yan méngêt iriya, yéka jàti smaraóa, nga. Smaraóa kalìngan ikà, sang wruh ring tutur nirmmala, méngêt la -/-

[14b]

nggêng, dåûþopama, makadi mìóa arêp anungsung bañu ri suruding wwah wukir, katon ahêning ikang wwé, éngêt pwékang mìóa, kang tinon ahêning , éngêt pwékang mìóa, kang tinon ahêning ikang jala, ngkàna ta yan panungsung maluy maréng sthànanya ngùni, tàdwat mangkana ta sanghyang àtmàrpani ring irikang ûodaúa wikàra, apan antyanta lê wikàra, apan antyanta lêtuhnya, matangyàr pahêning ikang jñàna ri lêtuh ing ûodaúa wikàra, linging àgama nihan.

Jaléna jànita÷ pangkam, jaléna pariúudhyaté,

citténa janita÷ pàpam, citténa pariúudhyaté.

Iki Brahmokta Widhi úàstra, gêlah ñoman rahi ring pràóaràga, ampura hugi úàstra iki, kawon, bandung, madh’magantung, apan olihing tambat, sakéwalya siddha madrêwé, idhêp anêlang tan polih, duk puput , idhêp anêlang tan polih, duk puput manurat ring ; rah, 5, tênggêk, 2, iúaka 1825.

BRAHMOKTA WIDHI SHASTRA

Oleh IBM Dharma Palguna

[1b]

“Ong Srì Pashupataye namah”

Bhatara Pashupati beliau mengajarkan Shastra. Ujar beliau:

Na bhùmiá, na, ja, la, mwà, pi, na, té, jo, na, ca, mà, ru, taá,

na ca, bràhmà, na, ca, wiûóuá, na, ca, éwa mahéúwaraá.

Maksud dari ucapan sloka tersebut, na bhumih artinya tidak ada tanah, na jalam artinya tidak ada air. Dan demikian juga, na tejah maksudnya tidak ada bulan, tidak ada matahari, tidak ada bintang, tidak ada awan, tidak ada kilat, tidak ada guruh, tidak ada petir, tidak ada bianglala. Semuanya itu juga tidak ada. Dan dalam keadaan seperti itu, na marutah artinya tidak ada angin. Dan dalam keadaan seperti itu, na brahma artinya tidak ada Bhatara Brahma. Dan dalam keadaan seperti itu, na wishnuh artinya tidak ada Bhatara Wishnu. Dan dalam keadaan seperti itu, na maheshwara artinya tidak ada Bhatara Maheswara. Ewam maksudnya hanya kosong, sunyi ketidak adaan, dunia ini tidak ubahnya bagaikan mengawang-awang. Itulah yang dinamakan sebagai Shunya Tattwa.

Pada saat keadaannya seperti itu, diketahuilah oleh “Ia” yang berkeinginan akan adanya dharma, adapun pada akhirnya beliau Sang Hyang Wishesa berkeinginan untuk, menyifatkan dirinya. Iúwarécchà, artinya ia berkeinginan menjadi sebagai raja di dalam dunia. Seperti itulah keinginannya. Berkehendaklah ia menciptakan bhuwana. Seperti itulah maka ia menjadi Ishwara Bhatara. Setelah tuntas keadaannya seperti itu, diri Bhatara Ishwara kemudian dibagi menjadi tiga bagian.

[2a]

Yang dua bagian menjadi Brahma dan menjadi Wishnu. Seperti berikut inilah tata caranya. Sang Hyang Brahma, ia sebagai pencipta dari jagat, diperkenankan memberikan anugerah oleh Bhatara, sebagai perwujudan dari Catur Weda, yaitu: Reg Wedha,Yajuh Wedha, Sama Wedha, Atharwa Wedha.

Itulah yang bernama Catur Weda [empat bagian Wedha]. Wedha-Wedha tersebut adalah Shastra yang mengambil wujud atau bentuk. Yang mana wujud atau bentuk dari Catur Weda tersebut? Seperti berikut inilah konon isi wacana dari Dewata Kaki ditujukan kepada kalian semua yang memiliki keinginan untuk mengetahui tentang isi dari Tattwa.

Candaá pàdo tu wédañca, hasto kalpotha padyaté,

jyotiûa nayaóañ cakûuá, mukha÷ wyakaraóa÷ småta÷.

Seperti itulah bentuk perwujudan dari Sang Hyang Wedha, ada pun maksud dari ucapan tersebut, yang disebut canda oleh Sang Pandita adalah sebagai kaki dari Sang Hyang Wedha. Ada dua perbedaannya. Yang mana sajakah itu? Keduanya adalah Candasi dan Upacandasi. Candasi itu memiliki fungsi sebagai kaki yang sebelah kanan dari Sang Hyang Wedha. Adapun Upacandasi itu memiliki fungsi sebagai kaki yang sebelah kiri dari Sang Hyang Wedha.

Adapun tentang Shastra itu, terdiri dari Kalpana dan Akalpana, memiliki fungsi sebagai tangan dari Sang Hyang Wedha. Kalpana Shastra itu adalah sebagai tangan yang sebelah kanan dari Sang Hyang Wedha. Akalpana Shastra itu adalah sebagai tangan yang sebelah kiri dari Sang Hyang Weda. Ada pula yang disebut sebagai Jyotisa Shastra namanya, yang memiliki fungsi sebagai kedua mata dari Sang Hyang Wedha. Yang manakah yang dinamakan Jyotisa tersebut? Yang dinamakan Jyotisa tersebut adalah Arkha Sphuta dan Candra Sphuta.

[2b]

Itulah sebagai kedua mata dari Sang Hyang Wedha. Arkha sphuta memiliki fungsi sebagai mata dari Sang Hyang Weda yang ada di sebelah kanan. Candra Sphuta memiliki fungsi sebagai mata yang ada di sebelah kiri dari Sang Hyang Wedha. Ada pun yang disebut Wyakarana Shastra itu adalah sebagai muka dari Sang Hyang Wedha fungsinya. Yang mana itu perwujudan dari Wyakarana Shastra? Perwujudan dari Wyakarana Shastra adalah: Dhatu, Awyaya, Pratyaya, Sandhi, Sutra.

Yang disebut Dhatu adalah sebagai telinga sebelah kanan dari Sang Hyang Wedha fungsinya. Yang disebut Awyaya adalah sebagai telinga sebelah kiri Sang Hyang Wedha fungsinya. Yang disebut Pratyaya adalah sebagai mulut dari Sang Hyang Wedha fungsinya. Yang disebut Sandhi adalah sebagai lubang hidung di sebelah kanan dari Sang Hyang Wedha fungsinya. Yang disebut Sutra adalah sebagai lubang hidung di sebelah kiri dari Sang Hyang Wedha fungsinya. Tujuannya adalah sebagai saluran dari bayu atau nafas mengucapkan: Aksara data, Aksara anudatta, Aksara samawrtti . Seperti itulah fungsinya.

Aksara Data itu adalah sebagai gerakan ke arah bawah dari pengucapan aksara. Aksara Anudatta adalah sebagai pergerakan ke arah atas dari pengucapan aksara. Ada pun aksara Samawrtti adalah sebagai pergerakan baik ke arah bawah maupun ke arah atas dari pengucapan aksara. Dan ada pula Shastra yang diajarkan sebagai badan atau sebagai tubuh dari Sang Hyang Wedha. Yang manakah shastra itu? Seperti berikut ini penjelasannya.

Kàmatantrà pi guhyaté, kukûo mìmangúa sangsthitaá,

Paúu […]

[3a]

[…] pata pi hådayé, mahànàthaú ca uraké.

Kaóþé wéûaúikàá céwa, jihwo úikûà tatha iwa ca,

alépakas tu úìrûaya÷, iti wéda úarìra wai.

Yang disebut Kama Tantra memiliki fungsi sebagai “gua purusha” dari Sang Hyang Wedha. Yang disebut Mimangsa Shastra itu adalah sebagai perut dari Sang Hyang Wedha fungsinya. Yang disebut Pashupata Shastra adalah sebagai hati dari Sang Hyang Wedha fungsinya. Yang disebut Mahanatha Shastra adalah sebagai dada dari Sang Hyang Wedha fungsinya. Yang disebut Wrsashika Shastra adalah sebagai kepala dari Sang Hyang Weda fungsinya. Dan juga yang disebut Shiksa Widhishastra adalah sebagai lidah dari Sang Hyang Wedha fungsinya. Adapun yang disebut Alepaka Jnana Shastra adalah sebagai sirsa [kepala] dari Sang Hyang Wedha fungsinya.

Sesungguhnya seperti itulah tatanan dari badan atau tubuh beliau Sang Hyang Catur Wedha yang dimasuki atau dihuni oleh Bhatara Brahma. Setelah selesai memasuki tubuh dari Sang Hyang Wedha tersebut, maka di dalam sanalah Bhatara Brahma menciptakan bhuwana. Bagaimanakah caranya beliau menciptakan Bhuwana pada mulanya? Seperti berikut inilah penjelasannya.

Àkàúàñ jayaté marut, màrutañ jayaté dyutiá,

dyotiûañ jayaté niraá, niras tu bhùmi jàyaté.

Ada pun maksud dari ucapan sloka tersebut adalah pertama-tama beliau menciptakan adanya udara. Dari udara kemudian muncullah angin. Dari angin kemudian muncullah sinar, terutamanya adalah matahari, bulan, bintang tranggana, awam, api, kilat,

[3b]

bianglala, segala macam yang mengeluarkan cahaya. Dari sinar kemudian muncullah air, dan pada akhirnya terciptalah bumi. Adapun sifat-sifat kualitasnya menjadi satu. yang mana saja sifat atau kualitasnya itu?

Sifat atau kualitas dari udara adalah shabda. Sifat atau kualitas dari bayu adalah sentuhan. Sifat atau kualitas dari sinar adalah rupa. Sifat atau kualitas dari air adalah rasa. Sifat atau kualitas dari tanah adalah bau. Kelima sifat atau kualitas itulah yang diajarkan di dalam konsep Panca Mahabhuta Tattwa namanya. Dan tambahan lagi menurut ajaran Sang Hyang Agama :

Athaúàstram prawàksyami, paraman tatwa durlabham,

jagat såûþi ritir sarwwé, utpàtti sthiti lìóakam.

Seperti itulah Shastra yang diajarkan oleh Bhatara Parama Karana [penyebab pertama], maka menciptalah beliau di semua tingkatan jagat, sampai pada tujuh pulau, tujuh gunung, tujuh lautan dengan dewanya masing-masing. Adapun Sang Hyang Parama Tattwa, sangatlah luar biasa keadaannya, sangat sulit untuk bisa dipikir-pikirkan. Ciptaannya kelihatan dalam wujud luar dari dunia, sesungguhnya beliau terlalu amat sangat halus, tidak bisa dipolakan dengan ciptaannya. Namun demikian, semua ciptaannya bisa dilihatnya sekaligus oleh beliau. O bukan begitu, tidak kelihatan beliau di dunia ini, karena berubah wujud di dalam Panca Mahabhuta. Namun demikian, beliaulah sebagai pencipta, sebagai pemelihara, dan sebagai pelebur dari semuanya. Setelah Panca Mahabhuta itu tumbuh di dalam telur bhuwana, pada saat itulah Bhatara Jagat Karana [pencipta jagat] menciptakan sebagai isi dari Panca Mahabhuta. Yang manakah isi dari Panca Mahabhuta tersebut? Menurut ajaran dari

[4a]

Sang Hyang Aji, seperti berikut ini:

Lalàté jàyaté wipraá, kûatriyo bahujas tathà,

wéúya urùúca jàyaté, úudras tu pàdayor jataá.

Ada pun maksud dari ucapan sloka tersebut, pada saat itulah maka Sang Hyang Brahma menciptakan manusia terlebih dahulu. Manusia macam apakah yang diciptakannya terlebih dahulu pada saat itu? Inilah ajaranku kepada dirimu Sang Resi Putra. Beginilah pada awal mula penciptaan beliu tentang manusia. Sang Brahmana dimunculkan dari dahi beliau. Setelah ia muncul dari dahi Sang Hyang, dengan wujud manusia, ia itulah yang dinamakan Dwijati. Oleh karena ia itu memang dwijatah, yaitu dua kali Sang Hyang Brahma menjadi manusia Brahmana itu. Sebabnya brahmana yang diajarkan tentang Brahma Sarira, karena cinta Sang Hyang Brahma kepada Sang Brahmana, diperkenankanlah mereka untuk bisa memahami isi dari Wedha Shastra. Karena Catur Wedha itu adalah sebagai badan dari Sang Brahmana, dan termasuk sebagai badannya Sang Brahmana adalah semua dari Shastra Adhyaya. Yang mana sajakah sesunggunya Shastra Adhyaya itu? Seperti berikut inilah penjelasannya.

Pañcawingúàkûaro warggaá, sarwwàngga tatwa sangsthitaá,

bràhmaóa twà wajànantaá, jagat sthàwara janggamaá.

Ada pun maksud dari ucapan sloka tersebut, bahwa Sang Brahmana adalah sebagai yang paling utama dari ciptaan Sang Hyang Brahma. Ada pun Tattwa dari semua perwujudannya adalah muncul dari Panca Wingsa Aksara. Itulah sebabnya sehingga disebut Dwijatwa, ia itulah sebagai awal permulaan dari adanya jagat Sthawara, Janggama, yang diciptakan oleh

[4b]

Bhatara Brahma. Yang manakah itu yang disebut sebagai kelompok Panca Wingsa Aksara perinciannya?

Ka wargga twà iti jñéyaá, ca wargga mangsar éwa ca,

ta wargga raktaké sangsthàá, da wargga snàyawé småtaá.

Pa wargga sarwwa garbbhéûu, hrêdayéûu yawàdayaá,

pañcawingúàkûaran déhé, bràhmà såûþé dwijàtayaá.

Seperti berikut inilah macam-macamnya:

Ka warga: Ka Kha Ga Gha Nga, menjadi kulit dan bulu-bulu.

Ca warga: Ca Cha Ja Jha Nya, menjadi daging dan lamad-lamad.

Ta warga: Ta Tha Da Dha Na, menjadi darah, keringat, segala melebur.

Þa warga: þa þha ða ðha óa, menjadi nadi dan otot, semua persendian.

Pa wargga: Pa Pha Ba Bha Ma, menjadi segala di jeroan, terutama jantung.

Itulah yang dinamakan Pancawingsa Aksara, 25. Itulah bilangannya. Dan ada lagi kelompok aksara:

Kàpàlàsthi lawaya sthàá, tryàkûaraá parikìrttitaá.

Maksudnya, bahwa ada aksara “la wa ya”, yang berubah menjadi kepala dan menjadi tulang belulang.

Àkàúàtma úa mùrddhanyaá, dantyaá sa puruûa småtaá,

bhùdharàtmà ûa thalawyaá, akàraá prakåttis tathà.

Ada aksara úa, Murdhaya adalah namanya, yang berubah menjadi udara. Sebagai gerbang dari seluruh tubuh adalah fungsinya, sebagai jalan bagi nafas untuk ke luar dan jalan bagi nafas untuk masuk. Ada aksara ûa, Talawya adalah namanya, yang berubah menjadi kulit, berubah menjadi daging, dan menjadi segala yang memiliki wujud kasar di dalam tubuh. Adapun aksara sa, Dantya adalah namanya, bersama-sama dengan aksara A-kara adalah sebagai

[5a]

pertengahan antara nafas yang bergerak ke bawah dan nafas yang bergerak ke atas di dalam ketiga saluran nadhi utama. Seperti itulah yang diajarkan dengan sebutan Aksara Wyanjana namanya.

a à kàra dwayo sthapya, i ì maiúira tathà,

u ù pàda dwayonyasya, å æ sthàna dwayo sthitaá.

í í nétra dwayoányasya, é ai karóna dwayos tathà,

o au bàhu dwayo sthapya, a÷ nàbho aá graóé sthitaá.

Ada pula yang disebut Aksara Suara namanya, sekarang ini akan diajarkan, yaitu aksara yang melekat pada Aksara Wyanjana. Tujuan dari Aksara Suara itu adalah untuk menggerakkan seluruh penciptaan.

a à, menjadi kedua tangan, tujuannya sebagai pemegang.

i ì, menjadi kepala dan otak, sebagai tubuh utama berkuasa di sana.

u ù, menjadi kaki, menjalakan ciptaan fungsinya.

å æ, sebagai susu, member hidup pada ciptaan tujuannya.

í í, menjadi mata sebagai penglihatan fungsinya.

é ai, sebagai kuping mendengarkan shabda baik buruk tujuannya.

o au, sebagai tongkatnya bayu, tujuannya adalah menguatkan

a÷ menjadi pusar, tempat api di tubuh, mematangkan yang dimakan diminum.

aá sebagai jìwa, tempat nafas menuju hidung dan mulut, shabda tujuannya.

Ada pula Aksara Suara: a, i, u, rê, lê. Tujuannya adalah menjadi perkasa.

[5b]

Melompat-lompat, berlari-lari adalah fungsinya. Segala gerakan yang membuat nafas menjadi ngos-ngosan, tempat kedudukannya ada di dalam ciptaan Sang Hyang. Itulah Suara yang dinamakan Dewi Swaranjika namanya. Itulah asal mula dari semua yang ada, terutamanya adalah Sang Brahmana diutus oleh bhatara, bhatara memberitahukan tentang Tattwa yang ada di dalam tubuh.

Setelah munculnya Sang Brahmana dari dahi, muncullah Ksatriya dari bahu Sang Hyang. Diperkenankanlah mereka mengetahui isi dari Dhanur Weda Shastra, guna menjaga segala ciptaan adalah tujuannya, ia adalah penjelmaan dari Wishnu. Setelah munculnya Ksatriya dari bahu Sang Hyang, muncullah Wesya dari paha Sang Hyang. Mereka diperintahkan untuk menggerakkan aktivitas pertanian dan memelihara khewan lembu, sebagai sarana di dalam mengerjakan sawah, sebagai makanan pemberi hidup pada semua ciptaan tujuannya.

Setelah munculnya Sang Ksatriya dari paha Sang Hyang, muncullah Sudra dari telapak kaki Bhatara. diutuslah mereka berdagang berlayar sebagai pekerjaannya. Sebagai tujuannya adalah mendapatkan setiap yang disandang atau dikenakan oleh ciptaan setiap yang utama rupa dan warnanya. Demikianlah penciptaan dari Catur Warna. Ada pun apabila ciptaan tersebut berbudhi menyimpang dari kesusilaan dan lupa pada tata karma, beginilah jadinya menurut ucapan Wakya:

Yé wyatitaá swakàrmmé bhyaá, para karmmopajiwinaá,

dwija twamàwajànantaá, wipraá úudràwada carét.

Ada pun maksud dari ucapan sloka tersebut di atas, bahwa ada Sang Brahmana dan Sang Ksatriya yang melakukan perbuatan-perbuatan bertolak belakang dengan ajaran kesusilaan

[6a]

menyalahi ke-dwija-an dirinya serta keksatriyaan dirinya, salah dalam berbahasa, salah dalam perbuatan, mengerjakan pkerjaan yang bukan pekerjaan dirinya, membicarakan yang tidak patut dibicarakan oleh Brahmana dan Ksatriya, sebagai tujuannya adalah agar mendapatkan nafkah dan pemenuhan kebutuhan bhoga dan upabhoga, maka pekerjaan orang lainlah yang dikerjakan olehnya, meskipun ia seorang yang sudah berpredikat seorang Dwija, berjulukan Brahmana Jati, tak pelak ia menjadi Sudra, tidak akan berbahagia walaupun ia kaya akan emas perak, tetapi ia menderita sebab dasar perbuatannya salah. Itu adalah Bhagna Brata namanya, sesuai dengan tingkah lakunya.

Adapun yang Wesya dan yang Sudra, apabila salah dalam mengambil pekerjaan, bukan pekerjaan dari karma seorang Wesya dan seorang Sudra, itu adalah manusia Candala [hina, rendah] namanya, bisa menjadi turun kedudukannya dari tingkatan Catur Janma. Yang manakah namanya perbuatan candala atau hina itu?

Surasut krimidàhaúca, pràóagnaá kumbhakàrikaá,

dhàtudagdaúca pañcété, caódàlaá parikìrttitaá.

Lima macamnya candala yang diajarkan di dunia ini, yaitu: Surasut adalah orang yang pekerjaannya memahat. Krimidaha adalah orang yang pekerjaannya sebagai tukang cuci. Pràóaghna adalah orang yang pekerjaannya menjadi jagal atau pemotong khewan. Kumbhakàrikà adalah orang yang pekerjaannya membuat periuk atau belanga. Dhàtudagda adalah orang yang pekerjaannya sebagai pande mas. Itulah yang dinamakan manusia candala jati, sungguh akan merosot kedudukannya dari tingkatan Catur Janma, bahkan tidak boleh dilewati rumah tempat kediamannya oleh orang dari kelahiran utama, walaupun orang itu buddhinya hina atau rendah.

Setelah lengkap Catur Janma itu tercipta di dunia, maka muncullah apa yang disebut Sthawara Janggama

[6b]

sebagai ciptaan selanjutnya dari Sang Hyang. Yang manakah ciptaannya itu? Seperti berikut ini penjelasannya. Sthawara adalah ciptaan yang tidak memiliki kemampuan untuk menggerakkan dirinya sendiri, baik besar maupun kecil tubuhnya, seperti pohon kayu, tanaman berbuku, tanaman melata, rumput-rumputan.

Yang manakah pohon yang utama? Pohon Boddhi. Tanaman berbuku-buku yang utama adalah Intala. Tanaman merambat yang utama adalah Wiûalya Hariói. Rerumputan yang utama adalah Prihi.

Dari manakah dimunculkan oleh Bhatara yang menciptakannya? Pohon kayu yang utama muncul dari rambut Sang Hyang. Bermacam-macam jenisnya, berbeda-beda bentuk dan warnanya masing-masing, dan berbeda-beda pula kekurangan serta kelebihannya masing-masing. Seperti itulah kemunculannya. Tidak berbeda dengan keberadaan para binatang, lembu adalah binatang yang pertama diciptakan, ada yang sebagai obat dan ada pula yang sebagai racun.

Demikianlah yang namanya tanaman berbuku-buku yang utama muncul dari brewok dan kumis Bhatara. Bermacam-macam jenisnya, berbeda-beda bentuk dan warnanya masing-masing, termasuk berbeda-beda kekurangan dan kelebihannya. Sesuai dengan keberadaan pohon kayu, pohon Boddhi yang pertama diciptakan.

Demikian pula tanaman merambat yang utama muncul dari bulu-bulu janggut Sang Hyang, bermacam-macam jenisnya, berbeda-beda bentuk dan warnanya masing-masing dan termasuk berbeda-beda kekurangan serta kelebihannya. Sesuai dengan keberadaan tanaman berbuku-buku yang pertama diciptakan. Demikianlah, rerumputan yang utama muncul dari bulu-bulu di sekujur tubuh Sang Hyang, bermacam-macam jenisnya, berbeda-beda bentuk dan warnanya masing-masing

[7a]

dan termasuk berbeda-beda kekurangan serta kelebihannya, sesuai dengan keberadaan tanaman merambat yang pertama diciptakan.

Ada pun yang disebut candala [kehinaan, rendah] di sana adalah, pohon kayu, Si Wiûapatra, tanaman berbuku-buku, Si Jamur Tahi Papung. Tanaman merambat, Si Rawé-Rawé. Itulah ciptaan yang disebut Sthawara. Adapun Janggama, bangsa burung adalah yang utama di antara Tiryak, antara lain yang memiliki kemampuan menggerakkan diri sendirinya, baik besar maupun kecil bentuknya, seperti berupa binatang piaraan, binatang hutan, bangsa burung, bangsa ikan. Yang utama adalah binatang lembu.

Binatang hutan yang utama adalah Singa. Burung yang utama adalah Garuda. Ikan yang utama adalah Matangga Pretuka. Adapun yang disebut Janggama antara lain bermacam-macam jenisnya, berbeda-beda rupa warnanya masing-masing, termasuk berlainan kekurangan dan kelebihan dari yoninya masing-masing. Ada pun binatang piaraan utamanya adalah lembu berasal dari jiwa Sang Hyang, yaitu pada saat beliau berwajah damai. Itulah sebabnya lembu itu binatang suci sebutannya di dunia, sebagai jalan budhi yang damai antara Bhatari dengan ciptaannya. Apa sebabnya diadakan oleh Bhatara? Karena lembu bisa mengeluarkan susu, mentega. Seperti itulah kegunaannya. Sama halnya dengan ikan sebagai isi dari kegiatan yajna, seperti Nawagraha sebagai sarana untuk melaksanakan upacara Agni Hotra.

Yang manakah pohon kayu yang utama? Pohon Waduri, matahari adalah dewanya. Pohon Palasa, bulan adalah dewanya. Pohon Peng, Anggata adalah dewanya. Pohon Dhangdangan, Budha adalah dewanya. Pohon Bodhi, Wrehaspati adalah dewanya. Pohon Lwa, Bhargawa adalah dewanya.

[7b]

Pohon Rukem, Shori adalah dewanya. Rumput-rumputan yang utama adalah Rumput Lepas, Ketu adalah dewanya. Rumput Alang-alang, Rahu adalah dewanya. Adapun tanaman berbuku-buku yang utama seperti pohon ental, pohon kelapa, sebagai bahan upacara Caru kegunaannya. Adapun tanaman merambat yang utama kegunaannya adalah sebagai bahan ramuan obat-obatan. Ada rumput utama sebagai wija panutul kegunaannya di dalam karya yajnya dan Anna Niwedya. Dan tentang binatang hutan yang utama yaitu singa diciptakan dari lengkungan taring Bhatara. Itulah sebabnya ketika singa diciptakan pada saat Bhatara sedang berwajah seram.

Adapun binatang hutan yang ada di bawah tingkatan singa, bermacam-macam jenisnya, berbeda-beda rupa dan warnanya masing-masing sesuai dengan putaran hidup binatang piaraan terutamanya lembu.

Adapun tentang binatang hutan yang berbudhi rendah, Si Gardhabha namanya. Begitu pula halnya dengan burung yang utama, Garuda, diciptakan dari kuku-kuku Bhatara. Itulah sebabnya Garuda galak, diciptakan pada saat Sang Hyang berwajah galak. Ada pun bangsa burung yang ada di bawah tingkatannya, bermacam-macam jenisnya, bermacam-macam rupa dan warnanya masing-masing, sesuai dengan putaran hidup dari bangsa burung ciptaan yang utama. Adapun tentang burung yang berbudhi rendah, Si Wayasa namanya. Begitu pula halnya dengan bangsa ikan yang utama, Matangga Pretuka namanya, diciptakan dari kaki Sang Hyang. Itulah sebabnya ikan itu berwajah seram, diciptakan pada saat ketika Sang Hyang

[8a]

berwajah seram. Ikan-ikan yang ada di bawahnya, bermacam-macam jenisnya, berbeda-beda rupa dan warnanya masing-masing sesuai dengan putaran hidup dari ciptaan bangsa burung yang utama.

Adapun tentang ikan yang memiliki budhi rendah, namanya adalah Si Timinggila. Ada pula binatang yang memiliki budhi sangat andal, diciptakan dari wuri yang ada pada bulu Sang Hyang pada saat beliau berwajah seram. Yang manakah itu? Sarisrepa, Pipilika, Bawupada, Jaloka.

Yang disebut Sarisrepa adalah ular baik ular yang sangat beracun maupun ular yang tidak beracun, baik besar maupun kecil tubuhnya, sangat ditakuti oleh dunia karena kehebatan dari racun-racunnya.

Si Pipilika namanya, adalah binatang melata yang tidak memiliki darah darah, ditakuti oleh dunia. Si Bahupada namanya adalah binatang melata yang sangat banyak kakinya, terutama yang mengandung racun, baik yang besar maupun yang kecil tubuhnya. Si Jaloka namanya adalah setiap yang posisinya memunggungi air, hidup dari mengisap darah manusia, darah binatang piaraan, darah binatang hutan. Itulah Jaloka seperti Lintah, Kapilanduh dan sejenisnya. Itulah Sarisrepa, Pipilika, Bahupada, Jaloka, Tattwa yang ada di bawah tingkatannya. Pada akhirnya itulah disebut mahapataka yang ada di dunia, ditakuti oleh manusia. Kesimpulannya, semua itu melebih dari tingkatan candala [budhi rendah]. Seperti berikut inilah apa yang disebut candala.

Pakûìóàng kàka caódalaá, måga caódàla garddhabhaá,

buddhinang kopa caódàlaá, sarwwa caódàla durjjanaá.

Makud dari ucapan sloka tersebut adalah

[8b]

di antara bangsa burung, tidak ada yang lebih rendah kualitas budhinya daripada burung Gagak. Di antara binatang hutan, tidak ada yang lebih rendah kualitas budhinya daripada binatang Gardhaba. Dalam hal buddhi, tidak ada yang lebih rendah kualitasnya daripada orang yang bersifat kopa. Yang disebut kopa adalah sifat yang gusar dan marah. Semua kualitas budhi yang rendah-rendah itu dikalahkan oleh manusia yang berbudhi rendah, yaitu manusia yang sangat durjana.

Krùràñ capala hastañca, hingsa kàrmma paràyaóaá,

parawìtta para strì ca, kûaóikan narakang gataá.

Maksud dari ucapan sloka tersebut, bahwa manusia itu apa pun sejatinya, sekujur tubuhnya meskipun Brahmana maupun yang berbudhi kejam, hasta [tangan/delapan] itulah kehinaannya. Parawita adalah menginginkan milik yang bukan miliknya. Parastri adalah mengambil istri orang lain. Hingsa Karma Parayana adalah sakti di dalam membunuh-bunuh manusia sesamanya.

Ketika manusia yang berdosa maupun manusia yang tidak memiliki dosa itu sampai menemui ajalnya, maka orang seperti itu tidak urung jatuh di naraka loka. Ketika datang kematiannya, datang dan pergi ia, segera jalannya menjuju neraka, tidak lama mereka dipenjarakan oleh Sang Hyang Yama. Itulah sebabnya orang yang memiliki tujuan pada dharma, dengan ketetapan hati sungguh-sungguh melakukan kebaikan. Beginilah ucapannya di dalam Shastra.

madhuwat dåûþi somyéna, puûpawàttandiwàcakaá,

na paro pataá saá kàryyé, swargga pràpyanna sangúayaá.

Maksud dari ucapan sloka tersebut, bahwa manusia itu seluruh tubuhnya, sekelahirannya, apabila memiliki budhi yang baik, dan kebaikan pula yang dilakukannya, pandangan matanya kelihatan seperti manisnya madu, ucapannya seperti wanginya semua bunga. Adapun ketika

[9a]

melaksanakan pekerjaan, apa pun yang dikerjakannya tidak sampai membuat merasa panas orang banyak, melainkan rasa kàruóa [cinta kasih], rasa riang gembira dan pemaaf, rasa toleransi yang dirasakan oleh mereka. Seperti itulah tata caranya menghadapi kumpulan orang banyak. Apabila ada manusia yang seperti itu kualitas dirinya, niscaya orang itu akan mendapatkan alam sorga, dan termasuk di dalam penjelmaannya nanti akan menemukan kebaikan. Janganlah merasa ragu-ragu, sorgalah yang akan ditemukan olehnya, [karena] agama tidak berbohong.

Setelah selesai tentang baik dan buruk diajarkan berdasarkan Shastra, tersebutlah tata cara tentang Catur Yuga Karya, yaitu: Krêta Yuga,Traita Yuga, Dwàpara yuga, Kali yuga.

Bagaimanakah keadaan pikiran manusia pada masing-masing yuga atau tahapan jaman tersebut? Antara lain, seperti berikut ini:

Tapaá para÷ kåté yugé, traitaya÷ jñanam ityahuá,

dwàparam ityahùr yajñaá, dhanam éwang kalo yugé.

Ada pun maksud dari ucapan sloka tersebut, bahwa dahulu pada jaman Kreta yang diutamakan tidak ada yang lebih wishesa daripada pelaksanaan Tapa. Tapa itulah yang dimuliakan. Emas, permata, ratna, kencana, dipandang tidak mulia keadaannya, bahkan dipandang seperti rumput-rumput kering persamaannya [tidak memiliki harganya] menurut pikiran manusia pada jaman Kreta tersebut. Siapakah yang dianggap agung pada jaman seperti itu? Sang Brahmana Rsi Shiwa Sogata, mereka itulah yang dipandang memiliki sifat-sifat yang agung.

Adapun ketika jaman Traita Yuga, yang diutamakan tidak ada yang lebih tinggi daripada Jnana. Jnana itulah yang dipandang sangat mulia pada tahapan jaman itu. Emas, permata, ratna, kancana, merosot nilai kemuliaannya, dipandang tidak banyak kegunaannya. Siapakah yang

[9b]

Dipandang memiliki sifat-sifat yang agung pada tahapan jaman tersebut? Sang Ksatriya, mereka itulah yang dipandang agung.

Ada pun pada tahapan jaman Dwapara, yang diutamakan tidak ada yang lebih tinggi nilainya daripada Yajña. Yajña itulahlah yang dipandang sangat mulia pada tahapan jaman itu. Emas, permata, hanya setengah sisa kemuliaannya, itu disimpan oleh Sang Ksatriya, dipergunakan sebagai dana pada saat melaksanakan Yajña, dipersembahkan kepada Sang Brahmana Resi Shiwa Buddha, dan sebagai sarana di dalam peperangan yang diberikan kepada para patih, dan disumbangkan kepada perkumpulan-perkumpulan warga sebagai sumber biaya untuk mendirikan kahyangan terutama di dalam melaksanakan karya upacaranya. Ada pun di dalam hal dana, hendaknya diketahui perbedaannya, seperti itulah ajaran di dalam Sang Hyang Agama.

Annañca pàóa÷ kanakàdi ratna÷, dànañca wastra÷,

úayanañca bhoga÷, ratha úrìyàúwa÷ nagarañca dhatwà,

wipraya dànéá.

Beginilah awal mulanya dana diadakan pada jaman Dwapara Yuga. Macam-macam jenis dana yang ada, yaitu: anna adalah makanan, pana adalah minuman, kanaka adalah emas, ratna adalah permata, wastra adalah pakaian, sayana adalah tempat tidur, bhoga adalah segala yang dimakan, ratha adalah kereta, shriya adalah segala harta, aswa adalah kuda, nagara adalah kadhatwan.

Semua jenis dana tersebut dimiliki oleh orang yang memiliki kewibhawaan, dipersembahkan kepada Sang Brahmana ditempatkan di pinggir tempat melaksanakan upacara Yajña, itulah yang dinamakan Atidàna.

Swañca pi daryya÷, tanaya priyañca,

dhàtwà parényaá na punasta tåûóaá,

[10a

kàlé, na citta÷ samayànu màtram,

dwijé padé naiwa wadanti dànam.

Dan ada pula jenis dana yang diadakan oleh orang yang berkeinginan melaksanakan dana, misalnya: Swa adalah tubuhnya sendiri didanakan kepada orang lain, di kemudian hari ditebusnyalah dirinya dengan sarana emas, perak, berhasil dalam penebusan itu, itulah yang dinamakan Sharira Dana.

Dan ada pula jenis dana bernama Naridana, yaitu memberikan istri kepada orang lain, yang patut diberikan dana. Itulah Stridana namanya. Dan ada pula namanya Tanaya dana, yaitu putra-putrinya yang didanakan kepada masyarakat. Adapun anak laki-laki itu boleh ditebus dengan sarana penebusan yang memiliki nilai mulia. Apabila Putri Dana tidak boleh ditebus. Itulah Putri Dana namanya.

Ada pun Priya Dana, adalah anak istrinya didanakan kepada masyarakat. Anak istri itu boleh tanpa penebusan, boleh pula ditebus. Bagaimana caranya ketika memberikan dana? Di tempat Sang Brahmana melakukan Yajna, di sanalah tempatnya memberikan dana. Ada pun orang yang mengadakan dana, janganlah merasa terikat, janganlah dengan pikiran tidak ikhlas, jangan membicarakan besarnya nilai dana atau pun kecil. Janganlah seperti itu, terutama mengatakan kebesaran nilai dana berulang-ulang. Janganlah berlaku seperti itu, sangat besar resikonya.

Dhàtwà samaré ûudhìran parébhyaá,

jitwa suréndra hådayé po úùraá,

dhairyyànu bhawàtma na duhka÷ état,

mahàtidànam prawadanti santu.

[10b]

Maksud dari ucapan sloka itu, tersebutlah seorang raja yang berbudhi suci susila. Raja itu meminta dukungan kepada Sang Danasura, agar keberaniannya di medan perang disumbangkan kepada masyarakat ketika sedang dikalahkan oleh musuh yang luar biasa bengis. Adapun kalau musuh yang bengis itu mati olehnya, maka akan luar biasalah keutamaan Sang Danasura di dunia, termasuk sanak kerabatnya, dan tidak ketinggalan warga masyarakat. Apabila ia mati di dalam peperangan, janganlah hendaknya dijadikan kesedihan di hati oleh Sang Danasura.

Adapun Sang Sudhira yang tewas oleh Sang Danasura, dikalahkah oleh musuh yang yang sangat berwibawa, sangatlah utama kematiannya, benar-benar seorang Danasura namanya. Ia akan dipuji-puji oleh Bhatara Wishnu. Bagaimanakah keutamaan dari orang-orang seperti itu? Sorga Indra sebagai dewa utama pun masih kalah. Seperti itulah ajaran menurut Sang Hyang Agama.

Seperti itulah tata cara melaksanakan maha Atidana. Itulah yang bernama Yajña Wiúéûa. Itu dilakukan dahulu kala pada tahapan jaman Dwapara Yuga. Kebesaran Sang Ksatriya adalah pada jaman Traita, pada jaman Dwapara melakukan Yajnya melakukan dana itulah yang dilaksanakannya. Sang Wesya menjadi besar kebahagiaannya pada tahapan jaman Dwapara.

Adapun pada saat datangnya tahapan jaman Kali Yuga, seperti berikut inilah penjelasannya menurut Shastra.

Ni bija påthìwi loké, latani roûadhis tathà,

kûatryàngúaá nirdànaú caiwa, dwijàtir ati niskramaá.

Úudras tu witta wåddhisyat, anyàya wåtti wìryyawàn,

nir dharmma kåt mahà […]

[11a]

[…] rogi, ayuá kûayang kalo yugé.

Maksud dari ucapan sloka tersebut, pada saat datangnya jaman Kali, tanah berkurang mengeluarkan segala jenis umbi-umbian, dan tanaman merambat tidak lagi bisa dirasakan sebagai obat, Sang Ksatriya tidak melaksanakan dana, tidak memiliki emas perak, derajat kewangsaannya hilang, para raja binasa, Sang Ksatriya menyimpang perilakunya, terutama Sang Brahmana luar biasa menyimpang perilakunya, tanpa tata cara, etika, dan pengendalian diri para warganya berkurang.

Ada pun Sudra berkembang harta emas peraknya, masing-masing mengatur perilakunya yang kekuatannya sangat besar. Orang yang nista, walau benar-benar baik budhinya namun sangat menyedihkan, sangat berduka ia, tidak ada orang melakukan Punya, memberikan Dana, dan melaksanakan Dharma. Dunia ini dipenuh-sesaki oleh kerusakan-kerusakan, banyak penyakit, wabah berjangkit, kacau balau tatanan jagat, hidup manusia sangat memperihatinkan, banyak yang tidak bisa mencapai batas usia hidupnya. Seperti itulah kehidupan dunia pada tahapan jaman Kali Yuga.

Berapakah usia manusia pada masing-masing tahapan jaman tersebut? Itulah yang akan aku ajarkan sekarang ini, begitu ujar Sang Hyang Agama Widhi.

Koþi kåtayugé warûam, traitaya÷ lakûa jìwita÷,

yo dwàparé sahasra smin, warûa÷ úatang kaloyugé.

Maksud dari ucapan Shastra itu, bahwa masing-masing usia manusia pada Catur Yuga [empat tahapan jaman], adalah seperti berikut ini perhitungan tahunnya. Pada jaman Kreta Yuga usia manusia rata-rata mencapai 100.000 [seratus ribu] tahun, jiwanya tidak ada hambatan

[11b]

berupa kehancuran, kesusahan, peperangan. Tidak ada bayi yang mati di dalam kandungan, dan tidak ada orang yang mati usia muda, kebanyakan kalau mati pada saat tua renta. Tidak ubahnya seperti permata yang mengeluarkan tirtha mahamerta budhinya manusia, suci berkilauan, tekun melakukan Tapa. Yang dimaksudkan dengan Tapa adalah perbuatan “mematikan” indriya, Sadripu [enam jenis musuh] itu dipanaskannya tidak dibiarkan mencari objek-objeknya masing-masing. Yang mana sajakah yang disebut sebagai Sadripu atau enam musuh itu? Kama [nafsu]. Krodha [marah]. Lobha [serakah]. Moha [bingung]. Matsarya [irihati]. Hingsa [melakukan tindak kekerasan]

Yang dimaksud dengan Kama adalah keinginan. Krodha adalah amarah. Lobha namanya menginginkan milik orang lain tidak karena diberikan, tanpa dana. Moha namanya bingung karena bodoh. Matsarya namanya perasaan iri pada sesama hidup tanpa alasan yang jelas. Hingsa namanya segala diperangi asyik membunuh-bunuh, tidak memandang manusia berdosa atau tidak berdosa. Itulah Sadripu atau enam jenis musuh, sebagai musuh dari pelaksanaan Tapa.

Adapun Panca Indriya itu, lima macamnya, yang manakah itu? Seperti berikut ini perinciannya: Wàk [mulut]. Pàói [tangan]. Pàda [kaki]. Payu [anus]. Paûþa [kemaluan].

Seperti berikut inilah objek-objek yang melekat padanya. Kesalahan dari mulut adalah apabila mengeluarkan ucapan caci maki yang kasar. Kesalahan dari tangan adalah ketika mengambil milik orang lain, menampar, menepuk, menggelitik. Kesalahan dari kaki adalah ketika menginjak-injak, menendang. Kesalahan dari pantat adalah ketika mengeluarkan kentut dan kotoran. Kesalahan dari kemaluan adalah ketika mengencingi dan mengawini istri

[12a]

orang lain, menggaul-gauli perempuan yang tidak patut disenggama-gamai. Itulah halangan dari Panca Indriya yang dipandang sebagai musuh dalam melaksanakan tapa [pemanasan dari dalam diri].

Berikut ini adalah Panca Karma Indriya, ada lima macamnya. Yang mana saja di antaranya? Seperti berikut ini: Twak [kulit]. Cakûuh [mata]. Jihwa[lidah].Graóa [hidung]. Úroté [kuping].

Yang namanya Twak Indriya sifatnya adalah tidak ingin bersentuhan dengan yang kasar-kasar, yang menyebabkan rasa gatal, yang membuat kepanasan, yang membuat kedinginan. Caksu Indriya adalah indriya yang sifatnya tidak ingin melihat segala bentuk yang buruk-buruk. Jihwa Indriya adalah indriya yang tidak ingin merasakan yang tidak ada rasanya.

Ghrana Indriya adalah indriya yang sifatnya tidak ingin mencium atau mengendus bau-bauan yang tidak harum. Srota Indriya adalah indirya yang sifatnya tidak ingin mendengarkan ucapan buruk yang tidak enak didengarkan. Itulah kesalahan dari Panca Karma Indriya. Semua itu dipandang sebagai musuh dari pelaksanaan tapa [pemanasan dari dalam diri].

Itulah sebabnya Panca Indriya dan Panca Karma Indriya pertemuan keduanya disebut menjadi Dasa Indriya, yang dibarengi oleh Sad Warga Ripu yang berjumlah enam macam. Itulah sebabnya menjadi enam belas kecacatan namanya, yang dipandang sebagai musuh di dalam melaksanakan Tapa. Ingat-ingatlah tentang semua itu tidak ada di dalam budhi manusia pada jaman Kreta Yuga. Itulah sebabnya orang-orang pada jaman Kreta tersebut sama-sama mencapai alam moksa.

Adapun usia manusia pada jaman Traita yuga adalah mencapai 10.000 [sepuluh ribu] tahun. Jnana itulah dipandang sebagai yang paling utama. Yang manakah disebut Jnana? Seperti berikut ini perinciannya: Dharaóa, Dhyana,Yoga, Samadhi, Ishwarapraóidhana, Tarkka, Kashunyan. Itulah yang disebut Jnana

[12b]

yang dipandang sebagai jalan bagi Sang Pendeta pada jaman Traita Yuga untuk sehingga bisa pada alam moksa. Sedangkan pada jaman Dwapara Yuga rata-rata usia hidup manusia adalah mencapai 1000 [seribu] tahun. Perilaku manusia pada jaman tersebut sangat mengutamakan pelaksanaan Yajna. Yang mana sajakah yang disebut Yajna? Seperti berikut ini adalah perinciannya: aúwamédha yajña [yajna persembahan kuda], måtyuñjaya yajña [yajna kepada Dewa Kematian], paúupati yajña [yajnya kepada Shiwa Pashupati], bràhmà yajña [yajnya kepada Brahma]. Seperti itulah semuanya, dengan yajnya tersebut, maka berputarlah dana dan berjalanlah dharma.

Tersebutlah seorang Brahmana, yang melaksanakan Dana Prati Graha menerima dana, berbeda halnya dengan Brahmana pada jaman Kreta Yuga. Sedangkan rata-rata usia hidup manusia pada jaman Kali Yuga mencapai 100 [seratus] tahun. Kehidupan manusia pada jaman Kali, dana itulah yang dipandang utama, tidak ada yang lain. Yang manakah disebut dana? Mas, perak dimuliakan, biarpun manusia kualitas rendahan, apabila kaya dengan emas perak, mereka itu disebut utama. Tidak ada lagi yang namanya kewangsaan. Buddhi manusia terbalik, berbeda dengan ketika jaman Kreta dan pada jaman Traita serta jaman Dwapara. Sebabnya Kali sebagai perwujudan dari Budhi Kala, manusia Catur Janma [manusia dari empat tingkatan penjelmaan] itu menjadi linglung, tidak lagi ada Brahmana, tidak lagi ada Ksatriya, tidak lagi ada Wesya, Sudra, sehingga berubah menjadi kehancuran manusia itu, karena tidak melaksanakan Tapa, tidak memahami Jnana, dan tidak melaksanakan Yajna.

Ékacit kåta jantanam, trayo cit traita wåttiké,

dwàparé japtu cit dwiya, kàlo cit céndriya gramaá.

Maksud dari ucapan sloka tersebut, bahwa manusia pada jaman Kreta Yuga memiliki sifat Eka Citta, yaitu satu pikiran manusia pada tahapan jaman itu, pikirannya semata-mata pada Param Wairogya,

[13a]

yaitu tidak ada kesenangan, dan rasa dengki, tidak ada rasa iri hati, tidak ingin. Itulah yang disebut sebagai budhi Tan Pamalih namanya, itulah sebabnya disebut dengan istilah baku Eka Citta.

Adapun pada jaman Traita Yuga, sifat perilaku manusia itu disebut Trayocitta, yaitu bercabang tiga pikiran manusia itu. Yang mana sajakah ketiga percabangan dari pikiran tersebut? Punya, bhakti, welas asih pada sesama makhluk hidup, walaupun kepada segala macam binatang sekali pun, apabila mendapatkan lara tetap dikasihaninya. Rela dirinya menderita asalkan orang lain mendapatkan kebahagiaan. Seperti itulah sifat-sifat budhi manusia pada jaman Traita Yuga, berbelas kasihan kepada segala yang tumbuh atau segala yang hidup.

Yang disebut Punya adalah menjaga atau melindungi setiap yang menjalankan dasar-dasar yang benar, atau Sila Yukti, tidak dibedakan dengan tubuh, setiap budhi yang suci itulah yang diinginkan oleh hati. Itulah sebabnya Jnana dari semua orang itu menjadi suci pada kondisi seperti itu.

Yang dimaksudkan dengan Bhakti adalah rasa hormat pada orang tua. Setiap yang dipandang sebagai orang tua, dihormatinya. Bhakti kepada guru, setiap yang disebut guru oleh jagat, sampai pada para pertapa senior, dan kepada Sang Brahmana Shiwa Budha, terutama pada Lingga Kahyangan, segala yang didirikan, baik Shiwa Purusha, Pradhana Pashupati, Wishnu Pratista, maupun Shiwa Nirbhana.

Semua itulah yang dihormati oleh manusia pada jaman Traita Yuga, karena awal mulanya ada kahyangan dewa pada jaman Traita muncul dari dalam jnana Sang Mahan [orang yang berjiwa besar, atau telah bersatu atmanya dengan Paramatma], itulah sebabnya kahyangan itu dikatakan sebagai Wrêddhà Jñàna, karena sebagai tempat kedudukan dari Sang Hyang Catur Wija Aksara [empat biji aksara suci] adalah Lingga Kahyangan itu.

Adapun orang pada jaman Dwapara Yuga, dua

[13b]

cittanya, atau dua tujuan dari pikirannya. Yang mana itu? Seperti ini: Pikirannya dipenuhi oleh Guna Adi dosa, apabila baik kualitasnya dipujalah oleh seluruh dunia, namun apabila besar kesalahannya maka dicelalah ia oleh seluruh dunia. Itulah sebabnya pada jaman Dwapara Yuga, keadaan manusia dipenuh-sesaki oleh nafsu keinginan dan dosa. Ada pujian ada celaan, ada sifat-sifat welas asih, ada sifat Punya, ada rasa bhakti, ada pula ganjaran, karena dosa atau kesalahan itulah yang memunculkan adanya hukuman. Itulah sebabnya terdapat kebencian.

Ada pun yang disebut guóa itu akan memunculkan Kama. Yang disebut kama adalah raga. Raga adalah keinginan atau kesenangan atau nafsu. Dwesa adalah rasa iri atau rasa kebencian. Sebabnya dikatakan ada peperangan, karena Sang Brahmana menerima dana pada jaman Dwapara pada mulanya. Sang Catur Janma semuanya terkena oleh kesenangan dan kebencian. Asal mula dari manusia itu terkena hukum tua dan mati, seperti itulah pada awal mulanya.

Setelah berlalu jaman yang disebutkan di atas, manusia pada jaman Kali Yuga, karena berbadankan Kala manusia itu pada jaman Kali, dipenuhi oleh Panca Indriya, Panca Karma Indriya, Sad Warga Ripu. Itulah sebabnya jumlah kecacatan yang ada adalah sebanyak 16. Ada orang pada jaman Kreta Yuga memiliki budhi manusia jaman Kali, karena tidak ingat dirinya hidup pada jaman Kreta Yuga, meskipun ia dalam keadaan sekarat atau “mati”. Setelah semua sisa-sisa perbuatan itu dinikmatinya, maka

Na wandya patitaá dåûþa kaliyugé,

Sedangkan atmanya tidak urung akan jatuh di jaman Kali, apabila tidak ingat dan sadar pada sifat-sifat buddhi orang yang hidup

[14a]

pada jaman Kreta Yuga, persamaannya seperti ikan yang hanyut dialiran air deras, pada saat rebah gunung hidupnya merosot ke bawah.

Tidak diceritakan tentang manusia pada jaman Traita, karena lebih di bawah jamannya daripada Kreta Yuga, meskipun pada jaman Kreta Yuga juga seperti itu. Maksudnya, orang yang tekun mengusahakan dharma yang baik, janganlah sampai tidak mempersiapkan diri berpegangan pada buddhi yang suci, sengan harapan semoha kembali berbadankan dewa, sorga adalah pahala yang diusahakannya. Ada pun kemoksaan itu sifatnya adalah benar-benar amat susah sekali, tidaklah mudah orang mencapai kemoksan itu, karena bersifat “parama acintya” [tidak bisa dicapai dengan pikiran], sehingga salah apabila dibayangkan, sehingga tempat seperti sorga itulah yang dibicarakan. Pada orang yang tekun mengusahakan Dharma, yang manakah itu, yaitu orang yang hidup pada masa Kali Yuga, ingat ia pada bahayanya jaman kehancuran Kali itu, maka berpeganganlah ia pada dharma, dan pertautannya dengan Acintya Jnana Paramartha, benar-benar dirimu hidup pada jaman Dwapara.

Dan apabila dirimu ingat akan jaman Dwapara, berpegangan pada Acintya Jnana Paramartha, maka benar-benar dirimu seperti hidup pada jaman Traita. Dan apabila sadar dengan jaman Traita, berpeganganlah pada Acintya Jnana, maka benar-benar dirimu seperti hidup kembali di jaman Kreta.

Seperti itulah brata Sang Hyang Atma, apabila sedang dimerosotkan oleh enam belas macam kecacatan, maka dengan sendirinya akan sulitlah kembali pulang ke alam Parama Kewalya. Ada pun apabila ingat pada saat itu, itulah yang dinamakan Jati Smaraóa. Yang dimaksudkan dengan Smarana adalah orang-orang yang mengetahui isi dari kesadaran yang suci, yaitu ingat

[14b]

selalu, diumpamakan tidak ubahnya seperti ikan yang hendak menyongsong air yang mengalir dari gunung. Air itu kelihatannya jernih, maka ingatlah ikan itu, yang kelihatan jernih itu adalah air, maka di sanalah ia kembali ke tempatnya semula. Seperti itulah keadaan Sang Hyang Atma terhadap enam belas macam kecacatan tersebut. Karena amat sangat kotornya, itulah sebabnya maka jernihkanlah Jnana itu dari kekotoran enam belas kecacatan tersebut, seperti berikut inilah menurut ajaran agama:

jaléna jànita÷ pangkam, jaléna pariúudhyaté,

citténa janita÷ pàpam, citténa pariúudhyaté.

Ini adalah Brahmokta Widhi Shastra, milik Nyoman Rai di Pranaraga. Maafkanlah shastra [bentuk tulisan] ini yang tidak bagus, yang tupang tindih, karena oleh orang yang bodoh, tapi ingin dapat memiliki [lontar], hendak meminjam tapi tidak dapat, saat selesai menyalin pada: Rah 4, Tenggek 2, Tahun Shaka 1825. @

Leave a comment

Filed under Articles

Indik Sesananing Wiku

Dvijati utawi Wiku / Pedanda ring agama Hindu ring Bali marupa rohaniawan sane dahat kautamayang linggihnyane, dwaning kasinanggeh sampun maraga suci. Ngulati Kawikon punika, nenten cukup kedasarin antuk pengetahuan miwah kasulukan pikahyun utawi sangkaning pinunas sisya kemanten, nanging patut kategepin antuk Sila-Sila sane nyihnayang sang calon diksha wantah sehat walafiat lahir bathin tur tan cedangga, meparilaksana sane becik, selantur ipun taler pacang ketatasan malih olih sisya / masyarakat sami. Sila utawi kasusilan punika wantah marupa dasar sane pinih utama, tur kategepin antuk sesana, tata susila, silakrama, keanggehang sakeng kahuripane sane serahina-rahina pinih untengnyane. Puniki sane dados dharma tetimbang sakeng calon Guru Nabe, sadurung jagi nyuciang calon nanak utawi sisya dados dwijati. Ring sajeroning sesana kawikon paiketan sisya kelawan nabe wenten sesana silakrama aguron-guron sane nenten dados kepasahanang manut kecap swargan sisya – swargan nabe, nerakan sisya – nerakan nabe”. Artos ipun tan patut utawi piwal (jele / melah) pidabdab sisya, jagi mekantenan tan taler patut ring linggih nabe. Paiketan puniki “paguron-guron” inggih punika bratha (disiplin) lan kepatuhan sisya, nenten ring nabe kemawon, taler patut ring Guru Patni (Istri nabe), Guru Putra (putra nabe), Guru Wesi (cucu nabe) lan Sanak Sandekan (Semeton ring dharma nabe / para wiku seperguruan).

Padiksan kadi sane kermargyang rahinane mangkin marupa lanturan acara Rsi Yajna inggih punika : mawinten (ngadegang pemangku / ekajati), madiksa upacara madvijati (sakeng walaka dados wiku / panditha), ngawangun parhyangan / kusala, madana punya ring sulinggih, tegep ring ajaran-ajaran sang acharya / para sulinggih utawi calon sulinggih).

Patut kawikanin sareng sami, sang maraga sulinggih ring agama Hindu ring Bali kaiket antuk sesana sajeroning kahuripane. Wenten catur paiketan sane patut pageh-pagehen keamongin olih sang sulinggih sane kebawos “Catur Bandana Dharma”, inggih punika :

1. Amari Sesana, teges ipun, sang maraga sulinggih patut ngentosin sesana miwah swadharmaning walaka antuk sesana miwah swadharmaning kasulinggihan (Siva Sesana, Wrti Sesana, Rsi Sesana). Nenten patut malih sang sampun madiksa ngambil pakaryan sang walaka, mekadi “adual-atuku” utawi jual-beli, miwah saluwiring sesana sane kemargyang olih sang durung madwijati. Yan durung andel ngamong sesana janten ngawinang kawon.

2. Amari Wesa, teges ipun ngentosin ceciren pengadegan mekadi nenten malih dados macukur, yening medal setata makta tateken, miwah sane sewosan.

3. Amari Aran, teges ipun magentos biseka utawi pesengan sang sampun madwijati, nenten malih nganggen pesengan sane walaka, nanging sampun kagentosin antukpanugrahan biseka utawi paica Nabe inggih punika : Walakalanang …………………………………………. abiseka nama …………………………………., Walaka Istri abiseka nama ………………………….. Ida Pedanda Istri ………………………….

4. Umulahaken dharma mwang kaguru susrusan, teges ipun stata ngelaksanayang ajaran agama (satyam, sivam, sundaram), pageh tur tegep ring separititah Nabe. Tan pisan patut pacang nungkasin Nabe.

Punika awinan sadurung resmi dados wiku patut katureksanin rihin olih Calon Nabe. Dwaning abot pisan pacang ngamong sesana punika, pinunas tityang ring pasemetonan utawi sisya, masyarakat mangdane sareng ngeremba sang pedanda anyar mangdene prasida stata ngamong kasucian miwah sesana. Dwaning yan parilaksana wikune kapungkur simpang ring sesana, boya wantah pacang nyepungin linggih nabe miwah anggan idane, nanging teler pacang ngawinan penilaian nenten becik ring agama Hindu druwene ring Bali.

Ida Dane sane wangyang tityang,

Anutang ring perkembangan kawentenang jagate sekadi mangkin, sane sayan nincap sajeroning pembangunan pisik material, patut pisan mangda taler prasida kasarengin antuk utsaha-utsaha nincapang pembinaan spiritual. Punika awinan para wiku nenten cukup wantah muput yajna kemawon, nanging patut taler sareng ngemban umat druwene ngicenin pituah-pituah (upanisad), piteket-piteket ri sajeroning indik agama, ugama lan igama utamanyane ritatkala pacang ngemargyang yajna, mangda prasida setata pageh ring kedharman.

Sapunika taler umat sedharma mangdane nyaggra Ida Pedanda, boya wantah maturan ritatkala Ida muput kemanten, nanging patut taler pikahyunin sareng sami kesejahteraan para Sulinggih (Rsi Rna), mangda Ida prasida ngulengang swadharmannyane sane keaptiang.

Lontar Agastya Parwa indik Rsi Yajna :

Rsi Yajna ngaranya kapujan ring panditha sang wruh ring kalinganya dadi wwang (berbhakti kepada para pendeta dan pada orang yang tahu hakikat diri menjadi manusia / kurban suci keagamaan dari ummat demi kesejahteraan para Rsi / pendeta atau punya bagi orang-orang suci sebagai pemuka agama yang mengamalkan ajarannya)

Indik Diksa dalam kitab Yajur Veda XX.25 :

“Dengan melakukan brata seseorang memperoleh Diksa, dengan melakukan Diksa seseorang memperoleh Daksina, dengan Daksina seseorang memperoleh Sraddha, dan dengan Sraddha seseorang memperoleh Satya” (Lokapalasraya & Aguruloka / Nabe)

Pelaksanaan Rsi Yajna antara lain :

– Mawinten, upacara penobatan seorang calon pemangku (pinandita)

– Madiksa, upacara madwijati seorang walaka menjadi sulinggih

– Membangun tempat pemujaan untuk beliau

– Menghaturkan dana punya untuk sulinggih

– Mentaati dan mengamalkan ajaran-ajaran para sulinggih

– Membantu pendidikan agama bagi calon sulinggih

Wewenang diksa secara umum :

– berbuat kerti : menolong semua mahluk khususnya

manusia

– taat dengan brata : taat pada pantangan Yama / Niyama Brata

– Akrodha = Krodhat bhavati samamohah, sammohat smrti wibramah, smrtibhramsad budhinaso, buddhinasat pramasyati : (dari marah timbul kebingungan, karena bingung ingatan menjadi kalut, karena kalut kebijaksanaan lenyap, karena lenyapnya kenijaksanaan maka sesorang akan hancur),

– Sauca = sauca ngaranya nitya majapa maradina sarira (tetap berdoa membersihkan tubuh),

– Aharalaghava = ngaranya adangan ring pinangan, tanpinangan asing dinalih camah ring loka, kunang yang amangan asing dinalih camah de sang suddha brata, tan brahma saiva sogata ngaranya, janma tuccha ngaranya, yeka pataka, tan wurung tumampuh ring kawah temahnya,

– Apramada = apramada ta kita tan paleh-paleha asing sakaryanta, nguniweh sapangutus sang guru.

– Samadi : ajaran Yoga (Asana, Pranayama, Darana, Dyana, Pratihara, Yama, Niyama dan Samadi)

– Aji Adyatmika : ilmu kebatinan

– Aji Tarka : mempelajari huruf suci dalam badan

– Trikaya Parisuddha : 3 (tiga) perbuatan yang patut disucikan

– Sojaring Manu : tahu dan mengerti ajaran suci (Manawa/Sasana)

– Kamoksan : tujuan hidup bersatu dengan Ida Sanghyang Widhi

– Asta Brata : Akrodha (tidak marah), Satyam (tepat janji), Samwibaga (adil dan jujur), Arjawam (berpendirian teguh), Sekapraya (senang membantu), Awyawahara (menghindari pertengkaran), Wakpurusya (berbudi, bertutur yang baik), Saputram (mempunyai keturunan yang sah).

Wruha Sri Aji prabhedaning Wiku, mwang wistarakenanta, lwirnya :

1. Wiku Pancer nga. : langgenga ring papa retane, dina wengi ginrehita, amolih guruyuga, maka byuh gelar prayane kawula, tur makweh makarma, dadi tan tunggal paksa rabi ya.

2. Wiku Candhana nga.: wiku atunggu aji, yan candhi prasadha sinungsung, aguru kahyangan ring dewa idhepe.

3. Wiku Pangkon nga. : wiku tan saksine, aguru ring kabyuhdayan idhepe, paramajnana idepe.

4. Wiku Ambeng nga. : tumut alayaran, karyaning bandadagangan, pasisihan saha wisayanen ngadol.

5. Wiku Palang Pasir nga. : wiku amancing pangupadesa, den kajar kawruha ring len, sanggonya gumunggung kawruhannya, apan guru ya mancer gumancing den palakon.

6. Wiku Sabha Wukir nga. : wiku agawe ayu, anuduh rahayuning pitara mati, apan mangurwang mas pirak, ketung guru yagane, den palakon, mwang phala bhoga, milu karyaning suratman sukha-duhka abeberukan.

7. Wiku Sanghara nga.: wiku amet wirudha ring walaka, animpang gurunya.

8. Wiku Grahita nga. : wiku amalih guruning waneh, teher bwat pracaleng ring Sang Pandhitadiguru.

9. Wiku Brahmacarya : tan duka ring rat

10. Wiku Grahasta : tusta amuruka ring aji

11. Wiku bhiksuka : dredha tang amiweka sastra

12. Wiku Wanaprasta : anusup atatapa, tan kneng stri

Rsi Sesana :

Kayatakna de sang Rsi, sang anggadoh sisya putra potraka ajar-ajar, ungon-ungon, parabaru, parakili, parapuputut, paraindang mwah para guntung, paramanguyu, parabaruniti, paracantrik, sami kumayatnaha, sarasaning Rsi-sesana, taya-taha; anaha kang amikaen pager arang, anglumpatana pager andap, mendek-mendekari apadang, aling-alingana katon, salwiraning lumaku dusta; ika ta katundung arusak, kajaraha sarajadrewene, kapupulana wong desa. Yamametugepeng kaparekena ring wates kasudukana ring andong, pati wangi nga.

Mwah yang hana kang amarabanga, amurugula, hana kang amurukununga, hana angentelana, hana kang alalawanana …(1600)… yan tan hana kayep, katabuhana penengen, urudakena tur jarahen danda pati nga.

Mwah wang anguntung, amanguyu, babarua kunang, yang lumaku anayab, amamalimg, yan hana dadi kadang mitranipun angalangi kakayopan …(1600)…; ahurip deniya, yan ahana angali gagadenengen, aparakena ring wates, tumbakana roning andong, turahakna pati wangi nga., ika udug edan malania.

Mwah puput anglawani indang-indang wong liyan kang awokani, tan hana pacorake mwang jalu istri, lanji kamenyeton, kakayep tinanggung …1600…, sepaha sisih, danda wangi nga.

Mwah yan hana wang alpa ring sang adiguru, kakayop …1600…, danda pitutur nga.

Mwah aja ngalap rabining guru, hana putuning guru, sanak sang guru, udug tan paturas kita, aywa ling linyok sang guru : binanyu mili kita,

aywa ngiliri gni tan panombah : tan parupa kita,

aywa angluhuri tan panombah : tan pawreta kita,

aywa nikelakon tuduh : tikel ing delahan kita,

aywa mada-aywa anyele : tan palambe kita,

aywa nglereki : dileng kita delaha,

aywa anudingi guru : picek kita,

aywa mareki guru, awak juta, ganga kayu daun lepanata. Yan anurukaken ring guru, tan kawasa yan tan amapaga ring paprasan, dupanamar, sasaring dewa nga. dadi pandita.

Aywa angideki riringgitan guru : pincang kita,

aywa anadaga guru : tan pasuku kita,

aywa amati guru : wudug pada samangko kita,

aywa amangan pareng awusan : kahonten sri kita, kari kita wusan, yan angaruhuni adus: bule kita,

aywa ahidu ariak ring arep sang guru : bacet catu kita, aywa anulis lemah areping guru : duguding wesi kita, mangkana dasasilaning guru.

Leave a comment

Filed under Articles

Dosa Mahapataka

DOSA, PAPA DAN PUNYA

Doṣapāpa, dan puṇya adalah 3 buah kata yang tampak saling berkaitan.  Doṣa dan pāpa atau pāpā di dalam bahasa Inggris diterjemahkan ke dalam kata sin, dan dalam bahasa Sanskerta adalah pāpam, pātakam, kalmaṣam, duritam, agham, duṣkṛam, vṛjinam, aṁhas, kilbiṣam, dan lain-lain (Apte, 1987:427). Kata-kata tersebut di dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan kata dosa yang sama artinya dengan doṣa dalam bahasa Sanskerta. Berlawanan dengan kata doṣa dan pāpā dalam bahasa Sanskerta adalah kata puṇya yang terjemahannya dalam bahasa Inggris merit. Padanan kata lainnya dalam bahasa Sanskerta adalah guṇaḥ, yogyata, pātrata, utkarṣa, puṇyam, dharma, śreṣṭhata, viśeṣaḥ, sukṛtam,  śreyas (Apte, 1987:286).

Dalam susastra Jawa Kuno, kata doṣa berarti:

Dosa, kesalahan, pelanggaran ; (adj.) bersalah. Lihat juga istilah daṇḍadoṣa, guṇadoṣa, nirdoṣa, paridoṣa, sadoṣa, sthānadoṣa, sodoṣa. Terminologi tersebut terdapat dalam Virātaparva uteyty94; Udyogaparva 103; Uttarakaṇḍa 25; 68; Ślokāntara  30.10; Arjuna Vivāha 35.6; Ghaṭotkacāśraya 38.3; 42.3; Bhomakavya dan Kidung Harsavijaya 6.46 (Zoetmulder I, 1995:225). Kata pāpa dalam bahasa Jawa Kuno mengandung arti yang lebih luas, yakni:

1) dosa, kebiasaan buruk; kejahatan, kesalahan, hukuman/siksaan karena dosa. Terminologi ini dapat dijumpai pada Ādiparva 47; 81; Udyogaparva 9, Brāhmāṇḍapurāṇa 52; Rāmāyaṇa; Sutasoma 34.8: nora pāpa kadi pāpa niṅ anak atiduṣṭa riṅ yayah.

2) kemalangan, kesusahan, kesukaran, kesukaran, keadaan yang tidak menyenangkan, kesengsaraan. Dapat dijumpai dalam Virātaparva 75; manahên pāpa; Agastyaparva 366; Arjuna Vivāha 16.9: lêhêṅa juga ṅ pêjah saka ri pāpa pāpa anahên iraṅ lawan lara. Smaradahana 24.8,

3) jahat, buruk, jelek, nakal, celaka, malang, sengsara, orang jahat, penjahat, orang yang berdosa. Lihat juga : atipāpa, mahā pāpa, mahātipāpa. Virātaparva 31; Bhīṣmaparva 111; Uttarakaṇḍa 44; Sutasoma 35.7;  Kidung Harsavijaya 3.95: woṅ pāpa kawêlas hyun  (Zoetmulder I, 1995:758).

Agama Hindu pada dasarnya sangat konservatif, dan banyak aturan yang digunakan termuat di dalam kitab suci Veda dan masih efektif diikuti untuk aktivitas rutin sehari-hari oleh jutaan umat Hindu. Beberapa di antaranya adalah ajaran Karmamārga (jalan kerja). Agama Hindu seperti agama-agama tradisi lainnya, selalu mengingatkan pada pentingnya penekanan pada pelaksanaan etika dan moralitas yang masih terpelihara, tetapi juga selalu diperbaiki. Gagasan terhadap hukuman dan pertobatan terhadap dosa menempati posisi yang luas dalam kehidupan kebanyakan umat Hindu. Upacara siklus hidup yang disebut saṁskāra menunjukkan hal itu, tidak hanya diikuti oleh anggota ke dalam tingkatan hidup selanjutnya, tetapi juga mengembangkan kekuatan spiritual mereka dan meyakini kebutuhan personal mereka (Klostermaier, 1990:146).

Di dalam Bhasmajabalopanisad (165) yang merupakan Upaniṣad yang bersifat Śaivaistik, dijelaskan pahala bagi mereka yang mempergunakan atribut (lakṣaṇa) yang berkaitan dengan sekta ini, di antaranya tripuṇḍra, yang merupakan tiga garis sejajar dioleskan pada dahi sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa Śiva yang terbuat dari abu. Di dalam Upaniṣad tersebut dijelaskan tentang keutamaan dan kesucian penggunanan abu (vibhuti) yang dibuat dari kotoran sapi, dan bagaimana abu tersebut digunakan.

“Untuk para  Brāhmaṇa  mengenakan  bhasma  (abu) merupakan perilaku yang baik dan benar. Tanpa menggunakan tanda-tanda tersebut, seseorang tidak dapat minum atau mengerjakan sesuatu. Hendaknya ia menggunakan tanda-tanda (dari abu) itu dengan diikuti pengucapan  gāyatri-mantra atau mempersembahkan sesajen pada api suci. Dengan menggunakan tanda-tanda itu seseorang berjalan di jalan yang benar untuk menghancurkan semua dosa dan mencapai keselamatan (mokṣa) ….. Ia yang menggunakan tanda-tanda dari abu tersebut pada pagi-pagi benar, yang bersangkutan akan dibebaskan dari segala dosa yang dilakukan pada malam sebelumnya, termasuk juga dosa yang berasal karena mencuri emas. Ia yang melakukan (dosa) pada siang hari dan bermeditasi kepada matahari, dibebaskan dari dosa akibat menikmati minuman yang memabukkan, mencuri emas, membunuh  Brāhmaṇa, membunuh sapi, membunuh kuda, membunuh gurunya, dan membunuh bapak dan ibunya. Dengan memohon perlindungan melalui abu suci itu tiga kali sehari, ia memperoleh pahala dari belajar Veda, ia memperoleh kemuliaan (jasa baik) karena menyucikan diri di seluruh 35.000 patīrthan (pura tempat air suci), ia mencapai kesempurnaan hidup” (Klostermaier, 1990:153).

Di dalam kitab Chāndogya Upaniṣad (V.10.9-10) dinyatakan bahwa : “Ia yang mencuri emas, yang minum minuman keras, yang tidak menghormat tempat tidur gurunya, ia yang membunuh Brāhmaṇa, keempat orang itu jatuh dalam dosa (mahāpātaka), dan yang kelima adalah yang bergaul dengan mereka. Tetapi, orang yang tidak ternoda oleh kejahatan, walaupun ia bergaul dengan orang yang demikian. Ia menjadi suci, bersih, mencapai dunia kebajikan (puṇyaloka), ia yang mengetahui hal ini, sungguh ia mengetahuinya” (Radhakrishan, 1990:434).

Selanjutnya Manusmṛti (VIII.381) menyatakan: “Tidak ada perbuatan kriminal yang lebih besar dari perbuatan membunuh Brāhmaṇa, karena itu hendaknya jangan sekali-sekali terpikir di dalam hati untuk melakukan hal itu” ( Pudja & Sudharta, 2004:429). Di dalam kitab yang sama (VIII.350-251) dinyatakan: “Seseorang boleh membunuh seorang pembunuh, tanpa ragu-ragu yang dengan maksud  membunuh apakah ia seorang guru, anak-anak, orang yang sudah berumur, atau seorang Brāhmaṇa yang akhli di dalam Veda. Dengan membunuh seorang pembunuh, pembunuhnya tidak berbuat salah (dosa), apakah ia lakukan di depan umum atau terang-terangan dalam hal itu kemarahan melawan kemarahan (Pudja & Sudharta, 2004:422). Di dalam Vaśiṣtha Dharmasūtra (III.15-18) dinyatakan bahwa seorang yang melakukan pembunuhan terhadap pelaku sad ātatāyi  (ātatāyin) maka pembunuh itu tidak dianggap melakukan dosa (Kane, II.1, 1974:149).

Di dalam Bhagavadgītā (XVI.21) disebutkan adanya tiga pintu gerbang neraka yang merupakan  doṣa  atau  pāpa  yang mengantarkan ke tiga pintu gerbang neraka, yakni : kāma,(moha),  lobha, dan krodha. Ketiga perbuatan buruk (pāpakṛt) merupakan  pāpa atau doṣa yang mesti dihindari oleh setiap orang, terutama yang ingin sukses menempuh jalan rohani (Tri Mārga).XA

Kitab Ślokāntara 75-78 membedakan 4 macam dosa, yakni doṣa pātakadoṣa upapātakadoṣa mahāpātaka, dan doṣa atipātaka  yang masing-masing disebut dosa kecil, dosa menengah, dosa besar, dan dosa terbesar, masing-masing sebagai berikut :

1) doṣa pātaka  meliput :  bhrunahā, menggugurkan kandungan,  puruṣaghna, membunuh manusia lainnya, seperti sastrawan dan hartawan, kanyācora, melarikan gadis dengan paksa, agrayajaka, yang kawin mendahului saudaranya yang lebih tua,

2) doṣa upapātaka meliputi :  govadha, membunuh sapi,  yuwatī vadha, membunuh perempuan muda,  bālavadha, membunuh anak-anak,  vṛddhavadha, membunuh orang tua,  āgāravadha, membakar rumah dan penghuninya.

3) doṣa mahāpātaka, meliputi : brāhmavadha, membunuh Brāhmaṇa,  surāpāna, minum minuman keras atau yang memabukan,  suvarṇasteya, mencuri emas,  kanyāvighna, memperkosa seorang gadis sampai gadis itu mati, guruvadha, membunuh guru.

4) doṣa atipātaka, meliputi: svaputrī bhajana, memperkosa putri sendiri,  matṛbhajana, memperkosa ibu sendiri, dan liṅgagrahaṇa, merusak tempat suci atau tempat pemujaan (Sudharta, 2003:252-259).

Demikian kitab Ślokāntara yang merupakan ajaran moralitas berupa teks berbahasa Sanskerta dan terjemahan dalam bahasa Jawa Kuno. Lebih lanjut tentang  puṇya  dapat dijelaskan sebagai berikut. Kata puṇya di dalam bahasa Inggris adalah merit yang padanannya dalam bahasa Sanskerta antara lain: guṇayogyata, utkarṣa, śreṣṭhatā, dharma, sukṛtam, śreyaḥ, dan yang sejenis dengan itu (Apte, 1987:286).

Di dalam Manavadharmaśāstra atau Manusmṛti (XII.105-106) dinyatakan: “Seseorang yang ingin memperoleh penyucian dari dharma (dharmaśuddhi) seharusnya menguasai berbagai cabang ilmu pengetahuan. Hanya mereka yang menguasai ‘tarka’ (kemampuan untuk menganalisis sesuatu) dan tidak mempertentangan susastra Veda (Vedaśāstra) dengan ajaran suci Veda, yang merupakan ajaran dharma yang diajarkan oleh para ṛṣi, yang akan menguasai dharma, tidak yang lain”. Lebih jauh di dalam kitab yang sama (IV.175-176) juga dinyatakan: “Oleh karena itu seseorang hendaknya selalu bergembira melaksanakan kebenaraan, taat kepada ajaran suci (Veda), bertingkah laku terpuji, sebagai orang yang mulia, selalu suci hati……Suatu perbuatan yang bila pada akhirnya tidak memberikan kebahagiaan dan sangat dikutuk di dunia ini (lokavikruṣṭha) bukanlah Dharma dan harus ditinggalkan”. Hal yang sama juga diungkapkan dalam Yajñavalkya Smṛti (VI.156).

Selanjutnya tentang penguasaan ajaran suci Veda, Śrī  Kṛṣṇa di dalam Bhagavadgītā (XVI.24) menyatakan : “Oleh karena itu jadikanlah kitab suci menjadi pegangan hidupmu untuk menentukan yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Dengan mengetahui ajaran suci (Veda) tersebut, hendaknya engkau melakukan kegiatan kerja di dunia ini”. Penjelasan tersebut sejalan dengan terjemahan mantra dari Śatapatha Brāhmaṇa (XI.5.7.1) berikut. “Belajar dan menyiarkan ajaran suci Veda.Dia yang mengetahui hal ini mencapai pikiran yang terpusat. Dia tidak menjadi budak nafsunya. Keinginannya akan menjadi kenyataan, dan ia hidup menikmati kebahagiaan. Sesungguhnya dia menjadi penyembuh dirinya sendiri. Dirinya terkendali, penuh bhakti, dengan pikiran yang bijaksana. Dia mencapai kemashyuran dan berbuat baik di dunia ini”.

Berdasarkan kutipan tersebut, jelaslah pula bagi kita bahwa ajaran suci Veda hendaknya dapat dijadikan pedoman kebajikan (puṇya) dalam hidup dan kehidupan ini.

Tujuh dosa besar, atau tujuh perusak perilaku etis penyedia jasa konstruksi di Indonesia, menurut Andi Kirana, adalah:

Pertama, menyuap. Dimana penyedia jasa berupaya memperoleh penugasan atau mendapatkan pekerjaan dengan memberi komisi atau menyuap klien atau pihak yang terkait dengan klien.

Kedua, merebut. Dimana penyedia jasa berupaya merebut kedudukan atau mendapatkan pekerjaan dengan menyerobot tugas dari penyedia jasa lain yang telah dinyatakan sebagai pemenang, dengan cara berkolusi dengan klien.

Dosa ketiga, memalsu. Penyedia jasa melakukan praktik-praktik bersifat curang dan tidak jujur antara lain dengan memalsukan tandatangan untuk keperluan mendapatkan atau melaksanakan proyek, memalsukan kartu keanggotaan asosiasi profesi (kadaluarsa), memalsukan sertifikat registrasi, memalsukan dan merekayasa curriculum vitae personil dan tenaga ahli serta pengalaman perusahaan. Termasuk juga merekayasa kepemilikan badan usaha, dimana kepemilikannya adalah pegawai negeri/pejabat instansi yang terkait atau perorangan/perusahaan asing.

Keempat, membajak. Yaitu ketika penyedia jasa berusaha membajak tenaga ahli dan mencantumkan nama staf ahli perusahaan lain, atau dari perguruan tinggi sebagai direksi atau staf ahli perusahaan tanpa sepengetahuan dan seiijin yang bersangkutan. Termasuk juga membajak dengan cara menyuruh tenaga ahli mundur dari perusahaan konstruksi tempat kerjanya dengan iming-iming gaji lebih besar.

Kelima, meminjam. Yaitu ketika penyedia jasa konstruksi meminjam “bendera” dari rekan sesama pebisnis untuk tender arisan, dimana perusahaan konstruksi peminjam secara formal akan memenangkan tender. Pebisnis konstruksi meminjamkan nama perusahaan untuk pertangungjawaban administrasi kontrak, sedangkan seluruh tugas pelaksanaannya dilakukan sendiri oleh oknum pejabat pemberi tugas

Dosa keenam, melacur. Pelacuran profesi bisnis konstruksi ini merupakan dosa yang mengerikan. Bentuknya bisa bermacam-macam. Konsultan menyerah pada tekanan-tekanan berat dari klien untuk menyusun laporan studi kelayakan dengan kesimpulan bahwa proyek tersebut adalah layak untuk diimplementasikan, walaupun sebenarnya tidak. Pemenang tender yang menyerah pada tekanan klien melakukan tawar menawar harga dengan ukuran-ukuran yang tidak rasional atau melakukan berbagai revisi yang tidak profesional. Dan dosa ketujuh, adalah meminta. Penyedia jasa meminta “uang jasa” kepada yang berkepentingan (kontraktor, pemasok atau pabrikan) dalam kapasitasnya sebagai konsultan perencana/pengawas.

Leave a comment

Filed under Articles

KeUtamaan Wanita

DIMANA WANITA DIHORMATI

DISANA PARA DEWA MELIMPAHKAN ANUGERAHNYA

Oleh IBG Wiyana

Yatra naryastu p jyante, Ramante tarra dewatah

yatraitastu na p jyante, sarvastatra phalah kriyah (Manawa Dharmasastra III.58)

Maksudnya: Dimana wanita dihormati disanalah para Dewa senang dan melimpahkan anugerahnya. Dimana wanita tidak dihormati tidak ada upacara suci apapun yang memberikan pahala mulia.

Dalam Manawa Dharmasastra I.32 ada dinyatakan bahwa laki dan perempuan sama-sama diciptakan oleh Tuhan. Dalam ajaran Hindu tidak dikenal bahwa wanita itu berasal dari tulang rusuk laki-laki. Ini artinya menurut sloka Manawa Dharmasastra tersebut bahwa laki dan perempuan menurut pandangan Hindu memiliki kesetaraan. Sayang dalam adat istiadat Hindu seperti di Bali misalnya wanita masih belum sepenuhnya setara terutama dalam perlakuan adat beragama Hindu.

Padahal kesetaraan wanita dan laki itu terdapat juga dalam ceritra Lontar Medang Kamulan. Dalam lontar tersebut ada mitology tentang terciptanya laki dan perempuan. Dalam mitology itu diceritrakan Dewa Brahma menciptakan secara langsung laki dan perempuan. Pada awalnya Dewa Brahma atas kerjasama dengan Dewa Wisnu dan Dewa Siwa membuat manusia dari tanah, air, udara, api dan akasa. Selanjutnya Dewa Bayu memberikan napas dan tenaga, Dewa Iswara memberikan suara dan kemampuan berbahasa. Sang Hyang Acintya memberikan idep sehingga manusia bisa berpikir.

Setelah tugas membuat manusia itu selesai ternyata manusia yang diciptakan oleh Dewa Brahma atas penugasan Hyang Widhi itu tidak memiliki kelamin. Jadinya tidak laki dan tidak perempuan. Karena itu Dewa Brahma masuk dalam diri manusia ciptaanNya itu. Kemudian menghadap dan mencipta ke timur laut. Dari ciptaan itu munculah manusia laki dari timur laut. Kemudian menghadap ke tenggara untuk mencipta terus munculah manusia perempuan dari arah tenggara.

Dari konsepsi terciptanya manusia ini sudah tergambar bahwa laki dan perempuan secara azasi harkat dan martabat serta gendernya adalah sejajar. Perbedaan laki dan perempuan itu adalah perbedaan yang komplementatif artinya perbedaan yang saling lengkap melengkapi. Artinya tanpa perempuan laki-laki itu tidak lengkap. Demikian juga sebaliknya tanpa laki-laki perempuan itu disebut tidak lengkap.

Karena itu dalam Rgveda laki dan perempuan yang sudah menjadi suami istri disebut dengan satu istilah yaitu Dampati artinya tidak dapat dipisahkan. Dalam bahasa Bali disebut ”dempet”. Karena itu dalam Manawa Dharmasastra IX.45 dinyatakan bahwa suami istri itu adalah tunggal. Demikian juga adanya istilah suami dan istri. Kalau orang disebut istri sudah termasuk didalamnya pengertian suami. Kalau ada perempuan yang sudah disebut sebagai istri sudah dapat dipastikan ada suaminya. Karena kalau ada perempuan yang belum bersuami tidak mungkin dia disebut istri.

Demikian juga kalau ada laki-laki disebut sebagai suami sudah dapat dipastikan ada istrinya. Tidak ada laki-laki yang bujangan disebut suami. Mereka disebut suami dan istri karena mereka sejajar tetapi beda fungsi dalam rumah tangga. Kata suami dalam bahasa sansekerta artinya master, lord, dominion atau pemimpin. Sedangkan kata istri berasal dari bahasa sanskerta dari akar kata ”str” artinya pengikat kasih.

Istri berasal dari wanita. Kata wanita juga berasal dari bahasa sansekerta dari asal kata ”van” artinya to be love (yang dikasihi).

Hal itulah yang menyebabkan wanita setelah menjadi istri kewajibannya menjadi tali pengikat kasih seluruh keluarga. Dalam Mahabharata Resi Bisma menyatakan bahwa dimana wanita dihormati disanalah bertahta kebahagiaan. Karena itu Rahvana yang menghina Dewi Sita dan Duryudana yang menghina Dewi Drupadi, kedua-duanya menjadi raja yang terhina. Dalam Manawa Dharmasastra III.56 seperti yang dikutif di atas dinyatakan bahwa dimana wanita itu dihormati disanalah para Dewa akan melimpahkan karunia kebahagiaan dengan senang hati. Dimana wanita tidak dihormati tidak ada Upacara Yadnya apapun yang memberi pahala kemuliaan.

Manawa Dharmasastra IX.132 menyatakan bahwa anak wanita boleh diangkat sebagai akhli waris orang tuanya. Dalam sloka 133 berikutnya dinyatakan tidak ada perbedaan antara putra laki dan perempuan yang diangkat statusnya sebagai akhli waris. Dalam hal pembagian harta waris menurut Manawa Dharmasastra IX.118 menyatakan bahwa wanita mendapatkan minimal seperempat bagian dari masing-masing pembagian saudara lakinya. Kalau saudara lakinya banyak bisa saudara wanitanya lebih banyak mendapat dari saudara lakinya. Meskipun setelah ia bersuami wanita itu tidak memiliki beban kewajiban formal pada keluarga asalnya, namun ia memiliki hak waris. Itu menurut pandangan kitab suci.

Tetapi dalam adat istiadat Hindu di Bali wanita itu tidak dapat waris apa lagi ia kawin keluar lingkungan keluarganya. Di samping wanita mendapatkan artha warisan juga mendapatkan pemberian artha jiwa dana dari ayahnya. Jumlahnya tergantung kerelaan orang tuanya. Sebagai ibu atau pitri matta menurut istilah dalam Manawa Dharma III.145 seribu kali lebih terhormat dari pada ayah. Sedangkan sebagai istri ia setara dengan suaminya.

Dalam hal karier menurut Manawa Dharmasastra IX.29 wanita dapat memilih sebagai sadwi atau sebagai brahmawadini. Kalau sebagai sadwi artinya wanita itu memilih berkarier dalam rumah tangga sebagai pendidik putra-putrinya dan pendamping suami. Karena dalam Vana Parwa 27.214 ibu dan ayah (Mata ca Pita) tergolong guru yang setara. Dalam Manawa Dharmasastra IX.27 dan 28 ada dinyatakan bahwa: melahirkan anak, memelihara dan telah lahir, lanjutnya peredaran dunia wanitalah sumbernya. Demikian juga pendidikan anak-anak, melangsungkan upacara Yadnya, kebahagiaan rumah tangga, sorga untuk leluhur dan dirinya semuanya itu atas dukungan istri bersama suaminya.

Wanita yang berkarier di luar rumah tangga disebut brahma vadini. Ia bisa sebagai ilmuwan, politisi, birokrasi, kemiliteran maupun berkarier dalam bidang bisnis. Semuanya itu mulia dan tidak terlarang bagi wanita. Itu semua konsep normatifnya kedudukan perempuan menurut pandangan Hindu. Tetapi sayangnya dalam tradisi empirisnya konsepsi normatif itu belum terlaksana betapa mestinya.

Leave a comment

Filed under Articles

Indik Babad

Bunga Rampai Babad “Manik Angkeran”

Anglurah Pinatih Rsi Menyunting Ida Ayu Puniyawati

Dikisahkan sekarang Ida Bang Panataran, putra Ida Wang Bang Tulus Dewa, bertempat tinggal di Bukcabe Besakih bersama adik sepupunya yang bernama Ida Bang Kajakauh atau Ida Bang Wayabiya.

Diceriterakan Ida Bang Panataran, mempunyai seorang putri bernama Ida Ayu Punyawati, cantik tanpa tanding seperti bidadari layaknya, bahkan seperti Sanghyang Cita Rasmin yang menjelma. Banyak para penguasa dan pejabat yang melamar, namun tidak diberi.

Karena sudah terkenal di seluruh pelosok negeri tentang kerupawanan beliau Ida Ayu Punyawati, maka hal ini didengar juga oleh Kyai Anglurah Agung Pinatih Rsi di Puri Kerthalangu, Badung. Kemudian Kyai Anglurah Agung Pinatih Rsi mengirim utusan untuk melamar Ida Ayu Punyawati.

Yang ditugaskan untuk melamar Ida Ayu Punyawati, adalah adik disertai para kemenakan beliau yang bernama I Gusti Gde Tembuku, I Gusti Putu Pahang, I Gusti Jumpahi. Itulah keponakan yang diutus, bagaikan Baladewa Kresna dan Arjuna, demikian kalau diperumpamakan, diiringi oleh bala rakyat yang jumlahnya cukup banyak mengiringkan.

Tidak diceriterakan di tengah jalan, akhirnya sampailah di Geria Ida Bang Sidemen Penataran kemudian melakukan pembicaraan. Prihal lamaran itu diajukan seperti ini :

?Inggih Ratu Sang Bang, kami datang kemari hanyalah utusan dari Ki Arya Bang Pinatih, yang beristana di Kerthalangu kawasan Badung, yang merupakan paman kami, yang bermaksud untuk melamar puteri palungguh I Ratu akan dijadikan permaisuri?.

Kaget Ida Bang Panataran, seperti gugup tak bisa berkata-kata, kemudian menjawab:

?Saya sama sekali tidak mengerti dengan maksud Ki Arya Pinatih, karena tidak boleh sang Arya melamar sang Brahmana” Demikian ucap Ida Bang Sidemen Panataran.

Menjawab sang utusan I Gusti Gde Tembuku serta Gusti Putu Pahang :

?Ah bagimana rupanya ratu Bang Sidemen, mungkin tiada ingat dengan nasehat leluhur dahulu? Hamba berani melamar putri tuanku Bang Sidemen ke sini, karena kawitan hamba dahuhi sesungguhnya adalah wangsa Brahmana. Sekarang mohon didengar atur hamba agar merasa pasti. Pada saat dahulu ada nasehat dari leluhur hamba, yang bernama Ida Bang Banyak Wide, bersaudara dengan Ida Bang Tulus Dewa serta Ida Bang Kajakauh. Ida Bang Banyak Wide pergi dari Besakih guna mencari kakeknda Ida Sang Pandya Siddhimantra di Jawa, namun tidak dijumpainya, kemudian benjumpa dengan Ida Mpu Sedah, dan kemudian belakangan dijadikan menantu oleh Ki Arya Buleteng. Karena Ki Arya Buleteng tidak memiliki keturunan langsung atau sentana, maka Ida Bang Banyak Wide dijadikan sentana Ki Arya, sehingga Ida Bang Banyak Wide menjadi Arya. Ida Bang Banyak Wide itu merupakan leluhur kami yang menurunkan Ki Arya Pinatih Rsi”. Demikian halnya dahulu.

Nah, sekarang ini bagaimana Sang Bang Sidemen, apakah tidak ada ceritera dari Leluhur seperti itu? Demikian hatur I Gusti Gde Tambuku. Segera ingat Ida Sang Bang Sidemen, pada nasehat dari sang leluhur kepada beliau, pada saat dulu.

Karena mendengar hal itu, maka diberikanlah putri Ida Bang Panataran Sidemen kepada Ki Arya Bang Pinatih, dan dengan segera mau bersama menjadi Arya Ksatrian.

Demikian pula Ida Bang Panataran menjadi Arya : Arya Bang Sidemen diwariskan sampai sekarang turun temurun bersaudara dengan Arya Bang Pinatih.

Ida Bang Wayabiya, saat itu juga datang menghadap kakaknya berkehendak untuk melamar putri Ida Bang Panataran Sidemen yakni Ida Ayu Puniyawati. Karena

sudah didahului oleh Ida I Gusti Anglurah Pinatih Rsi, lamaran itu tidak bisa dipenuhi. Itu sebabnya kemudian Ida Bang Wayabiya kemudian pergi tanpa pamit dari Besakih, tanpa tujuan. Perjalanan Ida Bang Wayabiya akan diceriterakan nanti.

Kembali sekarang dikisahkan Ki Arya Bang Panataran, sudah selesai perbincangannya dengan Ki Arya Bang Pinatih, sebab semuanya memang benar menjaga nama leluhurnya. Karena sudah selesai perbincangan itu, kemudian Ki Arya Bang Pinatih bertiga memohon diri, pulang menuju Kerajaan Kerthalangu. Sesudah selesal pembicaraan mengenal han baik berkenaan dengan rencana pemikahan itu, kemudian diselenggarakanlah upacara Pawiwahan itu seraya mengundang semua peng?asa serta rakyat dan warga.

Tentram wilayah Pinatih pada saat pemerintahannya I Gusti Ngurah Pinatih Rsi serta adiknya Ida Gusti Ngurah Made Bija Pinatih.

Hentikan dahulu.

Diceriterakan kemudian sesudah beristerikan Ida Ayu Puniyawati, kemudian lahir putra beliau, yang sulung bemama Kyai Anglurah Agung Gde Pinatih , adiknya Kyai Anglurah Made Sakti, serta yang wanita bemama I Gusti Ayu Nilawati. Lama juga Kyai Anglurah Bang Pinatih Rsi bersama adiknya Kya Anglurah Pinatih Bija memegang kekuasaan di wilayah Jagat Kerthalangu, Badung, tentram wilayah itu, serta sang raja dipuja dengan taat oleh rakyat dan warga semuanya. Wilayah itu menjadi makmur, hama menjauh, mereka yang ingin berbuat jahat tidak berani. Inggih, demikian keadaannya di kawasan Kerthalangu.

Kyayi Kenceng Meminta Putra Dalem di Puri Gelgel

Diceriterakan Ki Arya Kenceng di Badung berkehendak akan memohon seorang putra Dalem Sagening di Puri Gelgel, akan dijadikan penguasa di kawasan Badung.

Konon setelah sampai di jabs tengah atau halaman dalam Pun Gelgel di Sumanggen, terlihat oleh Ki Arya Kenceng api bagaikan lentera di Sumanggen, kemudian diperhatikan oleh Ki Arya Kenceng, sudah pasti hanya dia itu adalah putra Dalem Segening. Kemudian Ki Arya Kenceng mengambil kapur. seraya digoreskan menyilang atau dibubuhi tampak dara anak kecil itu. Keesokan hannya diingat kembali , karena dia itu memang betul putra Dalem yang bernama I Dewa Manggis Kuning. Kemudian Ki Arya Kenceng datang menghadap berhatur sembah kepada Ida Dalem seraya mengatakan untuk memohon putra beliau seorang, akan dijadikan penguasa di negara Badung. Ida Dalem merasa senang dan memberikan putranya yang dimohon itu, yang bemama I Dewa Manggis Kuning, dan kemudian diiringkan pulang ke Puri Badung. Sesudah diberi tempat di Badung, sangat disayang oleh Ki Arya Kenceng, disebabkan karena kebagusan rupanya, ganteng seperti Arjuna,

dan bagaikan Sanghyang Asmara yang menjelma di Puri Pamecutan.

Ki Arya Kenceng Memohon Putri Anglurah Pinatih Rsi

Diceritakan Ki Arya Kenceng memiliki seorang putera laki ? laki bernama I Gusti Ngurah Pemecutan, dipertunangkan dengan putri Ida Kyai Anglurah Agung Pinatih Rsi yang menjadi penguasa di istana Puri Kerthalangu. Putrinya bernama I Gusti Ayu Nilawati. Paras rupanya sangat cantik tanpa tanding bagaikan Dewi Ratih yang menjelma ke dunia. Diceritakan kemudian sang putri sudah masuk ke Puri Pemecutan, namun belum diupacarai menurut tata cara upacara perkawinan dengan I Gusti Ngurah Pemecutan. Pada saat malam tiba, dilihatlah oleh sang putri I Dewa Manggis, yang menyebabkan jatuh hatinya I Gusti Ayu Nilawati serta pada akhirnya dapat beradu asmara. Karena demikian halnya, bukan alang kepalang marahnya Ki Arya Kenceng, berkehendak akan merebut I Dewa Manggis. Hal itu kemudian diketahui oleh Kyai Anglurah Pinatih Resi. Bila saja I Dewa Manggis terkena bencana, tidak mustahil putrinya juga akan meninggal. Saat itu kemudian Kyai Anglurah Pinatih Resi memakai busana wanita, menyerupai selir, lalu masuk ke rumah yang didiami oleh I Dewa Manggis, kemudian I Dewa Manggis digulung tikar, kemudian dibawa keluar puri.

Karena berupa seorang wanita, maka tak seorangpun hirau, sehingga I Dewa Manggis bisa dibawa ke Purinya Ida Kyai Anglurah Pinatih Rsi, bersama putri beliau.

Baru sehari disembunyikan di Puri Kerthalangu, diketahui oleh Kyai Kenceng, dikatakan bahwa Ki Arya Agung Pinatih Rsi menyembunyikan putrinya bersama I Dewa Manggis, kemudian mendatangi Puri Kerthalangu. Segera tahu Kyai Anglurah Agung Pinatih Rsi, itu sebabnya segera I Dewa Manggis Kuning dan putrinya dilarikan ke purinya I Gusti Putu Pahang.

Sampai disana masih juga diketahui oleh Ki Arya Kenceng, maka dikepung dengan bala pasukan yang jumlah cukup banyak. Kembali I Dewa Manggis Kuning digulung dengan tikar, ditaruh di depan rumah, ditindih dengan selimut. Kemudian datang pasukan pemecutan mencari kesana kemari sampai kedalam rumah, namu tidak juga ditemukan I Dewa Manggis. Karena itu kembalilah pasukan itu ke Puri Pemecutan.

I Dewa Manggis Mengambil Istri : I Gusti Ayu Nilawati dan I Gusti Ayu Pahang

Setelah malam, I Gusti Pahang bertimbang rasa dengan I Dewa Manggis Kuning : ? Aum I Dewa Manggis anakku I Dewa, merasa sulit bapak menyembunyikan I Dewa disini. Sekarang lebih baik I Dewa berpindah tempat dari sini, sebab bapak malu dengan Ki Arya Kenceng. Dan lagi bapak sangat mengasihi ananda I Dewa, agar I Dewa bisa meneruskan hidup ? panjang umur. Ini ada anak bapak seorang, agar mendampingi ananda dipakai isteri. Putri bapak ini bernama I Gusti Ayu Pahang?. Demikian hatur I Gusti Putu Pahang disaksikan oleh ayahandanya Ki Arya Bija Pinatih. Kemudian dijawab oleh I Dewa Manggis dengan rasa penuh prihatin : ? Aum ayahanda Ki Arya Pinatih, sangat besar rasa kasihan Ayahanda kepada saya, tidak akan bisa saya membayar pihal kasih sayang Ayahanda kepada diri saya ?.

Wilayah Kerthalangu Tentram dan Kertaraharja

Diceritakan kembali Kyai Anglurah Pinatih Rsi sudah berusia lanjut, kemudian berpulang ke Sorgaloka. Demikian juga Ida Kyai Anglurah Made Bija, juga sudah meninggalkan dunia fana? ini. Kyai Anglurah Pinatih Rsi kemudian digantikan oleh putranya memegang kekuasaan, yang bernama sama dengan ayahandanya yakni I Gusti Anglurah Agung Gde Pinatih Rsi disertai oleh adiknya I Gusti Anglurah Made Sakti Pinatih, didampingi oleh paman beliau dari para putra Kyai Anglurah Made Bija seperti

I Gusti Gde Tembuku,

I Gusti Putu Pahang,

I Gusti Nyoman Jumpahi,

I Gusti Nyoman bija Pinatih,

I Gusti Nyoman Bona,

I Gusti Benculuk serta

I Gusti Ktut Blongkoran.

Banyak memang keturunan Kia Arya Pinatih ketika beristana di Kerthalangu, tidak bisa dihitung jumlahnya. Semasa pemerintahan beliau berdua tidak ada orang lain yang berani bertingkah, semuanya besembah sujud, serta tentram wilayah itu semasa kekuasaan I Gusti Ngurah Gde Pinatih beserta I Gusti Ngurag Made. Tidak ada manusia yang beranai, subur makmur kawasan itu jadinya serta sejuk keadaannya karena sang penguasa sangat welas asih suka memberi serta tiada pernah lupa menghaturkan sembah baktinya kepada Yang Maha Kuasa. Itu sebabnya wilayah beliau menjadi tentram dan kertaraharja.

Lama beliau berkuasa di kawasan Pinatih Badung, menjadi tertib kerajaan Kerthalangu yang bernama Kawasan Pinatih, sebab Pinatih lah yang memegang kekuasaan disana.

Patut diketahui Ida I Gusti Anglurah Gde Pinatih mempunyai putra banyak yakni I Gusti Ngurah Gde Pinatih ? sama namanya dengan sang ayah,

I Gusti Ngurah Tembawu,

I Gusti Ngurah Kapandeyan,

I Gusti Ayu Tembawu,

I Gusti Bedulu,

I Gusti Ngenjung,

I Gusti Batan,

I Gusti Abyannangka,

I Gusti Miranggi,

I Gusti Celuk,

I Gusti Arak Api,

I Gusti Ngurah Anom Bang,

I Gusti Ayu Pinatih,

I Gusti Balangsigha.

Adik beliau I Gusti Ngurah Anglurah Made Sakti mempunyai putra:

I Gusti Putu Pinatih,

I Gusti Ngurah Made Pinatih,

I Gusti Ngurah Anom,

I Gusti Ngurah Mantra,

I Gusti Ngurah Puja.

Saudara sepupunya I Gusti Putu Pahang mempunyai putra

I Gusti Putu Pahang ? sama dengan nama sang ayah,

I Gusti Made Pahang,

I Gusti Ayu Pahang ? yang diambil oleh I Dewa Manggis Kuning, serta

I Gusti Nyoman Pahang.

Demikian keadaanya dulu.

Dukuh Sakti Pahang Mapamit Moksa

Dikisahkan sesudah lama Kyai Anglurah Agung Gde Pinatih memegang kekuasaan di wilayah Pinatih, datanglah masa tidak mengenakkan. Ada anggota masyarakat beliau yang dipakai sebagai mertua bernama I Dukuh Pahang atau I Dukuh Sakti. I Dukuh Sakti memang seorang yang memiliki pengetahuan yang tinggi, ahli dalam ilmu sastra yang mahautama, paham tentang Catur Kamoksan atau jalan Moksa yang empat, serta Falsafah menuju Kematian atau Tattwa Pati. Suatu saat I Dukuh menghadap kepada I Gusti Anglurah Pinatih :

?Aum Ki Arya Agung Pinatih, hamba sekarang memohon diri kepada tuanku, akan pulang ke Sorgaloka, akan moksah?.

Karena demikian kata I Dukuh, menjadi marah Kyai Anglurah Pinatih, serta berkata :

?Uduh Kaki Dukuh, seberapa besar karya yang Ki Dukuh sudah buat sehingga bisa mengatakan akan moksa ?. Saya saja yang begini, menjadi penguasa, banyak memiliki rakyat, kokoh membangun kebaikan, tidak bisa melakukan moksa. Sekarang kalau benar seperti yang dikatakan Dukuh yakni akan pulang ke dunia sana dengan moksa, saya akan berhenti menjadi penguasa di negara Badung?.

Baru saja demikian kata Kyai Anglurah Pinatih, segera Ki Dukuh berkata :

?Aum Kyai Anglurah Agung Pinatih, sebagai ratuning Jagat Kerthalangu, janganlah I ratu berkata demikian kepada hamba !. Memang benar hamba bisa moksa, ini simsim hamba bawa agar tuanku tidak kabjrawisa !?.

?Ah masa aku kurang apa. Sekarang kapan sira Dukuh akan melakukan moksah ??. menjawab sira Dukuh :

?Inggih, pada hari besok hamba akan pulang moksa, pada saat sang Surya tepat? diatas kepala?. Demikian atur sira Dukuh.

Karena sudah pasti janji I Dukuh akan moksa, kemudian Kyai Anglurah Agung Pinatih memberitahukan kepada para bala dan menterinya semua agar mengawasi di rumah Ki Dukuh, serta agar membawa tongkat, kalau ? kalau sira Dukuh dengan tongkat itu. Demikian perintah Ida Kyai Aglurah Agung Pinatih kepada rakyatnya semua.

Pada keesokan harinya, semua bersiap, bala pasukan serta para menteri menuju tempat kediaman sira Dukuh. Sesampainya disana dilihat sira Dukuh sedang menggelar yoga samadhi, menghadapi pedupaan. Sesudah masak betul yoganya, kemudian Ki Dukuh menyampaikan sapa kutukan bagi Kyai Anglurah Agung Pinatih :

?Inggih Kyai Anglurah Agung Pinatih, ratuning wilayah Kerthalangu, Jhah Tasmat ? semoga Kyai Anglurah Pinatih dirusak semut !?.

Sesudah menyampaikan sapa kutukan itu, Ki Dukuh masuk ke pedupaan besar itu, lepas, hilang tidak kelihatan lagi Ki Dukuh. Memang benar Ki Dukuh moksa tidak kembali lagi. Inggih hentikan dahulu sampai disini.

Sesudah itu, merasa kagum takjub rakyat Kyai Anglurah Agung Pinatih, memang benar Ki Dukuh moksa, kemudian disampaikannnya kepada Kyai Anglurah Agung Pinatih prihalnya sira Dukuh. Saat itu Kyai Anglurah Agung Pinatih berdiam diri, berpikir dalam hatinya, terlanjur mengeluarkan kata ? kata tidak baik.

Kyai Pinatih Berpindah Tempat Dari Kerthalangu

Sesudah satu bulan tujuh hari lamanya, datanglah ciri Kyai Anglurah Agung Pinatih Rsi didatangi semut tak terhitung banyaknya merebut, ada dari bawah, dari atas, jatuh berkelompok ? kelompok. Itu sebabnya merasa gundah hati Kyai Anglurah Agung Pinatih beserta para isteri, putra, cucu semuanya. Karena demikian

keadaannya, kemudian diadakan pertemuan dengan sanak saudara semuanya, berencana akan berpindah dari Purian, menuju Pura Dalem Paninjoan. Sesampainya disana, kemudian diberitahukan semua rakyatnya untuk membuat Taman dikitari dengan telaga, telaga itu dikelilingi api, ditengahnya telaga barulah dibangun tempat peraduan. Namun masih saja dicari, direbut oleh semut, berbukit ? bukit tingginya kemudian jatuh di tengahnya taman itu.

Karena itu halnya, kembali Kyai Agung Pinatih menyelenggarakan pertemuan, bertukar pikiran dengan saudaranya semua serta didampingi oleh rakyatnya. Semuanya merasa masgul, kemudian meninggalkan Pura Dalem Paninjoan, berpindah lalu berdiam diri di sebelah timur sungai, diiringi rakyatnya semua. Tentu saja Kyai Anglurah Agung Pinatih berpikir tentang kedigjayaan sira Dukuh. Kemudian beliau merencanakan akan berpindah dari tempat itu, serta diberitahukan kepada balanya, siapa yang sanggup menjaga Pura Dalem itu, boleh tidak mengiringkan Kyai Anglurah Pinatih. Kemudian segera matur anggota masyarakat beliau yang bernama Ki Bali Hamed, ia akan menuruti kehendak beliau untuk menjaga Pura? Dalem itu. Pada saat itu I Gusti Tembawu menyatakan tidak bisa mengikuti keinginan ayahandanya, demikian juga I Gusti Ngurah Kepandeyan, yang pernah berpaman dengan I Dukuh, dan karena memang tidak baik dalam hubungan bersanak saudara, karena sudah terlanjur bertempat tinggal disana serta memperoleh kebaikan di wilayah Intaran. Usai sudah perbincangan diadakan, kemudian diputuskan hubungan pasidikaraan dengan I Gusti Tembawu dan I Gusti Kepandeyan.

Disebabkan karena masih juga diburu oleh semut, kembali beliau beralih tempat bersama menuju Geria milik Ida Peranda Gde Bendesa dan di tempat tinggal Ida Peranda Gde Wayan Abian, seperti para putranya semua, yang ada di Kerthalangu, ke Padanggalak, disana Kyai Anglurah Agung Pinatih bertempat tinggal diiringi rakyatnya semua.

Penuh sesak disana di pinggir sungai Biaung, disana Kyai Anglurah Agung Pinatih menghaturkan rakyat 60 KK kepada Ida Peranda berdua. Ida Peranda berdua merasa senang hati mendapatkan warga itu semua yang handal didapatkan oleh beliau Ida Peranda, yang bernama Ki Bendesa Kayu Putih, Macan Gading, I Pasek Kayu

Selem, semua bertempat tinggal di Tangtu. Di sana kemudian ada perjanjian Kyai Anglurah Agung Pinatih di hadapan Ida Peranda berdua, menyatakan sudah putus hubungan kekeluargaan dengan I Gusti Tembawu, sebab sudah berumah di I mangku Dalem Tembawu.

Karena demikian yang didengar oleh I Mangku Dalem Tembawu lalu dibalaslah pernyataan Kyai Anglurah Agung Pinatih. Katanya :

?Mudah ? mudahanlah yang membawa pusaka keris yang bernama I Brahmana serta tumbak yang bernama I Baru Gudug, pada saat menyelenggarakan upacara ala ataukah ayu, jika tidak ada I wong Tembawu, mudah ? mudahan tidak berhasil upacara itu?.

Dibalaslah oleh Kyai Anglurah Agung Pinatih :

?Mudah ? mudahab I wong Tembawu itu kaya dengan pekerjaan?. Demikian pernyataan Kyai Anglurah Agung pinatih.

Kemudian I Gusti Tembawu dipakai menantu oleh I Mangku Dalem Tembawu. Setelah itu Kyai Anglurah Agung Pinatih disertai oleh adiknya serta sanak saudaranya semua memohon kepada Ida Peranda berdua, akan membangun Panyiwian di ujung desa Biaung, dinamai Pura Dalem Bangun Sakti, disungsung oleh rakyatnya yang ada si Biaung. Ida Peranda berdua dengan senang hati memberikan restu untuk hal itu. Disana kemudian Ida Peranda berdua berdiam membuat Pura Dalem Kadewatan, Puser Tasik Batur dan Kentel Gumi, untuk wilayah Padanggalak. Hentikan dahulu.

Diceritakan kembali setelah beberapa lama Kyai Anglurah Agung Pinatih bertempat tinggal di Padanggalak, kembali direbut semut. Karena itu kembali beliau berpindah tempat menuju Alas Intaran ? Mimba semuanya. Tidak berapa lama disana, ada lagi cobaan dari Yang Maha Kuasa, ada ikan Aju datang dari tengahnya laut, semuanya terhempas ke pantai tidak terbilang banyaknya. Itu sebabnya kemudian orang di Intaran segera membuat tembok dengan pohon pepaya, diperintahkan oleh Kyai Anglurah Agung Pinatih. Memang merupakan cobaan dari Hyang Widhi, tembok itu ditubruk oleh ikan itu dihempas ? hempas? hingga rusak, itu sebabnya banyak bangkai ikan di tepi pantai sampai ke tengah hutan. Kemudian datanglah semut merebut bangkai ikan itu. Semakin banyak semut itu datang, serta ikan itu berulat, baunya sangat busuk. Itu sebabnya menjadi gundah orang disana, dan kelak kemudian hari tempat itu dinamai Ajumenang.

Karena semuanya merasa gundah, merasa tidak tahan dengan bau ikan yang sangat busuk itu, banyak anggota masyarakat yang ada di Intaran berpindah kesana kemari mencari perladangan. Ada yang mencari tempat di Kepisah, ada di Pedungan, di Tegal, di Glogor Carik, di Seminyak, memohon diri kepada Kyai Anglurah Agung Pinatih.

Karena demikian keadaannya, semakin masygul hati Kyai Anglurah Agung Pinatih Rsi, serta menyesali diri, karena sudah terlanjur menyampaikan pernyataan tidak baik, tidak boleh berkata sumbar, sangat berbahaya dikatakan, dan hal itu sudah menjadi bukti, buahnya dipetik sekarang.

Singkat ceritera, Kyai Anglurah Agung Pinatih, kemudian memohon diri kepada Ida Peranda berdua, akan beralih tempat ke wilayah Blahbatuh, semuanya dengan rakyatnya. Bagaikan bibit pepohonan yang besar yang ditimpa panas membara serta angin ribut rasanya, karena itu berpencar para putranya, juga saudaranya I Gusti Ngurah Anom Bang yang dipakai menantu oleh Ki Karang Buncing di Blahbatuh. Sejak saat itu putus pula hubungan pasidikara. I Gusti Blangsinga, pergi tanpa tujuan seraya membawa pusaka. Entah berapa lama berdiam di Blahbatuh, kembali ada semut yang datang, kembali beralih tempat dari sana menuju desa Kapal. Di Kapal, karena tempat disana sempit untuk banyak orang, sehingga bisa berjejal disana, maka Kyai Anglurah Agung Pinatih mengutus I Gusti Tembuku, I Gusti Putu Pahang serta I Gusti Jumpahi, untuk mencari tempat, yang kemudian pergi menuju ke arah timur, ditemuilah hutan perladangan yang cukup luas bernama Huruk Mangandang juga disebut Pucung bolong. Disebelah utaranya adalah wilayah Dewa Gede Oka dari Tama Bali dan sebelah timurnya adalah sungai Melangit namanya. Prihal tempat itu dipermaklumkan kepada I Gusti Ngurah Agung, kemudian dilanjutkan gotong royong membersihkan hutan tersebut. Dalam perjalanan merabas hutan ada tempat ditemukan salah satu yang agak angker, lalu ditempat tersebut dibangun tempat persembahyangan sekarang bernama Pura Dalem Agung, yang merupakan sungsungan Desa Adat.

Pada Utama Mandala? ada Pelinggih berjejer menghadap kebarat paling Utara disebut Pelinggih Dalem Muku, Dalem Pande dan Dalem Dura. Kemudian melanjutkan perjalanan keutara lalu menetap dan membangun tempat tinggal atau Puri termasuk juga membangun Tempat Suci atau Parhyangan, sebagai tempat untuk memegang wilayah dan parhyangan Sthana Ida Bhatara Kawitan. Tempat Pemujaan dulu bernama Pemerajan Agung Pinatih dan sekarang bernama

?Pura penataran Agung Pinatih? di puri Tulikup, yang merupakan tempat tonggak sejarah yang harus diingat oleh seluruh warga besar Arya Wang Bang Pinatih.

Disamping itu Pura Penataran Agung Pinatih menjadi satu dengan Dang Kahyangan Pura Sakti pada Utama Mandala termasuk Pemedel Ageng juga satu. Sehingga menetap di Puri Tulikup bersama keluarga besar dan putra ? putri beliau berdua dikelilingi oleh rakyat serta sanak saudaranya. Sesudah baik keadaan Huruk Mangandang, sejak itu disebut dengan Pradesa Tulikup utawi Talikup dan sekarang bernama Desa Tulikup.

Diceritakan kembali I Gusti Ngurah Anom Bang yang dipakai menantu oleh Ki Karang Buncing, diputuskan hubungan pasidikaraannya oleh keluarganya, namun masih kokoh kuat natad ? membawa kalingan ? keluhuran beliau, sebagai warga Pinatih, walaupun sudah dipatah ? putuskan pasidikaraannya. Setelah berputera, kemudian I Gusti Ngurah Bang beralih tempat ke desa Batubulan, putranya masih di Blahbatuh. I Gusti Bang mengambil istri putri dari I Dewa Batusasih , mendapatkan putra, bernama I Gusti Putu Bun bertempat tingga di Batubulan, I Gusti Made Bun pindah ke desa Lodtunduh, ayahnya masih di Batubulan, didampingi oleh putranya yang lain bernama I Gusti Putu Bija Karang, adiknya yang bernama I Gusti Bija Kareng mengungsi ke wilayah Peliatan, Krobokan, juga adiknya yang dua lagi I Gusti Bawa serta I Gusti Bija bertempat tinggal di Dawuh Yeh serta Dangin We. Kemudian I Gusti Bawa pergi tanpa arah tujuan ke arah barat Er Uma membangun sanggar-kabuyutan yang bernama Pura Lung Atad. Ada juga sanak saudara beliau yang berpindah tempat menuju kawasan Gelgel, ada yang ke Karangasem berdiam di Bebandem.

Hentikan dahulu.

Ada ceritanya putra Ki Arya Bang Pinatih yang bernama I Gusti Ketut Bija Natih kemudian menurunkan Ketut Bija Natih, masih di wilayah Kerthalangu, menjadi pemangku di Dalem Kerthalangu, lalu ada yang berpinda ke arah selatan, ada di Bukit, ada di Jimbaran, di Ungasan serta Umadwi. Demikian ceritanya dahulu.

Entah berapa lama Kyai Anglurah Agung Pinatih Rsi memerintah Puri Tulikup bersama adiknya, ternyata kemudian pecah persaudaraannya dengan adiknya Kyai Anglurah Made Sakti. Halnya seperti dibawah ini.

Cokorda Nyalian Memperluas Wilayahnya

Diceritakan Cokorda Panji Nyalian berkeinginan untuk memperluas wilayahnya. Kemudian datang dia ke Uruk Mangandang mempermaklumkan sebagai utusan Dalem yang berkehendak agar Kyai Anglurah Pinatih menghadap kepada Dalem di Gelgel semuanya, diiringi oleh rakyat, para putra dan cucu, karena ada hal penting yang hendak dititahkan oleh Ida Dalem.

Pada saat itu diadakan pertemuan dengan sanak saudara, yang berkemukan seperti sang kakak dan sang adik. Kesimpulan pertemuan itu, sang kakak akan melaksanakan perintah Dalem. Saat itu berkata sang kakak Kyai Ngurah Gde Pinatih kepada adiknya Kyai Ngurah Made Sakti :

?Bila adinda tidak akan mengikuti kanda, kakanda akan menghadap kepada Dalem, walaupun adinda memohon diri kepada kakanda, dan walaupun nanti adinda akan bertempat tinggal jauh, agar jangan sekali ? sekali lupa bersaudara di kelak kemudian hari?.

Kemudian berkata adiknya : ?Uduh, kakandaku, dinda menuruti kata ? kata kanda?.

Setelah usai pertemuan tiu, kemudian dibagi dua milik beliau berdua seperti pusaka sampai dengan rakyat. Beliau sang kakak Kyai Anglurah Agung Pinatih membawa Keris Ki Brahmana serta tumbak yang bernama I Barugudug. Adiknya Kyai Ngurah Made Sakti membawa segala perlengkapan pemujaan, seperti pasiwakaranaan serta pustaka.

Sesudah itu, karena Kyai Anglurah Agung Pinatih masih sangat hormat dan bakti kepada Daalem, maka sekalian bersama ? sama pergi menuju Puri Suwecapura diiringi olah sanak saudaranya serta rakyatnya. Kyai Anglurah Made Sakti, kemudian menuju arah barat, diikuti juga oleh saudara ? saudara, cucu semuanya serta rakyat, dan tidak diceritakan di perjalanan, akhirnya sampai di Jenggalabija. Pada saat itu paman beliau I Gusti Gde Tembuku kemudian pindah dari Tulikup menuju Buruan terus ke Pliatan, dan berdiam di Tebesaya. Hentikan dahulu prihal I Gusti Ngurah Made sakti yang bertempat tinggal di Jenggala Bija dan I Gusti Gde Tembuku yang ke Tebesaya.

Juga diceritakan prihal para putra Arya Bang Pinatih yang lain seperti putra I Gusti Made Pahang di Tulikup, yang sulung bernama I Gusti Putu Pahang pindah dari desa Tulikup menuju desa yang kemudian bernama Jagapati, I Gusti Made Pahang masih bertempat tinggal di Tulikup, I Gusti Nyoman Pahang kembali ke wilayah Pahang, I Gusti Ngurah Ketut Pahang pindah ke desa Selat. I Gusti Kaja Kauh pindah menuju wilayah Bebalang, Bangli disambut disana oleh sanak saudara dari Arya Bang Wayabiya.

Di Tulikup, para putra Ki Arya Bang Pinatih menguasai tempat dan kemudian membangun sthana Pamerajan masing ? masing, seperti para putra I gusti Bona, I Gusti Benculuk, I Gusti Sampalan, I Gusti Pandak, I Gusti Nangun, I Gusti Berasan, I Gusti Meranggi, I Gusti Sayan, I Gusti Bedulu, I Gusti Nunung, I Gusti Kandel, dan I Gusti Kutri.

Kemudian ada juga yang bertempat tinggal di Kembengan, yakni I Gusti Tegal, I Gusti Sukawati, I Gusti Arak Api, I Gusti Julingan putra I Gusti Kandel, I Gusti Kembengan, I Gusti Manggis, I Gusti Pelagaan. Juga masing ? masing membangun Pamerajan.

Ada lagu yang mengungsi ke wilayah Siut, bernama I Gusti Nyoman Natih, putranya berdiam di Banjar Bias, ada di Karang Dadi serta di Gerombongan.

Demkian dahulu.

Kembali diceritakan kedatangan Ida Kyai Naglurah Pinatih di hadapan Dalem kemudian mempermaklumkan prihal kedatangan Cokorda Panji dari Nyalian. Ida Dalem berkata bahwa tidak sekali ? kali memrintahkan Kyai Anglurah Agung Pinatih agar datang menghadap, sehingga disimpulkan bahwa hal itu merupakan tipu muslihat Cokorda Panji, agar Kyai Anglurah Agung Pinatih meninggalkan wilayah uruk Mangandang. Lama beliau berdiam, berpikir, dan mungkin sudah ada dalam pikiran beliau, dan agar tidak menjdai bibit yang tidak baik, agar tetap bhakti masing ? masing sejak dahulu kala. Sejak berkuasanya leluhur Dalem dahulu ? sejak pemerintahan Ida Dalem Kresna Kepakisa, Kriyan Pinatih memang disayang di Puri menjadi demung. Kemudian Ida dalem berkeinginan memnuhi keinginan kedua belah pihak : Cokorda Panji ingin memperluas wilayahnya agar memperoleh rahayu; Kyai Pinatih juga agar tetap bhaktinya seperti yang dilakukan para leluhrunya yakni para Kriyan Pinatih yang sudah wafat, juga agar mendapatkan keselamatan. Kyai Anglurah Pinatih kemudian diminta untuk sementara tinggal di Puri Agung, tidak diperkenankan kembali ke Tulikup, diminta untuk mendampingi beliau Ida Dalem.

Diceritakan tidak lama Cokorda Nyalian memegang wilayah Tulikup kemudian diserang oleh raja Gianyar.

Demikian dahulu.

Diberi Tempat Di Bukit Mekar Menjadi Desa Sulang

Singkat ceritera, Ida Dalem mengdakan utusan untuk mencari tempat tinggal bagi Kyai Pinatih, di perbatasan wilayah Klungkung dan Karangasem bernama Bukit Mekar. Walaupun tempat itu sempit, atas perintah Dalem, Ida I Gusti Anglurah Agung Pinatih Rsi kemudian bertempat tinggal disana diiringi oleh putra sanak saudara. Rakyat semuanya mengiringi. Tempat itu kemudian diberi nama desa Sulang.

Sedangkan di Bukit Mekar, beliau pertama kali mengukur tempat untuk Pamerajan, tempat Puri, mengukur tempat untuk Kahyangan Tiga serta tempat kuburan dan rumah tempat tinggal rakyatnya semua.

Setelah sesak di Bukit Mekar, diberikan lagi tempat di perbatasan Klungkung dan Karangasem yang bernama Tegal Ening, dekat dengan desa Lebu Cegeng di tepi Sungai Unda yang sudah dikuasai I Gusti Dauh Talibeng. Disana rakyat Kriyan Pinatih ada sebagian membangun rumah serta panyungsungan Puseh Bale Agung, wilayah itu kemudian dinamai Banjar Mincidan. Penuh sesak di banjar Mincidan, kemudian diberi tempat lagi di tepi Sungai Unda yang bernama Tegal Genuk, yang kemudian diberi nama Banjar Gerombongan. Dari Banjar Gerombongan, karena sesak diberikan tempat di perbatasan Semara Pura tepi selatan, tempat warga Pande yang diajak dari Madura, tempat itu bernama Banjar Galiran. Dari Banjar Galiran, karena sesak, yang diberikan lagi tempat di Kusamba, dekat dengan Banjar Sangging, kemudian ada yang berada di pesisir pantai Kusamba yang bernama Karang Dadi.

Kemudian ada diceritakan para putra Ki Arya Bang Pinatih yang kemudian mengikuti penuanya. Berkeinginan untuk menghadap ke Puri Dalem lalu berdiam di Banjarangkan, serta mmembuat panyawangan kawitan diberi nama Pura Lung Atad. Kemudian ada yang beralih mencari tempat di tempat Sungai Bubuh bernama tempat itu Basang Alu, membangun Pamerajan diberi nama menurut nama masing – masing. Pura di Lung Atad dituntun ke Basang Alu, berganti naman menjadi Pura Sari Bang.

Diceritakan lagi I Gusti Jimbaran pindah dari Tulikup menuju desa Getakan, berdiam disana disayang oleh Cokorda Bakas. Inggih demikian hentikan dahulu keadaan para putra yang terpencar tempat tinggalnya.

Leave a comment

Filed under Articles

Bhisama Kesucian Pura di Bali

Pengertian,Pengelompokan,& Tata Cara Membangun Pura

I. Pengertian Pura

Istilah Pura dengan pengertian sebagai tempat pemujaan bagi masyarakat Hindu khususnya di Bali, tampaknya berasal dari jaman yang tidak begitu tua. Pada mulanya istilah Pura yang berasal dari kata Sanskerta itu berarti kota atau benteng yang sekarang berubah arti menjadi tempat pemujaan Hyang Widhi.Sebelum dipergunakannya kata Pura untuk manamai tempat suci/ tempat pemujaan dipergunakanlah kata Kahyangan atau Hyang. Pada jaman Bali Kuna dan merupakan data tertua kita temui di Bali, ada disebutkan di dalam prasasti Sukawana A I tahun 882M. Kata Hyang yang berarti tempat suci atau tempat yang berbubungan dengan Ketuhanan.

Di dalam prasasti Turunyan A I th. 891 M ada disebutkan…………………… Sanghyang di Turuñan” yang artinya tempat suci di Turunyan” Demikian pula di dalam prasasti Pura Kehen A ( tanpa tahun) ada disebutkan pujaan kepada Hyang Karimama, Hyang Api dan Hyang Tanda yang artinya tempat suci untuk Dewa Karimama, tempat suci untuk Dewa Api dan tempat suci untuk Dewa Tanda.

Prasasti -prasasti yang disebutkan di atas adalah prasasti Bali Kuna yang memakai bahasa Bali Kuna tipe ” Yumu pakatahu ”yang berhubungan dengan keraton Bali Kuna di Singhamandawa.Pada abad ke 10 masuklah bahasa Jawa Kuna ke Bali ditandai oleh perkawinan raja putri Mahendradata dari Jawa Timur dengan raja Bali Udayana. Sejak itu prasasti – prasasti memakai bahasa Jawa Kuna dan juga kesusastraan – kesusastraan mulai memakai bahasa Jawa Kuna. Dalam periode pemerintahan Airlangga di Jawa Timur (1019–1042M) datanglah Mpu Kuturan dari Jawa Timur ke Bali dan pada waktu itu yang memerintah di Bali adalah raja Marakata yaitu adik dari Airlangga. Beliaulah mengajarkan membuat ” Parhyangan atau Kahyangan Dewa” di Bali, membawa cara membuat tempat pemujaan dewa seperti di Jawa Timur, sebagaimana disebutkan di dalam rontal Usana Dewa. Kedatangan Mpu Kuturan di Bali membawa perubahan besar dalam tata keagamaan di Bali.

Beliaulah mengajarkan membuat Sadkahyangan Jagat Bali, membuat kahyangan Catur Loka Pala dan kahyangan Rwabhineda di Bali. Beliau juga memperbesar Pura Besakih dan mendirikan pelinggih Meru, Gedong dan lain-lainnya. Pada masing masing Desa – pakraman dibangun Kahyangan Tiga. Selain beliau mengajarkan membuat kahyangan secara pisik, juga beliau mengajarkan pembuatannya secara spiritual misalnya: jenis – jenis Upacāra, jenis – jenis pedagingan pelinggih dan sebagainya sebagaimana diuraikan di dalam lontar Dewa Tattwa.

Pada jaman Bali Kuna dalam arli sebelum kedatangan dinasti Dalem di Bali, istana – istana raja disebut Keraton atau Kedaton. Demikianlah rontal Usaha Bali menyebutkan “…Sri Danawaraja akadatwan ing Balingkang……..” Memang ada kata Pura itu dijumpai di dalam prasasti Bali Kuna tetapi kata Pura itu belum berarti tempat suci melainkan berarti Kota atau Pasar, seperti kata wijayapura artinya pasaran Wijaya. Pemerintahan dinasti Sri Krsna Kapakisan di Bali membawa tradisi yang berlaku di Majapahit. Kitab Nagarakrtgama 73.3 menyebutkan bahwa apa yang beriaku di Majapahit diperlakukan pula di Bali oleh dinasti Sri Krsna Kapakisan. Salah satu contoh terlihat dalam sebutan istana raja bukan lagi disebut Keraton melainkan disebut Pura.Kalau di Majapahit kita mengenal istilah Madakaripura yang berarti rumahnya Gajah Mada, maka Keraton Dalem di Samprangan disebut Linggarsapura, Keratonnya di Gelgel disebut Suwecapura dan Keratonnya di Klungkung disebut Semara pura. Rupa– rupanya penggunaan kata pura untuk menyebutkan suatu tempat suci dipakai setelah dinasti Dalem di Klungkung disamping juga istilah Kahyangan masih dipakai. Dalam hubungan ini lalu kata pura yang berarti istana raja atau rumah pembesar pada waktu itu diganti dengan kata Puri. Pada periode pemerintahan Dalem Waturenggong di Gelgel (1460 – I 550 M) datanglah Dang Hyang Nirartha di Bali pada Tahun 1489 M adalah untuk mengabadikan dan menyempumakan kehidupan agama Hindu di Bali. Beliau pada waktu itu menemui keadaan yang kabur sebagai akibat terjadinya peralihan paham keagamaan dari paham-paham keagamaan sebelum Empu Kuturan ke paham – paham keagamaan yang diajarkan oleh Mpu Kuturan yakni : antara pemujaan Dewa dengan pemujaan roh Leluhur, sehingga ada pura untuk Dewa dan ada pura untuk Roh Leluhur yang sulit dibedakan secara pisik.

Demikian pula bentuk – bentuk palinggih, ada meru dan gedong untuk Dewa dan meru dan gedong untuk Roh Leluhur. Terdapat juga kekaburan di bidang tingkat atap meru, misalnya ada meru untuk Roh Leluhur bertingkat 7 dan meru untuk Dewa bertingkat 3. Hal ini secara phisik sulit untuk dibedakan, walaupun perbedaannya, terdapat pada jenis padagingannya. Hal itulah yang mendorong Dang Hyang Nirartha membuat palinggih berbentuk Padmasana untuk memuja Hyang Widhi, dan sekaligus membedakan palinggih pemujaan Dewa serta Roh Leluhur.

Dalam perkembangan lebih lanjut kata Pura digunakan di samping kata Kahyangan atau Parhyangan dengan pengertian sebagai tempat suci untuk memuja Hyang Widhi (dengan segala manifestasinya) dan Bbatara atau Dewa Pitara yaitu Roh Leluhur. Kendadipun demikian namun kini masih dijumpai kata Pura yang digunakan untuk menamai suatu kota misainya Amlapura atau kota asem (bentuk Sansekertanisasi dari Karang Asem).

Meskipun istilah pura sebagai tempat suci berasal dari jaman yang tidak begitu tua, namun tempat pemujaannya sendiri berakar dan mempunyai latar belakang alam pikiran yang berasal dari masa yang amat tua. Pangkalnya adalah Kebudayaan Indonesia asli berupa pemujaan terhadap arwah leluhur disamping juga pemujaan terhadap Kekuatan Alam yang Maha Besar yang telah dikenalnya pada jaman neolithikum, dan berkembang pada periode Megalithikum, sebelum Kebudayaan India datang di Indonesia.

Salah satu tempat pemujaan arwah leluhur pada waktu itu berbentuk punden berundak- undak yang diduga sebagai replika (bentuk tiruan) dari gunung, karena gunung itu dianggap sebagai salah satu tempat dari roh leluhur atau alam arwah. Sistem pemujaan terhadap leluhur tersebut kemudian berkembang bersama-sama dengan berkembangnya kebudayaan Hindu di Indonesia. Perkembangan itu juga mengalami proses akulturasi dan enkulturasi sesuai dengan lingkungan budaya Nusantara.

Kepercayaan terhadap gunung sebagai alam arwah, adalah relevan dengan unsur kebudayaan Hindu yang menganggap gunung (Mahameru) sebagai alam dewata yang melahirkan konsepsi bahwa gunung selain dianggap sebagai alam arwah juga sebagai alam para dewa. Bahkan dalam proses lebih lanjut setelah melalui tingkatan Upacāra keagamaan tertentu (Upacāra penyucian) Roh Leluhur dapat mencapai tempat yang sama dan dipuja bersama – sama dalam satu tempat pemujaan dengan dewa yang lazimnya disebut dengan istilah Atmasiddhadewata.

Lebih– lanjut kadang kadang dalam proses itu unsur pemujaan leluhur kelihatan melemah bahkan seolah– olah tampak sebagai terdesak, namun hakekatnya yang essensial bahwa kebudayaan Indonesia asli tetap memegang kepribadiannnya yang pada akhimya unsur pemujaan leluhur tersebut muncul kembali secara menonjol dan kemudian secara pasti tampil dan berkembang bersama – sama dengan unsur pemujaan terhadap dewa Penampilannya selalu terlihat pada sistem kepercayaan masyarakat Hindu di Bali yang menempatkan secara bersama sama pemujaan roh leluhur sebagai unsur kebudayaan Indonesia asli dengan sistem pemujaan dewa manifestasinya Hyang Widhi sebagai unsur kebudayaan Hindu. Pentrapannya antara lain terlihat pada konsepsi Pura sebagai tempat pemujaan untuk dewa manifestasi Hyang Widhi di samping juga untuk pemujaan roh leluhur yang disebut bhatara. Hal ini memberikan salah satu pengertian bahwa Pura adalah simbul Gunung (Mahameru) tempat pemujaan dewa dan bhatara.

II. Pengelompokan Pura

Dari berbagai jenis pura di Bali dengan pengertian sebagai tempat suci untuk memuja Hyang Widhi / dewa dan bhatara, dapat dikelompokkan berdasarkan fungsinya yaitu :

1. Pura yang berfungsi sebagai tempat suci untuk memuja Hyang Widhi / dewa.

2. Pura yang berfungsi sebagai tempat suci untuk memuja bhatara yaitu roh suci leluhur.

Selain kelompok pura yang mempunyai fungsi seperti tersebut di atas, bukan tidak mungkin terdapat istilah pura yang berfungsi ganda yaitu selain untuk memuja Hyang Widhi /dewa juga untuk memuja bhatara. Hal itu di mungkinkan mengingat adanya kepercayaan bahwa setelah melalui Upacāra penyucian, roh leluhur tesebut telah mencapai tingkatan siddha dewata (telah memasuki alam dewata) dan disebut bhatara.

Fungsi pura tersebut dapat diperinci lebih jauh berdasarkan ciri (kekhasan ) yang antara lain dapat diketahui atas dasar adanya kelompok masyarakat ke dalam berbagai jenis ikatan seperti : Ikatan sosial, politik, ekonomis, genealogis (garis kelahiran). Ikatan sosial antara lain berdasarkan ikatan wilayah tempat tinggal (teritorial), ikatan pengakuan atas jasa seorang guru suci (Dang Guru) Ikatan Politik antara lain berdasarkan kepentingan Penguasa dalam usaha menyatukan masyarakat dan wilayah kekuasaannya. Ikatan ekonomis antara lain dibedakan atas dasar kepentingan sistem mata pencaharian hidup seperti bertani, nelayan, berdagang, nelayan dan lain – lainnya. Ikatan Geneologis adalah atas dasar garis kelahiran dengan perkembangan lebih lanjut.

Berdasarkan atas ciri – ciri tersebut, maka terdapatlah beberapa kelompok pura dan perinciannya lebih lanjut berdasarkan atas karakter atau sifat Kekhasannya adalah sebagai berikut:

1). Pura Umum.

Pura ini mempunyai ciri umum sebagai tempat pemujaan Hyang Widhi dengan segala manifestasinya (dewa).Pura yang tergolong umum ini dipuja oleh seluruh umat Hindu, sehingga sering disebut Kahyangan Jagat . Pura pura yang tergolong mempunyai ciri – ciri tersebut adalah pura Besakih, Pura Batur, Pura Caturlokapala dan Pura Sadkahyangan, Pura Jagat Natha, Pura Kahyangan Tunggal. Pura lainnya yang juga tergolong Pura Umum adalah pura yang berfungsi sebagai tempat pemujaan untuk memuja kebesaran jasa seorang Pendeta Guru suci atau Dang Guru.Pura tersebut juga dipuja oleh seluruh umat Hindu, karena pada hakekatnya semua umat Hindu merasa berhutang jasa kepada beliau Dang Guru atas dasar ajaran agama Hindu yang disebut Rsi rna. Pura pura tersebut ini tergolong ke dalam karakter yang disebut Dang Kahyangan seperti : Pura Rambut Siwi, Pura Purancak, Pura Pulaki, Pura Ponjok Batu, Pura Sakenan dan lain-lainnya. Pura pura tersebut berkaitan dengan dharmayatra yang dilakukan oleh Dang Hyang Nirartha karena peranannya sebagai Dang Guru.

Selain Pura pura yang di hubungkan dengan Dang Guru, tergolong pula ke dalam ciri Dang Kahyangan adalah Pura pura yang di hubungkan dengan pura tempat pemujaan dari Kerajaan yang pernah ada di Bali(Panitia Pemugaran tempat-tempat bersejarah dan peninggalan purbakala, 1977,10) seperti Pura Sakenan, Pura Taman Ayun yang merupakan Pura kerajaan Mengwi.

Ada tanda – tanda bahwa masing – masing kerajaan yang pemah ada di Bali, sekurang kurangnya mempunyai tip jenis pura yaitu: Pura Penataran yang terletak di ibu kota kerajaan, Pura Puncak yang ter!etak di bukit atau pegunungan dan Pura Segara yang terletak di tepi pantai laut.

Pura – pura kerajaan tersebut rupa – rupanya mewakili tiga jenis tempat pemujaan yaitu : Pura Gunung, Pura pusat kerajaan dan Pura laut . Pembagian mandala atas gunung, daratan dan laut sesuai benar dengan pembagian makrokosmos menjadi dunia atas atau uranis, dunia tengah tempat manusia itu hidup dan dunia bawah atau chithonis.

2). Pura Teritorial

Pura ini mempunyai ciri kesatuan wilayah ( teritorial) sebagai tempat pemujaan dari anggota masyarakat suatu banjar atau suatu desa yang diikat ikat oleh kesatuan wilayah dari suatu banjar atau desa tersebut.Wilayah banjar sebagai kelompok sub kelompok dari masyarakat desa adat ada yang memiliki pura tersendiri. Ciri khas suatu desa adat pada dasamya memiliki tiga buah pura disebut Kahyangan Tiga yaitu : Pura Desa, Pura Puseh, Pura Dalem yang merupakan tempat pemujaan bersama.Dengan perkataan lain, bahwa Kahyangan Tiga itulah merupakan unsur mengikat kesatuan desa adat bersangkutan. Nama nama kahyangan tiga ada juga yang bervariasi pada beberapa desa di Bali, Pura desa sering juga disebut Pura Bale Agung. Pura Puseh ada juga disebut Pura Segara, bahkan Pura Puseh Desa Besakih disebut Pura Banua.

Pura Dalem banyak juga macamnya. Namun Pura Dalem yang merupakan unsur Kahyangan Tiga adalah Pura Dalem yang memiliki Setra ( Kuburan). Di samping itu banyak juga terdapat Pura yang disebut Dalem juga tetapi bukan unsur Kahyangan Tiga seperti : Pura Dalem Mas Pahit, Pura Dalem Canggu, Pura Dalem Gagelang dan sebagainya (PanitiaPemugaran Tempat- tempat berseiarah dan peninggalan Purbakala, 1977,12). Di dekat pura Watukaru terdapat sebuah Pura yang bernama Pura Dalem yang tidak merepunyai hubungan dengan Pura Kahyangan Tiga, melainkan dianggap mempunyai hubungan dengan Pura Watukaru. Masih banyak ada Pura Dalem yang tidak mempunyai kaitan dengan Kahyangan Tiga seperti Pura Dalem Puri mempunyai hubungan dengan Pura Besakih. Pura Dalem Jurit mempunyai hubungan dengan Pura Luhur Uluwatu.

3). Pura Fungsional

Pura ini mempunyai karakter fungsional dimana umat panyiwinya terikat oleh ikatan kekaryaan karena mempunyai, profesi yang sama dalam sistem mata pencaharian bidup seperti : bertani, berdagang dan nelayan. Kekaryaan karena bertani, dalam mengolah tanah basah mempunyai ikatan pem ujaan yang disebut Pura Empelan yang sering juga disebut Pura Bedugul atau Pura Subak. Dalam tingkatan hirarkhis dari pura itu kita mengenal Pura Ulun Carik, Pura Masceti, Pura Ulun Siwi dan Pura Ulun Danu.

Apabila petani tanah basah mempunyai ikatan pcmujaan seperd tersebut diatas, maka petani tanah kering juga mempunyai ikatan pemujaan yang disebut Pura Alas Angker, Alas Harum, Alas Rasmini dan lain sebagainya.

Berdagang merupakan salah satu sistim mata pencaharian hidup menyebabkan adanya ikatan pemujaan dalam wujud Pura yang disebut Pura Melanting. Umumnya Pura Melanting didirikan di dalam pasar yang dipuja oleh para pedagang dalam lingkungan pasar tersebut.

4). Pura Kawitan:

Pura ini mempunyai karakter yang ditentukan oleh adanya ikatan wit atau lcluhur berdasarkan garis kelabiran (genealogis ). Pura ini sering pula disebut Padharman yang merupakan bentuk perkembangan yang lebib luas dari Pura Warga atau Pura Klen. Dengan demikian mika Pura Kawitan adalah tempat pemujaan roh leluhur yang telah suci dari masing- masing warga atau kelompok kekerabatan. Klen kecil adalah kelompok kerabat yang terdiri dari beberapa keluarga inti maupun keluarga luas yang merasakan diri berasal dari nenek moyang yang sama. Klen ini mcmpunyai tempat pemujaan yang disebut Pura Dadia sehingga mereka disebut.Tunggal Dadia. Keluarga inti disebut juga keluarga batih (nuclear family) dan keluarga luas terdiri lebih dari satu keluarga inti yang juga disebut keluarga (extended family) Suatu keluarga inti terdiri dari seorang suami, seorang istri dan anak- anak mereka yang belum kawin .

Tempat pemujaan satu keluarga inti disebut Sanggah atau Merajan yang juga disebut Kemulan Taksu, sedangkan tempat pemujaan kciuarga luas disebut Sanggah Gede atau pemerajan agung. Klen besar merupakan kelompok kerabat yang lebih luas dari klen kecil (dadia) dan terdiri dari beberapa kelompok kerabat dadia. Anggota kelompok kerabat tersebut mempunyai ikatan tempat pemujaan yang disebut Pura Paibon atau Pura Panti. Di beberapa daerah di Bali, tempat pemujaan seperti itu ada yang menyebut pura Batur (Batur Klen), Pura Penataran ( Penataran Klen) dan sebagainya. Di dalam rontal Siwagama ada disebutkan bahwa setiap 40 keluarga batih patut membuat Pura Panti, setiap 20 keluarga batih patut mendirikan Pura lbu, setiap 10 keluarga batih supaya membuat pelinggih Pratiwi dan setiap keluarga batih membuat pelinggih Kamulan yang kesemuanya itu untuk pemujaan roh leluhur yang telah suci .Tentang pengelompokan Pura di Bali ini , dalam Seminar kesatuan tafsir terhadap aspek – aspek agama Hindu ke X tanggal 28 sampai dengan 30 Mei 1984 ditetapkan pengelompokan pura di Bali sebagai berikut :

a. Berdasarkan atas Fungsinya :

1. Pura Jagat, yaitu Pura yang berfungsi sebagai tempat memuja Sang Hyang Widhi Wasa dalam segala prabawanyaNya (manifestasiNya), dan dapat digunakan oleh umat untuk melaksanakan pemujaan umum, seperti purnama tilem, hari raya Hindu lainnya tanpa melihat asal, wangsa yang bersangkutan.

2. Pura kawitan, yaitu Pura sebagai tempat suci untuk memuja Atma Siddha Dewata ‘(Roh Suci Leluhur), termasuk didalamnya: sanggah, merajan, (paibon, kamulan), dadia, dan pedharman

b. Berdasarkan atas Karakterisasinya:

1. Pura Kahyangan Jagat, yaitu Pura tempat memuja Sang Hyang Widhi dalam segala Prabhawa-Nya misalnya Pura Sad Kahyangan dan Pura Jagat yang lain.

2. Pura Kahyangan Desa (Teritorial) yaitu Pura yang disungsung (dipuja dan dipelihara) oleh Desa Adat.

3. Pura Swagina (Pura Fungsional) yaitu Pura yang Penyungsungnya terikat oleh ikatan Swagina (kekaryaan) yang mempunyai profesi sama dalam mata pencaharian seperti : Pura Subak, Melanting dan sebagainya .

4. Pura Kawitan, yaitu Pura yang penyungsungnya ditcntukan oleb ikatan “wit”atau leluhur berdasarkan garis (vertikal geneologis) seperti: Sanggah, Merajan, Pura lbu, Pura Panti, Pura Dadia, Pura Padharman dan yang sejenisnya.

Pengelompokan pura di atas jelas berdasarkan Sraddha atau Tatwa Agama Hindu yang berpokok pangkal konsepsi Ketuhanan Yang Maha Esa dengan berbagai manifestasi atau Prabhawanya dan konsepsi Atman manunggal dengan Brahman (Atma Siddha Dewata) menyebabkan pemujaan pada roh suci leluhur, oleh karena itu pura di Bali ada yang disungsung oleh seluruh lapisan masyarakat disamping ada pula yang disungsung oleh keluarga atau Klen tertentu saja.

III. Tata Upacāra Membangun Pura

a. Upacāra Ngeruwak Karang atau Upacāra Pamungkah. Upacāra ini dilaksankan sebagai Upacāra awal dalam persiapan membangun sebuah Pura, yakni merubah status tanah; yang sebelumnya mungkin adalah hutan, sawah, ataupun ladang. Jenis Upacāra ini dilaksanakan secara insidentil bukan bersifat rutinitas, tetapi Upacāra ini dilaksanakan berkaitan dengan adanya pembanguan baru ataupun pemugaran pura secara menyeluruh sehingga nampaknya seperti membangun sepelebahan pura baru.

b. Upacāra Nyukat Karang. Upacāra ini dilaksanakan dengan maksud mengukur secara pasti tata letak bangunan pelinggih yang akan didirikan, dan luas masing-masing mandala (palemahan) pura, sehingga tercipta sebuah tatanan pura yang seusai dengan aturan yang termuat baik dalam Asta Kosala-Kosali, maupun Asta Bumi.

c. Upacāra Nasarin. Upacāra ini adalah Upacāra peletakan batu pertama, yang didahului dengan Upacāra permakluman kepada Ibu Pertiwi, dengan mempersembahkan Upakāra sesayut Pertiwi, pejati, dan Upakāra lainnya. Pada Upacāra ini ditanam sebuah bata merah yang telah dirajah dengan Padma angalayang dangan aksaranya Dasaksara dan Bedawannala yang bertuliskan Angkara, dibukus dengan kain merah dan diisi kuangen. Sebuah batu bulitan yang dirajah dengan aksara Ang-Ung- Mang. Lalu dibungkus kain hitam dan diisi sebuah kuangen. Dan sebuah klungah kelapa gading ditulisi dengan aksara Omkara Gni, dibungkus dengan kain putih dan diisi kuangen.

d. Upacāra Memakuh, Melaspas Upacāra ini bertujuan untuk membersihkan semua pelinggih dari kotoran tangan undagi (para pekerja bangunan) agar para Dewa/ Bhatara/ Bhatari berkenan melinggih di pura ini setiap saat terutama pada saat dilangsungkan Upacāra pujawali, sedangkan untuk membersihkan/ mensucikan areal pura secara niskala dilaksanakan Upacāra pecaruan berupa Panyudha Bumi. Pelaksanaan pemelaspasan yang menyangkut tingkatannya, dengan memperhatikan kedudukan dan fungsi Pura masing-masing, maka akan ditentukan atas/ berdasarkan petunjuk para Sulinggih yang dikaitkan dengan adat setempat yang telah berlangsung sejak dahulu dengan asumsi pelaksanaan Upacāra akan menjadi lebih sempurna.

e. Upacāra Mendem Pedagingan. Setelah Upacāra pemelaspasan dan Sudha Bumi akan dilaksanakan Upacāra Mendem Pedagingan, sebagai lambang singgasana Hyang Widhi yang disthanakan. Bentuk serta jenis pedagingan antara satu Pelinggih dengan Pelinggih yang lainnya tidak sama – hal ini tergantung dari jenis bangunan Pelinggih yang bersangkutan, termasuk jenis bebantennyapun juga ada yang berbeda.

Tata cara membuat dan memendem pedagingan ini disamping mengikuti sastra agama, juga mengikuti isi Bhisama dari Mpu Kuturan, sebagaimana dilaksanakan ketika membangun Meru di Besakih.

Adapun cuplikan Bhisama dimaksud adalah sebagai berikut : “Yan meru tumpang 11, tumpang 9, tumpang 7, tumpang 5, sami wenang mepadagingan tur mangda memargi manista, madya, utama, lwir, yaning meru tumpang 11, pedagingannya ring dasar salwiring prabot manusa genep mewadah kwali waja. Sejawaning prabot manusa, maweweh antuk ayam mas, ayam selaka, bebek mas, slaka, kacang mas, slaka tumpeng mas, slaka, naga mas, slaka, mamata mirah, prihpih mas, slaka, tembaga miwah jarum mas, slaka, tembaga, padi mas, ika dados dasar. Tumpang meru ika wilang akeh ipun, sami medaging prihpih kadi ajeng, saha mawadah rerapetan sane mawarna putih, mwah wangi-wangian setegepe, mawastra putih, rantasan sapradeg. Ring madyaning tumpang merune, madaging prihpih, jarum kadi ajeng, miwah padhi musah 2, wangi-wangian setegepe. Ring puncaknya, taler prihpih mas, slaka miwah jarum kadi ajeng, tur maweweh mas 1, masoca mirah, murda wenang. Asampunika kandaning meru tumpang 11, pedaginganipun, yaning buat jinah punika manista madya utama, utama jinah papendemane 11 tali, madya 8 tali, nista 4 tali.

Malih pedagingan padmasana ring dasar pedaginganipun, Bhadawangnala mas, slaka mwah prabot manusa genep, wangi-wangian pripih mas, slaka, tembaga, jarum mas, slaka, tembaga, miwah podhi mirah 2, tumpeng mas, slaka, capung mas, sampian mas, slaka, nyalian mas, udang mas, getem (ketam) temaga, tanlempas mewangi-wangian segenepa, mewadah rapetan putih, metali benang catur warna. Malih pedagingan ring madya, lwire pripih mas, merajah makara, pripih slaka merajah kulum, pripih tembaga merajah getem, miwah jarum manut pripih, phodi mirah 2, tan sah wangi-wangian setegepa mewadah rerapetan putih. Malih korsi mas mewadah lingir sweta, punika ngaran utama yadnyan nista, madia utama, sluwir-luwir padagingan ika, kawanganya maprasistha rumuhun. Sampunang pisan mamurug, dawning linggih Bhatara, yang ande kapurug, kahyangan ika wenang dadi pesayuban Bhuta pisaca, makadi sang mewangun kahyangan ika, tan memanggih rahayu terus tumus kateka tekeng putra potrakanya, asapunka kojarnya sami mangguh lara roga. Malih pedagingan ring luhur luwire, padma mas, masoca mirah korsi mas, phodi mirah, asapunika padagingannya ring padmasana”

Untuk cuplikan ini kiranya tidak perlu dialih bahasakan lagi, karena telah mempergunakan bahasa Bali lumrah, sehingga telah dapat dimengerti oleh sebagian masyarakat umat Hindu yang ada di Bali.

f. Ngenteg Linggih. Ngenteg Linggih adalah sebagai rangkaian Upacāra paling akhir dari pelaksanaan Upacāra mendirikan sebuah pura, secara estimologinya ngenteg berarti menetapkan – linggih berarti menobatkan/ menstanakan.

Jadi Ngenteg Linggih adalah Upacāra penobatan/ menstanakan Hyang Widhi dengan segala manifestasi-Nya pada Pelinggih yang dibangun, sehingga Beliau berkenan kembali setiap saat terutama manakala dilangsungkan segala kegiatan Upacāra di pura yang bersangkutan. Mengenai pelaksanaan ngenteg linggih yang dilaksanakan itu secara garis besarnya adalah sebagai berikut :

Upacāra ditandai dengan membangun Sanggar tawang rong tiga, dilengkapi dengan bebanten suci 4 (empat) soroh dan banten catur, tegen-tegenan, serta Perlengkapan lainnya berupa sesayut gana, telur, benang, kelapa sebanyak 40 (empat puluh) butir yang dikemas dalam empat bakul, uang kepeng 52 (lima puluh dua). Jika di Sanggar tawang menyempatkan tirta, mesti dilengkapi lagi dengan banten suci sejumlah tirta yang ditempatkan di sana dan reruntutan lainnya (menurut petunjuk Sulinggih). Pada undakan Sanggar tawang bebantennya adalah suci samida beserta beras pangopog sebakul berisi bunga lima jenis, seperangkat peras pagenayan bertumpeng merah, ayam biing dipanggang, dilengkapi dengan daksina berisi benang merah. Pada Sanggar tawang memakai lamak 4 (empat) buah pada rong yang ditengah memakai lamak surya dan lamak candra, lamak segara pada rong selatan, lamak gunung pada rong paling utara. Pada masing-masing ruangan juga dilengkapi dengan ujung daun pisang kayu, plawa dilengkapi pajeng, tetunggul empat warna: putih, kuning, merah dan hitam. Pada bangunan panggungan perlengkapannya adalah pring kumaligi, beralaskan pane diisi beras dan uang kepeng 225, benang setukel dan memakai busana lengkap. Perlengkapan lainnya berupa sesantun beras senyiru, 5 butir kelapa, telur, benang, uang 5.000,- (lima ribu), jerimpen 5 (lima) tanding, dijadikan lima nyiru, ini disebut banten paselang.

Banten di bawah panggungan dilengkapi dengan gayah, sate bebali dan gelar sanga ditambah dengan plegembal. Di depan lubang yang nantinya digunakan mepulang/ menanam pedagingan, didepannya digelar baying-bayang (kulit) kerbau hitam, sesajen selengkapnya dengan bebangkit warna hitam, pulakerti 1, suci 1, pagu putih ijo cawu guling, cawu renteg, isu-isu, kwangi.

Pada Sanggar tutuwan, bebantennya adalah banten penebus, dengan perlengkapannya suci putih, bebangkit dan pula kerti, sedangkan banten penyorohnya adalah dihaturkan kehadapan manifestasi Hyang Widhi yang berstana di Sapta Patala (nama Pelinggih), berupa suci 1, bebangkit hitam, guling dan dedaanan, bebanten di natar pura, berupa caru panca sanak, baying-bayang (kulit) angsa, bebek belang kalung, anjing belang bungkem, kambing hitam, dilengkapi dengan suci, bebangkit hitam, pula kerti dan beras serba sepuluh. Setelah semua Perlengkapan Upacāra ini disiapkan, barulah pemujaan oleh Sulinggih, kemudian diakhiri dengan persembahyangan bersama.

Catatan: Tingkatan Upakāra dan Upacāra dari Ngeruwak sampai Ngenteg Linggih pelaksanaannya agar disesuaikan dengan petunjuk sastra dan petunjuk para Sulinggih yang menjadi Manggala Upacāra saat Ngenteg Linggih

IV. Upacāra Pujawali (Odalan)

Upacāra Pujawali (piodalan) merupakan salah satu bentuk pelaksanaan Dewa Yadnya, yaitu suatu korban suci yang dilakukan oleh umat Hindu ditujukan kehadapan Ida Hyang Widhi dan Para Dewa sekalian.

Bagi umat Hindu (etnis Bali) khususnya, korban itu berbentuk banten, banten yang menjadi salah satu bentuk persembahan ini sesungguhnya merupakan suatu wujud nyata ungkapan rasa terima kasih yang tulus ikhlas kepada Sang Hyang Widhi, terutapa meyakinkan getaran-getaran nurani bahwa hidup dan kehidupan kita sebagai manusia amat tergantung daripada-Nya.

Ungkapan rasa terima kasih kita kepada Hyang Widhi yang kemudian melandasi umat Hindu dalam melaksanakan Yadnya (korban suci) itu dan sesungguhnya telah mengikuti petunjuk-petunjuk Bhagawadgita (salah satu buku suci), utamanya bab II sloka 12 – 13 berbunyi sebagai berikut :

“istam bhogam hi vo dava dasyate Yajnabhawitah tuir dattan aprodayani’bhyo Yo bhumkte stana eva sah”

– Dipelihara oleh Yadnya, para dewa akan memberi kamu kesenangan yang kau inginkan, Ia yang menikmati pemberian-pemberian ini, tanpa memberikan balasan kepada-Nya adalah pencuri.

“Yajnasistasinah santo mueyanto sarvakilbisaih bhunyate teti agham papa ya pacanty atmakaranat”

– Orang-orang yang baik yang makan apa yang tersisa dari Yadnya, mereka itu terlepas dari segala dosa, akan tetapi mereka yang jahat yang menyediakan makan bagi kepentingan sendiri adalah makan dosanya sendiri.

Dengan demikian sudah amat wajarlah setiap orang yang mengakui Kemahakuasaan Tuhan, akan berusaha berbuat segala sesuatunya sesuai dengan kemampuan serta keadaan untuk melaksanakan Yadnya kepada-Nya.

Namun apa yang paling penting dalam melaksanakan Yadnya itu adalah adanya rasa yang tulus ikhlas yang terlahir dari lubuk hati yang paling dalam (suci – bersih), bukan didasarkan atas besar kecilnya yadnya yang dilaksanakan. Kutipan berikutnya menyatakan betapa sederhananya yadnya itu boleh dilaksanakan :

“Patram puspam phlam toyam yo me bhaktya prayocehati tad sham bhaktyapahrtam asnami prayatatmanah”

– Siapapun dengan kesujudan mempersembahkan kepada Ku daun, bunga, buah-buahan dan air, persembahan yang didasari dengan cinta yang keluar dari hati yang suci, Aku terima. (Bhagawadgita, III. 28)

Memperhatikan beberapa petunjuk di atas, maka para penyungsung Pura dan umat bertekad melaksanakan dan mensukseskan Upacāra Pujawali (piodalan) sesuai subadewasa, dengan segala ketulusan hati yang paling suci bersih. Secara umum rangkaian sebuah Pujawali/ Pidodalan dengan rangkaian Upacāra sebagai berikut :

a. Upacāra Nuasin Karya (Matur Piuning Persiapan Pujawali)

1. Setelah semua banten munggah di pelinggih masing-masing. Pinandita memulai memuja diiringi Kidung suci

2. Pinanandita memohon Tirtha Pabersihan, Pelukatan, Byakala, Prayascita, dan Tirtha Pengulapan.

3. Semua Banten dan Pelinggih disucikan dengan urut-urutan:

a. Peasepan

b. Toya Anyar

c. Byakala:

a) Pengeresikan

b) Tirtha – Padma

c) Banten Byakala diayabkan ke pelinggih bagian bawah

d) Prayascitta:

a) Pengeresikan

b) Tirtha – Padma

c) Bungkak Gading – Lis Senjata

d) Banten Prayascita diayabkan ke pelinggih bagian atas

e) Pengulapan:

a). Pengeresikan

b).Tirtha – Padma

c). Bungkak Bulan – Lis

d). Banten Pengulapan diayabkan ke pelinggih bagian atas.

KEPUTUSAN

PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA PUSAT

NOMOR: 11/Kep/I/PHDIP/1994

TENTANG BHISAMA KESUCIAN PURA

Menimbang:

Bahwa dengan semakin berkembangnya Pembangunan Nasional pada umumnya dan pembangunan kepariwisataan pada khususnya dan demi terjaminnya kesucian Pura dengan kawasan sucinya disatu pihak dan tetap berlangsungnya Pembangunan Nasional dan Daerah dilain pihak.

Mengingat:

Anggaran Dasar Parisada Hindu Dharma Indonesia Bab. IX Pasal 28, Pasal 29, Pasal 33 dan Pasal 34.

Mendengar:

Hasil musyawarah para anggota Pesamuhan Sulinggih dan Pesamuhan Walaka serta Pengurus Harian Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat pada tanggal 25 Januari 1994 di Universitas Hindu Indonesia dengan acara membahas Kesucian Pura bagi umat Hindu.

Memperhatikan:

Aspirasi Umat Hindu yang berkembang tentang Kesucian Pura

MEMUTUSKAN

Menetapkan:

A. PENDAHULUAN

Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat senantiasa mendukung kebijaksanaan pemerintah dalam Pembangunan Nasional sebagaimana ditegaskan di dalam GBHN tahun 1993. Bahwa Pembangunan jangka panjang 25 tahun tahap ke II merupakan proses berlanjut, peningkatan, perluasan, dan pembaharuan dari Pembangunan Jangka Panjang 25 tahun Tahap I.

Dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap ke II Bangsa Indonesia memasuki proses tinggal landas menuju terwujudnya masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

Dalam rangka menyukseskan pelaksanaan Pembangunan Nasional kecenderungan- kecenderungan yang diperkirakan timbul khususnya yang berdampak negatip perlu diwaspadai, dan kendala- kendala yang muncul perlu ditanggulangi secara dini, tepat dan benar.

Mengingat Bangsa Indonesia akan segera memasuki tahap tinggal landas dan meningkatnya kemajuan Industrialisasi dan Globalisasi yang ditunjang oleh kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, dimana Bali merupakan daerah wisata yang utama. Untuk menjamin kelancaran Pembangunan Nasional maka dibutuhkan landasan- landasan Pembangunan Agama Hindu dan kebudayaan secara kuat dan ampuh. Umat Hindu dituntut agar mampu mengantisipasi masalah-masalah yang merupakan dampak negatip akibat dari Pembangunan itu sendiri. Hal ini sangat penting mengingat masyarakat Hindu Indonesia khususnya Hindu di Bali bersifat sosial keagamaan. Oleh karena itu maka perlu pengkajian-pengkajian secara mendalam dan terarah.

B. UMUM

1. Agama Hindu dalam kitab sucinya yaitu Weda-weda telah menguraikan tentang apa yang disebut dengan tempat-tempat suci dan Kawasan Suci, Gunung, Danau, Campuan (pertemuan sungai), Pantai, Laut dan sebagainya diyakini memiliki nilai- nilai kesucian. Oleh karena itu Pura dan tempat- tempat suci umumnya didirikan ditempat tersebut, karena ditempat orang-orang suci dan umat Hindu mendapatkan pikiran-pikiran suci (wahyu).

2. Tempat- tempat suci tersebut telah menjadi pusat- pusat bersejarah yang melahirkan karya- karya besar dan abadi lewat tangan orang-orang suci dan para Pujangga untuk kedamaian dan kesejahteraan umat manusia. maka didirikanlah Pura-Pura Sad Khayangan, Dang Khayangan, Khayangan Tiga, dan lain-lain. Tempat-tempat suci tersebut memiliki radius kesucian yang disebut daerah kekeran dengan ukuran Apeneleng Apenimpug, dan Apenyengker. Untuk Pura Sad Khayangan dipakai ukuran Apeneleng Agung (minimal 5 Km dari Pura), untuk Dang Khayangan dipakai ukuran Apeneleng Alit (minimal 2 km dari Pura), dan untuk Khayangan Tiga dan lain-lain dipakai ukuran Apenimpug atau Apenyengker.

3. Mengingat perkembangan pembangunan yang semakin pesat, dan Umat Hindu yang bersifat sosial keagamaan maka kegiatan pembangunan mengikutsertakan Umat Hindu disekitarnya, mulai dari perencanaan pelaksanaan dan pengawasan, demi kelancaran pembangunan tersebut. Agama Hindu menjadikan umatnya menyatu dengan alam lingkungan, oleh karena itu konsepsi Tri Hita Karana wajib diterapkan dengan sebaik-baiknya. Untuk memelihara keseimbangan antara pembangunan dan tempat suci, maka tempat-tempat suci (pura) perlu dikembangkan untuk menjaga keserasian dengan lingkungannya.

4. Berkenaan dengan terjadinya perkembangan pembanugnan yang semakin pesat, maka pembangunan harus dilaksanakan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Didaerah Radius kesucian pura (daerah kekeran) hanya boleh ada bangunan yang terkait dengan kehidupan keagamaan Hindu, misalnya didirikan Dharmasala, Pasraman dan lain-lain, bagi kemudahan umat Hindu melakukan kegiatan keagamaan (misalnya Tirta yatra, Dharma Wacana, Dharma Githa, Dharma Sedana dan lain-lain).

C. KHUSUS

1. Menyadari bahwa suksesnya pembinaan umat Hindu dan kebudayaan menyebabkan keberhasilan pariwisata budaya, maka diperlukan adanya kerjasama yang sebaik- baiknya antara instansi kepariwisataan dengan PHDI dan lembaga adat.

2. Perlu diadakan pengkajian ulang yang lebih mendalam terhadap segala aktivitas pembangunan yang ada di kawasan suci Tanah Lot untuk menjaga kelestarian dan kesucian sesuai dengan ketentuan di atas.

Om Santhih, Santhih, Santhih, Om

Denpasar, 25 Januari 1994

Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat

Ketua Umum: Ida Pedanda Putra Telaga

Sekretaris Jenderal: Drs. Ida Bagus Suyasa Negara

Bisama Kesucian Pura

Seperti kita ketahui, pura Kahyangan Jagat dibagi menjadi empat jenis yaitu Pura Kahyangan Jagat yang didirikan berdasarkan konsepsi Rwa Bhineda, Catur Loka Pala, Sad Winayaka dan Padma Bhuwana. Ada beberapa pura yang tergolong berfungsi rangkap, baik sebagai pura Rwa Bhineda, pura Catur Loka Pala maupun sebagai pura Sad Winayaka dan juga sebagai pura Padma Bhuwana. Pura Besakih dan Pura Batur di Kintamani adalah pura yang tergolong pura Rwa Bhineda. Pura Catur Loka Pala adalah Pura Lempuhyang Luhur di arah timur Bali, Pura Luhur Batukaru arah barat, Pura Andakasa arah selatan dan Pura Puncak Mangu arah utara.

Pura yang didirikan berdasarkan konsepsi Sad Winayaka ini umumnya disebut Pura Sad Kahyangan. Tidak kurang dari sembilan lontar menyatakan adanya Pura Sad Kahyangan. Namun setiap lontar menyatakan pura yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena saat Bali menjadi sembilan kerajaan. Tiap-tiap kerajaan memiliki Sad Kahyangan masing-masing. Ada yang sama dan ada juga yang tidak sama.

Pura Sad Kahyangan yang dinyatakan dalam Lontar Kusuma Dewa itu adalah Sad Kahyangan saat Bali masih satu kerajaan. Pura Luhur Uluwatu adalah salah satu pura yang dinyatakan sebagai Pura Sad Kahyangan dalam Lontar Kusuma Dewa dan juga beberapa lontar lainnya. Pura Luhur Uluwatu itu juga dinyatakan sebagai pura Padma Bhuwana yang berada di arah barat daya Pulau Bali.

Untuk menjaga agar Pura Kahyangan Jagat tersebut tetap lestari maka PHDI Pusat telah mengeluarkan Bhisama tentang Kesucian Pura. Bhisama Kesucian Pura tersebut dikeluarkan oleh PHDI Pusat tanggal 25 Januari 1994 adalah suatu produk untuk melanjutkan sistem beragama Hindu di Bali, khususnya tentang keberadaan Pura Kahyangan Jagat. Jarak keberadaan pura yang tergolong Kahyangan Jagat itu yakni desa pakraman terdekat dengan Kahyangan Jagat umumnya berjarak apeneleng agung (sekitar lima kilometer).

Kahyangan Jagat tersebut khususnya Kahyangan Jagat yang tergolong Kahyangan Rwa Bhineda, Kahyangan Catur Loka Pala, Pura Sad Kahyangan dan Pura Padma Bhuwana yang berada di sembilan penjuru Pulau Bali. Sedangkan Pura Kahyangan Jagat yang tergolong Pura Dang Kahyangan berjarak apeneleng alit kurang lebih dua kilometer. Sedangkan untuk Pura Kahyangan Tiga dan lain-lainnya dengan jarak apenimpug dan apenyengker.

Istilah-istilah apeneleng agung, apeneleng alit, apenimpug dan apenyengker semuanya itu adalah istilah yang terdapat dalam tradisi budaya Bali warisan leluhur umat Hindu yang sudah ada sejak berabad-abad. Tujuan utama Bhisama Kesucian Pura tersebut untuk menata keseimbangan perilaku manusia dalam memanfaatkan alam agar tidak semata-mata dijadikan sarana untuk kepentingan hidup sekala yang bersifat sementara. Pemanfaatan ruang di alam ini agar digunakan secara seimbang untuk memenuhi kebutuhan hidup yang bersifat sekala dan niskala dengan landasan filosofi Tri Hita Karana.

Bhisama Kesucian Pura ini dibuat untuk mencegah pelanggaran tentang keberadaan pura tersebut tidak berlangsung terus. Namun, bhisama ini adalah produk pandita melalui Pasamuan Sulinggih PHDI Pusat yang dibantu oleh Sabha Walaka dan Pengurus Harian PHDI Pusat. Bhisama ini adalah tergolong norma agama. Sanksi norma agama bagi pelanggar-pelanggarnya tergantung dari keyakinan umat pada ajaran agamanya.

Bhisama itu adalah penafsiran suatu ajaran agama yang belum jelas dan tegas dinyatakan dalam kitab suci Veda. Namun secara filosofis sudah tercantum dalam kitab suci. Dalam Manawa Dharmasastra XII.108 menyatakan, kalau ada hal-hal yang belum secara jelas dinyatakan dalam ajaran Veda (Dharma), maka yang berwewenang menentukan jawabannya adalah Brahmana Sista (Pandita Ahli). Ketentuan itu memiliki kekuatan legal.

Selanjutnya dalam Manawa Dharmasastra XII.110 dinyatakan bahwa apa pun yang telah ditetapkan oleh Brahmana Sista yang memegang jabatan di Parisada, memiliki kekuatan hukum yang sah, siapa pun sebaiknya tidak ada yang membantahnya.

Substansi bhisama adalah menjaga kawasan suci di areal pura agar jangan terjadi polusi dan vibrasi negatif. Kalau di sekitar pura sudah terjadi polusi dan vibrasi negatif karena terjadi berbagai kegiatan hidup yang tidak sesuai dengan norma agama yang diberlakukan di areal pura tersebut, apa lagi ditambah dengan lingkungan yang sudah terpolusi, dapat menyebabkan pura tidak lagi memancarkan kesucian dan kelestarian alam lingkungan.

Keberadaan pura dengan lingkungannya hendaknya ditata sedemikian rupa sehingga dapat dihadirkan sebagai fasilitas spiritual yang memadai. Dengan demikian pura dengan fasilitas spiritualnya dapat memberikan kontribusi spiritual yang lebih dalam kepada mereka yang sedang menjadikan pura sebagai media untuk mengembalikan daya spiritualnya. Karena itu, Bhisama Kesucian Pura membenarkan adanya berbagai fasilitas yang menunjang keberadaan pura sebagai media spiritual.

Yang dapat dibangun di sekitar pura seperti dharmasala dan pasraman dan bangunan-bangunan lainnya yang berfungsi untuk lebih mengeksistensikan keberadaan pura sebagai media untuk menguatkan aspek spiritual umat. Dharmasala adalah bangunan sebagai tempat menginap umat yang dari jauh yang ingin mengikuti berbagai kegiatan keagamaan di pura bersangkutan. Dharmasala ini dalam sistem pengelolaannya dapat saja memungut biaya kepada umat yang menginap sebagai biaya untuk memberikan pelayanan kepada umat bersangkutan.

Dharmasala bukanlah hotel sebagai tempat penginapan umum. Yang boleh menginap di dharmasala adalah mereka yang khusus akan mengikuti berbagai kegiatan keagamaan di pura bersangkutan. Sedangkan pasraman adalah suatu fasilitas yang menyediakan fasilitas pendidikan kerohanian untuk menyiapkan umat yang akan mengikuti berbagai kegiatan di pura bersangkutan. Di samping dharmasala dan pasraman dapat saja dibangun fasilitas lainnya di areal kesucian pura sepanjang hal itu menunjang eksistensi pura sebagai kawasannya sebagai media spiritual.

Dalam areal radius lima kilometer di Pura Luhur Uluwatu dengan Pura-pura Prasanak-nya itu dapat saja dibangun dharmasala dan pasraman. Apalagi dilengkapi dengan bangunan ”diorama” yang dapat memvisualisasikan berbagai nilai filosofi hidup yang dikandung oleh keberadaan Pura Luhur Uluwatu dengan Pura Prasanak-nya. Upaya itu tentunya amat positif, sepanjang dilakukan dan didahului dengan pengkajian yang mendalam. Hasil pengkajian tersebut dituangkan ke dalam program yang matang, baik untuk jangka pendek maupun untuk jangka panjang. Dengan demikian generasi sekarang akan memiliki komitmen spiritual untuk melanjutkan warisan leluhur yang amat mulia itu

Leave a comment

Filed under Articles