PROSES KEHINDUAN DI BALI


I.     PENDAHULUAN

Belum dapat dipastikan, kapan agama Hindu muncul di Indonesia. Demikian pula mengenai siapa yang membawa agama Hindu ke Indonesia, belum diketahui secara jelas. Dari data-data yang sementara ini dapat dikumpulkan memberi gambaran, bahwa agama Hindu muncul di Indonesia diperkirakan sejak permulaan abad Masehi. Kendatipun demikian namun kontak-kontak pendahuluan mengenai hubungan Indonesia dengan India telah terjadi jauh sebelumnya.

Perkembangan agama Hindu secara menyeluruh di Indonesia merupakan suatu deretan sejarah yang panjang serta mengalami pasang surut dan akhirnya ekstensinya tetap ada di Indonesia sampai sekarang. Situasi kehidupan negara Indonesia yang mantap memberikan gambaran bahwa prospek kehidupan agama Hindu di Indonesia dimasa mendatang adalah cerah. Berkembangnya kembali agama Hindu di Indonesia (baca : di luar Bali) disebabkan aleh beberapa faktor antara lain sebagai berikut :

  1. KuItur Indonesia sebelum datangnya agama-agama lain adalah kultur Hindu. Dari pustaka Negarakertagama dapat diketahui bahwa Kerajaan Majapahit pada abad 14 berhasil mewujudkan suatu negara kesatuan Nusantara di bawah naungan Majapahit. Kultur inilah tumbuh kembali setelah disentuh oleh ajaran-ajaran agama Hindu lewat buku-buku agama Hindu yang beredar sekarang, disamping juga sastra-sastra agama Hindu yang tersimpan dalam berbagai lontar yang kini banyak ada di Bali dan Lombok.
  2. Ajaran agama Hindu menyentuh rasa bathin dan jiwa yang mendalam dan membuka pemikiran yang konsepsianal. Pembahasan dilakukan secara rasional dan filosofis, sehingga dapat membuka kungkungan dari dogmatis.
  3. Ajaran agama Hindu bersifat fleksibel dan elastis. Sifat fleksibelitas ini didasarkan atas ajaran-ajaran yang supel dan luwes bersumber pada Weda yang senantiasa bersifat up to date. Dengan demikian, maka agama Hindu tidak tergoyahkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta proses modernisasi.

Dalam banyak hal, corak agama Hindu di Indonesia (baca : di Bali) berbeda dengan corak agama Hindu di India, meskipun sumber dan inti hakekatnya sama. Apabila di India Tri Murti dipuja secara horizontal, maka di Indonesia Tri Murti dipuja secara vertikal dengan pujaan utama kepada Dewa Siwa. Konsepsi pemujaan Tri Murti mulai dikenal di Indonesia sekitar pertengahan abad 7, sedangkan pemujaan terhadap Dewa Siwa lebih awal dikenal di Indonesia yaitu sekitar abad 4 M. Dengan demikian pada awal kedatangan agama Hindu di Indonesia, dikenal dua konsepsi yaitu konsepsi Siwa Siddhanta dan konsepsi Tri Murti. Dalam proses perkembangan agama Hindu di Indonesia, maka konsepsi Tri Murti luluh dengan konsepsi Siwa Siddhanta. Maka itulah kita dapati di Indonesia suatu lingga tribaga berdiri tegak diatas yoni .

Implikasi agama Hindu dengan kebudayaan terutama di Bali sangat pekat. Agama Hindu menyinari kebudayaan, sedangkan kebudayaan menopang aktivitas agama Hindu dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, maka upacara-upacara agama Hindu dan saran-sarana keagamaannya dapat diwujudkan secara meriah yang penuh dengan arti dan simbolis. Di sinilah muncul anggapan pada mereka yang kurang memahami yang mengatakan bahwa, agama Hindu adalah agama budaya. Sudah tentu anggapan seperti itu tidak benar dan perlu diluruskan. Berbagai anggapan keliru dilontarkan kepada agama Hindu seperti : agama budaya, politheisme, menyembah berhala, membakar jenazah dikatakan kejam, memakai dupa dikatakan memanggil setan, upacara agama dikatakan pemborosan materi dan sebagainya. Tanggapan keliru itu perlu dihilangkan dengan memberikan penjelasan-penjelasan yang rasional dan konsepsional. Karenanya masalah Theisme atau konsepsi Ketuhanan di dalarn agama Hindu perlu dijelaskan secara gamblang.

Peninggalan monumental seperti Candi di Jawa dan Pura di Bali, patut dikenal arti dan fungsinya, karena peninggalan-peninggalan itu menampakkan kebesaran agama Hindu di masa lalu pada zamannya. Demikian pula karya sastra Hindu berupa pustaka lontar yang memuat berbagai pengetahuan, perlu dikenal dan diresapkan isinya, karena sebagian besar dari karya sastra itu membentangkan masalah tattwa, tata susila dan upacara dan acara agama.

Hal-hal seperti itulah yang melintasi pikiran didalam upaya mengungkapkan Proses Kehinduan di Indonesia khususnya di Bali.

II.   LATAR BELAKANG AGAMA HINDU DI INDONESIA

Agama Hindu bersumber pada wahyu Tuhan Yang Maha Esa / Hyang Widhi yang  turun di India sekitar 2500 tahun BC. Wahyu-wahyu itu merupakan pengetahuan suci yang diterima  oleh orang-orang suci atau Rsi-Rsi dalam keadaan semadhi, kemudian dihimpun oleh  beberapa Maharsi antara lain Maharsi Wyasa yang mengumpulkannya menjadi Catur Weda berasal dari akar kata wid yang artinya tahu. Dari akar kata wid ini menjadi kata Weda  yang berarti pengetahuan suci. Juga dari akar kata wid menjadi kata Widhi artinya yang  memberi/sumber pengetahuan suci itu. Dari akar kata wid ini juga, menjadi kata widya yang  artinya kesadaran atau ilmu pengetahuan dan kebalikan dari widya adalah awidya yang artinya ketidaksadaran/kegelapan (ignorance).

Dengan turunnya Weda di India, maka timbullah suatu periode sejarah yang disebut zaman Weda. Pada zaman ini berkembanglah suatu corak kebudayaan baru di India yang mengambil sumber pada Weda dan meliputi beberapa aspek kehidupan yang disebut dengan  suatu istilah Hinduisme sebagaimana disebutkan di dalam Arya Warta.

Dalam perkembangan lebih lanjut pada Zaman Upanisad dimana bermunculan filsafat-filsafat di India, maka muncullah aliran-aliran yang disebut paksa atau sekte dalam agama Hindu, anatara lain sekte Saiwa, sekte Waisnawa, sekte Brahma, sekte Tantrayana dan lain-lain. Sekte Saiwa memuja Dewa Siwa sebagai suatu tokoh yang paling utama, sekta Waisnawa memuja Dewa Wisnu sebagai satu-satunya Tokoh yang paling utama, sekta Brahma mentokohkan Dewa Brahma dalam pemujaannya dan sekte Tantrayana memusatkan pemujaannya kepada Dewi Durga. Tiga dewa : Brahma, Wisnu dan Siwa dipuja secara horizontal, sebagai Dewa Tri Murti manifestasi dari Hyang Widhi.

Disamping agama Hindu, bahwa di India pada abad ke 5 BC muncullah agama Buddh2 yang menekankan ajarannya kepada masalah etika dan hukum karma. Agama Buddha juga mengajarkan berbagai aturan hidup masyarakat dan menimbulkan suatu paham yang disebut Buddhisme. Agama Buddha dibagi menjadi dua kelompok besar yang disebut Mahayana dan Hinayana. Dari masing-masing kelompok ini terbagi lagi menjadi beberapa mazab (aliran).

Pengertian Hinduisme di India, tidaklah mencakup Buddhisme dan kedua isme itu berdiri sendiri menempuh jalan sendiri dalam proses perkembangannya masing-masing. Tetapi pengertian Hinduisme di Indonesia mencakup pula Buddhisme Mahayana atau dengan kata lain Hinduisme di Indonesia mencakup semua paham yang berasal dari India yang masuk ke Indonesia pada abad permulaan tarikh Masehi yang didukung oleh budaya lokal di Indonesia.

III.   PROSES PERKEMBANGAN AGAMA HINDU DI INDONESIA

Pengaruh Hindu datang di Indonesia diperkirakan pada permulaan tarikh Masehi. Proses kedatangannya berlangsung secara damai dan bertahap-tahap. Kontak pendahuluan melalui media perdagangan yang dilakukan oleh pedagang India dengan para pedagang Indonesia (ada beberapa teori mengenai ini). Bukti-bukti ke Hinduan yang tertua di Indonesia diberikan persaksian oleh batu bertulis (Yupa) yang terdapat di Kutai Kalimantan Timur, memakai huruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta. Berdasarkan huruf Pallawa yang dipakai dalam Yupa tersebut, ditarik kesimpulan bahwa pengaruh Hindu yang masuk ke Indonesia, diperkirakan pada abad ke 4 Masehi, berasal dari daerah Koromandel di India Selatan. Dari segi keagamaan, keterangan yang tertulis pada Yupa itu menunjukkan corak Siwais, dinyatakan dalam kata Vaprakesvara yang berarti suatu tempat suci yang berhubungan dengan pemujaan terhadap Iswara yaitu nama lain dari Dewa Siwa. Diperkirakan sekitar 5 Masehi, muncullah ke Hinduan di Jawa Barat, ditandai dengan ditemukan 7 buah prasasti batu. dari segi keagamaan terdapat berbagai spekulasi mengenai agama yang dianut oleh kerajaan Tarumanegara. Ada bukti kuat yang menduga bahwa raja Pumawarman memuja Dewa Wisnu. Ada pula pendapat lain yang mengatakan raja Pumawarman memuja Siwa dan ada juga yang berpendapat bahwa ia menganut paham Brahmanical Religion.

Bukti-bukti masuknya agama Hindu di Jawa Tengah diberikan persaksian oleh prasasti batu Tuk Mas di desa Dakawu yang menyebutkan pujian terhadap kesucian sungai Gangga disertai gambar-gambar atribut Dewa Tri Murti, yaitu : Kendi (amrta-Brahma), Gadha (Wisnu) dan Trisula (Siwa) yang diperkirakan dibuat pada tahun 650 Masehi.

Pada zaman yang berikutnya, prasasti Canggal di gunung Wukir Jawa Tengah yang berangka tahun 654 S = 732 Masehi, menyebutkan pemujaan terhadap Dewa Siwa, Wisnu dan Brahma dalam suatu susunan yang vertikal, dengan mentokohkan Dewa Siwa sebagai yang paling dominan. Ini berarti secara konkrit pada 732 Masehi agama Hindu dalam arti pemujaan Tri Murti telah muncul di Jawa Tengah.

Munculnya agama Hindu di Jawa Timur ditandai oleh prasasti Dinoyo pada 760 Masehi. Di dalam prasasti ini terdapat kata putikeswara yang berarti api suci dari Dewa Siwa. Perkembangannya kemudian merupakan kelanjutan dari Jawa Tengah dengan berbagai corak.

Pengertian Tri Murti di Indonesia adalah pemujaan terhadap tiga dewa yaitu Brahma, Wisnu dan Siwa secara vertikal dengan pemujaan terhadap Dewa Siwa paling menonjol. Karena itu paham Tri Murti di Indonesia sering disebut Siwaisme atau sebaliknya Siwaisme atau agama Siwa adalah cakupan Waisnawa dan Brahmaisme. Inilah yang secara nyata kita anut di Indonesia sekarang. Mengenai siapa yang menyebarkan agama Siwa (baea : Hindu) di Indonesia, para ahli menunjukkan kepada seorang tokoh yaitu : Maharsi Agastya yang banyak namanya diabadikan pada prasasti-prasasti dalam Kesusastraan Jawa Kuno.

Disamping agama Hindu, maka agama Buddha juga masuk ke Indonesia. Menurut penelitian para ahli, bahwa agama Buddha Hinayana masuk ke Indonesia diperkirakan pada abad ke 3 Masehi. Hal ini diberikan persaksian oleh arca perunggu berbentuk Buddha Dipangkara yang terdapat di Sempaga-Sulawesi Tengah yang memakai gaya amarawati. Di Jawa Tengah agama Buddha Hinayana telah ada tahun 664 Masehi, dimana seorang pendeta Buddha Cina bernama Hwining menterjemahkan kitab Mulasarwastiwadanikaya, yaitu salah satu kitab suci Buddha Hinayana, bersama pendeta Indonesia (Holing) yang bernama Jnanabhadra.

Pada abad ke 7 Buddha Mahayana masuk dan berkembang di Sumatera Selatan bersama dengan pertumbuhan kerajaan Sriwijaya, yang diberikan persaksian oleh prasasti batu Kedukan Bukit tahun 683 Masehi dan prasasti batu Talang Tuwo tahun 684 Masehi. Dalam prasasti Talang Tuwo itu terdapat kata Wajrasarira yang artinya berbadan Wajra. Ini memberikan data, bahwa agama Buddha Mahayana yang masuk ke Sriwijaya adalah mazab Wajrayana atau juga disebut Buddha Tantra. Selain mazab Wajrayana, maka mazab Yogacara dari Buddha Mahayana juga masuk ke Indonesia.

Agama Buddha Mahayana ini juga masuk ke Jawa Tengah pada abad ke 8 Masehi, periode awal Sailendrawangsa di Jawa Tengah diberi persaksian oleh prasasti Kalasan tahun 754 M. Masuknya Buddha Mahayana ke Jawa Tengah yang diduga perkembangan dari Sriwijaya, mendesak Buddha Hinayana di daerah itu, sehingga Buddha Hinayana tidak lagi disebut-sebut dalam sejarah Agama di Indonesia.

Dari abad ke 8 sampai abad ke 9 agama Siwa dan agama Buddha Mahayana hidup berdampingan secara damai di Jawa Tengah (peaceful coexistence) di bawah dinasti Sanjaya dan dinasti Sailendra. hal ini dibuktikan dengan adanya Candi Borobudur sebagai lambang kemegahan agama Buddha Mahayana pada abad ke 9 (824-842 Masehi) dan Candi Prambanan pada abad ke 9 juga (± 856 Masehi) sebagai lambang kemegahan agama Siwa di Jawa Tengah.

Dalam perkembangan selanjutnya, sejarah mencatat terjadinya perluluhan antara beberapa unsur agama Siwa dan agama Buddha Mahayana dan dalam proses perluluhan ini, agama Siwa lebih dominan. Titik permulaan luluhnya antara kedua agama di mulai di Jawa Tengah sejak abad ke 9, kemudian berkembang di Jawa Timur sejak abad ke 10. Secara intensif perluluhan itu memuncak pada periode Singosari di Jawa Timur dan Kertanegara sendiri bergelar Prabu Siwa Buddha. Dalam zaman Majapahit perluluhan itu lebih luas lagi meliputi bidang filsafat, upacara agama, seni bangunan, kesusastraan dan tata pemerintahan. Pada periode inilah muncul kakawin Sutasoma dan cerita Bhukbhuksah Gagangaking yang bertenden Siwa-Buddha.

 IV.   SEJARAH AGAMA HINDU DI BALI

Sesuai dengan sifat Sejarah, bahwa pengetahuan mengenai kedatangan Hinduisme di Bali didasarkan atas fakta yang dapat dikumpulkan. Menurut hasil penelitian para ahli sejarah, bahwa Hinduisme yang datang di Bali, ada yang datang dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera dan ada juga datang dari Thailand. Kapan mulai masuknya Hinduisme di Bali ? menurut bukti-bukti dalam Stupika Buddha yang terdapat di Pura Penataran Sasih di Pejeng, bahwa dalam abad ke 8 di Bali telah terdapat Hinduisme dalam wujud agama Buddha Mahayana dan agama Siwa. Juga prasasti tembaga yang tersimpan di desa Sukawana­Kintamani tahun 882 Masehi sudah menyebutkan nama-nama Bhiksu Siwa Nirmala, Bhiksu Siwa Praja dan Bhiksu Siwa Kangsita. lni berarti keberadaan agama Siwa dan agama Buddha di Bali adalah pada kurun waktu yang bersamaan.

Dari data-data sejarah Bali Kuna, diperoleh keterangan, bahwa raja-raja Bali Kuna sebelum kedatangan Gajah Mada ke Bali tahun 1343 Masehi, adalah memeluk agama Buddha Mahayana. Agama Buddha Mahayana di Bali dianut oleh raja-raja dan para pejabat tinggi pemerintahan Bali Kuna dahulu, sedangkan agama Siwa dianut oleh masyarakat.

Perluluhan agama Siwa dengan Buddha secara intensif di Bali, dimulai sejak akhir abad ke 10, ditandai dengan perkawinan Dharma Udayana raja Bali Kuna yang beragama Buddha Mahayana dengan Mahendradatta putri raja Jawa Timur yang beragama Siwa. Sejak itu agama Siwa berkembang secara meluas di Bali dan agama Buddha tidak mengembangkan dirinya, melainkan lu1uh ke dalam agama Siwa (baca : Hindu).

Pada masa pemerintahan raja Anak Wungsu di Bali (abad ke 11), datanglah Empu Kuturan dari Jawa Timur ke Bali. Be1iau berkedudukan di Silayukti Padangbai sekarang. Empu Kuturan datang ke Bali, mengajarkan konsepsi pemujaan Tri Murti dan diterapkan pada masing-masing desa pakraman. Beliau juga mengajarkan tentang Upaeara Ngaben Swasta, tentang upacara Manusa-Yajna (Dharmakahuripan), tentang cara membuat meru di Besakih, tentang pedagingan pa1inggih dan mendirikan Sad Kahyangan Jagat Bali serta beberapa Kahyangan lainnya lagi dan lain-lainnya. Disamping itu beliau juga menyempumakan kehidupan agama Hindu di Bali dari sebelumnya serta menghimpun beberapa sekte agama Hindu yang telah ada di Bali seperti : sekte Kala, sekte Sambhu, sekte lndra, sekte Brahma, sekte Waisnawa dan sekte Saiwa.

  1. Kala paksa : mengajarkan tentang upacara untuk tanam-tanaman (pertanian).
  2. Sambhu paksa : mengajarkan tentang mengupacarai jagat (bhuwana), mengadakan tawur dan caru kepada Panca maha bhuta.
  3. Indra paksa : mengajarkan tentang mengupacarai laut, gunung, merebu bumi ngenteg linggih (Dewahara).
  4. Agni paksa : mengajarkan tentang mengupacarai atma atau rokh manusia serta sekalian mahluk (sarwa prani).
  5. Waisnawa paksa : mengajarkan tentang mengupacarai danau, sawah, ladang dan segala pembersihan lahir bathin.
  6. Saiwa paksa : mengajarkan tentang mengupacarai manusia dalam bentuk upacara-upacara Janmaprawerti dan Dharmakahuripan.

Singkatnya :

                   Sambhu paksa           :  mengajarkan Jagatkrtih 

                    lndra paksa                 :  mengajarkan Samudrakrtih

                    Agni paksa                   :  mengajarkan Atmakrtih

                    Waisnawa paksa      :  mengajarkan Danukrtih

                   Kala paksa                   : mengajarkan Wanakrtih

                   Siwa paksa                  :  mengajarkan Janakrtih

Ajaran tersebut diatas disebut Sad-Kertih yang menjadi dasar dari bentuk-bentuk upacara agama Hindu di Bali yang akhimya disempumakan dan dicakup ke dalam Panca Yadnya, disertai paham Tantrayana.

Pada masa pemerintahan Dalem Baturenggong di Gelgel (1460-1550 Masehi), datanglah Dang Hyang Nirartha dari Kediri Jawa Timur Ke Bali. Kedatangan beliau ke Bali bertujuan ganda yaitu :

  1. Mempertahankan Bali dari desakan paham baru (baca : Islam) yang telah meruntuhkan Majapahit.
  2. Meningkatkan dan menyempurnakan cara-cara hidup beragama Hindu di Bali menuju kepada kemurniannya.

Beliau mengajarkan tentang Tripurusa dalam konsepsi Siwa Sidhanta yaitu : Siwa, Sada Siwa dan Parama Siwa yang diidentikkan dengan Tri Murti. Beliau juga mengajarkan membuat palinggih Padmasalla sebagai linggih Hyang Widhi. Beliau melakukan Karya Ekadasarudra di Besakih, guna memohon kesentosaan rakyat Bali. Selain itu beliau juga mengajarkan tentang Panca Yadnya yang disempurnakan di Bali dan juga menyusun Weda yang dipakai pegangan oleh para Pedanda sekarang di Bali. Beliau adalah sastrawan besar dan berbagai karya sastra beliau diwariskan di Bali sekarang seperti : Dharmasunya, Nitisastra, Ekapratama, Usana Bali, Ampik, Sebun Bangkung dan sebagainya. Perjalanan beliau sebagai dharmayatra di Bali banyak diabadikan dalam Pura, seperti : Purancak, Rambut Siwi, Tanah Lot, Peti Tenget, Uluwatu, Sakenan, Air Jeruk, Ponjok Batu dan sebagainya. Beliau berdharmayatra sampai ke Lombok dan Sumbawa dan akhimya moksa di Uluwatu.

Dalam periode ini pula datanglah Dang Hyang Astapaka dari Jawa Timur ke Bali. Beliau adalah seorang pendeta Buddha dari keturunan Dang Hyang Angsoka yang beraliran Wajrayana dengan pemujaan yang terutama kepada Wairocana yaitu Dhyani Buddha yang di tengah dalam susunan Panca Tatagatha Buddha. Keturunan beliau sekarang terdapat di desa Budha Keling Karangasem, di desa Batuan-Gianyar dan juga tempat lain.

Pemerintahan Sri Kresna Kepakisan di Bali yang berasal dari Majapahit menerapkan tradisi yang berlaku di Majapahit seperti dalam upacara-upacara agama yang besar dipimpin oleh pendeta Siwa dan Buddha, sebagaimana diuraikan didalam Negarakertagama yang kita warisi sekarang ini di pulau Bali dan berkembang menurut desa, kala dan patra.

Dalam perkembangan lebih lanjut, bahwa sejarah mencatat terjadinya perubahan sistem kenegaraan di Indonesia. Dengan dijajahnya Indonesia oleh Belanda, maka mulailah diterapkan pendidikan klasikal di Indonesia, dengan sistem pendidikan baru. lni mengakibatkan berkembangnya pemikiran intelektual di masyarakat termasuk dikalangan umat Hindu. Dengan demikian maka ajaran-ajaran agama Hindu mulai dikaji secara mendalam dengan menggunakan pendekatan ilmiah dan analisis-analisis rasional. Hal yang demikian itu dipelopori oleh orang-orang Hindolog yang berhasil menyelesaikan pendidikannya di India. Mereka mulai memperkenalkan Kitab Bhagawadgita dan Kitab-kitab Upanisad yang sebelumnya kurang dikenal di Indonesian. Pandangan-pandangan rasional bermunculan dan secara perlahan-Iahan menggugah hati nurani Umat Hindu untuk memperdalam pengetahuan serta keyakinannya terhadap agama Hindu. Ini adalah proses awal terbentuknya Parisada.

Sekarang Umat Hindu telah tersebar di seluruh propinsi di Indonesia, lebih-Iebih lagi di Jawa Tengah dan di Jawa Timur. Berkembangnya kembali Umat Hindu di Indonesia yang pemah mengalami masa kejayaan di Indonesia jaman Majapahit, bukanlah berarti menyebarkan agama baru, melainkan mereka sendiri dengan penuh keyakinan untuk kembali menganut agama Hindu yang dianut oleh nenek moyangnya dahulu.

V.      PENGERTIAN TANTRAYANA

Tantrayana berpangkal pada Konsepsi-Dewi (Mother Gooddes) yang bukti-buktinya terdapat di Lembah Sidhu. Dari Konsepsi-Dewi itu muncullah Saktiisme yaitu suatu ajaran yang mengkhususkan pemujaannya kepada Sakti, yaitu kekuatan dari Dewa, terutama sekali pemujaan terhadap Dewi Durga. Golongan pemuja Sakti disebut Sakta. Perkembangan lebih lanjut dari Saktiisme itu munculan Tantrisme. Golongan itu memuja Sakti secara Ekstrim dan mereka disebut Tantrayana. Tantra berasal dari kata Tan artinya memaparkan (memaparkan kekuatan dari Sakti itu). Dari Tantrisme ini muncullah suatu pada Bhairawa yang artinya Iwhat. Paham Bhairawa itu secara khusus memuja kehebatan daripada Sakti itu, dengan cara­cara yang spesifik. Mereka melaksanakan barata lima MA, yaitu: mamsa, matsya, madhya, maituna dan mudra yang disebut Panca Tattwa. Praktek ajarannya pada waktu malam diatas kuburan serta ditempat yang angker dan mereka menggunakan masker. Kegunaan dari pada ini adalah untuk mendapatkan kharisma yang tinggi yang diperlukan dalam suatu pengendalian pemerintahan. Maka dari itu aliran ini hanya diikuti olh Raja dan Staf Pejabat Tinggi saja jaman dahulu. Bhairawa ada tiga macam yaitu : Bhairawa Heruka, Bhairawa Kalacakra dan Bhairawa Bhima. Aliran ini mempunyai tendensi politik dalam suatu pemerintahan dalam menghadapi musuh.

Di Bali, perkembangan dari Konsepsi-Dewi itu nyata sekali yaitu pemujaan Dewi/Bhatari lebih menonjol dari pada pemujaan Dewa/Bhatara, misalnya pemujaan terhadap Dewi Saraswati, Dewi Durga, Dewi Sri, Ibu Pertiwi dan sebagainya. Di dalam sistem kekeluargaan di Bali, banyak sekali dijumpai Pura Ibu.

Perkembangan Saktiisme di Bali, menjurus kepada dua aliran yaitu : Pangiwa dan Penengen. Kelompok Pangiwa memunculkan : Leyak, Desti, Teluh Taranjana dan Wegig. Kelompok Panengen memunculkan Kawisesan dan Pragolan. Pangiwa berasal dari sistem Niwerti dalam Bhairawa, sedangkan Panengen berasal dari sistem Prawerti dalam Bhairawa.

VI.   CAKUPAN SUBSTANSI AGAMA HINDU DI BALI

6.1 Alam Pikiran Lokal

Alam pikiran (baca : Bali) adalah bersifat fleksibel dan elastis yaitu mau menerima unsur-unsur pengaruh luar secara selektif untuk memperkaya pemikiran di Bali dan memberikan wama tersendiri serta mengembangkannya menurut alam pikiran Bali, sepanjang hal itu tidak bertentangan dengan sifat-sifat dan kepribadian masyarakat Bali. Pandangan yang luwes itu melandasi pertumbuhan dan perkembangan kehidupan sosial, budaya dan agama Hindu di Bali, sehingga mampu beradaptasi dengan produk-produk pemikiran dari luar, tanpa mengorbankan prinsip-prinsip kepribadian masyarakat Bali.

Sebelum kedatangan agama Hindu di Bali, Bali (baca : Indonesia) telah memiliki unsur-unsur kebudayaan yang bemilai tinggi yang di dalam bahasa populernya disebut local genious, disamping juga memiliki alam pikiran kerohanian dalam wujud religi yang bemilai tinggi. Alam pikiran inilah yang disebut alam pikiran lokal yang telah ada sebelum datangnya pengaruh Hindu di Bali.

Setelah datangnya pengaruh Hindu di Bali dalam wujud sosial, budaya dan agama, maka terjadilah akulturasi kebudayaan dan sinkritisme kepercayaan anatara alam pikiran lokal di Bali dengan pengaruh Hindu yang selanjutnya berproses sedemikian rupa dan muncullah tatanan kehidupan sosial, budaya dan agama Hindu di Bali. Oleh karena kualitas alam pikiran Hindu lebih tinggi daripada alam pikiran lokal di Bali, maka dalam proses akulturasi dan sinkritisme itu alam pikiran lokal menjadi dasamya dan pengembangannya diwamai oleh alam pikiran Hindu. Dengan lain perkataan, bahwa tatanan kehidupan sosial, budaya dan agama Hindu di Bali sekarang adalah agama Hindu yang dilandasi oleh alam pikiran lokal di Bali.

Terjadinya hubungan harmonis antara alam pikiran lokal dengan alam pikiran Hindu di Bali disebabkan oleh dua hal yaitu :

  1. Alam pikiran lokal mau menerima alam pikiran Hindu secara selektif dan menyesuaikannya dengan alam pikiran lokal yang hidup di Bali.
  2. Alam pikiran Hindu yang masuk ke Bali tidak bersifat kaku, melainkan menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi alam pikiran lokal di Bali. Hal itu disebabkan karena adanya konsep : desa, kala, patra dan kallistlta, madya, utama dalam alam pikiran Hindu. Inilah menyebabkan mengapa agama Hindu dapat hidup sepanjang zaman sehingga selalu up to date.

Beranjak dari analisis ini, maka tidak semua pengaruh Hindu diserap secara utuh di Bali, melainkan diambil dan dipilih yang sesuai dengan alam pikiran lokal di Bali (baca : Indonesia), Catur Weda, Manawadharmasastra, Nawadarsana, Ajaran Sekte, Tata Kemasyarakatan, Seni-Budaya, upacara dan lain-lainnya. Dari sini dapat diketahui bahwa dalam banyak hal kehidupan agama Hindu di India berbeda dengan agama Hindu di Bali, kecuali sumbernya yang sama yaitu Weda.

6.2  Sinkritisme Substansi Sekte

Di dalam bahasa Weda, sekte itu disebut paksa yang artinya bagian. Sekte-sekte itu telah ada sejak zaman Reg Weda. Munculnya sekte-sekte itu karena penonjolan pemujaan kepada Dewa-Dewa tertentu. Dewa-dewa yang terkenal di dalam Reg Weda antara adalah : agni, Indra, Marutha, Rudra dan lain-lainnya. Perkembangannya kemudian terutama zaman Upanisad, sekte-sekte itu bertambah banyak, bahkan banyak muncul sub-sekte antara lain : Saiwa, Waisnawa, Brahma, Saurapatha, Indra, Wayu, Kala, Tantrayana dan sebagainya. Sekte Saiwa terbagi menjadi 4 aliran yaitu : Ganapatha, Linggayat, Pasupatha dan Siwa Sidhanta. Demikian pula sekte yang lain juga terbagi menjadi aliran-aliran.

Sekte-sekte ini masuk ke Indonesia dan ke Bali pada tahap awal kedatangan pengaruh Hindu ke Indonesia dan Bali. Dr. R. Goris menyatakan ada 9 sekte agama Hindu di Bali yaitu : Siwa-Sidhanta, Pasuphatha, Bhairawa, Waisnawa, Buddha, Brahmana, Resi, Ganapatha dan Sora. Tetapi di dalam lontar Sad Agama disebutkan ada 6 sekte agamaHindu di Bali yaitu : Brahma, Waisnawa, Saiwa, Bauddha, Kala dan Bayu. Apabila diteliti secara seksama, baik di dalam tradisi, maupun didalam prasasti dan kesusastraan, dapat disimpulkan sekte-sekte agama Hindu yang ada atau pemah ada di Bali adalah:

  1. Brahma                  :    Homatraya dan Agenisala ;
  2. Waisnawa              :    Danukrtih;
  3. Linggayat               :    Pemujaan Lingga;
  4. Ganapatha             :    Pemujaan Gana;
  5. Pasupatha              :    Pemujaan Pasupati ;
  6. Siwa-Siddhanta    :    Pemujaan Tripurusa ;
  7. Tantrayana            :    Pemujaan Durga dan Dewi;
  8. Indra                       :    Pemujaan Akasa dan mohon hujan;
  9. Kala                         :    Mengupacarai Gunung dan Lautan ;
  10. Sambhu                  :    Mengupacarai Jagat ;
  11. Bayu                        :    Pemujaan terhadap kekuatan (pramana) ;
  12. Saurapatha            :    Pemujaan Surya;
  13. Bauddha                 :    Pemujaan Wairocana ;

Sekte-sekte ini mengalami perluluhan atau sinkritisme antara yang satu dengan yang lain. Proses perluluhannya adalah sebagai berikut :

  1. Perluluhan pertama terlihat pada prasasti Canggal tahun 732 di Jawa Tengah dimana Brahma- Wisnu-Siwa dipuja dalam kesatuan vertikal dengan mentokohkan Dewa Siwa sebagai pujaan yang utama.
  2. Perluluhan kedua terlihat pada prasasti Klurak tahun 762 M di Jawa Tengah antara agama Hindu (baca : Tri Murti) dengan agama Buddha Mahayana. Perluluhan Siwa-Buddha ini makin kuat di Jawa Timur mulai Zaman pemerintahan raja sendok dan berlanjut sampai zaman Singosari dan zaman Majapahit serta ke Bali.
  3. Perluluhan ketiga terjadi secara intensif di Bali dimulai dari periode Empu Kuturan di Bali tahun l039 M, dengan tahapan sebagai berikut :
    1. Sekte-sekte agama Siwa (Linggayat, Ganapatha, Pasupatha dan Siwa-Sidhanta) luluh dan menyatu ke dalam Siwa-Sidhanta.
    2. Sekte-sekte yang lain (selain Bauddha) luluh menjadi satu yaitu : Tri Murti yang terdiri dari : Brahma- Wisnu-Siwa (Iswara) dalam suatu kesatuan vertikal.
    3. Konsepsi Tri Murti di Bali luluh dengan Konsepsi Tripurusa yang merupakan hakekat dari pada ajaran Siwa-Sidhanta dengan menonjolkan Paramasiwa sebagai Sang Hyang Widhi.
    4. Konsepsi Tripurusa seperti tersebut pada butir c, luluh dengan Konsepsi Buddha Mahayana dengan menyamakan Panca Tathagatha dengan Panca Dewata dalam agama Hindu. Di dalam perluluhan Siwa-Budha ini, Siwaisme lebih dominan dari pada Buddhisme.

Hakekat ajaran sekte-sekte itu semuanya menyatu menjadi satu konsepsi agama Hindu dan ditopang oleh nilai-nilai alam pikiran lokal di Bali yang hidup di masyarakat. Inilah gambaran kehidupan agama Hindu di Bali yang telah belangsung harmonis secara turun­temurun dalam tatanan masyarakat Hindu di Bali.

Berbeda halnya dengan di India dimana sekte-sekte itu berdiri sendiri dan sulit terjadinya perluluhan antara sekte yang satu dengan sekte yang lain, bahkan bertentangan antar sekte banyak sekali.

6.3  Menghayati Agama Secara Utuh

Agama harus dihayati, dicamkan, direnungkan dan diwujudkan dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Agama bukan hanya diomongkan, melainkan dilaksanakan dengan penuh keyakinan yang bermuara pada logika dan rasa batin (atmanastuti). Ada dua komponen yang terpadu dalam agama yaitu: rasa dan rasio. Didalam perpaduan ini, rasa (baca : rasa batin) mendominasi, karena Sang Hyang Widhi tidak membedakan orang yang pintar dengan orang yang bodoh, melainkan membedakan orang yang batinnya suci dengan orang yang batinnya kotor. Dalam hal ini ada dua istilah yang dapat diangkat, yaitu: ahli agama dan agamawan. Ahli agama belum tentu agamawan, tetapi agamawan sudah tentu tahu agama walaupun sangat minim. Karena itu agamawan lebih tinggi nilainya dari pada akhli agama.

Metoda yang baik untuk mewujudkan adalam dalam kehidupan adalah melaksanakan Catur-Marga (bhakti-marga, karma-marga, jnana-marga dan yoga-marga) secara utuh, karena hal itu merupakan suatu kesatuan. Tidaklah dibenarkan apabila Catur-Marga itu dilaksanakan secara terpisah-pisah, karena kualitas sumber daya manusia umat tidak sama kuatnya, maka adanya penonjolan salah satu marga itu dapat dipahami, namun harus tetap dalam konteks kesatuan Catur-Marga itu secara utuh.

Kita memahami, bahwa agama Hindu memiliki tattwa, susila, upacara dan acara. Inipun harus diwujudkan secara nyata didalam kehidupan sehari-sehari, karena semuanya itu merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisahkan. Apabila menonjolkan tattwa (baca: filsafat) saja tanpa diwujudkan dengan susila, ini akan dapat memunculkan kemunafikan. Apabila menonjolkan susila saja tanpa melaksanakan upacara (dalam arti luas), ini sulit menamakan apakah mereka beragama atau tidak. Apabila upacara saja tanpa disadari tattwa dan susila, ini dikatakan dogmatis. Demikian pula apabila melaksanakan acara (tradisi) saja tanpa didasari tattwa dan susila, ini dikatakan buta.

Maka dari itu kewajiban kita umat Hindu haruslah melaksanakan agama secara utuh, mencakup tattwa, susila, upacara dan acara, sehingga suatu kesempurnaan akan dapat dicapai didalam kehidupan ini. caranya adalah : tattwa harus dicamkan, susila harus dijadikan pedoman dan arahan berperilaku, upacara harus dilakukan atas dasar Catur-Marga, dan acara harus dihormati sebagai nilai luhur warisan budaya bangsa. Dengan demikian kesejahteraan batin dan kemantapan rohani serta kestabilan jiwa akan dapat dicapai dalam kehidupan.

VII. KOMPARASI KEHINDUAN DI INDIA DENGAN BALI

7.1.1. Sosial, Budaya dan Agama Hindu

7.1.2. Sosial:

Masyarakat Hindu di India terdiri dari beberapa ethnis dan tribes seperti: Dravida, Arya, Naga, Sikh dan lain-lain (Agama Sikh adalah campuran Hindu dengan Islam) yang masing-masing menampakkan kharakternya sendiri-sendiri. Di sana ada perkampungan-­perkampungan seperti desa di Bali yang disebut Grama. Grama yang besar atau kumpulan beberapa Grama disebut Pura yang berarti kota semacam Kota Kecamatan di Bali. Kehidupananya sangat kumuh dan kotor berbaur dengan ternak sapi yang diperliharanya dan banyak sekali sapi liar yang berkeliaran di jalan-jalan.

Keadaan perkonomian masyarakatnya sangat lemah dan mundur serta banyak pengemis yang berkeliaran di jalan-jalan. Pada umumnya tanah-tanah dikuasai oleh tuan-tuan tanah dan banyak rakyat kecil yang tidak mempunyai tanah. Hal ini mungkin disebabkan penduduk India sangat padat ± 900 juta jiwa, disamping juga karena dampak politik swadesi dan satyagraha yang diajarkan oleh Mahatma Gandhi yang menyebabkan ketertutupan India dari pengaruh  dunia luar.

Suatu hal yang menarik perhatian dan merupakan suatu ironis adalah murahnya harga kain sutra dan woll. Demikian pula buku-buku yang bagus berstandar internasional sangat banyak dan murah harganya bila dihitung dengan rupiah Indonesia. Makanan pokok sehari-­hari adalah susu dan tepung beras dan gandum yang diramas sedemikian rupa dicampur gula dan bumbu-bumbuan yang pedas. Jenis makanan yang paling umum di India adalah capati (seperti jajan kering) dan tali (semacam jajan dicampur kentang dan sayur-sayuran). Orang India sebagian besar vegetarian, lebih-lebih lagi di daerah Resikesh dan Haridwar di India Utara yang menerapkan kehidupan full vegetarian dan juga didalam kehidupan Ashram-Ashram.

7.1.3. Budaya

Pada umumnya orang India pandai bersilat lidah, kikir dan sulit dapat menepati janji. Mereka sangat berorientasi kepada nilai-nilai spiritual dan agaknya menyampingkan nilai-nilai kehidupan duniawi, sehingga tampaknya kurang seimbangnya antara kehidupan skala dan niskala.

Produk budaya dalam wujud ilmu pengetahuan, teknologi, kesusastraan dan filsafat, sangat maju di India. Demikian pula arsitektur bangunan suci seperti Mandir, misalnya memakai style Gotic dan iconografi style Hellen memancarkan wujud yang anggun dan megah.

7.1.4. Agama

Di India terdapat penganut agama Hindu (?) yang mayoritas, dan penganut agama Sikh serta penganut agama Islam yang sedikit jumlahnya. Situasi kehidupan antar umat beragama di India, menampakkan suasana yang tidak rukun dan sangat mudah munculnya bentrokan antara yang satu dengan yang lain.

Setelah memperhatikan buku-buku yang dikeluarkan oleh Sekte Saiwa, sekte Waisnawa, sekte Tantrayana dan Budhis serta buku-buku dari berbagai aliran dan paham di India, serta menyaksikan sendiri di beberapa Ashram di India, saya berkesimpulan bahwa di India tidak ada yang disebut agama Hindu sebagai suatu kesatuan di India. Di India tidak ada satu lembaga umat yang mengkoordinasikan dan membina masyarakat Hindu seperti parisada di Indonesia. Di India ada Parisad (baca : Parisada), namun lembaga itu bukanlah lembaga atau majelis umat, melainkan merupakan suatu parlemen yang bersifat lembaga politik dalam  negara sekuler.

Untuk memperoleh gambaran mengenai kehidupan agama di India, disini diangkat hal-hal yang menonjol di India seperti berikut ini:

  1. Keagamaan di India bersifat Sektarian. Sekte yang menonjol ada tiga, yaitu : Saiwa, Waisnawa dan Tantrayana, disamping juga adanya banyak sekte yang lain. Pemujaan terhadap Brahma juga ada, namun keadaannya tidak seperti pemujaan terhadap Siwa, Wisnu dan Durga. Pemujaan Tri Murti disana dilakukan horizontal dan masing-masing Dewa dipuja terpisah secara tersendiri oleh pemujanya masing-masing. Disamping itu disana ada banyak Ashram yang mengajarkan sistem pendidikan kerohanian sendiri-­sendiri dengan pola orientasi dan arahan sendiri pula.
  2. Theisme atau Konsepsi Ke-Tuhanan di India agaknya kabur antara pemujaan terhadap Dewa dan Dewi dengan pemujaan terhadap individu yang suci seperti terhadap : Rama, Krishna, Hanoman dan lain-lain. Juga terjadi kekaburan antara personel dengan impersonal dalam imaginasi perwujudan Dewa dan Dewi. Demikian pula pentokohan terhadap seorang Guru Suci adalah sangat penting di hati para pengikutnya. Guru Suci inilah yang berperan sangat besar dalam kehidupan kerohanian di India seperti Swami Wiwekananda misalnya. Peran pemerintah di bidang keagamaan tidak begitu besar, karena India merupakan suatu Negara Sekuler
  3. Aktivitas keagamaan menonjolkan doa-doa dan pujian-pujian dalam bentuk Hymne daripada upacara ritual yang ceremonial.
  4. Prasarana keagamaan terlihat dalam wujud Mandir dan Arca-Arca, sedangkan sarana pemujaan yang digunakan hanyalah: bunga, air dan api. Penggunaan bunga dan air dalam pemujaan adalah berasal dari kebudayaan bangsa Arya, sedangkan penggunaan api adalah berasal dari kebudayaan bangsa Dravida. Suatu hal yang menarik perhatian adalah pada setiap tempat suci terdapat Arca (image) yang menjadi fokus konsentrasi pemujaan. Secara konseptual rupa-rupanya personifikasi Tuhan yang abstrak atau impersonal itu sangat dominan didalam imaginasinya.
  5. Kehidupan yang tidak seimbang. Orang-orang di India lebih menitikberatkan orientasi kehidupannya kepada sunyata dan mengesampingkan nilai-nilai sekala atau duniawi. Mereka dalam kesehariannya sebagian besar waktunya disita untuk merenung dan berdoa serta memuji-muji tokoh kerohanian yang dipujanya. Oleh karena itu tampaknya mereka kurang bersemangat meningkatkan kualitas kehidupan duniawinya. Disana sulit membedakan antara orang Sanyasin dengan orang peminta-minta yang sangat banyak berada disekitar tempat-tempat suci. Selain itu sifat mengkultuskan sapi sangat berlebihan di India.

7.2.   Sosial, Budaya dan Agama di Bali

Kita patut bersyukur, bahwa kita diwarisi suatu tatanan kehidupan sosial, budaya dan agama Hindu yang telah mantap dan konseptual. Aktivitas agama Hindu di Bali cukup semarak dan meriah serta konseptual, karena ditopang oleh adat yang kukuh dan elastis, seni budaya yang kreatip serta bernilai tinggi. Agama Hindu menyinari kehidupan sosial budaya yang memberikan orientasi dan arahan di dalam kehidupan, sedangkan sosial budaya menopang dan mewujudkan ajaran agama dalam kehidupan masyarakat, sehingga menciptakan suatu tatanan kehidupan masyarakat socio-religius yang mantap dan etis-moralis serta dharmais.

Konsep kehidupan sosial, budaya dan agama Hindu di Bali adalah untuk mewujudkan kesejahteraan bersama (Jagadhita) melalui keseimbangan antara kesejahteraan pisik (sekala) dengan kesejahteraan rohani (niskala), sesuai dengan hakikat daripada Rwabhnieda yang mencanakangkan suatu konsep monodualis.

Kita mengakui, .bahwa memang benar agama Hindu di Bali berasal dari India dalam arti konsepsi, pokok-pokok ajaran dan sumber kerohanian namun sosialisasi dan penerapannya di masyarakat Bali adalah berbeda dengan di India. Hal ini disebabkan karena nilai-nilai kehidupan sosial, budaya dan agama Hindu di Bali, telah memiliki akar yang kuat dalam kepribadian bangsa Indonesia khususnya Bali, sehingga menampilkan identitasnya tersendiri. Maka dari itu adalah tidak pas, apabila konsep-konsep pemikiran India di terapkan secara utuh di Bali, tanpa terlebih dahulu mengkajinya secara mendalam dan menerapkannya tanpa penyesuaian dengan alam pikiran dan kultur masyarakat Bali yang telah mantap secara turun- temurun.

Apabila keadaan ekonomi memungkinkan, akan sangat baik apabila kita datang ke India untuk menyaksikan kehdupan sosial, budaya dan agama di India serta rnerasakan getaran kesucian kerohaniannya. Setelah berada di India, maka lihatlah Bali milik kita sendiri. Kita  akan memperoleh kesan, bahwa sesungguhnya kehidupan sosial, budaya dan agama Hindu serta getaran kesucian kerohaniannya di Bali adalah jauh lebih baik daripada di India. Hal ini telah diakui oleh beberapa orang India sendiri yang telah berkunjung ke Bali.

VIII. PENUTUP

Demikianlah lintasan Proses Kehinduan di Bali yang diungkapkan secara garis besarnya saja, mengingat keterbatasan penulis akan banyaknya kitab yang harus dibaca dan pengalaman spiritual yang difahami serta alokasi waktu penulisan sangat terbatas. Dengan memahami ini, diharapkan dapat memberikan suatu gambaran bagaimana eksistensi dan identifikasi Agama Hindu di Bali.

5 Comments

Filed under Articles

5 responses to “PROSES KEHINDUAN DI BALI

  1. Ida Ayu Ratna Wesnawati

    Baik terima kasih Pak Wi dr mana memperoleh sumber yg Bapak tulis diatas!

    • OSA Bu Ratna terimakasih atas pertanyaannya, bahwa sumber yg dapat kami sampaikan dr catatan dan tulisan beliau Ida Pedanda Gede Menara Pemaron pada saat beliau masih welaka Ida Bagus Putu Purwita. Mudah2an atas penjelasan kami ini dapat memberikan kepastian tentang tulisan kami tersebut, suksma, OSSSO!

  2. Tulisannya sangat bagus, memang sesungguhnya pada ajaran Agama Hindu ( Bali ) tidak ada yang tidak ada

  3. Mudah-mudahan apa yang bapak tulis mendapat respon dari para stakeholder hindu bali, hingga kita mayarakat hindu bali nantinya kita tidak jadi tamu dalam rumah sendiri, seperti contoh kita masyarakat hindu mau melakukan kegiatan melasti ke pantaiharus kulonuhun terhadap investor yang telah membangun pada sempadan pantai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s