MENYIKAPI RADIKALISME AGAMA-AGAMA DI BUMI PANCASILA (dari PERSPEKTIF AGAMA HINDU)



QUESTIONS FOR DISCUSSION

  • Religions are often accused of being co-opted by the powers-that-be to achieve their selfish ends. Do you agree or disagree? Please state your reasons!
  • How does religion, which speak of love, compassion and mercy, also become a tool for violence?
  • All religions have an exclusivistic dimensions. How does this exclusivistic dimension contribute to intolerance and violence?

 

PENDAHULUAN

          Menyimak berbagai kerusuhan yang terjadi selama ini kita melihat betapa beragam bentuk perwujudannya dan betapa pula kompleksitas faktor penyebabnya. Kerusuhan-kerusuhan yang terjadi di berbagai tempat itu terwujud dalam berbagai bentuk kekerasan, penjarahan, dan perusakan, tidak hanya terhadap milik pribadi akan tetapi juga milik pemerintah atau negara bahkan simbol-simbol keagamaan. Kita ragu menyatakan bahwa kerusuhan itu merupakan konflik agama (semata) namun sulit untuk menafikannya sama sekali sebab perusa­kan sejumlah rumah-rumah ibadah yang dianggap sakral dan merupa­kan simbol kehadiran sebuah agama dan komunitas para pemeluknya terjadi. Kemungkinan faktor-faktor lain berperan sebagai sumber penyebabnya juga sukar dibantah. Misalnya masalah kaum pendatang dan penduduk asli tampak kentara dalam kasus Sambas, Kupang, Ambon, Poso, Papua, Lampung dll. di Indonesia, beberapa negara di Asia dan di belahan dunia ini. Kalau dalam semua kasus ini ada bias perbedaan agama kasus yang terjadi di beberapa tempat justru terjadi antara dua suku yang seagama. Mungkin saja kasus-kasus ini sedikit banyak mengandung nuansa kesenjangan ekonomi karena kaum pendatang biasanya bekerja lebih ulet dan lebih berhasil sehingga menguasai sektor perekono­mian lokal. Lalu ada juga yang berkaitan dengan konflik antara rakyat dan penguasa yang mengisyaratkan gejala ketidakpercayaan terhadap aparat keamanan dan pemerintahan. Perusakan markas-markas Polisi dan Kantor-kantor Pemerintah dari Tingkat Desa hingga Kabupaten/Kota (eksekutif) dan juga Dewan Perwakilan Rakyat (legislatif) memperlihatkan kecenderungan itu.

Kasus-kasus kerusuhan di atas memperlihatkan bahwa salah satu tantangan serius yang dihadapi dunia saat ini adalah fenom­ena munculnya budaya kekerasan (genocide?). Fenomena ini sungguh sangat mencemaskan. Ironisnya adalah bahwa gejala sadisme ini tidak hanya dilakukan oleh masyarakat yang mudah main hakim sendiri dengan melakukan bukan hanya sekedar tindakan-tindakan kekerasan akan tetapi juga tindakan kekejaman dan kebengisan yang dilakukan oleh aparat negara seperti sering diungkapkan oleh mereka yang mengalami siksaan ketika diinterogasi. Bahkan kasus yang dapat dikatakan sebagai “kekerasan yang dilakukan oleh negara”. Budaya kekerasan ini ikut mewarnai berba­gai kerusuhan akhir-akhir ini sebagaimana terlihat dari korban-korban yang terbunuh bahkan secara sangat mengenaskan.

Berbagai kerusuhan sosial apalagi budaya kekerasan mengisyaratkan bahwa kemampuan rakyat untuk menangani pluralitas masyarakat dunia sudah sangat menyusut. Gejala ini sangat berbahaya karena plura­litas masyarakat dunia kita cukup kompleks dan sering tumpang tindih sehingga satu insiden kecil bisa berkembang atau dikembangkan menjadi sebuah kerusuhan sosial yang tidak relevan dan tidak masuk akal seperti telah kita alami akhir-akhir ini. Hal ini bisa terjadi karena pluralitas masyarakat kita dihadapkan pada situasi krisis sosial, politik dan ekonomi yang sangat serius dan kom­pleks yang membuat masyarakat kita bagaikan jerami kering di musim kemarau.

PLURALISME : ANTARA REALITAS, KESADARAN DAN SIKAP

Pluralitas masyarakat di manapun adalah sebuah realitas eksisten­sial yang terbentuk dari perbedaan yang ada secara kodrati dalam kehidupan manusia dan masyarakat. Tak seorang manusia pun sama dengan manusia lainnya walau mereka lahir sebagai saudara kembar. Tak ada cap jempol yang sama adalah contoh paling nyata bahwa tak ada dua manusia yang absolut sama. Mungkin saja sangat mirip tapi tidak mungkin persis sama. Sebuah masyarakat dunia terdiri dan terben­tuk dari banyak orang yang merupakan warganya. Kalaulah ada sebuah masyarakat tradisional yang dianggap homogen namun homoge­nitasnya itu relatif sifatnya sebab di dalamnya pasti ada unsur-unsur yang berbeda sehingga tak akan terelakkan adanya heteroge­nitas betapapun kecilnya. Sebuah masyarakat bagaimanapun, bukan­lah sebuah kumpulan makhluk organis yang statis, yang tidak mengalami perubahan dan perubahan itu tentu sangat bervariasi coraknya sehingga memperkaya dan menambah kompleksitas perbedaan. Karena itu tidak mungkin dihindari bahwa pluralitas yang ada secara kodrati itu kemudian secara sosial dan kultural terus mengalami perkembangan dalam gerak dinamika kehidupan manusia dan masyarakat yang multidimensional sifatnya, dan dengan sendirinya akan melahirkan berbagai visi tentang kehidupan dan masa depan.

Untuk batas tertentu pluralitas bisa dilihat sebagai kekayaan namun dalam perkembangannya ia tidak hanya berhenti pada perbe­daan sekedar dan sebagai perbedaan semata tapi mungkin saja perbedaan itu bersifat diametral dan antagonistik sehingga sebenarnya bukan lagi perbedaan melainkan sebuah pertentangan. Tan­tangan yang dihadapi oleh manusia dan masyarakat adalah bukan menghilangkan perbedaan dan pertentangan sebagai realitas sosial dan kultural melainkan bagaimana mengelolanya secara kreatif sehingga terwujud dalam “cooperation” dan “competition”, kerjasama dan persaingan. Dalam perspektif ini “management of con­flict” menjadi sangat penting.

MULTIKULTURISME SEBUAH KENISCAYAAN DI BUMI PANCASILA

Pluralitas yang muncul dalam proses kehidupan dunia kita terwujud dalam dua bentuk : pluralitas horizontal dan pluralitas vertikal. Yang pertama terlihat misalnya dalam perbedaan etnis atau ras dan agama sedangkan yang kedua terlihat umpamanya dalam perbedaan peran politik antara penguasa dan rakyat, dalam kemampuan ekono­mi antara orang kaya dan orang miskin, dan dalam tingkat pendidi­kan antara kaum terpelajar dan masyarakat awam. Tentu saja plura­litas vertikal ini tidak dikaitkan dengan pluralisme tradisional yang memberlakukan perbedaan strata sosial dalam pelembagaan yang bersifat diskriminatif. Kedua-duanya, pluralitas horizontal dan pluralisme  modern yang menjunjung tinggi hak-hak manusia.

Mobilitas sosial yang didukung oleh kemudahan dalam dan untuk bepergian sebagai hasil kemajuan sarana-sarana transportasi mem­buat kontak-kontak horizontal warga masyarakat dengan warga masyarakat lainnya makin sering terjadi dan juga makin luas jangkauannya melampaui batas-batas geografis, lokal, regional bahkan nasional  dan internasional sehingga heteroginitas masyarakat makin kompleks. Perbedaan tingkat dan kadar kemampuan warga masyarakat, baik dilihat dari segi kebendaan, kecerdasan maupun kesempatan untuk memperoleh jalur lembaga pendidikan maupun media massa, mengaki­batkan perbedaan kemampuan untuk mengembangkan diri dan meraih keberhasilan. Akibat lebih jauh adalah terjadinya pluralitas vertikal yang terwujud dalam tingkatan strata politik, ekonomi maupun keterpelajaran. Perlu disadari dan dicatat bahwa plurali­tas walaupun dalam batas tertentu merupakan kekayaan yang memben­tuk mozaik kultural sekaligus potensi dinamika masyarakat dan bangsa di dunia inia namun hal itu juga bisa menjadi sumber konflik sosial. Karena itu diperlukan usaha untuk menumbuhkan kesadaran untuk menerima perbedaan sebagai realitas natural maupun kultural sepanjang fungsional sifatnya dan tidak melecehkan harkat dan martabat kemanusiaan. Dari perspektif ini kita bersinggungan dengan konsep pluralisme.

Pluralisme tentu saja lahir dari kesadaran dan kesediaan menerima perbedaan untuk kemudian mengolahnya, sebagai unsur kreatif masyarakat kita sebagai sebuah kesatuan yang mengandung dan merangkum kemajemukan. Dalam perspektif masyarakat kita yang multietnik perlu disadari bahwa masing-masing etnik tentu memi­liki identitas budayanya sendiri. Tambahan lagi, kehadiran berba­gai agama yang menjadi anutan masyarakat kita telah memperkaya kemajemukan bangsa kita. Kehadiran agama-agama itu tentu saja memasuki aspek batiniah budaya bangsa di dunia ini. Karena itu pluralisme dengan sendirinya identik dengan dan memang pada hakikatnya muradif atau sinonim multikulturisme. Semboyan Bhineka Tunggal Ika sebagai terpatri dalam lambang negara Republik Indonesia : Garuda Pancasila menegaskan bahwa bangsa Indonesia secara tegas menganut prinsip plura­lisme. Dengan pluralisme disini kita tidak dimaksudkan pluralisme ekstrem sebagai reaksi terhadap monisme yang mengatakan bahwa dunia ini terdiri dari jumlah tak terbatas dari unsur-unsur yang terpisah. Pluralisme yang perlu dan harus kita kembangkan adalah pluralisme yang terwujud dalam sikap pluralistik, yakni sikap yang bersedia menerima perbedaan, bukan hanya sebagai realitas objektif akan tetapi juga sebagai potensi dinamik yang memberikan kemungkinan-kemungkinan dan harapan akan kemajuan di masa depan. Sebuah pluralisme yang menyemangati sistem pergaulan sosial yang memungkinkan setiap unsur kultural masyarakat dunia kita saling berinteraksi secara alamiah dalam proses yang saling memperkaya dan diharapkan akan melahirkan sebuah masyarakat majemuk yang terbu­ka, multikultural dan demokratis.

PLURALITAS KEAGAMAAN : ANTARA EKSKLUSIFISME DAN INKLUSIFISME

Pluralisme dalam konteks kehidupan keagamaan tidak hanya ditandai oleh kehadiran berbagai agama yang secara eksistensial memiliki tradisi yang berbeda satu sama lain akan tetapi juga ditandai oleh pluralisme penafsiran tidak hanya melahirkan berbagai aliran atau mazhab bahkan juga sekte keagamaan akan tetapi juga melahir­kan perbedaan kecenderungan pandangan dan sikap : eksklusifisme dan insklusifisme. Pluralitas kelembagaan melalui itu agama mendunia, memasuki ruang dan waktu, tampak dari dan terwujud dalam kehadiran, paling tidak, tokoh-tokoh agama, organisasi-organisasi keagamaan dan komunitas-komunitas agama.

Perlu digarisbawahi bahwa pluralitas agama berkaitan dengan masalah yang sangat peka. Sebab agama berkaitan dengan keyakinan tentang sesuatu yang absolut benar, sesuatu yang “ultimate”, yang menyangkut keselamatan hidup manusia setelah “kematian”. Keyakinan tersebut diejawantahkan dalam keberagamaan, tidak juga dalam wujud keyakinan teologis atau simbolisme ritual melainkan juga dalam wujud kegiatan yang secara langsung atau tidak bernuansa bahkan berdampak sosial.

Ada berbagai opsi dalam masyarakat kita menjawab pluralitas keagamaan itu,

Pertama adalah sikap menerima kehadiran orang lain atas dasar konsep hidup berdampingan secara damai. Yang diperlu­kan adalah sikap tidak saling mengganggu.

Kedua adalah mengem­bangkan kerjasama sosial-keagamaan melalui berbagai kegiatan yang secara simbolik (live in) memperlihatkan dan fungsional mendorong proses pengembangan kehidupan beragama yang rukun.

Ketiga adalah mencari dan mengembangkan dan merumuskan titik-titik temu agama-agama untuk menjawab problema, tantangan dan keprihatinan umat manusia :

Opsi pertama adalah sekedar tahap awal dan kondisi minimal untuk membangun kebersamaan masyarakat kita.

Opsi kedua merupakan landasan “Teologis” bagi masing-masing umat untuk membangun sebuah masyarakat dimana semua orang dapat hidup bersama dalam semangat persamaan dan kesatuan umat manusia.

Opsi ketiga merupa­kan perwujudan nyata dari kebersamaan itu.

Dalam perspektif yang lain kita juga bisa menempatkan pluralisme keagamaan itu dalam kerangka pendekatan tataran ’Menyama Braya’ (vasudeva kuthum bhakam) yang menempatkan persaudaraan seagama, persaudaraan se­bangsa dan persaudaraan sesama umat manusia dalam satu nafas. Ketiga-tiganya tidak harus bertentangan dan masing-masing mempun­yai tempat dan relevansinya sendiri dalam kehidupan kita sebagai manusia pribadi, warga negara dan warga dunia sehingga tidak perlu membuat kita dalam situasi dilematik apalagi di negara yang memiliki 4 pilar kebangsaan al. Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945.

KELUAR DARI DUNIA KECURIGAAN DAN PERMUSUHAN

Kita tidak tahu kapan kita bisa keluar dari situasi yang masih mencekam. Krisis relasi sosial yang secara langsung atau tidak menciderai kerukunan hidup antar umat berbagai agama sangat menghantui kita sebab malapetaka yang diakibatkannya tidak bisa diperkirakan bahkan cenderung tidak masuk akal sebagaimana kita alami berkali-kali akhir-akhir ini. Para cendikiawan agama dihadapkan pada tantangan yang sebagian bukan tanggungjawab mereka. Masyara­kat kita telah terpuruk dalam kehidupan yang diliputi oleh suasa­na saling curiga. Terdapat berbagai persepsi negatif satu sama lain di antara berbagai kelompok masyarakat kita sehingga kehidu­pan kita sebangsa menyimpan potensi disintegrasi sosial. Masing-masing golongan merasa terancam eksistensi mereka oleh golongan lain. Berbagai kasus tragis telah menimbulkan trauma yang memer­lukan waktu lama untuk dihilangkan dari memori. Selama itu yang sewaktu-waktu bisa menjelma menjadi konflik sosial.

TEOLOGI HINDU YANG PLURALIS DAN DIALOGIS

Pandangan agama Hindu tentang pluralisme dan dialogisme merupakan landasan atau dasar-dasar kerukunan hidup beragama yang sejati seperti diamanatkan dalam mantra-mantra kitab suci Veda berikut ini, menghargai pluralisme (perbedaan agama / kepercayaan dan budaya serta mewujudkan kemakmuran bersama :

Jnanam bibharati bahudha vivacasam, Naandharmanam prthivi yathaikasam,

Sahasram dhara dravinasya me duham, Dhraveva dhenuranapasphuranti

Atharwaveda XII.1.45

(Berikanlah penghargaan kepada bangsamu yang menggunakan berbagai bahasa daerah, yang menganut berbagai kepercayaan (agama) yang berbeda. Hargailah mereka yang tinggal bersama di bumi pertiwi ini. Bumi yang memberi keseimbangan bagaikan sapi yang memberi susunya kepada umat manusia. Demikian ibu pertiwi memberikan kebahagiaan yang melimpah kepada umat­Nya).

Mewujudkan persatuan dan kesatuan untuk mencapai tujuan bersama (kedamaian, kemakmuran dan kebahagiaan) :

Sam vo manamsi sam vrata sam akutir namamsi,

Ami ye vivrata sthana tan vah sam namayamasi

Atharwaveda III.8.5

(Aku satukan pikiran, dan langkahmu untuk mewujudkan kerukunan di antara kamu. Aku bimbing mereka yang berbuat jahat menuju jalan yang benar)

Yena deva na viyanti no ca vidvisate mithah

Tat krnmo brahman vo grhe samjnana purunebhyah

Atharwaveda III.30.4

(Wahai umat manusia! Bersatulah, dan rukunlah kamu seperti menyatunya para dewata. Aku telah anugrahkan hal yang sama kepadamu, oleh karena itu ciptakanlah persatuan di antara kamu).

Mewujudkan kehidupan yang harmonis serta dialogis :

Sam gacchadhvam sam vadadhvam, Sam vo manamsi janatam

Deva bhagam yatha purve samjanana upasate

Rgveda X.191.2.

(Wahai umat manusia! Hiduplah dalam harmoni dan kerukunan. Hendaklah bersatu, dan bekerja sama. Berbicaralah dengan satu bahasa, dan ambilah keputusan dengan satu pikiran. Seperti orang-orang ­suci di masa lalu yang telah melaksanakan kewajibannya, hendaklah  kamu tidak goyah dalam melaksanakan kewajibanmu)

Mewujudkan kehidupan yang demokratis dengan bermusyawarah dan menumbuhkan saling pengertian :

samano mantrah samitih samani, samanam manah saha cittam esam

samanam mantram abhi mantarey vah, samanena vo havisa juhomi

Rgveda X.191.3

(Wahai umat manusia! Pikirkanlah bersama. Bermusyawarahlah bersama. Satukanlah hati, dan pikiranmu dengan yang lain.Aku anugrahkan pikiran yang sama, dan fasilitas yang sama pula untnk keruknnan hidupmu)

Samani va akutih samana hrdayani vah,

Samanam astu vo mano yatha vah susahasati.

Rgveda X.191.4.

(Wahai umat manusia!  Milikilah perhatian yang sama. Tumbuhkan saling pcngertian di antara kamu. Dengan demikian engkau dapat mewujudkan kerukunan dan kesatuan)

Mengembangkan hati yang tulus ikhlas dan persahabatan yang sejati :

Sahrdayam sam manasyam avidvesam krnomi vah,

Anyo anyam abhi haryata vatsam jatam ivagh-nya

Atharvaveda III. 30.1

(Wahai umat manusia, Aku memberimu sifat ketulus ikhlasan, mentalitas yang sama, persahabatan tanpa kebencian, seperti halnya induk sapi mencintai anaknya yang baru lahir, begitu seharusnya kamu mencintai sesamamu).

Mengembangkan keharmonisan yang sejati, baik kepada orang yang dikenal dan bahkan dengan orang asing sekalipun :

Samjnanam nah svebhih samjnanam aranebhih,

Samjnanam asvina yuvam thasmasu ni yacchatam

Atharvaveda VII.52.1

(Hendaknya harmonis dengan penuh keintiman di antara kamu, demikian pula dengan orang-orang yang dikenal maupun asing. Semogalah dewa Asvina menganugrahkan rahmat-Nya untuk keharmonisan antar sesama).

Dalam usaha meningkatkan kerukunan intra, antar, dan antara umat beragama yang dilandasi dengan teologi yang humanis, pluralis dan dialogis, dikutipkan pernyataan Svami Vivekananda pada penutupan sidang Parlemen Agama-Agama sedunia, tepatnya tanggal 27 September 1993 di Chicago, Amerika Serikat, karena pernyataan yang disampaikan oleh pemikir Hindu yang sangat terkenal pada akhir abad yang lalu itu (sudah 108 tahun lewat) senantiasa relevan dengan situasi saat ini. Pidato yang mengemparkan dunia, dan memperoleh penghargaan yang tinggi seperti ditulis oleh surat kabar Amerika sebagai berikut: “An orator by divine right and undoubted greatest in the Parliament of Religion” (Walker, 1983:580).

Di samping mantra tersebut di atas, dalam rangka mewujudkan kerukunan hidup beragama dalam rangka integrasi nasional, kiranya perlu dipahami dasar-dasar teologis kehidupan berbangsa dan bernegara seperti di amanatkan dalam kitab suci Veda dan susastra Hindu lainnya.

SPIRITUALITAS HINDU : MENYAMA BRAYA MERUPAKAN PENGHARGAAN TERHADAP KEMAJEMUKAN DI BUMI PANCASILA

          Pasca serangan teroris terhadap gedung kembar WTC di New York pada tanggal 11 September 2001, yang menewaskan hampir 3000 orang, disusul dengan serangan yang merupakan tragedi berdarah Bom Bali I & II di Kuta dan Jimbaran Bali pada tanggal 12 Oktober 2002, beberapa hari menjelang perayaan Hari Suci Nyepi 1934 di Denpasar disinyalir 5 (lima) orang teroris yang ditembak mati serta yang masih hidup dikejar, diburu, ditangkap, dan seterusnya di belahan bumi ini, tragedi demi tragedi berdarah terus berlanjut hingga kini, menjadikan paham kamejemukan (pluralisme) dan toleransi semakin mendapat perhatian di seluruh dunia, termasuk dalam sidang yang terhormat kali ini.

          Fanatisme agama, yang berdasarkan truth claim, yang menganggap seolah-olah kelompoknya sendiri saja yang memiliki kebenaran mutlak, mengandung potensi kekerasan dan kebencian. Dan bila itu diterjemahkan dalam praktek, sekalipun dilakukan oleh sekelompok kecil orang, bisa membawa malapetaka atau tragedi kemanusiaan.

          Budaya rohani agama Hindu (Bali) dapat memberikan sumbangan penting terhadap pengembangan toleransi dan kemajemukan serta memberikan perubahan dalam membangun kesetiakawanan untuk mewujudkan perdamaian dunia. Agama-agama panteisme dimana Hindu (Bali) ada diantaranya dapat hidup berdampingan dengan agama-agama lain. Penyebarannya tidak membawa gangguan terhadap kesinambungan budaya sebagaimana ditimbulkan oleh penyebaran agama lain. Dalam masyarakat panteistik, nilai-nilai gagasan-gagasan dan hal-hal asing dapat diterima. Masyarakat bersikap toleran terhadap hal-hal baru itu (Arnold J. Toynbee dan Daisaku Ikeda : Perjuangkan Hidup). Dalam agama Hindu (Bali) dikenal dengan : menerima setiap purubahan baru apapun yang terjadi dan datang dari manapun juga asalnya, asalkan perubahan tersebut selalu berdasarkan atas dharma (kebenaran yang abadi = sanatana dharma).

          Ahli-ahli tentang sejarah agama menyatakan bahwa tidak terdapat bukti-bukti adanya intoleransi beragama dalam agama Hindu. Pertentangan jarang dijumpai dan pertukaran agama terjadi dalam suasana damai dan dengan tidak menimbulkan ketegangan dalam masyarakat. Agama Hindu bersifat filosofis dan oleh karena itu dapat melihat dan menghargai kebenaran yang ada dalam agama lain. Dengan demikian agama ini bersifat toleran. Bahkan ada yang berpendapat bahwa toleransinya terlalu besar sehingga dapat menerima agama-agama yang bersifat magis. (Harun Nasution : Islam Rasional). Namun ada juga orang berpendapat lain tentang toleransi yang diartikan negatif yaitu toleransi : sama dengan memperpanjang waktu kekalahan dan kehancuran. Pendapat seperti inilah yang harus kita abaikan dan tidak harus ada.

          Karena orang Hindu pada umumnya, dan mereka dengan pemahaman tentang Tuhan yang lebih matang, lebih sadar tentang berbagai aspek berbeda dari Tuhan, dan melihat Tuhan yang sama dalam semua agama, tidak ada friksi antara mereka dengan orang lain tanpa perlu merasa bahwa setiap orang lain telah dikutuk masuk neraka, atau dikonversi supaya ’diselamatkan’. Orang-orang Hindu mengakui Tuhan yang sama sekalipun disembah dengan berbagai cara. Jadi apa susahnya? Tidak ada masalah. Ini benar bagi pemuja yang tulus dari agama apapun. Seorang Kristen yang tulus dan matang dengan mudah  dapat bergaul dengan seorang Hindu yang tulus, yang dapat dengan mudah hidup bersama seorang Muslim yang tulus dan matang, yang dapat hidup bersama dengan seorang Sikh, Buddhis yang tulus dan seterusnya. (Stephen Knapp : ’Mengapa Menjadi Hindu : Keuntungan Jalan Veda’, dalam Hindu Agama Terbesar di Dunia).

          Di Bali, di beberapa Kabupaten dan Kota, terdapat kampung-kampung Islam tradisional. Artinya komunitas Islam ini sudah ada sejak jaman kerajaan Bali. Di Kabupaten Buleleng ada Desa Pegayaman, di Kabupaten Jembrana ada Desa Loloan, di Kota Denpasar ada Desa Kepaon, di Kabupaten Karangasem ada Desa Nyuh Kuning dan Desa Sidemen, di Kabupaten Klungkung ada Desa Gelgel. Komunitas Islam ini ada yang berasal dari Blambangan, Pulau Madura di Jawa Timur, Bugis dari Pulau Silawesi dan Pulau Lombok. Mereka dibawa oleh para raja-raja Bali dari tempat asal mereka sebagai prajurit. Orang-orang Bugis datang ke Desa Loloan Bali, karena menghindari penjajahan Belanda.

          Komunitas Islam ini hidup menyatu dengan masyarakat sekitarnya. Bahkan komunitas Islam Pegayaman memakai nama-nama Bali di depan nama Muslim mereka contoh : Haji Wayan Samzul Bachri). Tapi mereka tetap melaksanakan agamanya secara taat. Mengapa hal ini bisa terjadi?

          Sebagai abdi raja, komunitas ini mendapat perlindungan dari raja. Mereka diberikan tempat tinggal khusus, diberikan tanah untuk mendirikan masjid. Pada waktu pelaksanaan Naik Haji, raja memberikan mereka bantuan. Komunitas Islam Kepaon di Kota Denpasar Bali sampai sekarang menjaga hubungannya yang kuat dengan Puri Pemecutan. Setiap ada upacara di Puri Pemecutan, orang-orang Muslim Kepaon selalu datang untuk membantu.

          Di samping itu, komunitas ini tetap dapat memelihara dan menjalankan tradisi agamanya, karena umat Hindu di sekitarnya tidak menganggu mereka. Misalnya dengan upaya mengkonversikan mereka ke dalam agama Hindu dan umat Hindu menghormati keyakinan mereka. Dimana bumi dipijak disana langit dijunjung, demikianlah cara mereka untuk dapat hidup berdampingan secara harmonis, damai serta mereka sangat akrab dengan masyarakat setempat dan  turut serta menjaga alam lingkungannya.

IDENTIFIKASI DAN IMPLEMENTASI NILAI-NILAI LUHUR JATIDIRI DAN KARAKTERISTIK DASAR TATA RUANG BUDAYA BANGSA DI NEGARA PANCASILA : KAJIAN TEKSTUAL

Merupakan ekologi ribuan pulau kecil dan besar dengan melimpahnya sumberdaya alam, namun besar dalam potensi kebudayaan. Secara tesktual Indonesia memiliki rujukan budaya dalam penataan alam dan tata ruang yang terdiri atas filosofi, sistem nilai, etika, hukum dan pertahanan, kelembagaan, sampai dengan tatanan konsep. Beberapa konsep kunci yang sangat relevan dengan penataan ruang budaya bangsa adalah : Tri Hita Karana (tiga penyebab keharmonisan), Tri Mandala (tiga pembagian wilayah uttama – madhya – kanishta), Catus Patha (perempatan jalan raya), Jagadhita (alam semesta yang harmonis), dan lain-lain. Kondisi aktual dan kontekstual yang terkait dengan dinamika dan perubahan demografi, ekonomi, politik, pertahanan, teknologi menghadirkan beragam peluang dan ancaman terhadap tata ruang budaya bangsa tersebut.

Jatidiri tata ruang Bangsa Indonesia terbentuk melalui sinergis unsur alam, manusia, dan budaya bangsa yang dijiwai moral agama-agama besar di Indonesia (Islam, Hindu, Katholik, Kristen Protestan, Budha dan Kong Hu Cu). Jatidiri tata ruang budaya bangsa yang bersifat khas merupakan refleksi dari karakteristik religius, estetis, harmoni, dan dinamik bertumpu pada adagium Bhineka Tunggal Ika, desa-kala-patra (ruang & waktu), dan keserasian Bhuana Agung (alam semesta) dengan Bhuana Alit (manusia). Secara esensial, jatidiri tata ruang budaya bangsa merupakan kristalisasi dan karakteristik dasar yang bersifat ekspresif, religius, dan dinamis dengan muatan taksu (inner spirit). Jatidiri tersebut ke “dalam” merupakan indentifikasi diri dan kolektiva kehidupan pada dimensi mikro, meso, dan makro, serta ke “luar” merupakan bangunan citra dalam komunikasi lintas etnik dan lintas budaya.

Kajian mutakhir melalui Review Tata Ruang mengungkapkan, bahwa telah terjadi simpangan besar dalam tata ruang budaya bangsa, baik karena pengaruh faktor internal maupun faktor eksternal. Kausalitas pengaruh tersebut bersumber pada faktor-faktor demografis, ekonomi, politik, mentalitas, prilaku manusia (Antropos, Etnos, Teknos). Terkait dengan besaran dan intensitas pengaruh telah menimbulkan beragam isu tata ruang: Khaostik, pembusukan, ketersesakan, degradasi mutu dan berbagai kerusakan lainnya. Fakta lapangan telah merusak citra dan jatidiri tata ruang budaya bangsa. Karena adanya berbagai benturan dan disharmoni. (Lihat Peta).

POTENSI BUDAYA DAN IDENTIFIKASI NILAI-NILAI LUHUR

Potensi Budaya Bangsa (Perspektif Normatif)

Kebudyaan Indonesia yang dijiwai moral agama sebagai satu entitas yang komprehensif mencakup sistem agama, sistem budaya, sistem sosial, dan sistem pisik. Secara rinci, masing-masing sistem terdiri atas berbagai unsur yang secara kategorial meliputi filosofi nilai, konsep-konsep dan aturan. Ketiga kategori ini berada pada tataran yang berbeda, walaupun tetap terkait satu sama lain. Filosofi dan nilai ada pada tataran dasar (nilai dasar), konsep-konsep ada pada tataran instrumental, dan aturan-aturan riil terkait dengan kehidupan sehari-hari ada pada tataran praksis.

Dikaitkan dengan penataan tata ruang kebudayaan bangsa yang dijiwai moral agama dengan ke empat sub sistemnya berfungsi sebagai sumber spiritual, sebagai pembentuk jatidiri, sebagai wadah kelembagaan dan representasi peradaban (merevitalisasi peradaban termasuk membangun pertahanan Indonesia yang beradab)

Lebih rinci, melalui kebudayaan dan moral agama normatif ingin dikokohkan landasan kesucian, landasan filosofis, landasan etika, landasan budaya santun, landasan estetika, landasan orientasi sampai dengan landasan struktural.

Identifikasi Nilai-Nilai Luhur

Nilai-nilai luhur budaya Indonesia, yaitu ide mengenai hal-hal yang dianggap baik dan berharga dalam kehidupan masyarakat dan kebudayaan mencakup satu rentangan unsur-unsur abstrak (Intangible Culture, unsur budaya tak benda) yang terdiri atas :

 

Unsur Filosofi, (Philosophy)

Merupakan unsur yang paling dasar dan paling abstrak, berisi hakekat dan kebenaran dasar.

 

Unsur Nilai (Value)

Merupakan unsur budaya tentang hal-hal berharga dalam kehidupan, umumnya sebagai representation collective.

 

Unsur Konsep (Concept)

Merupakan unsur yang lebih instrumental dan lebih dekat ke tataran implementatif.

 

Unsur Norma dan aturan (Norms, Rules)

Merupakan unsur yang terkait dengan kehidupan nyata sehari-hari dan bernilai praksis.

Terkait dengan penataan ruang budaya bangsa, khususnya ruang tradisional, elaborasi nilai-nilai luhur yang berkembang dengan penata ruang yang kondusif, nyaman, dan aman.

KONDISI LAPANGAN YANG BERKEMBANG : Analisis Kontekstual

Lima Kecenderungan Perubahan Indonesia yang Mempengaruhi Tata Ruang Budaya Bangsa

Pertama, makin sesaknya ruang yang berdampak membesarnya tekanan terhadap masyarakat dan kebudayaan Indonesia secara ekologis makin dijejali bangunan pisik, kendaraan, manusia, khususnya di kawasan budidaya dan kawasan perkotaan (urban). Keadaan sesak ini mempengaruhi dan medistorsi implementasi konsepsi Tri Hita Karana dan rujukan nilai budaya yang lain. Keadaan ini berdampak semrautnya tata ruang dan merusak citra serta jatidiri. Wacana Indonesia pulau ruko, Indonesia kumuh, Indonesia tidak bersih muncul dari kondisi ketersesakan tersebut.

Kedua, Bangsa Indonesia yang agraris berkembangnya format ekonomi industri dan jasa disertai dengan menurunnya ekonomi agraris (agricultural urban ke broadbase industry). Budaya agraris atau budaya air yang lebih menawarkan keramahan dan keserasian manusia dengan alam berubah ke industri jasa atau budaya jalan raya yang mengedepankan materialisme, komersialisme, pragmatisme. Manusia cenderung lebih eksploitasi terhadap alam dan lingkungan. Penggunaan lahan mengalami alih fungsi dan jumlah lahan pertanian menurun (Hindu Bali : petani adalah manusia utama).

Ketiga, makin mengentalnya komitmen otonomi daerah dengan diiringi bangkitnya semangat primordial. Implementasi Otda dengan orientasi kewenangan ke Pemerintah Kabupaten/Kota lebih mendorong desentralisasi, pemberdayaan masyarakat lokal, hak-hak politik, ekonomi, sosio-kultural. Keutuhan alam dan budaya bangsa terpragmentasi lebih mengarah ke diversity dan melemahnya unity.

Keempat, makin padat dan heterogennya Indonesia (mengglobal) beragam ciri pluralitas dan potensi konflik. Jumlah penduduk setiap tahun tetap bertambah dengan kepadatan tidak merata. Jakarta cenderung berkembang sebagai kota tunggal migrasi masuk ke Indonesia meningkatkan pluralitas. Disamping memberi kebebasan lebih besar pada ruang, juga memacu kesemrautan ruang, terkait dengan beragamnya cara hidup, orientasi kepentingan dan orientasi budaya.

Kelima, perubahan mentalitas masyarakat ke arah pragmatisme, materialisme, yang cenderung makin mengeksploitasi alam dan lingkungan. Mentalitas masyarakat industri dan plural cenderung eksploitatif dan tampak kurang ramah pada lingkungan. Budaya malu makin distorsif, loyalitas kultural menipis, supremasi hukum melemah, sehingga kontrol terhadap segala penyimpangan juga tidak berdaya.

NILAI-NILAI BARU DAN BERATNYA IMPLEMENTASI PARADIGMA HARMONI DALAM PENATAAN RUANG BUDAYA BANGSA

Dalam pengertian yang lebih dinamis, kebudayaan yang hidup (Living Culture) juga dikontruksi dari cara-cara hidup yang baru dari masyarakat, seperangkat kognitif dan sistem nilai yang berkembang dari kesadaran baru manusia dalam menggapai perubahan lingkungan. Dalam realitas hidup, disamping perspektif tradisional juga berkembang perspektif baru yang modern. Demikianlah, disamping budaya agraris juga berkembang budaya industri, budaya jalan raya, disamping budaya air, budaya turistik disamping budaya indusrti, budaya kota disamping budaya kota budaya dan seterusnya.

Indonesia telah tumbuh sebagai satu global dengan berbagai cara hidup yang baru. Lingkungan dan cara hidup yang baru juga menawarkan nilai-nilai baru dalam masyarakat. Nilai materialisme, nilai pragmatis, nilai komersial, nilai premanisme (identik dengan budaya kekerasan, teroris) adalah seperangkat nilai yang makin mengedepan dalam kehidupan aktual. Masyarakat yang berkembang dalam arena kompleksitas nilai dapat bergerak ke arah tiga format alternative : (1) Integrasi nilai; (2) Konflik nilai; atau (3) Anomi.

Dalam kehidupan yang makin pluralistis, baik pluralistis secara pisik, mental, sosial, dan kultural dengan adanya berbagai konflik kepentingan dan konflik nilai, Implementasi paradigma harmoni, nilai keserasian dan konsep Tri Hita Karana tampaknya makin kuat dan akan memperolah beragam tantangan.

Masalah Tata Ruang dalam Perspektif kebudayaan dan Nilai.

Kausalitas terkait tata dengan ruang nasional berpangkal pada multi-kausal. Empat sumber masalah yang paling pokok adalah : populasi yang besar dengan kualitas yang rendah, ekonomi kapitalis yang eksploitatif, lemahnya kontrol hukum, dan misi pembangunan yang bersifat paradoks, di satu sisi berupaya memperbaiki kondisi, tetapi disisi lain berdampak makin merusak kondidi lingkungan seperti contoh pengalihan fungsi lahan, penumpukan tebal jalan yang terus-menerus yang menengelamkan pemukimam. Di wilayah urban juga makin menonjol peningkatan kualitas ruko, PKL secara tak terkendali yang merusak citra budaya.

Jenis-jenis masalah tentang tata ruang budaya bangsa yang terkait dengan budaya dan nilai :

  • Lemahnya rujukan pada nilai-nilai dasar (agama, filosofi).
  • Terbatasnya implementasi nilai-nilai instrumental (seperti THK) terkait dengan terbatasnya lahan dan perubahan gaya hidup.
  • Kaburnya nilai-nilai praksis terkait dengan perkembangan konflik nilai, paradoks kehidupan dan berbagai orientasi baru yang bersifat pragmatis dalam habitat pluralisme sosial dan cultural.
  • Model AETO (Antropus, Etnos, Tehnos, Oikos) dalam sub-disiplin Ekologi Budaya adalah satu model untuk memahami kompleksitas dan masalah lingkungan dan tata ruang perspektif multi dimensi : manusia-komuniti-teknologi dan lingkungan.

STRATEGI IMPLEMENTASI

VISI

Mewujudkan Indonesia sebagai satu kesatuan ruang dan lingkungan yang utuh, memiliki jatidiri yang dijiwai moral agama dengan di landasi Tri Hita Karana dalam rangka Membangun Pertahanan Indonesia yang Beradab.

MISI

Menjaga dan memuliakan tempat suci dan kawasan suci dan manusia beradab.

Mewujudkan tata ruang budaya bangsa dalam format keutuhan dalam keanekaragaman sebagai wadah pelestarian alam dan budaya bangsa.

Memperdayakan SDM, lembaga tradisional (adat, subak, pola kemitraan) dan peneliti.

Membangun lingkage lintas sektor secara komplementer sinergis untuk pembangunan berkelanjutan dalam dinamika lokal, nasional, global.

STRATEGI

Opsi 1 :  Konservasi dan Community based

Ruang dan lingkungan yang termasuk opsi ini harus dikonservasi secara utuh dan tertutup terhadap pengembangan melalui kesepakatan komuniti. Tujuannya agar ruang dan lingkungan tetap suci, asli, lestari, manusia bermoral dan beradab arif dan bijaksana dengan taat beragama.

Opsi 2 : Adaptif dan Community based

Ruang dan lingkungan yang termasuk opsi ini dapat dikembangkan secara adaptif, namun harus melalui konsultasi komuniti. Tujuannya agar ruang dan lingkungan terbuka untuk berkembang, namun tetap harus memberi manfaat bagi masyarakat berbudaya santun dan bermoral

Opsi 3 : Progresif dan Community based

Ruang dan lingkungan yang termasuk opsi ini dapat dikembangkan secara terbuka langsung untuk mengadopsi berbagai kegiatan ekonomi, bisnis, namun harus sinergis lintas sektor menjaga jatidiri ruang dan melalui konsultasi komuniti. Tujuannya pembangunan ekonomi, pisik dapat mengangkat derajat kehidupan bangsa, namun alam dan budaya bangsa tetap lestari.

IMPLEMENTASI

Filosofi dan nilai luhur harus dapat di implementasikan secara konkret agar benar-benar secara aktual menjadi landasan dan rujukan dalam tata ruang budaya bangsa. Tanpa implementasi konkret akan terjadi missing link antara nilai dan realita, antara kajian dan kenyataan.

4 PILAR KARAKTER BANGSA INDONESIA : KESEJAHTERAAN BERSAMA

          Dari kajian diatas maka 4 pilar Bangsa Indonesia yang beragama dan beradab harus mendorong dan membangun terciptanya keadilan sosial dalam masyarakatnya. Cita-cita keadilan sosial dalam agama apapun termasuk semua agama di dunia dan salah satunya dalam agama Hindu terdapat dalam konsep loksamgraha, atau kesejahteraan untuk seluruh masyarakat. Dalam konsep loksamgraha, terkandung kesetiakawanan, kerelaan untuk berkorban demi kepentingan orang lain yang kurang beruntung. Dan sangat tepat konsep ini dikemukakan dalam sidang saat ini dimana kenyataan yang tidak bisa dihindari bahwa kita bangsa Indonesia, bangsa-bangsa Asia malahan bangsa-bangsa di dunia ini yang terdiri dari keaneka ragaman kultur, bahasa, ras, geografi, sejarah, agama dan keimanan terpuruk akibat sering agama digunakan untuk menghancurkan peradaban manusia yang beradab diluar ajaran agama itu sendiri yang mengajarkan kita penuh kasih dan kedamaian.

          Veda meneguhkan kehidupan dan ketika Veda menyanyikan SARVE BHAVANTU SUKHINAH, mantra ini menekankan bahwa keselamatan pribadi bukanlah satu-satunya tujuan, tetapi bahwa kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat pemeluk Hindu, adalah sama pentingnya bahkan jauh lebih penting.

          Loksamgraha sebagai suatu yang ideal dari masyarakat Hindu, dapat diwujudkan melalui suatu proses. Dimulai dengan proses tumbuhnya kesadaran sosial dikalangan para pemeluk agama, bahwa masing-masing dari kita adalah bersaudara satu sama lain : WASUDEVA KUTHUMBHAKAM. Bahkan hakikat diri kita sebetulnya sama. Penderitaan bagi yang satu adalah penderitaan bagi yang lain. Kebahagiaan bagi yang satu adalah kebahagiaan bagi yang lain, aku adalah engkau : TAT TWAM ASI.

          Masyarakat yang sejahtera, adalah merupakan jumlah total dari individu dan keluarga yang sejahtera dan merupakan bagian dari masyarakat dunia yang sejahtera pula. Pada hakikatnya setiap individu para pemeluk agama, harus mampu menciptakan kesejahteraannya sendiri, melalui karma atau tindakannya sendiri. Dan untuk itu dia haruslah memiliki kemampuan, kecerdasan, keahlian dan pengetahuan serta keterampilan untuk menunjang profesinya, dengan mana dia mencapai kesejahteraan diri dan keluarganya termasuk masyarakat dunia.

          Kini adalah saatnya kita bersekutu untuk membangun dunia baru yang lebih aman, tenteram, adil, damai penuh kasih dan sejahtera dengan memperluas makna yajna, tidak saja pengorbanan dalam hubungannya dengan Tuhan, tetapi juga dengan sesama umat manusia, berdasarkan ’daya’ (compassion atau cinta kasih) dan ’dana’ (pemberian bantuan). Dana bukan untuk jangka pendek, atau caritas sentimental, berupa sedekah untuk sekedar menghilangkan lapar dan sakit. Dana haruslah untuk suatu yang bersifat strategis, jangka panjang, yaitu untuk peningkatan spiritualitas umat manusia yang lebih beradab.

Marilah kita bersekutu untuk membangun dan peka terhadap penyakit masyarakat dan ikut memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh mereka yang tidak beruntung. Agama yang tidak peka terhadap penyakit masyarakat dan tidak ikut ambil bagian dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat, tidak akan mendapat tempat dalam masyarakat modern, tidak menarik bagi manusia modern (Sarvepalli Radhakrisnan).

Kesimpulan

Berdasarkan uraian tersebut dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. Teologi di dalam kitab suci agama-agama di dunia ini termasuk kitab suci Veda dan susastra Hindu disebut Brahmavidya atau pengetahuan ketuhanan, yang di dalamnya mengajarkan berbagai aspek ketuhanan, utamanya yang berkaitan dengan makhluk ciptaan-Nya, yakni umat manusia untuk mcngembangkan kehidupan yang humanis, pluralis dan dialogis. Kehidupan yang humanis dilandasi oleh ajaran bahwa semua makhluk berasal dari Tuhan Yang Maha Esa dan akan kembali kepada-Nya. Kesadaran bahwa atma (roh) yang menghidupkan setiap makhluk berasal dari Tuhan Yang Maha Esa muncul ajaran yang disebut Panca Mahavakya Upanishad yakni: Tat tvam asi (Thou are That), Aham Brahmasmi (I am Brahman), Aham atma Brahma (This Self is Brahman), Prajnam Brahma (Consciousness is Brahman), dan Sarvam khalu idam Brahma (All indeed is Brahman).

Kitab-Kitab suci mengamanatkan untuk menyadari adanya kebhinekaan (pluralisme) dan untuk menumbuhkan kerukunan yang sejati mengembangkan sikap dialogis, dengan bermusyawarah untuk mencapai mufakat guna mewujudkan tujuan bersama yaitu Harmonis, Damai, Bersatu padu untuk membangun budaya rohani  yang utuh demi kesejahteraan umat manusia yang merupakan implementasi karakter bangsa. Di Bali dikenal dengan istilah Tri Hita Karana (Tiga hal yang penyebab keharmonisan), pertama : harmonis antara manusia dengan TuhanNya, kedua : harmonis antara manusia dengan manusia sesamanya, dan ketiga : harmonis antara manusia dengan alam lingkungannya.

 

Ida Bagus Gede Wiyana

Realizing Interfaith Concordance

One of the figures that actively plays role in creating such concordance is Ida Bagus Gede Wiyana. As Chairman of Interfaith Forum of Bali Province, he never gets bored to deliver ‘enlightenment’ to members of religious community in Bali, particularly those of Hindu. This father of two sons— Ida Bagus Erwin Ranawijaya, SH, MH and Ida Bagus Bayu Brahmantya, SH should make a visit to every nook and cranny delivering ‘dharma wacana’ or Hindu sermon on the importance of life concordance even though of different religions. Other than that, the husband of Dra. Ida Ayu Ratna Wesnawati, MM., should be able to accomplish some issues pertaining to interfaith concordance. For instance, resolving problems on house of worship, graveyard and making decision should there be any holidays of two or more religions falls on the same day. Once, the Nyepi (Silence) Day fell on the same day as Friday prayer. Nyepi requires silence and is not allowed devotees to go out, while the Moslem should go out to pay homage to mosque. Just as Nyepi that coincided with church service on Sunday. Though he is busy with managing the Dwijendra Education Foundation that organizes schools from kindergarten up to university, this man of Sanur-born (1 August 1951) never declines when being asked for his time to deliver enlightenment. Moreover, after the Bali Bomb I and II he progressively often appeared on television. According to him, the Interfaith Communication Forum was established on the accord of the caretakers of Religious Assembly existing in Bali like Parisadha (Hindu), MUI (Islam), Walubi (Buddha), MPAG (Protestant), MAKIN (Kong Hu Cu)  and Keuskupan (Catholic). The idea was sparked by the general election 1999. “The six religious assemblies felt there has been ‘violence’ in the reason of struggling for each religion. Mass savagery occurs everywhere,” he said. “However,” he added,” the beginnings of the establishment of the forum has existed since 1970s.” At that time, forum that has not formally founded many a time executed discussion relating to location of graveyard, house of worship, interfaith marriage and so forth. “Regional Office of Religious Affairs became its facilitator then,” he added. (BaliTravelNews/015)

1 Comment

Filed under Articles

One response to “MENYIKAPI RADIKALISME AGAMA-AGAMA DI BUMI PANCASILA (dari PERSPEKTIF AGAMA HINDU)

  1. Pingback: Persamaan Hindu Dan Islam (2) - Catatan Perjalanan Spiritual, Pengembangan Diri, Ide, Informasi, Hobi, Ilmu, wisdom, Filosofi, idealism dan Pemikiran .To Reach Highest Human Potentiality. - FajarNurzaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s