Haul Akbar Al Hidmat Bali 2012

Haul Akbar Al Hidmat Bali 2012

Leave a comment

September 18, 2012 · 10:07 am

Peranan Tokoh Agama dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara guna Nation and Character Building

PERANAN TOKOH AGAMA DALAM KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA GUNA NATION AND CHARACTER BUILDING

 Drs. Ida Bagus Gede Wiyana

Ketua Umum Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Prov. Bali

 QUESTIONS FOR DISCUSSION

  • Religions are often accused of being co-opted by the powers-that-be to achieve their selfish ends. Do you agree or disagree? Please state your reasons!
  • How does religion, which speak of love, compassion and mercy, also become a tool for violence?
  • All religions have an exclusivistic dimensions. How does this exclusivistic dimension contribute to intolerance and violence?

 PENDAHULUAN

Situasi dan kondisi aman, tertib serta tentramnya kehidupan masyarakat sebagai salah satu prasyarat terselenggaranya proses pembangunan nasional dalam rangka tercapainya tujuan nasional, ditandai dengan terjaminnya keamanan, ketertiban dan tegaknya hukum serta terbinanya ketentuan yang mengandung kemampuan dan kekuatan masyarakat dalam menangkal, mencegah dan menanggulangi segala bentuk pelanggaran hukum dan bentuk-bentuk gangguan lainnya yang meresahkan masyarakat, termasuk issu terkini 10 Top Kerawanan a.l. : Bencana Alam, Kemiskinan, Pengangguran, Terorisme, Krisis Energi, Krisis Pangan, Krisis Moral, Korupsi, Konflik Horisontal, Konflik Vertikal, malahan Indonesia dianggap diambang gagal (failed state) bila :

  1. Keamanan rakyat tidak bisa dijaga : perkosaan, traficking, narkoba, dll.
  2. Konflik etnis dan agama tidak kunjung usai : Poso, Kupang, Sambas, Ambon, Papua, Ciketing, Sampang Madura, dll.
  3. Korupsi merajalela : korupsi No.1 di Asia dan ke 5 di dunia (2005)
  4. Legitimasi negara terus menipis : NGO Asing dgn bantuan kemanusiaan, HAM, Mogok Buruh dll.
  5. Pemerintah Pusat lemah mengatasi masalah Dalam Negeri : Separatisme, Terorisme, Anarkisme, Radikalisme Agama dll.
  6. Kerawanan terhadap tekanan Luar Negeri : Ambalat, Freeport, Newmont, Pulau-Pulau Terluar dll.
  7. Dan Masyarakat sendiri sangat apatis, fragmatis dll.

Peranan dan fungsi Tokoh Masyarakat, Umat Beragama dan Lembaga Kerukunan yang meliputi pemeliharaan kedamaian, rukun dalam masyarakat, taat hukum dan perundang-undangan, serta pelayanan kepada umat dilakukan oleh Lembaga keumatan selaku partner negara bersama seluruh masyarakat dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia.

Kedamaian, Keharmonisan, Kenyamanan hidup merupakan prasyarat umum karena dibutuhkan oleh masyarakat, bangsa dan negara demi ketentraman dan kesejahteraannya. Bangsa Indonesia menghendaki dengan kemerdekaannya itu menuju :

  • Membentuk Negara Indonesia yang melindungi bangsa dan tanah air
  • Menyelenggarakan masyarakat yang Adil dan Makmur (pendekatan kesejahteraan)
  • Ikut dalam ketertiban dan perdamaian dunia (pendekatan ketertiban dunia).

Untuk membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang melindungi bangsa dan tanah air, maka negara di dalam UUD 1945 pasal 29 menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agamanya dan kepercayaannya. Dalam hal ini Dharma Negara dan Dharma Agama untuk membangun kerukunan umat beragama melalui legalitas kehidupan bermasyarakat dan bernegara (Nation and Character Building).

DHARMA NEGARA : HUBUNGAN NEGARA DENGAN AGAMA

Negara dan agama merupakan dua lembaga yang secara hakiki berbeda, agama terutama berkenaan dengan relasi antara manusia dengan Tuhannya, sementara negara lebih berkenaan dengan hubungan antara manusia dalam suatu kehidupan bersama, namun demikian agamanya juga terkait dengan hubungan antar manusia dalam kehidupan bersama, sehingga sesungguhnya baik negara maupun agama keduanya sama bertujuan mengatur kehidupan manusia.

Walaupun wilayah berlakunya aturan Agama / agama-agama bersifat Universal, menembus batas-batas wilayah negara yang bersangkutan, namun dapat dipahami bahwa pada titik tertentu subyek dari kedua aturan tersebut sama yaitu warga negara dari suatu negara tertentu.

Dalam keadaan semacam itu timbul persoalan apakah aturan negara akan disatukan (dalam arti di dasarkan) pada aturan agama tertentu, atau justru kedua aturan itu dipisahkan satu sama lain. Penyatuan aturan negara dengan agama akan menimbulkan negara agama, sementara pemisahan antara aturan negara dengan aturan agama / agama-agama menimbulkan persoalan mendasar tentang bagaimana hubungan antara negara dengan agama / agama-agama itu sendiri.

Dalam model pembedaan dan kerjasama di antara negara dan agama/ agama-agama negara tidak menyatukan diri dengan satu agama tertentu, urusan agama maupun urusan negara tidak dipersatukan apalagi dicampur adukkan.

Negara melalui pemerintah mencoba mengembangkan hubungan yang saling menguntungkan dengan agama melalui berbagai lembaga keagamaan yang ada. Perbedaan fungsi yang tegas dan kerjasama antara agama dan negara itu adalah sedemikian sehingga:

  1. Negara tidak memasukkan agama kedalam dirinya, dan juga agama tidak mencaplok negara menjadi wilayah bawahannya.
  2. Negara menghormati agama dengan karakteristiknya sendiri sehingga tidak ada campur tangan negara terhadap agama sebagai agama dan sebaliknya agama menghormati negara dengan karakteristiknya sendiri, sehingga tidak ada campur tangan agama terhadap penyelenggaraan negara.
  3. Hukum negara tidak diangkat dari atau dibuat berdasarkan hukum agama.
  4. Tidak ada agama yang diangkat menjadi agama negara yaitu agama satu-satunya yang harus dianut oleh seluruh rakyat.
  5. Negara membantu rakyatnya dalam kehidupan beragama, berdasarkan pandangan bahwa kehidupan beragama adalah suatu jalan bagi manusia untuk memperoleh kebahagiaan religius, sedangkan kebahagiaan religius merupakan suatu segi kesejahteraan yang menjadi tujuan negara.

DHARMA AGAMA : MEMBANGUN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA

Manusia dalam penokohannya atau ditokohkan adalah makhluk religius yang artinya makhluk yang sadar akan dirinya sebagai yang berada di dalam keterkaitan. Bentuk kongkrit pengungkapan religius tentu sangat ditentukan oleh pengakuan dasar (iman) terhadap seseorang terhadap siapa sang pencipta itu sesuai  dengan apa yang dihayati sebagai yang benar, oleh karena itu menjamin dan menghormati hak dan kebebasan orang lain untuk memeluk kepercayaan merupakan landasan dalam membangun kerukunan umat beragama.

Indonesia mempunyai berbagai ragam suku bangsa dan beberapa agama (Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha, Kong Hu Cu) oleh karena itu perlu adanya Sinkretisme yaitu kebersamaan kelompok-kelompok (agama-agama) yang berbeda-beda untuk menghadapi musuh bersama-sama. Kerjasama antara agama di Indonesia dapat dengan mudah terjadi mengingat cara hidup masyarakat dan bangsa Indonesia di latarbelakangi oleh semangat kebersamaan dan gotong royong. Oleh karena itu sebagai Bangsa Indonesia menghilangkan ”Apriori Primodial” hal ini dalam rangka menghilangkan rasa emosi dan kesadaran membangun kerukunan umat beragama.

Kerukunan umat beragama adalah keadaan hubungan sesama umat beragama yang dilandasi toleransi, saling pengertian, saling menghormati, menghargai kesetaraan dalam pengamalan ajaran agamanya dan kerjasama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Pemeliharaan kerukunan umat beragama menjadi tanggung jawab bersama umat beragama, pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Dalam hidup berbangsa dan bernegara yang majemuk, terdiri dari suku agama dan latar belakang kebudayaan yang berbeda sangatlah perlu untuk mengingatkan di masing-masing bahwa kecuali kepentingan pembangunan kita sendiri baik berupa aku, keluargaku, sukuku, partaiku, golonganku dan yang lain-lain yang diikuti ku ada juga kepentingan orang lain yang juga ingin berbahagia dan mencapai tujuan seperti golongan kita.

Kita juga mengenal adanya Tri Kerukunan Umat Beragama yaitu :

  1. Kerukunan Inter Umat Beragama
  2. Kerukunan Antar Umat Beragama
  3. Kerukunan Antar Umat Beragama dengan Pemerintah

Dari Tri Kerukunan Umat Beragama yang paling penting diwujudkan adalah kerukunan antar umat beragama karena kalau kurang mendapat pembinaan dan pencerahan maka kerukunan akan berkurang bahkan sebaliknya akan dapat mengakibatkan adanya perpecahan yang merugikan persatuan dan kesatuan bangsa. Namun ada sebuah ungkapan kami di FKUB Bali : ‘Kerukunan antar umat beragama memang sulit akan tetapi Kerukunan intern umat beragama jangan dianggap lebih gampang’. Fakta lapangan menunjukkan banyak terjadi konflik-konflik yang diakibatkan ke disharmonian hubungan intern umat beragama itu sendiri.

LEGALITAS DAN PEMBERDAYAAN UMAT BERAGAMA

Di dalam pasal 29 UUD 1945 menentukan :

  1. Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.
  2. Negara berdasarkan kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama masing-masing dan beribadat menurut agama dam kepercayaan itu.

Ketentuan ini menegaskan tugas negara dalam bidang hidup keagamaan yaitu bahwa negara bertugas untuk memberikan jaminan perlindungan agar setiap penduduk, yang nota bene adalah pemeluk agama tertentu, dapat secara bebas melaksanakan ajaran agama atau kepercayaannya. Negara bertugas untuk menjaga harmoni antara kebebasan menjalankan ibadah agama dengan upaya mewujudkan kesejahteraan bersama dalam masyarakat. Tugas tersebut dijalankan dengan cara menjamin kesempatan yang sama dan adil bagi setiap warga negara untuk mengenalkan konsepsinya tentang Tuhan sesuai dengan ajaran agama yang diyakininya.

Menurut Amin Suyitno dan Gultom (1981:57) ada empat tugas negara terhadap agama dan penganutnya :

  1. Mengakui dan menghormati serta menjamin hak hidup agama dan kepercayaannya;
  2. Menjamin tiap-tiap penduduk menjalankan ibadahnya;
  3. Memberikan perlindungan yang sama terhadap semua perkumpulan agama dan kepercayaannya;
  4. Membina sikap positif warga negara terhadap agama dan kepercayaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Legalitas dan pemberdayaan kerukunan umat beragama dalam kehidupan bermasyarakat diatur dalam Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor : 9 Tahun 2006 dan Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/ Wakil Kepala Daerah dalam pemeliharaan kerukunan umat beragama pemberdayaan forum kerukunan umat beragama dan pendirian rumah ibadah.

Di dalam perlindungan terhadap kerukunan umat beragama dalam kehidupan bermasyarakat sudah menjadi tanggung jawab semua pihak, terutama bagaimana meningkatkan SDM dan Lembaga Kerukunan sesuai dengan keinginan umat, bangsa dan negara kita.

Di samping Majelis Agama dalam kerangka pemeliharaan kerukunan umat beragama juga menjadi tugas Kepala Daerah seperti yang tercantum dalam Peraturan Bersama Mendagri Nomor 9 Tahun 2006 dan Nomor 8 Tahun 2006 tentang pedoman tugas Kepala Daerah dalam pemeliharaan kerukunan beragama, pemberdayaan forum kerukunan umat beragama dan pendirian rumah ibadah terdapat pada :

  1. BAB II Tentang Tugas Kepala Daerah dalam pemeliharaan kerukunan umat beragama dalam pasal 2,3,4,5,6,7.
  2. BAB III Forum Kerukunan Umat Beragama di dalam pasal 8,9,10,11,12.

Jadi kerukunan umat beragama dalam kehidupan bermasyarakat sudah dilegalisir oleh Pemerintah karena Pemerintah mempunyai tugas untuk memberikan bimbingan dan pelayanan agar setiap penduduk dalam melaksanakan ajaran agamanya dapat berlangsung dengan rukun, lancar dan tertib, dan untuk daerah dalam rangka menyelenggarakan otonomi, mempunyai kewajiban melaksanakan urusan wajib bidang perencanaan, pemanfaatan dan pengawasan tata ruang serta kewajiban melindungi masyarakat, menjaga persatuan, dan kerukunan nasional serta keutuhan negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kerukunan umat beragama merupakan bagian terpenting dari kerukunan nasional. Jadi pemerintah dan Majelis Agama mempunyai kewajiban yang sama dalam memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat.

Kerukunan, persatuan dan kesatuan bangsa, khususnya kerukunan antar umat beragama merupakan syarat mutlak demi terwujudnya suasana aman, damai, tentram dan sentosa. Oleh sebab itu tumbuhnya semangat demokratisasi harus bersamaan dengan tumbuhnya semangat :

  1. Menghormati hak-hak manusia, melalui kesadaran kesamaan harkat sebagai sesama makhluk Tuhan yang dikaruniai kehormatan dan kemuliaan.
  2. Tumbuhnya semangat kebangsaan, semangat cinta tanah air sebagai karunia Tuhan yang patut disyukuri.
  3. Menjauhkan segala faktor yang akan merusak kebanggaan terhadap harga diri bangsa dengan bermusuhan antar agama.

MULTIKULTUR DAN PLURALISME : ANTARA REALITAS, KESADARAN DAN SIKAP

Pluralitas masyarakat di manapun adalah sebuah realitas eksisten­sial yang terbentuk dari perbedaan yang ada secara kodrati dalam kehidupan manusia dan masyarakat. Tak seorang manusia pun sama dengan manusia lainnya walau mereka lahir sebagai saudara kembar. Tak ada cap jempol yang sama adalah contoh paling nyata bahwa tak ada dua manusia yang absolut sama. Mungkin saja sangat mirip tapi tidak mungkin persis sama. Sebuah masyarakat dunia terdiri dan terben­tuk dari banyak orang yang merupakan warganya. Kalaulah ada sebuah masyarakat tradisional yang dianggap homogen namun homoge­nitasnya itu relatif sifatnya sebab di dalamnya pasti ada unsur-unsur yang berbeda sehingga tak akan terelakkan adanya heteroge­nitas betapapun kecilnya. Sebuah masyarakat bagaimanapun, bukan­lah sebuah kumpulan makhluk organis yang statis, yang tidak mengalami perubahan dan perubahan itu tentu sangat bervariasi coraknya sehingga memperkaya dan menambah kompleksitas perbedaan. Karena itu tidak mungkin dihindari bahwa pluralitas yang ada secara kodrati itu kemudian secara sosial dan kultural terus mengalami perkembangan dalam gerak dinamika kehidupan manusia dan masyarakat yang multidimensional sifatnya, dan dengan sendirinya akan melahirkan berbagai visi tentang kehidupan dan masa depan.

Untuk batas tertentu pluralitas bisa dilihat sebagai kekayaan namun dalam perkembangannya ia tidak hanya berhenti pada perbe­daan sekedar dan sebagai perbedaan semata tapi mungkin saja perbedaan itu bersifat diametral dan antagonistik sehingga sebenarnya bukan lagi perbedaan melainkan sebuah pertentangan. Tan­tangan yang dihadapi oleh manusia dan masyarakat adalah bukan menghilangkan perbedaan dan pertentangan sebagai realitas sosial dan kultural melainkan bagaimana mengelolanya secara kreatif sehingga terwujud dalam “cooperation” dan “competition”, kerjasama dan persaingan. Dalam perspektif ini “management of con­flict” menjadi sangat penting.

MULTIKULTURISME SEBUAH KENISCAYAAN DI BUMI PANCASILA

Pluralitas yang muncul dalam proses kehidupan dunia kita terwujud dalam dua bentuk : pluralitas horizontal dan pluralitas vertikal. Yang pertama terlihat misalnya dalam perbedaan etnis atau ras dan agama sedangkan yang kedua terlihat umpamanya dalam perbedaan peran politik antara penguasa dan rakyat, dalam kemampuan ekono­mi antara orang kaya dan orang miskin, dan dalam tingkat pendidi­kan antara kaum terpelajar dan masyarakat awam. Tentu saja plura­litas vertikal ini tidak dikaitkan dengan pluralisme tradisional yang memberlakukan perbedaan strata sosial dalam pelembagaan yang bersifat diskriminatif. Kedua-duanya, pluralitas horizontal dan pluralisme  modern yang menjunjung tinggi hak-hak manusia.

Mobilitas sosial yang didukung oleh kemudahan dalam dan untuk bepergian sebagai hasil kemajuan sarana-sarana transportasi mem­buat kontak-kontak horizontal warga masyarakat dengan warga masyarakat lainnya makin sering terjadi dan juga makin luas jangkauannya melampaui batas-batas geografis, lokal, regional bahkan nasional  dan internasional sehingga heteroginitas masyarakat makin kompleks. Perbedaan tingkat dan kadar kemampuan warga masyarakat, baik dilihat dari segi kebendaan, kecerdasan maupun kesempatan untuk memperoleh jalur lembaga pendidikan maupun media massa, mengaki­batkan perbedaan kemampuan untuk mengembangkan diri dan meraih keberhasilan. Akibat lebih jauh adalah terjadinya pluralitas vertikal yang terwujud dalam tingkatan strata politik, ekonomi maupun keterpelajaran. Perlu disadari dan dicatat bahwa plurali­tas walaupun dalam batas tertentu merupakan kekayaan yang memben­tuk mozaik kultural sekaligus potensi dinamika masyarakat dan bangsa di dunia ini namun hal itu juga bisa menjadi sumber konflik sosial. Karena itu diperlukan usaha untuk menumbuhkan kesadaran untuk menerima perbedaan sebagai realitas natural maupun kultural sepanjang fungsional sifatnya dan tidak melecehkan harkat dan martabat kemanusiaan. Dari perspektif ini kita bersinggungan dengan konsep pluralisme.

Pluralisme tentu saja lahir dari kesadaran dan kesediaan menerima perbedaan untuk kemudian mengolahnya, sebagai unsur kreatif masyarakat kita sebagai sebuah kesatuan yang mengandung dan merangkum kemajemukan. Dalam perspektif masyarakat kita yang multietnik perlu disadari bahwa masing-masing etnik tentu memi­liki identitas budayanya sendiri. Tambahan lagi, kehadiran berba­gai agama yang menjadi anutan masyarakat kita telah memperkaya kemajemukan bangsa kita. Kehadiran agama-agama itu tentu saja memasuki aspek batiniah budaya bangsa di dunia ini. Karena itu pluralisme dengan sendirinya identik dengan dan memang pada hakikatnya muradif atau sinonim multikulturisme. Semboyan Bhineka Tunggal Ika sebagai terpatri dalam lambang negara Republik Indonesia : Garuda Pancasila menegaskan bahwa bangsa Indonesia secara tegas menganut prinsip plura­lisme. Dengan pluralisme di sini kita tidak dimaksudkan pluralisme ekstrem sebagai reaksi terhadap monisme yang mengatakan bahwa dunia ini terdiri dari jumlah tak terbatas dari unsur-unsur yang terpisah. Pluralisme yang perlu dan harus kita kembangkan adalah pluralisme yang terwujud dalam sikap pluralistik, yakni sikap yang bersedia menerima perbedaan, bukan hanya sebagai realitas objektif akan tetapi juga sebagai potensi dinamik yang memberikan kemungkinan-kemungkinan dan harapan akan kemajuan di masa depan. Sebuah pluralisme yang menyemangati sistem pergaulan sosial yang memungkinkan setiap unsur kultural masyarakat dunia kita saling berinteraksi secara alamiah dalam proses yang saling memperkaya dan diharapkan akan melahirkan sebuah masyarakat majemuk yang terbu­ka, multikultural dan demokratis.

PLURALITAS KEAGAMAAN : ANTARA EKSKLUSIFISME DAN INKLUSIFISME

Pluralisme dalam konteks kehidupan keagamaan tidak hanya ditandai oleh kehadiran berbagai agama yang secara eksistensial memiliki tradisi yang berbeda satu sama lain akan tetapi juga ditandai oleh pluralisme penafsiran tidak hanya melahirkan berbagai aliran atau mazhab bahkan juga sekte keagamaan akan tetapi juga melahir­kan perbedaan kecenderungan pandangan dan sikap : eksklusifisme dan insklusifisme. Pluralitas kelembagaan melalui itu agama mendunia, memasuki ruang dan waktu, tampak dari dan terwujud dalam kehadiran, paling tidak, tokoh-tokoh agama, organisasi-organisasi keagamaan dan komunitas-komunitas agama.

Perlu digarisbawahi bahwa pluralitas agama berkaitan dengan masalah yang sangat peka. Sebab agama berkaitan dengan keyakinan tentang sesuatu yang absolut benar, sesuatu yang “ultimate”, yang menyangkut keselamatan hidup manusia setelah “kematian”. Keyakinan tersebut diejawantahkan dalam keberagamaan, tidak juga dalam wujud keyakinan teologis atau simbolisme ritual melainkan juga dalam wujud kegiatan yang secara langsung atau tidak bernuansa bahkan berdampak sosial.

Ada berbagai opsi dalam masyarakat kita menjawab pluralitas keagamaan itu,

Pertama adalah sikap menerima kehadiran orang lain atas dasar konsep hidup berdampingan secara damai. Yang diperlu­kan adalah sikap tidak saling mengganggu.

Kedua adalah mengem­bangkan kerjasama sosial-keagamaan melalui berbagai kegiatan yang secara simbolik (live in) memperlihatkan dan fungsional mendorong proses pengembangan kehidupan beragama yang rukun.

Ketiga adalah mencari dan mengembangkan dan merumuskan titik-titik temu agama-agama untuk menjawab problema, tantangan dan keprihatinan umat manusia :

Opsi pertama adalah sekedar tahap awal dan kondisi minimal untuk membangun kebersamaan masyarakat kita.

Opsi kedua merupakan landasan “Teologis” bagi masing-masing umat untuk membangun sebuah masyarakat di mana semua orang dapat hidup bersama dalam semangat persamaan dan kesatuan umat manusia.

Opsi ketiga merupa­kan perwujudan nyata dari kebersamaan itu.

Dalam perspektif yang lain kita juga bisa menempatkan pluralisme keagamaan itu dalam kerangka pendekatan tataran ’Menyama Braya’ (vasudeva kuthum bhakam) yang menempatkan persaudaraan seagama, persaudaraan se­bangsa dan persaudaraan sesama umat manusia dalam satu nafas. Ketiga-tiganya tidak harus bertentangan dan masing-masing mempun­yai tempat dan relevansinya sendiri dalam kehidupan kita sebagai manusia pribadi, warga negara dan warga dunia sehingga tidak perlu membuat kita dalam situasi dilematik apalagi di negara yang memiliki 4 pilar kebangsaan al. Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945.

TEOLOGI HINDU YANG PLURALIS DAN DIALOGIS

Pandangan agama Hindu tentang pluralisme dan dialogisme merupakan landasan atau dasar-dasar kerukunan hidup beragama yang sejati seperti diamanatkan dalam mantra-mantra kitab suci Veda berikut ini, menghargai pluralisme (perbedaan agama / kepercayaan dan budaya serta mewujudkan kemakmuran bersama :

Jnanam bibharati bahudha vivacasam, Naandharmanam prthivi yathaikasam, Sahasram dhara dravinasya me duham, Dhraveva dhenuranapasphuranti

Atharwaveda XII.1.45

(Berikanlah penghargaan kepada bangsamu yang menggunakan berbagai bahasa daerah, yang menganut berbagai kepercayaan (agama) yang berbeda. Hargailah mereka yang tinggal bersama di bumi pertiwi ini. Bumi yang memberi keseimbangan bagaikan sapi yang memberi susunya kepada umat manusia. Demikian ibu pertiwi memberikan kebahagiaan yang melimpah kepada umat­-Nya).

Mewujudkan persatuan dan kesatuan untuk mencapai tujuan bersama (kedamaian, kemakmuran dan kebahagiaan) :

Sam vo manamsi sam vrata sam akutir namamsi, Ami ye vivrata sthana tan vah sam namayamasi

Atharwaveda III.8.5

(Aku satukan pikiran, dan langkahmu untuk mewujudkan kerukunan di antara kamu. Aku bimbing mereka yang berbuat jahat menuju jalan yang benar)

Yena deva na viyanti no ca vidvisate mithah, Tat krnmo brahman vo grhe samjnana purunebhyah

Atharwaveda III.30.4

(Wahai umat manusia! Bersatulah, dan rukunlah kamu seperti menyatunya para dewata. Aku telah anugrahkan hal yang sama kepadamu, oleh karena itu ciptakanlah persatuan di antara kamu).

Mewujudkan kehidupan yang harmonis serta dialogis :

Sam gacchadhvam sam vadadhvam, Sam vo manamsi janatam, Deva bhagam yatha purve samjanana upasate

Rgveda X.191.2.

(Wahai umat manusia! Hiduplah dalam harmoni dan kerukunan. Hendaklah bersatu, dan bekerja sama. Berbicaralah dengan satu bahasa, dan ambilah keputusan dengan satu pikiran. Seperti orang-orang ­suci di masa lalu yang telah melaksanakan kewajibannya, hendaklah  kamu tidak goyah dalam melaksanakan kewajibanmu)

Mewujudkan kehidupan yang demokratis dengan bermusyawarah dan menumbuhkan saling pengertian :

samano mantrah samitih samani, samanam manah saha cittam esam, samanam mantram abhi mantarey vah, samanena vo havisa juhomi

Rgveda X.191.3

(Wahai umat manusia! Pikirkanlah bersama. Bermusyawarahlah bersama. Satukanlah hati, dan pikiranmu dengan yang lain.Aku anugrahkan pikiran yang sama, dan fasilitas yang sama pula untnk kerukunan hidupmu)

Samani va akutih samana hrdayani vah, Samanam astu vo mano yatha vah susahasati.

Rgveda X.191.4.

(Wahai umat manusia!  Milikilah perhatian yang sama. Tumbuhkan saling pcngertian di antara kamu. Dengan demikian engkau dapat mewujudkan kerukunan dan kesatuan)

Mengembangkan hati yang tulus ikhlas dan persahabatan yang sejati :

Sahrdayam sam manasyam avidvesam krnomi vah, Anyo anyam abhi haryata vatsam jatam ivagh-nya

Atharvaveda III. 30.1

(Wahai umat manusia, Aku memberimu sifat ketulusikhlasan, mentalitas yang sama, persahabatan tanpa kebencian, seperti halnya induk sapi mencintai anaknya yang baru lahir, begitu seharusnya kamu mencintai sesamamu).

Mengembangkan keharmonisan yang sejati, baik kepada orang yang dikenal dan bahkan dengan orang asing sekalipun :

Samjnanam nah svebhih samjnanam aranebhih, Samjnanam asvina yuvam thasmasu ni yacchatam

Atharvaveda VII.52.1

(Hendaknya harmonis dengan penuh keintiman di antara kamu, demikian pula dengan orang-orang yang dikenal maupun asing. Semogalah dewa Asvina menganugrahkan rahmat-Nya untuk keharmonisan antar sesama).

Dalam usaha meningkatkan kerukunan intra, antar, dan antara umat beragama yang dilandasi dengan teologi yang humanis, pluralis dan dialogis, dikutipkan pernyataan Svami Vivekananda pada penutupan sidang Parlemen Agama-Agama sedunia, tepatnya tanggal 27 September 1893 di Chicago, Amerika Serikat, karena pernyataan yang disampaikan oleh pemikir Hindu yang sangat terkenal pada akhir abad yang lalu itu (sudah 119 tahun lewat) senantiasa relevan dengan situasi saat ini. Pidato yang menggemparkan dunia, dan memperoleh penghargaan yang tinggi seperti ditulis oleh surat kabar Amerika sebagai berikut: “An orator by divine right and undoubted greatest in the Parliament of Religion” (Walker, 1983:580).

Di samping mantra tersebut di atas, dalam rangka mewujudkan kerukunan hidup beragama dalam rangka integrasi nasional, kiranya perlu dipahami dasar-dasar teologis kehidupan berbangsa dan bernegara seperti diamanatkan dalam kitab suci Veda dan susastra Hindu lainnya.

KELUAR DARI DUNIA KECURIGAAN DAN PERMUSUHAN

Kita tidak tahu kapan kita bisa keluar dari situasi yang masih mencekam. Krisis relasi sosial yang secara langsung atau tidak menciderai kerukunan hidup antar umat berbagai agama sangat menghantui kita sebab malapetaka yang diakibatkannya tidak bisa diperkirakan bahkan cenderung tidak masuk akal sebagaimana kita alami berkali-kali akhir-akhir ini. Para cendikiawan agama dihadapkan pada tantangan yang sebagian bukan tanggungjawab mereka. Masyara­kat kita telah terpuruk dalam kehidupan yang diliputi oleh suasa­na saling curiga. Terdapat berbagai persepsi negatif satu sama lain di antara berbagai kelompok masyarakat kita sehingga kehidu­pan kita sebangsa menyimpan potensi disintegrasi sosial. Masing-masing golongan merasa terancam eksistensi mereka oleh golongan lain. Berbagai kasus tragis telah menimbulkan trauma yang memer­lukan waktu lama untuk dihilangkan dari memori. Selama itu yang sewaktu-waktu bisa menjelma menjadi konflik sosial.

Dalam perspektif kultural, masyarakat Indonesia pada umumnya cinta damai. Dalam kehidupan sehari-hari hubungan antartokoh / antarpemuka agama bisa berhubungan dengan baik. Namun masalahnya menjadi lain ketika ada kepentingan politik masuk dalam kehidupan para tokoh agama. Terkadang hal tersebut bisa menjadi pemicu persitegangan antarmereka. Sudah menjadi rahasia umum teori yang berbunyi : there is no relation between religion and violence, neither in Islam, nor in any religion for that matter, Violence is a social and political phenomenon.

Tidak diragukan lagi tokoh agama / pemuka agama adalah panutan, tokoh teladan. Oleh karena itu diharapkan tidak akan terjadi komodivikasi agama karena jelas sangat berbahaya bagi pemeliharaan kerukunan umat beragama. Dalam rangka mencegah sedini mungkin terjadinya kecurigaan, permusuhan tentu pemerintah, tokoh agama, pemuka masyarakat perlu melakukan tindakan preventif dan sekaligus memfasilitasi kegiatan-kegiatan yang mengarah pada kerjasama intern, antarumat dan pemerintah (live in).

MENYAMA BRAYA: TOLERANSI TERHADAP KEMAJEMUKAN

          Aksi Terorisme seperti halnya Tragedi berdarah Bom Bali I & II di Kuta dan Jimbaran Bali pada tanggal 12 Oktober 2002, beberapa hari menjelang perayaan Hari Suci Nyepi 1934 di Denpasar disinyalir 5 (lima) orang teroris yang ditembak mati serta yang masih hidup dikejar, diburu, ditangkap, Kasus Solo masih dalam suasana di Bulan Suci Ramadhan, Bom Depok dll. Anarkhis massa di Buol, Ciketing (Ahmadiyah), Sampang Madura, kemudian masalah Pluralisme : Kasus HKBP, Masalah Separatisme : RMS, GAM, OPM, dan seterusnya di belahan bumi ini, tragedi demi tragedi berdarah terus berlanjut hingga kini, menjadikan paham kamejemukan (pluralisme) dan toleransi semakin mendapat perhatian di seluruh dunia, termasuk dalam sidang yang terhormat kali ini.

          Fanatisme agama, yang berdasarkan truth claim, yang menganggap seolah-olah kelompoknya sendiri saja yang memiliki kebenaran mutlak, mengandung potensi kekerasan dan kebencian, dan bila itu diterjemahkan dalam praktek, sekalipun dilakukan oleh sekelompok kecil orang, bisa membawa malapetaka atau tragedi kemanusiaan.

          Budaya rohani agama Hindu (Bali) dapat memberikan sumbangan penting terhadap pengembangan toleransi dan kemajemukan serta memberikan perubahan dalam membangun kesetiakawanan untuk mewujudkan perdamaian dunia. Agama-agama panteisme di mana Hindu (Bali) ada di antaranya dapat hidup berdampingan dengan agama-agama lain. Penyebarannya tidak membawa gangguan terhadap kesinambungan budaya sebagaimana ditimbulkan oleh penyebaran agama lain. Dalam masyarakat panteistik, nilai-nilai gagasan-gagasan dan hal-hal asing dapat diterima. Masyarakat bersikap toleran terhadap hal-hal baru itu (Arnold J. Toynbee dan Daisaku Ikeda : Perjuangkan Hidup). Dalam agama Hindu (Bali) dikenal dengan: menerima setiap purubahan baru apapun yang terjadi dan datang dari manapun juga asalnya, asalkan perubahan tersebut selalu berdasarkan atas dharma (kebenaran yang abadi = sanatana dharma).

          Ahli-ahli tentang sejarah agama menyatakan bahwa tidak terdapat bukti-bukti adanya intoleransi beragama dalam agama Hindu. Pertentangan jarang dijumpai dan pertukaran agama terjadi dalam suasana damai dan dengan tidak menimbulkan ketegangan dalam masyarakat. Agama Hindu bersifat filosofis dan oleh karena itu dapat melihat dan menghargai kebenaran yang ada dalam agama lain. Dengan demikian agama ini bersifat toleran. Bahkan ada yang berpendapat bahwa toleransinya terlalu besar sehingga dapat menerima agama-agama yang bersifat magis. (Harun Nasution : Islam Rasional). Namun ada juga orang berpendapat lain tentang toleransi yang diartikan negatif yaitu toleransi : sama dengan memperpanjang waktu kekalahan dan kehancuran. Pendapat seperti inilah yang harus kita abaikan dan tidak harus ada.

          Karena orang Hindu di Bali pada umumnya, dan mereka dengan pemahaman tentang Tuhan yang lebih matang, lebih sadar tentang berbagai aspek berbeda dari Tuhan, dan melihat Tuhan yang sama dalam semua agama, tidak ada friksi antara mereka dengan orang lain tanpa perlu merasa bahwa setiap orang lain telah dikutuk masuk neraka, atau dikonversi supaya ’diselamatkan’. Orang-orang Hindu mengakui Tuhan yang sama sekalipun disembah dengan berbagai cara. Jadi apa susahnya? Tidak ada masalah. Ini benar bagi pemuja yang tulus dari agama apapun. Seorang Kristen yang tulus dan matang dengan mudah  dapat bergaul dengan seorang Hindu yang tulus, yang dapat dengan mudah hidup bersama seorang Muslim yang tulus dan matang, yang dapat hidup bersama dengan seorang Sikh, Buddhis yang tulus dan seterusnya. (Stephen Knapp : ’Mengapa Menjadi Hindu : Keuntungan Jalan Veda’, dalam Hindu Agama Terbesar di Dunia).

          Di Bali, di beberapa Kabupaten dan Kota, terdapat kampung-kampung Islam tradisional. Artinya komunitas Islam ini sudah ada sejak jaman kerajaan Bali. Di Kabupaten Buleleng ada Desa Pegayaman, di Kabupaten Jembrana ada Desa Loloan, di Kota Denpasar ada Desa Kepaon, di Kabupaten Karangasem ada Desa Nyuh Kuning dan Desa Sidemen, di Kabupaten Klungkung ada Desa Gelgel. Komunitas Islam ini ada yang berasal dari Blambangan, Pulau Madura di Jawa Timur, Bugis dari Pulau Sulawesi dan Pulau Lombok. Mereka dibawa oleh para raja-raja Bali dari tempat asal mereka sebagai prajurit. Orang-orang Bugis datang ke Desa Loloan Bali, karena menghindari penjajahan Belanda.

          Komunitas Islam ini hidup menyatu dengan masyarakat sekitarnya. Bahkan komunitas Islam Pegayaman memakai nama-nama Bali di depan nama Muslim mereka contoh : Haji Wayan Samzul Bachri). Tapi mereka tetap melaksanakan agamanya secara taat. Mengapa hal ini bisa terjadi?

          Sebagai abdi raja, komunitas ini mendapat perlindungan dari raja. Mereka diberikan tempat tinggal khusus, diberikan tanah untuk mendirikan masjid. Pada waktu pelaksanaan Naik Haji, raja memberikan mereka bantuan. Komunitas Islam Kepaon di Kota Denpasar Bali sampai sekarang menjaga hubungannya yang kuat dengan Puri Pemecutan. Setiap ada upacara di Puri Pemecutan, orang-orang Muslim Kepaon selalu datang untuk membantu.

          Di samping itu, komunitas ini tetap dapat memelihara dan menjalankan tradisi agamanya, karena umat Hindu di sekitarnya tidak menganggu mereka. Misalnya dengan upaya mengkonversikan mereka ke dalam agama Hindu dan umat Hindu menghormati keyakinan mereka. Di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung, demikianlah cara mereka untuk dapat menyama braya yang hidup berdampingan secara harmonis, damai serta mereka sangat akrab dengan masyarakat setempat dan  turut serta menjaga alam lingkungannya.

GLOBAL ETIK : MENGEMBANGKAN ETIKA DIALOG

          Dalam Deklarasi Etika Global (weltethos) yang diluncurkan di Chicago pada tahun 1993 disebutkan bahwa : “setiap orang harus diperlakukan secara manusiawi”. Kalimat tersebut memiliki makna yang dalam bahwa setiap orang mempunyai hak dan tanggung jawab yang sama dan harus disadari dan dilaksanakan oleh semua pihak, berupa pertama, kewajiban dalam memelihara budaya tanpa kekerasan dan kekejian dalam semua bentuk kehidupan; kedua, kewajiban dalam memelihara budaya solidaritas bersama dalam mewujudkan keadilan di bidang ekonomi; ketiga, kewajiban dalam memelihara budaya persamaan derajat dan kerjasama antara laki-laki dan perempuan.

Tokoh Agama dan Lembaga Keagamaan harus mendorong dan membangun terciptanya The Global Ethics yang berkeadilan sosial dalam Nation and Character Building pada masyarakatnya. Cita-cita keadilan sosial dalam agama apapun termasuk semua agama di dunia dan salah satunya dalam agama Hindu dalam konsep loksamgraha dan Menyama Braya, atau kesejahteraan untuk seluruh masyarakat. Dalam kedua konsep tersebut, terkandung kesetiakawanan, kerelaan untuk berkorban demi kepentingan orang lain yang kurang beruntung. Dan sangat tepat konsep ini dikemukakan dalam sidang saat ini di mana kenyataan yang tidak bisa dihindari bahwa kita bangsa Indonesia, bangsa-bangsa Asia malahan bangsa-bangsa di dunia ini yang terdiri dari keanekaragaman kultur, bahasa, ras, geografi, sejarah, agama dan keimanan terpuruk akibat sering agama digunakan untuk menghancurkan peradaban manusia yang beradab diluar ajaran agama itu sendiri yang mengajarkan kita penuh kasih dan kedamaian.

          Veda meneguhkan kehidupan dan ketika Veda menyanyikan SARVE BHAVANTU SUKHINAH, mantra ini menekankan bahwa keselamatan pribadi bukanlah satu-satunya tujuan, tetapi bahwa kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat pemeluk Hindu, adalah sama pentingnya bahkan jauh lebih penting.

          Loksamgraha sebagai suatu yang ideal dari masyarakat Hindu, dapat diwujudkan melalui suatu proses. Dimulai dengan proses tumbuhnya kesadaran sosial dikalangan para pemeluk agama, bahwa masing-masing dari kita adalah bersaudara satu sama lain : WASUDEVA KUTHUMBHAKAM. Bahkan hakikat diri kita sebetulnya sama. Penderitaan bagi yang satu adalah penderitaan bagi yang lain. Kebahagiaan bagi yang satu adalah kebahagiaan bagi yang lain, aku adalah engkau: TAT TWAM ASI.

          Masyarakat yang sejahtera, adalah merupakan jumlah total dari individu dan keluarga yang sejahtera dan merupakan bagian dari masyarakat dunia yang sejahtera pula. Pada hakikatnya setiap individu para pemeluk agama, harus mampu menciptakan kesejahteraannya sendiri, melalui karma atau tindakannya sendiri. Dan untuk itu dia haruslah memiliki kemampuan, kecerdasan, keahlian dan pengetahuan serta keterampilan untuk menunjang profesinya, dengan mana dia mencapai kesejahteraan diri dan keluarganya termasuk masyarakat dunia.

          Kini adalah saatnya kita bersekutu untuk membangun dunia baru yang lebih aman, tenteram, adil, damai penuh kasih dan sejahtera dengan memperluas makna yajna, tidak saja pengorbanan dalam hubungannya dengan Tuhan, tetapi juga dengan sesama umat manusia, berdasarkan ’daya’ (compassion atau cinta kasih) dan ’dana’ (pemberian bantuan). Dana bukan untuk jangka pendek, atau caritas sentimental, berupa sedekah untuk sekedar menghilangkan lapar dan sakit. Dana haruslah untuk suatu yang bersifat strategis, jangka panjang, yaitu untuk peningkatan spiritualitas umat manusia yang lebih beradab.

Marilah kita bersekutu untuk membangun dan peka terhadap penyakit masyarakat dan ikut memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh mereka yang tidak beruntung. Agama yang tidak peka terhadap penyakit masyarakat dan tidak ikut ambil bagian dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat, tidak akan mendapat tempat dalam masyarakat modern, tidak menarik bagi manusia modern (Sarvepalli Radhakrisnan) dan Konferensi WCRP, Kyoto 1970, Genesis and contents of the Global Ethic project mengemukakan :

  • No peace among the nations without peace among the religions,
  • No peace among the religions without dialogue among the riligions,
  • No dialogue among the riligions without a consensus on shared ethical values, a global ethics,
  • No new world order without a global ethics.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian tersebut dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. Peranan masing-masing Tokoh Agama yang memahami benar Teologi di dalam kitab suci agama-agama di dunia ini termasuk kitab suci Veda dan susastra Hindu disebut Brahmavidya atau pengetahuan ketuhanan, yang di dalamnya mengajarkan berbagai aspek ketuhanan, utamanya yang berkaitan dengan makhluk ciptaan-Nya, yakni umat manusia untuk mengembangkan kehidupan yang humanis, pluralis dan dialogis. Kehidupan yang humanis dilandasi oleh ajaran bahwa semua makhluk berasal dari Tuhan Yang Maha Esa dan akan kembali kepada-Nya. Kesadaran bahwa atma (roh) yang menghidupkan setiap makhluk berasal dari Tuhan Yang Maha Esa muncul ajaran yang disebut Panca Mahavakya Upanishad yakni: Tat tvam asi (Thou are That), Aham Brahmasmi (I am Brahman), Aham atma Brahman (This Self is Brahman), Prajnam Brahman (Consciousness is Brahman), dan Sarvam khalu idam Brahman (All indeed is Brahman).

Kitab-Kitab suci mengamanatkan untuk menyadari adanya kebhinekaan (pluralisme) dan untuk menumbuhkan kerukunan yang sejati mengembangkan sikap dialogis, dengan bermusyawarah untuk mencapai mufakat guna mewujudkan tujuan bersama yaitu Harmonis, Damai, Bersatu padu untuk membangun budaya rohani  yang utuh demi kesejahteraan umat manusia yang merupakan implementasi The Global Etics dalamNation and Character Building bangsa Indonesia. Di Bali dikenal dengan istilah Tri Hita Karana (Tiga penyebab keharmonisan), pertama : harmonis antara manusia dengan TuhanNya, kedua : harmonis antara manusia dengan manusia sesamanya, dan ketiga : harmonis antara manusia dengan alam lingkungannya.

Peranan Tokoh Agama yang dimaksudkan adalah mereka yang mengusung moderasi dalam beragama, memiliki empati dan respect for others, mempunyai integritas tinggi dalam memegang teguh ajaran fundamental masing-masing agamanya tetapi secara bersamaan mereka juga menjadi sosok yang terbuka untuk bisa menerima perbedaan secara bijaksana. Selain itu mereka juga diharapkan benar-benar tokoh yang berpengaruh di daerahnya masing-masing. Secara kultural mereka mempunyai power yang bisa menggerakkan orang untuk sebuah tujuan mulia, yakni : membangun saling pengertian, kebersamaan dan kerjasama intern dan antarumat beragama.

Sebagai penutup seluruh uraian di atas maka peranan Tokoh Agama harus dapat mendorong agar fungsi sosial agama menurut para ahli sosiolog diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari di manapun berada di Bumi Pancasila ini agar Nation and Character Building bisa terwujud dengan baik guna meminimalkan berbagai konflik sosial dalam rangka menjaga keutuhan NKRI :

  • Agama sebagai perekat sosial (intern, antar umat beragama dan pemerintah),
  • Agama sebagai pemberi arti kehidupan,
  • Agama sebagai sumber nilai,
  • Agama sebagai faktor kontrol sosial,
  • Agama sebagai pendorong perubahan sosial.

 DAFTAR BACAAN

Alamsjah,H. 1982. Pembinaan Kerukunan Hldup Umat Beragama Departemen Agama RI. Jakarta: Wilayah kajian Agama di Indonesia Depatemen Agama R I.

Durkheim, Emile, 1985. The Elementary Form of the Religious Life A study In Religious Sociology. Joseph Ward Swain (Trans.).

Naim, Sahibi 1985. Kerukunan Antar Umat Beragama. Jakarta: Gunung Agung.

Koentjaraningrat 1977. Beberapa pokok Antropologi Sosial. Jakarta: PT. Dian Rakyat.

Budiman, Arief. 1993.Dimensi Sosial Ekonomi dalam Konflik Antar Agama di Indonesiadalam dialog Kritik & Identitas Agama. Yogyakarta: Interfidei.

Gedong Bagoes Oka, 1994. ”Spiritualitas baru dalam Agama Hindu” dalam Spiritualitas Baru : Agama dan Asplrasi Rakyat. Yogyakarta: Interfidei

Dharmika, Ida Bagus. 1996. Kerukunan Hidup Beragama: Studi Kasus di Subak Medewi, Jembrana Bali. dalam Profil Kerukunan Hidup Umat Beragama. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Agama, Departeman Agama RI.

Dharmika, Ida Bagus. 2000. Kerukunan Antar Umat Beragama Di desa Angantiga, Petang Badung. Denpasar: Univ. Hindu Indonesia Denpasar.

DR.H. Moch. Qasim Mathar, MA., 2003. Sejarah, Teologi Dan Etika Agama-Agama. Penerbit Dian/Interfidei, Jogyakarta.

Dharmika, Ida Bagus. 2005. Menyama Braya (Hakikat Hubungan Manusia Dengan Manusia Di Bali), Denpasar : Musyawarah Majelis Agama dalam Forum Komunikasi Antar Umat Beragama Prop. Bali di Hotel Oranje, 2005

Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat, 2005. Kompilasi Dokumen Literer 45 Tahun Parisada.

PBM Menteri Agama RI & Menteri Dalam Negeri RI, 2006. Surat Keputusan Bersama Menteri Agama RI No.9 & Menteri Dalam Negeri RI No.10 Tentang Pembinaan Kerukunan Umat Beragama dan Pendirian Tempat Ibadah.

Wiyana, Ida Bagus Gede in Asian Inter-religious Leaders Conference“Being Peacemakers in Asia Today” 12-16 November 2007, Lotus Hotel Pang Suan Kaew, Chiang Mai, Thailand

Dra. Kustini, Msi (Ed)., 2009. Efektivitas Sosialisasi PBM No.9 dan 8 Tahun 2006. Departemen Agama RI – Badan LitBang dan Diklat, Pusdiklat Kehidupan Keagamaan.

Prof. Dr. HM. Atho Mudzar, 2009. Peran Pemuka Agama Dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama melalui Peningkatan Kemandirian FKUB, BalitBang Departemen Agama RI, Jakarta.

Wiyana, Ida Bagus Gede, 2010. Latihan Kader II (Intermediate Training) Tingkat Nasional oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Denpasar 25-01-2010.

Wiyana, Ida Bagus Gede, 2010, Interfaith Dialogue Evangelist Church : Be Peace Maker Today ‘de freider comm aus Bali’ , Freiburg – Germany, July 27 – August 26, 2010.

Hasil-Hasil Keputusan Musyawarah Majelis-Majelis Agama Propinsi Bali Tahun 2007 s/d Tahun 2011 yang diselenggarakan oleh Forum Kerukunan Umat Beragama Propinsi Bali dan Biro Kesra Setda Propinsi Bali.

Wiyana, Ida Bagus Gede, 2012, Seminar Agama-Agama oleh Senat Mahasiswa Fakultas Teologi UKSW Salatiga dgn Thema : Menyikapi Radikalisme Agama-Agama di Bumi Pancasila (dr Perspektif Hindu), 15 Mei 2012.

 

IDA BAGUS GEDE WIYANA

Realizing Interfaith Concordance

One of the figures that actively plays role in creating such concordance is Ida Bagus Gede Wiyana. As Chairman of Interfaith Forum of Bali Province, he never gets bored to deliver ‘enlightenment’ to members of religious community in Bali, particularly those of Hindu. This father of two sons— Ida Bagus Erwin Ranawijaya, SH, MH and Ida Bagus Bayu Brahmantya, SH should make a visit to every nook and cranny delivering ‘dharma wacana’ or Hindu sermon on the importance of life concordance even though of different religions. Other than that, the husband of Dra. Ida Ayu Ratna Wesnawati, MM., should be able to accomplish some issues pertaining to interfaith concordance. For instance, resolving problems on house of worship, graveyard and making decision should there be any holidays of two or more religions falls on the same day. Once, the Nyepi (Silence) Day fell on the same day as Friday prayer. Nyepi requires silence and is not allowed devotees to go out, while the Moslem should go out to pay homage to mosque. Just as Nyepi that coincided with church service on Sunday. Though he is busy with managing the Dwijendra Education Foundation that organizes schools from kindergarten up to university, this man of Sanur-born (1 August 1951) never declines when being asked for his time to deliver enlightenment. Moreover, after the Bali Bomb I and II he progressively often appeared on television. According to him, the Interfaith Communication Forum was established on the accord of the caretakers of Religious Assembly existing in Bali like Parisadha (Hindu), MUI (Islam), Walubi (Buddha), MPAG (Protestant), MAKIN (Kong Hu Cu)  and Keuskupan (Catholic). The idea was sparked by the general election 1999. “The six religious assemblies felt there has been ‘violence’ in the reason of struggling for each religion. Mass savagery occurs everywhere,” he said. “However,” he added,” the beginnings of the establishment of the forum has existed since 1970s.” At that time, forum that has not formally founded many a time executed discussion relating to location of graveyard, house of worship, interfaith marriage and so forth. “Regional Office of Religious Affairs became its facilitator then,” he added. (BaliTravelNews/015)

Leave a comment

Filed under Articles

Indik Karya Agung Mamungkah dan Ngenteg Linggih

III INDIK KARYA AGUNG MAMUNGKAH DAN NGENTEG LINGGIH

A. PERIHAL YADNYA

Dasar ajaran agama Hindu terdiri dari filsafattata susila, dan upakara. Ketiga dasar pokok ajaran tersebut merupakan kesatuan yang saling mengisi, menyempurnakan pelaksanaan hidup sehari-hari masyarakat Hindu di Bali. Hidup dan kehidupan masyarakat Bali selalu berkaitan dengan Yadnya. Umat Hindu Bali umumnya dipengaruhi upakara (Ritual). Namun demikian, menghayati filsafat dan susila agama sangat perlu, guna meningkatkan penghayatan terhadap makna Yadnya, untuk memupuk kesadaran yang lebih tinggi dan mulia dalam hidup bermasyarakat serta bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, maupun para leluhur.

Para peneliti yang kurang cermat akan melihat hidup ini sebagai proses yang tak henti-hentinya, dari makan, minum, bekerja mengumpulkan materi dan tidur. Tetapi sesungguhnya hidup ini mengandung arti yang sangat luhur, mempunyai makna yang sangat dalam, bahwa hidup ini sesungguhnya adalah sebuah Yadnya (persembahan atau kurban suci yang tulus ikhlas kepada Sang Pencipta yaitu Tuhan Yang Maha Esa). Setiap perbuatan bagaimana kecilnya, adalah suatu persembahan kepada Tuhan bila dilaksanakan dengan hati yang suci, tulus dan ikhlas. Bilamana hari-hari dalam kehidupan ini diisi dengan perbuatan yang didasari penyerahan diri, maka tidur adalah Samadi.

Secara filosofis, yadnya dimaksudkan untuk mengingatkan setiap individu secara konstan bahwa seluruh hidupnya harus diarahkan pada kurban suci, dimana spirit yadnya melandasi setiap perbuatannya. Yadnya diciptakan pada awal penciptaan alam semesta melalui “Mana”. Manusia mencapai segala keinginannya (Bhagavadgita III : 9, 10) yadnya menyimbolkan suatu penjelajahan dan pendakian spiritual untuk menyatukan potensi atau kekuatan yang bersifat Sattwik (sattvikam yadnya) yang ada dalam diri manusia sesuai dengan kodratnya. Yadnya merupakan aktivitas bersama, bukan aktivitas personal secara material, sehingga yadnya menjadi sumber kehidupan sosial yang harmonis. Jadi pada tatanan sosial, yadnya merupakan sebuah ritualisasi kehidupan masyarakat.

Kata yadnya berasal dari kata sansekerta yaitu “YADN” yang berarti memuja, menyembah, berdoa, dan kurban suci. Pemujaan atau penyembahan ditujukan kepada jiwa yang lebih tinggi derajatnya seperti Tuhan dan para Dewa. Kurban suci yang ditujukan kepada spirit-spirit atau makhluk yang lebih rendah yang memiliki sifat yang baik maupun yang memiliki sifat buruk. Di samping itu yadnya bukanlah semata-mata bersifat ritual, tetapi juga tindakan atau kerja simbolis yang dipahami sebagai suatu konsep dalam rangka membuka jalan sublimasi diri. Bukanlah berlebihan jika dikatakan bahwa yadnya adalah representasi filsafat Weda. Yadnya mempunyai tiga tujuan pokok yakni untuk :

  1. Menjemput semua anugerah atau karunia atas umat manusia dan seluruh makhluk hidup dengan pertolongan dewa-dewa.
  2. Mengantarkan kita mendekati dunia Niskala dan kehidupan yang berbahagia dalam kehidupan sekarang maupun yang akan datang.
  3. Mencapai kebahagiaan abadi. Apabila yadnya dilaksanakan dengan tulus dan ikhlas tanpa suatu keinginan apapun untuk meraih buah atau hasilnya dan benar-benar dilakukan dengan ketidak-melekatan, maka yadnya akan mengantarkan orang pada pencapaian mental yang sempurna, menghantar seseorang pada jalur kebajikan, dan pada akhirnya kebahagiaan abadi atau tyaga/ kelepasan (Moksha).

Di samping itu yadnya juga meningkatkan kualitas kemanusiaan kita melalui kekuatan-kekuatan dewa-dewa. Di antara masyarakat rumpun bangsa Arya (Indo-Eropa), persembahan-persembahan tersebut dan upacaranya dilaksanakan dengan api sebagai media. Gejala ini juga dapat ditemukan pada orang-orang Yahudi dan Romawi Kuno di Benua Eropa, orang-orang Avestik (orang-orang Iran Kuno asal mula orang-orang Persia Modern yang ada di India), dan orang-orang penganut paham Weda yang sekarang dikenal dengan nama orang Hindu.

B.    KARYA AGUNG MEMUNGKAH DAN NGENTEG LINGGIH

Setiap persembahan (upakara/yadnya) yang dilaksanakan oleh umat Hindu, dari tingkat yang paling kecil hingga tingkat yang paling besar (nista, madya, utama), selalu berdasarkan ajaran Weda dan berpijak pada sastra agama.

Upacara Memungkah di Grhya Jero Gede Sanur dilaksanakan berkaitan dengan pemugaran Pamerajan Agung Grhya Jero Gede Sanur (perbaikan secara menyeluruh setelah melewati masa 50 tahunan lebih) yang tampak seperti membangun Pamerajan baru. Oleh karena terjadi rehab total, maka perlu ada upacara Memungkah (Pemungkah) dengan segala rangkaian upacaranya. Dalam Kitab Suci/Pustaka Suci Hindu di Bali, berupa Lontar-Lontar, antara lain “Pawarah Ida Bhagawan Agastya, ada tiga hal perbuatan yang akan mendapatkan/memperoleh Sorga, yaitu : Tapa, Yadnya dan Kirti. Tapa adalah mengekang hawa nafsu dasendrya. Yadnya adalah upacara-upakara, tiada lain menjalankan sraddha dan bhakti kehadapan Ida Sanghyang Widhi dengan segala manifestasi-Nya termasuk kepada para leluhur (tarmalupeng pitra puja), dan Kirti adalah kemauan umat dalam hal ini Keluarga Besar Grhya Jero Gede Sanur dalam usaha membangun/memperbaiki sarana prasarana di dalam kehidupan ini untuk mewujudkan suasana kondusif dalam berkeluarga menyama braya dan bermasyarakat agar memperoleh kebahagiaan lahir bathin.

Karena ini merupakan proses pembangunan atau pemugaran sepelebahan tempat suci atau Pamerajan dengan unsur-unsur struktur pelinggih, menyadari apa yang didapat sekarang ini adalah berkat anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan para leluhur, maka seluruh Keluarga Besar Grhya Jero Gede Sanur sepakat ngayum tetangunan Pamerajan Agung dan Pamerajan Luhur, lanjut melaksanakan yadnya : Karya Agung Memungkah dan Ngenteg Linggih di Pamerajan Agung Grhya Jero Gede Sanur.

C.   URAIAN PERIHAL EED KARYA

Untuk lebih menghayati jalannya upacara perlu kiranya diketahui sekilas tentang makna atau arti rangkaian upacara sebagai berikut :

Upacara Matur Piuning

Upacara ini dilaksanakan di seluruh pamerajan di masing-masing Grhya Keluarga Besar Grhya Jero Gede Sanur dan pura-pura lainnya. Upacara matur piuning ini dalam ungkapan bahasa domistik (ketah bawos), merupakan permakluman kehadapan Ida Sanghyang Widhi dan Bhatara-Bhatari Samodaya, untuk melaksanakan Karya Agung Memungkah dan Ngenteg Linggih agar diberikan wara nugeraha oleh Ida Bhatara-Bhatari Samodaya tuntunan, dan jalan yang rahayu, sehingga Karya Agung Memungkah dan Ngenteg Linggih dapat terlaksana dengan baik, sekala maupun niskala.

Sebuah uraian dalam Siwatattwa yaitu dalam Lontar Jnanasiddhanta, mengatakan Ida Sanghyang Widhi dengan seluruh prabhawanya sebagai berikut :

‘Ekatwanekatwa swalaksana Bhattara. Ekatwa ngaranya kahidep makalaksana ng Siwatattwa. Ndan tunggal, tan rwatiga kahidepanira. Mangekalaksana Siwa karana juga, tan paprabheda. Aneka ngaranya kahidepan Bhattara makalaksana caturdha. Caturdda ngaranya laksananira sthula suksma parasunya’

- sifat bhattara adalah eka dan aneka. Eka (esa) artinya IA dibayangkan bersifat Siwatattwa, IA hanya Esa, tidak dibayangkan dua atau tiga. IA bersifat Esa saja sebagai Siwakarana (Siwa sebagai mahapencipta), tiada perbedaan. Aneka artinya bhattara dibayangkan bersifat caturdha artinya adalah sthula suksma para sunya.

Di samping itu, upacara ini juga ditujukan kepada setiap insan yang akan menyelenggrakan yadnya agar perjalanan yadnyanya baik, lancar, rahayu sesuai dengan bunyi Lontar Dewa Tattwa yaitu : ‘…. Anakku sang para Mpu Danghyang, sang mahyun twa janma, luputing sangsara papa kramanya sang kumingkin akarya sanista, madhya, uttama : manah lega dadi ayu, aywa ngalem drawya mwang kumutug kaliliraning wwang uttama, aywa mangambekang krodha mwang ujar gangsul, ujar menak juga kawedar denira. Mangkana kramaning sang ngarepang karya, aywa simpanging budhi mwang krodha, yan kadya mangkana patut pagawenya, sawiddhi widananya, tekeng ataledannya mwang ring sasayutnya, maraga dewa sami tekeng wawangunan sami …’ … kayatakna, aywa saulah-ulah lumaku, ngulah subal, yan tan hana bener anut linging aji, nirgawe pwaranya, kawalik purihnya ika, amerih ayu byakta matemahan ala. Mangkana wenang ika kapratyaksa de Sang Anukangi, Sang Andisakni, ika katiga wenang atunggalan pangelaksana nira among saraya karya. Aywa kasingsal, apan ring yajna tan wenang kecacaban, kecampuhan manah weci, ambek branta, sabda parusya. Ikang manah sthiti nirmala juga maka siddhaning karya, marganing amanggih sadya rahayu, kasidaning panuju mangkana kengetakna, estu phalanya …

 Ngawit Karya

Mulai membuat jajan (mekarya sanganan), Nanceb sesalon dan mepasang Sunari serta membuat seluruh bangunan upacara seperti : sanggar tawang, surya, panggungan dan membangun tetaring. Mepasang Sunari untuk mengundang Sang Rare Angon dan para Bidadari (Widiadara-Widiadari) merupakan Dasa Nama Dewa Siwa. Mapasang Sunari erat kaitannya dengan upacara Negtegang Pedagingan, Ngingsah dan Mekarya Sanganan Suci.

Sunari, yang juga disebut Buluh Perindu, memiliki suara yang amat menarik karena enak didengar. Sunari ini juga merupakan Nyasa Wina, untuk mengundang para Widiadara-Widiadari,  atau mengundang ilmu pengetahuan baik Pengayah Lanang maupun Istri dalam kegiatan mengerjakan perlengkapan upakara agar selalu berdasarkan ilmu pengetahuan (Kepradnyanan) yang dianugerahkan para Widiadari-Widiadari. Widiadara-Widiadari ini adalah iringan Dewa Rare Angon Abhiseka salah satu Dasa Nama Dewa Siwa yang dalam hal ini abhiseka Dewa Siwa Guru yang mengajarkan semua ilmu pengetahuan kepada semua para Dewa termasuk kepada umat manusia sendiri. Rare Angon sering diterjemahkan sebagai anak penggembala yang dimaksud dalam hal ini adalah Dewa Siwa yang berwahana lembu.

Dewa Siwa mengarahkan manusia agar berjalan ke arah Dharma yang Lempeng. Dewa Siwa disebut juga Siwa Guru. Kata “Guru” (dalam Sansekerta Jawa Kuno) yang terdiri dari suku kata “GU” dan “RU”. GU artinya melenyapkan. RU artinya kegelapan. Sehingga kata “GURU” berarti melenyapkan kegelapan pikiran para pengayah dalam kegiatan ngayah Yadnya diganti dengan pikiran yang terang dan suci selaras dengan tuntunan Sang Anangun Karya Yadnya dan Sang Adruwe Karya.

Nuwasen

            Pada hari ini Tukang Banten atau Ida Pedanda Istri, Wiku Tapini mulai membuat Jajan Catur yang akan dipersembahkan kehadapan Sang Hyang Widhi, dalam prabawa-Nya Dewata Dewa Catur Loka Pala, yakni : Brahma, Wisnu, Mahadewa dan Iswara. Pada hari ini pengayah istri membantu (ngerombo) sesuai dengan petunjuk Ratu Pedanda Istri Tukang atau Wiku Tapini.

Ngentegang (Negtegang Pedagingan)

Negtegang Pedagingan adalah upacara untuk memohon keberhasilan dan kesuksesan, seluruh bahan atau material yang akan digunakan untuk upakara karya piodalan. Pada hari ini diselenggarakan pelaksanaan Mecaru Ayam Amanca, yang merupakan pemarisudha, agar areal upacara bebas dari gangguan kelabilan kekuatan alam yang diwujudkan sebagai pemurtian sang Panca Kala yakni : Bhuta Petak ring Purwa, Bhuta Abang ring Daksina, Bhuta Jenar ring Pascima, Bhuta Ireng ring Utara, dan Bhuta Brumbun ring Madyama.

Upacara Memungkah

Upacara Memungkah ini berkaitan dengan adanya Pemugaran Pamerajan (perbaikan secara menyeluruh) sehingga nampaknya seperti membangun peleban pamerajan baru.

Upacara Ngingkup

            Upacara Ngingkup bertujuan mempersatukan unsur Sekala dan Niskala, agar Ingkup atau Wahya dan Adiatmika, bersatu secara utuh, sehingga terwujud keselarasan, keharmonisan, keseimbangan antara unsur Hyang Widhi dengan seluruh manifestasi-Nya, yang bersthana di tempat suci bersangkutan. Upacara Ngingkup ini erat rangkaiannya dengan pelaksanaan pemugaran suatu pamerajan secara fisik selesai dibangun dilanjutkan dengan proses upacaranya dari upacara Memungkah, Melaspas, dan Makebat Daun, untuk menjadikan seluruh areal Pamerajan utuh secara spiritual sehingga pembangunan fisik areal Pamerajan menjadi ingkup, secara material dan spiritual.

 Upacara Melaspas

            Upacara Melaspas bertujuan untuk membersihkan semua pelinggih dari kotoran tangan undagi (para pekerja bangunan) agar para Dewata/Bhatara-Bhatari berkenan melinggih di Pura setiap saat terutama pada saat dilangsungkan upacara pujawali, sedangkan untuk membersihkan/mensucikan areal pamerajan secara niskala dilaksanakan upacara pecaruan.

            Pelaksanaan pemelaspas tergantung tingkatannya, mem-perhatikan kedudukan Pamerajan, ditentukan berdasarkan petunjuk para Pedanda sebagai Sang Yajamana, dikaitkan dengan adat setempat, yang telah berlangsung sejak dahulu agar pelaksanaan upacara menjadi lebih sempurna dan tepat.

 Upacara Mendem Pedagingan

            Upacara Mendem Pedagingan sebagai lambang singgasana Ida Bhatara-Bhatari yang disthanakan. Bentuk serta jenis pedagingan antara satu pelinggih dengan pelinggih lainnya tidak sama, tergantung jenis bangunan pelinggih, termasuk jenis bebantennya.

Upacara Memben Banten

Upacara Memben Banten sekaligus termasuk upacara pemelaspas adalah upakara sebagai sedana bhakti yang dipersembahkan pada puncak karya (murdaning karya).

Mecaru Rsi Gana (Bhuta Yadnya)

            Pengertian Caru Rsi Gana adalah Caru, dalam bahasa Sansekerta berarti manis. Sedangkan persepsi yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Bali, caru adalah korban untuk kepentingan yang lebih besar. Dalam praktik, caru memang berupa binatang seperti ayam, itik, dan lain-lain. Suatu pengorbanan yang dilandasi itikad baik untuk kepentingan jagad, dan dapat dikatakan sebagai pengorbanan suci. Jadi, caru adalah pengorbanan suci untuk mewujudkan alam, lingkungan, serta kehidupan yang manis dalam arti harmonis, seimbang dan serasi sehingga menimbulkan rasa indah membahagiakan. Rsi Gana adalah nama Dewa yang disucikan dalam Agama Hindu. Dalam Lontar Siwa Gama diceritakan bahwa Dewa Gana juga disebut Ganesa. Mecaru Rsi Gana adalah persembahan untuk menetralisir kekuatan alam yang dapat mengganggu areal pemujaan. Gana adalah putra Siwa dengan sakti-Nya Dewi Parwati yang berfungsi sebagai Dewa Pemusnah rintangan. Dalam dasa nama, Dewa Gana disebut juga Awigneswara (Raja Pemusnah Rintangan).  Caru Rsi Gana bukan caru yang dipersembahkan kepada Dewa Gana, tetapi Bhuta kala. Dewa Gana dimohon kehadiran serta anugerah-Nya untuk mengubah kekuatan Bhuta Kala, yang cenderung merusak, menjadi kekuatan welas asih, yang melindungi serta memberikan kebahagiaan. Salah satu mantra pengastawa Sang Hyang Gana berbunyi :

 Sarva visa vinasanam, kala drngga-drnggi patyam, parani rogani murcchantam, trivistapopajivanam.

- semua racun (penyebab penyakit) menjadi netral, yang angker-angker hilang, setiap penyakit yang disentuh lenyap serta memasukkan kekuatan yang melindungi jiwa.

Demikianlah persembahan caru Rsi Gana tujuan spiritualnya untuk memusnahkan seluruh bentuk dan jenis rintangan.

Upacara Mendak Tirta

Upacara Mendak Tirta disebut juga Nuwur Ida Bhatara Tirtha, mengundang prabawa Hyang Widhi dalam wujud sebagai manifestasi (ista dewata) yang melingga di pura-pura kahyangan jagat di Bali dan Jawa.

Upacara ini bertujuan memohon tirtha di pura-pura kahyangan jagat Bali, sebagai manifestasi  (dewata) yang diundang untuk disthanakan (kajejeran ring sanggar tawang) dalam persembahan pemujaan Karya. Untuk itulah pada saat menyelesaikan seluruh eed karya seyogyanya mengadakan Tirtayatra ke tempat-tempat / pura-pura yang tirtanya dituhur / dipendak sebagai wujud rasa syukur atas terselesaikannya yadnya yang diselenggarakan.

Upacara Nedunan Ida Bhatara (Dewa Yadnya)

            Dalam pelaksanaan upacara ini secara skala (kenyataan) para pemangku merias pratima, jempana setelah dikeluarkan dari gedong penyimpenan (nedunan) untuk mempersiapkan upacara, pengawin lelontek, umbul-umbul duwen Ida Bhatara yang diperlukan untuk upacara melasti keesokan harinya.

Bagia Pula Kerthi

Pemelaspas, Pemendakkan dan Penanaman Bagia Pula Kerthi mempunyai makna setiap pekerjaan yang baik (misalnya melaksanakan yadnya ataupun perbuatan lain yang tanpa pamerih, yaitu Kerthi) pasti lambat laun atau cepat akan membuahkan kebahagiaan.

Dengan cara menanamkan di tempat suci akan memberikan kebahagiaan suci, spiritual dan material bagi lingkungannya. Ini juga mengarahkan agar mereka yang ada dalam lingkungan itu giat bekerja bersama-sama dengan hati yang tulus. Tanpa bekerja yang tulus (Kerthi) tidak mungkin akan membuahkan kebahagiaan.

Upacara Melasti (Dewa Yadnya)

Upacara Melasti juga disebut Mekiyis atau Mekekobok ke segara. Di dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa tujuan upacara ini adalah nganyudang malaning miring gumi, angemet merta ring telaning segara (menghanyutkan kekotoran dan mendapatkan air kehidupan (amertha) dari tengah laut). Pada hari ini juga dilaksanakan persembahan dan pemujaan Tawur Sapta Rsi. Wiku pamuput pemujaan dan persembahan Tawur Sapta Rsi, sesuai dengan istilah Tawur Sapta Rsi itu pemuputnya terdiri dari Tujuh Rsi atau Pedanda.

Tujuan utama upacara ini adalah  memohon “sarining amertha kamandalu” yaitu mohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, sari-sari kehidupan sebagai sumber kebahagiaan lahir dan bathin.

Di samping itu upacara melasti itu melambangkan penyucian segala alat-alat perlengkapan upacara dan penyucian sepanjang jalan yang dilalui upacara Melasti itu.

Upacara ini menggunakan penawaratna yang berkaitan dengan sanggar tawang tempat ngadegang Hyang Parama Siwa dan sesuai dengan tingkat caru yang dipersembahkan, memakai sarana kerbau dan binatang lainnya.

Upacara Tawur (Bhuta Yadnya)

Upacara ini tujuannya meningkatkan dan mempermulia segala isi alam dari yang negatif agar menjadi positif untuk keseimbangan ekosistem. Sebab dalam alam yang ekosistemnya seimbang itulah manusia akan memperoleh kehidupan yang bahagia lahir bathin.

Di samping itu kekuatan-kekuatan roh yang negatif dapat dimulyakan sehingga tidak mengganggu kehidupan spiritual manusia, bahkan sebaliknya dapat membantu manusia dalam kehidupannya (bhuta ya, dewa ya). Mengorbankan binatang yang sedang disayangi adalah lambang keikhlasan manusia untuk mengabdi kepada alam, karena manusia telah banyak mendapat kehidupan dari alam ini.

Dengan mengorbankan binatang yang disayangi berarti melepaskan ikatan sifat-sifat keraksasaan, keserakahan manusia. Kalau dunia ini dihuni oleh manusia-manusia yang serakah, yang tidak pernah ikhlas berkorban, alam ini serta kehidupan manusia akan bahaya dan akhirnya  sengsara.

Melenyapkan keserakahan dengan menumbuhkan rasa ikhlas itulah arti dan makna upacara Tawur. Menggunakan binatang-binatang yang sulit didapat adalah lambang kesungguhan hati, melestarikan dan mempermulya segala unsur alam demi kehidupan manusia.

Pelaksanaannya harus dengan kesungguhan hati, baik memohon kehadapan Tuhan Yang Maha Esa maupun dalam usaha-usaha konkrit seperti melindungi sumber-sumber air, menjaga kelestarian tumbuh-tumbuhan di hutan, di ladang, di sawah dan lain-lainnya. Menjaga kesuburan tanah dan memelihara binatang yang amat dibutuhkan dalam hidup ini adalah tujuan Tawur. Upacara ini juga menggunakan penawaratna, berkaitan dengan sanggar tawang tempat ngadegang Hyang Parama Siwa dan sesuai dengan caru yang dipersembahkan yang memakai sarana kerbau dan binatang lainnya.

Sate Tungguh/Sate Tegeh/Gayah

Sate Tungguh, atau yang lainnya, dipakai dalam rangkaian Bhuta Yadnya. Sate Tungguh (Tegeh) merupakan perkembangan banten Bebangkit. Bebangkit adalah simbol energi. Tetapi, Sate Tungguh adalah energi yang masih bersifat negatif, yang kemudian menjadi positif setelah diberikan puja mantra oleh Ida Pedanda dengan diberi laba caru yang ada di bawahnya. Karena masih bersifat Negatif maka sarananya dibuat dari daging babi. Daging babi dalam agama Hindu bersifat tamas, yaitu negatif. Atribut-atribut penting dalam Sate Tungguh ini antara lain berbentuk sate babi dalam berbagai hitungan menurut kiblat penguasa penjuru angin, yaitu Dewa Nawa Sanga dengan segala macam senjatanya. Ada berbentuk daging jejaring, isin jeroan babi, kober (bendera), payung dan lain-lainnya yang menggambarkan isi bhuhloka (Mayapada) yang bersifat Tamas (negatif).

Pregembal/Sarad

Pregembal, atau yang terbesar, disebut Sarad. Wujud upakara ini bersifat sattwam (positif) diletakkan berdampingan dengan Sate Tungguh, menggambarkan unsur negatif dan positif senantiasa berdampingan dalam kehidupan. Sebagaimana aliran listrik untuk menerangi lingkungan. Karena bersifat sattwam (positif), maka bahannya pun harus bersifat demikian, yaitu beras yang dijadikan tepung dengan warna-warna tertentu. Tepung berwarna itu, dibentuk kedalam bermacam-macam misalnya wujud berbagai jenis binatang, tumbuh-tumbuhan, manusia (Cili), Planet, Bidadari, dan lain-lainnya yang menggambarkan isi alam semesta. Bentuk keseluruhannya adalah bentuk gunung. Gunung adalah simbol kesucian, sekaligus pusat orientasi kerahayuan (kemakmuran). Semua isi gunung  tercermin di dalam Pragembal, sebagai simbul Bhuana Agung. Ditambah lagi dengan bentuk senjata-senjata Dewa Nawa Sanga untuk mengimbangi persenjataan Sate Tungguh.

 Sate Tungguh sampai Gayah didampingi Pragembal sampai Sarad, merupakan simbol keseimbangan kehidupan yang menciptakan kebahagiaan, yaitu Tri Hita Karana. Hal ini merupakan harapan agar manusia mengerti dan hidup seimbang spiritual dan material. Dengan hidup spiritual dan material secara seimbang maka hidup manusia akan mapan.

Upacara Mapedanan (Manusa Yadnya)

Upacara ini, dilaksanakan dengan cara berjalan beramai-ramai merebut benda-benda di “Pedanan”. Merupakan lambang untuk melepaskan diri pribadi dari sifat-sifat yang tidak baik. Segala sifat tidak baik, itu disalurkan ke dalam upacara dengan benda-benda di Pedanan, diharapkan sifat-sifat yang negatif yang melekat pada diri pribadi masing-masing hilang lenyap sehingga manusia menjadi suci ikhlas, tidak serakah. Di samping itu ada unsur “Dana Punia” yang diberikan kepada orang-orang lain diluar keluarga yang melakukan upacara Pedanan ini atau Keluarga Besar Grhya Jero Gede Sanur. Mereka dari keluarga yang bersangkutan tidak boleh ikut berebut suatu apapun. Mereka harus mementingkan orang-orang diluar lingkungannya.

 Upacara Mapepada (Bhuta Yadnya)

Tujuan utama upacara ini adalah menyucikan secara ritual binatang-binatang yang akan dijadikan kurban secara lahir bathin. Karena itu, binatang diupacarai dengan “Sesaji Biyakala”, lambang lahiriah dan “Upacara Prayascita” lambang penyucian rohaniah. Sesudah itu dilakukan upacara Mejaya-jaya, lambang permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan tujuan agar roh hewan yang akan dijadikan kurban mendapat tempat yang layak sesuai dengan fungsinya sebagai binatang kurban untuk tujuan yang suci. Terakhir dilakukan upacara Daksina yaitu keliling tiga kali dari timur ke selatan yang melambangkan bahwa upacara ini benar-benar menuju kesucian. Berputar tiga kali ke kanan sebagai jalannya jarum jam adalah lambang menuju jalannya Tuhan.

Upacara Ngenteg Linggih (Dewa Yadnya)

Ngenteg Linggih merupakan rangkaian upacara paling akhir dari pelaksanaan upacara Pamungkah. Secara etimologis, Ngenteg Linggih (Menetap Linggih) berarti menobatkan / mensthanakan. Jadi Ngenteg Linggih adalah upacara Penobatan / Mensthanakan Hyang Widhi dengan segala manifestasi-Nya pada pelinggih yang dibangun, sehingga Beliau berkenan kembali setiap saat, terutama saat segala kegiatan upacara di Pemerajan atau Pura dilangsungkan.

Upacara Makebat Daun

Persembahan dan pemujaan pada hari puncak karya ini adalah Upacara Makebat Daun. Sesuai dengan sebutan “Makebat Daun” berarti membentangkan sehelai daun. Upacara Makebat Daun ini harus dilakukan bersamaan dengan rangkaian upacara Pemelaspas dan Ngenteg Linggih. Inilah puncak proses penyucian pembangunan Pamerajan setelah pemugaran dengan unsur-unsur dan struktur pelinggih.

Untuk betah tinggal (Enteg Melinggih) setelah upacara Melaspas patut dipersiapkan sehelai tikar ataupun alas. Inilah puncak hakekat daun itu sehingga Pamerajan sebagai Isthana Hyang Widhi Wasa, dalam manifestasi-Nya, menjadi utuh.

Upacara Bhatara Tedun ke Peselang (Peselang = Pinjaman)

Upacara Ida Bhatara Tedun ke Peselang adalah Yasa Petemon Hyang Widhi dalam Prabawa Semara Ratih, untuk menciptakan dunia ini dengan segenap prabawa-Nya. Upacara ini sebagai wujud cinta kasih Hyang Widhi Wasa dengan segala bentuk jenis ciptaan-Nya, yang menyebabkan manusia hidup dengan makmur dan sejahtera. Dewa Semara Ratih  (Kamajaya-Kamaratih) dipujakan dengan warna yang serba Kuning sebagai simbol kemakmuran dan kesejahteraan. Juga upacara ini menyimpulkan bhakti disambut asih dari Hyang Widhi Wasa sebagai jiwa seluruh alam dan sebagai sumber kehidupan di Tri Bhuana ini. Jiwa kita ini pun adalah pinjaman dari Hyang Widhi Wasa

Upacara “Mapeselang” ini adalah lambang bertemunya Hyang Widhi Wasa dengan umat manusia, melimpahkan karunia-Nya berupa cinta kasih. Cinta kasih Hyang Widhi Wasa kepada umat-Nya telah terbukti dalam bentuk Pencipta dunia beserta isinya, dengan kekuatan-kekuatan sucinya mengatur dunia ini. Beliau menciptakan : gunung, laut, danau, hutan, sawah, ladang, matahari, segala materi yang berharga serta semuanya merupakan kekuatan kehidupan manusia. Inilah bentuk cinta kasih Tuhan untuk umat manusia.

Dalam upacara “Mapeselang” Ida Sang Hyang Widhi diwujudkan dalam wujud Purusa Predana sebagai Dewa Semara Ratih, lambang dewa Cinta kasih.

Upacara Nganyarin (Penganyar)

Upacara Nganyarin adalah persembahan setiap hari (penyabran) selama Ida Bhatara-Bhatari nyejer. Persembahan bhakti penganyar merupakan persembahan yang baru (anyar).

Upacara Ngeremekin

Ngeremekin berarti menghancurkan. Upacara ngeremekin berarti  menghancurkan sisa-sisa upacara, berupa sampah (lulu), terutama sisa persembahan Tawur Agung. Biasanya dilaksanakan pada hari ketiga. Selain kegiatan itu, juga ada persembahan bhakti pengeremek selaku upacara atur piuning bahwa rangkaian upacara pokok telah berakhir.

 Upacara Nyenuk

Upacara Mendem Bagia Pula Kerthi diakhiri dengan upacara Bhatara Masineb setelah itu diadakan upacara Nyenuk, yang berarti datang melihat. Upacara ini merupakan rangkaian akhir persembahan dan pemujaan kehadapan Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi-Nya yang tuwur dalam persembahan dan pemujaan itu.

 Upacara Nyegara Gunung (Meajar-ajar)

Upacara Nyegara Gunung disampaikan kepada Segara dan Gunung Yasa Lingga Yoni. Gunung dalam konsep filsafat Siwa sebagai Lingga Acala (Lingga yang diam). Sedangkan Laut adalah Yasa Yoni. Gunung dan laut merupakan sumber kehidupan dan kemakmuran sehingga umat manusia dapat memenuhi kebutuhan untuk mempersembahkan Yadnya, dan untuk kehidupan manusia itu sendiri.

Upacara Rsi Bhojana (Rsi Yadnya / Rsi Rna)

Upacara ini merupakan ucapan terimakasih kepada semua pendeta yang telah memimpin upacara, misalnya upacara Dewa Yadnya, Manusa Yadnya maupun Bhuta Yadnya. Bentuknya bermacam-macam, misalnya makanan, pakaian, perlengkapan sehari-hari, seperti payung lampu dan lain-lainnya.

 

D. PERIHAL BHUTA YADNYA TAWUR AGUNG

Pustaka Bhagawadgita, III. 10. Menyatakan :

Sahayajnah prajah srstva, puro’vaca prajapatih, anena prasavisyadhvam, esa vo’stvistakamandhuk

Pada zaman dahulu Hyang Widhi (Prajapati) menciptakan Jagat Raya ini atas dasar Yadnya yang bersabda “Wahai umat manusia, dengan yadnya ini engkau berkembang biak dan jadikanlah Bhumi ini sebagai Sapi Perahan.

Dari kutipan di atas dapat diketahui bahwa Hyang Widhi telah berbuat atau memberi sesuatu melalui daya cipta-Nya dengan cara menciptakan manusia agar manusia berkembang biak. Lebih lanjut Hyang Widhi menciptakan seperangkat fasilitas bagi kehidupan dan kebahagiaan manusia berupa alam sekitarnya beserta segala isinya seperti bumi, benda-benda dan makhluk-makhluk selain manusia. Semua ini dinyatakan sebagai sumber kehidupan yang dalam Weda disimbolkan sebagai “Sapi Perahan”. Jadi Hyang Widhi telah menciptakan manusia dengan segala fasilitasnya sebagai peluang untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan duniawi maupun kebahagiaan sorgawi.

Pokok pikiran ini mendasari ajaran Rna (Hutang) dalam agama Hindu. Hutang, dalam hubungan dengan Hyang Widhi disebut Dewa Rna (hutang kepada Hyang Widhi), merupakan hutang yang terkait dengan kelahiran manusia dan kebahagiaan lahir bathin. Manusia harus membayar hutang (beryadnya) kepada Hyang Widhi atas pemberian Hyang Widhi dalam bentuk segala sesuatu yang telah diciptakan-Nya.

Dalam hubungannya dengan ini Bhagawadgita, IX.22 memberi penjelasan sebagai berikut :

Mereka yang memuja Aku sendiri, merenungkan Aku senantiasa, kepada mereka Aku bawakan apa yang mereka perlukan dan Aku lindungi apa yang mereka miliki.

Kutipan sloka di atas menegaskan bahwa bila manusia melaksanakan sesuatu (yadnya) kepada Hyang Widhi maka Hyang Widhi akan memberikan segala apa yang diinginkan oleh manusia dan sekaligus melindungi apa yang dimilikinya. Disinilah tampak hubungan timbal balik dalam bentuk “take – and –give” antara Hyang Widhi dengan umat-Nya (menyatunya lingga dan yoni).

Kedua belah pihak saling bertukar yadnya. Di satu pihak, Hyang Widhi beryadnya dengan menciptakan manusia beserta segala fasilitas serta perlengkapan kehidupan dalam bentuk alam sekitar dan isinya yang bisa dikembangkan dan dimanfaatkan bagi pemenuhan segala keperluan hidupnya. Sedangkan di pihak lain, manusia beryadnya sebagai upaya untuk membayar hutang kepada Hyang Widhi dan sekaligus untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Hyang Widhi.

Hubungan timbal-balik ini bisa dipahami sebagai bentuk refleksi (cerminan) keselarasan hubungan antara manusia dan Hyang Widhi. Hubungan dengan corak khas yang mendatangkan kesejahteraan dan kebahagiaan lahir bathin bagi individu-individu yang bersangkutan.

Uraian diatas memberi informasi bahwa umat Hindu percaya akan Hyang Widhi yang telah menciptakan (Utpatti), dan memelihara (Stithi) alam jagat raya beserta segala isinya termasuk manusia itu sendiri. Serta percaya juga bahwa Hyang Widhi akan melebur mengembalikan keasal-Nya (Pralina) semua ciptaan-Nya. Namun, Hyang Widhi tidak menghendaki mutu ke-sraddha-an (keimanan) dan rasa Bhakti umat-Nya hanya karena mereka “Percaya” akan adanya Hyang Widhi yang memiliki tiga kekuatan utama (Utpatti, Stithi, Pralina). Melainkan, Hyang Widhi menghendaki agar umat-Nya bekerja secara dinamis terkendali (berkarma) melalui empat jalan utama, yaitu Jnana Yoga, Bhakti Yoga, Karma Yoga dan Raja Yoga. Hanya dengan cara itulah, manusia akan mencapai tujuan dan hakekat hidup sesuai dengan yang digariskan oleh Hyang Widhi.

Hyang Widhi juga menciptakan materi dan makhluk yang tidak dapat dilihat yang dinamai “Bhuta”. Bhuta yang berjumlah lima merupakan unsur pokok pembentukan alam, yaitu : Tanah, Air, Udara (Angin), Api dan Ruang (Perthiwi, Apah, Bayu, Teja dan Akasa). Yang disebut Panca Maha Bhuta. Panca Maha Bhuta tersebut memiliki dua sifat yang antagonistis, yaitu : yang positif (Daiwi Sampat) dan yang negatif (Asuri Sampat). Sifat positif menguntungkan dan mendukung peran kehidupan manusia kearah kesejahteraan dan kebahagiaan yang lebih baik. Dalam Weda diutarakan bahwa Bumi (Alam sekitar) merupakan sumber kehidupan (Sapi Perahan) bagi kehidupan manusia yang harus dimanfaatkan dan disyukuri oleh manusia. Sedangkan sifat negatif yang dimiliki oleh Panca Maha Bhuta adalah sifat-sifat yang merugikan, menghambat, dan mengganggu kehidupan manusia. Munculnya sifat negatif sebagai pengganggu sekaligus sebagai ancaman bagi kelangsungan hidup manusia dari Panca Maha Bhuta karena ulah perilaku manusia sendiri yang merusak kelestarian alam sekitarnya. Merusak hutan mengakibatkan banjir atau air bah, yang mengakibatkan sifat negatif air (Apah) muncul dan mengancam kehidupan manusia. Seperti tanah (Perthiwi) beserta isinya rusak dilanda banjir, terjadi polusi udara (Bayu) dan Ruang (Akasa) dan sebagainya. Sifat negatif Panca Maha Bhuta muncul dihadapan manusia karena hukum alam (Kehendak Hyang Widhi ), misalnya : Angin ribut atau topan (Bayu) mengakibatkan  air laut pasang dan bergelombang, hujan lebat dan banjir (Apah). Kondisi demikian ini mengakibatkan rusaknya tanah pemukiman dan tanah pertanian (Perthiwi), Kilat menyambar dan kemungkinan terjadi kebakaran (Teja). Dengan perkataan lain, sifat-sifat negatif dari Panca Maha Bhuta akan menjadi kenyataan dalam kehidupan manusia karena dua faktor utama yaitu :

  1. a.   Karena ulah/prilaku manusia yang tidak perduli terhadap kelestarian alam.
  2. b.   Karena kehendak Hyang Widhi atau Hukum Alam.

Berdasarkan pemahaman tersebut umat Hindu melaksanakan Kurban Suci (Yadnya) kepada alam sekitarnya yang disebut “Bhuta Yadnya”.

Bhuta Yadnya memiliki makna :

(a)    Sebagai pernyataan syukur atas karunia Hyang Widhi yang telah menciptakan alam semesta sebagai sumber kehidupan.

(b)   Sebagai upaya untuk menjaga dan memelihara kelestarian alam sekitarnya agar tetap menjadi sumber kehidupan (dalam Weda disimbolkan sebagai “Sapi Perahan”).

(c)    Sebagai upaya mencegah pengaruh negatif atau buruk atau gangguan Bhuta Kala terhadap aktifitas kehidupan manusia.

Oleh karena itu setiap akan melaksanakan yadnya, selalu lebih dahulu mempersembahkan “Caru”, yaitu sesajen untuk Bhuta Kala. Persembahan ini dimaksudkan agar Bhuta Kala tidak mengganggu jalannya yadnya. Dalam pelaksanaan, “Caru” sering kali lebih besar biayanya ketimbang sesajen bagi para Dewa.

Namun, tanpa kelima unsur utama tersebut (Panca Maha Bhuta), manusia tidak dapat hidup. Demikianlah makna Bhuta Yadnya yang hendaknya dilaksanakan umat Hindu.

Di satu sisi, Bhuta Yadnya merupakan upaya manusia untuk  menghilangkan atau setidak-tidaknya memperkecil sifat negatif (Asuri Sampat) unsur utama alam demi kepentingan manusia. Di sisi lain Bhuta Yadnya mempunyai makna sebagai ucapan rasa syukur atas berkat dan karunia Hyang Widhi yang telah menciptakan alam sebagai sumber kehidupan manusia dengan sifat positif (Daiwi Sampat). Dalam hubungan ini, Hyang Widhi menyatakan bahwa agar Lima Unsur Utama alam semesta itu menjadi sumber-sumber kebahagiaan, maka manusia wajib melaksanakan Kurban Suci, yaitu Bhuta Yadnya.

Bhuta Yadnya pada dasarnya menjelaskan bahwa umat Hindu, di satu pihak tidak takluk kepada alam sekitar, dan dipihak lain tidak bermaksud untuk menaklukkannya. Yang diinginkan adalah hidup berdampingan secara damai selaras dan saling mendukung. Dengan Bhuta Yadnya, umat Hindu yakin bahwa Bhuta dapat dipengaruhi agar berperilaku baik dan ditentramkan sehingga tidak menggunakan sifat-sifat negatifnya untuk menyusahkan manusia.

Kelima unsur utama dari alam yang menjadi lingkungan fisik kehidupan manusia berpengaruh terhadap pembentukan sikap dan prilaku manusia di dalam kehidupannya. Sebaliknya manusia sendiri sangat berpengaruh terhadap keberadaan lingkungan hidupnya. Jadi ada hubungan timbal-balik antara manusia dengan alam sekitarnya. Ini berarti, menurut pandangan Hindu, manusia dan alam sekitarnya (sebagai lingkungan hidup) memiliki hubungan erat satu sama lain saling pengaruh mempengaruhi satu sama lain. Inilah penerapan Tri Hita Karana.

Apabila dicermati Bhuta Yadnya serta semua sarana upakara  berasal dari Panca Maha Bhuta. Panca Maha Bhuta terdiri dari lima unsur yaitu :

  1. Perthiwi, tempat tumbuhnya segala macam tumbuh-tumbuhan. Dari sinilah bahan-bahan dimaksud diambil apakah akar, batang, daun, bunga, buah sesuai keperluannya.
  2. Apah, adalah unsur air, kemudian berkembang menjadi zat cair, untuk dipergunakan dalam upakara; darah, alkohol (tuak, arak, brem), tirtha dengan segala macam jenis dan sampai amertha.
  3. Wayu berarti hawa, angin dan tenaga. Pada waktu pranayama, natab, menghaturkan (mengayabkan) banten, melambaikan tangan di utara.
  4. Teja berarti sinar, cahaya, unsur api atau agni. Kemudian dari sana berkembang menjadi : Api, Dupa, Api Dhipa atau Pedamaran, Api Pasepan (Pengasepan), Api Sambuk (serabut kelapa), Takep, Api Obor, Prakpak, Sundih (Api daripada daun kelapa kering), Homa Agni, dengan perkembangan selanjutnya.
  5. Akasa, berarti ether. Dalam hubungannya dengan sarana upakara; Suara, Mantra, Doa, Stuti, Stawa dengan perkembangan lanjut.

Dasar Pemakaian Korban Kerbau Dalam Bhuta Yadnya

Yang pokok dan sangat prinsip mengapa selalu digunakan kerbau sebagai dasar Tawur maupun Tawur Agung, adalah ajaran filsafat Tantra Vamachara. Ajaran Tantra bercorak Siwaistis maupun Bhuddhistis, terutama yang dikemukakan dalam Siwa Purana adalah merupakan upacara pemujaan SHAKTI. Kalau dianalogkan dengan pelaksanaan pemujaan dan persembahan Tawur atau Tawur Agung, berdasarkan sumber konsep ajaran Tattwa Lontar Siwagama di Bali, pemujaan atau persembahan Tawur atau Tawur Agung ini adalah agar unsur-unsur Panca Maha Bhuta seperti : Apah, Perthiwi, Bayu, Teja dan Akasa dan unsur-unsur Sad Kerthi, (Gunung, Laut, Danau, Sungai, Bumi dan Akasa), memiliki kekuatan (Shakti). Kalau Panca Maha Bhuta telah memiliki Shakti yang Sad Kerthi (Enam Kekuatan Positif), semua makhluk hidup akan menikmati hidup dan kehidupan yang damai, sejahtera, bahagia (rahayu). Sad Kerthi adalah enam upacara yaitu :

(1).    Wana Kerti, mapahayu Hutan, sebagai sumber mata air dan pembersih udara / atmosfir.

(2).    Pitra Kerti, mapahayu bhumi agar tidak lama dikotori atau dicemari oleh jenasah dan mapahayu roh-roh para leluhur yang telah meninggal,

(3).    Samudra Kerti, mapahayu Lautan,

(4).    Danu Kerti, mapahayu Danau,

(5)     Jagad Kerti, mapahayu jagad atau bhumi,

(6).    Jana Kerti, mapahayu Manusia dan Masyarakat.

Dalam Siwa Purana, Markandhya Purana (sumber dari Maha Purana) dikemukakan, bahwa Asura Mahisa yang memiliki kesaktian maha hebat, terus mengganggu dengan kehebatannya. Bukan hanya dunia ini saja yang rusak dan dihancurkannya, melainkan Siwa Loka dan Wisnu Loka. Juga digempur dan dihancurkan, termasuk Sorga-sorga Dewata Nawa Sanga semuanya tidak luput dari gempuran dan pengrusakan Asura Mahisa. Menanggapi situasi dan kenyataan seperti itu, Dewata Nawa Sanga menghadap Dewa Siwa di Siwa Loka.

Dalam paruman para Dewa itu, Dewa Siwa dan Dewa Wisnu menugaskan para Dewa untuk mengalahkan Asura Mahisa. Untuk itu mereka semua agar memusatkan shaktinya bersama-sama termasuk mengumpulkan senjata masing-masing yang memiliki kekuatan (Shakti).

Para Dewata Nawa Sanga pun mengikuti petunjuk Dewa Siwa dan Dewa Wisnu, dan segera mengumpulkan senjata masing-masing ditaruh di suatu tempat. Mereka bersama-sama pula melakukan yoga semadi. Dari tumpukan senjata para dewa itu keluarlah nyala api yang besar dan terang benderang. Dari nyala api keluarlah Candika Dewi atau Dewi Durga dalam wujud Pamurtian yang hebat, bertangan sepuluh.

Masing-masing memegang senjata-senjata Dewata Nawa Sanga itu yakni : Cakra senjata Wisnu, Trisula senjata Dewa Sambu (Swayambu), Vajra (bajra) senjata Dewa Iswara, Dupa senjata Dewa Maheswara, Danda (Gada) senjata Dewa Brahma, Moksala senjata Dewa Ludra, Naga Pasa senjata Dewa Mahadewa dan Angkus Senjata Dewa Sangkara. Tambahan dua senjata lagi, menurut buku Development of Hindu Icography, adalah Tameng dan Pedang Dewata.

Kemudian Dewi Durga dengan wahana Singa, pergi menghadapi Asura Mahisa. Pertempuran hebat terjadi. Tidak dalam waktu yang lama Dewi Durga mengalahkan Asura Mahisa. Tatkala Dewi Durga sebagai Shakti Siwa hendak memenggal leher Asura Mahisa dengan pedang Dewatanya, Asura Mahisa berubah wujud menjadi seekor kerbau. Maka leher kerbau lalu dipenggal dengan pedang dewata, sehingga terpisah dari badannya.

Kepala kerbau itu lalu dipendam di sebelah utara tegal Kurukshetra oleh Dewi Durga. Sejak mengalahkan Asura Mahisa itu, Dewi Durga juga dinamai Durga Mahisa Suramardhini, yang berarti penakluk atau pembunuh Asura Mahisa. Setelah menanam kepala kerbau di bagian utama tegal Kurukshetra, Dewi Durga segera memperbaiki sorga dan dunia yang telah rusak karena gempuran Asura Mahisa. Sorga dan Dunia pun menjadi pulih kembali, dengan kestabilan, keseimbangan dan keharmonisan seperti semula.

Apa yang dapat di simpulkan dari ajaran Pemujaan Shakti atau ajaran filsafat Tantra Vamachara, memang untuk merehabilitir kerusakan dan kehancuran dunia ini, untuk mengharmoniskan, menyelaraskan dan menyeimbangkan sorga dan dunia ini, harus menggunakan dasar Kepala Kerbau. Kemudian konsep ajaran filsafat pemujaan shakti dalam Tantra Vamachara ini, dalam pengejawantahan ajaran Kalpa, (tata Upacara) diwujudkan dalam upacara dan upakara Tawur atau Tawur Agung yang memakai korban kerbau. Di luar Bali pun upacara menanam kepala kerbau masih dilakukan sebelum membangun sesuatu yang besar.

Demikianlah sumber ajaran filsafat yang menjadi latar belakang mengapa justru kerbau digunakan sebagai dasar Tawur atau Tawur Agung. Tujuannya adalah untuk merehabilitir (menyelaraskan, mengharmoniskan dan menyeimbangkan), Sorga dan Dunia ini, yang secara wujud fisik adalah unsur-unsur Panca Maha Bhuta.

Biasanya yang dikorbankan sebanyak tiga ekor kerbau. Pada tempat Tawur Agung Pedanan korban suci adalah seekor kerbau.
Di dalam pura, korban sucinya dua ekor kerbau, yaitu : seekor dihadapan pelinggih dan seekor lagi sebagai Titi Mamas di Paselang. Kedua kerbau ini bukan kerbau biasa tetapi kerbau yang khusus yaitu kerbau Silang. Anak-anak kerbau hitam dengan kerbau putih (Misa) yang masing-masing bernama kerbau Yos Brana dan kerbau Anggrek Bulan yang harganya pun khusus.

Di samping itu ada juga uraian di pustaka Garuda Purana mengenai ketinggian makna pengorbanan suci dengan sarana kerbau di dalam upacara Tawur. Di sana diuraikan tentang Raja Detya Bali yang dengan tapanya yang berat mendapatkan anugerah yang sangat hebat sehingga mampu mengalahkan dewa-dewa di sorga. Hal ini merisaukan Dewa Indra sebagai raja para Dewa itu. Oleh karena itu Dewa Indra menjelma ke bumi dalam wujud sebagai Pendeta peminta-minta. Pendeta ini mengajukan permintaannya dan Detya Bali mengabulkan segala permintaannya walaupun belum disebut permintaan itu. Setelah ditanya apa yang diminta itu, Dewa Indra dalam wujud Pendeta itu mengatakan bahwa ia akan mengadakan upacara korban suci dengan sarana kerbau yang diwujudkan dari badan Raja yang bernama Detya Bali. Mendengar permintaan itu, sedangkan Raja Detya sudah berjanji akan memenuhi segala permintaan dan janji seorang raja tidak boleh diingkari, maka Raja Detya Bali bersedia menjelmakan dirinya menjadi kerbau. Dewa Indra dalam wujud Pendeta itu mengadakan upacara dengan sarana kerbau penjelmaan Raja Detya Bali.

Karena pengorbanan ini adalah pengorbanan suci dan dikorbankan dengan hati tulus dan suci maka Detya Bali menjadi suci juga. Setelah menjadi korban suci itu unsur-unsur kerbau itu menjadi bermacam-macam permata yang sangat tinggi nilainya, antara lain :

  1. 1.   Darahnya menjadi permata Rubi, yang dipilih oleh planet Matahari untuk mempengaruhi manusia.
  2. 2.   Perutnya menjadi permata Jambrud, yang dipilih oleh planet Marcuri dengan tujuan sama.
  3. 3.   Lemaknya menjadi Mutiara, yang dipilih oleh planet Bulan dengan tujuan yang sama.
  4. 4.   Jantungnya menjadi Mutiara Karang, yang dipilih oleh planet Mars dengan tujuan yang sama,
  5. 5.   Tangan dan kakinya menjadi Intan yang dipilih oleh planet Venus dengan tujuan yang sama.
  6. 6.   Kulitnya menjadi permata Safir Kuning, yang dipilih oleh planet Jupiter dengan tujuan yang sama.
  7. 7.   Matanya menjadi permata Safir Biru, yang dipilih oleh planet Saturnus, dengan tujuan yang sama.
  8. 8.   Air Maninya menjadi permata Safir Merah Tua, yang dipilih oleh planet Rahu dengan tujuan yang sama.
  9. 9.   Nafasnya menjadi permata Mata Kucing dipilih oleh planet Kytu dengan tujuan yang sama.

Demikianlah makna yang tinggi pemakaian binatang kerbau dalam upacara Tawur sebagai kekayaan di dunia dapat bertambah olehnya yang tentu meningkatkan kesejahteraan umat manusia sendiri mengetahui pengaruh korban itu terhadap dirinya sendiri sesuai dengan unsur-unsur dari wujud kerbau itu yang dipilih oleh planet-planet di angkasa.

Kualitas Yadnya

Dalam melaksanakan yadnya seluruh Keluarga Besar Grhya Jero Gede Sanur dan para bhakta yang akan mengikuti seluruh rangkaian upacara Karya Agung Memungkah dan Ngenteg Linggih diharapkan sesuai dengan Kitab suci Bhagavadgita XVII, 11, 12 dan 13 menyebutkan, ada tiga tingkatan yadnya dilihat dari segi kualitasnya. Tiga yadnya itu yakni :

  1. 1. Tamasika Yadnya yaitu yadnya yang dilakukan tanpa mengindahkan petunjuk-petunjuk sastranya, tanpa mantra, tanpa ada kidung suci, tanpa ada daksina, tanpa didasari oleh sraddha dan bhakti (kepercayaan).
  2. 2. Rajasika Yadnya yaitu yadnya yang dilakukan dengan penuh harapan akan hasilnya dan dilakukan untuk pamer saja (nasmita).
  3. 3. Sattvika Yadnya yaitu yadnya kebalikan dari Tamasika Yadnya dan Rajasika Yadnya bila didasarkan atas penjelasan Kitab Suci Bhagavadgita tersebut diatas yaitu berdasarkan atas Sraddha/ keyakinan penuh berdasarkan sastra-sastra agama, Lascarya yaitu penuh keikhlasan tanpa pamerih apapun, Sastra (hukum) dimana yadnya dilaksanakan sesuai dengan petunjuk sastra / hukum agama dari Sruti – Smrti – Sila – Acara – Atmanastuti, Daksina yaitu bentuk upacara dan benda yang dihaturkan kepada pemimpin upacara (Sang Yajamana, Sang Trini, Sang Manggaleng Yadnya), Mantra dan Gita yaitu pada saat upacara haruslah ada mantra dan gita (manca gita), Annaswewa yaitu memberikan jamuan/pasuguh kepada para tamu upacara sebagai atitiyadnya sesuai dengan kemampuan, Nasmita artinya dalam melaksanakan yadnya bukanlah bertujuan untuk memamerkan kemampuan, kemewahan dengan maksud masyarakat menjadi kagum.

Demikianlah, bahwa yadnya dalam agama Hindu merupakan wujud kasih sayang yang menjadi roh dan jiwa perkembangan budaya adiluhung bagi kemajuan umat manusia dengan seluruh aspek sosialnya, antara lain kepariwisataan di Pulau Bali ini.

Leave a comment

Filed under Articles

Dharmopadesa Brahmanawangsa di Bhumi Badung

II DHARMOPADESA BRAHMANA WANGSA DI BADUNG

Agama sesungguhnya adalah Bakti kepada Hyang Widhi, menegakkan kebenaran, jujur dan setia. Rta tentang ajaran Dharma, yang nantinya dipakai sebagai tolak ukur pada saat lahir kembali ke dunia. Diksa tentang penyucian. Tapa sebagai pengikat indrya, untuk berbuat kebaikan. Brahman tentang pemujaan. Yadnya seperti Panca Yadnya, semua itu dipakai pedoman dalam kehidupan ini, baik yang telah dilalui ataupun yang akan datang dan kita senantiasa harus menegakkan dharma, menciptakan kedamaian seperti leluhur-leluhur kita yang telah menyatu dengan Brahman (Atman Aikyam Brahman).

Sembah sujud bakti hamba kehadapan Bhatara Sinuhun yang telah menyatu dengan Brahman, anugrah Bhatara selalu hamba syukuri, semoga hamba luput dari nestapa berikut seluruh keturunan hamba, karena hamba telah berani menuliskan perjalanan Bhatara, itu semua hamba lakukan karena rasa bhakti hamba kehadapan Bhatara.

Sebagaimana uraian Dwijendra Tattwa maupun Pamancangah, Piagem dan Prasasti-Prasasti, Bhatara Sakti, Ida Danghyang Nirartha datang ke Bali Pulina, pada jaman kerajaan Ida Dalem Waturenggong (1460-1550 M) tahun Isaka 1411 (1489 Masehi).

Pada masa itu, Bhatara Sakti berkedudukkan sebagai Bhagawanta Dalem Bali, Beliau mempunyai sepuluh putra dan putri dari beberapa istri, diantaranya 2 orang putra Kemenuh beribu dari Daha, 2 orang Manuabha beribu dari Pasuruan, 3 orang Keniten beribu dari Blambangan, seorang Mas beribu dari Mas Bali, dan 2 orang lagi beribu dari Panawing.

Kita bicarakan Putra Ida Bhatara yang dilahirkan oleh Ida Patni Keniten, yang tertua bernama Ida Ayu Swabhawa (Ida Rahi Istri), adiknya bernama Ida Made Wetan (terkenal dengan nama Ida Telaga Sakti Ender) dan yang terkecil bernama Ida Nyoman Wetan (Ida Bukcabe/Ida Nyoman Keniten).

Ida Made Wetan (Ida Telaga Sakti Ender) bertempat tinggal di Katyagan-Siku Kamasan Klungkung, mempunyai 4 orang putra, yang tertua bernama Ida Pedanda Telaga Tawang, adiknya bernama Ida Pedanda Made Telaga, yang ketiga bernama Ida Pedanda Anom Bandesa dan yang terkecil bernama Ida Pedanda Penida.

Setelah Dalem Waturenggong mangkat, Beliau digantikan oleh Dalem Bekung (1550-1580 M) kemudian digantikan oleh Ida Dalem Sagening/Dalem Ile (1580-1580). Pada jaman pemerintahan Dalem Sagening, putra Ida Bhatara Sakti Ender meninggalkan Katyagan-Kamasan Klungkung, sedangkan Ida Pedanda Telaga Tawang tetap tinggal di Kamasan. Setelah menghaturkan Yadnya Catur Winasa dengan punggalan kepala kerbau berhias di tengah Sungai Unda, Ida Pedanda (Anom) Bandesa, Ida Pedanda Made Telaga dan Ida Pedanda Ketut Penida beserta saudara sepupu beliau Bhatara Ida Pedanda Empu (Putra dari Ida Wayahan Kidul/Mas), meninggalkan Kamasan menuju Padang Galak, Enjungin Biaung, yang merupakan daerah kekuasaan dari I Gusti Ngurah Agung Pinatih di Kertalangu Kesiman. Konon diceritakan, dihaturkannya Yadnya Catur Winasa karena pada waktu itu keadaan pemerintahan sangat kacau. Dalem Klungkung kurang memperhatikan pendeta. Sehingga beliau meninggalkan Desa Katyagan Kamasan (Gelgel) – Klungkung menuju ke Padang Galak (Pradesa Wirasana Tangtu Padang Galak). Di wilayah I Gusti Ngurah Gede Pinatih.

Kembali diceritakan Ida Pedanda (Anom) Bandesa, Ida Pedanda Made Telaga dan Ida Pedanda Ketut Penida beserta saudara sepupu beliau Bhatara Ida Pedanda Empu di Wirasana Tangtu mereka diberikan tempat tinggal. Dari sini mereka berpisah, Ida Pedanda Ketut Penida mengungsi ke Tabanan dan menetap di Wanasara, selama Pedanda Penida di Wanasara beliau dianugrahi putra bernama Pedanda Tembau yang membuat kidung Brahmara Sangupati. Ida Pedanda Made Telaga pindah ke Denbukit, bertempat tinggal di Banjar Ponjok Buleleng, berputra Ida Pedanda Sabo. Sedangkan Pedanda Empu menuju desa Perean, bertempat tinggal di Balwangan-Baturiti, Tabanan.

Tidak diceritakan berapa lama Ida Pedanda (Anom) Bandesa di Padang Galak, atas keluhuran I Gusti Ngurah Gede Pinatih beliau menghaturkan adiknya yang bernama Ni Gusti Ayu Putu Pacung untuk diperistri berikut braya / panjak sebanyak 40 keluarga gegilingan / pilihan. Dari perkawinan ini beliau mempunyai putra yang bernama Ida Pedanda Sakti Ngenjung. Sedangkan putra dari perkawinan beliau dengan Jero Abian dari Abian Kapas bernama Ida Wayahan Abian yang selanjutnya kesah ke Sibang dan Ida Made Abian kesah ke Tegal Badung.

Diceritakan Jero Abian sangat cemburu (duhkita) dengan madunya. Kemudian Jero Abian matur sesangi yang isinya ‘yen mati madun tiange, tiang pacang maturan guling celeng saha baris abajo” (kalau meninggal madu saya, saya akan menghaturkan babi guling serta baris abajo). Sehingga sampai sekarang ada tarian
baris Gede (Tumbak) di Br. Belong Sanur.

Ida Pedanda Sakti Ngenjung yang masih menetap di Wirasana Tangtu, mempunyai dua orang putra saksat surya chandra sira kalih bernama, Ida Pedanda Wayahan Bandesa dan Ida Pedanda Made Bandesa laksana Surya Chandra atau Surya Kalih – yaitu bagaikan Surya Kembar (lumra prabhanira).

Pada suatu hari Tangtu tertimpa wabah penyakit, tiba-tiba Beliau memanggil makhluk halus (tonya) yang bersuara WAWUR DEG SIRRR dan ketika matahari tenggelam, makhluk halus itu bersuara, kemudian beliau menusuk makhluk halus itu dengan tombak dan makhluk tersebut tersungkur jatuh bagaikan rebahnya pohon Jaka (enau). Tombak pusaka tersebut dikenal dengan nama
I WAWU RAWUH (I BARU WAWA).

Selama Ida Pedanda (Anom) Bandesa di Padang Galak Wirasana Tangtu, rakyat aman tentram kertha raharja, beliau juga menjalankan konsep Tri Hita Karana melalui Nyatur Bandana Dharma Praja seperti yang dilakukan oleh kakek beliau (Danghyang Dwijendra).  Selama Pedanda Anom Bandesa menetap  di Wirasana Tangtu, beliau mendirikan Tri Kahyangan yaitu : Pura Dalem Kedewatan, Pura Puseh, Pura Kentel Gumi, Pura Padang Sakti, PelinggihPenghayatan Bhatara Batur, Pelinggih Gunung Agung, begitu pula dengan I Gusti Ngurah Agung Pinatih, beliau mendirikan Pura Bangun Sakti di sebelah timur Tangtu atas petunjuk Ida Pedanda Anom Bandesa.

Tidak diceritakan berapa lama beliau tinggal di Wirasana, Padanggalak Tangtu kemudian pindah menuju Desa Gunung Klandis, Desa Sumerta, tetapi tidak lama beliau tinggal disana. Sebab Ki Bandesa Singgi, Intaran memohon supaya beliau tinggal di wilayahnya di Wirasana Singgi Desa Intaran. Dari tempat inilah Bhatara Sinuhun mencari tempat yang cocok untuk dibangun sebuah Graha, hingga pada suatu hari dari suatu tempat yang tegeh / tinggi, beliau melihat sinar seperti janur putih dan di tempat inilah akhirnya dibangun Graha Grhya Gede Sanur. Sanur berasal dari kata Sa yang artinya tunggal, sedangkan Nur artinya Sinar suci.

Sejak saat itu pula, krama, panjak dan kawula yang masih setia mengikuti Beliau, mencari daerah untuk mendirikan tempat tinggal. Mereka tersebar sepanjang Wilayah Batanpoh-Belong (lintasan kangin-kauh), Pekandelan-Pemamoran (lintasan kaja-kelod) yang merupakan penyatuan pengider-ider jagad Padma Bhuwana (padma kuncup dan padma kembang) dengan tatanan pertahanan Jaga Satru di wilayah Bali Rajya Bandana yaitu manunggalnya Dharma Negara dan Dharma Agama yang merupakan kewajiban seorang Pedanda dengan Nyurya Sewana melihat dari keberadaan Pura Surya Batanpoh di Timur – Pura Surya Belong di Barat dan Kahyangan Rwa Bhineda / Kiwa-Tengen yaitu dengan keberadaan Pura Dalem Kedewatan serta seluruh Pura-Pura Prasanak di sebelah utara dan Pura Kembar di sebelah selatan), sedangkan para putra beliau mengambil tempat  di tengah-tengah yang merupakan bagian wilayah Catus Pataning Desa (pusat penyelenggaraan dharma agama dan dharma negara).

Ida Bhatara Sinuhun (Surya Kalih) juga mendirikan Parhyangan, nuntun serta memindahkan pura-pura dari Padang Galak, seperti Pura Dalem Kedewatan (termasuk di dalamnya Pura Batur, Pura Gunung Agung dan Pura Desa – Puseh) di Tegehan Singgi, sedangkan Pura Kentel Gumi, Padang Sakti masih berada di Tangtu sehingga masih ada panjak / kawula tinggal di sana 10 keluarga, sampai sekarang tetap menjadi krama Desa Adat Sanur.

Pembangunan Parhyangan di Sanur terus ditingkatkan, yang selanjutnya membangun Parhyangan di tepi siring wetan (timur) seperti Pura Dalem (seperti tersebut di atas), Pura Kembar yang merupakan pura pemersatu (bandana dharma) bagi para sentana – prati sentanan bhatara seterusnya karena beliau berdua bagaikan amutering Negara Badung, yang melahirkan bhisama ‘adi made … panjak adine elingang, beli baang a dasa kuren dogen, nanging abot-ingane adi ngitungang’, dan seterusnya mendirikan Pura-Pura lain seperti Pura Kahyangan Ksetra, Pura Maospahit, Pura Tanggun Suwan. Sejak saat inilah Desa Sanur mempunyai Kahyangan Tiga sehingga diberi nama Desa Adat Sanur (Desa Pekraman Sanur) sekarang, sesuai dengan yang tersurat dan tersirat dalam Lontar Raja Purana menyebutkan usaha Empu Kuturan untuk membangun tempat-tempat suci beserta upacaranya sebagai berikut :

… ngaran dewa ring kahyangan pewangunan Empu Kuturan kapastikan saking Pura Silayukti, mwang ngewangun seraya karya, ngadegang raja purana, mwang nangun karya ngenteg linggih bhatara ring Bali, kapreteka antuk sira Empu Kuturan, ngeraris nangun catur agama, catur lokika bhasa, catur gila, mekadi ngewangun Sanggah Kemulan, ngewangun Kahyangan Tiga, Pura Desa, Puseh mwang Dalem …

… adapun dewa di kahyangan pewangunan Empu Kuturan  diciptakan atau dibangun oleh Empu Kuturan, direncanakan dari Pura Silayukti dan menyelenggarakan segala pekerjaan
sehubungan dengan pembangunan pura-pura kahyangan jagad, demikian pula mengadakan pemelaspasan dan mengisi pedagingan linggih bhatara-bhatari di Bali diatur oleh Empu Kuturan. Selanjutnya dibuat peraturan agama, empat tatacara berbahasa, empat ajaran pokok dalam kesusilaan dan lima tattwa agama, seperti mengajar membuat Sanggah Kemulan, Kahyangan Tiga,
Pura Puseh, Pura Desa dan Pura Dalem …

Diceritakan kembali pembangunan Pura-Pura lain seperti Pura Dalem Mangening Belatri sudah ada sejak jaman dahulu, begitu juga dengan keberadaan Pura Segara, sudah ada sebelum Bhatara Sinuhun sampai di Sanur.

Diceritakan pada saat memindahkan bahan-bahan untuk mendirikan Palinggih Parhyangan Dalem Kedewatan dari Padang Galak menuju Sanur, seluruh kawula / braya melaksanakannya dengan senang hati, mereka mengadakan tari-tarian dan ikut menari-nari. Berdasarkan pawisik yang diterima, maka sejak saat itu setiap Piodalan di Pura Dalem Kedewatan Sanur selalu diadakan tarian Baris Tumbak yang bernama I Kebo Dengkol.

Semasa hidupnya Ida Wayahan Bandesa dan Ida Pedanda Made Bandesa di Grhya Gede Sanur pemerintahan desa dipegang oleh Ida Pedanda Made Bandesa, sedangkan Ida Pedanda Wayahan Bandesa memusatkan pikiran untuk melaksanakan dharmaning agama. Ida Pedanda Made Bandesa berputra seorang bernama Ida Pedanda Gede Ngenjung, mengambil istri ke Puri Agung Pemecutan, putri dari Raja Sakti Pemecutan I. Dari perkawinan ini melahirkan seorang putri bernama Ida Pedanda Istri Agung Kaniya. Sedangkan istri beliau dari Grhya Pasekan, Tabanan berputra seorang bernama Ida Wayahan Pasekan. Selanjutnya Ida Pedanda Wayahan Pasekan mengambil istri dari Pemecutan Gelogor berputra Ida Pedanda Made Ngenjung, dan dari istri lainnya (Jero Abian) berputra seorang bernama Ida Pedanda Wayahan Meranggi.

Selama pemerintahan Ida Pedanda Made Ngenjung sekitar tahun 1780 M. Beliau mengambil istri dari Puri Pamecutan Kaleran bernama I Gusti Ayu Agung Kaleran yang merupakan saudara tertua dari tiga bersaudara. Sedangkan yang kedua bernama I Gusti Ngurah Made yang ketiga bernama I Gusti Ngurah Rai. Diceritakan di Puri Satria berkuasa Ida Cokorda Sakti Jambe, putra dari Cokorda Jambe Merik yang merupakan putra pedanan dari Dalem Sukawati. Sedangkan adik dari Cokorda Sakti Jambe (Cokorda Made) berpuri di Jero Kuta.

Sebutan Jero Gede Sanur ini dimulai dari kisah I Gusti Ngurah Rai dari Puri Pemecutan Kaleran, yang pada saat itu sering berada di Puri Satria dituduh berhubungan asmara dengan salah satu dari para istri Cokorda Sakti Jambe, sehingga Cokorda Sakti Jambe menjatuhkan hukuman mati. Mengetahui dirinya akan di bunuh
I Gusti Ngurah Rai melarikan diri ke Kerobokan. Namun terus dikejar, dan melarikan diri lagi ke Jimbaran. Diketahui berada di Jimbaran I Gusti Ngurah Rai dicari lagi ke Jimbaran, akhirnya melarikan diri menyeberangi Selat Lombok menuju daerah Lombok. Di Lombok I Gusti Ngurah Rai mengabdi kepada Raja Lombok. Beliau suka mebotoh / berjudi dan karena kesaktiannya beliau disayangi oleh Raja Lombok.

Lama-kelamaan beliau bosan  tinggal di Lombok, dan ingin kembali lagi ke Bali. Raja Lombok memberikan bhisama kepada
I Gusti Ngurah Rai, bahwa bila ingin kembali ke Bali supaya menemui keluarganya yang berada di Karangasem. Bosan di Karangasem I Gusti Ngurah Rai melanjutkan ke arah barat menuju Gianyar.  I Gusti Ngurah Rai terus berpindah-pindah oleh sebab beliau senang berjudi / memotoh.

Diceritakan Raja Gianyar ingin menjadikan I Gusti Ngurah Rai abdinya untuk selamanya. Demikian pula I Gusti Ngurah Rai ingin kembali ke Puri Satria Badung. Akhirnya keluarlah bhisama Raja Gianyar, ‘Bila I Gusti Ngurah Rai dapat mengalahkan jangkrik milik raja, maka raja siap membantu I Gusti Ngurah Rai kembali ke Satria Badung. Dan sebaliknya bila jangkrik milik I Gusti Ngurah Rai kalah, harus siap mengabdi selama hayatnya di Gianyar’. Bhisama ini diterima oleh I Gusti Ngurah Rai.

I Gusti Ngurah Rai kemudian menghadap kepada Ida Pedanda Made Ngenjung di Sanur guna memohon petunjuk dalam menghadapi Raja Gianyar. Sesampai di Sanur Ida Pedanda Made Ngenjung memberikan saran supaya I Gusti Ngurah Rai melakukan tapa semadi untuk memohon petunjuk kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa. Bila sudah saatnya tiba di pagi hari apa pun yang jatuh dari atas, I Gusti Ngurah Rai patut memungutnya dan langsung memasukkan kedalam kantong jangkrik / bungbung. Waktu dini hari menjelang pagi setelah melakukan surya sewana, maka jatuhlah bunga kamboja / jepun. I Gusti Ngurah Rai langsung memungut dan memasukkannya ke dalam bungbung, tiba-tiba berubahlah bunga jepun itu menjadi seekor jangkrik. Jangkrik itu tak lain adalah duwe Ida Bhatara di Sanur. Sedangkan jangkrik Raja Gianyar adalah duwe  Ida Bhatara di Dalem Peed Nusa Penida.

Tak lama diceritakan sampailah I Gusti Ngurah Rai di Gianyar, namun beliau kesiangan sampainya karena harus berjalan dari Sanur ke Gianyar. Raja Gianyar telah siap lebih dahulu menunggu kedatangan I Gusti Ngurah Rai dengan panjak dan para pengikutnya. Kemudian bersoraklah para penonton begitu melihat
I Gusti Ngurah Rai telah datang. Tidak diceritakan serunya pertarungan jangkrik itu, akhirnya jangkrik milik Raja Gianyar kalah. Raja Gianyar menepati janjinya membantu I Gusti Ngurah Rai kembali ke Satria Badung.

Kembali I Gusti Ngurah Rai menghadap Ida Pedanda Made Ngenjung untuk memohon petunjuk dalam usahanya membalas dendam kepada Cokorda Sakti Jambe di Puri Satria. Ida Pedanda Made Ngenjung menyarankan agar I Gusti Ngurah Rai menghadap
I Gusti Ngurah Made di Puri Pemecutan Kaleran guna mencari tanggapan bila ia menyerang Satria. Raja Pemecutan berjanji akan membantu penyerangan itu. Setelah dicapai kata sepakat, I Gusti Ngurah Rai kembali ke Sanur menghadap Ida Pedanda Made Ngenjung melaporkan kesepakatan penyerangan ke Puri Satria. Ida Pedanda Made Ngenjung dan Ida Pedanda Wayahan Meranggi membuka busana pandita dan siap membantu penyerangan dari arah timur.

Ida Pedanda Made Ngenjung dan Ida Pedanda Wayahan Meranggi beserta laskar I Gusti Ngurah Rai tiba di Desa Kesiman. Beliau dihadang oleh Mangku Dalem Kesiman yang bela pati kepada Raja Satria. Mangku Dalem Kesiman adalah seorang yang sangat sakti, beliau adalah andalan / tabeng dada dari Cokorda Sakti Jambe di Puri Satria. I Gusti Ngurah Rai bersama laskar bantuan Raja Gianyar menyerang Pemangku Dalem Kesiman lewat Batubulan namun laskar bantuan Gianyar dapat dikalahkan oleh Mangku Dalem Kesiman. Pertempuran berlanjut antara Mangku Dalem Kesiman dengan Ida Pedanda Made Ngenjung dan Ida Pedanda Wayahan Meranggi. Perut Mangku Dalem Kesiman dapat  ditumbak oleh Ida Pedanda berdua. Merasa perutnya terluka, Mangku Dalem Kesiman mengeluarkan ususnya kemudian melilitkan ke lehernya dan siap menyerang kembali. Karena sangat parah keadaannya, maka Ida Pedanda Made Ngenjung berucap “adik mari tinggalkan Mangku Dalem Kesiman, janganlah dihadapi lagi karena akan membuang tenaga saja. Mangku Dalem Kesiman sudah tidak berdaya dan sebentar lagi akan mati”. Selanjutnya Ida Pedanda Made Ngenjung dan Ida Pedanda Wayahan Meranggi meninggalkan tempat peperangan menuju Puri Satria Badung. Mangku Kesiman rebah dan menemui ajal sepeninggal Ida Pedanda.

Diceritakan laskar Ida Pedanda Made Ngenjung dan Ida Pedanda Wayahan Meranggi sampai di Puri Satria. Perang antara laskar I Ngusti Ngurah Made melawan laskar Cokorda Sakti Jambe yang dipimpin oleh patihnya masih berkecamuk.  Laskar Sanur yang dipimpin oleh beliau berdua langsung turun ke medan perang membantu laskar I Gusti Ngurah Made. Dalam pertempuran sengit tersebut laskar Cokorda Sakti Jambe kalah, sisanya yang masih hidup melarikan diri.

Setelah perang selesai  I Gusti Ngurah Made, Pedanda Made Ngenjung, Pedanda Wayan Meranggi dan I Gusti Ngurah Rai yang berada di tempat itu, masuk ke istana. Semua pintu gerbang sudah tertutup dan dikunci dari dalam. Ida Pedanda Made Ngenjung memerintahkan dua laskarnya memanjat tembok untuk membuka pintu gerbang dari dalam. Tetapi baru menginjakkan kaki di dalam istana sudah dihadang oleh Raja Jambe yang duduk di sebuah batu ceper (lempeh) hitam dengan seekor anjing hitam yang sangat besar di sebelah kanannya. Dengan sangat terkejut beliau berkata keras kepada kedua orang tersebut, “Siapa engkau berdua, berani masuk kedalam keraton tanpa seijinku?”. Kedua laskar itu menjawab, “Kami laskar dari Sanur yang berani beradu jurit dengan paduka”. Cokorda Sakti Jambe sangat berang dan berkata lagi, “Aku tidak pernah ada masalah dengan Sanur, mengapa Sanur turut campur dalam perang ini. Kalau demikian kehendakmu terimalah kutukku ini….”. Sambil mencabut sarung kerisnya dan melemparkan kepada kedua laskar itu, kena tepat dibibirnya sampai bengor. Cokorda Sakti Jambe mengutuk dengan berkata jah tah smat, “Moga-moga sampai tujuh keturunanmu bengor”. Sampai sekarang keturunan itu menjadi bibirnya miring (bengor) dan diberi nama I Bengor. Begitu pintu gerbang terbuka Ida Pedanda Made Ngenjung, Ida Pedanda Wayahan Meranggi, I Gusti Ngurah Made dan I Gusti Ngurah Rai beserta beberapa orang laskar menyerbu ke istana bersama-sama menangkap Cokorda Sakti Jambe. Beliau diusung menemui Cokorda Made di Jero Kuta. I Gusti Ngurah Rai melampiaskan dendamnya dengan membunuh Cokorda Sakti Jambe dan menyerahkan jenasah beliau kepada Cokorda Made. Setelah peristiwa itu rombongan menuju ke selatan dan beristirahat di Puri Pemecutan Kaleran (Kaleran Kawan). Sambil beristirahat matur I Gusti Ngurah Made kepada Ida Pedanda Made Ngenjung dan Ida Pedanda Wayahan Meranggi. Apa yang harus kami perbuat sekarang setelah kita memenangkan perang, begitu pula Cokorda Sakti Jambe telah wafat. Berkatalah Ida Pedanda Made Ngenjung kepada I Gusti Ngurah Made dan I Gusti Ngurah Rai. “Hai Ngurah berdua karena sudah demikian keadaannya, saya minta agar Ngurah Made madeg menjadi Raja untuk menggantikan Cokorda Sakti Jambe dan bangunlah istana Kerajaan  di sebelah timur Kali Badung dengan sebutan Kerajaan Denpasar, bergelar Cokorda Denpasar, sedangkan Ngurah Rai kembali ke Puri Pemecutan Kaleran”.  Selesai Ida Pedanda Made Ngenjung menyampaikan bhisama kepada I Gusti Ngurah Made dan I Gusti Ngurah Rai, berangkatlah beliau dengan Ida Pedanda Wayahan Meranggi beserta laskar kembali ke Sanur.

Tiba di desa Tanjung Bungkak beliau dihadang oleh I Gusti Ngurah Abian Timbul dari desa Intaran beserta laskar dengan senjata terhunus, siap bertempur. Berkatalah Ida Pedanda Made Ngenjung kepada I Gusti Ngurah Abian Timbul. “Hai Bapa hendak pergi kemana dengan senjata terhunus ?”. “Ratu Pedanda berdua, kami mau pergi ke Puri Satria karena kami mendengar kabar bahwa Cokorda Sakti Jambe diserang oleh I Gusti Ngurah Made dan
I Gusti Ngurah Rai dari Puri Pemecutan Kaleran”.
Kemudian dijawab oleh Ida Pedanda, bahwa berita itu memang benar. Dimana kami dengan laskar telah ikut bersama-sama I Gusti Ngurah Made dan I Gusti Ngurah Rai dalam penyerangan itu. Sekarang Cokorda Sakti Jambe telah wafat.  Oleh karena itu keadaannya, sebaiknya kita kembali ke Sanur bersama-sama. Yang selanjutnya ajakan tersebut disetujui oleh I Gusti Ngurah Abian Timbul serta kedua rombongan itu kembali ke Puri dan Grhya masing-masing.

Pada tahun 1789, setelah mapan menjabat sebagai raja di Puri Denpasar, I Gusti Ngurah Made sebagai Cokorda Denpasar, turunlah bisama beliau bahwa : Ida Pedanda Made Ngenjung diberi kekuasaan Ngambeng di sebelah timur Bantas (Setra Bantas) garis lurus utara / selatan. Karena perubahan status fungsi beliau dari pendeta (pedanda) menjadi penguasa (Raja) maka berubahlah sebutan Grhya Gede menjadi Jero Gede Sanur dan sampai sekarang sebutan itu dipadukan menjadi Grhya Jero Gede Sanur. Sedangkan Pedanda Wayahan meranggi di berikan kedudukan menjadi penguasa di Desa Sumerta dan pindah membangun Grhya di sana (di Abian Kapas) dengan sebutan Grhya Meranggi, sampai sekarang.

Diceritakan keturunan lurus Pedanda Made Ngenjung yang ada sekarang di Grhya / Jero Gede Sanur. Ida Pedanda Made Ngenjung berputra Ida Pedanda Ngenjung Putra – berputra Ida Pedanda Gede Ngenjung – berputra Ida Pedanda Ngurah (wafat di segara) – berputra Ida Bagus Ngurah (pernah menjabat Punggawa) – berputra Ida Bagus Anom Ngurah – berputra 3 orang : 1. Ida Bagus Oka Natha, 2. Ida Bagus Gede (almarhum), 3. Ida Bagus Tjethana Putra, bertiga inilah sekarang yang berada tinggal di Grhya / Jero Gede Sanur.

Selanjutnya sentana-pratisentana tusning Bhatara Sinuhun, berikut keluarga besar beliau baik dari warih langsung berdasarkan pamancangah yang ada maupun dari keluarga pewarangan (kerabat) dan braya, warga-wargi,  ada yang menetap di Sanur dan ada pula yang pindah ke desa-desa lain di seluruh Bali, diantaranya :

 

Grhya-Grhya yang berada di Sanur :

Grhya Timbul Puseh, Grhya Kaleran, Grhya Manesa, Grhya Oka, Grhya Mecutan, Grhya Nagi, Grhya Jambe, Grhya Kanginan, Grhya Jumpung, Grhya Wanasari, Grhya Sari, Grhya Mawang, Grhya Intaran, Grhya Simpar, Grhya Bun, Grhya Bangun, Grhya Sibang, Grhya Gulingan, Grhya Glogor, Grhya Telaga, Grhya Timbul Anggarkasih, Grhya Bangli, Grhya Kaler, Grhya Gelgel, Grhya Perasi, Grhya Bangun Sindhu, Grhya Simpar Sindhu.

 Yang berada di kawasan Renon adalah Grhya Telaga Renon.

Grhya-Grhya yang berada di kawasan Kesiman :

Grhya Tegal Jinga ‘Bajing’ Kesiman, Grhya Tegal Jinga ‘Bajing’ Lebah, Grhya Meranggi Abian Kapas, Grhya Meranggi Lebah, Grhya Bangun Briyung, Grhya Timbul Kesiman, Grhya Gede Bindu, Grhya Tegeh Bindu, Grhya Tegeh Ngenjung, Grhya Ambengan Bindu, Grhya Natih, Grhya Panasan Bindu, Grhya Piadnya Bindu, Grhya Tegal Bindu, Grhya Pelaci Bindu, Grhya Tengah Bindu, Grhya Karang Bindu, Grhya Pacung Bindu, Grhya Abian Nangka.

Grhya-Grhya yang berada di Denpasar :

Grhya Karang Kluwi Tampakgangsul, Grhya Wangaya Kelod, Grhya Keniten Taensiat, Grhya Timbul Belaluan Kaja dan Grhya Timbul Belaluan Kelod, Grhya Telaga Telabah, Grhya Telaga Tegal, Grhya Telaga Beji Tegal, Grhya Telaga Sari Tegal, Grhya Telaga Carik Tegal, Grhya Telaga Bangket Yangbatu, Grhya Telaga Sidakarya, Grhya Telaga Gemeh, Grhya Telaga Penyobekan, Grhya Braban, Grhya Pemedilan, Grhya Padangsumbu, Grhya Penyaitan, Grhya Tegal Linggah.

Grhya-Grhya di kawasan Kuta :

Grhya Telaga Dalem Kerobokan, Grhya Telaga Tawang Kerobokan, Grhya Tuban.

Grhya-Grhya di daerah Petang dan Abiansemal :

Grhya Telaga Carangsari, Grhya Wanasari Pangsan, Grhya Dalem Sibang, Grhya Bun Sibang, Grhya Angantaka, Grhya Sigaran.

Grhya-Grhya di Gianyar :

Grhya Gede Ketewel, Grhya Rangkan Ketewel, Grhya Bun Batuan, Grhya Pacung Batuan, Grhya Selat Celuk Sukawati, Grhya Tegal Suci Pejeng, Grhya Tegal Sumampan, Grhya Bajing Belahbatuh, Grhya Taman Serongga, Grhya Angkatan Serongga, Grhya Bun Serongga, Grhya Siangan, Grhya Kerurak, Grhya Senggwan Baler Puri, Grhya Sanur Pejeng, Grhya Panyembahan, Grhya Kabetan, Grhya Jukut Paku, Grhya Madawa, Grhya Yang Api.

Grhya-Grhya di daerah Bangli:

Grhya Sama, Grhya Kelempung, Grhya Sanur Br. Pande, Grhya Paninjoan.

Grhya-Grhya di daerah Klungkung :

Grhya Karang Satrya, Grhya Tembau Aan, Grhya Tegal Wangi, Grhya Bakas, Grhya Intaran Tihingan, Grhya Intaran Koripan, Grhya Intaran Getakan, Grhya Telaga Banjarangkan.

Grhya-Grhya di Karangasem :

Grhya Gede Duda Selat, Grhya Sanur Laya Omba Duda, Grhya Sanur Bebandem, Grhya Ngenjung Bongaya, Grhya Keniten Manggis.

Grhya di Tabanan : Grhya Sanur Belayu.

Grhya-Grhya di Jembrana : Grhya Sanur Yeh Embang, Grhya Putra Dalem Ekasari Malaya.

Grhya di Lombok Barat : Grhya Pagesangan, Grhya Ngenjung, Grhya Suweta Kawan.

 

Para prati sentana yang masih setia seperti :

Soroh Tangkas Sekeh / Tuban (turunan Pekak Kacong), Soroh Tangkas Bualu, Soroh Tangkas Tengkulung, Soroh Tangkas Tanjung Benoa, Turunan Gusti Tengkulung, (Geria), Soroh Pan Jati Kedonganan, Soroh Sawah/Pedungan, Soroh Ngenjung Penatih Kesiman, Soroh Pande Br. Panti Sanur, Wargi Seblanga Abiantimbul Badung, Soroh Ngenjung Renon, Soroh Kandel Renon, Wargi Mangku Puseh Renon, Wargi Pasek Renon, Soroh Abyan Br. Gulingan Sanur, Soroh Panti Br. Taman Sanur, Soroh Minggir Br. Kelandis, Wargi Bandesa Singgi / Langon, Wargi Wirasana Tangkas Br. Wirasana, Soroh Jero Agung Br. Singgi, Turunan I Goplong Serangan, Turunan I Bakti Penatih Serangan, Turunan I Rabeng Serangan, Turunan I Roto Semawang, Turunan I Resek Mangku Br. Panti, Jro Gde Penestanan Ubud, Warga Mangku Gede Sanur Kesiman, Soroh Belong Abianangka Kesiman, Soroh Mamoran, Soroh Kalah Br. Singgi, Soroh Meranggi Br. Singgi, Soroh Tangkeban Langon, Soroh Selat Langon, Soroh Tameng Langon. Wargi Br. Batan Poh, Wargi Belong, Wargi Pekandelan, Wargi Pemamoran, Wargi Tangtu, Wargi Pejeng.

Para Santanan Bhatara, braya warga-wargi yang bertempat tinggal di Sanur sudah melaksanakan upacara pada saat Tilem Kajeng di Pura Dalem Kadewatan Sanur, menurut banjar masing-masing seperti :

Banjar Batanpoh, Banjar Pekandelan, Banjar Belong, Banjar Adat Tegal Asah, Banjar Adat Wirasana, Tempekan Banjar Adat Tangtu, Tempekan Banjar Adat Langon, Tempekan Br. Anggar Kasih dan Tempekan Br. Tegeh Selang.

Dengan demikian, ada dua cikal bakal Brahmana Keniten (Wangsa Wetan) yang diturunkan oleh Bhatara Empu Dhangyang Dwijendra, seperti warih Sanur yang merupakan sentanan dari Ida Pedanda Sakti Telaga Ender dan warih Batulepang dari Sinuhun Ida Pedanda Telaga Tawang yang bertempat tinggal di Kamasan.

Setelah memiliki Grhya, masing-masing diberikan tugas untuk bertanggung jawab pada masing-masing parhyangan dibantu oleh braya dan kulawarga, seperti yang diwarisi sampai sekarang yaitu : Pura Kentel Gumi menjadi tanggung jawab Grhya Jumpung, beserta panjak braya Banjar Tangtu. Pura Padang Sakti menjadi tanggung jawab Grhya Simpar beserta Banjar Tangtu. Pura Kembar menjadi tanggung jawab Grhya Tambau, oleh karena pindah ke Desa Aan Klungkung maka pura tersebut diambil alih oleh Grhya Wanasari, dan menjadi tanggung jawab bersama dengan Grhya Telaga Anggarkasih dan Pamaksan Pura Kembar. Pura Tanggun Swan menjadi tanggung jawab turunan Pekak Sabang. Pura Segara menjadi tanggung jawab Pamaksan Segara. Pura Dalem Mangening menjadi tanggung jawab Pamaksan Pura Belatri. Pura Dalem Kadewatan dan Pura Tanjung Sari Santrian menjadi tanggung jawab Grhya Jero Gede Sanur, juga dibantu oleh Pamaksan dan braya. Pura Puseh, Desa Bale Agung, Pura Dalem Kahyangan Ksetra, Pura Merajapatidan Pura Pamuwunan (Tunon), menjadi tanggung jawab Desa Adat (Pekraman) Sanur. Pura Baturmenjadi tanggung jawab Grhya Oka, Grhya Mecutan dan Pamaksan. Pura Rambut Siwi menjadi tanggung jawab Grhya Intaran. Pura Kembengan (Pengubengan) dan Pura Tegal Penangsaran menjadi tanggung jawab Grhya Jumpung, namun sekarang dibantu oleh Pewaris Mangku Kembengan.

Palinggih yang didirikan oleh Bhatara yang merupakan kesahan dari Puri Ksatrya bernama Santrian, bertempat di sebuah tanjung yang dulunya merupakan tempat peristirahatan Bhatara Empu Bharadah (1007 M) dari Jawa, yang akan mengunjungi kakak beliau Ida Empu Danghyang Kuturan di Silayukti. Sebagai tanda tempat Ida Bhatara Empu Bharadah memuja Bhatara Tohlangkir di Puncak Gunung Agung, diberi nama Tanjung Sari.

Walaupun Bhatara Leluhur tidak henti-henti melaksanakan Yadnya seperti Panca Yadnya, bakti kepada Sanghyang Widhi dan Bhatara Kawitan, berpedoman pada tattwa seperti Panca Sraddha, menciptakan Jagadhita, dan selalu membela kebenaran, tetapi tidak luput dari beberapa permasalahan yang datang dari kapal Sri Komala, sehingga Kerajaan Badung melaksanakan perang puputan, pada Wrespati Keliwon wara Ukir, tanggal masehi 20 September 1906 melawan Belanda.

Setelah kalah, dan dijajah oleh Bangsa Belanda, keturunan Ida Bhatara Sinuhun Leluhur masih bersatu mempertahankan keberadaan Sanur. Hingga pada tahun 1917 M terjadi bencana gempa bumi yang merusak bangunan-bangunan besar.

Pada saat itu Bhatara Leluhur beserta kulawarga, santana, braya, wargi, sameton panyungsung sapakraman Desa Adat (Pekraman) Sanur kembali membangun palinggih-palinggih Parhyangan, selanjutnya membangun Kori Agung (1931 M), Bale Agung yang berpedoman pada Asta Bumi Asta Kosala-Kosali, hingga melaksanakan Karya Ngenteg Linggih di Pura Dalem dan Pura Puseh (1937 M).

Demikianlah perjalanan Bhatara Sinuhun berikut tempat-tempat suci yang telah Beliau dirikan dan kita warisi sampai saat ini sebagai PARAMA DHARMA BHATARA IDA PEDANDA (ANOM) BANDESA dan Keturunannya, yang sangat perlu untuk diyakini, dihayati dan dilaksanakan sebagai sebuah persembahan kepada leluhur untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan antara Keluarga Besar (semeton), braya, warga-wargi dalam rangka menyelenggarakan Karya Agung Memungkah Dan Ngenteg Linggih di Pemerajan Agung Grhya Jero Gede Sanur (2003).

Leave a comment

Filed under Articles

Babad Dhangyang Nirartha dan Keturunannya di Sanur Bali

I PARAMA DHARMA DANGHYANG NIRARTHA

          Untuk membuka lembaran Riwayat Hidup Danghyang Dwijendera dan keturunannya, terlebih dahulu saya menghaturkan pangastuti dengan terjemahan dari Dwijendra Stawa dengan tembang Kidung Demung Wilis :

Ya Tuhan, ampunilah kami, semoga tidak tertimpa kutuk dan kualat, karena kami kini memuja Dhanghyang Dwijendra yang merupakan guru suci, yang menganugerahkan ajaran ilmu pengetahuan suci, Ajaran Ketuhanan Hindu di Bali berupa weda – mantra – nyanyian-nyanyian suci – tingkah laku – peradaban hidup, dengan lima yadnyanya, antara lain Dewa Yadnya, yang selalu membuat ketentraman rasa bathin, selamat sentosanya jiwa kami, semoga berhasillah cita-cita kami, Negara kami selamat sejahtera untuk diselenggarakan …

DAHA

Kisah ini dimulai dari seorang keturunan brahmana (Brahmana wangsa) bernama Nirartha adik dari Dhanghyang Angsoka, putra dari Dhanghyang Asmaranatha. Ketika Sang Nirartha sedang muda jejaka beliau mengambil istri, di Daha, putri dari Danghyang Panawaran yaitu golongan keturunan Bregu di Grhya Mas Daha bernama Ida Istri Mas.

Setelah bersuami istri, Sang Nirartha dilantik (diniksan) oleh Danghyang Panawaran menjadi pendeta (Brahmana janma) diberi gelar Danghyang Nirartha. Dari perkawinan ini Danghyang Nirartha mendapat 2 orang putra, yang sulung putri diberi nama Ida Ayu Swabhawa alias Hyangning Salaga (yang berarti Dewanya kuncup bunga melur) sebagai nama sanjungan karena cantik jelita rupa dan perawakannya serta pula ahli tentang ajaran bathin. Adiknya seorang putra diberi nama Ida Kulwan (artinya kawuh / barat) dan diberi nama sanjungan Wiraga Sandhi yang berarti kuntum bunga gambir, karena tampan dan gagah perawakannya.

PASURUAN

Sementara itu kehidupan masyarakat di Jawa sangat kacau. Di sana-sini terjadi perkelahian dan pertempuran, penumpasan-penumpasan yang sangat mengerikan dan menyedihkan antara orang-orang Jawa yang telah masuk Agama Islam dengan orang-orang Jawa yang masih taat mempertahankan agama lamanya, (sesungguhnya agama lama yaitu agama warisan leluhurnya dengan agama baru yaitu Agama Islam sama saja hakekat tujuannya. Yang berbeda ialah cara-caranya, bahasa yang dipergunakan dan upakara, upacaranya, serta tata tertib pergaulan hidupnya). Akhirnya “kalah” agama lama oleh Agama Islam. Orang-orang Jawa yang masih taat pada agama lamanya, agama yang diwariskan oleh leluhurnya, terutama orang-orang Majapahit, banyak pindah diantaranya ada yang ke Pasuruan, ke pegunungan Tengger, ke Brambangan (Banyuwangi) dan ada yang menyeberang ke Bali. Ketika itulah Danghyang Nirartha turut pindah dari Daha ke Pasuruan disertai dua orang putra-putrinya, sedang istrinya tidak disebutkan turut ke Pasuruan.

Setelah berselang beberapa tahun lamanya di Pasuruan, Danghyang Nirartha mengambil istri pula, yaitu seorang wanita yang terhitung saudara sepupu olehnya, putri Danghyang Panawasikan bernama Ida Istri Pasuruan, dengan nama sanjungan disebut Diah Sanggawati (seorang wanita yang sangat menarik dalam pertemuan) karena cantiknya. Perkawinan ini menghasilkan
2 orang putra laki-laki, yang sulung diberi nama Ida Wayahan Lor atau Manuaba. Manuaba (mulanya Manukabha) berarti burung yang sangat indah karena tampan dan indah raut roman muka dan bentuk raganya. Adiknya bernama Ida Wiyatan atau Ida Wetan berarti fajar menyingsing.

BRAMBANGAN (BANYUWANGI)

Kemudian Danghyang Nirartha pindah dari Pasuruan ke Brambangan (Banyuwangi) disertai oleh 4 orang putra-putrinya namun istrinya tidak disebutkan turut. Tiada beberapa lama antaranya Danghyang Nirartha mengambil istri di sana yaitu adik dari Sri Aji Juru raja Brambangan bernama Sri Patni Kaniten yang sungguh-sungguh cantik molek rupanya sehingga terkenal dengan sebutan “jempyaning ulangun” yaitu sebagai obat penawar jampi orang yang kena penyakit birahi asmara. Beliau itu turunan raja-raja (Dalem) dan turunan brahmana, terhitung buyut dari Danghyang Kresna Kapakisan di Majapahit, putri dari raja Brambangan kedua. Adik dari raja Brambangan ketiga yang menjadi raja ketika itu, tegasnya bersaudara kumpi sepupu Danghyang Nirartha kepada Sri Patni Kaniten. Perkawinan ini menghasilkan 3 orang anak: seorang putri dan 2 orang putra. Yang sulung seorang putri bernama Ida Rahi Istri rupanya cantik dan pandai tentang ilmu kebatinan. Yang kedua bernama Ida Putu Wetan atau Telaga atau disebut juga Ida Ender (yang berarti ugal-ugalan), terkenal kepandainya, kesaktiannya dan ahli ilmu gaib, banyak tulisan buah tangannya. Yang bungsu bernama Ida Nyoman Kaniten (yang berarti tenang / bagaikan tenangnya air).

MPULAKI / DALEM MELANTING

Setelah beberapa tahun lamanya Danghyang Nirartha bertempat tinggal di Brambangan, maka terjadi suatu hal yang menyebabkan tidak baik hubungan Danghyang Nirartha terhadap raja Sri Aji Juru, karena raja mengandung benci dan murka kepada Empu Danghyang. Empu Danghyang didakwa oleh raja memasang guna-guna disebabkan oleh keringat Empu Danghyang Nirartha harum sebagai minyak mawar. Tiap-tiap orang duduk berdekatan dengan beliau turut harum tanpa memakai minyak wangi. Adik wanita Sri Dalem Juru mengandung cinta birahi kepada Empu Danghyang. Sebab itu Danghyang Nirartha berusaha pindah dari Brambangan, hendak menyeberang ke Bali bersama 7 orang putra-putrinya dan istrinya Sri Patni Kaniten.

Pada suatu hari menyeberanglah sang pendeta bersama anak istrinya mengarungi laut selat Bali yang disebut Segara Rupek. Sang pendeta sendiri waktu menyeberang mempergunakan sebuah labu pahit (waluh pait) bekas kele kepunyaan orang desa Mejaya, dan kaki tangannya dipergunakan sebagai dayung dan kemudi. Penyeberangan selamat tidak mendapat rintangan suatu apa. Danghyang Nirartha seorang pendeta yang tajam perasaan intuisinya itu mengerti bahwa penyeberangannya itu selamat atas bantuan sebuah waluh pahit dan kekuasaan Tuhan. Sebab itu beliau bersumpah dalam lautan tidak akan mengganggu hidupnya waluh pahit seumur hidupnya sampai pada turunan-turunannya. Adapun anak istrinya menyeberang menumpang jukung (perahu) bocor yang disumbat dengan daun waluh pahit, juga kepunyaan orang desa Mejaya.

Tiada berapa lama antaranya karena mendapat tiupan angin barat yang baik, maka tibalah di pantai pulau Bali Barat. Sang pendeta telah sampai lebih dahulu, menantikan anak istrinya sambil menggembala sapi. Di tempat itu lambat laun dibangun sebuah pura kecil lalu dinamai Purancak. Atas petunjuk orang-orang gembala itu, sang pendeta bersama anak istrinya berangkat berjalan kearah timur memasuki hutan belukar. Di tengah perjalanan, rombongan sang pendeta agak ragu-ragu. Jalan kecil (selisikan - bhs. Bali) mana harus dituruti, karena banyak cabang-cabangnya. Tiba-tiba muncul seekor kera di tengah jalan. Ia berjalan lebih dahulu sambil bersuara grok-grok seraya melompat-lompat di atas dahan-dahan pohon seperti menunjukkan jalan.

Sang pendeta berkata kepada kera itu : “Hai kera, semoga turun-turunanku kelak tidak boleh menyakiti kera dengan dalih memelihara”, demikian pastu beliau terus berjalan arah ke timur.

Tiba-tiba bertemu dengan seekor naga yang besar terbuka mulutnya sangat lebar dengan rupa dan bentuk yang dahsyat mengerikan. Putra-putri dan istrinya terperanjat hebat, nyaris lari cepat-cepat, namun sang pendeta dengan wajah yang tenang masuk ke dalam mulut naga itu. Setibanya di dalam perut naga itu dijumpainya sebuah telaga yang berisi bunga tunjung (teratai) tiga warna yaitu tunjung yang di pinggir timur berwarna putih, yang dipinggir selatan merah, yang dipinggir utara hitam. Ketiga kuntum tunjung itu dipetik oleh sang pendeta, yang merah disuntingkan di atas telinga kanan, yang hitam di atas telinga kiri, yang putih dipegang dengan tangannya, lalu ke luar dari perut naga itu seraya mengucapkan weda mantra “Ayu Werddhi”. Naga itu musnah dengan tidak meninggalkan bekas. Rupa sang pendeta terlihat oleh putra-putri dan istrinya berwarna merah dan hitam, kemudian berubah berwarna emas. Melihat keadaan yang demikian, maka putra-putri dan istrinya diserang oleh perasaan takut yang amat dahsyat, sehingga tidak dapat menahan dirinya, lalu lari tunggang-langgang masuk ke dalam hutan tidak tentu tujuannya, masing-masing membawa dirinya sendiri.

Danghyang Nirartha setelah tiba di luar tercengang terperanjat karena anak istrinya tidak ada lagi. Dengan perasaan yang sangat cemas sang pendeta tergopoh-gopoh mencarinya ke dalam hutan belukar yang rapat dengan tumbuh-tumbuhannya, tambahan pula hari telah mulai menggelap. Untung tidak jauh dari tempatnya semula didapati istrinya seorang diri duduk bersimpuh terengah-engah dalam kepayahan, pucat-lesi, lesu-letih tidak dapat berjalan lagi.

Wahai Ketut,” kata sang pendeta kepada istrinya, “Kemana larinya anak-anak kita?”. Jawab istrinya, “Ampun sang pendeta dinda tidak mengetahui ke mana larinya anak-anak kita, karena mereka lari tak berketentuan dan…,terpencar masing-masing dengan kehendaknya sendiri-sendiri….. Dinda tidak dapat mengikutinya karena lesu kepayahan….”

Sang pendeta merasa cemas dan ada pula getaran perasaan yang tidak enak menyelinap dalam hatinya yang seakan-akan membisikkan ada sesuatu bahaya menimpa salah seorang putrinya.

Setelah istrinya reda sedikit payahnya, lalu bangun bersama sang pendeta berjalan perlahan-lahan mencari dan mengumpulkan putra-putrinya di dalam hutan yang gelap diselimuti malam itu. Semalam-malam itu sang pendeta terus berjalan bersama istrinya sambil memanggil-manggil nama putra-putrinya itu. Karena suara panggilan itu maka lama kelamaan dapat dikumpulkan putra-putrinya seorang demi seorang dan akhirnya kurang lagi seorang, yaitu putrinya yang tertua, Ida Ayu Swabhawa belum ditemukannya. Empu Danghyang disertai oleh anak istrinya terus mencari Ida Ayu Swabhawa sambil memanggil-manggil namanya. Setelah lama dicari, ditemuinya telah berbadan halus (badan astral) tampak rupanya pucat pasi.

Ditanyai oleh Empu Danghyang, katanya, “Apa sebabnya anakku sayang lari sejauh ini?”. Jawab Ida Ayu Swabhawa, “Ampunilah Empu Danghyang, …sebabnya hamba lari sejauh ini, karena diserang oleh rasa takut yang sangat hebat …tatkala melihat rupa ayahanda ketika baru keluar dari mulut naga,….sebentar merah sebentar hitam rupa dan badan jasmani ayahanda. Hamba lari terus dibuntuti dan dikejar oleh rasa takut itu, sehingga lari hamba….kian lama kian cepat menghabiskan tenaga….sampai ke luar hutan, memasuki daerah desa, lalu …, ” baru sampai sekian katanya lalu terdiam, wajah mukanya tampak sedih pedih kemudian berkata lagi : “Empu Danghyang,…hamba malu hidup sebagai manusia lagi…karena merasa cemar diri,…penuh dosa. Kasihanilah hamba, ajarilah sungguh-sungguh….supaya hamba bersih dari dosa, tidak dilihat orang. Bisa menjadi dewa di sorga, tidak lagi menjadi manusia….,” demikian katanya.

Danghyang Nirartha terharu hatinya mendengarkan, kasihan kepada putrinya dan murka kepada orang-orang desa (Pegametan).

Katanya : “Jangan khawatir anakku, ayah sedia mengajar anakku suatu ilmu rahasia, agar anakku terlepas dari segala dosa dan dapat duduk sebagai dewa”, demikian katanya.

Lalu Ida Ayu Swabhawa diajar suatu ilmu rahasia kaparamarthan yang berkuasa melepaskan segala dosa. Setelah selesai ajarannya maka Ida Ayu Swabhawa menggaib, suci dari dosa, menjadi dewa, disebut Bhatari (Dewi) Melanting, yang akan menjadi junjungan persembahan orang-orang desa di sana. Adapun ketika sang pendeta mengajar ilmu rahasia kepada putrinya, didengar pula oleh seekor cacing kalung (?) maka dengan tiba-tiba musnah (supat) papa dosanya, lalu menjelma menjadi seorang wanita yang memohon agar diperkenankan menghamba kepada Empu Danghyang dengan menyembah kakinya sang pendeta dan mengajukan permohonan tersebut, sebagai pembalasan jasa beliau memusnahkan papanya kembali menjadi manusia. Sang pendeta menerima permohonannya, lalu diberi nama Ni Brit.

Ketika itu istri sang pendeta Sri Patni Kaniten yang telah diberi gelar Empu Istri Ketut, dalam keadaan payah berdatang sembah kepada sang pendeta.

Katanya, “Empu Danghyang, dinda tidak kuasa berjalan lagi, rasanya ajal dinda akan datang, ijinkanlah dinda turut sampai di sini dan ajarilah juga dinda ilmu yang diberikan kepada anaknda Ni Ayu Swabhawa, agar dinda terlepas dari segala dosa kembali menjadi dewa”. Jawab sang pendeta. “Baiklah adikku, diam di sini saja bersama-sama dengan putri kita Ni Swabhawa. Ia sudah suci menjadi Bhatari Dalem Melanting dan adinda boleh menjadi Bhatari Dalem Ketut yang akan dijunjung disembah oleh orang-orang di sini di desa bersama orang-orangnya yang ada di sini yang akan kanda pralinakan (hanguskan) agar tidak kelihatan oleh manusia biasa, semuanya menjadi orang halus, orang sumedang, dan daerah desa ini kemudian bernama Mpulaki”. Demikian kata sang pendeta.

Setelah mengajarkan ilmu rahasia kepada istrinya maka Empu Danghyang mengeluarkan agni rahasia (api gaib) menghanguskan seluruh desa dan penghuninya.

GADING WANGI

Kemudian Danghyang Nirartha bersama 6 orang putra-putrinya berangkat meneruskan perjalanannya ke timur, lalu tiba di sebuah desa : Gading Wangi, yang kebetulan waktu itu orang-orang desa diserang penyakit sampar (gering gerubug). Bendesa (Kepala Desa) Gading Wangi tatkala mengetahui sang pendeta datang lalu segera menjemput di tengah jalan, duduk bersila berdatang sembah lalu.

Katanya, “Empu Danghyang, kami mengucapkan selamat datang, bahwa sang pendeta telah sudi datang ke desa kami yang sedang ditimpa penyakit gerubug. Setiap hari ada saja orang-orang kami meninggal dengan mendadak. Kami mohon hurip (hidup) mohon dengan hormat sudilah kiranya Empu Danghyang memberi obat kepada kami agar yang sakit bisa sembuh dan hama penyakit bisa hilang”.

Demikian katanya seraya berlinang-linang air mata. Danghyang Nirartha terharu dan belas kasihan mendengarkannya. Seketika Ki Bendesa disuruh mengambil air bersih ditempatkan di sangku, periuk atau sibuh. Setelah diberi mantram oleh sang pendeta, lalu disuruh memercikkan kepada yang sakit dan meminumnya. Empu Danghyang dan putra-putrinya dihaturi pesanggrahan tempat beristirahat dan dipersiapkan hidangan santap-santapan dan buah-buahan. Orang yang sakit setelah diperciki dan diminumi air tirtha yang telah diberi mantram oleh sang pendeta, seketika itu bisa sembuh segar bugar.

Pada sore harinya (sandhya kala) sang pendeta memerintahkan orang-orang meletakkan ganten (kunyahan sirih) beliau itu di empat penjuru tepi desa untuk mengusir bhuta kala (hantu setan) yang membikin penyakit. Orang-orang desa yang diberi perintah menyembah segera berjalan melakukan perintah sang pendeta. Memang betul-betul sang pendeta orang yang sakti, seketika itu orang desa dapat membuktikan dan melihat bayangan bangsa bhuta kala itu lari ke dalam laut, rupanya beraneka ragam. Orang desa banyak yang turun mempersaksikan pemandangan yang ajaib itu, dan semuanya heran terhadap kesaktian sang pendeta. Mulai ketika itu beliau diberi gelar Pedanda Sakti Bahu Rawuh (pendeta sakti yang baru datang). Yang pandai bahasa Kawi (Jawa Kuno) menyebut beliau itu Danghyang Dwijendra (raja pendeta guru Agama).

Orang-orang desa semuanya riang gembira, tiap-tiap hari bergilir menghaturkan santapan kepada sang pendeta dan putra-putrinya dan membuatkan pamereman (tempat tinggal) di desa Wani Tegeh. Harapan orang-orang desa supaya sang pendeta menetap di sana, tetapi sang pendeta keberatan karena masih akan meneruskan perjalanan ke timur. Kemudian Ki Bendesa Gading Wangi mohon berguru dan mabersih (madiksa) menjadi pendeta. Sang pendeta berkenan meluluskan permohonannya agar ada orang tua pembimbing Agama di sana. Ki Bendesa diajar ilmu kebatinan dan Ketuhanan, selanjutnya dibersihi (diniksan) menjadi pendeta (Dukuh) Gading Wani. Setelah itu diberi suatu panugrahan (anugerah) dicantumkan dalam “Kidung Sebun Bangkung”. Ki Bendesa Gading Wani setelahnya dilantik menjadi pendeta (Dukuh) menghaturkan anaknya wanita yang cantik kepada Empu Danghyang Dwijendra, bernama Ni Jro Patapan sebagai pangguru Yoga, yaitu tanda bakti berguru, untuk menjadi pelayan Empu Danghyang Dwijendra dalam mengatur sesajen-sesajen bersama-sama Ni Brit. Dengan senang hati Danghyang Dwijendra menerimanya.

PURA RESI  DESA MUNDEH

Entah berapa waktu lamanya Pedanda Sakti Bahu Rawuh berasrama di desa Wani Tegeh, maka tersebarlah beritanya sampai ke desa Mas Gianyar, yaitu sanak saudaranya Ki Bendesa Gading Wani yang bertempat tinggal di Desa Mas, Gianyar dan sanak keluarganya di desa Mundeh daerah Kaba-Kaba.

Pada suatu hari Ki Pangeran Mas mengadakan persiapan pergi ke Desa Wani Tegeh atau Gading Wangi perlu menghaturi Danghyang Dwijendra supaya sudi datang ke Desa Mas. Sang Pendeta menyetujui. Pada suatu ketika berangkatlah Empu Danghyang bersama putra-putrinya dari desa Wani Tegeh hendak pergi ke Desa Mas maksudnya. Setelah tiba di desa Mundeh dijemput oleh Ki Bendesa Mundeh di tengah jalan dengan suatu maksud mohon berguru pada sang pendeta, tetapi ditolak oleh sang pendeta karena permohonannya itu dilakukan sedang ada di jalan. Tetapi oleh karena sangat khidmat baktinya Ki Bendesa menjemput beliau, maka ada juga anugrahnya, yaitu debu tapak kaki beliau ketika beliau berdiri berhenti di tempat itu, laksana suatu lingga yang harus dihormati oleh orang-orang Mundeh sampai kemudian. Ki Bendesa Mundeh amat senang hatinya menerima anugerah sang pendeta itu. Di tempat itu lambat laun dibangun sebuah pura (tempat suci) diberi nama Pura Resi atau Pura Grhya Kawitan Resi.

MANGA PURI (MANGUI)

Dari desa Mundeh sang pendeta berangkat arah ke timur laut, jalannya. Di tengah jalan berjumpa dengan sebatang sungai. Di pinggir sebelah baratnya ada sebuah mata air, airnya sangat suci dan sejuk dan di pinggir-pinggirnya terhias dengan serba bunga yang sedang mekar, menyebarkan bau harum yang menyedapkan rasa penciuman hidung. Bunga rampai yang pupus gugur dari kuntumnya menutupi tanah seakan-akan kasur tilam sari, sungguh-sungguh menggugah rasa indah nikmat mesra membatin. Sang pendeta berhenti di tempat itu, dengan tenang melakukan yoga samadhi disertai pujastuti dan japa mantra utama. Dan sekelilingnya itu disebut Mangopuri (Mangui).

 

PURA SADA

Tidak lama sang pendeta ada di sana, lalu didengar oleh Ki Bendesa Kapal turunan dari Ki Patih Wulung, tentang sang pendeta ada di Mangopuri (Mangui), maka cepat-cepat Ki Bendesa Kapal datang menghadap Empu Danghyang untuk menghaturi agar beliau singgah di sana serta menjelaskan bahwa beliau membawa surat pemberian Krian Patih Gajah Mada yang berisi perintah supaya memperbaiki pura Kahyangan yang ada di Bali, dan pada waktu itu kebetulan ada karya puja wali (odalan) di Pura Sada Kapal. Demikan isi permohonan Ki Bendesa Kapal. Sang pendeta memenuhi permohonannya dengan senang hati dan berangkat seketika itu juga.

Tiada diceritakan betapa halnya di tengah jalan, maka tibalah sang pendeta di desa Kapal, lalu masuk ke dalam pura serta duduk di balai piyasan di sebelah barat.

Sang pendeta bertanya kepada Ki Bendesa. “Kaki Arya,” panggilan beliau kepada Ki Bendesa, “Siapakah yang akan menyelesaikan karya puja wali Bhatara di Parhyangan ini?”. Jawab Ki Bendesa, “Singgih Empu Danghyang, tidak lain Empu Guto kami haturi di gunung Agung, untuk menyelesaikan upacara karya puja wali ini”. “Ki Arya”, kata sang pendeta, “Ki Guto itu adalah pelayan bapak yang disangka pendeta brahmana. Ia adalah penjelmaan gandarwa yang terkutuk dahulunya. Yang harus diselesaikan olehnya segala caru (korban) yang kecil dan untuk upacara selamatan sawah ladang, demikianlah hak wewenangnya”. Demikian kata Empu Danghyang.

Tidak lama antaranya maka datanglah rakyatnya yang diutus pergi ke Gunung Agung menghaturi Ki Guto, memikul Ki Guto dengan tandu pegayotan serta berpayung agung, langsung masuk ke dalam parhyangan Pura Sada. Demi dilihat Danghyang Dwijendra duduk di balai piyasan, maka Ki Guto cepat-cepat turun dari tandu duduk bersimpuh di hadapan sang Pendeta seraya mohon ampun tentang kesalahan tingkah lakunya.

Kata sang pendeta, “Hai kamu Guto, mulai sekarang kamu jangan menipu masyarakat umum, aku mengampuni kesalahanmu”. Demikian kata sang pendeta kepada Ki Guto, kemudian menoleh kepada Ki Bendesa. Katanya : “Kaki Arya, ketahuilah, bapak yang mengutus Ki Guto pergi ke Bali untuk menyelidiki Dalem Sri Baturenggong, telah lama tidak muncul kembali ke Jawa. Kini urungkan Ki Guto menyelesaikan puja wali Bhatara di sini. Yang patut dihadapinya ialah upacara korban (pacaruan) terutama pada waktu-waktu tileming kasanga (bulan mati pada bulan kesembilan menurut perhitungan kalender Bali yakni pada bulan Maret tahun Masehi), anangluk marana (upacara menghindarkan tanaman dari hama), mabalik sumpah di sawah ladang dan amugpug desti teluh tranjana (menghalau sebangsa ilmu hitam). Itulah wewenangnya. Jika ditugaskan untuk puja wali persembahyangan dewa di pura-pura, panas kesakitan masyarakat desa olehnya”. Demikian kata pendeta.

Ki Guto dan Ki Bendesa menyembah berulang-ulang. Danghyang Dwijendra dihaturi memuja menyelesaikan upacara puja wali di Pura Sada, sedang Ki Guto disuruh memuja pada upacara korban (pacaruan).

DESA TUBAN

Setelah selesai upacara odalan di Pura Sada maka sang pendeta bersama putra-putrinya dan 2 orang pelayannya pergi arah ke selatan tiba di desa Tuban daerah selatan Badung, dijemput oleh orang-orang desa Tuban. Semuanya dengan hormat dan tulus bakti mengaturkan hidangan santapan kepada sang pendeta dan putra-putrinya semua. Sementara sang pendeta berdiam di sana banyak ikan laut yang tertangkap. Itu adalah karena kasidhian (kesaktian) Pedanda Sakti Bahu Rawuh itu. Demikian juga tanam-tanaman dan segala sesuatunya menjadi baik semuanya.

Pada suatu hari sang pendeta dan putra-putrinya diaturi hidangan yang penuh dengan berbagai masakan ikan laut. Sang pendeta bersama putra-putrinya dengan senang menikmati hidangan yang luar biasa itu. Setelah bersantap ada masih tersisa ikan separo (daging seekor ikan sebagian habis disantap sebagian masih utuh). Setelah diberi mantram oleh sang pendeta lalu dilemparkan ke dalam laut, maka ikan itu hidup kembali diberi nama ikan tampak (telapak), oleh karena dagingnya habis sebagian. Ikan tampak itu diberi mantram suci oleh pendeta dan diumumkan kepada orang-orang yang ada disana, apabila kemudian ada orang megawe hayu (melaksanakan upacara untuk kesejahteraan), ikan tampak itu boleh digunakan menjadi isi sesajen suci (banten suci). Orang-orang desa Tuban yang kebetulan ada di tempat itu melihat dan menyaksikan keadaan yang sedemikian itu, semuanya tercengang heran takjub dengan kesaktian sang pendeta itu. Kemudian sang pendeta mengajar dan menasehati orang-orang desa Tuban membuat pukat (bubu) tanpa umpan agar banyak mendapat ikan dengan cara diam-diam.

ARYA TEGEH KURI

Kurang lebih tujuh hari lamanya sang pendeta di desa Tuban maka datang Kyayi Arya Tegeh Kuri menjemput sang pendeta bersama putra-putrinya agar sudi simpang di puri beliau. Pada suatu ketika berangkatlah sang pendeta diiringkan oleh Kyayi Tegeh Kuri. Setibanya di desa Buagan terpaksa beliau berhenti dalam sebuah parhyangan Pura Batan Nyuh karena dihalangi oleh banjir besar. Banyak orang datang menghadap dari sebelah timur jalan melalui jembatan gantung, semuanya menyembah serta bermohon pengalah air oleh karena rumah-rumahnya dilanda banjir. Sang pendeta belas kasihan kepada orang-orang yang kena bencana alam kebanjiran itu. Lalu beliau memberi sepotong kayu anceng (tongkat) yang telah dirajah (ditulisi) Sanghyang Klar, disuruh memancangkan di muara banjir itu. Dengan tiba-tiba, menggelombang naik air itu lalu bertolak lari ke barat memutus jalan. Sangat heran orang-orang yang melihat tentang kekuatan batin sang pendeta demikian itu.

Orang-orang desa berdatangan menghaturkan buah-buahan dan santap-santapan lainnya. Tidak diceritakan lebih lanjut perihal sang pendeta di tengah jalan, akhirnya tiba di Puri Arya Tegeh Kuri di Badung.

DESA MAS

Setelah beberapa lama beristirahat di Badung, maka datang Ki Pangeran Mas menjemput Empu Danghyang dihaturi pergi ke Desa Mas. Danghyang Dwijendra bersama putra-putri dan 2 orang pelayan pergi ke Desa Mas. Di sana beliau itu dibuatkan grhya (rumah untuk brahmana) yang baik, sehingga menetap sang pendeta, diam di Desa Mas. Lama kelamaan Ki Pangeran Mas mengaturkan anaknya wanita yang amat cantik. Putri Ki Bendesa Gading Wani, yang dipakai pelayan oleh sang pendeta bersama Ni Brit, kini dipakai pelayan oleh putrinya Pangeran Mas yang bernama Sang Ayu Mas Genitir. Kemudian setelah itu Pangeran Mas dibersihkan (diniksan) oleh Empu Danghyang, menjadi pendeta dan telah lama paham dengan Agama ilmu Ketuhanan dan ilmu Batin.

Setahun telah berselang pertemuan suami istri Danghyang Nirartha dengan Sang Ayu Mas Genitir lalu melahirkan seorang putra diberi nama Ida Putu Kidul.

Dalam antara itu ada seorang pelayan Pangeran Mas bernama Pan Geleng mengaturkan sebuah pusuh (jantung pisang) pisang batu yang berisi gading mas asal tanamannya sendiri kepada Danghyang Dwijendra. Kata Danghyang waktu menerima pusuh pisang batu, “Semoga Pan Geleng kaya sampai seturun-keturunannya kelak”.

DHARMANING BRAHMANA WANGSA

Diceritakan pada suatu hari sang pendeta memancing di taman, berdiri di tengah telaga, kakinya beralas daun tunjung (teratai), bisa mengambang tidak tenggelam. Setelah banyak mendapat ikan sang pendeta berhenti memancing, lalu mandi menyucikan diri, kemudian melakukan Surya Sewana. Setelah selesai, sang pendeta dihaturi hidangan santapan. Setelah selesai bersantap, keempat orang putranya disuruh meneruskan menikmati. Empat orang putranya yaitu : Ida Putu Telaga (Brambangan), dan Ida Putu Mas (Desa Mas), yang biasa disebut Kulwan, Lor, Wetan dan Kidul. Sedang para putranya itu menikmati hidangan maka sang pendeta memberikan nasehat.

Katanya, “Anakku semua, engkau boleh saling cuntakain sampai turun-turunanmu kemudian. Saling cuntakain artinya, tenggang-menenggang, gotong-royong, bela-membela dalam keadaan suka duka hidup di dunia. Apabila seorang ditimpa duka harus semuanya bela sungkawa. Tentang perkawinan boleh ambil-mengambil. Tiap orang yang lebih tua dan lebih pandai boleh dipakai guru (nabe). Jika kemudian engkau lupa dengan ikatan bersaudara, astu (semoga) salah satu di antaranya yang melanggar amanatku ini turun dan surut derajat kewibawaannya”. Demikian amanat sang pendeta, ayahnya.

Lama-kelamaan terjadi hal yang agak ganjil mungkin karena kodrat Tuhan, yaitu Danghyang menjamah pelayan Sang Istri Ayu Mas anak dari Ki Bendesa Gading Wani yang bernama Jro Patapan, akhirnya berputra seorang laki-laki bernama Ida Wayan Sangsi atau Ida Patapan nama lainnya.

Lain dari itu, pelayan yang bernama Ni Brit pada suatu malam dijumpai sedang mengeluarkan air kencing sebagai air pancuran sehingga menembus tanah sehasta dalamnya, lalu dijamah juga oleh sang pendeta, kemudian melahirkan seorang putra laki-laki diberi nama Ida Wayahan Tamesi atau Ida Bindu namanya lain.

Diceriterakan setelah 2 orang putranya terakhir sama-sama besar, sang pendeta pagi-pagi pergi pula ke suatu telaga di taman untuk memancing ikan, berdiri di tengah telaga beralas daun tunjung, tetapi daun tunjung itu tenggelam sepergelangan kaki sang pendeta, dan terlihat oleh beliau ikan kakul (siput) yang telah disantap dagingnya, sisanya dilemparkan ke dalam telaga, lalu hidup kembali. Dalam keadaan yang demikian itu menyelinap suatu perasaan ke dalam hati sanubarinya, bahwa 2 orang putranya terakhir ini akan surut perbawanya. Setelah selesai memancing lalu beliau bersiram menyucikan diri, kemudian pulang dan masuk ke tempat pemujaan, melakukan pemujaan sebagai biasa.

Setelah ke luar dari tempat memuja maka diaturi hidangan untuk bersantap. Setelah sang pendeta habis bersantap maka dipanggil putranya berenam orang untuk makan bersama-sama dalam satu hidangan. Putra-putranya berenam datang dan telah siap akan makan bersama (magibung) satu hidangan, demi masing-masing telah memegang nasi kepalan di tangannya, maka tiap-tiap alat makan itu berontak berkelahi dengan kawan-kawannya. Ada yang bertarung, ada yang jatuh, ada yang berbenturan kepada dulang (tempat makan dari kayu), yang kalah membalas pula dan lain sebagainya sehingga alat-alat makan itu berantakan. Hal itu dilihat oleh sang pendeta, lalu disuruh orang membawakan lagi makanan dua hidangan yang berlain-lainan. Setelah siap, maka Ida Wayahan Sangsi (Ida Patapan) dikumpulkan dengan Ida Bindu (Ida Tamesi) makan menjadi satu hidangan, sedang putranya yang 4 orang lagi yaitu Ida Putu Kemenuh, Ida Putu Manuaba, Ida Putu Telaga dan Ida Putu Mas makan menjadi satu hidangan. Dengan keadaan yang demikian maka tenteramlah masing-masing asyik menikmati hidangan dengan sepuas-puasnya tidak sesuatu sengketa apapun terjadi.

Sementara itu sang pendeta memberikan nasehat. “Anakku sekalian, dengarlah nasehatku baik-baik! Anakku Putu Sangsi dan Putu Tamesi dalam kehidupanmu turun-temurun boleh sembah-kasembah dan boleh ambil-mengambil istri, tetapi terhadap turun-turunannya anak-anakku yang 4 orang (yaitu Putu Kulwan (Kamenuh) Putu Lor (Manuaba) Putu Wetan (Telaga Keniten) dan Putu Mas tidak boleh. Tetapi engkau Putu Sangsi dan Putu Bindu seturun-turunanmu boleh menghaturkan sembah, menghaturkan putri dan berguru kepada saudara-saudaramu yang empat orang ini dan turun-turunannya, sebab ibumu adalah orang-orang pelayan. Demikianlah harus diingat betul-betul amanatku ini. Siapa yang melanggar akan mendapat papa, surut wibawa dan wangsanya”. Demikian amanat Danghyang Dwijendra.

KI GUSTI PANYARIKAN DAWUH BALEAGUNG

Lambat laun tersebar berita Danghyang Dwijendra sampai ke Gelgel, bahwasannya ada seorang pendeta sakti baru datang disebut oleh umum Padanda Sakti Bahu Rawuh, saktinya hampir sama dengan pendeta Loh Gawe. Sebab itu Dalem Baturenggong (raja Bali saat itu) sangat besar hasratnya hendak memanggil pendeta yang sakti itu untuk dijadikan gurunya. Pada suatu hari diutus Ki Gusti Panyarikan Dawuh Baleagung pergi ke Desa Mas untuk menghaturi Danghyang Dwijendra datang ke Gelgel dan diharapkan datang besok harinya.

Pada hari yang baik berangkatlah Ki Gusti Panyarikan mengendarai kuda putih, berpakaian putih, hanya giginya saja yang hitam. Setibanya di Desa Mas terlihat olehnya Ki Bandesa Mas sedang menghadap sang pendeta di balai pendopo kecil, maka segera beliau turun dari kendaraan.

Ki Bandesa Mas segera juga datang menjemput, “Selamat datang Ki Gusti Panyarikan, silakan duduk!”

Ki Gusti Dawuh Baleagung segera duduk menghadap sang pendeta seraya memperkenalkan diri dan mempermaklumkan kepentingannya datang. Setelah banyak kata-katanya menceriterakan keadaan di Bali kemudian timbul pikirannya hendak menyelami pengetahuan sang pendeta tentang ajaran pemerintahan negara. “Tolong ajarilah saya”. Jawab sang pendeta. “Dalam ajaran agama (sastra) begini. Tentang penerapannya dalam praktek (sas) begini”. Ki Gusti Panyarikan bertanya pula, “Bagaimana ajaran peraturan peperangan (dharma yudha) ?”. Jawab sang pendeta. “Dalam ajaran agama (sastra) begini, pelaksanaan dalam prakteknya begini”.

Kyayi Panyarikan diam seraya mengunyah sirih. Setelah dibuang susurnya (sepah) lalu bertanya lagi. “Bagaimana ajarannya pertemuan asmara laki dan perempuan (smara gama, cumbwana krama) ?”. Jawab sang pendeta, “Dalam ajaran agama (sastra) begini, pelaksanaan dalam prakteknya (sas) begini”.

Kyayi Dawuh diam dengan dalih mengunyah sirih. Setelah dibuang sepahnya lalu bertanya, “Singgih Empu Danghyang bagaimana pelaksanaan memukur atau maligya (maha sraddha) untuk mensorgakan leluhur yang telah meninggal ?”. Jawab sang pendeta. “Jika dalam ajaran agama begini, dalam prakteknya begini”.

(Catatan :   dalam percakapan yang sebenarnya mungkin panjang lebar keterangan sang pendeta mengenai pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada beliau, tetapi didalam riwayat ini disebutkan pendek-pendek saja yaitu dalam sastra begini dalam sas begini). Nanti kita menjumpai ajaran beliau dalam kitab-kitab (lontar-lontar lain).

Oleh karena Ki Gusti Dawuh diam lama dan duduknya kian turun dari tempatnya semula.

Maka sang pendeta bertanya, “Kenapa Ki Gusti diam, bertanyalah lagi! Baru sedikit yang ke luar, masih banyak yang tersimpan”. Jawab Kyayi Panyarikan, “Empu Danghyang adalah laksana laut, berapa banyak tempayan tempat air tentu saja terpenuhi semuanya”.

Selanjutnya Kyayi Panyarikan merasa sangat beruntung dalam hatinya, sebagai kodrat Tuhan mempertemukannya dengan seorang pendeta yang sakti dan ahli dalam hal agama. Lalu memajukan permohonan supaya beliau diterima menjadi muridnya, berguru kepada sang pendeta, belajar rahasia ilmu Ketuhanan dan akhirnya mohon dibersihkan dan dinobatkan sebagai Bhagawan, pendeta ksatria. Sang pendeta berkenan meluluskan permohonan Ki Gusti Panyarikan. Pada malam harinya sang pendeta mengajar rahasia ilmu Ketuhanan dengan yoga samadhinya dan Weda mantram yang penting-penting. Ki Gusti Panyarikan memang sudah mempunyai dasar dan bakat yang kuat tentang ilmu Ketuhanan, karena usaha dan latihannya sendiri, sebab itu segala ajaran sang pendeta cepat dapat ditampung dan dipenuhinya. Besok paginya kebetulan hari baik, beliau dibersihkan (diniksan) oleh sang pendeta menjadi Bhagawan. Setelah diniksan lanjut sehari itu Empu Danghyang asyik memberi nasehat dan ajaran-ajaran yang penting-penting kepada muridnya, sehingga Kyayi Panyarikan lupa dengan janjinya atas perintah Dalem harus kembali hari itu. Karena keadaan memaksa Kyayi Panyarikan terlambat sehari kembali ke Gelgel mengiringkan Danghyang Nirartha.

PURA SILAYUKTI, TELUK PADANG

Pagi-pagi setelah dua malam lewat, maka Kyayi Panyarikan berangkat mengiring Pedanda Sakti Bawu Rawuh ke Gelgel sama-sama mengendarai kuda. Tiada diceritakan halnya di tengah jalan maka tibalah di Gelgel. Tetapi sayang Dalem telah berangkat pagi-pagi ke Teluk Padang (Padangbai) untuk berburu binatang dan menangkap ikan diiringi oleh para mantri punggawa dan rakyat sangat banyaknya. Oleh karena demikian halnya maka terpaksa Ki Gusti Dawuh mengiringkan Danghyang Dwijendra pergi Teluk Padang. Setibanya di Padang, sang surya telah lewat tengah hari, para punggawa mantri telah sama-sama mulai mencari pondoknya masing-masing Kyayi Panyarikan mengiring Danghyang menuju pesanggrahan Dalem.

Dalem Baturenggong agak murka kepada Kyayi Panyarikan katanya, “Panyarikan, kenapa sampai lewat janji baru datang? Sebagai bukan orang tua, Panyarikan! Empu Danghyang antarkan ke parhyangan istananya Empu Kuturan!

Setelah Danghyang Nirartha beristirahat, datang Dalem Baturenggong menghadap bersama beberapa orang pelayan membawa santapan. Seraya berkata, “Selamat datang Empu Danghyang, maafkan keadaan tempat yang tidak sepertinya ini, dan persilakan menikmati santapan ala kadarnya”.

Sang pendeta mengucapkan banyak terima kasih lanjut berkata, “Tuanku, maafkanlah Ki Nanak Panyarikan agak terlambat pada janjinya, sebab ingin berguru ilmu Ketuhanan dan ingin dibersihkan dirinya menjadi Bhagawan. Jika tuan ingin juga bersih (madiksa), kami sedia melakukannya, jangan tuanku kecewa karena belakangan, sebab soal Agama (Dharma) tidak mengenal carikan atau sisa-sisa, karena soal Agama adalah Ketuhanan Yang Suci”. Demikianlah kata sang pendeta. Dan Sang Pendeta menyambung pula katanya, “Banyakkah tuanku dapat menangkap ikan dan binatang?”. Jawab Dalem. “Tuanku coba sekarang perintahkan rakyat tuanku menangkap ikan dan berburu binatang, kiranya banyak berhasil”.

Dalem menurut sang pendeta, memerintahkan rakyatnya mengulangi menangkap ikan dan berburu. Sebelum rakyat masuk ke laut akan menangkap ikan dan ke hutan belukar akan berburu binatang sang pendeta ke luar berdiri di halaman memandang ke laut memanggil ikan dan memandang ke hutan memanggil binatang. Tidak antara lama banyak ikan dan binatang tertangkap oleh rakyat. Dalem dan sang pendeta sangat gembira melihatnya. Setelah hari sore semua rakyat penangkap ikan dan pemburu binatang telah kembali ke tempatnya dengan membawa hasilnya sangat banyak, maka Sri Aji Bali dan sang pendeta kembali lagi ke pesanggrahan. Pada malam harinya sampai larut malam Dalem Waturenggong bercakap-cakap dengan sang pendeta tentang soal Agama. Tetapi soal mabersih (madiksa) Dalem masih bertangguh, masih berpikir.

Besok paginya Dalem kembali ke Gelgel diiring oleh seluruh menteri, punggawa dan rakyat. Dalem duduk dalam satu pedati yang ditarik kuda bersama sang pendeta. Setibanya di kali Unda jalan pedati berhenti karena air kali Unda pasang naik, banjir karena hujan di pegunungan.

Sang pendeta bertanya pada Dalem, “Tuanku, apa sebab pedati kita terhenti?”. Jawab Dalem. “Air kali Unda sedang pasang naik tidak dapat dilalui”. Kata sang pendeta, “Mungkin tuanku belum tahu dengan pelaksanaan aswa-siksa, (ajaran melatih kuda)”.

Dalem mengaku terus terang bahwa beliau belum mengetahui ajaran aswa-siksa, sebab itu dibisiki ajarannya oleh sang pendeta. Setelah Dalem mengerti dan paham tentang ajaran aswa-siksa terutama mantramnya, lalu diambil oleh beliau sebuah cambuk dilecutkannya dengan keras, maka ujungnya keluar api sedang pangkalnya keluar air amrta. Dalam keadaan demikian itu kuda mendobrak air sungai, kakinya tenggelam sepergelangan lari dengan selamat ke tepi sungai di barat. Semua yang melihat sangat heran.

Tiada diceritakan lebih lanjut betapa hal iring-iringan raja Bali di tengah jalan, maka tibalah di istana Gelgel. Sang pendeta ditempatkan di tempat yang suci dengan menikmati hidangan yang secukupnya.

Dalem pada kesempatan ini menjelaskan sikapnya, katanya : “Empu Danghyang, sampai saat ini saya belum ada niat akan mabersih (madiksa) karena telah merupakan surudan (sisa-sisa) dari Pangeran Dawuh”. Jawab sang pendeta. “Tuanku, maklumilah seyakin-yakinnya, bahwa Agama (Ketuhanan) itu tidak ada merupakan surudan (sisa-sisa), kalau diandaikan samahalnya dengan air yang dikucurkan”.

Sekalipun demikian penjelasan sang pendeta, namun Dalem Baturenggong tetap pada pendiriannya tidak mau madiksa (mabersih).

IDA BURUAN

Diceritakan Ki Gusti Panyarikan Dawuh Baleagung yang telah berkedudukan sebagai pendeta Bhagawan acapkali menghadap kepada Dhangguru mendalami ajaran agama dan kebatinan sampai juga kepada kesusastraan, tembang-tembang bersanjak, pupuh kidung dan guru laghu kekawin, sehingga pengetahuan Ki Gusti Bhagawan sungguh-sungguh padat dan suci. Lama-kelamaan sebagai pangguru yoga (bakti kepada guru) beliau mengaturkan seorang putrinya yang terkenal cantik dan menaruh bakat keagamaan dan kesusastraan kepada Dhangguru. Danghyang Dwijendra menerima dengan senang hati pangguru yoga itu, lalu dikawinkan dengan putranya yang bernama Ida Putu Lor. Dari perkawinan ini menurunkan 2 orang putra laki-laki di berinama : Ida Ketut Buruan.

Danghyang Nirartha mempunyai asrama (grhya) di dua tempat, yaitu : di Desa Mas dan di Desa Gelgel. Tiap-tiap hari purnama atau tilem Sira Empu tetap masuk ke istana menghadap Dalem diiringi oleh cucundanya yang masih kecil Ida Wayahan Buruan. Pada hari-hari baik yang sedemikian itu Dalem dipuja oleh Empu Danghyang dengan Weda pangjaya-jaya dan diperciki air tirta yang telah diberi mantram kekuatan batin Ketuhanan. Dengan hal yang demikian lambat-laun Dalem menjadi seorang raja besar perbawanya, karena segala batin kependetaan ada pada beliau, namun sayang beliau belum mau madiksa (mabersih) karena belum bersih hatinya didahului oleh Kyayi Panyarikan Dawuh Baleagung.

DALEM BATURENGGONG BERGURU (MADIKSA)

Diceritakan Empu Danghyang Angsoka, kakak dari Danghyang Nirartha, beliau membuat suatu karangan yang diberi nama Smara Rencana dikirim ke Bali kepada adiknya, kemudian dibalas dari Bali oleh Empu Danghyang Nirartha dengan kidung Sarakusuma. Dengan hal demikian tahu Dalem bahwa Danghyang Angsoka seorang pendeta yang pandai, maka niatnya timbul akan berguru kepada beliau, lalu mengirim utusan ke Daha untuk menghaturi Danghyang Angsoka datang ke Bali untuk menjadi gurunya Dalem dan lanjut memberi pembersihan (padiksan). Tetapi Danghyang Angsoka menolak permintaan Dalem Bali.

Katanya, “Di Bali telah ada adik saya yang lebih pandai dari saya. Sangat patut menjadi purohitanya (gurunya) Dalem”.

Setelah beberapa lama kemudian, tiba-tiba turun Bhatara Mahadewa dari Gunung Agung, diiringi oleh Sang Boddha datang ke Gelgel menemui Dalem.

Lalu bersabda, “Anakku Dalem Baturenggong, jika tidak terus anakku berguru kepada Empu Dwijendra, karena tidak ada pendeta yang sama dengannya, tak dapat tiada akan kacau negara anakku, segala tanah tidak bisa dipetik buahnya, penyakit akan mengembang, musuh akan timbul banyak, tidak selamat negara olehmu”, demikian sabda Bhatara Mahadewa lalu musnah dari pandangan.

Dalem Baturenggong menyembah dan berjanji akan mentaati sabda Bhatara. Setelah itu Dalem bermohon hormat kepada Danghyang Dwijendra untuk berguru anuhun pada dan diniksan. Empu Danghyang dengan gembira meluluskan permohonan Dalem, karena telah lama dinanti-nantikan. Hari untuk madiksa dipilih hari purnamaning Kapat (purnama pada bulan keempat menurut perhitungan tahun Bali, yakni sekitar Oktober). Setelah tiba hari yang baik itu, maka dengan upacara kebesaran Dalem diniksan oleh Empu Danghyang. Setelah selesai upacara padiksan itu, Empu Danghyang memberi nasehat tentang tata cara orang memangku kerajaan dan supaya jangan lupa kepada Ketuhanan dan leluhur. Tetapi tatkala mengucapkan weda puja jangan memegang genta menyamai Bhatara namanya, sangat berbahaya.

Sesudah Sri Aji Baturenggong kian mashyur namanya memegang pemerintahan, negaranya tenteram kerta raharja, makmur sandang pangan, tidak ada wabah penyakit merajalela, tidak ada musuh timbul.

SIRA AJI KRAHENGAN DARI SASAK

Pada suatu ketika Seri Aji Baturenggong mempermaklumkan kepada Dhanggurunya bahwa negara Bali sering diserang oleh Sira Aji Krahengan dari Sasak (Lombok) yang amat sakti dan pandai mengubah diri (maya-maya) dan ahli melayang. Acapkali prajurit beliau kalah dalam pertempuran di tepi laut. Itu saja yang mengganggu negaranya. Sebab itu beliau mohon nasehat bagaimana caranya menghadapi musuh itu.

Jawab Danghyang Dwijendra. “Nanak Baturenggong, baiklah bapak mencoba pergi ke Sasak sebagai utusan nanak, untuk datang kepada Sira Aji Krahengan mengadakan persahabatan oleh karena untuk keselamatan bersama, lebih baik bersahabat daripada bermusuhan. Bersahabat akan banyak mendapat keuntungan bersama, sedangkan kalau bermusuhan banyak mendapat kerugian”.

Pada suatu hari yang baik Danghyang Dwijendra berlayar dengan menumpang jukung. Pelayarannya lancar dan tidak mendapat rintangan suatu apa pun. Setibanya di Sasak langsung beliau masuk ke dalam purinya Sira Aji Krahengan. Ketika Sira Aji Krahengan melihat pendeta datang, segera turun dari tempat duduknya menjemput sang pendeta dengan hormat dan dipersilahkan duduk berdekatan dengan beliau. Setelah bersama-sama menikmati suguhan minuman maka Sira Aji Krahengan berkata dengan hormat menanyakan kepentingan sang pendeta datang. Danghyang Dwijendra menjelaskan maksud beliau datang itu, yaitu atas perkenan bahkan merupakan utusan dari Sira Aji Baturenggong untuk mengadakan suatu ikatan persahabatan kepada Sira Aji Krahengan.

Tuanku,” kata sang pendeta. “Bapak datang sekarang ini adalah atas usaha bapak, yang disetujui oleh Seri Aji Baturenggong, yakni untuk mengadakan suatu ikatan persahabatan yang akrab di antara beliau dengan tuanku. Sebab menurut  pendapat bapak adalah banyak untungnya bila dapat mengadakan ikatan persahabatan dari pada permusuhan. Persahabatan dapat menyebabkan negara masing-masing berkeadaan tenteram dan sejahtera, karena masyarakat masing-masing tekun bekerja untuk kemakmuran, tidak ada yang mengganggu. Kalau bermusuhan masing-masing akan mendapat kerugian. Sebagai suatu bukti untuk menyatakan betul-betul ikatan persahabatan ini berlaku, ada baiknya kalau tuanku memberikan seorang putri tuanku untuk menjadi istrinya Seri Aji Baturenggong”, Demikian kata sang pendeta. Jawab Sira Aji Krahengan, “Sang pendeta harap dimaafkan saja, karena kami tidak dapat memenuhi sebagai anjuran sang pendeta itu, sebaiknya sang pendeta pulang saja!”.

Dengan hal yang demikian sang pendeta ke luar dari dalam puri seraya mengeluarkan kata kutukan (pamastu) : “Moga-moga si Krahengan surut kesaktianmu dan hancur kebesaranmu”. Demikian katanya terus menuju pesisir, naik ke atas jukung yang ditumpangi tadinya lalu menuju pulau Bali.

Tidak diceritakan dalam perjalanan, sang pendeta telah tiba di Puri Gelgel dijemput oleh Dalem Baturenggong dengan khidmad.

Setalah sama-sama duduk, Dalem bertanya, “Ya sang Maharsi, apakah berhasil usaha sang Maharsi?”. Jawab sang pendeta, “Nanak Baturenggong, tidak berhasil usaha bapak mengadakan ikatan persahabatan kepada Si Krahengan dan bapak telah memberi kutukan (pastu) agar ia surut kewibawaannya, tidak lanjut menjadi ksatria”.

PURA RAMBUT SIWI

Setelah beberapa lamanya di Gelgel maka Danghyang Nirartha ingin bercengkerama menjelajah daerah Nusa Dua Bali. Keinginan beliau itu disampaikan kepada Dalem, maka Dalem menyetujui dan mengijinkan beliau menjelajah daerah Nusa Bali.

Mula-mula beliau berangkat arah ke barat, sampai di daerah Jembrana berbelok ke selatan, berbalik ke timur menyusur pantai. Akhirnya bertemu dengan seorang tukang sapu suatu parhyangan sedang duduk-duduk di luar parhyangan itu.

Setelah sang pendeta dekat maka orang itu cepat-cepat mendatangi seraya menyapa. Katanya, “Ya sang pendeta, dari mana dan mau ke mana sang Maharsi sekarang ini ? Sebaiknya berhenti sebentar di sini, jangan tergesa-gesa terus berjalan, saya mempermaklumkan bahwa di sana malahan ada suatu parhyangan tempat kami sembahyang yang angker dan keramat. Barang siapa lalu di sini tidak menyembah di parhyangan kami, tentu nanti diterkam oleh harimau. Untuk keselamatan sang pendeta, silakanlah dulu menyembah di parhyangan kami!”. Demikian katanya seraya menghambat perjalanan sang pendeta. Jawab Empu Danghyang. “Kalau harus demikian, baiklah antarkan saya masuk ke parhyanganmu untuk menyembah!”.

Sang pendeta diantar masuk dalam parhyangan. Setibanya di hadapan suatu bangunan palinggih tempat menyembah, sang pendeta lalu duduk melakukan yoga, mengheningkan cipta memandang ujung hidung (angrana sika), menunggalkan jiwatmanya kepada Ida Sanghyang Widhi. Ketika beliau sedang asyiknya melakukan yoga, tiba-tiba rubuh gedung palinggih tempat menyembah itu. Hal itu nyata dilihat oleh orang yang mengantar tadi, lalu menangis mohon ampun kepada sang pendeta.

Katanya, “Ampunilah saya sang Maha Empu, ampunilah kesalahan hamba karena memaksa sang Maha Empu menyembah di sini! Dan hamba mohon dengan hormat belas kasihan sang Maha Empu, agar diperbaiki lagi parhyangan kami sebagai semula, supaya ada kami junjung dan kami sembah setiap hari,” demikian katanya seraya menangis tersedu-sedu.

Danghyang Dwijendra belas kasihan juga melihat bangunan palinggih itu rubuh dan mendengar tangis orang itu. Katanya, “Kalau begitu kehendakmu baiklah saya memperbaikinya”.

Sang pendeta lalu memperbaiki bangunan itu sehingga berdiri lagi seperti semula, dan selanjutnya beliau melepaskan gelung rambutnya sehingga terurai, dicabutnya sehelai diberikan kepada orang itu. Seraya berkata, “Inilah sehelai rambut, siwi (junjungan sembahyang) di sini, letakkan di atas bangunan ini, agar kamu dan sanak keluargamu mendapat selamat sejahtera selanjutnya”.

Orang itu menyembah seraya menerima sehelai rambut sang pendeta itu seraya menuruti segala nasehat beliau. Semenjak itu parhyangan itu disebut Pura Rambut Siwi.

Matahari ketika itu telah pudar cahayanya, kian merendah hendak menyembunyikan wajahnya di tepi langit barat, sebab itu sang pendeta berniat akan bermalam di dalam Pura Rambut Siwi. Orang-orang makin banyak menghadap sang pendeta, yang berniat mohon nasehat soal Agama, adapula yang mohon obat. Semalam-malaman itu sang pendeta menasehatkan ajaran Agama, terutama berbakti kepada Ida Sanghyang Widhi dan Bhatara-bhatari leluhurnya, agar sejahtera hidupnya di dunia. Dan diperingatkan supaya tiap-tiap hari Rabu Umanis Prangbakat mengadakan pujawali (perayaan) di Pura Rambut Siwi itu untuk keselamatan desa.

PURA PAKENDUNGAN

Diceritakan besok paginya setelah sang surya mulai memancarkan cahayanya ke seluruh permukaan bumi, Empu Danghyang melakukan sembahyang Surya Sewana disertai oleh orang-orang yang ada di sana, setelah memercikkan air tirtha kepada orang-orang yang turut sembahyang maka Empu Danghyang berangkat dari dalam Pura Rambut Siwi arah ke timur menyusuri tepi pantai, diiringi oleh beberapa orang yang tertaut cinta baktinya kepada sang pendeta. Empu Danghyang selalu memperhatikan keindahan alam yang dilaluinya dan dilihatnya. Dalam keindahan pandangan itu selalu terbayang kebesaran Tuhan yang menjiwai keindahan itu yang menyebabkan mesra menyerap menyulut batin orang menjadi indah bahagia. Sang pendeta selalu membawa lembaran lontar dan pengutik pengrupak (pisau raut alat manulis daun rontal) untuk menggoreskan keindahan alam yang dijumpainya. Akhirnya tiba di daerah Tabanan, di sana terlihat olehnya sebuah pulau kecil di tepi pantai yang terjadi dari tanah parangan, indah tampaknya dan suci suasananya. Lalu beliau berhenti di sana. Kemudian dilihat oleh orang-orang penangkap ikan yang ada di sana,  lalu mereka itu datang menghadap sang pendeta masing-masing membawa persembahannya.

Pada waktu itu hari sudah sore, orang-orang nelayan itu menghaturi sang pendeta supaya beristirahat di pondoknya saja, tetapi sang pendeta menolak, beliau lebih suka beristirahat di pulau kecil itu. Malam itu sang pendeta mengajarkan agama kepada orang-orang yang datang dan dinasehatkan supaya membuat parhyangan di tempat itu karena tempat itu dirasa sangat suci, baik untuk tempat memuja Tuhan untuk kesejahteraan dan kemakmuran daerah lingkungannya. Orang-orang yang menghadap berjanji akan membuat parhyangan di sana dinamai Pura Pakendungan atau Pura Tanah Lot.

PURA HULU WATU DAN PURA BUKIT GONG

Besok paginya setelah melakukan sembahyang Surya Sewana maka Empu Danghyang Nirartha berangkat dari Pakedungan ke arah Tenggara dengan jalan darat menyusuri pantai. Dari jauh tampak oleh beliau suatu tanjung yang menonjol ke laut di bagian wilayah bukit Badung, maka tanjung itulah yang beliau tuju, perjalanan agak dipercepat di pantai, air laut sedang surut. Setibanya di sana maka diperhatikan oleh beliau bahwa tanjung itu terjadi dari batu karang seluruhnya dan sangat besar. Selanjutnya diperiksa keadaan batu karang itu ke utara, ke barat, ke selatan dan ke timur serta diperhatikan pula pemandangan yang terlihat dari sana. Sungguh-sungguh indah dan bebas lepas ke seluruh penjuru dunia. Kemudian terdengar bisikan jiwa beliau bahwa tempat itu baik tempat memuja Ida Sanghyang Widhi dan terutama tempat “ngaluhur” melepas jiwa atmanya kelak ke alam sorga.

Akhirnya beliau mengambil keputusan membuat kahyangan di tempat itu. Untuk kepentingan itu terpaksa beliau membuat asrama di sebelahnya untuk menetap sementara mengerjakan kahyangan itu. Pekerjaan membuat kahyangan itu mendapat bantuan dari orang-orang yang dekat di sana. Setelah beberapa hari lamanya maka kahyangan itu selesai diberi nama Pura Hulu Watu. Di tempat asrama Empu Danghyang lama kelamaan didirikan juga sebuah kahyangan oleh orang-orang di sana dinamai Pura Bukit Gong.

PURA BUKIT PAYUNG

Setelah Pura Hulu Watu selesai dan telah dinasehatkan kepada orang-orang di sana untuk menjaganya, maka Danghyang Nirartha melanjutkan perjalanan lagi ke arah timur dengan melalui tanah berbukit-bukit, tiba di goa Watu, dari sana menuju Bualu.
Di sebelah tenggara Bualu ada sebuah tanjung yang menjorok ke laut, di sana beliau berhenti. Ketika beliau menancapkan payungnya ke tanah, maka tiba-tiba memancur air dari dalam tanah, sangat suci dan hening. Air itu dipergunakan menyucikan diri. Oleh orang-orang yang dekat di sana karena gembira hatinya seakan-akan mendapat anugrah air amrta (air kehidupan), maka di tempat itu dibangun sebuah kahyangan dinamai Pura Bukit Payung..

PURA SAKENAN

Setelah menyucikan diri di Bukit Payung, maka Danghyang Nirartha berangkat pergi arah ke utara menyusuri pantai. Tidak jauh dari sana dijumpainya dua buah pulau batu “NUSA DWA” disebut orang. Di sana beliau berhenti dan mengarang kekawin Anyang Nirartha. (Kakawin atau karangannya itu melukiskan segala obyek keindahan yang dilihat oleh beliau sepanjang perjalanan, digubah dijadikan sanjak kakawin yang terikat dengan guru laghu).

Setelah selesai mencatat bahan-bahan kakawinnya, lalu Danghyang Dwijendra melanjutkan perjalanan arah ke utara. Tidak diceritakan halnya di tengah jalan maka sampailah beliau di Serangan. Pada bagian tepi barat laut Serangan sang pendeta kagum merasakan keindahan alam di sana, yaitu keindahan laut yang tenang berpadu dengan keindahan daratan yang melingkunginya. Sang pendeta tak puas-puasnya memandang keindahan alam yang dianugrahkan Tuhan di sana dapat mempengaruhi batin menjadi suci tak ternoda sedikitpun, sehingga beliau terpaksa berhenti dan menginap beberapa malam di sana. Terasa oleh beliau bahwa di tempat itu ada suatu sumbu kekuatan gaib yang suci, dan baik sebagai tempat sembahyang memuja Tuhan untuk keselamatan dan kesejahteraan.

Sebab itu beliau membangun juga suatu kahyangan di sana diberi nama cakenan (yang asal katanya dari cakya = dapat langsung menyatukan pikiran). Pujawali dilakukan pada hari Sabtu Kliwon Kuningan dan keramaiannya pada hari manisnya (sehari sesudahnya).

PURA AIR JERUK

Setelah Pura Sakenan itu selesai dibangun, maka Danghyang Dwijendra ke luar dari dalam pura lalu berangkat pergi ke utara menumpang sebuah jukung, lalu mendarat di Renon. Selama beliau berdiam di sana ada suatu kejadian, yaitu ketika tongkat beliau itu dipancangkan, tidak berapa lama lalu keluar tunas dan hidup menjadi pohon sukun. Setelah beberapa hari ada di sana, beliau meneruskan perjalanan arah ke timur, tiba beliau di Udyana Mimba (Taman Intaran). Dari sana sang pendeta meneruskan perjalanan ke arah timur laut, menyusur pantai laut kemudian tiba di pantai selatan wilayah Bumi Timbul (Sukawati).

Dari sana beliau masuk ke darat arah ke utara lalu tiba di sawah Subak Laba. Di sana sang pendeta berhenti dan menginap, dijamu oleh orang-orang subak (organisasi masyarakat Bali mengurusi pengairan) dengan buah jeruk yang sedap rasa airnya. Di asrama tempat menginap Empu Danghyang setiap malam penuh orang-orang subak menghadap mohon nasehat ajaran agama terutama dari hal bercocok tanam padi dan palawija lainnya menurut masa (musim) dan hari wewaran (hari-hari baik menurut perhitungan Bali). Sejak sang pendeta ada di sana segala tanam-tanaman dan binatang ternak berhasil baik. Sebab itu setelah Empu Danghyang pergi dari sana, maka oleh orang-orang subak dibuatnya satu pura di bekas tempat asrama sang pendeta (yang dikenal dengan sebutan Pedanda Sakti Bahu Rawuh) di beri nama Pura Air Jeruk, tempat sembahyang mohon keselamatan tanam-tanaman dan binatang ternak. Dan di sana ditanam satu pohon rontal sebagai peringatan ajaran agama yang diberikan oleh sang pendeta.

PURA TUGU

Diceritakan Danghyang Dwijendra berangkat dari Subak Laba pergi ke timur pula menyusuri pantai laut. Setelah tiba di Rangkung lalu berbelok ke utara. Sesudahnya di hulu desa Tegal Tugu sang pendeta berhenti di luar suatu kahyangan.

Kemudian keluar seorang pamangku (pendeta pura) dari dalam pura setelah menyapu melakukan pembersihan, datang kepada sang pendeta yang sedang berhenti di luar pura. Setelah bertemu sang pamangku berkata dan menyuruh sang pendeta menyembah ke dalam pura. Sang pendeta tidak membantah, menuruti permintaan pamangku itu lalu berjalan masuk ke dalam pura, diiringi oleh pamangku tadi. Sang pendeta duduk bersila di halaman pura berhadapan dengan bangunan-bangunan palinggih, lalu melakukan yoga mengheningkan cipta menghubungkan jiwatmanya dengan Tuhan. Tiba-tiba rusak bangunan-bangunan palinggih itu semua. Sang pamangku bukan main terkejutnya dan terharu hatinya melihat keadaan itu, lalu menangis mohon ampun kepada Empu Danghyang disertai permohonan agar sang pendeta menaruh belas kasihan supaya tidak terus puranya mengalami kerusakan dan dapat kembali selamat sebagai sedia kala. Demikian kata sang pamangku seraya menyembah kepada sang pendeta.

Danghyang Dwijendra meluluskan permohonan pamangku itu, dengan jalan yoga dapat pula dikembalikan keselamatan kahyangan itu yang tampak sebagai semula. Sang pamangku sangat  girang hatinya, menyembah berulang-ulang kepada sang pendeta seraya mengucapkan banyak terima kasih. Sang pendeta berkata kepada sang pamangku. “Sri Mangku, ini kancing gelung saya, saya berikan kepada mangku, tempatkanlah di pura ini, dan sesudahnya kahyangan ini diberi nama Pura Tugu”, demikian kata beliau seraya memberikan kancing gelung beliau kepada sang mangku. Sangat gembira pamangku itu menerimanya dan berjanji akan melakukan segala nasehatnya.

GENTA SAMPRANGAN

Setelah selesai persoalan di Pura Tugu maka Danghyang Nirartha meneruskan perjalanan ke arah timur sampai di Samprangan lalu berhenti. Ketika beliau duduk-duduk beristirahat, tiba-tiba terdengar oleh beliau suara genta yang digoyang-goyang-kan memenuhi angkasa, sangat merdu dan indah dirasa oleh sang pendeta, sehingga lama beliau termenung mengira-ngirakan di mana suara genta itu. Tidak lama antaranya datang dari arah timur seorang pangalu (pedagang) menuntun seekor kuda yang berkalung gentorag (genta) yang suaranya sangat indah dirasa oleh sang pendeta, lalu dipanggil pangalu itu.

Setelah pangalu itu dekat maka kata sang pendeta, “Bolehkah saya minta genta gentorag kalung kuda saudara, untuk saya pergunakan dalam memuja, karena saya tertarik dengan suaranya sangat indah!”.

Orang pangalu itu demi mendengar kata sang pendeta demikian, dengan cepat membuka kalung kudanya, dan dengan hidmat serta tulus ikhlas menghaturkan kepada sang pendeta.

Ketika sang pendeta menerima genta itu dari tangan orang pangalu itu, dengan gembira berkata, “Semoga engkau berbahagia dan selamat sejahtera selalu dalam perlindungan Sanghyang Widhi”.

Sebagai diperciki tirtha amrta perasaan hati pangalu itu ketika mohon diri dan berangkat menuntun kudanya. Genta itu    diberinama “Genta Samprangan”, karena didapat dari Samprangan.

PURA TENGKULAK

Berangkat pula sang pendeta dari Samprangan ke timur sampai di desa Syut Tulikup, di pinggir kali beliau berhenti duduk-duduk. Kemudian datang beberapa orang turut duduk menghadap sang pendeta, dengan hormat menyapa sang pendeta menanyakan dari mana datang ke mana tujuannya. Setelah sang pendeta menerangkan halnya berkelana menjelajah pulau Bali, maka mereka menyuruh salah seorang di antaranya memanjat pohon nyiur memetik buah kelapa muda (kelungah) untuk dihaturkan kepada sang pendeta.

Yang disuruh segera memanjat sepohon nyiur memetik sebuah kelungah, dan sesudah kelungah itu dikasturi (dipotong bagian tampuknya) lalu dihaturkan kepada sang pendeta untuk diminum.

Sang pendeta menerima kelungah itu dengan ucapan terima kasih. Sebagai biasa apabila sang pendeta akan minum atau akan bersantap sesuatu apapun, selalu didahului dengan ucapan-ucapan weda mantram yang mengandung ucapan syukur kepada Tuhan, barulah diminum atau disantap. Setelah selesai sang pendeta minum airnya, maka kelungah itu dipecah dua untuk disantap isinya. Sang pendeta menyantap isi kelungah itu perlahan-perlahan sambil bercakap-cakap kepada orang-orang desa di sana. Orang-orang itu menjelaskan bahwa kesejahteraan dan kemakmuran mereka kurang memuaskan, karena sering diserang penyakit dan tanam-tanamannya kurang berhasil. Sang pendeta menasehatkan apabila ada halangan sesuatu, agar beliau dipanggil secara batin, tentu beliau akan datang secara niskala memberi pertolongan memohonkan kepada Tuhan agar halangan itu bisa dimusnahkan. Setelah sang pendeta habis bersantap lalu berangkat arah ke selatan diiringi oleh orang-orang yang menghadap itu sampai di tepi pantai laut.

Setiap malam celebongkakan (pecahan) kelungah yang isinya santap oleh sang pendeta dilihat oleh orang-orang Syut menyala sebagai bulan, sehingga seluruh orang desa dapat menyaksikan setiap malam celebongkakan kelungah itu bercahaya gemilang sebagai bulan, dan dapat dirasakan di tempat itu ada sesuatu kekuatan gaib.

Oleh karena itu orang-orang desa sepakat untuk membuat suatu pura di sana untuk memohon kepada Tuhan untuk keselamatan dan kemakmuran desa. Pura itu diberi nama Pura Tengkulak.

PURA GOWA LAWAH

Diceritakan Danghyang Dwijendra terus berjalan ke timur menyusur pantai laut, sampai di Sowan Cekug, mengalami ombak yang besar dan hebat sebagai barisan bukit-bukit berkejaran menebah pantai dan melimbur segala sesuatu yang ada di tepi pantai. Suaranya gemuruh riuh tak putus-putusnya seakan-akan laut itu marah hendak menghancurkan daratan, namun demikian yang bekas dilandai ombak terus dilewati dengan selamat sampai lewat dari pantai Gelgel. Dari sana terus juga ke timur melalui pantai Kusamba dan akhirnya sampai pada suatu goa yang penuh dengan kelelawar bergantungan di dalamnya, suaranya riuh hiruk-pikuk tidak putus-putusnya laksana bunyi-bunyian keindahan goa itu. Sebab itu goa itu disebut Goa Lawah (goa kelelawar). Di atas goa itu penuh dengan bunga-bunga yang sedang kembang mekar, baunya harum disebarkan oleh angin sepoi basa, dapat menenangkan batin melalui penciuman. Dari sana tampak pula keindahan pulau Nusa Penida. Segala keindahan itu menawan hati Empu Danghyang sehingga berkenan menginap beberapa malam di sana.

Lambat laun di tempat Danghyang menginap dibangun orang suatu kahyangan dinamai Pura Goa Lawah. Setelah beberapa malam sang pendeta menginap di Goa Lawah lalu kembali ke Gelgel.

Tidak terperikan gembira hati Sri Dalem Baturenggong tatkala Empu Danghyang datang kembali dengan tidak kurang suatu apa. Dalem menghaturkan sebuah rumah lengkap dengan halamannya yang indah kepada gurunya dan rakyat 200 orang sebagai pelayan. Tiap malam Dalem menghadap gurunya untuk memperdalam ajaran batin Ketuhanan, terutama ajaran ilmu Kalepasan (moksa) untuk bersatu kepada Ida Sanghyang Widhi.

PURA PONJOK BATU

Beberapa bulan kemudian, Danghyang Nirartha berniat akan melihat-lihat daerah Bali Denbukit, yaitu daerah Bali utara dan apabila ada kesempatan akan terus ke Sasak (Lombok) untuk mengetahui agama yang dipeluk di sana. Dalem Baturenggong berkenan akan niat gurunya itu, dengan harapan jangan lama-lama bepergian. Pada suatu hari Empu Danghyang berangkat dari Gelgel arah ke utara dengan melalui barisan bukit-bukit akhirnya tiba di pantai arah barat laut dari Gunung Agung.

Di sana ada suatu tanjung yang terjadi dari tumpukan batu bulatan atau batu gunung  yang ditutupi dengan selaput lumut yang hijau warnanya, dinaungi oleh tumbuhan semak-semak yang muncul dari celah-celah batu. Di sana beliau berhenti di tempat ketinggian dan memperhatikan pemandangan ke laut yang luas laksana hamparan permadani beludru membiru menutupi setengah permukaan dunia dari barat, utara dan timur. Bila matahari telah tinggi, angin bertiup dari timur kian lama kian deras, ombak laut tampak bergulung-gulung menggunung besarnya, berlari berkejar-kejaran menuju tepi pantai, masing-masing membanting diri di tepi pantai yang berbatu-batu, membuih memutih indah tampaknya.

Pada suatu ketika ada sebuah perahu terdampar di sebelah timur dari tanjung (ponjok) batu tempat sang pendeta duduk yang kebetulan pantainya berpasir. Tiangnya patah, kain layarnya robek-robek, tali-temalinya berputusan, tubuh perahu itu dilemparkan dan dibanting oleh ombak yang bergulung menggunung. Anak buahnya semua pingsan mabuk laut, lemas menggeletak di pasir sebagai tak berjiwa lagi. Empu Danghyang, demi melihat keadaan yang mengerikan dan menyedihkan itu, segera datang menolong anak buah perahu itu, dengan diberi kekuatan gaib(bebayon). Masing-masing bisa ingat dan duduk di pasir. Setelah mereka mengetahui bahwa yang menolong itu adalah Empu Danghyang maka semuanya menyembah seraya mengucapkan terima kasih.

Danghyang Nirartha bertanya, “Dari mana engkau sekalian?”.

Seraya menyembah juragan perahu itu menjawab, “Ya sang pendeta, kami bertujuh orang dari Sasak hanyut dibawa arus hampir satu bulan diombang-ambingkan ombak kesana-kemari, sehingga perbekalan kami habis. Entah berapa hari kami tidak makan, kami tidak tahu karena tidak sadar dengan diri akibat kelaparan serta mabuk laut. Tidak ada harapan untuk hidup lagi. Segalanya kami serahkan kepada Allah. Kami mengaturkan banyak terima kasih ke hadapan sang pendeta karena pertolongan yang suci, menghidupkan kami”.

Empu Danghyang menasehatkan anak buah perahu itu minum air dan membersihkan diri pada mata air yang baru-baru saja timbul di tepi pantai itu, dan sesudahnya agar mencari buah-buahan untuk menyegarkan badan di dalam hutan yang tidak jauh dari sana, besok pagi baru berlayar ke Sasak, sang pendeta juga akan turut. Tidak diceritakan anak buah perahu itu menginap tidur dengan lelapnya semalam di pantai laut itu. Besok paginya semua bangun dengan segar bugar kembali. Tenaganya seperti sedia kala. Ombak laut pada hari itu mulai teduh dan angin bertiup lembut dari barat. Sang pendeta menasehatkan bahwa hari itu baik untuk berlayar ke Sasak dan beliau akan turut. Anak buah perahu semua menaruh kepercayaan bahwa sang pendeta memiliki kekuatan yang luar biasa sebagai utusan Allah. Sebab itu mereka itu menuruti nasehat sang pendeta, mendorong bersama-sama perahunya ke permukaan laut lalu berlayar. Sang pendeta duduk di atas atap perahu sambil melihat-lihat pemandangan dan keadaan cuaca, kadang-kadang tampak beliau itu merenung bermeditasi. Anak buah perahu semuanya heran, karena perahunya berlayar lancar ke timur sekalipun tidak memakai layar dan berkemudi patah. Laut di antara pulau Bali dan pulau Lombok besar juga namun tidak menjadi halangan sesuatu apa dan kemudian turun di pantai yang teduh ombaknya yaitu di Karang Bolong.

Diceritakan kembali perihal keadaan di Ponjok Batu, setiap malam  tampak dilihat oleh orang-orang yang   berdekatan di sana bahwa batu-batu bekas peristirahatan Danghyang Nirartha di sana menyala terus-menerus. Sebab itu tiap-tiap hari banyak orang-orang datang ke sana bersembahyang mohon keselamatan dan akhirnya dibuat suatu Pura dengan bangunan Sanggar Agung (tempat memuja kebesaran Hyang Widhi) dinamai Pura Ponjok Batu.

TUAN SEMERU DAN PURA SURANADI

Setibanya di Sasak (Lombok) Danghyang Nirartha mengajarkan Agama Islam Waktu Tiga kepada orang-orang Sasak, sehingga beliau itu dianggap guru (nabi) yang digelari Tuan Semeru. Sebab itu baliau berkenan membuat suatu syair bernama Tuan Semeru bertembang Dangdang. Asrama tempat beliau mengajar agama yang terutama diberi nama Suranadi, yaitu suatu asrama yang sangat indah diapit oleh dua buah telaga yang penuh dengan pohon bunga yang harum.

Karena kebesaran dan kesaktian jiwa beliau maka di pinggir asrama itu muncul empat buah mata air yang disebut Catur Tirtha, yaitu tirtha panglukatan, tirtha pabersihan, tirta pangentas dan toya racun. Tidak putus-putusnya orang datang dari tempat jauh untuk memohon pembersihan diri terutama yang hendak mengheningkan cipta. Orang-orang yang beragama Islam dan tidak beragama Islam menjadi satu hidup rukun tidak pernah ada percekcokan atau permusuhan akibat kesucian batin sang pendeta mengajarkan agama. Beliau menjelaskan bahwa tujuan agama itu tidak ada berlainan kecuali satu kepada Ida Sanghyang Widhi yang disebut juga Tuhan Allah. Yang berbeda hanya dalam pelaksanaannya dan bahasanya. Pelaksanaannya pun sesungguhnya satu juga, yaitu membuat orang susila berjiwa tenang, dapat mengatasi segala serangan suka duka dunia. Tentang bahasanya, bahasa apapun dipergunakan boleh saja, yang terutama bahasa batin setiap orang.

NASEHAT KEBATINAN KEPADA SERI SELAPARANG

Setelah lama diam berasrama di Suranadi dan telah dianggap cukup memberi ajaran agama Islam Waktu Tiga, maka Danghyang Nirartha berniat akan melawat ke Sumbawa. Pada suatu hari beliau berangkat dari Suranadi ke timur menuju pantai laut timur untuk menyeberang.

Diceritakan Seri Selaparang (Raja Lombok Timur) mendengar bahwa ada seorang pendeta sakti yang bernama Tuan Semeru tiba di pantai timur hendak menyeberang ke Sumbawa, maka tergesa-gesa beliau datang menjemput sang pendeta dengan maksud menghaturi singgah ke purinya untuk mohon nasehat-nasehat agama. Setibanya di sana segera menghadap sang pendeta menghaturi singgah ke purinya.

Tetapi sang pendeta minta maaf tidak dapat singgah, karena sedang dalam perjalanan pergi ke Sumbawa hendak menengok saudara sepupu baliau di sana, apa masih hidup atau tidak.

Kata Seri Selaparang, “Maaf Tuan Semeru, kalau-kalau saya mengganggu perjalanan sang pendeta. Kalau sang pendeta sudi kiranya, saya ingin mendapat nasehat, bagaimana caranya untuk mendapat kebahagiaan hidup? Sekalipun saya dianggap orang yang berkuasa di Sasak Timur namun kebahagiaan hidup itu tidak dapat dicapai dengan jalan kekuasaan, harta benda dan nafsu,” demikian kata Seri Selaparang dengan wajah muka sangat berharap.

Jawab sang pendeta, “Memang tuanku, kebahagiaan itu  tidak dapat dicapai denganjalan kekuasaan, harta kekayaan dan   memenuhi nafsu. Bahkan soal kekuasaan,  harta kekayaan dan nafsu itu pada dasarnya menjadi penghambat kebahagiaan hidup. Susah mencapai bahagia dengan jalan itu.

Padahal seluruh manusia berusaha untuk mendapat kebahagiaan tidak lain dengan jalan berbagai ragam. Ada dengan jalan mengejar kekuasaan, mengejar harta kekayaan, mengejar memenuhi nafsu, ada dengan jalan jahat, curang, memalsu, menipu, ada yang terang-terangan, ada yang sembunyi-sembunyi dan lain sebagainya. Sesungguhnya sudah ada diturunkan ajaran untuk mencapai kebahagiaan hidup oleh Tuhan Allah yang disebut Agama. Semua agama tujuannya satu-tidak dua, yaitu untuk kebahagiaan hidup manusia. Kalau ada orang mengatakan dirinya beragama dan ia tidak merasakan dirinya berbahagia, jangan menganggap agama itu salah, sebab ia tidak melakukan ajaran agama dengan tepat. Sebab itu setiap orang bebas memilih agama yang dipeluknya sebagai pedoman hidup yang kira-kira dapat dilakukannya dengan tepat. Singkatnya ajaran agama itu adalah ajaran Ketuhanan yang berkuasa akan mempengaruhi pikiran atau batin manusia menjadi suci, karena suci itu menimbulkan rasa bahagia, bahan menghadapi baik buruk pengaruh dunia. Memang baik buruk dan suka duka itu selamanya ada dan memang demikian sifat dunia, sebagaimana halnya di sebelah hati kita ada juga empedu yang pahit rasanya. Kalau orang telah suci pikirannya atau batinnya, sekalipun ia berkedudukan tinggi dan berkuasa, kaya raya, beristri lebih dari satu dan lain sebagainya, tidak ada tergangggu kebahagiaannya, karena dibentengi oleh kesuciannya. Hatinya tetap bersih, tidak berani menyeleweng dari hukum agama, hukum negara, tidak berani berlaku curang, palsu, menipu,dan selamanya berlaku jujur, adil, disiplin dalam segala tugas kewajibannya. Pikiran yang demikian itu laksana air tirtha suci merupakan pembersih diri alam sekala sampai niskala (lahir sampai batin), sebagai halnya dengan nabi dapat mencapai alam bahagia tinggi adalah karena kesucian hatinya”. Demikian nasehat Danghyang Bawu Rawuh.

Seri Aji Selaparang dengan senang menerima nasehat Tuan Semeru demikian. Lalu mengucapkan banyak-banyak terima kasih dan selamat jalan, akhirnya mohon diri. Pantai laut tempat pembicaraan itu kemudian disebut Labuhan Haji.

GUNUNG API TAMBORA

Perahu yang kandas di Ponjok Batu dan yang ditumpangi oleh sang pendeta ke Sasak, kini telah menanti di pantai dengan perlengkapan yang sempurna, bersiap akan menyebrangkan sang pendeta ke Sumbawa. Sesudah sang pendeta habis bercakap-cakap lalu naik ke perahu dan terus berlayar. Tak lama antaranya telah tiba di pantai Sumbawa, perahu berlabuh dan sang pendeta turun ke darat dengan pelan-pelan diiringi juragan perahu (kepala anak buah perahu). Di jalan banyak orang yang dijumpai atau berpapasan, semuanya mengelak atau minggir memberi jalan kepada sang pendeta yang baru datang dengan sikap menundukkan kepala, ada yang melirik memperhatikan, semuanya takjub melihat perbawa wajah muka sang pendeta sungguh-sungguh angker dan suci tak ada bandingannya.

Ada diantaranya yang bertanya kepada juragan perahu yang mengiring, “Siapakah orang yang baru ini?”

Juragan perahu menjawab dan menjelaskan, “Orang ini adalah seorang pendeta yang suci, bernama Tuan Semeru, sungguh-sungguh suci dan sakti tak ada bandingannya berasal dari Daha Jawa Timur. Kami pernah mendapat bahaya hanyut. Perahu kami dibawa arus hampir sebulan lamanya sampai perbekalan kami habis, sehingga kelaparan dan mabuk laut, pingsan tidak sadarkan diri, akhirnya kandas di pantai pesisir Bali. Beliau Tuan Semeru yang menolong memberikan kami hidup kembali, sebab itu kami mengiring beliau sebagai pembalas jasa dengan hati yang sungguh-sungguh bakti. Beliau mengatakan, konon ada saudara sepupu beliau disini, sebab itu beliau datang kemari ingin jumpa kepada saudara sepupunya kalau masih hidup”.

Jawab orang Sumbawa itu, “O … ya, junjungan kami yang dari Majapahit itu telah pulang ke alam baka dan telah lama sekali”.

Demikian percakapan mereka itu, namun sang pendeta terus saja berjalan sampai ke kaki gunung berapi yaitu Gunung Tambora.

Di sana baru beliau berhenti dan bermalam di sebuah pondok orang tani. Yang punya pondok menerima dengan hormat Tuan Semeru bermalam di sana. Beliau disuguhi ketela rebus dan pisang rebus ala kadarnya, karena sawah tegalnya tidak menghasilkan tahun itu, sebab tanaman padi gagal dan palawija tidak jadi karena diserang hama penyakit ulat dan belalang.

Besok paginya Kepala Desa mendengar ada seorang pendeta sakti mengunjungi daerah desanya. Segera ia menghadap kepada sang pendeta di pondok orang itu. Setelah bertemu Kepala Desa dengan  khidmad berjabat tangan dan mencium tangan sang pendeta.

Sesudah sama-sama duduk Kepala Desa bertanya kepada sang pendeta, “Dari mana datang dan apa kepentingan beliau datang ke Sumbawa”. Jawab sang pendeta, “Bapak dari Bali, tapi sudah lama diam di Sasak. Bapak datang ke mari sekedar ingin mengetahui keadaan alam di sini, terutama ingin mengetahui gunung api Tambora dari dekat”.

Kalau demikian, Tuan pendeta, kami menghaturi sang pendeta pindah menginap di rumah kami selama di Sumbawa, karena rumah kami cukup besar dan ada tempat yang layak untuk Tuan pendeta. Lain dari itu kami permaklumkan bahwa sawah tegal desa kami di pegunungan ini sejak lama diserang hama penyakit ulat dan belalang sehingga segala tanam-tanaman tidak menjadi. Karena itu rakyat Tuan pendeta di sini mengalami kekurangan bahan makanan, sehingga hidupnya dalam kesulitan besar. Kedatangan Tuan pendeta sekarang ini, kami anggap dari Tuhan Allah menolong kemelaratan hidup umatnya di sini. Kesimpulannya kami mohon tolong dengan segala hormat agar tuan pendeta memberikan hidup rakyat di sini, dengan mengusir atau memusnahkan hama penyakit tanam-tanaman itu”.

Sang pendeta menjawab, “Kalau begitu, baiklah nanti malam dicoba, supaya semua orang yang punya sawah ladang mengisi sawah ladangnya suatu pedupaan yang berisi api dan kemenyan yang harum yang mengepul asapnya semalam-malaman. Bapak nanti memuja dari suatu tempat, memohonkan kepada Tuhan dan Dewa di Gunung Tambora agar seluruh hama penyakit itu dipindahkan dari sini” demikian sang pendeta.

Kepala Desa itu sangat gembira hatinya mendengar kata Tuan Semeru, lalu diiring pindah tempat ke rumahnya. Pembantu-pembantunya diberitahu agar memerintahkan orang-orang desa yang punya sawah ladang supaya semua membawa pedupaan berisi api dan kemenyan ke sawah ladangnya masing-masing malam nanti.

Setelah sang surya terbenam dan hari mulai menggelap malam, Tuan Semeru diiringi oleh Kepala Desa pergi ke suatu tempat di ladang yang tanahnya agak tinggi. Di sana beliau itu memuja dengan melakukan Yoga. Sampai larut malam baru kembali ke pesanggrahannya. Keadaan di sawah ladang malam itu diliputi dengan bau harum asap kemenyan. Besok paginya seluruh ulat dan belalang yang biasanya memenuhi sawah ladang tidak ada tampak seekorpun. Bersih sama sekali. Orang-orang desa semuanya heran dengan kesaktian sang pendeta. Semuanya memuji mengatakan sungguh-sungguh seorang pendeta sakti dan suci, tidak memikirkan upah, belas kasihan kepada orang-orang melarat. Semenjak itu tanaman-tanaman di sana menjadi baik subur dan berhasil. Tuan Semeru tiap-tiap hari keluar juga melihat-lihat alam dan tanam-tanaman orang disertai beberapa pengiring. Di dalam perjalanan banyak menjumpai orang-orang sakit yang memohon obat kepada beliau dan semuanya menjadi sehat segar bugar setelah diobati, sehingga beliau masyhur di sana, seorang pendeta sakti dan mampu mengobati orang-orang sakit.

PUTRI DENDEN SARI

Diceritakan di Sumbawa ada seorang penghulu yang banyak punya anak dan kaya. Karena kayanya ia menjadi orang yang sangat kikir. Tiap-tiap hari kerjanya menghitung uang, mengeluarkan dan memasukkan uang, membungakan uang dengan bunga yang tinggi, menggadai benda dengan bayaran berlipat ganda. Ke luar memungut bunga uang, pulang memasukkan dan menghitung uang. Demikian saja kerjanya. Anaknya banyak tidak diperhatikan sandang pangannya, sehingga hidupnya melarat. Ada di antaranya anak wanita bernama Si Denden Sari baru berumur 6 tahun, dalam keadaan sakit. Ia sejak kecil tidak dihiraukan. Akhirnya keras sakitnya. Badannya lemas tidak sadar dengan diri untuk beberapa hari.

Penghulu Sumbawa mendengar berita itu di jalan, bahwa ada seorang pendeta sakti mengobati orang sakit sangat makbul. Penghulu Sumbawa tergerak hatinya untuk mohon tolong kepada sang pendeta mengobati sakit anaknya, karena dianggapnya tidak dapat lagi ditolong. Demikian pikirnya lalu ia pergi ke pesanggrahan sang pendeta.

Tiada diceritakan betapa pertemuanya, kemudian tampak sang pendeta diiringi oleh penghulu datang menengok anak yang sakit. Danghyang Nirartha melihat dan memperhatikan anak yang sakit itu  dalam keadaan sakit payah, nafasnya terengah-terengah, mukanya pun pucat pasi seakan-akan mayat, tetapi cantik bentuknya.

Sang penghulu berkata kepada sang pendeta, “Ya Tuan pendeta, kami mohon dengan hormat sudi apalah kiranya tuan pendeta mengembalikan jiwanya supaya kembali anak kami. Kalau ia bisa hidup kembali kami akan menghadiahkan anak kami kepada tuan pendeta menjadi budak pendeta”. “Baiklah kalau begitu!” jawab Tuan Semeru, “Bapak minta anak ini akan bapak bawa ke Bali!”. “Silakan tuan pendeta,” kata penghulu Sumbawa, “Kami dengan tulus ikhlas mengaturkan”.

Empu Danghyang sangat belas kasihan melihat anak yang sakit itu, lalu diraba mukanya seraya diberikan bebayon (kekuatan gaib Ketuhanan). Beberapa  detik saja antaranya maka anak itu tersenyum lalu bergerak duduk dengan cahaya muka yang segar.

Empu Danghyang berkata, “Anakku sekarang bapak menjadi bapakmu, semoga engkau hidup kuat, mari bersama-sama pergi ke Bali”. Anak itu menjawab, “Ya” lalu bergerak bangun dengan gembira. Kepala penghulu Empu Danghyang berkata, “Bapak sekarang mohon diri, dan anak ini bapak bawa”. Jawab penghulu, “Silakan tuan pendeta, selamat jalan! Anakku Denden Sari, iringlah tuan pendeta yang suci, beliau menghidupkan engkau!”.

Sang pendeta berjalan dengan tenang seraya memimpin anak kecil itu menuju ke pelabuhan. Tidak diceriterakan halnya dalam perjalanan, akhirnya tiba di pulau Bali dan menuju asrama Mas. Anak itu terus sehat-sehat saja tidak pernah sakit. Setelah anak itu meningkat gadis, rupanya sungguh-sungguh cantik, lalu dikawinkan dengan cucu beliau, yang bernama Ida Ketut Buruan Manuaba.

BUAH TANGAN GURU DAN MAHAPUTRA

Ketika Danghyang Dwijendra kembali ke Gelgel bukan main gembiranya Dalem. Setiap malam membicarakan ilmu batin dan Ketuhanan. Dan Pangeran Dawuh tetap juga menghadap gurunya untuk mohon nasehat-nasehat. Segala nasehat-nasehat gurunya itu telah dicatat dalam sebuah tulisan (rontal) yang diberi judul “Wukir Padelegan”.

Untuk mengetahui berapa banyak buah tangan guru (Danghyang Nirartha) dan mahaputranya (pangeran Dawuh), di bawah ini dicantumkan nama-namanya :

Buah tangan Pangeran Dawuh, yaitu :

1. Rareng Canggu

2. Wilang Sebun Bangkung

3. Wukir Padelegan

4. Sagara Gunung

5. Aras Negara

6. Jagul Tuwa

7. Wilet Manyura Tahun Caka 1414

8. Anting-Anting Timah

9. Kakawin Arjuna Pralabda

Sekian buah tangan Pangeran Dawuh Baleagung.

Buah tangan Danghyang Nirartha, yaitu :

1. Nusa Bali Tahun Caka 1411

2. Kidung sebun Bangkung

3. Sara Kusuma

4. Ampik

5. Legarang

6. Ewer

8. Majadanawantaka

9. Wasista Sraya

10. Dharma Pitutur

11. Kawya Dharma Putus

12. Dharma Sunya Kling

13. Mahisa Megat Kung Tahun caka 1458

14. Kakawin Anyang Nirartha

15. Wilet Demung Sawit

16. Gagutuk Menur

17 Brati Sasana

18. Siwa Sasana

19. Tuan Semeru

20. Putra Sasana

21. Kidung Aji Pangukiran

 

MADIKSA DAN MEMBAGI WARISAN

Pada suatu ketika Danghyang Nirartha mempermaklumkan kepada Dalem Baturenggong, bahwa beliau itu akan pulang ke desa Mas.

Katanya, “Nanak Baturenggong, ingatkan segala nasehat bapak yang sudah-sudah. Kini bapak akan pulang ke Mas hendak melaksanakan upacara padiksan (pembersihan menjadi pendeta) kepada 4 orang anak bapak yang akan mengganti bapak, yang akan melanjutkan tugas bapak sebagai brahmana di dunia, sebab bapak akan segera pulang ke alam Siwa Loka. Hari padiksan itu nanti pada hari tilem sasih kalima (bulan mati sekitar Nopember). Jangan anak kecewa sepeninggal bapak. Pilih di antara 4 anak bapak sebagai bhagawanta atau pathirthan (pendeta khusus kerajaan) nanak!”. Demikian nasehat Empu Danghyang. Dalem menyembah dengan khidmat tanda menerima segala nasehat Dhanggurunya.

Setibanya Danghyang Dwijendra di desa Mas, dititahkan Pangeran Mas mempersiapkan segala upacara padiksan untuk dilaksanakan 30 hari yang akan datang

Kepada putra-putranya beliau berkata, “Anak-anakku, bapak akan segera pulang ke Siwa Loka, sebab itu engkau berempat akan segera bapak diksa, dinobatkan sebagai pendeta menggantikan tugas bapak sebagai guru loka di dunia.” Putra-putranya semua menyembah dengan perasaan terharu menjunjung titah ayahnya.

Diceritakan tepat pada hari upacara padiksan itu Sri Aji Dalem Baturenggong datang diiring oleh para punggawa, turut mempersaksikan upacara suci itu. Sesudah upacara selesai, maka Empu Danghyang berkenan memberi nasehat kepada putra-putranya.

Katanya, “Anak-anakku sekalian, kini engkau telah resmi duduk sebagai pendeta yang bertugas untuk menegakkan kesejahteraan dunia dan jangan sekali menyimpang dari dharmaning (tugas dan kewajiban dari) seorang pendeta, misalnya : jangan suka minum tuak dan segala minuman yang mengandung alkohol yang dapat menyebabkan mabuk. Dan segala yang bersifat mabuk harus dihindari. Jangan makan daging sapi sebab ia sebagai ibu yang memberi susu kepada kita. Jangan makan daging babi rumah dan ayam itik rumah sebab dianggap kotor suka makan najis dan dihindari segala yang dianggap kotor. Dan jangan kau bertindak iri hati terhadap kakak-adikmu. Boleh engkau ambil-mengambil, boleh engkau sembah-sinembah. Yang tuaan boleh dipakai guru. Tidak boleh berzina, mengambil istri wanita yang telah berlaki. Demikianlah harus juga dinasehatkan kepada turun-turunanmu”. Demikian antara lain nasehat Empu Danghyang.

Selanjutnya Danghyang Dwijendra mengeluarkan harta benda kekayaan beliau seluruhnya, akan dibagikan kepada semua putra-putranya. Dalem Baturenggong turut mempersaksikan pembagian warisan itu, diiringi oleh Sira Arya Kenceng pelayannya Ida Kidul.

Adapun harta benda yang dibagi yaitu : mas, perak, uang kepeng, permata mirah, cincin, tegal sawah, lontar-lontar pustaka, alat pawedaan (pemujaan kependetaan), rakyat dan lain-lainnya. Tempat membagi harta benda itu di luar geria asramanya di Mas. Harta benda itu dibagi menjadi 5 bagian untuk putra-putranya 6 orang, yaitu : di luar geria itu diletakkan 5 buah balai-balai amanca desa (lima arah) yakni : di timur, di selatan, di barat, di utara dan di tengah. Masing-masing diisi harta benda, yang satu berisi alat pawedaan, pangrupak (pisau tulis untuk lontar) yang bernama Ki Tamlang, keris yang bernama Ki Sepak, genta 2 buah yang bernama Ki Brahmana dan Ki Samprangan dan uang kepeng 20.000. Setelah selesai harta benda dibagi maka Seri Aji Baturenggong mempersilahkan guru putra semua mengambil bagian. Katanya, “Singgih Empu Danghyang sekalian, sekarang boleh mengambil bagian masing-masing menurut minatnya masing-masing”.

Empu Kulon lebih dulu mengambil bagian yaitu : mas, perak, uang kepeng, permata, surat tegal sawah dan rakyat, akibatnya akan mempunyai keturunan banyak, tetapi kurang ilmu.

Empu Lor mengambil surat tegal sawah, mas, perak, uang kepeng, permata perhiasan dan rakyat, akibatnya anak banyak kepandaian kurang.

Empu Wetan mengambil surat tegal sawah, mas perak, uang kepeng, permata perhiasan dan rakyat, maknanya anak banyak kepandaian kurang.

Ida Putu Sangsi dan Ida Putu Bindu mengambil bagian satu bagian dibagi dua berupa sawah dan uang, maknanya kepandaian kurang, tetapi turunannya banyak kemudian.

Empu Kidul masih tetap tenang diam sebagai tidak menghiraukan bagian, karena asyik melihat saudara-saudaranya berebutan mengambil bagian dipegang oleh rakyatnya, sehingga Dalem Baturenggong mengingatkan Empu Kidul, apa sebabnya diam saja tidak mengambil bagian. Karena itu baru Empu Kidul mengambil bagian sisa-sisanya. Yang didapat lontar pustaka, alat pawedaan, 2 buah genta Ki Brahmana dan Ki Samprangan, pisau Pangrupak Ki Tamlang dan keris Ki Sepak, maknanya penuh kepandaian, kesaktian, cakap segala kesenian tetapi turunan kurang, dan mengambil Pan Geleng pelayannya Bandesa Mas.

Setelah selesai pembagian, masih ada ketinggalan seorang rakyat, seekor ayam kurungan dan sebatang pisau Pangrupak. Empu Kulon mengambil rakyat, Empu Lor mengambil ayam kurungan dan Empu Kidul mengambil pisau Pangrupak.

PURA PANGAJENGAN

Setelah selesai semuanya maka Danghyang Dwijendra mengucapkan selamat tinggal pada hadirin semuanya, sebab akan berangkat mencari tempat yang suci untuk pulang ke Siwa Loka (sorga). Putra-putranya semua menyembah dengan sujud, demikian pula Seri Aji Baturenggong dan Pangeran Dawuh Baleagung, Para Arya dan rakyat yang hadir semua menyembah dengan tulus bakti.

Setelah itu Dhanghyang Dwijendra berjalan dengan tenang sendiri arah ke Selatan, tidak diijinkan orang mengiringkan, tidak membawa benda apa-apa kecuali peti kecil tempat pacanangan (tempat sirih). Setelah beberapa hari lamanya Empu Dhanghyang berjalan mengembara memasuki tempat-tempat yang suci tidak ada orang mengetahui, pada suatu hari ada orang memberitakan kepada Pangeran Mas bahwa Empu Danghyang sedang ada di penghulu sawah di antara desa Sumampan dengan Tangkulak di suatu tempat yang sangat suci, dilihat sedang menulis lontar.

Beberapa hari kemudian kebetulan hari Panampahan Kuningan (sehari sebelum hari raya Kuningan) Bandesa Mas bersama istrinya pergi ke penghulu sawah dengan membawa hidangan makanan yang nikmat-nikmat rasanya akan diaturkan kepada Empu Danghyang, kalau beliau masih ada di sana, karena baktinya kepada guru (nabe). Ketika empu Dangguru melihat siswanya datang hendak menghadap.

Lalu berkata menyapa dengan tersenyum, “O. nanak datang, silakan datang kemari, bapak mengijinkan nanak menghadap!” (Catatan : kata “nanak” adalah suatu kata yang biasa dipergunakan oleh seorang guru kebatinan kepada muridnya yang resmi. Padahal Bandesa Mas ini adalah mertua dari Empu Danghyang, atau Empu Danghyang anak menantu dari Bandesa Mas. Kiranya pengaruh mertua dibanding dengan guru, lebih berpengaruh kedudukan guru di batin orang).

Bandesa Mas datang menghadap dengan menyembah kemudian katanya, “Singgih Empu Danghyang, kami datang menghadap ini untuk mengaturkan sekedar santapan, karena hari ini hari Panampahan Kuningan, sekedar sebagai tanda bakti kami kepada Dhangguru”. Jawab Empu Danghyang. “Dengan senang hati bapak menerimanya. Coba tolong carikan bungkak (kelapa muda kecil) untuk membersihkan makanan ini supaya suci!”.

Istri Pangeran Mas dengan segera minta tolong kepada orang untuk memanjat pohon nyiur memetik sebuah bungkak. Tidak lama antaranya bungkak sudah siap dihaturkan dengan sudah berkasturi (dilobangi sebagian tampuknya). Setelah hidangan selesai dipersiapkan oleh istri Pangeran Mas, maka Empu Danghyang mengucapkan mantram lalu bersantap. Mungkin karena kekuatan gaib mantram yang diucapkan oleh Empu Danghyang maka seluruh makanan berbau harum. Setelah sang pendeta bersantap, sisanya dinikmati pula oleh Pangeran Mas bersama istrinya. Sesudah selesai semuanya, Pangeran Mas beserta istrinya menyembah lalu mohon diri dengan gembira.

Setelah itu Danghyang Nirartha meninggalkan tempat itu. Namun tempat bekas sang pendeta bersantap itu dilihat oleh orang-orang desa setiap malam bercahaya terang dan berbau harum semerbak. Karena itu di tempat itu dibuat suatu palinggih pemujaan Tuhan disebut namanya : Pura Pangajengan, sebab tempat pangajengan (bersantap) Pedanda Sakti Bahu Rawuh.

PURA MASCETI

Diceritakan setelah Danghyang Nirartha pergi dari penghulu sawah terus menuju pantai laut selatan, berjalan perlahan-lahan sendirian di desa Rangkung ke barat mendekati pelabuhan Masceti. Setibanya di sana dirasa ada sapuan angin sepoi-sepoi membawa bau yang harum semerbak menyedapkan perasaan batin suci. Dirasa oleh beliau bahwa hal itu adalah tanda makhluk roh kudus atau Dewa yang turun mendekati beliau. Timbul semangatnya gembira berjalan, tiba-tiba terlihat oleh beliau suatu cahaya gemilang di dalam Pura Masceti, lalu beliau masuk ke dalam kahyangan itu, duduk dengan tertib mengucapkan Weda mantram menyembah Tuhan.

Bhatara Masceti terperanjat melihat, segera turun mendekati memegang tangan Empu Danghyang seraya berkata dengan halus : “Tidak patut Danghyang menyembah, karena sudah suci menunggal dengan  Tuhan dan sudah patut kembali ke alam Acintya Loka, apa sebab Danghyang masih suka di dunia?“. Jawab Danghyang, “Saya masih menunggu saat turunnya perintah dari Tuhan”. “Kalau begitu,” jawab Bhatara Masceti, “Mari kita bersama-sama bercengkrama di pinggir laut”.

PURA PETI TENGET

Dhanghyang Dwijendra mengiring Bhatara Masceti bercengkrama di daerah pantai, tiada berapa lama karena kesaktian Bhatara Masceti telah sampai di pulau Serangan bagian barat lautnya.

Di sana beliau bercakap-cakap soal Ketuhanan. Kemudian ada orang melihat cahaya cemerlang merah dan kuning. Lalu menyelidiki. Didapati Empu Danghyang bercakap-cakap dengan orang tidak kelihatan nyata.

Maka ia memberanikan diri bertanya, “Tuan pendeta, maafkan saya bertanya, siapakah tuan hamba datang ke daerah kami?”. “Bapa Pedanda Sakti Bahu Rawuh,” jawab Danghyang. “Bapa ke mari mengiring Bhatara Masceti bercengkrama, dulu bapak telah pernah ke mari”. “Kami menghaturkan selamat datang,” kata orang Serangan. “Silakan tuan hamba berdua diam di sini, kami orang-orang Serangan akan nyungsung (memuja) Sesuhunan (junjungan)”. “Baiklah,” jawab Danghyang. “Buatlah di sini sebuah candi yang akan disungsung (dipuja) oleh jagat dan buat pula sebuah gedong pelinggih Bhatara Masceti, karena beliau bapak iring sampai ke mari!

Orang Serangan itu menyembah dan berjanji menuruti nasehat Danghyang. Empu Danghyang bersama Bhatara Masceti pergi dari Serangan melanjutkan cengkramanya, tiba-tiba telah sampai di pantai laut Kerobokan. Dari sana dilihat oleh Empu Danghyang Tanjung Hulu Watu sebagai perahu hendak berlayar memuat orang-orang suci menuju tepi langit dan terus ke sorga. Bhatara Masceti memaklumi pikiran Danghyang Nirartha demikian. Lalu berkata, “Danghyang maaf saya mohon diri di sini, tidak boleh orang ngeluhur (pergi ke sorga)”, demikian katanya lalu menggaib.

Danghyang Nirartha berjalan akan menuju Hulu Watu, pecanangannya (tempat sirih) diletakkan. Ketika itu beliau melihat ada orang halus bersembunyi di semak-semak karena takut melihat perbawa Danghyang yang suci. Danghyang memanggil, “Hai Bhuto Hijo kemari, jangan bersembunyi, jangan takut !”. Bhuto Hijo datang menghadap, duduk menundukkan kepala. Danghyang berkata, “Bhuto Hijo, sekarang engkau aku beri tugas menjaga pecananganku ini, kalau ada yang hendak merusak engkau melawan!”. Bhuto Hijo menyembah menjunjung titah Danghyang katanya, “Hamba mohon pasikepan, senjata untuk menjaga!”.

Danghyang lalu memberi suatu mantram yang sakti, kemudian berkata pula, “Sekarang engkau sudah sakti, engkau jangan lalai menjaga dan nengetang (mengsakralkankan) pecananganku ini. Kini aku memberi nama tegal ini yaitu Tegal Peti Tenget”.

Danghyang Nirartha terus pergi ke Hulu Watu ke tempat kahyangan yang dibuatnya dulu. Setelah tiba di sana  tidak terperikan senang hati beliau, karena tempat itu sunyi hening dan suci, menonjol di atas air laut, pemandangan indah ke seluruh permukaan laut yang dibatasi oleh tepi langit. Di sana beliau menetap seorang diri mengheningkan cipta, menanti panggilan Tuhan untuk ngeluhur, beliau tidak mau memaksakan diri sebelum saatnya tiba.

Pada suatu hari datang Kelihan (kepala desa) Kerobokan bersama beberapa orang kawannya menghadap Empu Danghyang. Setelah duduk menyembah, Danghyang bersabda, “Siapakah engkau ini, ada kepentingan apa kepada bapa?”. Kelihan Kerobokan menjawab, “Singgih sesuhunan, kami ini orang mendapat kesusahan hebat; di daerah kami di tepi pantai ada sebuah tegal, baru sekarang sangat angker sekali, tiap-tiap orang yang datang kesana mencari sesuatu untuk kepentingan hidup, sekembalinya mesti sakit keras dan susah diobati. Telah banyak yang mengalami hal demikian. Beberapa dukun tidak dapat mengobatinya. Kemudian kami dengar sesuhunan ada di sini, sebab itu kami memberanikan diri menghadap untuk mohon urip”.

Belum selesai aturnya lalu Danghyang menjawab, “O, ya, pecanangan bapa ada di sana bapa taruh karena tidak perlu lagi.
Ki Bhuto Hijo menjaganya dan menengetkannya. Siapa saja yang datang ke sana merusak sesuatu, tentu Ki Bhuto Hijo yang menyakiti. Coba sekarang usahakan membangun sebuah kahyangan di sana pelinggih Bhatara Masceti. Bapak dulu dapat mengiring baliau bercengkrama, mula-mulanya ke Sakenan kemudian ke Kerobokan, sampai di sana beliau menggaib. Peti pecanangan bapa di sana bapa taruh dijaga oleh Ki Bhuto Hijo, ia yang nengetang, bapak namai Peti Tenget. Itulah sungsung di sana tempat memuja Tuhan untuk mohon kesejahteraan desa. Tiap-tiap kali terutama pada hari puja wali, berilah Ki Bhuto Hijo cecaron, nasi segehan atanding (korban kecil satu porsi), ikannya jejeron (jeroan) babi mentah, segehan agung, lengkap upakaranya tetabuh tuak arak.Tentu ia tidak menyakiti lagi, bahkan disayang    dan dibantu sembarang kerja
”.

Kelihan  Kerobokan menuruti nasehat Danghyang Nirartha demikian. Kemudian di sana dibangun sebuah kahyangan dinamai Pura Peti Tenget. Semenjak itu Desa Kerobokan selamat sejahtera diberkahi oleh Bhatara Masceti dan Bhatara Sakti Bahu Rawuh atas kehendak Tuhan.

PURA LUHUR HULU WATU

Pada suatu hari Selasa Kliwon Wuku Medangsya Dhanghyang Nirartha menerima wahyu Tuhan bahwa beliau pada hari itu dipanggil untuk pulang ke sorga. Merasa bahagia suci hatinya karena saat yang dinanti-nantikan telah datang. Hanya ada sebuah pustaka belum dapat diserahkan kepada salah seorang putranya. Tiba-tiba Empu Danghyang melihat seorang bandega (nelayan) bernama Ki Pasek Nambangan sedang mendayung jukungnya di laut di bawah ujung Hulu Watu, lalu dipanggil.

Setelah bandega itu menghadap, Danghyang lalu berkata, “Hai bandega, engkau aku suruh menyampaikan kepada anakku Empu Mas di desa Mas, katakan kepada beliau bahwa bapak menaruh sebuah pustaka mereka di sini yang berisi ajaran ilmu kesaktian!”. Jawab Ki Bandega, “Singgih pukulun sang sinuhun,” lalu mohon diri setelah menyembah.

Setelah Ki Pasek Nambangan pergi, maka Danghyang Nirartha mulai melakukan yoga samadhinya, bersiap untuk meninggalkan dunia ini. Beberapa saat kemudian beliau moksa ngaluhur, cepat sebagai kilat masuk ke angkasa. Ki Pasek Nambangan memperhatikan juga hal beliau dari tempat yang agak jauh, namun ia tidak melihat Empu Danghyang, hanya cahaya yang cemerlang dilihat membubung ke angkasa.

Demikianlah akhir riwayat Danghyang Dwijendra. Kahyangan tempat beliau ngaluhur kemudian disebut Pura Luhur, lengkapnya Pura Luhur Hulu Watu.

Pada tiap-tiap pamerajan (pura keluarga) umat Hindu Bali dibuat suatu pelinggih beratap ijuk ditandai dengan limas di atasnya, dinamai pelinggih Gunung Hulu Watu tempat memuja Roh Suci Danghyang Dwijendra atau Bhatara Sakti Bahu Rawuh atau juga Danghyang Nirartha sebagai Guru Agama di  Bali. Diceritakan Ki Bandega Pasek Nambangan telah tiba di Desa Mas dan menghadap Empu Kidul.

Katanya : “Singgih pukulun, hamba ini adalah rakyat Empu, golongan Bandega Tambangan. Hamba diutus oleh sesuhunan Danghyang Dwijendra. Empu dititahkan pergi ke Hulu Watu mengambil pustaka beliau di sana di ujung Bukit Pecatu sebelah barat. Ida sesuhunan telah moksa pulang ke alam niskala. Sekian pesan ayah Empu. Jika pukulun akan ke sana hamba sedia mengantar,” demikian kata Pasek Nambangan.

Empu Kidul mengucap terima kasih kepadanya dan segera berangkat diiringi oleh Pangeran Mas, tidak ketinggalan Pan Geleng dan Ki Bandega.

Tidak diceriterakan dalam perjalanan Empu Mas telah tiba di Bukit Pecatu terus ke Hulu Watu. Setelah ada dihadapan sebuah meru (bangunan suci dengan atap bertingkat) Empu Mas menyembah, kemudian naik ke dalam meru mengambil pustaka tersebut. Sesudah mengambil pustaka itu, Empu Mas mohon diri kembali ke desa Mas bersama seluruh pengiringnya beserta Ki Pasek Nambangan Perahu. Setibanya di Mas, Ki Pasek Bandega bersama  anak istrinya menetap menghamba kepada Empu Mas, diberi tanah pekarangan rumah dan sawah serta 4 ternak.

MEMILIH GURU AGAMA (SIWA / NABHE)

Setelah Empu Mas mamukti keresian (menjalankan kependetaan), maka datanglah Arya Damar (Tegeh Kori), Pangeran Dawuh, Arya Batuparas, Arya Pacung, Arya Caragi, golongan Bandesa Mas, Pasek, Kamasan, Pande, semua sama-sama berguru agama (masiwa) kepada Empu Kidul, sampai dengan turun-temurunnya, masiwa dalam kehidupan dan kematian (panca yadnya)

Empu Wetan sesudah mangresi, datang familinya Pangeran Dawuh Arya Batulepang turunan Pasung Grigis, Arya Pinatih, Dangka Ngukuhi, Brangsinga, Patandakan, Telabah, Tembuku, semuanya masiwa kepada Empu Wetan.

Empu Lor setelah mangresi, datang Arya Cacahe, Arya Tambahan, Arya Jelantik, Batanjeruk, Abyan Tubuh, Gaduh, Arya Belog, sama-sama masiwa kepada Empu Lor.

Empu Kulwan sesudahnya mangresi, datang Arya Buringkit, Arya Kepakisan, Gajahpara, yang mendua pesiwaan Arya Tambahan, Tegeh Kori, Sampih, Pucuk, sama-sama berguru kepada Empu Kulwan.

Tinggal Arya Kenceng dan putra-putranya Dalem Baturenggong belum bernabhe.

Diceriterakan Ida Putu Sangsi dan Ida Putu Bindu pada suatu hari menghadap Dalem Baturenggong di Puri Gelgel bermohon nasehat, bahwa para arya yang belum manabhe sebaiknya masiwa saja kepada Empu Kidul, karena beliau yang memegang seluruh pustaka. Dalem menyetujui.

Ketika para putra Dalem, para Arya dan Wesya penuh menghadap, maka Dalem bersabda “Anakku sekalian, para Arya dan Wesya semuanya yang belum mempunyai Siwa, kiranya baik kalau bersiwa kepada Empu Kidul, karena beliau yang memegang warisan Empu Dhanghyang Nirartha, misalnya pustaka Racadana, bajra (genta) dan alat-alat pawedaan, atau boleh juga kepada Empu Kulon, Empu Lor, Empu Wetan, semuanya itu sama-sama boleh, lain daripada itu tidak boleh. Kalau nanti Ida Putu Sangsi dan Ida Putu  Tamesi menjadi resi, tidak boleh anak-anakku dan adik-adikku para Arya dan para Wesya masiwa kepada adik-adikku dua brahmana tadi, karena beliau beribu pelayan dan pernah menjunjung petaranaku (tilam tempat duduk Dalem), ketika itu belum aku kenal. Jika engkau bersiwa kepadanya niscaya surut kesaktianmu, berkurang rakyatmu, desamu kacau balau, karena murka Sanghyang Sinuhun Kidul”.  Demikian Nasehat Dalem.

Leave a comment

Filed under Articles

MENYIKAPI RADIKALISME AGAMA-AGAMA DI BUMI PANCASILA (dari PERSPEKTIF AGAMA HINDU)


QUESTIONS FOR DISCUSSION

  • Religions are often accused of being co-opted by the powers-that-be to achieve their selfish ends. Do you agree or disagree? Please state your reasons!
  • How does religion, which speak of love, compassion and mercy, also become a tool for violence?
  • All religions have an exclusivistic dimensions. How does this exclusivistic dimension contribute to intolerance and violence?

 

PENDAHULUAN

          Menyimak berbagai kerusuhan yang terjadi selama ini kita melihat betapa beragam bentuk perwujudannya dan betapa pula kompleksitas faktor penyebabnya. Kerusuhan-kerusuhan yang terjadi di berbagai tempat itu terwujud dalam berbagai bentuk kekerasan, penjarahan, dan perusakan, tidak hanya terhadap milik pribadi akan tetapi juga milik pemerintah atau negara bahkan simbol-simbol keagamaan. Kita ragu menyatakan bahwa kerusuhan itu merupakan konflik agama (semata) namun sulit untuk menafikannya sama sekali sebab perusa­kan sejumlah rumah-rumah ibadah yang dianggap sakral dan merupa­kan simbol kehadiran sebuah agama dan komunitas para pemeluknya terjadi. Kemungkinan faktor-faktor lain berperan sebagai sumber penyebabnya juga sukar dibantah. Misalnya masalah kaum pendatang dan penduduk asli tampak kentara dalam kasus Sambas, Kupang, Ambon, Poso, Papua, Lampung dll. di Indonesia, beberapa negara di Asia dan di belahan dunia ini. Kalau dalam semua kasus ini ada bias perbedaan agama kasus yang terjadi di beberapa tempat justru terjadi antara dua suku yang seagama. Mungkin saja kasus-kasus ini sedikit banyak mengandung nuansa kesenjangan ekonomi karena kaum pendatang biasanya bekerja lebih ulet dan lebih berhasil sehingga menguasai sektor perekono­mian lokal. Lalu ada juga yang berkaitan dengan konflik antara rakyat dan penguasa yang mengisyaratkan gejala ketidakpercayaan terhadap aparat keamanan dan pemerintahan. Perusakan markas-markas Polisi dan Kantor-kantor Pemerintah dari Tingkat Desa hingga Kabupaten/Kota (eksekutif) dan juga Dewan Perwakilan Rakyat (legislatif) memperlihatkan kecenderungan itu.

Kasus-kasus kerusuhan di atas memperlihatkan bahwa salah satu tantangan serius yang dihadapi dunia saat ini adalah fenom­ena munculnya budaya kekerasan (genocide?). Fenomena ini sungguh sangat mencemaskan. Ironisnya adalah bahwa gejala sadisme ini tidak hanya dilakukan oleh masyarakat yang mudah main hakim sendiri dengan melakukan bukan hanya sekedar tindakan-tindakan kekerasan akan tetapi juga tindakan kekejaman dan kebengisan yang dilakukan oleh aparat negara seperti sering diungkapkan oleh mereka yang mengalami siksaan ketika diinterogasi. Bahkan kasus yang dapat dikatakan sebagai “kekerasan yang dilakukan oleh negara”. Budaya kekerasan ini ikut mewarnai berba­gai kerusuhan akhir-akhir ini sebagaimana terlihat dari korban-korban yang terbunuh bahkan secara sangat mengenaskan.

Berbagai kerusuhan sosial apalagi budaya kekerasan mengisyaratkan bahwa kemampuan rakyat untuk menangani pluralitas masyarakat dunia sudah sangat menyusut. Gejala ini sangat berbahaya karena plura­litas masyarakat dunia kita cukup kompleks dan sering tumpang tindih sehingga satu insiden kecil bisa berkembang atau dikembangkan menjadi sebuah kerusuhan sosial yang tidak relevan dan tidak masuk akal seperti telah kita alami akhir-akhir ini. Hal ini bisa terjadi karena pluralitas masyarakat kita dihadapkan pada situasi krisis sosial, politik dan ekonomi yang sangat serius dan kom­pleks yang membuat masyarakat kita bagaikan jerami kering di musim kemarau.

PLURALISME : ANTARA REALITAS, KESADARAN DAN SIKAP

Pluralitas masyarakat di manapun adalah sebuah realitas eksisten­sial yang terbentuk dari perbedaan yang ada secara kodrati dalam kehidupan manusia dan masyarakat. Tak seorang manusia pun sama dengan manusia lainnya walau mereka lahir sebagai saudara kembar. Tak ada cap jempol yang sama adalah contoh paling nyata bahwa tak ada dua manusia yang absolut sama. Mungkin saja sangat mirip tapi tidak mungkin persis sama. Sebuah masyarakat dunia terdiri dan terben­tuk dari banyak orang yang merupakan warganya. Kalaulah ada sebuah masyarakat tradisional yang dianggap homogen namun homoge­nitasnya itu relatif sifatnya sebab di dalamnya pasti ada unsur-unsur yang berbeda sehingga tak akan terelakkan adanya heteroge­nitas betapapun kecilnya. Sebuah masyarakat bagaimanapun, bukan­lah sebuah kumpulan makhluk organis yang statis, yang tidak mengalami perubahan dan perubahan itu tentu sangat bervariasi coraknya sehingga memperkaya dan menambah kompleksitas perbedaan. Karena itu tidak mungkin dihindari bahwa pluralitas yang ada secara kodrati itu kemudian secara sosial dan kultural terus mengalami perkembangan dalam gerak dinamika kehidupan manusia dan masyarakat yang multidimensional sifatnya, dan dengan sendirinya akan melahirkan berbagai visi tentang kehidupan dan masa depan.

Untuk batas tertentu pluralitas bisa dilihat sebagai kekayaan namun dalam perkembangannya ia tidak hanya berhenti pada perbe­daan sekedar dan sebagai perbedaan semata tapi mungkin saja perbedaan itu bersifat diametral dan antagonistik sehingga sebenarnya bukan lagi perbedaan melainkan sebuah pertentangan. Tan­tangan yang dihadapi oleh manusia dan masyarakat adalah bukan menghilangkan perbedaan dan pertentangan sebagai realitas sosial dan kultural melainkan bagaimana mengelolanya secara kreatif sehingga terwujud dalam “cooperation” dan “competition”, kerjasama dan persaingan. Dalam perspektif ini “management of con­flict” menjadi sangat penting.

MULTIKULTURISME SEBUAH KENISCAYAAN DI BUMI PANCASILA

Pluralitas yang muncul dalam proses kehidupan dunia kita terwujud dalam dua bentuk : pluralitas horizontal dan pluralitas vertikal. Yang pertama terlihat misalnya dalam perbedaan etnis atau ras dan agama sedangkan yang kedua terlihat umpamanya dalam perbedaan peran politik antara penguasa dan rakyat, dalam kemampuan ekono­mi antara orang kaya dan orang miskin, dan dalam tingkat pendidi­kan antara kaum terpelajar dan masyarakat awam. Tentu saja plura­litas vertikal ini tidak dikaitkan dengan pluralisme tradisional yang memberlakukan perbedaan strata sosial dalam pelembagaan yang bersifat diskriminatif. Kedua-duanya, pluralitas horizontal dan pluralisme  modern yang menjunjung tinggi hak-hak manusia.

Mobilitas sosial yang didukung oleh kemudahan dalam dan untuk bepergian sebagai hasil kemajuan sarana-sarana transportasi mem­buat kontak-kontak horizontal warga masyarakat dengan warga masyarakat lainnya makin sering terjadi dan juga makin luas jangkauannya melampaui batas-batas geografis, lokal, regional bahkan nasional  dan internasional sehingga heteroginitas masyarakat makin kompleks. Perbedaan tingkat dan kadar kemampuan warga masyarakat, baik dilihat dari segi kebendaan, kecerdasan maupun kesempatan untuk memperoleh jalur lembaga pendidikan maupun media massa, mengaki­batkan perbedaan kemampuan untuk mengembangkan diri dan meraih keberhasilan. Akibat lebih jauh adalah terjadinya pluralitas vertikal yang terwujud dalam tingkatan strata politik, ekonomi maupun keterpelajaran. Perlu disadari dan dicatat bahwa plurali­tas walaupun dalam batas tertentu merupakan kekayaan yang memben­tuk mozaik kultural sekaligus potensi dinamika masyarakat dan bangsa di dunia inia namun hal itu juga bisa menjadi sumber konflik sosial. Karena itu diperlukan usaha untuk menumbuhkan kesadaran untuk menerima perbedaan sebagai realitas natural maupun kultural sepanjang fungsional sifatnya dan tidak melecehkan harkat dan martabat kemanusiaan. Dari perspektif ini kita bersinggungan dengan konsep pluralisme.

Pluralisme tentu saja lahir dari kesadaran dan kesediaan menerima perbedaan untuk kemudian mengolahnya, sebagai unsur kreatif masyarakat kita sebagai sebuah kesatuan yang mengandung dan merangkum kemajemukan. Dalam perspektif masyarakat kita yang multietnik perlu disadari bahwa masing-masing etnik tentu memi­liki identitas budayanya sendiri. Tambahan lagi, kehadiran berba­gai agama yang menjadi anutan masyarakat kita telah memperkaya kemajemukan bangsa kita. Kehadiran agama-agama itu tentu saja memasuki aspek batiniah budaya bangsa di dunia ini. Karena itu pluralisme dengan sendirinya identik dengan dan memang pada hakikatnya muradif atau sinonim multikulturisme. Semboyan Bhineka Tunggal Ika sebagai terpatri dalam lambang negara Republik Indonesia : Garuda Pancasila menegaskan bahwa bangsa Indonesia secara tegas menganut prinsip plura­lisme. Dengan pluralisme disini kita tidak dimaksudkan pluralisme ekstrem sebagai reaksi terhadap monisme yang mengatakan bahwa dunia ini terdiri dari jumlah tak terbatas dari unsur-unsur yang terpisah. Pluralisme yang perlu dan harus kita kembangkan adalah pluralisme yang terwujud dalam sikap pluralistik, yakni sikap yang bersedia menerima perbedaan, bukan hanya sebagai realitas objektif akan tetapi juga sebagai potensi dinamik yang memberikan kemungkinan-kemungkinan dan harapan akan kemajuan di masa depan. Sebuah pluralisme yang menyemangati sistem pergaulan sosial yang memungkinkan setiap unsur kultural masyarakat dunia kita saling berinteraksi secara alamiah dalam proses yang saling memperkaya dan diharapkan akan melahirkan sebuah masyarakat majemuk yang terbu­ka, multikultural dan demokratis.

PLURALITAS KEAGAMAAN : ANTARA EKSKLUSIFISME DAN INKLUSIFISME

Pluralisme dalam konteks kehidupan keagamaan tidak hanya ditandai oleh kehadiran berbagai agama yang secara eksistensial memiliki tradisi yang berbeda satu sama lain akan tetapi juga ditandai oleh pluralisme penafsiran tidak hanya melahirkan berbagai aliran atau mazhab bahkan juga sekte keagamaan akan tetapi juga melahir­kan perbedaan kecenderungan pandangan dan sikap : eksklusifisme dan insklusifisme. Pluralitas kelembagaan melalui itu agama mendunia, memasuki ruang dan waktu, tampak dari dan terwujud dalam kehadiran, paling tidak, tokoh-tokoh agama, organisasi-organisasi keagamaan dan komunitas-komunitas agama.

Perlu digarisbawahi bahwa pluralitas agama berkaitan dengan masalah yang sangat peka. Sebab agama berkaitan dengan keyakinan tentang sesuatu yang absolut benar, sesuatu yang “ultimate”, yang menyangkut keselamatan hidup manusia setelah “kematian”. Keyakinan tersebut diejawantahkan dalam keberagamaan, tidak juga dalam wujud keyakinan teologis atau simbolisme ritual melainkan juga dalam wujud kegiatan yang secara langsung atau tidak bernuansa bahkan berdampak sosial.

Ada berbagai opsi dalam masyarakat kita menjawab pluralitas keagamaan itu,

Pertama adalah sikap menerima kehadiran orang lain atas dasar konsep hidup berdampingan secara damai. Yang diperlu­kan adalah sikap tidak saling mengganggu.

Kedua adalah mengem­bangkan kerjasama sosial-keagamaan melalui berbagai kegiatan yang secara simbolik (live in) memperlihatkan dan fungsional mendorong proses pengembangan kehidupan beragama yang rukun.

Ketiga adalah mencari dan mengembangkan dan merumuskan titik-titik temu agama-agama untuk menjawab problema, tantangan dan keprihatinan umat manusia :

Opsi pertama adalah sekedar tahap awal dan kondisi minimal untuk membangun kebersamaan masyarakat kita.

Opsi kedua merupakan landasan “Teologis” bagi masing-masing umat untuk membangun sebuah masyarakat dimana semua orang dapat hidup bersama dalam semangat persamaan dan kesatuan umat manusia.

Opsi ketiga merupa­kan perwujudan nyata dari kebersamaan itu.

Dalam perspektif yang lain kita juga bisa menempatkan pluralisme keagamaan itu dalam kerangka pendekatan tataran ’Menyama Braya’ (vasudeva kuthum bhakam) yang menempatkan persaudaraan seagama, persaudaraan se­bangsa dan persaudaraan sesama umat manusia dalam satu nafas. Ketiga-tiganya tidak harus bertentangan dan masing-masing mempun­yai tempat dan relevansinya sendiri dalam kehidupan kita sebagai manusia pribadi, warga negara dan warga dunia sehingga tidak perlu membuat kita dalam situasi dilematik apalagi di negara yang memiliki 4 pilar kebangsaan al. Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945.

KELUAR DARI DUNIA KECURIGAAN DAN PERMUSUHAN

Kita tidak tahu kapan kita bisa keluar dari situasi yang masih mencekam. Krisis relasi sosial yang secara langsung atau tidak menciderai kerukunan hidup antar umat berbagai agama sangat menghantui kita sebab malapetaka yang diakibatkannya tidak bisa diperkirakan bahkan cenderung tidak masuk akal sebagaimana kita alami berkali-kali akhir-akhir ini. Para cendikiawan agama dihadapkan pada tantangan yang sebagian bukan tanggungjawab mereka. Masyara­kat kita telah terpuruk dalam kehidupan yang diliputi oleh suasa­na saling curiga. Terdapat berbagai persepsi negatif satu sama lain di antara berbagai kelompok masyarakat kita sehingga kehidu­pan kita sebangsa menyimpan potensi disintegrasi sosial. Masing-masing golongan merasa terancam eksistensi mereka oleh golongan lain. Berbagai kasus tragis telah menimbulkan trauma yang memer­lukan waktu lama untuk dihilangkan dari memori. Selama itu yang sewaktu-waktu bisa menjelma menjadi konflik sosial.

TEOLOGI HINDU YANG PLURALIS DAN DIALOGIS

Pandangan agama Hindu tentang pluralisme dan dialogisme merupakan landasan atau dasar-dasar kerukunan hidup beragama yang sejati seperti diamanatkan dalam mantra-mantra kitab suci Veda berikut ini, menghargai pluralisme (perbedaan agama / kepercayaan dan budaya serta mewujudkan kemakmuran bersama :

Jnanam bibharati bahudha vivacasam, Naandharmanam prthivi yathaikasam,

Sahasram dhara dravinasya me duham, Dhraveva dhenuranapasphuranti

Atharwaveda XII.1.45

(Berikanlah penghargaan kepada bangsamu yang menggunakan berbagai bahasa daerah, yang menganut berbagai kepercayaan (agama) yang berbeda. Hargailah mereka yang tinggal bersama di bumi pertiwi ini. Bumi yang memberi keseimbangan bagaikan sapi yang memberi susunya kepada umat manusia. Demikian ibu pertiwi memberikan kebahagiaan yang melimpah kepada umat­Nya).

Mewujudkan persatuan dan kesatuan untuk mencapai tujuan bersama (kedamaian, kemakmuran dan kebahagiaan) :

Sam vo manamsi sam vrata sam akutir namamsi,

Ami ye vivrata sthana tan vah sam namayamasi

Atharwaveda III.8.5

(Aku satukan pikiran, dan langkahmu untuk mewujudkan kerukunan di antara kamu. Aku bimbing mereka yang berbuat jahat menuju jalan yang benar)

Yena deva na viyanti no ca vidvisate mithah

Tat krnmo brahman vo grhe samjnana purunebhyah

Atharwaveda III.30.4

(Wahai umat manusia! Bersatulah, dan rukunlah kamu seperti menyatunya para dewata. Aku telah anugrahkan hal yang sama kepadamu, oleh karena itu ciptakanlah persatuan di antara kamu).

Mewujudkan kehidupan yang harmonis serta dialogis :

Sam gacchadhvam sam vadadhvam, Sam vo manamsi janatam

Deva bhagam yatha purve samjanana upasate

Rgveda X.191.2.

(Wahai umat manusia! Hiduplah dalam harmoni dan kerukunan. Hendaklah bersatu, dan bekerja sama. Berbicaralah dengan satu bahasa, dan ambilah keputusan dengan satu pikiran. Seperti orang-orang ­suci di masa lalu yang telah melaksanakan kewajibannya, hendaklah  kamu tidak goyah dalam melaksanakan kewajibanmu)

Mewujudkan kehidupan yang demokratis dengan bermusyawarah dan menumbuhkan saling pengertian :

samano mantrah samitih samani, samanam manah saha cittam esam

samanam mantram abhi mantarey vah, samanena vo havisa juhomi

Rgveda X.191.3

(Wahai umat manusia! Pikirkanlah bersama. Bermusyawarahlah bersama. Satukanlah hati, dan pikiranmu dengan yang lain.Aku anugrahkan pikiran yang sama, dan fasilitas yang sama pula untnk keruknnan hidupmu)

Samani va akutih samana hrdayani vah,

Samanam astu vo mano yatha vah susahasati.

Rgveda X.191.4.

(Wahai umat manusia!  Milikilah perhatian yang sama. Tumbuhkan saling pcngertian di antara kamu. Dengan demikian engkau dapat mewujudkan kerukunan dan kesatuan)

Mengembangkan hati yang tulus ikhlas dan persahabatan yang sejati :

Sahrdayam sam manasyam avidvesam krnomi vah,

Anyo anyam abhi haryata vatsam jatam ivagh-nya

Atharvaveda III. 30.1

(Wahai umat manusia, Aku memberimu sifat ketulus ikhlasan, mentalitas yang sama, persahabatan tanpa kebencian, seperti halnya induk sapi mencintai anaknya yang baru lahir, begitu seharusnya kamu mencintai sesamamu).

Mengembangkan keharmonisan yang sejati, baik kepada orang yang dikenal dan bahkan dengan orang asing sekalipun :

Samjnanam nah svebhih samjnanam aranebhih,

Samjnanam asvina yuvam thasmasu ni yacchatam

Atharvaveda VII.52.1

(Hendaknya harmonis dengan penuh keintiman di antara kamu, demikian pula dengan orang-orang yang dikenal maupun asing. Semogalah dewa Asvina menganugrahkan rahmat-Nya untuk keharmonisan antar sesama).

Dalam usaha meningkatkan kerukunan intra, antar, dan antara umat beragama yang dilandasi dengan teologi yang humanis, pluralis dan dialogis, dikutipkan pernyataan Svami Vivekananda pada penutupan sidang Parlemen Agama-Agama sedunia, tepatnya tanggal 27 September 1993 di Chicago, Amerika Serikat, karena pernyataan yang disampaikan oleh pemikir Hindu yang sangat terkenal pada akhir abad yang lalu itu (sudah 108 tahun lewat) senantiasa relevan dengan situasi saat ini. Pidato yang mengemparkan dunia, dan memperoleh penghargaan yang tinggi seperti ditulis oleh surat kabar Amerika sebagai berikut: “An orator by divine right and undoubted greatest in the Parliament of Religion” (Walker, 1983:580).

Di samping mantra tersebut di atas, dalam rangka mewujudkan kerukunan hidup beragama dalam rangka integrasi nasional, kiranya perlu dipahami dasar-dasar teologis kehidupan berbangsa dan bernegara seperti di amanatkan dalam kitab suci Veda dan susastra Hindu lainnya.

SPIRITUALITAS HINDU : MENYAMA BRAYA MERUPAKAN PENGHARGAAN TERHADAP KEMAJEMUKAN DI BUMI PANCASILA

          Pasca serangan teroris terhadap gedung kembar WTC di New York pada tanggal 11 September 2001, yang menewaskan hampir 3000 orang, disusul dengan serangan yang merupakan tragedi berdarah Bom Bali I & II di Kuta dan Jimbaran Bali pada tanggal 12 Oktober 2002, beberapa hari menjelang perayaan Hari Suci Nyepi 1934 di Denpasar disinyalir 5 (lima) orang teroris yang ditembak mati serta yang masih hidup dikejar, diburu, ditangkap, dan seterusnya di belahan bumi ini, tragedi demi tragedi berdarah terus berlanjut hingga kini, menjadikan paham kamejemukan (pluralisme) dan toleransi semakin mendapat perhatian di seluruh dunia, termasuk dalam sidang yang terhormat kali ini.

          Fanatisme agama, yang berdasarkan truth claim, yang menganggap seolah-olah kelompoknya sendiri saja yang memiliki kebenaran mutlak, mengandung potensi kekerasan dan kebencian. Dan bila itu diterjemahkan dalam praktek, sekalipun dilakukan oleh sekelompok kecil orang, bisa membawa malapetaka atau tragedi kemanusiaan.

          Budaya rohani agama Hindu (Bali) dapat memberikan sumbangan penting terhadap pengembangan toleransi dan kemajemukan serta memberikan perubahan dalam membangun kesetiakawanan untuk mewujudkan perdamaian dunia. Agama-agama panteisme dimana Hindu (Bali) ada diantaranya dapat hidup berdampingan dengan agama-agama lain. Penyebarannya tidak membawa gangguan terhadap kesinambungan budaya sebagaimana ditimbulkan oleh penyebaran agama lain. Dalam masyarakat panteistik, nilai-nilai gagasan-gagasan dan hal-hal asing dapat diterima. Masyarakat bersikap toleran terhadap hal-hal baru itu (Arnold J. Toynbee dan Daisaku Ikeda : Perjuangkan Hidup). Dalam agama Hindu (Bali) dikenal dengan : menerima setiap purubahan baru apapun yang terjadi dan datang dari manapun juga asalnya, asalkan perubahan tersebut selalu berdasarkan atas dharma (kebenaran yang abadi = sanatana dharma).

          Ahli-ahli tentang sejarah agama menyatakan bahwa tidak terdapat bukti-bukti adanya intoleransi beragama dalam agama Hindu. Pertentangan jarang dijumpai dan pertukaran agama terjadi dalam suasana damai dan dengan tidak menimbulkan ketegangan dalam masyarakat. Agama Hindu bersifat filosofis dan oleh karena itu dapat melihat dan menghargai kebenaran yang ada dalam agama lain. Dengan demikian agama ini bersifat toleran. Bahkan ada yang berpendapat bahwa toleransinya terlalu besar sehingga dapat menerima agama-agama yang bersifat magis. (Harun Nasution : Islam Rasional). Namun ada juga orang berpendapat lain tentang toleransi yang diartikan negatif yaitu toleransi : sama dengan memperpanjang waktu kekalahan dan kehancuran. Pendapat seperti inilah yang harus kita abaikan dan tidak harus ada.

          Karena orang Hindu pada umumnya, dan mereka dengan pemahaman tentang Tuhan yang lebih matang, lebih sadar tentang berbagai aspek berbeda dari Tuhan, dan melihat Tuhan yang sama dalam semua agama, tidak ada friksi antara mereka dengan orang lain tanpa perlu merasa bahwa setiap orang lain telah dikutuk masuk neraka, atau dikonversi supaya ’diselamatkan’. Orang-orang Hindu mengakui Tuhan yang sama sekalipun disembah dengan berbagai cara. Jadi apa susahnya? Tidak ada masalah. Ini benar bagi pemuja yang tulus dari agama apapun. Seorang Kristen yang tulus dan matang dengan mudah  dapat bergaul dengan seorang Hindu yang tulus, yang dapat dengan mudah hidup bersama seorang Muslim yang tulus dan matang, yang dapat hidup bersama dengan seorang Sikh, Buddhis yang tulus dan seterusnya. (Stephen Knapp : ’Mengapa Menjadi Hindu : Keuntungan Jalan Veda’, dalam Hindu Agama Terbesar di Dunia).

          Di Bali, di beberapa Kabupaten dan Kota, terdapat kampung-kampung Islam tradisional. Artinya komunitas Islam ini sudah ada sejak jaman kerajaan Bali. Di Kabupaten Buleleng ada Desa Pegayaman, di Kabupaten Jembrana ada Desa Loloan, di Kota Denpasar ada Desa Kepaon, di Kabupaten Karangasem ada Desa Nyuh Kuning dan Desa Sidemen, di Kabupaten Klungkung ada Desa Gelgel. Komunitas Islam ini ada yang berasal dari Blambangan, Pulau Madura di Jawa Timur, Bugis dari Pulau Silawesi dan Pulau Lombok. Mereka dibawa oleh para raja-raja Bali dari tempat asal mereka sebagai prajurit. Orang-orang Bugis datang ke Desa Loloan Bali, karena menghindari penjajahan Belanda.

          Komunitas Islam ini hidup menyatu dengan masyarakat sekitarnya. Bahkan komunitas Islam Pegayaman memakai nama-nama Bali di depan nama Muslim mereka contoh : Haji Wayan Samzul Bachri). Tapi mereka tetap melaksanakan agamanya secara taat. Mengapa hal ini bisa terjadi?

          Sebagai abdi raja, komunitas ini mendapat perlindungan dari raja. Mereka diberikan tempat tinggal khusus, diberikan tanah untuk mendirikan masjid. Pada waktu pelaksanaan Naik Haji, raja memberikan mereka bantuan. Komunitas Islam Kepaon di Kota Denpasar Bali sampai sekarang menjaga hubungannya yang kuat dengan Puri Pemecutan. Setiap ada upacara di Puri Pemecutan, orang-orang Muslim Kepaon selalu datang untuk membantu.

          Di samping itu, komunitas ini tetap dapat memelihara dan menjalankan tradisi agamanya, karena umat Hindu di sekitarnya tidak menganggu mereka. Misalnya dengan upaya mengkonversikan mereka ke dalam agama Hindu dan umat Hindu menghormati keyakinan mereka. Dimana bumi dipijak disana langit dijunjung, demikianlah cara mereka untuk dapat hidup berdampingan secara harmonis, damai serta mereka sangat akrab dengan masyarakat setempat dan  turut serta menjaga alam lingkungannya.

IDENTIFIKASI DAN IMPLEMENTASI NILAI-NILAI LUHUR JATIDIRI DAN KARAKTERISTIK DASAR TATA RUANG BUDAYA BANGSA DI NEGARA PANCASILA : KAJIAN TEKSTUAL

Merupakan ekologi ribuan pulau kecil dan besar dengan melimpahnya sumberdaya alam, namun besar dalam potensi kebudayaan. Secara tesktual Indonesia memiliki rujukan budaya dalam penataan alam dan tata ruang yang terdiri atas filosofi, sistem nilai, etika, hukum dan pertahanan, kelembagaan, sampai dengan tatanan konsep. Beberapa konsep kunci yang sangat relevan dengan penataan ruang budaya bangsa adalah : Tri Hita Karana (tiga penyebab keharmonisan), Tri Mandala (tiga pembagian wilayah uttama – madhya – kanishta), Catus Patha (perempatan jalan raya), Jagadhita (alam semesta yang harmonis), dan lain-lain. Kondisi aktual dan kontekstual yang terkait dengan dinamika dan perubahan demografi, ekonomi, politik, pertahanan, teknologi menghadirkan beragam peluang dan ancaman terhadap tata ruang budaya bangsa tersebut.

Jatidiri tata ruang Bangsa Indonesia terbentuk melalui sinergis unsur alam, manusia, dan budaya bangsa yang dijiwai moral agama-agama besar di Indonesia (Islam, Hindu, Katholik, Kristen Protestan, Budha dan Kong Hu Cu). Jatidiri tata ruang budaya bangsa yang bersifat khas merupakan refleksi dari karakteristik religius, estetis, harmoni, dan dinamik bertumpu pada adagium Bhineka Tunggal Ika, desa-kala-patra (ruang & waktu), dan keserasian Bhuana Agung (alam semesta) dengan Bhuana Alit (manusia). Secara esensial, jatidiri tata ruang budaya bangsa merupakan kristalisasi dan karakteristik dasar yang bersifat ekspresif, religius, dan dinamis dengan muatan taksu (inner spirit). Jatidiri tersebut ke “dalam” merupakan indentifikasi diri dan kolektiva kehidupan pada dimensi mikro, meso, dan makro, serta ke “luar” merupakan bangunan citra dalam komunikasi lintas etnik dan lintas budaya.

Kajian mutakhir melalui Review Tata Ruang mengungkapkan, bahwa telah terjadi simpangan besar dalam tata ruang budaya bangsa, baik karena pengaruh faktor internal maupun faktor eksternal. Kausalitas pengaruh tersebut bersumber pada faktor-faktor demografis, ekonomi, politik, mentalitas, prilaku manusia (Antropos, Etnos, Teknos). Terkait dengan besaran dan intensitas pengaruh telah menimbulkan beragam isu tata ruang: Khaostik, pembusukan, ketersesakan, degradasi mutu dan berbagai kerusakan lainnya. Fakta lapangan telah merusak citra dan jatidiri tata ruang budaya bangsa. Karena adanya berbagai benturan dan disharmoni. (Lihat Peta).

POTENSI BUDAYA DAN IDENTIFIKASI NILAI-NILAI LUHUR

Potensi Budaya Bangsa (Perspektif Normatif)

Kebudyaan Indonesia yang dijiwai moral agama sebagai satu entitas yang komprehensif mencakup sistem agama, sistem budaya, sistem sosial, dan sistem pisik. Secara rinci, masing-masing sistem terdiri atas berbagai unsur yang secara kategorial meliputi filosofi nilai, konsep-konsep dan aturan. Ketiga kategori ini berada pada tataran yang berbeda, walaupun tetap terkait satu sama lain. Filosofi dan nilai ada pada tataran dasar (nilai dasar), konsep-konsep ada pada tataran instrumental, dan aturan-aturan riil terkait dengan kehidupan sehari-hari ada pada tataran praksis.

Dikaitkan dengan penataan tata ruang kebudayaan bangsa yang dijiwai moral agama dengan ke empat sub sistemnya berfungsi sebagai sumber spiritual, sebagai pembentuk jatidiri, sebagai wadah kelembagaan dan representasi peradaban (merevitalisasi peradaban termasuk membangun pertahanan Indonesia yang beradab)

Lebih rinci, melalui kebudayaan dan moral agama normatif ingin dikokohkan landasan kesucian, landasan filosofis, landasan etika, landasan budaya santun, landasan estetika, landasan orientasi sampai dengan landasan struktural.

Identifikasi Nilai-Nilai Luhur

Nilai-nilai luhur budaya Indonesia, yaitu ide mengenai hal-hal yang dianggap baik dan berharga dalam kehidupan masyarakat dan kebudayaan mencakup satu rentangan unsur-unsur abstrak (Intangible Culture, unsur budaya tak benda) yang terdiri atas :

 

Unsur Filosofi, (Philosophy)

Merupakan unsur yang paling dasar dan paling abstrak, berisi hakekat dan kebenaran dasar.

 

Unsur Nilai (Value)

Merupakan unsur budaya tentang hal-hal berharga dalam kehidupan, umumnya sebagai representation collective.

 

Unsur Konsep (Concept)

Merupakan unsur yang lebih instrumental dan lebih dekat ke tataran implementatif.

 

Unsur Norma dan aturan (Norms, Rules)

Merupakan unsur yang terkait dengan kehidupan nyata sehari-hari dan bernilai praksis.

Terkait dengan penataan ruang budaya bangsa, khususnya ruang tradisional, elaborasi nilai-nilai luhur yang berkembang dengan penata ruang yang kondusif, nyaman, dan aman.

KONDISI LAPANGAN YANG BERKEMBANG : Analisis Kontekstual

Lima Kecenderungan Perubahan Indonesia yang Mempengaruhi Tata Ruang Budaya Bangsa

Pertama, makin sesaknya ruang yang berdampak membesarnya tekanan terhadap masyarakat dan kebudayaan Indonesia secara ekologis makin dijejali bangunan pisik, kendaraan, manusia, khususnya di kawasan budidaya dan kawasan perkotaan (urban). Keadaan sesak ini mempengaruhi dan medistorsi implementasi konsepsi Tri Hita Karana dan rujukan nilai budaya yang lain. Keadaan ini berdampak semrautnya tata ruang dan merusak citra serta jatidiri. Wacana Indonesia pulau ruko, Indonesia kumuh, Indonesia tidak bersih muncul dari kondisi ketersesakan tersebut.

Kedua, Bangsa Indonesia yang agraris berkembangnya format ekonomi industri dan jasa disertai dengan menurunnya ekonomi agraris (agricultural urban ke broadbase industry). Budaya agraris atau budaya air yang lebih menawarkan keramahan dan keserasian manusia dengan alam berubah ke industri jasa atau budaya jalan raya yang mengedepankan materialisme, komersialisme, pragmatisme. Manusia cenderung lebih eksploitasi terhadap alam dan lingkungan. Penggunaan lahan mengalami alih fungsi dan jumlah lahan pertanian menurun (Hindu Bali : petani adalah manusia utama).

Ketiga, makin mengentalnya komitmen otonomi daerah dengan diiringi bangkitnya semangat primordial. Implementasi Otda dengan orientasi kewenangan ke Pemerintah Kabupaten/Kota lebih mendorong desentralisasi, pemberdayaan masyarakat lokal, hak-hak politik, ekonomi, sosio-kultural. Keutuhan alam dan budaya bangsa terpragmentasi lebih mengarah ke diversity dan melemahnya unity.

Keempat, makin padat dan heterogennya Indonesia (mengglobal) beragam ciri pluralitas dan potensi konflik. Jumlah penduduk setiap tahun tetap bertambah dengan kepadatan tidak merata. Jakarta cenderung berkembang sebagai kota tunggal migrasi masuk ke Indonesia meningkatkan pluralitas. Disamping memberi kebebasan lebih besar pada ruang, juga memacu kesemrautan ruang, terkait dengan beragamnya cara hidup, orientasi kepentingan dan orientasi budaya.

Kelima, perubahan mentalitas masyarakat ke arah pragmatisme, materialisme, yang cenderung makin mengeksploitasi alam dan lingkungan. Mentalitas masyarakat industri dan plural cenderung eksploitatif dan tampak kurang ramah pada lingkungan. Budaya malu makin distorsif, loyalitas kultural menipis, supremasi hukum melemah, sehingga kontrol terhadap segala penyimpangan juga tidak berdaya.

NILAI-NILAI BARU DAN BERATNYA IMPLEMENTASI PARADIGMA HARMONI DALAM PENATAAN RUANG BUDAYA BANGSA

Dalam pengertian yang lebih dinamis, kebudayaan yang hidup (Living Culture) juga dikontruksi dari cara-cara hidup yang baru dari masyarakat, seperangkat kognitif dan sistem nilai yang berkembang dari kesadaran baru manusia dalam menggapai perubahan lingkungan. Dalam realitas hidup, disamping perspektif tradisional juga berkembang perspektif baru yang modern. Demikianlah, disamping budaya agraris juga berkembang budaya industri, budaya jalan raya, disamping budaya air, budaya turistik disamping budaya indusrti, budaya kota disamping budaya kota budaya dan seterusnya.

Indonesia telah tumbuh sebagai satu global dengan berbagai cara hidup yang baru. Lingkungan dan cara hidup yang baru juga menawarkan nilai-nilai baru dalam masyarakat. Nilai materialisme, nilai pragmatis, nilai komersial, nilai premanisme (identik dengan budaya kekerasan, teroris) adalah seperangkat nilai yang makin mengedepan dalam kehidupan aktual. Masyarakat yang berkembang dalam arena kompleksitas nilai dapat bergerak ke arah tiga format alternative : (1) Integrasi nilai; (2) Konflik nilai; atau (3) Anomi.

Dalam kehidupan yang makin pluralistis, baik pluralistis secara pisik, mental, sosial, dan kultural dengan adanya berbagai konflik kepentingan dan konflik nilai, Implementasi paradigma harmoni, nilai keserasian dan konsep Tri Hita Karana tampaknya makin kuat dan akan memperolah beragam tantangan.

Masalah Tata Ruang dalam Perspektif kebudayaan dan Nilai.

Kausalitas terkait tata dengan ruang nasional berpangkal pada multi-kausal. Empat sumber masalah yang paling pokok adalah : populasi yang besar dengan kualitas yang rendah, ekonomi kapitalis yang eksploitatif, lemahnya kontrol hukum, dan misi pembangunan yang bersifat paradoks, di satu sisi berupaya memperbaiki kondisi, tetapi disisi lain berdampak makin merusak kondidi lingkungan seperti contoh pengalihan fungsi lahan, penumpukan tebal jalan yang terus-menerus yang menengelamkan pemukimam. Di wilayah urban juga makin menonjol peningkatan kualitas ruko, PKL secara tak terkendali yang merusak citra budaya.

Jenis-jenis masalah tentang tata ruang budaya bangsa yang terkait dengan budaya dan nilai :

  • Lemahnya rujukan pada nilai-nilai dasar (agama, filosofi).
  • Terbatasnya implementasi nilai-nilai instrumental (seperti THK) terkait dengan terbatasnya lahan dan perubahan gaya hidup.
  • Kaburnya nilai-nilai praksis terkait dengan perkembangan konflik nilai, paradoks kehidupan dan berbagai orientasi baru yang bersifat pragmatis dalam habitat pluralisme sosial dan cultural.
  • Model AETO (Antropus, Etnos, Tehnos, Oikos) dalam sub-disiplin Ekologi Budaya adalah satu model untuk memahami kompleksitas dan masalah lingkungan dan tata ruang perspektif multi dimensi : manusia-komuniti-teknologi dan lingkungan.

STRATEGI IMPLEMENTASI

VISI

Mewujudkan Indonesia sebagai satu kesatuan ruang dan lingkungan yang utuh, memiliki jatidiri yang dijiwai moral agama dengan di landasi Tri Hita Karana dalam rangka Membangun Pertahanan Indonesia yang Beradab.

MISI

Menjaga dan memuliakan tempat suci dan kawasan suci dan manusia beradab.

Mewujudkan tata ruang budaya bangsa dalam format keutuhan dalam keanekaragaman sebagai wadah pelestarian alam dan budaya bangsa.

Memperdayakan SDM, lembaga tradisional (adat, subak, pola kemitraan) dan peneliti.

Membangun lingkage lintas sektor secara komplementer sinergis untuk pembangunan berkelanjutan dalam dinamika lokal, nasional, global.

STRATEGI

Opsi 1 :  Konservasi dan Community based

Ruang dan lingkungan yang termasuk opsi ini harus dikonservasi secara utuh dan tertutup terhadap pengembangan melalui kesepakatan komuniti. Tujuannya agar ruang dan lingkungan tetap suci, asli, lestari, manusia bermoral dan beradab arif dan bijaksana dengan taat beragama.

Opsi 2 : Adaptif dan Community based

Ruang dan lingkungan yang termasuk opsi ini dapat dikembangkan secara adaptif, namun harus melalui konsultasi komuniti. Tujuannya agar ruang dan lingkungan terbuka untuk berkembang, namun tetap harus memberi manfaat bagi masyarakat berbudaya santun dan bermoral

Opsi 3 : Progresif dan Community based

Ruang dan lingkungan yang termasuk opsi ini dapat dikembangkan secara terbuka langsung untuk mengadopsi berbagai kegiatan ekonomi, bisnis, namun harus sinergis lintas sektor menjaga jatidiri ruang dan melalui konsultasi komuniti. Tujuannya pembangunan ekonomi, pisik dapat mengangkat derajat kehidupan bangsa, namun alam dan budaya bangsa tetap lestari.

IMPLEMENTASI

Filosofi dan nilai luhur harus dapat di implementasikan secara konkret agar benar-benar secara aktual menjadi landasan dan rujukan dalam tata ruang budaya bangsa. Tanpa implementasi konkret akan terjadi missing link antara nilai dan realita, antara kajian dan kenyataan.

4 PILAR KARAKTER BANGSA INDONESIA : KESEJAHTERAAN BERSAMA

          Dari kajian diatas maka 4 pilar Bangsa Indonesia yang beragama dan beradab harus mendorong dan membangun terciptanya keadilan sosial dalam masyarakatnya. Cita-cita keadilan sosial dalam agama apapun termasuk semua agama di dunia dan salah satunya dalam agama Hindu terdapat dalam konsep loksamgraha, atau kesejahteraan untuk seluruh masyarakat. Dalam konsep loksamgraha, terkandung kesetiakawanan, kerelaan untuk berkorban demi kepentingan orang lain yang kurang beruntung. Dan sangat tepat konsep ini dikemukakan dalam sidang saat ini dimana kenyataan yang tidak bisa dihindari bahwa kita bangsa Indonesia, bangsa-bangsa Asia malahan bangsa-bangsa di dunia ini yang terdiri dari keaneka ragaman kultur, bahasa, ras, geografi, sejarah, agama dan keimanan terpuruk akibat sering agama digunakan untuk menghancurkan peradaban manusia yang beradab diluar ajaran agama itu sendiri yang mengajarkan kita penuh kasih dan kedamaian.

          Veda meneguhkan kehidupan dan ketika Veda menyanyikan SARVE BHAVANTU SUKHINAH, mantra ini menekankan bahwa keselamatan pribadi bukanlah satu-satunya tujuan, tetapi bahwa kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat pemeluk Hindu, adalah sama pentingnya bahkan jauh lebih penting.

          Loksamgraha sebagai suatu yang ideal dari masyarakat Hindu, dapat diwujudkan melalui suatu proses. Dimulai dengan proses tumbuhnya kesadaran sosial dikalangan para pemeluk agama, bahwa masing-masing dari kita adalah bersaudara satu sama lain : WASUDEVA KUTHUMBHAKAM. Bahkan hakikat diri kita sebetulnya sama. Penderitaan bagi yang satu adalah penderitaan bagi yang lain. Kebahagiaan bagi yang satu adalah kebahagiaan bagi yang lain, aku adalah engkau : TAT TWAM ASI.

          Masyarakat yang sejahtera, adalah merupakan jumlah total dari individu dan keluarga yang sejahtera dan merupakan bagian dari masyarakat dunia yang sejahtera pula. Pada hakikatnya setiap individu para pemeluk agama, harus mampu menciptakan kesejahteraannya sendiri, melalui karma atau tindakannya sendiri. Dan untuk itu dia haruslah memiliki kemampuan, kecerdasan, keahlian dan pengetahuan serta keterampilan untuk menunjang profesinya, dengan mana dia mencapai kesejahteraan diri dan keluarganya termasuk masyarakat dunia.

          Kini adalah saatnya kita bersekutu untuk membangun dunia baru yang lebih aman, tenteram, adil, damai penuh kasih dan sejahtera dengan memperluas makna yajna, tidak saja pengorbanan dalam hubungannya dengan Tuhan, tetapi juga dengan sesama umat manusia, berdasarkan ’daya’ (compassion atau cinta kasih) dan ’dana’ (pemberian bantuan). Dana bukan untuk jangka pendek, atau caritas sentimental, berupa sedekah untuk sekedar menghilangkan lapar dan sakit. Dana haruslah untuk suatu yang bersifat strategis, jangka panjang, yaitu untuk peningkatan spiritualitas umat manusia yang lebih beradab.

Marilah kita bersekutu untuk membangun dan peka terhadap penyakit masyarakat dan ikut memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh mereka yang tidak beruntung. Agama yang tidak peka terhadap penyakit masyarakat dan tidak ikut ambil bagian dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat, tidak akan mendapat tempat dalam masyarakat modern, tidak menarik bagi manusia modern (Sarvepalli Radhakrisnan).

Kesimpulan

Berdasarkan uraian tersebut dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. Teologi di dalam kitab suci agama-agama di dunia ini termasuk kitab suci Veda dan susastra Hindu disebut Brahmavidya atau pengetahuan ketuhanan, yang di dalamnya mengajarkan berbagai aspek ketuhanan, utamanya yang berkaitan dengan makhluk ciptaan-Nya, yakni umat manusia untuk mcngembangkan kehidupan yang humanis, pluralis dan dialogis. Kehidupan yang humanis dilandasi oleh ajaran bahwa semua makhluk berasal dari Tuhan Yang Maha Esa dan akan kembali kepada-Nya. Kesadaran bahwa atma (roh) yang menghidupkan setiap makhluk berasal dari Tuhan Yang Maha Esa muncul ajaran yang disebut Panca Mahavakya Upanishad yakni: Tat tvam asi (Thou are That), Aham Brahmasmi (I am Brahman), Aham atma Brahma (This Self is Brahman), Prajnam Brahma (Consciousness is Brahman), dan Sarvam khalu idam Brahma (All indeed is Brahman).

Kitab-Kitab suci mengamanatkan untuk menyadari adanya kebhinekaan (pluralisme) dan untuk menumbuhkan kerukunan yang sejati mengembangkan sikap dialogis, dengan bermusyawarah untuk mencapai mufakat guna mewujudkan tujuan bersama yaitu Harmonis, Damai, Bersatu padu untuk membangun budaya rohani  yang utuh demi kesejahteraan umat manusia yang merupakan implementasi karakter bangsa. Di Bali dikenal dengan istilah Tri Hita Karana (Tiga hal yang penyebab keharmonisan), pertama : harmonis antara manusia dengan TuhanNya, kedua : harmonis antara manusia dengan manusia sesamanya, dan ketiga : harmonis antara manusia dengan alam lingkungannya.

 

Ida Bagus Gede Wiyana

Realizing Interfaith Concordance

One of the figures that actively plays role in creating such concordance is Ida Bagus Gede Wiyana. As Chairman of Interfaith Forum of Bali Province, he never gets bored to deliver ‘enlightenment’ to members of religious community in Bali, particularly those of Hindu. This father of two sons— Ida Bagus Erwin Ranawijaya, SH, MH and Ida Bagus Bayu Brahmantya, SH should make a visit to every nook and cranny delivering ‘dharma wacana’ or Hindu sermon on the importance of life concordance even though of different religions. Other than that, the husband of Dra. Ida Ayu Ratna Wesnawati, MM., should be able to accomplish some issues pertaining to interfaith concordance. For instance, resolving problems on house of worship, graveyard and making decision should there be any holidays of two or more religions falls on the same day. Once, the Nyepi (Silence) Day fell on the same day as Friday prayer. Nyepi requires silence and is not allowed devotees to go out, while the Moslem should go out to pay homage to mosque. Just as Nyepi that coincided with church service on Sunday. Though he is busy with managing the Dwijendra Education Foundation that organizes schools from kindergarten up to university, this man of Sanur-born (1 August 1951) never declines when being asked for his time to deliver enlightenment. Moreover, after the Bali Bomb I and II he progressively often appeared on television. According to him, the Interfaith Communication Forum was established on the accord of the caretakers of Religious Assembly existing in Bali like Parisadha (Hindu), MUI (Islam), Walubi (Buddha), MPAG (Protestant), MAKIN (Kong Hu Cu)  and Keuskupan (Catholic). The idea was sparked by the general election 1999. “The six religious assemblies felt there has been ‘violence’ in the reason of struggling for each religion. Mass savagery occurs everywhere,” he said. “However,” he added,” the beginnings of the establishment of the forum has existed since 1970s.” At that time, forum that has not formally founded many a time executed discussion relating to location of graveyard, house of worship, interfaith marriage and so forth. “Regional Office of Religious Affairs became its facilitator then,” he added. (BaliTravelNews/015)

1 Comment

Filed under Articles

Doa Perdamaian dan Kerukunan


Jnanam bibharati bahudha vivacasam,

Naandharmanam prthivi yathaikasam,

Sahasram dhara dravinasya me duham,

Dhraveva dhenuranapasphuranti

Atharwaveda XII.1.45

(Berikanlah penghargaan kepada bangsamu yang menggunakan berbagai bahasa daerah, yang menganut berbagai kepercayaan (agama) yang berbeda. Hargailah mereka yang tinggal bersama di bumi pertiwi ini. Bumi yang memberi keseimbangan bagaikan sapi yang memberi susunya kepada umat manusia. Demikian ibu pertiwi memberikan kebahagiaan yang melimpah kepada umat­Nya).

 

Sam vo manamsi sam vrata sam akutir namamsi

Ami ye vivrata sthana tan vah sam namayamasi

 Atharwaveda III.8.5

(Aku satukan pikiran, dan langkahmu untuk mewujudkan kerukunan di antara kamu. Aku bimbing mereka yang berbuat jahat menuju jalan yang benar)

 

Yena deva na viyanti no ca vidvisate mithah

Tat krnmo brahman vo grhe samjnana purunebhyah

Atharwaveda III.30.4

(Wahai umat manusia! Bersatulah, dan rukunlah kamu seperti menyatunya para dewata. Aku telah anugrahkan hal yang sama kepadamu, oleh karena itu ciptakanlah persatuan di antara kamu).

 

Sam gacchadhvam sam vadadhvam,

Sam vo manamsi janatam

Deva bhagam yatha purve samjanana upasate

Rgveda X.191.2.

(Wahai umat manusia! Hiduplah dalam harmoni dan kerukunan. Hendaklah bersatu, dan bekerja sama. Berbicaralah dengan satu bahasa, dan ambilah keputusan dengan satu pikiran. Seperti orang-orang ­suci di masa lalu yang telah melaksanakan kewajibannya, hendaklah  kamu tidak goyah dalam melaksanakan kewajibanmu)

samano mantrah samitih samani,

samanam manah saha cittam esam

samanam mantram abhi mantarey vah,

samanena vo havisa juhomi

Regveda X.191.3

(Wahai umat manusia! Pikirkanlah bersama. Bermusyawarahlah bersama. Satukanlah hati, dan pikiranmu dengan yang lain. Aku anugrahkan pikiran yang sama, dan fasilitas yang sama pula untnk keruknnan hidupmu)

 

Samani va akutih samana hrdayani vah,

Samanam astu vo mano yatha vah susahasati.

Regveda X.191.4.

(Wahai umat manusia!  Milikilah perhatian yang sama. Tumbuhkan saling pcngertian di antara kamu. Dengan demikian engkau dapat mewujudkan kerukunan dan kesatuan)

Sahrdayam sam manasyam avidvesam krnomi vah,

Anyo anyam abhi haryata vatsam jatam ivagh-nya

Atharvaveda III. 30.1

(Wahai umat manusia, Aku memberimu sifat ketulus ikhlasan, mentalitas yang sama, persahabatan tanpa kebencian, seperti halnya induk sapi mencintai anaknya yang baru lahir, begitu seharusnya kamu mencintai sesamamu).

Samjnanam nah svebhih samjnanam aranebhih,

Samjnanam asvina yuvam thasmasu ni yacchatam

Atharvaveda VII.52.1

(Hendaknya harmonis dengan penuh keintiman di antara kamu, demikian pula dengan orang-orang yang dikenal maupun asing. Semogalah dewa Asvina menganugrahkan rahmat-Nya untuk keharmonisan antar sesama).

Ida Bagus Gede Wiyana

Yayasan Dwijendra Pusat Denpasar

2 Comments

Filed under Articles