KONSEP-KONSEP AJARAN AGAMA HINDU DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP ‘WANA KERTIH’


KONSEP-KONSEP AJARAN AGAMA HINDU DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP ‘WANA KERTIH’

Oleh
Drs. Ida Bagus Gede Wiyana

 

Utpadaka na sadakah, tat tasya anugrahaparah,

wirocanakaro nityah, sarwajna sarwakridwibhuh.

Sawyaparah Bhatara Sadasiwa, hana Padmasana pinaka palungguhanira,

aparan ikang Padmasana ngaranya, Saktinira Sakti ngaranya,

Wibhu Sakti, Prabhu Sakti, Jnana Sakti, Kriya Sakti, nahan Hyang Cadu Sakti.

Tuhan Sadasiwa (menyerap, membentang di seluruh penjuru alam semesta), terdapat Padmasana sebagai Singgasana-Nya, apakah itu Padmasana (Singgasana Tahta Teratai) ?

Sakti-Nya (kemahakuasaannya yang maha besar), Wibhu Sakti (maha ada), Prabhu Sakti (maha kuasa), Jnana Sakti (maha tahu), dan Kriya Sakti (maha pencipta), demikianlah Cadu atau Catur Sakti (empat kemahakuasaan tuhan-siwa), Wrihaspati Tattwa 12.

Suatu krisis maha besar akibat perubahan demografi, teknologi, ekonomi, organisasi, ideologi dan ekologi yang tiada taranya sedang terjadi. Agama Hindu sebagai salah satu dari agama besar dunia dapat memberi sumbangan pada usaha pemecahan krisis ini yang taruhannya tiada lain daripada kelestarian manusia dan orang-orang suci Hindu merumuskan tujuan hidupnya dengan : ‘Moksartham Jagaddhita ya ca iti Dharma’

 

LATAR BELAKANG PERMASALAHAN

Dewasa ini, hampir semua agama menghadapi masalah pengelolaan lingkungan hidup. Masalah utamanya adalah makin menurunnya mutu lingkungan. Masalah lingkungan ini diduga muncul sebagai akibat dari perkembangan kebutuhan manusia yang jauh lebih cepat daripa­da perkembangan kesadaran manusia tentang keterbatasan alam. Pengetahuan manusia untuk memanfaatkan alam jauh lebih dahulu berkembang daripada pengetahuannya untuk melindungi dan menyela­matkan alam. Berarti kecenderungan untuk memanfaatkan lingkungan alam jauh lebih berakar dalam sejarah umat manusia dibandingkan kecenderungan untuk melindungi, melestarikan dan menyelamatkan lingkungan alam.

Mutu lingkungan yang semakin menurun menyebabkan berbagai negara di seluruh dunia mulai membuat kebijakan dan peraturan untuk mengawasi pemanfaatan sumber-sumber alam agar tidak merusak lingkungan hidup. Indonesia misalnya, sebelum dicetuskannya Deklarasi Lingkungan Hidup Sedunia pada tanggal 5 Juni 1972 di Stockholm Swedia yang mana tanggal tersebut kemudian diperingati setiap tahun sebagai hari Lingkungan Hidup Sedunia, telah memi­liki beberapa undang-undang mengenai hal tersebut, antara lain undang-undang pokok kesehatan No. 9 tahun 1960 yang menegaskan bahwa lingkungan hidup manusia harus sesuai dengan syarat-syarat kesehatan, Undang-undang No.4 tahun 1982 tentang ketentuan-keten­tuan pokok pengelolaan lingkungan hidup sebagai landasan hukum bagi kebijaksanaan pengaturan lingkungan di masa kini dan yang akan datang, dan peraturan pemerintah No. 29 tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), yang diun­dangkan sejak 5 Juni 1986 dan mulai efektif setahun kemudian serta berdasarkan peraturan : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, 2. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 Tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL), 3. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 3 Tahun 2000 Tentang Jenis Usaha dan/Atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan AMDAL, maka masyarakat-masyarakat lokal di Indonesia juga telah memiliki pedoman untuk memanfaatkan lingkungan dengan sebaik-baiknya. Contohnya, penyelidikan Schefold (1985) tentang Mentawai.

Orang-orang Mentawai membudidayakan pisang dan umbi-umbian dengan menggunakan apa yang kelihatannya merupakan teknologi perladangan berpindah, kecuali mengabaikan salah satu hal yang biasanya dilakukan para peladang berpindah, yaitu membuka hutan untuk ladang berpindahnya tetapi tidak dengan membakar hutan. Pada masyarakat Mentawai juga ada kepercayaan-kepercayaan tradisional untuk pantang berburu. Ketaatan masyarakat dalam melaksanakan pantangan ini menolong melindungi sumber-sumber alam. Aturan dari upacara adat juga ditujukkan oleh Daeng (1985) sebagai bagian yang pent­ing di kalangan orang Ngada di dalam pengelolaan lingkungan. Pada orang Ngada ada tradisi yang disebut dengan pesta gaya bersaing, setiap penduduk akan mendapat pembagian tanah sesuai dengan jumlah hewan yang dapat mereka tangkap. Semakin banyak dapat menangkap hewan maka semakin banyak mereka akan mendapat pemba­gian tanah. Pesta gaya bersaing ini secara langsung dan selama jangka beberapa tahun dapat mengurangi tekanan hewan pada tanah.

Upacara Tumpek Bubuh pada masyarakat Bali, yang dilaksanakan pada hari Saniscara Kliwon Wariga setiap 210 hari sekali dapat ditang­gapi sebagai usaha untuk melestarikan lingkungan. Upacara ini adalah dalam rangka pemujaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Sangkara sebagai dewanya tumbuh-tumbuhan.

Upacara  Tumpek Kandang, yang diselenggarakan untuk menyatakan terima kasih kepada Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Pasupati pencipta binatang seperti ayam, itik, babi, dan sapi yang telah membantu pekerjaan manusia maupun sebagai makanan. Upacara ini dilaksankan pada hari Saniscara Kliwon Uye setiap 210 hari sekali. Dalam masyarakat Bali juga ada petunjuk yang menya­takan bahwa tidak boleh menebang pohon bambu pada hari Minggu, tidak boleh menebang kayu untuk bangunan apabila harinya berisi “was” (menurut kalender Bali hari “was” datang setiap enam hari sekali), tidak boleh menyakiti binatang seperti memotong ekor si putung (capung) memotong ekor cecak, mencari anak burung di sarangnya.

Usaha untuk melestarikan lingkungan alam dengan sebaik-baiknya juga ditemukan dalam agama Hindu, dan kajian ini mencoba untuk memberi jawaban tentang karangka konseptual Hindu dalam melihat hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan hidup.

POKOK PERMASALAHAN

Menurut Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup, lingkungan hidup ialah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya, yang mempen­garuhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Menurut definisi ini jelas tertera manusia dan perilakunya itu mempengaruhi kelangsungan perikehidu­pan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Dalam konteks ini juga menunjukkan bahwa agama mempunyai peranan yang besar di dalam turut menjaga kelestarian lingkungan. Tulisan ini mencoba menjawab persoalan-persoalan yang secara ope-rasional dijabarkan sebagai berikut :

1. Bagaimana kerangka konseptual Hindu dalam pengelolaan  lingkungan hidup ?

2. Bagaimana kerangka konseptual ilmu-ilmu sosial dalam pengelolaan lingkungan hidup?

TUJUAN PENULISAN

Tujuan penulisan ini adalah untuk mengkaji dan menginventarisasi konsep-konsep Hindu dalam pengelolaan lingkungan hidup. Dari data dan informasi yang lengkap dan mendalam tentang kerangka konsep­tual Hindu sebagai pedoman dalam bertingkah laku bagi masyarakat Hindu, terutama interaksi antara perilaku manusia dengan ajaran yang dimiliki, dengan lingkungan alam. Dari segi teoritis bahwa penulisan ini yang menaruh titik perhatian pada masalah lingkun­gan hidup serta melibatkan perilaku-perilaku manusia, agar dapat menyajikan bagaimana proses mencintai, mengelola, serta menyela­matkan lingkungan hidup pada masyarakat Hindu sehingga kelestar­ian itu tercapai.

Penanggulangan suatu masalah dan penyusunan kebijakan pembangunan tentunya memerlukan pemahaman secara tepat dan terinci tentang, mengapa dan bagaimana suatu gejala sosial itu tumbuh dan berkembang, selain pemahaman tentang kerangka konseptual yang dimiliki oleh suatu masyarakat. Dari segi praktis penulisan ini dapat memberikan sumbangan yang bermanfaat bagi pengambilan kebijaksanaan dalam pengelolaan lingkungan secara keseluruhan. Juga memberi pengertian bahwa masyarakat hindu bersifat dinamis, dan selalu me-ngalami perubahan, karena itu tidak bertentangan dengan proses pembangunan itu sendiri. Dalam pengertian dasarnya, kata pembangunan dapat diartikan sebagai satu proses perubahan berencana kearah tujuan tertentu yakni peningkatan kesejahteraan dalam arti luas.

Kerangka Konsep Lingkungan Dalam Ilmu-ilmu Sosial Determinisme, Posibilisme, Ekologi Kebudayaan Sejumlah pembahasan komprehensif mengenai pendekatan lingku-ngan dalam ilmu sosial telah dikumpulkan oleh ahli-ahli ilmu sosial yang merasakan manfaat pendekatan ekologi untuk riset dan penga­jaran (Anderson 1972, Vayda dan Rappaport 1968). Kerangka bagi tinjauan-tinjauan ini diperoleh dengan membandingkan tiga aliran utama yaitu, determinisme lingkungan, posibilisme lingkungan dan ekologi kebudayaan. Tinjauan-tinjauan ini memberi kesan adanya suatu pengembangan teori dan metode yang terarah menuju situasi dewasa ini.

Determinisme lingkungan, dapat didefinisikan sebagai keyakinan bahwa lingkungan fisik menjadi pendorong utama dalam seluk beluk kehidupan manusia. Pandangan ini dalam bentuk paling murni dianut dan disebarluaskan oleh ahli geografi Huntington dan Carlson (1933), yang menitik beratkan pengaruh dominan dari cuaca dan iklim pada sejarah umat manusia, dan pendapat Semple (1911) yang mengatakan bahwa manusia adalah produk permukaan bumi.

Determinisme lingkungan, rupanya cepat mendapat perlawanan seperti Vayda, Rappaport, Fewkes mereka mengatakan bahwa pertanyaan mengenai hubungan lingkungan dan kebudayaan belum terjawab. Selanjutnya mereka mengatakan bahwa sangat menyedihkan apabila lingku-ngan menjadi kata untuk bermain sulap, atau jika kita menggunakannya untuk menutupi ketidaktahuan kita mengenai hal-hal yang tidak dapat kita jelaskan. Sebagai contoh diperlihatkan oleh mereka ini bahwa salah satu ritual sedemikian plastis hingga ia mengikuti kondisi iklim, tetapi ada unsur-unsur di dalamnya yang ditimbulkan oleh sebab-sebab lain yang belum jelas. Kebanyakan ahli lingkungan sebenarnya sadar akan adanya pengaruh lain itu.

Posibilisme Lingkungan, secara sederhana pandangan ini mengatakan bahwa walaupun lingkungan mungkin mempengaruhi pola-pola kebu­dayaan dengan menghadirkan berbagai kendala tetapi lingkungan sendiri tidak bisa menciptakan fenomena-fenomena sosial budaya. Laporan-laporan lintas budaya yang diterima dari berbagai penjuru dunia memberi kepastian bahwa pola-pola sosial dan kebudayaan yang berbeda  telah berkembang dalam lingkungan serupa, mereka juga menunjuk kefakta bahwa pola-pola sosial budaya yang sama muncul dalam keadaan lingkungan yang berbeda.

Para peneliti tidak dapat menyangkal bahwa di tempat-tempat dimana kondisi lingkungan kejam, bentuk-bentuk kebudayaan terten­tu kecil kemungkinan akan muncul. Dari sinilah berasal tekanan pada aspek hambatan dalam kebudayaan, sebab para posibilisme tidak sepenuhnya mengabaikan faktor-faktor lingkungan. Sekali lagi saya mengutip pendapat klasik tentang polibilisme, bahwa antara lingkungan fisik dan kegiatan manusia selalu ada suatu unsur tengah, suatu kumpulan tujuan dan nilai-nilai spesifik, suatu kumpulan pengetahuan dan keyakinan dengan perkataan lain, suatu pola kebudayaan.

Ekologi Kebudayaan, pernyataan yang paling terkenal dan ringkas serta jelas mengenai ekologi kebudayaan adalah dalam buku The Theory of Culture Change (Steward 1985) bermaksud menguji teori evolusi multilineairnya yang ia pertentangkan dengan evolusi unilineair Leslie White. Sumbangan utama Steward ialah ia tidak takut mengaku bahwa faktor-faktor lingkungan memiliki potensi positif dan kreatif dalam proses-proses kultural, dan bahwa ia memfokus perhatian pada segi-segi khusus interaksi antara sejum­lah faktor kebudayaan dan lingkungan terbatas. Bekerja dengan konsep luas holisme dan integrasi fungsional sebagai latar bela­kang belaka, argumennya bahwa riset harus memusatkan perhatian pada apa yang ia sebut “inti kebudayaaan”memulai gerakan untuk mengkaji interaksi-interaksi yang spesipik dan tertentu antara kebudayaan dan lingkungan masih tetap mendominasi kajian-kajian ekologi dalam antropologi.

NEOFUNGSIONALISME, ACTOR BASE MODEL  (PROSESSUAL)

Neofungsionalisme, pedekatan ini melihat organisme sosial dan kebudayaan suatu masyarakat tertentu sebagai adaptasi fungsional yang memungkinkan masyarakat tersebut mengelola lingkungannya secara berhasil, tanpa melampaui daya dukungannya. Berdeda dari pendekatan fungsionalisme yang lain, unit yang beradaptasi terha­dap lingkungan ialah suatu populasi, bukan individu-individu pendapatan ini lebih bertitik berat pada pengajian interaksi antara lingkungan dan penduduk daripada memperlakukan lingkungan suatu latar belakang pasif yang memberi bentuk pada kebudayaan, tetapi tidak dipengaruhi oleh kebudayaan. Konsep-konsep ekologi biologi seperti adaptasi, relung (niche), dan daya dukung (carry­ing capacity) digunakan dalam pendekatan tersebut (Orlove 1980). Salah satu karya etnografi terpenting yang menggunakan pendekatan Neofungsionalisme ialah karya Rappaport (1978; 1984) tentang siklus upacara Maring dari Papua Nugini.

Neofungsionalisme, dipengaruhi oleh teori sistem baik secara umum dalam model-model equilibrium homeostasis, maupun secara khusus dalam perhatiannya pada arus energi dalam ekosistem. Pengaruh teori sistem terlihat pada :

1. Adanya batas-batas sistem, dimana hubungan diantara komponen dipandang berada dalam suatu sistem yang telah didefenisikan dan ditetapkan batas-batasnya oleh peneliti.

2. Sistem sebagai unit yang stabil dan mampu mengatur diri sen­diri, dalam interprestasi Neofungsionalisme, populasi, ekosistem, atau apapun unit yang menjadi unit analisis, dipandang sebagai berada dalam keadaan yang kurang selalu stabil.

3.         Interpretasi Neofungsionalisme mengacu pada hubungan-hubungan yang berlangsung antara sub-sub sistem dalam suatu sistem atau antara sistem dengan sistem yang lebih luas.

4. Interpretasi Neofungsionalisme, lebih menonjolkan keseragaman respons dari unit populasi terhadap gangguan-gangguan yang diha­dapinya.

Actor Base Model, pendekatan ini menekankan pada tindakan-tinda­kan manusia dan akibat lingkungan yang ditimbulkan sebagai pokok kajian dan penjelasan. Model-model berdasarkan perilaku yang mendapat perhatian umum dalam antropologi sosial mempunyai penga­ruh besar atas antropologi ekologi prosessual. Model-model berda­sarkan pelaku mempunyai beberapa keuntungan dibandingkan dengan model-model lama, model-model ini dapat menjelaskan lebih banyak jenis organisasi sosial; model ini memungkinkan analisis tolok ukur tingkah laku dan variasi tingkah laku populasi-populasi yang lebih akurat; penyelidikan terhadap konflik dan persaingan menja­di lebih mudah, dan mereka menawarkan potensi untuk menyelidiki perubahan lewat analisis proses-proses yang menghasilkan hubun­gan-hubungan ekonomi, politik dan sosial.

HOLISME, ADAPTASI

Dalam sebuah daftar istilah antropologi, Voget (1975) mendefinis­ikan holisme sebagai perspektif antropologi yang semata-mata sosio budaya yang menekankan kesatuan dan ketergantungan timbal balik antara fenomena sosial dan budaya. Suatu asumsi yang menja­di dasar holisme ialah asumsi bahwa antara aspek-aspek kebudayaan tidak saja terdapat hubungan-hubungan,  tetapi antara aspek-aspek itu terdapat suatu keseimbangan, dan lebih khusus lagi, suatu ketergantungan timbal balik. Menurut pandangan holistik, semua aspek kebudayaan secara fungsional saling bergantung. Penerimaan holistik dalam disiplin antropologi secara luas sejak awal mula memberi dasar yang baik bagi pencangkokan teori sistem umum pada antropologi ekologi pada akhir tahun enampuluhan dan awal tahun tujuhpuluhan.

Adaptasi, Konsep kunci dalam studi adaptasi adalah “perilaku adaptif” dan “tindakan adaptif”. Perilaku adaptif menunjuk pada tindakan-tindakan yang berusaha menyesuaikan sarana-sarana dengan tujuan-tujuan yang akan dicapai, atau aspek pasif maupun aktif dari tindakan bertujuan yang berlangsung dalam suatu sistem. Tindakan strategis menunjuk pada perilaku yang secara aktif berusaha mencapai tujuan dengan tindakan-tindakan spesifik diren­canakan untuk mencapai tujuan tersebut. Strategi adaptif merupa­kan unsur tindakan strategis dimana tindakan-tindakan spesifik berbagai tingkatan sukses yang dapat diperhitungkan dipilih oleh individu dalam proses pembuatan keputusan.

Dikatakan oleh Bennett (1976) bahwa tindakan adaptasi yang dilak­ukan oleh individu dilakukan dalam kerangka tertentu yang memberi pilihan-pilihan dan batasan-batasan. Kerangka tersebut berupa kebudayaan. Sebagai nilai dan model-model atau gaya, kebudayaan berfungsi sebagai pedoman dalam mengambil keputusan dan tindakan. Sebagai resep moral kebudayaan bertindak sebagai pembatas bagi pilihan bebas dari model-model tindakan. Dengan demikian kerangka tersebut merupakan ruang dimana individu diberikan kebebasan dengan batasan-batasan tertentu, dan dalam ruang itulah individu dapat melakukan tindakan-tindakan adaptasi.

Respon adaptif, ini harus dipahami sebagai bentuk hubungan saling pengaruh mempengaruhi antara kondisi ekologis dengan manusia. Kondisi ekologis berpengaruh terhadap manusia dan kegiatan manu­sia berpengaruh terhadap kondisi ekologis. Pengaruh kondisi ekologis terhadap manusia nampak pada batas-batasan yang diberi­kan oleh alam terhadap perilaku manusia. Kondisi ekologis mengha­ruskan pengelolaan alam dengan cara tertentu, penggunaan alat- alat tertentu, penerapan norma-norma tertentu dan sebagainya. Sebaliknya, manusia mengatasi rin- tangan ekologis dengan melaku­kan tindakan-tindakan tertentu hingga rintangan dapat dinetrali­sir dan bahkan dapat dimanfaatkan guna mendukung kehidupannya. Tapi hendaknya diketahui bahwa kemampuan manusia menangkap umpan balik dari lingkungan sangat ditentukan oleh pengetahuan, persep­si dan pengalaman yang ditunjang oleh kemampuan berpikirnya, di samping itu pengaruh kondisi dan situasi sosial yang terjadi di lingkungan tidak bisa diabaikan.

KERANGKA KONSEPTUAL HINDU TENTANG LINGKUNGAN HIDUP

Rta,Yadnya

Perkembangan kebudayaan suatu suku bangsa tidak terlepas dari penafsiran dan pengetahuan bangsa tersebut terhadap lingkungan. Kebudayaan di sini bisa diartikan, keseluruhan dari pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpre­stasikan lingkungan dan pengetahuannya. Karena ini menjadi ker­angka landasan bagi mendorong terwujudnya kelakuan mereka dalam masyarakat. Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana dan strategi yang terdiri atas serangkaian model-model kognitif yang digunakan secara selektif oleh manusia yang memilikinya sesuai dengan lingkungan yang dihadapinya.

Agama Hindu dalam menginterpretasikan hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan hidup pada dasarnya berpangkal pada kitab suci Weda, dan kerangka dasar dari agama Hindu yaitu, Tattwa, Susila dan Upacara.

Ajaran Tattwa memberikan petunjuk filosofis yang mendalam menge­nai pokok-pokok keyakinan maupun mengenai konsepsi ketuhanan, sedangkan ajaran susila merupakan kerangka untuk bertingkah laku yang baik sesuai dengan dharma, dan upacara merupakan kerangka untuk menghubungkan diri dengan Tuhan dalam bentuk persembahan. Esensi dari upacara pada dasarnya adalah yadnya korban suci dengan hati tulus ikhlas, serta dasar hukum dari yandnya adalah “Rna” (Dewa Rna, Rsi Rna dan Pitra Rna).

Secara lebih rinci konsep-konsep dasar agama Hindu tentang hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan hidup dimulai dari konsep “Rta” dan “ Yadnya”.

Rta

Sebagai bagian imanen (tak terpisahkan) dari alam, manusia pada setiap tahap dalam kehidupannya dikuasai oleh fenomena dan hukum alam, bahwa semua yang ada ini tunduk pada alam semesta, tidak ada sesuatu apapun yang luput dari hukum yang berlaku dalam dirinya. Matahari terbit di timur dan tengelam di barat, air mengalir ketempat yang lebih rendah, api membakar, angin berhem­bus, manusia lapar, haus dan akhirnya mati, karena memang demiki­anlah hukum yang berlaku pada dirinya.

Kewajiban umat Hindu agar lingkungan tetap terjaga dalam artian harmoni ditegaskan dalam Kitab Atharwaweda (XII:1), menegaskan :

satyam brhad rtam nram diksha tapa brahma yajna prthirviam dharayanti’

satya, rta, diksa, tapa, brahma dan yajna inilah yang menegakkan bumi, satya adalah kebenaran, yang diwujudkan dengan berbuat kebajikan, rta adalah hukum yang sepatutnya secara sadar haruslah ditaati, diksa adalah kesucian yang diwujudkan dengan trikaya parisudha (berpikir, berkata dan berbuat diatas kebenaran), yajna adalah persembahan (korban suci), brahma adalah brahman yang tiada lain adalah Tuhan / Sanghyang Widhi sendiri (widhi tattwa), tapa adalah pengendalian yang selalu mampu mewujudkan kebenaran berdasarkan dharma sehingga dari satya mewujudkan siwam, dari siwam mewujudkan sundaram (kebenaran, kesucian, keindahan).

Yadnya

Hakikat hubungan antara manusia dengan alam adalah apabila terja­di keadaan yang harmonis, seimbang antara unsur-unsur yang ada pada alam dan unsur-unsur yang dimiliki oleh manusia. keseimban­gan inilah yang selalu meski dijaga, dan salah satu cara yang ditempuh adalah dengan melakukan yadnya. Dalam kontek hubungan manusia dengan lingkungan (alam, binatang dan tumbuh-tumbuhan) pada masyarakat Bali misalnya, ada upacara Tumpek Bubuh dan Tumpek Kandang. Dasar filosofis Tumpek Bubuh berpijak pada sikap untuk memberi sebelum menikmati, dalam konteks dengan pelestarian sumber daya hayati, sebelum manusia menikmati dan menggunakan tumbuh-tumbuhan sebagai bagian menu  makanan haruslah diawali dengan proses penanaman dan pemeliharaan, misalnya seorang petani sebelum menikmati nasi, ia terlebih dahulu menanam padi. Seperti halnya Tumpek Bubuh, Tumpek Kandang juga menawarkan kepada kita untuk selalu mencintai segala jenis satwa, dan dasar filosofis Tumpek Kandang berpegang pada ajaran bahwa manusia dengan ling­kungan ibarat singa dengan hutan, singa adalah penjaga hutan dan hutanpun menjaga singa. Dalam Kitab Suci Bhagawadgita, III:10, menyebutkan :

 

‘sahayajnah prajah srstva, puro’vaca prajapatih,

anena prosavisyadhvam, esa vo’stv istakamadhuk’

dahulukala Tuhan menciptakan manusia dengan yajna dan berkata : ‘dengan yajna pulalah hendaknya engkau berkembang, dan biarlah ini (bumi) menjadi sapi perahanmu dengan maksud bahwa bumi / alam / lingkungan ini menjadi sapi perahanmu untuk dapat memenuhi kinginan manusia untuk dapat hidup yang layak dan harmoni dan selalu dipelihara dengan baik dan diusahakan  seoptimal mungkin bagi kemakmuran bersama.

 

‘annad bhavanti bhutani, parjanyad annasambhawah,

yajna bhavati parjanyo, yajnah karma samudbhawah’

karena makanan mahluk hidup, karena hujan makanan tumbuh, karena yajna persembahan hujan turun, dan dari persembahan melahirkan karma perbuatan.

Manusia sebagai komponen sentral dalam sistem lingkungan ini sudah sepantasnya selalu menjaga keseimbangan diantara komponen-komponen lingkungan yang lainnya. Dalam Kitab Bhagawadgita ada disebutkan demikian :

‘Istan bhogan hi vo deva, desvante yadnya bhavitah

Tair dattan aoradayai bhyo, yo blunte stena eva sah’

Dipelihara oleh yadnya, para dewa akan memberi kesenangan yang kami ingini, ia yang menikmati ini tanpa memberikan balasan kepadanya adalah pencuri.

Apabila manusia hanya ingin mencari kesenangan tanpa terlebih dahulu memberi kesenangan terhadap makhluk lain adalah pencuri. Manusia yang semena-mena menjadikan sumber hidupnya sebagai obyek kesenangan tidak disertai tindakan memelihara sama dengan perila­ku pencuri. Mengambil tanpa sebelumnya memberi, menikmati dengan tidak memberi, menggunakan tanpa sikap memelihara, sama dengan perilaku pencuri.

BHUANA ALIT, BHUANA AGUNG

Ada keyakinan dalam masyarakat Hindu bahwa Tuhan menciptakan alam dengan mempergunakan lima benih unsur tenaga yang disebut panca­tanmatra  terdiri dari,

1. Gandhatanmatra adalah benih unsur pertiwi

2. Rasatanmatra adalah benih unsur apah

3. Rupatanmatra adalah benih unsur teja

4. Sparsatanmatra adalah benih unsur bayu

5. Sabdatanmatra adalah benih unsur akasa.

Kelima jenis-jenis unsur yang disebut pancatanmatra itu kemudian masing-masing berubah menjadi atom-atom yang disebut Paramanu. Dari Paramanu itu muncullah unsur-unsur benda yang disebut Panca­mahabhuta (lima unsur yang maha ada) yaitu :

1. Pertiwi adalah unsur zat padat

2. Apah adalah unsur zat cair

3. Teja adalah unsur sinar atau panas

4. Bayu adalah unsur udara

5. Akasa adalah unsur ether.

Interaksi antara alam dan manusia, antara bhuana agung dengan bhuana alit, antara makrokosmos dan mikrokosmos diperlihatkan oleh model di bawah ini :

 

 

Hubungan Timbal Balik

Hubungan timbal balik antara manusia dan alam harus selalu dija­ga, salah satu cara yang dipakai untuk menjaga hubungan timbal balik ini adalah dengan upacara (caru). Ada beberapa jenis dan tingkatan caru tersebut yaitu, ekasatha, pancasatha, pancakelud, rsighana, baliksumpah, labuh gentuh, pancawalikrama dan tawur ekadasarudra.

RWA BHINEDA, TRI HITA KARANA

Rwa Bhineda

Konsepsi ini merupakan keyakinan masyarakat bawah walaupun meru­pakan dua unsur yang selalu berbeda namun jika dihayati maka perbedaan tersebut sebanarnya proses penciptaan yang tujuannya untuk mencapai kebahagiaan, dimana keselarasan dan keseimbangan akan dapat terwujud dalam kehidupan di dunia ini. Ajaran ini berpesan bahwa laki-perempuan, baik-buruk, mati hidup, neraka-sorga, senang-susah, siang-malam, matahari-bulan, keduanya bersa­maan munculnya pergi dan datang. Jika tidak muncul keburukan maka waktu itu pula kebaikan akan menyertai, jika muncul kebaikan, maka bersama itu pula keburukan akan muncul sebab baik dan buruk itu tidak terpisah-kan. Dalam konteks hubungan manusia dengan lingkungan hidup, konsep ini kemudian dirinci ke dalam konsep-konsep yang lebih mendetail yaitu konsep Luan-Teben, Segara-Gunung, Kaja-kelod.

TRI HITA KARANA, REFLEKSI DAN AKTUALISASI

Di dalam konsep ini terkandung unsur-unsur

1. Unsur Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa,

2. Unsur manusia

3. Unsur alam.

Perwujudannya konsep itu dalam pola permukiman misalnya menjadi :

1.   Parhyangan, berupa unit pura tertentu sebagai unsur pencermi­nan Ketuhanan

2. Pawongan, keorganisasian masyarakat adat, sebagai perwujudan manusianya

3.   Palemahan, berupa perwujudan unsur alamnya.

Konsep di atas akan lebih jelas apabila kita bandingkan penera­pannya dengan konsep Tri Angga pada manusia, konsep Tri Mandala pada rumah tangga dan desa.

1. Tri Angga pada Manusia

1.1. Utama angga (kepala)

1.2. Madya angga (badan)

1.3. Nista angga (kaki)

2. Tri Mandala pada : Rumah.

2.1. Pemerajan (utama,parhyangan)

2.2. Tegak umah (madya, pawongan)

2.3. Teba (Nista,palemahan).

3. Desa :

3.1. Pura/kahyangan tiga (parhyangan)

3.2. Lingkungan karang perumahan (pawongan)

3.3. Lingkungan karang perkawinan (pelemahan)

Ketiga unsur itu, harus terjadi hubungan timbal balik yang harmo­nis dan serasi sehingga kesejahteraan dan kebahagiaan hidup akan tercapai.

a. Latar Belakang

Istilah Tri Hita Karana pertama kali muncul pada tanggal 11Nopember 1966, pada waktu diselenggarakan Konperensi Daerah I Badan Perjuangan Umat Hindu Bali bertempat di Perguruan Dwijendra Denpasar. Konperensi tersebut diadakan kesadaran umat Hindu di Bali akan dharmanya untuk berperan serta dalam pembangunan bangsa menuju masyarakat sejahtera, adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Kemudian istilah Tri Hita karana ini berkembang, meluas, dan memasyarakat hingga sekarang.

b. Pengertian

Secara leksikal Tri Hita karana berarti tiga penyebab kesejahteraan, (Tri = tiga, Hita = sejahtera, Karana = penyebab). Pada hakekatnya Tri Hita Karana mengandung pengertian tiga penyebab kesejahteraan itu bersumber pada keharmonisan hubungan antara :

            > Manusia dengan Tuhannya,

            > Manusia dengan alam lingkungannnya,

            > Manusia dengan sesamanya.

c. Unsur-unsur Tri Hita Karana

1. Unsur-unsur Tri Hita Karana meliputi :

            > Sanghyang Jagatkarana

            > Bhuwana

            > Manusia

2. Unsur-unsur Tri Hita Karana terdapat dalam kitab-kitab suci a.l. :

          Bhagavadgita (III.10), berbunyi sebagai berikut :

            sahayajnah prajah srishtva, puro ‘vacha prajapatih,

            anena prasavishya dhvam, esha vo ‘stv ishta kamadhuk

            Artinya :

dahulukala Prajapati menciptakan manusia, bersama bhakti-persembahannya dan berkata : ‘dengan ini engkau akan berkembang-biak dan biarlah ini menjadi sapi-perahanmu’

 

          Taittiriya Upanishad mengatakan :

Dia yang mengetahui Tuhan (Brahman) yang adalah Kebenaran, Kesadaran, dan Kebahagiaan Tak Terbatas, tersembunyi di tempat terdalam dari jiwa kita dan di surga yang tert­inggi, menikmati segala sesuatu yang diinginkannya dalam persatuan dengan Tuhan Yang Maha Mengetahui. Dari Tuhan (Brahman) pada awalnya muncul ruang. Dari ruang muncul udara. Dari Udara muncul api. Dari api muncul air. Dari Air muncul tanah yang padat. Dari tanah muncul tum­buh-tumbuhan. Dari tumbuh-tumbuhan muncul makanan dan biji (bibit). Dan dari biji dan makanan muncullah satu makhluk hidup, manusia”.

            Umat Hindu pada hakekatnya dalam pencerahan hidupnya, membangun dirinya ingin menjadi divine man yang selanjutnya membangun divine society (dalam diri manusia, masyarakat dan lingkungannya yang memancarkan sinar suci Tuhan Yang Maha Kuasa. Yang secara etis manusia Hindu ingin melenyap­kan sifat-sifat kegelapan dalam dirinya (asuri sampat) dan mencari serta memupuk sifat-sifat kedewaan (daiwi sampat) sehingga mendapatkan divine god yang akan melahirkan manusia / putra yang abadi (amrestyah putra). Inilah landasan yang sangat esensial bagi pembangunan manusia dan peradaban Hindu. Tuhan Yang Maha Kuasa adalah realitas absolut (abadi) oleh karena itu beliau disebut sebagai “Sangkan paraning duma­di” (dari mana dan hendak ke mana manusia pergi), atau menjadi pusat orientasi kehidupan manusia. Dalam kaitannya dengan pelaksanaan Upacara / Upakara setiap menyambut Hari Raya Hindu, yaitu merupakan pelaksanaan Panca Yajna dan khususnya pada pelaksanaan Bhuta Yajna yang dapat kita ketahui bahwa Bhuta Yajna pada hakekatnya bermakna Penyucian Bhuwana yang terbangun oleh Panca Maha Bhuta (Pratiwi, Apah, Teja, Bayu, Akasa) dan Panca Tanmatra (Gandha, Rasa, Sparsa, Rupa, Sabda). Bhuwana yang harmoni dan suci (Jagadhita, Bhutahita) diharapkan dapat memberi kerahayuan bagi hidup manusia, karena manusia menjadikan unsur-unsur tersebut sebagai objek indriyanya (Dasendriya).

            Umat Hindu sangat mendambakan kerahayuan, keharmonisan dalam hidup, keseimbangan ekosistem, keseimbangan unsur-unsur yang membangun Bhuwana Alit dan Bhuwana Agung yang nanti pada gilirannya akan mem­berikan kerahayuan dan kedamaian. Dengan demikian umat Hindu memiliki wawasan kesemestaan, wawasan alam raya, wawasan globalisasi yang berarti wawasan umat Hindu tidak sempit (asorohan-awatekan). Umat Hindu sebagaimana diajarkan oleh agamanya yang tertuang dalam Kitab-kitab Sucinya sangat memperhatikan dari lingkungan yang terkecil sampai jagad raya, memperhatikan gerakan alam raya (posisi matahari/surya), bulan (candra), serta bumi (bhumi) dengan mempersem­bahkan keharmonisan itu berupa Bhuta Yajna (Bali Karmana – Bali Krama). Dalam sloka Bhagavadgita tersebut diatas ada nampak tiga unsur yang saling beryajna untuk mendapatkan yaitu terdiri dari :

> Prajapati       = Tuhan Yang Maha Esa

> Praja              = Manusia

d. Penerapan Tri Hita Karana

1. Penerapan Tri Hita Karana dalam kehidupan umat Hindu selalu dirangkaikan dalam upacara yang urut dan sistematis formalistik, sedangkan upakara adalah material yang digunakan baik sebagai perlengkapan, alat maupun persembahan dalam upacara. Dalam Weda, upacara dan upakara serta mantra-mantranya disebut “Brahma”. Pelaksanaan yajna sering kali dilakukan dalam bentuk upacara yang dilengkapi upakara dan diiringi mantra, sehingga disebut “ Upacara-upakara Yajna” dan di Bali disebut Panca Yajna yang penerapannya sebagai berikut :

a. Hubungan antara manusia dengan Tuhannya yang diwujudkan dengan Dewa Yajna, yang penerapannya dengan menghaturkan persembahan kepada  Ida Sanghyang Widhi Wasa antara lain melalui hari -hari Raya, Purnama – Tilem,  Anggarkasih,  Buda Cemeng, Buda Kliwon, Tumpek, Galungan-Kuningan, Sarasawati dll.

Dari sekian banyaknya pura maka berdasarkan atas karakter atau sifat kekhasannya dapat dibagi atas beberapa kelompok sebagai berikut :

1. Pura Umum

Pura ini mempunyai ciri umum sebagai tempat pemujaan Hyang Widhi dengan segala manifestasinya yaitu pada dewa. Pura yang tergolong umum ini dipuja oleh seluruh umat Hindu sehingga sering disebut Kahyangan Jagat Bali. Pura-pura yang tergolong mempunyai ciri-ciri tersebut di atas sesuai dengan konsepsi Rwa Bhineda, Konsepsi Catur Lokapala, dan Konsepsi Sad Winayaka menjadi Kahyangan Jagad yang dinamakan Padma Bhuwana adalah:

(1). Iswara, di Timur (Purwa) bersemayam di sebuah tempat suci yang terletak di puncak Gunung Lempuyang, menghadap ke laut Bali di sebelah Timur, dengan nada sucinya sebagai simbolisnya (Bijaksara) Sa sebagai Sadyojata.

(2). Brahma, di Selatan (Daksina), bersemayam di pura suci, yang terletak dipuncak Gunung Andakasa, tidak jauh dari laut dengan Nada simbolisnya (Bijaksara ) Ba sebagai Bamadewa.

(3). Mahadewa, di Barat (Pascima), bersemayam di sebuah tempat suci yang terletak di lereng Gunung Batukaru yang tinggi, menghadap ke Danau Beratan dengan Nada simbolisnya (Bijaksara) Ta sebagai Tatpurusa.

(4). Wisnu, di Utara (Uttara) bersemayam di pura suci, yang terletak di tepi kawah Gunung Batur, menghadap ke Danau Batur, dengan Nada simbolisnya (Bijaksara) A sebagai Aghora.

(5). Siwa, di Tengah (Madya) bersemayam di pura suci dan bersemayam pada altar dari Pura Pusat Besakih (Wasukih) dengan Nada simbolisnya (Bijaksara) I sebagai Isana.

(6). Maheswara, penguasa dari arah Tenggara (Agneya) yang bersemayam di pura suci, dikenal dengan nama Goa Lawah terletak di gua kelelawar pada kaki sebuah bukit dekat dengan pantai dengan  Nada simbolisnya (bijaksara) Na.

(7). Rudra, di Barat Daya (Neriti) bersemayam di sebuah tempat suci, yang terletak pada semenanjung kecil Bukit Hulu Watu, menghadap ke Samudra Hindia dengan Nada simbolisnya (Bijaksara) Ma.

(8). Sangkara adalah penjaga arah Barat Laut (Wayabya) Pulau Bali bersemayam di sebuah pura suci, yang terletak di puncak Gunung Beratan / Puncak Mangu di atas Danau Beratan dengan Nada simbolisnya (Bijaksara) Si.

(9). Sambhu, berada di Timur Laut (Airsanya0) Bali, disemayamkan di lereng Gunung Agung, di tempatkan bersama-sama dengan Pura Pusat Besakih (Wasukih) dengan Nada simbolisnya (Bijaksara) Wa.

(10). Siwa, Tuhan Maha Esa dan Maha Kuasa, bersemayam pada altar dari Pura Pusat Besakih (Wasukih), dengan Tri Purusa-Nya yaitu Parama Siwa, Sada Siwa, dan atau Siwa Guru dengan Nada simbolisnya (Bijaksara) Ya.

Singgasana Tuhan Siwasebagai Pencipta alam semesta seharusnya terletak ditengah-tengah (Madya) di lereng atau puncak gunung yang tertinggi di Bali. Oleh karena gunung yang tertinggi tidak terletak di tengah-tengah (Madya) Pulau Bali maka altar suciNya dipindahkan dari tengah-tengah (Madya) Pulau Bali ke Besakih, yang terletak di Timur Laut (Airsanya) Bali di lereng Gunung Agung. Dengan demikian ada sepuluh Bijaksara (Nada simbolis suci) yang kesuciannya nomor dua setelah nada tersuci Pranawa-Om, simbol Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa, yang menjadi formula suci yang berbunyi : Sa, Ba, Ta, A, I, Na, Ma. Si, Wa, Ya. Lima nada suci (Bijaksara) yang disebut terakhir yaitu Na, Na, Si, Wa, Ya, menjadi Mahamantra dari Sri Rudram yang juga disebut dengan Pancaksara. (IBG. Agastia, 1996). Pura lainnya yang juga tergolong umum adalah pura yang di samping berfungsi tempat pemujaan Hyang Widhi namun juga untuk memuja kebesaran seorang pendeta guru suci atau Dang Guru, karena pada hakikatnya semua umat Hindu merasa berhutang jasa kepada beliau atas dasar ajaran agama Hindu yang disebut Rsi Rna. Pura-pura yang tergolong ke dalam karakter Dang Kahyangan adalah : (1) Pura Purancak, (2) Pura Rambut Siwi, (3) Pura Amertha Sari, (4). Pura Prapat Agung, Jembrana, (5). Pura Pulaki, (6) Pura Ponjok Batu, Buleleng, (7). Pura Srijong, (8). Pura Pakendungan – Tanah Lot, Tabanan, (9). Pura Taman Sari / Pura Bulakan, (10). Pura Puncak Tedung, (11). Pura Peti Tenget, (12). Pura Gunung Payung,   (13). Pura Goa Gong, (14). Pura Uluwatu, Badung, (15). Pura Sakenan, Denpasar, (16). Pura Taman Pule, (17). Pura Erjeruk, (18). Pura Tugu, Gianyar, (19). Pura Dalem Gandamayu, Klungkung, (20). Pura Silayukti, Karangasem, (21). Pura Suranadhi, Lombok dan lain-lainnya. Pura-pura tersebut berkaitan dengan dharmayatra (perjalanan suci) yang dilakukan oleh Dang Hyang Nirartha karena peranannya Dang Guru Suci.

 

2. Pura Teritorial (Kahyangan Desa)

Pura ini mempunyai kesatuan wilayah (teritorial) sebagai tempat pemujaan dari anggota suatu desa yang diikat oleh kesatuan wila­yah dari suatu desa. Ciri khas suatu desa adat (Desa Pekraman) pada dasarnya memiliki tiga buah pura yang disebut Kahyangan Tiga yaitu : Pura Desa, Pura Puseh, Pura Dalem tempat memuja dewa-dewa Tri Murti seperti Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa (dalam wujudnya sebagai Durga) dengan fungsinya masing-masing sebagai maha pen­cipta / utpti, pemelihara / sthiti  dan pelebur / pamralina.

3. Pura Fungsional (Pura Swagina)

Maksudnya pura ini mempunyai karakter khusus, di mana umat pa­nyiwinya terikat oleh ikatan kekaryaan karena mempunyai profesi yang sama dalam sistem mata pencaharian hidup seperti : bertani, berdagang, dan nelayan. Suatu contoh misalnya salah satu sistem mata pencaharian hidup yang utama di Bali adalah bercocok tanam, sehingga ada ikatan pemujaan yang disebut Pura Subak, Pura Ulun Danu, Pura Masceti , Pura Melanting dan lain-lainnya.

4. Pura Kawitan

Pura ini mempunyai karakter yang ditentukan oleh adanya ikatan wit atau leluhur berdasarkan garis kelahiran (genealogis). Seba­gai contoh tempat pemujaan yang disebut pura Dadya dipuja oleh kelompok keluarga yang merasa berasal dari leluhur yang sama, sehingga timbul sebutan tunggal Dadya.

Tempat pemujaan satu keluarga inti disebut sanggah atau merajan dengan palinggih pokoknya adalah Kamulan Taksu, sedangkan tempat pemujaan keluarga yang lebih luas disebut sanggah gede atau pamerajan agung.

Klen besar merupakan kelompok kerabat yang lebih luas terdiri dari beberapa kelompok kerabat Dadya. Anggota kelompok kerabat tersebut mempunyai ikatan tempat pemujaan yang disebut Pura Paibon atau Pura Panti.  Di beberapa daerah di Bali tempat pemu­jaan seperti itu ada yang menyebut Pura Panataran.

Menurut Lontar Sawagama ada disebutkan bahwa setiap 40 keluarga batih patut membuat Pura Panti, setiap 20 keluarga batih supaya membuat palinggih Pratiwi dan setiap keluarga batih membuat palinggih Kamulan yang kesemuanya untuk pemujaan roh leluhur yang telah suci.

b. Hubungan manusia dengan alam lingkungannya yang diwujudkan dengan Bhuta Yajna, yang diwujudkan dalam Bhuta Kala menjadi Bhuta Hita (Nyomyang Bhuta-Kala yaitu kekuatan Asuri Sampad / Sifat Keraksasaan menjadi sifat Daiwa Sampad / Sifat Kedewataan), yajna sesa, segehan, mecaru, tawur dll, yang pada intinya adalah memelihara kesejahteraan alam semesta seperti Jagat Kerthi / kerahayuan bumi, Wana Kerthi / klestarian hutan sebagai paru-paru dunia dan menjaga penahan air, Danu Kerthi untuk kelestarian danau / air, Samudra Kethi untuk kelestaruan laut dan samudra beserta isinya)

c. Hubungan antara manusia dengan sesamanya diwujudkan dengan Pitra Yajna (Pitra Kerthi adalah untuk penghormatan dan bhakti kepada orang tua atau leluhur karena fungsi orang tua / Yayah-Rena dalam kekawin Nitisastra disebutkan dengan Pancawida yaitu : matulung urip rikalaning bhaya, sang maweh binijana, sang mengupadyaya, sang menyangaskara, sang ametuwaken), Rsi Yajna ( menghormati dan menuja para Rsi atau Pendeta yang dalam kitab Agastya Parwa disebutkan : Rsi Yajna ngaranya kapujan ring pandeta sang weruh ring kalingganing dadi wwang = berbakti kepada para pendeta dan pada orang yang tahu akan hakikat hidup dan menjadi manusia), dan Manusa Yajna atau Nara Yajna (Manusa Kerthi / Jana Kerthi  adalah untuk memanusiakan manusia agar menjadi orang yang berbudi pekerti luhur dan bijaksana serta berarti pula memberi makan kepada masyarakat ‘maweh apangan ring kraman’, melayani tamu dalam upacara athiti puja sehingga terjalin kebersamaan, persatuan dan kesatuan).

Menurut kitab Brahmana Purana, Yajna adalah welas asih dan atau bhakti, Jadi segala sesuatu yang dipersembahkan, disumbangkan, diabadikan sebagai perwujudan bhakti atau welas asih adalah yajna, baik dalam bentuk upacara maupun dalam bentuk lain. Ciri bhakti dan welas asih yang paling menonjol adalah tidak adanya pamerih dan keraguan, dengan kata lain adanya ketulus ikhlasan, karena itu yajna mesti dilandasi dengan ketulus ikhlasan. Faktor-faktor paling mendasar dan esential dalam yajna adalah Sraddha (kesungguhan hati), Bhakti (ketulus ikhlasan) dan suci, disamping sesuai dengan Dharma Sidhi Artha.

Dalam Atharwa Weda dijelaskan bahwa, upacara (brahma) dan yajna, bersama dengan satya, rta, diksa dan tapa, mempunyai peranan penyangga hidup dan kehidupan di dunia dan di akherat. Yajna menolong manusia untuk mewujudkan tujuan hidup yaitu Dharma, Artha, Kama dan Moksha. Maka dari itu dalam penerapan azas Dharma Sidhi Artha yang di Bali, populer disebut dengan Desa Kala Patra. Maka dari itu peranan desa dalam hal ini Desa adat (Desa Pekraman) adalah hasil produk budi-daya manusia, sedangkan agama berasal dari luar diri manusia yaitu wahyu Tuhan. Adat adalah tradisi atau kebiasaan masyarakat yang normatif dalam rangka mewujudkan atau menegakkan apa yang dianggap patut, baik dan semestinya oleh masyarakat (pekraman) yang disebut dengan nilai. Sedangkan agama adalaj ajaran Tuhan yang pada intinya berupa keyakinan sebagai pegangan rohani dan tuntutan hidup.

Dalam ajaran agama Hindu adat dan semua aspek kehidupan tidak ada yang lepas berdiri sendiri tanpa hubungan dengan agama, karena agama Hindu tidak hanya kepercayaan pada Tuhan melainkan juga tuntunan hidup yang artinya perlu diimplementasikan dan direalisasikan dalam semua aspek kehidupan. Jadi agama Hindu menjiwai dan memayungi semua kegiatan adat / desa pekraman di Bali termasuk sosio kultural yang hidup di masyarakat tersebut. Sebaliknya adat / desa pekraman dan budayanya berperan mendukung dan menjaga pelaksanaan ajaran agama Hindu sebaik mungkin agar lebih mantap dan efektif.

2. Penerapan Tri Hita Karana dalam kehidupan umat Hindu di Bali dapat dijumpai dalam perwujudan Desa Adat / Desa Pekraman di Bali dibangun dan didirikan berdasarkan konsepsi Tri Hita Karana yaitu, Parahyangan adalah Ketuhanan, Pawongan adalah kemasyarakatan, dan Palemahan adalah kewilayahan.

a. Parahyangan untuk di tingkat daerah berupa Kahyangan Jagat, di tingkat Desa adat berupa Kahyangan Desa atau Kahyangan Tiga, di Tingkat keluarga berupa Pemerjan atau Saanggah.

b. Palemahan di tingkat daerah meliputi wilayah Propinsi Bali, di tingkat desa adat meliputi “asengker”  Bale Agung, di tingkat keluarga meliputi pekarangan perumahan.

c. Pawongan untuk di tingkat daerah meliputi umat Hindu di Bali, untuk di tingkat desa adat meliputi krama desa adat, dan tingkat keluarga meliputi se,uruh anggota keluarga.

Dengan demikian keberadaan desa adat mengemban misi dan fungsi yang multi dimensi yaitu; fungsi keagamaan, fungsi sosial ekonomi, fungsi sosial budaya dan fungsi kenegaraan, sehingga desa adat (Desa Pekraman) menjadi basis pelestarian agama Hindu dan sosial budaya dan lingkungannya berdasarkan konsepsi Tri Hita Karana. Dengan menerapkan Tri Hita karana secara mantap, kreatifitas dan kedinamisan adat, budaya dan masyarakat akan dapat mewujudkan kehidupan yang lebih harmonis yang meliputi pembangunan manusia seutuhnya, yang astiti bhakti terhadap Ida Sanghyang Widhi wasa / Tuhan yang Maha Esa, cinta kepada kelestarian lingkungan serta hidup rukun dan damai dengan sesamanya melalui Yasa Kirti Dalam Rangka Karya Agung WANA KRETIH di Pura Luhur Watukaru Tabanan Tgl. 30 Maret 2002 (Saniscara Kliwon Wariga / Tumpek (Uduh, Bubuh, Pengatag).

Adapun yasa kirti ini dilaksanakan berkenaan dengan akhir-akhir ini telah terjadi berbagai bencana alam yang menimpa alam semesta (Dunia / Jagat) termasuk daerah Bali seperti banjir, tanah longsor, angin ribut dan lain-lain. Bencana alam tersebut disamping tampak menimpa daerah perkotaan, tetapi juga daerah pedesaan, gunung, khususnya hutan. Menurut terdisi Agama Hindu di Bali hal itu termasuk kadurmanggalan jagat yang memerlukan keharmonisan dengan melakukan kegiatan upacara pamahayu yang disebut dengan Upacara Wana Kretih (salah satu dari Sad Kretih). Landasan pelaksanaannya antara lain adalah sebagai berikut :

Namo Vrksebhyo Harikesebhyah, Vananam Pataye Namah,

Osadhinam Pataye Namah, Vrksanam Pataye Namah                     (YW. XVI,17)

Sembah kehadapan Sanghyang Rudra yang adalah pengawal hutan belantara, tanam-tanaman dan tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat obat, Sanghyang Siwa menyantap racun dan memberi minuman para dewa (nectar) dengan cara yang sama, tanam-tanaman menyerap karbon-dioxida dan memancarkan zat asam (oxigin), maka dari itu mereka dipuja sebagai Pra Rudra yang dijelmakan.

Madhu vata rtayate,                 Untuk orang-orang yang sesuai dengan Rta/hukum

Madha ksaranti sindhavah,     angin membawa keharmonisan, Sungai mengalirkan

Madhvir nah santvoghadhih, air yang sejuk, demikian juga pepohonan

Madhu nakatam ntosaso,                  memberi kenikmatan kepada kita,

Madhumat parthidam rajah,  Malam yang indah dan fajar yang cantik,

Madhu dyanr asrn nah pita,   Tanah bumi yang baik, Langit yang indah bagi kami

Madhuman no vanaspatir,     Semoga pohon-pohon di hutan memberi nikmat,

Maghuman astu suryah,                     Matahari memberi kebaikan,

Madhvir gano bhavantu nah  Dan sapi memberi kenikmatan kepada kami.

                                                                                                  (Rg Veda I.90,6-7-8)

Indra ya dyana osadhir vta apah, Rayim raksanti jarayo vanani.

Yang berikut ini adalah para pelindung kekayaan alam, atmosfir, tanam-tanaman dan tumbuh-tumbuhan berkhasiat obat, sungai-sungai besar dan kecil, sumber-sumber air dan hutan-hutan belantara.                                (Rg Veda III. 51.5)

….. bhuta yajna ngaranya tawur mwang kapujaning tuwuh ada pamunggwan kundawulan makadi walikrama, ekadasa dewata mandala, ya bhuta yajna ngaranya

                                                                                 (Agastya Parwa XIV)

….. wariga, sa, ka, nga. pangudhuh, nga. pujakrtti Sanghyang Sangkara, apan sira umrdhyaken sarvaning tumuvuh, kayu-kayu kunang, vidhi-vidhananya pras tulung sayut, tumpeng, bubur, mwah tumpeng agung 1, iwak guling bawi, itik wenang, saha raka-raka, panyeneng tatebus, kalinganya anguduh ikang tanem tuvuh asehen, asekar, avoh ngodong, ika dadi ya pamrthaning urip, ikang sarva janma, sesayut cakragni 1, maka pamadhang ati, nga. anuvuhaken ajnana sandi …..

                                                                               (Lontar Sundarigama)

Dalam tradisi agama Hindu dan masyarakat di Bali antara lain diketahui adanya berbagai upacara Pamahayu Wana yang disebut sebagai “Ameras Alas atau Ameras Wana”. Di samping itu diketahui juga adanya “Pemangku Alas atau Pemangku Wana”, yang menunjukkan bahwa alas / wana / hutan benar-benar dijaga baik secara fisik maupun spiritual. Dalam Raja Purana Pura Ulun Danu Batur ada disuratkan upacara “Upacara Katur ring Ratu Alas unuhan kidang saha runtutannya”, yang secara khusus juga dilaksanakan oleh masyarakat Batukaru secara tradidi apabila terjadi tanah longsor di hutan maka dilaksanakan upacara yang disebut sebagai upacara Panyahitan, dan apabila terjadi kadhurmanggalan akan dilaksanakan upacara caru balik sumpah.

Uraian di atas telah menunjukkan dan merujuk betapa arif dan bijaksananya kita yang sering disebut dengan ‘kearifan tradisional’ dengan memperhatian dengan cermat kepada keberadaan hutan baik secara fisik maupun spiritual. Itulah beberapa landasan pelaksanaan Upacara Wana Kretih.

Upacara tersebut dilaksanakan di hutan di Kaki Gunung Batukaru, Tabanan, dengan dasar filosofi / tatwa (lontar-lontar) yang melandasi menyebutkan bahwa Gunung Batukaru adalah stana Bhatara Tumuwuh atau Hyang-Hyangning Tumuwuh, di samping karena hutan di kaki Gunung Batukaru adalah hutan yang masih lebat dan lestari di Bali.

Bagi umat Hindu di Bali sebagaimana biasa dalam setiap pelaksanaan karya agung secara keseluruhan melaksanakan Yasa Kirti, baik yasa kirti dalam bentuk perilaku maupun Yasa kirti dalam bentuk upacara dan upakara (Skala lan Niskala). Yasa Kirti dalam bentuk perilaku telah disuratkan di dalam Lontar Dewa Tatwa sebagai beikut :

‘kramanya sang kumingkin akarya sanista madya uttama, manah lega dadi ayu, aywa ngalem drewya mwang kamagutan kaliliraning wwang atuwa, aywa mangambekang krodha mwang ujar gangsul; ujar menak juga kawedar denira. Mangkana kramaning sang ngarepang karya, aywa simpanging budhi mwang krodha’

….. tata caranya bagi mereka yang bersiap-siap akan melaksanakan upacara kanista, madhya atau uttama, pikiran yang senang dan lascaryalah yang menjadikan terbaik. Janganlah tidak lascarya atau menyayangi harta-benda yang dipergunakan dan diperlukan untuk kepentingan yajna, janganlah menentang petunjuk orang tua, jangan berperilaku marah serta mengeluarkan kata-kata yang sumbang dan kasar. Kata-kata yang baik dan enak didengarlah hendaknya yang diucapkan. Demikian tata-caranya orang yang akan melaksanakan yajna. Jangan menyimpang dari budi baik dan jangan menampilkan kemarahan ….

Untuk mendukung karya agung ini, pada rangkaian kegiatan upacara yang tertentu patut dilaksanakan Yasa Kirti dalam bentuk  Upacara dan Upakara yang dipersembahkan di Pura Sad Kahyangan (Astagiri), pada gunung dan bukit-bukit yang lain, dan di rumah tangga di masing-masing keluarga dan diri kita sendiri (Mapahayu Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit) yang telah pernah dilakukan pada Saniscara Kliwon Wariga atau Tumpek Wariga pada Tanggal 30 Maret 2002:

- Di masing-masing Pura Sad Kahyangan yaitu Pura Agung Besakih, Pura Lempuyang Luhur, Pura Andakasa, Pura Batur, Pura Goa Lawah, Pura Luhur Uluwatu, Pura Pucak Mangu, kecuali Pura Luhur Watukaru (Pusat Kegiatan Upacara), diselenggarakan upacara di tingkat “Mababangkit”, yang dilaksanakan oleh Sulinggih,

- Di masing-masing pucak gunung atau bukit selain tersebut di atas dilakukan upacara setingkat “Mapajati” yang dilaksanakan oleh Pemangku / Kubayan.

- Di masing-masing Rumah Tangga, Keluarga umat Hindu melaksanakan Yasa kirti dalam bentuk upacara-upakara memasang penjor di tegalan (di tempat pelaksanaan upacara yang biasa dilakukan di tegalan bagi mereka yang memiliki tegalan), dan masing-masing di pintu masuk pekarangan paumahan. Penjor tersebut adalah sesuai dengan penjor Galungan, di tambah dengan jajan atau jejahitan berbentuk tamiang atau senjata cakra yang digantunng pada penjor tersebut. Banten penjor disesuaikan dengan penjor Galungan yang dihaturkan kepada Bhatara Ganapati. Sarana Upacara berupa banten Pengatag dihaturkan di tempat upacara (Tegalan, Pohon-pohon besar / tanem tuwuh dll), yang terdiri dari : widhi-widhananya pras tulung sayut, tumpeng, bubur, mwah tumpeng agung 1, iwak guling bawi, itik wenang, saha raka-raka panyeneng tatebus.

- Di Pamerajan / Sanggah menghaturkan banten pejati.

- Bagi masing-masing umat ngayab sesayut cakrgeni yaitu banten sebagai berikut : Tumpeng Agung 1, muncuk tumpenge madaging damar mawadah kulak / kulit taluh siap, misi katipat cakra, iwak sarwa suci.

KESIMPULAN

Meningkatkan berbagai macam kegiatan manusia dalam rangka meme­nuhi kebutuhan hidupnya cenderung menyebabkan rusaknya sumber daya alam dan menurunnya keanekaragaman hayati. Mutu lingkungan yang semakin menurun menyebabkan berbagai negera di seluruh dunia mulai membuat kebijakan dan peraturan untuk mengawasi pemanfaatan sumber-sumber alam agar tidak merusak lingkungan hidup.

Agama Hindu dapat memberikan sumbangan pada usaha pemecahan krisis ini yang taruhannya tiada lain daripada kelestarian ling­kungan itu sendiri. Konsep-konsep dasar seperti, “Rta, Yadnya, Rwa Bhineda, Bhuana Agung, bhuana Alit, Tri Hita Karana” adalah kerangka konseptual yang telah mampu mengatur hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan hidup, sehingga mutu lingkun­gan itu bisa dipertahankan. Secara umum kerangka konseptual itu telah menjadi bekal masyarakat Hindu, karena dengan keyakinan, pengetahuan, nilai, sikap yang akan memungkinkan mereka berinter­aksi secara harmonis dengan lingkung-an.

Namun demikian, kita menginginkan bahwa agama selalu merupakan suatu hakikat yang historis, yang berjuang bersama perubahan, kefanaan, dan bukanlah suatu hakikat metafisik, yang tertutup, selesai, tak mengandung gerak dalam dirinya dan mantap dalam keabadiannya. Kita hendaknya menyadari bahwa. Lingkungan yang dihadapi oleh setiap manusia adalah sangat bervariasi, sehingga diperlukan konsep, strategi yang dapat digunakan secara selektif oleh manusia yang memilikinya sesuai dengan lingkungan yang dihadapinya. Sejumlah pembahasan komprehensif mengenai pendekatan lingkungan dalam ilmu sosial telah dikumpulkan oleh ahli-ahli ilmu sosial yang merasakan manfaat pendekatan ekologi untuk riset dan pengajaran, perlu juga diketahui. Konsep-konsep seperti, “Determinisme, Posibilisme, Ekologi Kebudayaan, Neofungsiona­lisme, Prosessual (Aktor Base Model)” merupakan perkembangan konsep-konsep ilmu sosial dalam melihat hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungan hidup.

Agama Hindu dapat memberikan sumbangan pada usaha pemecahan krisis ini yang taruhannya tiada lain daripada kelestarian ling­kungan itu sendiri. Konsep-konsep dasar seperti, “Rta, Yadnya, Rwa Bhineda, Bhuana Agung, bhuana Alit, Tri Hita Karana” adalah kerangka konseptual yang telah mampu mengatur hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan hidup, sehingga mutu lingkun­gan itu bisa dipertahankan. Secara umum kerangka konseptual itu telah menjadi bekal masyarakat Hindu, karena dengan keyakinan, pengetahuan, nilai, sikap yang akan memungkinkan mereka berinter­aksi secara harmonis dengan lingkung-an.

Namun demikian, kita menginginkan bahwa agama selalu merupakan suatu hakikat yang historis, yang berjuang bersama perubahan, kefanaan, dan bukanlah suatu hakikat metafisik, yang tertutup, selesai, tak mengandung gerak dalam dirinya dan mantap dalam keabadiannya. Kita hendaknya menyadari bahwa. Lingkungan yang dihadapi oleh setiap manusia adalah sangat bervariasi, sehingga diperlukan konsep, strategi yang dapat digunakan secara selektif oleh manusia yang memilikinya sesuai dengan lingkungan yang dihadapinya. Sejumlah pembahasan komprehensif mengenai pendekatan lingkungan dalam ilmu sosial telah dikumpulkan oleh ahli-ahli ilmu sosial yang merasakan manfaat pendekatan ekologi untuk riset dan pengajaran, perlu juga diketahui. Konsep-konsep seperti, “Determinisme, Posibilisme, Ekologi Kebudayaan, Neofungsiona­lisme, Prosessual (Aktor Base Model)” merupakan perkembangan konsep-konsep ilmu sosial dalam melihat hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungan hidup.

Leave a comment

Filed under Articles

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s